"Dek! Adek!"
Ino dan Sasuke sontak menoleh menuju suara lembut yang seolah memanggil mereka. Terlihat sesosok perempuan cantik berpakaian rapi dan tertutup, namun tetap modis.
"Teh Izumi ngapain?" tanya Sasuke dengan wajah agak kaget.
Ino berusaha mencerna situasi saat ini. Teh Izumi bukannya yang katanya gebetan Kak Itachi dulu? tanyanya dalam hati.
"Gue aduin Umma, loh, elo berduaan sama yang bukan mahram," ancam Izumi dengan nada bercanda.
"HEH JANGAN NGACO!" Sasuke berseru panik.
Melihat Sasuke yang biasanya cuek bebek ini menunjukkan rasa paniknya, tentu saja Ino turut panik. MAMPUS!
.
Aku Berhijrah!, a Naruto Fanfiction
Naruto © Masashi Kishimoto
FF ini merupakan hasil kegabutan mayurare yang berasal dari cerita di kehidupan sehari-hari dicampur dengan imajinasi. Author tidak mengambil keuntungan apapun selain menyalurkan ide semata.
Genre: Romance/Friendship/Humor
Rate: T
Warning(s):
Alternate universe lokal, alur lambat bosenin plus gampang ditebak, OOC, pengetahuan author minim alias sotoy, humor garing krenyes, tidak sesuai PUEBI alias gak baku, tidak selamanya dicek ulang karena mager, kemungkinan nyempil bahasa kasar, dsb.
Di sini gue gak ada niat bashing chara, ngancurin image chara, atau bahkan nyudutin komunitas manapun, jadi tolong jangan suuzhon ya please banget ini mah.
.
.
.
Tak disangka-sangka, Izumi malah tertawa puas melihat reaksi Sasuke. "Ya Allah, Dek. Lo polos banget, sih!" ungkapnya.
Ino bengong. Sasuke pun bengong, namun kemudian ia berseru kesal karena menyadari bahwa Izumi benar-benar hanya bercanda barusan sesuai dengan nada bicaranya.
"Teh, lo bisa gak sih sehari aja gak nyebelin?" omel Sasuke.
"Kalo gue gak nyebelin, nanti lo malah takut, lagi." Izumi menjawab santai. Perempuan cantik itu kemudian menoleh ke arah Ino. "Kamu temennya Si Adek? Cantik banget! Namanya siapa?" tanya Izumi ramah.
Ino gelagapan. "I-Ino, Teh," jawabnya. KOK ADA, SIH, ORANG PAKE JILBAB SECAKEP INI?! pekiknya dalam hati, takjub akan kecantikan Izumi yang anggun nan sempurna.
Izumi mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Izumi. Salam kenal, ya," ucapnya.
Ino pun membalas uluran tangan Izumi. "Iya."
"Dek," Izumi kini ganti menatap Sasuke. "Lo kok gak ngangkat telepon Umma sama gue? Sibuk banget emang?" tanya Izumi.
"Hah? Umma sama Teteh kapan nelpon?" Sasuke mengerutkan kening. Seketika ia tersadar. "Oh, udah nggak, sih. Emang kenapa?"
"Kalo udah nggak kenapa gak diangkat, hah? Gue liat-liat juga lo dari tadi main HP!" omel Izumi.
"Emang harus ngangkat telepon?" Sasuke balik bertanya jengkel. "Lagian lo ngapain ke sini, sih?"
"Ya gue nyariin lo di Zenly, lah! Disuruh Umma," jawab Izumi kesal. "Dek, bayangin kalo Umma lagi ada di situasi serius, terus lo malah cuekin telepon Umma. Emang lo kenapa gak nelpon balik, sih? Gak ada kuota?"
Sasuke bungkam.
"Hooo, beneran gak ada kuota, nih?" Belum satu menit Sasuke bungkam, Izumi sudah menggodanya dengan wajah menyebalkan. "Anak sultan, tinggal di apartemen, tapi kok gak punya kuota?"
"Ck! Diem, Teh!" Sasuke berdecak kesal dengan wajah merona malu.
Ino mengerjap-ngerjapkan mata. "Terus dari tadi lo ngapain nyuekin gue, anjir?!" serunya tidak percaya.
Izumi tertawa dengan manisnya. "Emang gitu dia mah kalo gak mau ngobrol. Pura-pura main HP, padahal gak punya kuota!" jelas Izumi.
