"Aku juga mau ikut papa" Kata Yui sambil memegang tangan 'ayah'-nya dengan erat.

"Yui, disana berbahaya, sebaiknya kau jangan ikut" Kata Kirito.

Mendengarnya, Yui hanya mengeratkan pegangannya pada tangan Kirito. "Aku mau ikut papa!" Kata Yui dengan tegas.

"Sudahlah Kirito, ikuti saja. Kau hanya perlu menyuruhnya sejauh mungkin dari monster nantinya" Kata Naofumi sambil menepuk pundak Kirito.

"Kalau sudah seperti ini memang tidak ada gunanya jika kau terus melarangnya" Sambung Yujio.

Kirito menghela nafas menyerah. Ia kemudian menoleh ke arah Alice. Hanya dengan itu, Alice paham maksud Kirito. "Baiklah, aku akan menjaga Yui untukmu" Kata Alice.

"Terimakasih Alice. Maaf merepotkan" Kirito berterimakasih.

Dalam perjalanan, Yui tetap memegang tangan Kirito. Hal tsb perhatian banyak orang.

Sesampainya disana, mereka bertemu dengan komandan Knight of Blood Oath dan Ratu Melromarc serta party pahlawan lainnya. "Akhirnya kalian datang" Sambut Heathcliff.

Semua nampak tidak terganggu dengan adanya seorang anak kecil yang memegang tangan Kirito dengan wajah kekanak-kanakan. Lebih tepat nya tidak ada yang berniat bertanya.

Tak ada sampai Itsuki mulai bertanya. "Kirito-san, maaf, tapi aku penasaran. Siapa anak kecil itu yang memegang tanganmu?" Tanya Itsuki dengan sopan.

Sebelum Kirito dapat menjawab pertanyaan tsb, Yui terlebih dahulu berbicara. "Aku putrinya papa!" Kata Yui dengan polosnya sambil tersenyum ceria.

"Oho, ternyata kau sudah pernah Kirito" Ledek L'arc.

Mendengar ledekan L'arc Kirito hanya dapat memerah sambil menunjukkan wajah kesal. "Lalu, siapa ibunya?" Tanya Therese yang membuat Kirito semakin memerah.

Entah kenapa, Kirito seolah kehilangan kemampuan untuk berbicara. Begitupula yang lainnya. Ya, beberapa karena tidak tahu, beberapa karena memang belum diberitahu, dan Yui karena papanya sudah melarangnya menjawab apapun tentang hal tsb.

Ketika Kirito akan menjawab, sosok Glass muncul dan langsung berkata. "Bukankah itu sudah jelas? Jawabannya adalah tidak atau belum ada karena Yui adalah anak angkat" Jawab Glass dengan aura yang menunjukkan kecerdasannya.

Kirito menghela nafas dengan lega, kemudian tersadar sesuatu. "Darimana kau tahu?" Tanya Kirito dengan curiga.

"Pertama kau terlalu muda untuk melakukannya lima tahun lalu, aku menebaknya dari usia Yui. Kedua, kau tak bisa melakukannya disini. Karena ini agak berbeda dengan dunia nyata" Jawab Glass dengan mempertahankan aura yang mengatakan 'aku terlalu cerdas untuk pertanyaan semudah ini'.

"Mou, kau merusak kesenangannya Glass-sama" Kata Therese dengan nada ngambek.

Mirelia mengetahui bahwa jika hal ini diteruskan, hanya akan membuang waktu, ia memutuskan untuk berbicara. "Ehem, bukankah seharusnya kita menuju dungeon sekarang? Kecuali jika kalian memang ingin tinggal di dunia ini selamanya" Kata Mirelia.

Mereka pun berjalan melewati dungeon dan menuju ruangan bos. Tentu saja, mereka dihalangi oleh sejumlah monster.

"Haaa!" Sebuah teriakkan terdengar dari dalam dungeon. Teriakan tsb berasal dari Kirito dan Yujio yang menyapu bersih seluruh monster yang ada. Sedangkan Naofumi melindungi Yui.

Setelah semua monster menghilang, Kirito kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarung di punggungnya dan Yujio, sarung di pinggangnya. Mereka semua kembali berjalan.

Ketika sedang berjalan, Yui menyelinap dan mendekati papanya. Ia memegang tangan papanya dengan erat, seolah ingin mengatakan sesuatu. Kirito menyadari ini dan menoleh ke arah Yui. "Ada apa Yui?" Tanya Kirito.

Yui pun menoleh ke arah papanya. "Aku punya suatu perasaan tak enak. Tapi aku tidak terlalu yakin apa itu" Jawab Yui.

