Bagian Pertama

Cahaya Terlarang

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)

Mengambil ide cerita dan beberapa unsur dari franchise "Ultraman Zero"; khususnya movie "Mega Monster Battle: Ultra Galaxy Legend"; milik Tsuburaya Production(c)

Fanfiction "Ultra Galaxy: Solar ~Sunrise~" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

UltramanZero!AU. Action-Adventure-Friendship-Family. Maybe OOC.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Langkah-langkah tegas menapaki lantai kristal hijau nan indah. Pun seluruh ruangan, terbuat dari bahan yang sama. Suasana sunyi senyap, menciptakan nuansa yang sedikit meremangkan bulu roma. Namun, sang pemilik langkah tetap maju, tanpa keraguan sedikit pun.

"Hm ... Plasma Spark Tower ... Tidak kusangka, semudah ini mengelabuhi para penjaganya."

Sosok berpakaian dan bertopi miring ke kiri nyaris serba putih dengan sedikit oranye dan abu-abu itu bergumam sendiri. Senyum—tampak sedikit jemawa—menghias wajahnya. Sementara, sepasang matanya yang tajam tampak berkilat di balik kacamata gaya berwarna jingga. Tatapannya lurus, tepat ke arah satu-satunya sumber cahaya yang ada di sana.

Ialah sebentuk tonggak, tegak kokoh menjulang di tengah-tengah ruangan. Sang pemuda mengikuti tinggi tiang hingga ke batas pandang. Di puncak itulah, terdapat kristal bercahaya putih menyilaukan. Sumber dari segala sumber cahaya di ruangan ini, sebagaimana sumber energi bagi seluruh planet.

Sang pemuda kembali memamerkan senyum miringnya. Ia lantas menjejak ringan, membawa tubuhnya sendiri melayang tenang ke atas secara vertikal. Perlahan saja, ia terus naik, hingga menemui semacam titian panjang yang terhubung dengan ujung tonggak. Di sanalah, tersimpan aman, kristal paling berharga daripada benda mana pun di seantero Negeri Cahaya.

Plasma Spark.

Begitu menjejakkan kaki di jembatan penghubung, sang pemuda berjalan tenang mendekati cahaya putih menyilaukan itu. Ia teralih sejenak dengan keindahan hiasan berupa satu-satunya kristal putih di antara warna hijau, membentuk wujud abstrak bagaikan korona raksasa mengelilingi Plasma Spark.

"Mengagumkan." Sang pemuda tersenyum tipis, sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatian kepada Plasma Spark. "Sama seperti diriku yang berkilauan ini."

Ia berdiri diam sejenak, tepat di hadapan kristal seukuran bola sepak bercahaya putih itu. Bahkan pada jarak sedekat ini, wujud asli Plasma Spark tetap tersamar oleh sorot cahayanya yang kelewat terang.

Dada sang pemuda bergemuruh. Bisa dirasakannya dengan jelas, kekuatan yang mengalir tanpa batas dari cahaya itu. Tangan kanannya yang tertutup sarung tangan putih-jingga-kelabu pun terulur perlahan, menjangkau cahaya terang di hadapan. Cahaya yang saat ini sangat didambakannya. Sungguh pun ia tahu, apa yang dilakukannya sekarang ini, terlarang.

Sang pemuda nyaris menahan napas akibat ketegangan yang memuncak. Siapa yang takkan menginginkan kekuatan sedahsyat ini? Dan tak lama lagi, kekuatan ini akan ada di dalam genggamannya.

Namun, seseorang menghentikan jangkauan tangannya. Sang pemuda tersentak, tetapi semuanya terjadi begitu cepat, hingga ia tak sempat bereaksi apa-apa. Tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicekal kuat. Dan sebelum ia menyadarinya, dirinya ditarik ke belakang, lantas dijatuhkan ke lantai begitu saja.

"Cukup sampai di situ."

Suara yang dalam dan berwibawa memasuki pendengaran sang pemuda. Ia menggeretakkan rahang, sembari menatap tajam ke arah pria yang baru saja datang itu. Seluruh penampilannya didominasi warna kuning keemasan dan putih, ditambah jubah berwarna merah di bagian luar dan perak di bagian dalam, yang menambah gagah penampilannya.

Tentu saja, semua orang di Negeri Cahaya ini pasti tahu siapa dia. Salah satu anggota elit Lucerna, pasukan khusus yang dibentuk untuk menjaga perdamaian seluruh galaksi. Namanya adalah Gamma.

"Jangan dekati cahaya itu," Gamma berkata tegas. "Masih terlalu cepat bagimu—"

"Apanya yang terlalu cepat?" sang pemuda menyela, lantas kembali bangkit dengan sikap menantang. "Aku sudah lebih dari siap!"

Gamma menghela napas samar. Paham bahwa pemuda di hadapannya ini takkan mau mendengarkan argumen apa pun.

"Jangan bergerak!"

Baik Gamma maupun pemuda itu sama-sama tersentak.