"Teteh!" Sasuke berseru kesal. "Iya, iya. Gue telepon Umma sekarang. No, tethering!"
"Haaah?" Ino ternganga dengan wajah kesal.
"Udah, buruan! Gue mau isi pulsa doang!" seru Sasuke galak.
"Magic words-nya, Adek!" sindir Izumi.
"Tolong, No," ucap Sasuke akhirnya walau agaknya ia terpaksa.
"Oke," jawab Ino yang kemudian menyalakan personal hotspot di HP-nya.
"Password-nya?" tanya Sasuke.
"Wait," Ino memeriksa password-nya, kemudian membelalakkan matanya panik. "Bentar, bentar! Gue ganti dulu!"
Tentu saja ia panik. Password-nya masih "saisaisai" dan ia tentu saja tidak mungkin memberikannya pada Sasuke.
Sasuke mengerutkan dahinya heran, kemudian menoleh tidak peduli.
"Udah. Password-nya Yamanaka, kecil semua," jawab Ino kemudian.
"Oke, thanks," gumam Sasuke. Setelah beberapa saat, Sasuke kembali menoleh ke arah Ino. "Udah, No. Makasih," ucap Sasuke yang kemudian melangkah pergi dengan HP di telinganya.
"Maaf ya, No, Sasukenya dipinjem dulu sebentar." Izumi berucap sambil cengengesan dengan manisnya.
"Iya, gak apa-apa, Teh! Santai aja," jawab Ino seramah mungkin.
"Kamu gak ada pengen nanyain aku siapanya Sasuke gitu? Atau apa kek?" tanya Izumi penasaran.
"Eh?" Ino mengusap rambutnya malu. "Nggak enak gak, sih, Teh? Nanti aku SKSD soalnya," ucapnya pelan, berusaha untuk menyembunyikan sifat tidak tahu malunya.
"Santaaai. Ngobrol mah ngobrol aja. Aku malah gak nyaman kalo diem-diem doang soalnya," jawab Izumi.
"Oh, kalo gitu sama, hahaha!" Ino tertawa lega. "Teh, aku mau tanya, deh."
"Nanya apa?"
Entah mengapa Ino tiba-tiba saja merasa malu. "Jangan ketawa, ya, Teh."
"Nggak, kok!"
"Caranya hijrah itu …, gimana, ya?"
Izumi terdiam, berusaha mencerna pertanyaan Ino barusan. "Maksudnya?"
"Anu …, gini. Aku pengen berubah buat memantaskan diri aja, gitu. Tapi agak clueless karena temen-temenku yang kompeten buat kutanya cuma sedikit. Pas aku lihat Teteh, aku lihatnya tuh kayak …, wah, kayaknya aku bisa tanya-tanya, nih. Gitu," jelas Ino, berusaha menyamarkan tujuan aslinya tentunya.
Untung saja tidak ada Sasuke, Naruto, atau Shikamaru di sini.
"Oooh, paham-paham. Ih, seneng aku dengernya!" ungkap Izumi dengan wajah cerah. "Jujur, aku bingung jawabnya gimana. Kata aku, sih, mulai dulu aja dari perbaiki Rukun Islam. Syahadat, solat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu. Sambil perbaiki yang wajibnya, bisa juga nyicil satu-satu dari aspek lainnya kayak nutup aurat, belajar agama dan aplikasinya dalam kehidupan. Wah, bingung aku jelasinnya, haha!" Izumi menjelaskan dengan excited.
Ino mengangguk-angguk paham, dalam hati mencatat semua perkataan Izumi supaya ia tidak lupa.
Namun, Izumi kemudian mengembuskan napas panjang seolah-olah berat ketika ingin berkata. "Akhir-akhir ini kalo kamu perhatiin banyaaak banget yang kayak meragukan agamanya sendiri. Semoga aja kamu gak jadi salah satu dari mereka yang ragu," ucapnya.
"Ragu gimana, Teh?" tanya Ino penasaran.
Izumi tersenyum paksa. "Gitu, deh. Aneh-aneh orang sekarang pokoknya," jawabnya.
Ino lagi-lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Caranya biar gak ragu kayak gitu gimana, Teh?" tanyanya antusias.