Kirito kemudian menaruh tangannya di kepala Yui dan mengelus nya pelan. "Jangan khawatir, aku takkan biarkan apapun menyakitimu" Kata Kirito kemudian tersenyum hangat. "Sebaiknya kau kembali pada Alice. Dan ingat, jauh-jauh dari monster" Pada perintah tsb, Yui langsung berjalan kembali ke arah «si Ksatria Keemasan».

"Aku masih penasaran, siapa yang akan jadi ibunya" Kata L'arc sambil menghampiri Kirito. Kirito mendengarnya hanya memberi tatapan tajam. "Whoa, tenang, aku serius kali ini. Sayang sekali dia tidak mengingat apapun dan terjebak di dunia ini" Kata L'arc.

Kirito menghela nafas. "Semoga saja kita segera tau" Balas Kirito.

Mereka kembali berjalan. Akhirnya, mereka menemukan pintu besar (atau mungkin sebutannya gerbang). Kemudian, Heathcliff, komandan Guild terbesar di Aincrad memberikan sebuah kata penyemangat.

Ketika mereka membuka dan memasuki ruangan, terlihat hanya ruangan yang gelap. Tak satupun dari mereka melihat monster apapun, sampai. "Di atas!" Teriak salah seorang player.

Ketika menoleh ke atas, semua melihat bos monster lantai 75. Monster tsb menjatuhkan dirinya dan mengayunkan tangan kanannya dan membunuh 3 orang dalam sekali ayun. Horor menyamnar seluruh pemain baris depan.

Sebuah nama muncul di atas monster tsb. "Skull Reaper" Adalah namanya. Tersadar dari horor sesaat, seluruh player kembali menyebar.

Ketika semua menyebar, Kirito dan Naofumi menghampiri monster raksasa tsb. Kirito sejak awal sudah menggunakan «Dual Blades» nya. "Air Strike Shield" Naofumi memunculkan sebuah perisai hijau transparan. Perisai tab berhasil menahan serangan fatal dari Skull Reaper.

Di tangan kanan Kirito, terdapat «Dragon Sword», di tangan kiri, pedang «Dark Storm Blade». Apapun yang ingin ia lakukan, hal itu terjadi sekarang. "Dragon Breath Storm" Kirito membanting kedua pedangnya sehingga menunjuk Skull Reaper.

Dari ujung kedua pedang tsb sebuah pusaran seperti tornado mengarah ke Skull Reaper. Tornado tsb bukan dari angin melainkan api kehitaman yang mengeluarkan listrik hitam. Tornado tsb menabrak Skull Reaper dan untuk beberapa saat sosok Skull Reaper terjebak.

Namun beberapa saat itu sudah lewat. Kini Skull Reaper sudah siap kembali menyerang. Semua pun kembali menyerang. Namun, walau besar, Skull Reaper masih dapat bergerak dengan cepat.

Kirito menyadari ini dan menoleh ke arah Naofumi. Naofumi yang memahami apa yang ingin Kirito sampaikan hanya bisa melakukan yang harus dilakukan.

Melangkah kedepan, Naofumi menggunakan Wrath Shield nya. Aura hijau mengamuk keluar dari tubuhnya. Melihat hal ini, banyak player yang memperhatikan Naofumi, begitupula teman-temannya.

"Sebagai sumber segala kekuatan dan Shield Hero, aku memerintahkanmu! Patahkan segala hukum dunia ini, dan ikatlah musuhku dengan rantai yang membuat musuhku tak bisa bergerak! Chain of Binding" Dapat dipastikan, HP milik Naofumi berkurang banyak. Sejumlah rantai keemasan mengikat Skull Reaper.

Semua langsung mencoba untuk menyerang. Namun mereka terhenti karena terkejut melihat sosok yang sudah terbang ke atas, atau lebih tepatnya melompat. Pedang di tangan kanannya telah berganti menjadi «Night Sky Sword». Di tangan kiri, kini menjadi «Dark Storm Blade». "Semua, serang musuh dengan segala yang kalian punya!" Tak ada yang membantah perintah dari Kirito tsb. Semua pun menyerang.

"Combo Attack: Flame Burst Lance"

"Combo Attack: Pusaran Badai Petir"

Diikuti oleh sejumlah skill lainnya dari player lain. Dalam beberapa detik, HP milik Skill Reaper tersisa satu setengah.