"Kau telah melanggar Hukum Utama Negeri Cahaya! Serahkan dirimu dengan tenang!"

Sang pemuda berdecak kesal. Yang barusan berseru adalah orang yang lebih merepotkan lagi, yaitu Panglima Pasukan Elit Lucerna. Seolah belum cukup, bersamanya masih ada dua orang lagi anggota pasukan yang sama. Pemuda itu pun mengenali mereka sebagai Mas Mawais dan King Balakung. Seperti Gamma, ketiga orang yang baru datang itu pun mengenakan jubah merah yang sama.

Melawan mereka semua, jelas bukan keputusan yang bijaksana. Tanpa mencoba pun, sang pemuda sudah tahu, ia hanya akan mati konyol. Pilihan paling masuk akal pada saat ini hanya ada dua: menyerah atau melarikan diri.

"Jangan macam-macam, Nak." Gamma berkata tiba-tiba, tepat ketika sang pemuda berpikir untuk mengambil opsi terakhir. "Kami tidak ingin melukaimu."

"Tidak ingin melukai?" Pemuda itu mendengkus samar. "Empat anggota Lucerna datang kemari hanya untuk menangkap bocah ingusan sepertiku? Bukankah itu sedikit berlebihan?"

Sang Panglima tidak menggubris ucapan itu, hanya memberi isyarat ringan kepada Mas Mawais dan King Balakung. Si pemuda melihatnya, dan memutuskan untuk bertindak cepat. Dalam sekejap, cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya. Jika bertarung, maka dia takkan menang. Namun, paling tidak ia bisa berlari jauh lebih cepat daripada siapa pun di planet ini.

Setidaknya, itulah rencana sang pemuda. Akan tetapi, sebelum niat itu terlaksana, lagi-lagi pergelangan tangan kanannya telah dicekal oleh Gamma. Begitu cepatnya, sehingga ia sama sekali tak bisa melihatnya.

Belum mau menyerah, sang pemuda melayangkan tinju secara tiba-tiba dari tangan kirinya yang bebas. Terkejut, cekalan Gamma terlepas. Dua kali tendangan memutar dari anak muda di depannya segera menyusul. Gamma tidak merasakan niat bertarung yang sungguh-sungguh. Ia langsung mengerti, bahwa yang diincar pemuda itu hanyalah kesempatan untuk meloloskan diri.

Lebih cepat dari sekedipan mata, Gamma bergerak menempatkan diri di titik buta pemuda itu. Sekali lagi, dicengkeramnya pergelangan tangan kanan si pemuda kuat-kuat. Kali ini, ia langsung bergerak ke belakang pemuda itu, lantas mengunci tangan yang dicekalnya ke belakang punggung.

Pemuda itu terkesiap, tetapi segera bersiap melakukan teknik untuk melepaskan kuncian. Sayangnya, Gamma sudah membaca niat itu. Pria berkumis tipis itu segera memberikan tendangan ringan tepat ke tulang kering si pemuda, membuat yang bersangkutan seketika jatuh berlutut. Masih dengan lengan kanan terkunci, ditambah tangan kiri Gamma yang kokoh, kini telah menekan pundak kirinya.

Sang pemuda spontan berontak. Namun, segera terhenti dalam rintihan tertahan, ketika Gamma menambahkan pelintiran pada lengan yang dicekalnya, mencegah si pemuda untuk berontak lebih jauh.

"Cukup!" Gamma berkata dengan nada lebih keras. "Jangan paksa kami berbuat lebih dari ini."

Sang pemuda berdecak kesal. Ia masih mencoba meronta sekali lagi. Namun, rasa sakit seketika menyerang lengan kanannya. Memaksanya untuk merintih kesakitan dan membatalkan niatnya.

"Kalian semua munafik." Sang pemuda mendengkus sinis. "Kalian sendiri menggunakan kekuatan dari Plasma Spark, tetapi melarang orang lain melakukan hal yang sama."

Gamma tertegun sejenak. Meskipun begitu, ia tidak berkata apa-apa. Dibiarkannya Mas Mawais dan King Balakung mendekat, lantas segera mengambil alih pemuda yang kini telah menjadi tawanan mereka tanpa bisa melawan lagi.

"Bawa dia."

Perintah sang Panglima segera dilaksanakan oleh kedua anggota Lucerna berbadan besar dan tegap itu. Sekali lagi, Gamma sempat tertegun ketika sang pemuda menoleh sekejap ke arahnya, dengan tatapan menuntut dari sepasang iris perak di balik kacamata jingga.

"Sayang sekali," berkata Gamma, "tapi kau sudah tidak layak lagi menyandang gelar Kesatria Cahaya."

Pada akhirnya, sang pemuda hanya bisa menurut ketika dirinya digelandang pergi. Dengan kekuatan fisik Mas Mawais dan King Balakung yang jelas lebih besar darinya, tak ada yang bisa dia lakukan.

"Lepaskan aku!"