"Kalo dari yang aku pelajari, rujukan dalam beragama itu ada dua, dalil aqli dan dalil naqli. Manusia ini emang pada dasarnya kritis karena punya akal, jadi awalnya pasti bakal nerima apa yang ada di agama selama masih diterima oleh akal. Nah, dalil aqli ini adalah rujukan yang diperoleh dari pendapat ulama dan bukti ilmu pengetahuan, dan udah pasti dalil ini yang paling diterima sama akal," jelas Izumi.
Izumi kemudian melanjutkan penjelasannya. "Tapi, terlalu bergantung sama akal dalam beragama juga nggak baik karena bisa bikin kita meragukan agama alias pedoman hidup sendiri. Soalnya, ada banyak hal-hal dalam agama yang gak bisa dijelasin atau diterima sama akal sehat. Makanya kalau akal kita udah mulai ada tanda-tanda nolak agama, kita harus kembali ke yang namanya dalil naqli. Dalil naqli itu apa? Dalil naqli itu Al-Qur'an dan hadis, yang hukumnya lebih mutlak kalau dibandingkan sama akal kita yang cetek. Hadis atau sunnah itu ucapan dan segala perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan hadis juga gak sembarangan bisa langsung diiyain kayak Al-Qur'an, soalnya ada aja yang malsuin. Jadi, emang yang paling gampang ya udah taat aja gitu sama Al-Qur'an."
Ino melamun mendengarkan penjelasan Izumi. Bukan, ia bukannya tidak paham walaupun Izumi menjelaskannya dengan bahasa yang mungkin agak sulit dipahami oleh orang awam. Ino mampu memahaminya tentu. Toh ia seorang mahasiswa, FISIP pula.
Ia …, takjub.
Bukan, bukan takjub lantas menyukai Izumi dalam konteks yang sama seperti Itachi. Ino benar-benar takjub akan cara Izumi menjelaskan hal tersebut, juga ekspresi bahagia Izumi yang menyiratkan kecintaan Izumi pada agamanya.
"Eh, sorry. Bahasaku agak berat, ya?" ucap Izumi buru-buru dengan wajah bersalah, membuyarkan lamunan Ino.
"Nggak, kok, Teh! Aku paham garis besarnya," jawab Ino.
"Oh, oke-oke. Ngomong-ngomong, Ino anak fakultas apa, nih?" tanya Izumi berbasa-basi.
"FISIP, Teh. HI. Kalo Teteh?"
"Aku FSH, Perbandingan Mazhab. Bukan di kampus ini, sih."
BUSET! KEREN BANGET NAMA JURUSANNYA PERBANDINGAN MAZHAB! pekik Ino dalam hati. "Perbandingan Mazhab belajar apa, Teh?"
"Hmm …, gimana, ya, jelasinnya?" Izumi berpikir sejenak. "Mazhab itu sendiri kan artinya aliran, ya. Nah, kalo di prodiku ini kita ngebandingin mazhab-mazhab dalam fikih entah itu kelebihannya, kesamaannya, ya pokoknya begitulah. Fikih sendiri bisa dibilang hukum Islam, jadi apa-apanya yang dikerjakan dalam Islam itu diatur dalam fikih. Lulusnya gak cuma jadi ustad aja, kita bisa jadi hakim, konsultan hukum, notaris, atau advokat juga karena gelarnya S.H."
Ino mengangguk-angguk paham. Mengobrol sebentar dengan Izumi ternyata menyenangkan, banyak wawasan baru yang masuk ke otak Ino—dan semoga saja tidak langsung lenyap tak berbekas.
Perlahan, rasa takjub yang Ino rasakan berubah menjadi iri diiringi rasa tidak percaya diri. Dari lubuk hatinya terdalam, Ino begitu iri pada Izumi yang tetap bisa menjadi pribadi yang menyenangkan tanpa perlu menambah dosa, apalagi sampai menjauhi agama. Rasanya ia semakin tidak percaya diri saja. Tidak percaya diri untuk bersanding di sebelah Itachi tentunya.
(Memangnya apa lagi? –mayurare)
"Teh!"
Ino dan Izumi menoleh dan mendapati Sasuke dengan wajah kusutnya.
"Kenapa, Dek?" tanya Izumi.
"Teteh balik duluan aja. Gue nyusul nanti, masih mau ngomong dulu sama Ino," kata Sasuke.
Ino menunjuk dirinya sendiri dengan wajah heran. "Gue?" tanyanya.