Kedua pedang Kirito sudah bercahaya biru. Namun, di tangan kiri nya cahaya tsb mulai menghitam dan mengeluarkan listrik kehitaman. Di tangan kanannya, cahaya biru tsb mulai berubah menjadi keemasan. Partikel keemasan pun mulai terserap ke pedang tsb.

Kirito mendorong dirinya ke bawah dengan kaki nya. "Starburst... Stream!" Tebasan beruntun ia lepaskan pada Skull Reaper.

Setelah 16 tebasan beruntun itu selesai, Naofumi juga sudah tidak bisa menahan sihirnya. Sayang sekali, Skull Reaper belum tamat. Kirito pun berada tepat di depan Skull Reaper.

Semua sudah tidak bisa bergerak. Saat ini pula, Skull Reaper menoleh ke arah «si Black Swordsman». Kirito sudah tak bisa bergerak, Naofumi, serta semua player, tak ada yang bisa bergerak.

Lengan berpisau milik Skull Reaper berayun ke arah si Vassal Sword. Semua hanya bisa menonton tak berdaya.

"Kirito-kun!" Teriak Asuna, Sachi, dan Melty.

"Kazuto!" Teriak Mikoto.

"Onii-chan!" Teriak Sugu.

"Kirito-sama!" Raphtalia dan Filo.

"Kirito!" Yujio, Alice, Sinon, dan Naofumi bersamaan.

Kirito sudah menerima takdirnya, jika dia harus mati saat ini. Namun,

TRANG. Bunyi dua buah besi berbenturan terdengar. Di hadapan Kirito, Komandan dari Guild KoB melindunginya.

Saat ini pula, semua orang kembali bergerak. Kirito hanya bisa menatap dengan terkejut.

Kirito kembali menggelengkan kepalanya dan fokus. Kedua pedangnya kembali dia angkat.

"Thousand Lightning Spear!" Teriaknya mengangkat kedua pedangnya hingga di atas kepalanya kemudian membantingnya hingga menunjuk Skull Reaper.

Setelahnya, nampak jutaan tombak berwarna ungu kehitaman meluncur dari pedang di tangan kanannya. Listrik pun mulai mengalir pada setiap tombaknya. Serangan tsb menghantam Skull Reaper dan menghabisi HP nya yang tersisa.

Skull Reaper kini telah menjadi kumpulan data. Semua player hanya bisa terduduk kelelahan. Semua, kecuali party Kirito dan Naofumi yang langsung menghampiri Kirito, termasuk Naofumi.

"Kirito, kau tak apa?" Tanya Yujio dengan wajah khawatir.

"Ya, aku baik saja" Jawab Kirito.

Ketika semua sudah mulai tenang, sebuah suara kencang terdengar memanggil Kirito dengan sebuah sebutan. "Papa!" Teriak Yui sambil menghampiri 'ayah'-nya.

Segera setelah mencapai Kirito, Yui langsung memeluknya. "Whoa, Yui. Kau tak apa?" Tanya Kirito.

Yui pun mulai menangis. Rasa bersalah mulai menyambar Kirito. "Aku pikir papa tidak akan selamat" Kata Yui sambil menangis.

Kirito melihatnya, hanya menepuk kepala Yui. "Sudah sudah, yang penting kita semua masih disini dan selamat. Ayo, berhenti menangis" Kata Kirito menenangkan Yui.

Kemudian, Yui berhenti menangis. Namun, dia tidak berbicara sama sekali dan hanya terdiam. Kirito yang melihatnya diam seperti ini pun akhirnya bertanya. "Ada apa Yui?" Tanya Kirito.

Yui terdiam untuk sesaat dan akhirnya menjawab. "Aku... Merasakan sesuatu yang salah tentang dia" Jawab Yui sambil menoleh ke arah Heathcliff.

"Komandan Heathcliff?" Asuna menyebut nama sang komandan dengan kebingungan.

Tanpa disadari siapapun, Kirito sudah kembali mengangkat pedangnya dan berlari ke arah Heathcliff. Seluruh party hanya bisa memanggil namanya dengan terkejut.

Sayangnya, pedang Kirito sudah meluncur dan menunjuk ke arah Heathcliff. Namun, sesuatu menghalangi pedang tsb tepat sebelum mengenai sang komandan. Sebuah persegi enam bertuliskan "Immortal Object" menghalangi pedang Kirito dari menyentuh wajah Heathcliff.


Yosh, minna! Hari ini chapter terakhir! Berikutnya! Pertarungan melawan Kayaba Akihiko!

Kayaba: "Berikutnya, Chapter 15: World's God VS Wrath Dragon"

Ditunggu ya sebentar lagi!