Dari kejauhan, Gamma masih bisa mendengar seruan frustasi sang pemuda. Sementara, matanya terus menatap kepergian ketiganya, hingga menghilang di balik pintu keluar-masuk Plasma Spark Tower yang cukup jauh di bawah.

"Gamma."

Pria itu tersentak sedikit saat sang Panglima mendadak menegurnya.

"Jangan terlalu dipikirkan," sang Panglima melanjutkan. "Dia hanya anak muda yang tidak berpikir panjang dan dibutakan oleh hasrat akan kekuatan. Sedikit hukuman akan membuatnya jera."

Gamma menarik napas panjang.

"Aku mengerti, Panglima Pyrapi ... Tapi ..."

Sang Panglima tersenyum maklum. "Kau belum memberitahukan 'hal itu' kepadanya?"

Pertanyaan tiba-tiba itu menyentak Gamma, hingga sejenak ia kehilangan kata-kata untuk menjawab.

"Aku ...," katanya kemudian, "tidak tahu harus memulai dari mana."

Panglima Pyrapi terkekeh ringan. "Anak itu mirip sekali dengan ibunya, bukan? Cerdas, dan bermulut tajam."

Gamma hanya tersenyum tipis, terlihat sedih.

"Jangan khawatir." Panglima Pyrapi berbalik membelakangi Gamma, dengan kedua tangan tertaut di belakang punggung. "Suatu saat nanti, dia akan mengerti bahwa apa yang kita lakukan sekarang ... adalah demi kebaikannya."

"Iya, Panglima." Sekali lagi, Gamma menghela napas, kali ini pendek saja. "Kuharap juga begitu."

.

.

Bersambung ...

.

.


Trivia:

Ultraman

Siapa yang nggak tahu Ultraman? Di antara 'The Big Three' seri tokusatsu/superhero Jepang (Ultraman, Kamen Rider, dan Super Sentai), franchise Ultraman milik Tsuburaya Production ini barangkali adalah yang paling populer di Indonesia.

Sejarah Ultraman sudah sangat panjang. Dan di Indonesia sendiri, hampir seluruh series, side stories, dan movies Ultraman telah ditayangkan di berbagai stasiun TV nasional. Menceritakan para pejuang penjaga alam semesta berwujud raksasa, Ultraman, yang berasal dari Nebula M78 atau biasa disebut Hikari no Kuni (Negeri Cahaya).

Ultraman Zero

Ultraman Zero, adalah karakter unik yang tidak pernah memiliki series sendiri. Namun, ia memiliki banyak movies dan gaiden (side stories), serta kerap menjadi 'bintang tamu' di serial-serial maupun film-film Ultraman setelahnya.

Ultraman Zero juga menjadi semacam 'penghubung' antara para Ultraman generasi lama, dengan para penerusnya yang disebut sebagai New Generation Heroes.

Sedangkan film Mega Monster Battle: Ultra Galaxy Legend, yang juga merupakan inspirasi terbesarku untuk memulai rentetan fanfic Ultraman!AU, adalah film yang menjadi debut Ultraman Zero pada tahun 2009.

.

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii~! X"D

kurohimeNoir datang di hari pertama di tahun yang baru ini, membawakan sebuah fanfiction baru (lagi) di bawah judul besar Ultra Galaxy. Yup! Jika semua berjalan lancar, maka Ultra Galaxy nggak akan berhenti sampai di sini. Mungkin akan ada Ultra Galaxy-Ultra Galaxy selanjutnya. Tapi semua juga tergantung respons teman-teman semua di sini, ehehehe ...

Di tahun yang baru ini, salah satu resolusiku adalah ingin aktif lagi bikin fanfic di fandom kesayangan kita ini, sama seperti dulu. Dan ... yah, kalau boleh dibilang, aku juga punya satu harapan dan keinginan, yaitu mengembalikan 'marwah' BoBoiBoy sebagai fandom superhero.

Karena itulah, di tahun ini, aku ingin lebih banyak menulis dengan tema pahlawan super. Baik canon maupun AU. Apalagi, sejak awal memang alasan utamaku menyukai BoBoiBoy adalah karena kecintaanku kepada dunia superhero. Aku tumbuh besar bersama para pahlawan super. Kisah-kisah mereka adalah inspirasiku. Tentang perjuangan, persahabatan, keluarga, pencarian jati diri, dan harapan.

Tentu saja, aku juga tetap menyambut baik dan mendukung tema-tema lain, genre apa pun, sepanjang tidak melanggar norma dan hati nurani. Yang fluffy-fluffy, yang manis-manis, yang asem-asem, yang asin-asin, sampai yang angsa-angsa. Mari ramaikan fandom Dedek Topi Dino Jingga kita tercinta~

Akhir kata, selamat tahun baru 2020, semuanya~! Mari terus bergerak ke depan dengan semangat baru~! Sampai jumpa lagi di karya-karya berikutnya. :-)

Apa resolusimu?

.

Regards,

kurohimeNoir

01.01.2020