"Setan di belakang lo." Sasuke menjawab ketus. "Ya elo, lah!"
"Alright. Jangan pacaran, lho!" Izumi berucap dengan wajah serius, namun nadanya terdengar bergurau. Perempuan itu bangkit, lantas tersenyum pada Ino. "Aku balik, ya. Bye!" serunya sambil berlalu dan melambaikan tangan.
"Waalaikum salam," jawab Sasuke yang lebih terdengar seperti mencibir. Pemuda itu kemudian berkutat dengan HP-nya, lalu menaruhnya kembali di telinga.
"Lah? Teh Izumi kan gak salam!"
Sasuke menatap Ino tajam. "Jawab salam itu wajib. Dia aja yang gak ada akhlak," jawab Sasuke ketus.
Ino menggeram dalam hati. Judes banget, anjrit!
"Lo lagi sama Fuu?" tanya Sasuke pada orang yang diteleponnya.
LO JUGA KAGAK PAKE SALAM, BEGOOO! teriak Ino kesal dalam hati. Tentu saja, ia masih memiliki etika ketika ada yang menelepon di sebelahnya.
"Gue sama Ino mau balik duluan, tolong izinin," kata Sasuke. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah kesal. "Elo tuh berskandal sama Kiba. Orang ada urusan, anjing!" serunya jengkel. Seketika ia menyadari bahwa dirinya kelepasan. "Sorry."
Ino menatap Sasuke heran. Tidak biasanya Sasuke terlihat kusut dan terlalu grumpy seperti ini.
"Oke, thanks. Titip Tamaki, jangan sampe Kiba ngapa-ngapain dia. Semoga cepetan beres semua," ucap Sasuke menutup pembicaraan. Ia kemudian menoleh ke arah Ino. "Ikut gue!" perintahnya yang kemudian mulai melangkah meninggalkan halte.
"Mobil gue?" tanya Ino bingung. Seketika Ino teringat sesuatu. "Oh iya, gue nebeng Shikamaru tadi," ucapnya kemudian. Mau tidak mau, Ino pun mengikuti langkah Sasuke yang entah mengapa lebih cepat dari biasanya.
"Buru-buru amat, lo! Mau ke mana?" tanya Ino.
"Bukan urusan lo," jawab Sasuke tanpa menoleh.
"Ya urusan gue, lah! Kan gue yang lo bawa!" Ino berseru kesal. Ia pun berusaha mempercepat langkahnya supaya tidak tertinggal. "Tungguin, brengsek!"
"Lo kalo jalan jangan kayak kukang makanya!" sahut Sasuke.
"Lagian elo keburu-buru amat, sih! Dikira gue atlet jalan cepat, hah?" omel Ino.
"Lo ikutin gue. Gak usah bacot," ucap Sasuke final.
Ino mengumpat kasar, namun tetap menuruti perintah Sasuke yang kini berjalan menuju tempat parkir FEB.
"Sas, buset! Lo kira kampus kita cuma segede SMA, apa? Tungguin!" seru Ino.
"Gue bilang gak usah bacot. Buang-buang napas."
"Et dah!"
Tak lama kemudian, Sasuke pun mendekati Mercedes-Benz E250 keluaran tahun 2012 berwarna putih. Ia membuka pintunya, kemudian mengisyaratkan Ino untuk ikut masuk. Ino pun membuka pintu sebelah kiri, lalu masuk ke dalam dan menutup pintunya.
"Pake seatbelt!" perintah Sasuke.
"Iye," cibir Ino sambil menarik seatbelt dari tempatnya, kemudian memasangnya.
Setelah memastikan dirinya dan Ino aman, Sasuke pun mulai menjalankan mobil ke luar kampus.
"Mau ke mana?" tanya Ino.
"Nggak tau," jawab Sasuke sekenanya.
Ino berdecak. "Sas, lo kayak gini tuh buang-buang waktu gue tau gak?!" seru Ino jengkel.
"No, tolong diem dulu. Gue gak tau mau ngomong kayak gimana dan ke siapa lagi." Sasuke berkata pelan dan terdengar putus asa, namun tetap ketus.
Ino mengatupkan mulutnya. Entah mengapa atmosfer di dalam mobil ini terasa lebih tegang setelah Sasuke berkata demikian. Selain itu, tidak biasanya juga Sasuke terlihat putus asa seperti ini.
.
Sasuke menghentikan mobilnya di McDonald's. Ah, tepatnya ia hendak memesan melalui drive thru.
"Lo mau apa?" tanya Sasuke.
"Siapa yang bayar?" Ino malah bertanya balik.
"Gue."
"McSpicy Meal Large."
"Oke."
"Sama Panas 1 Spicy."
Sasuke spontan menoleh dengan wajah kaget. "Serius?" tanya Sasuke.
Ino berdecak. "Ya iya, lah!" serunya.
"Satu aja," ucap Sasuke.
"Gue laper, Sas!"
"Gue gak bawa banyak duit."
"Halah, ini mobil lo aja bensinnya berapa, kan?"
"Itu duitnya beda."
"SAS GUE LAPER BURUAN!" pekik Ino.
"Masih ngantri, anjir!" sahut Sasuke kesal.
"Oh iya, hehehe." Ino cengengesan.
Sasuke diam, tidak berminat untuk beradu mulut atau memaksa Ino mengurangi pesanannya. Ino pun tidak lagi memaksa Sasuke untuk tetap membelikan pesanannya. Ia memilih untuk mendengarkan lagu melalui earphone Bluetooth-nya.
Setelah beberapa lama, Sasuke pun menyerahkan kantung plastik besar berisi pesanannya pada Ino. "Taroh di belakang."
"Whoa, whoa, banyak amat!" Ino berseru kaget ketika menerimanya. Ia lalu menaruh kantung besar tersebut di jok belakang. "Lo sanggup makan segini sendiri?"
"Lihat ntar," jawab Sasuke yang mulai menjalankan kembali mobil tanpa mengalihkan pandangannya.
Ino memanyunkan bibirnya.
Tak lama, Sasuke kembali menghentikan mobilnya. Ino melihat ke arah kiri dan berseru tertahan ketika melihat warkop di pandangannya.
"Lo habis beli Mekdi serius ngajak nongkrong di sini?!" tanya Ino dengan wajah tidak percaya. Ia bukannya tidak suka, justru inilah satu-satunya warkop yang paling bisa membuatnya betah berlama-lama, kalau saja tidak terlalu ramai karena kue pancongnya yang terkenal sangat enak.
Penyuka pancong mana, sih, yang sanggup menolak lezatnya Pancong Brimob?
Tapi …, Sasuke tidak bercanda, kan? Mereka baru take away McDonald's, lho.
"Beliin pancong keju susu setengah mateng lima." Sasuke menyerahkan pecahan uang lima puluh ribu pada Ino tanpa mengindahkan pertanyaan ino sebelumnya.
"Lima biji habis lo sendiri?!" pekik Ino.
"Satu buat lo," jawab Sasuke.
"Green tea coklat keju sama coklat keju susu." Ino menyahut cepat.
Sasuke memutar bola matanya malas. "Terserah."
"Lo mau makan di sini dulu apa bungkus semua? Gue sama Shikamaru biasa –" Perkataan Ino terpotong.
"Bungkus," ucap Sasuke final.
Ino kembali manyun, lalu membuka pintu dan memesan kue pancong. Setelah menunggu sekian lama (tentunya karena warkop ini selalu ramai), akhirnya Ino pun kembali dengan kantong plastik berisi enam bungkus pancong.
"Kenapa dibungkus, sih?" Ino tetap protes walaupun pancong sudah dibawanya ke dalam mobil.
"Kenapa jangan dibungkus?" Sasuke bertanya balik dengan wajah heran.
"Gue kasih tau ya, Sas. Makan pancong tuh enaknya di tempat, sambil ngeliatin temen lo minum kopi item …." Tanpa sadar, Ino menggantung ucapannya ketika bayangan Sai yang tengah menyesap kopi hitam muncul di benaknya tiba-tiba tanpa permisi.
"Kenapa sama kopi item?" tanya Sasuke.
"Enak! Kopi item enak! Masa lo gak tau?" Nada bicara Ino berubah nyolot, sedikit membuat Sasuke kaget. "Anyway, lo mau ngajak gue ke mana, sih? Dari tadi nyusurin Kelapa Dua doang perasaan!" omel Ino yang mengalihkan pembicaraan.
"Ngabisin bensin," jawab Sasuke, terdengar seperti asal celetuk.
Ino mendecih, kemudian kembali berkutat dengan HP-nya dengan rasa kesal.
"No," panggil Sasuke setelah beberapa saat.
"Apaan?" jawab Ino, terusik.
"Gue mau ngomong," kata Sasuke.
"Apa? Demen lo sama gue makanya traktir-traktir gini?" sambar Ino asal.
Sasuke menahan napasnya sebentar demi meredam rasa kesalnya, kemudian mengembuskannya panjang. "Kalo gue demen sama lo, udah gue tembak lo dari dulu."
"Mana tau kan lo demennya baru sekarang?"
"No, gue lagi serius!" Sasuke kini tak bisa menahan kekesalannya.
"Iya, iya, maaf!" cibir Ino. "Ngomong cepetan!"
"Ini soal kakak gue," ucap Sasuke akhirnya.
Ino terdiam. "Kak Itachi kenapa?" tanya Ino pelan.
"Lo jangan kaget."
"Iya, gak kaget."
"Lo tenang aja."
"Iyaa!"
"Jangan teriak."
"Nggak, gak bakal teriak!"
Sasuke menghela napas, kemudian berkata, "Kita mau ke rumah sakit."
Ino mengerutkan dahi. "Ngapain?"
"Jantung kakak gue berhenti tadi pagi."
Ino bungkam. "Lo becanda?" tanyanya kemudian.
"Gue serius."
"HAAAH?!" pekik Ino heboh.
Sasuke spontan menunjukkan gestur tidak tahan berisik, kemudian menepuk dahinya. "Gue bilang jangan teriak!" serunya kesal.
Ino dengan wajah shock-nya kini terlihat menggerakkan bibirnya, hendak berkata-kata. Namun ia pun bingung harus berkata apa. "K-kok …?" tanyanya gelagapan.
Sasuke mengembuskan napas panjang. "Jantung kakak gue lemah. Kemungkinan karena stresnya numpuk, tensi naik, ya udah. Tadi kata nyokap udah stabil di ICU. Besok-besok juga–" Perkataan Sasuke terputus.
"Kok lo gak pernah bilang gue kalo Kak Itachi jantungnya lemah?" protes Ino. Ia marah, tentu saja. "Lo ada permintaan macem-macem buat gue ketika gue aja bahkan gak sebanding sama kakak lo yang sempurna itu. Tapi lo cuma ngajarin gue biar bisa sebanding dan malah nge-skip satu fakta penting ini dari gue?! Gila ya, lo? Bener-bener!"
Tanpa diduga, Sasuke justru balik berseru, "Kalo gue tau juga gue udah ngasih tau lo dari awal, No!"
Ino terdiam sejenak. "Jadi …, lo gak tau?"
"Gue mana pernah tau soal ini. Dari dulu Kakak selalu ngalah buat gue. Segala tuntutan berat yang tadinya dibebanin buat gue seorang dia ambil semuanya, termasuk jadi dokter sekaligus pimpinan pondok nantinya. Kalo Kakak, bokap, atau nyokap ngomong sama gue soal ini, pasti gue terima aja disuruh-suruh jadi dokter dari pas masuk SMA dulu, bukannya malah linjur ke Mene buat lanjutin perusahaan bokap!" Sasuke berkata panjang lebar.
Ino mencerna ucapan Sasuke baik-baik. Dari yang ia pahami, kedua orang tua Sasuke dan Itachi pasti tipikal orang tua yang mengatur dan merancang masa depan anak-anaknya. Dalam hati, Ino sedikit bersyukur karena kedua orang tuanya benar-benar membebaskan pilihan hidupnya. Bahkan saat ia tiba-tiba banting setir dari Kedokteran ke HI ketika masa-masa daftar kuliah dulu, orang tuanya sama sekali tidak protes. Padahal alasan gadis itu sederhana saja, ia tidak mau bersaing lagi dengan Sakura walaupun pada akhirnya mereka tetap satu kelas ketika TPB dulu dan "bersaing" dalam mendapatkan Sasuke.
"Kalo gue tau dari dulu kan gampang gue tinggal masuk FK," ucap Sasuke pelan dengan raut wajah putus asa. "Sambil jadi dokter juga gue bisa sekolah bisnis, gampang.
"Dokter berat, woi. Jangan digampangin," tegur Ino karena ia ingat jelas seperti apa Naruto. Namun, ia pun yakin Sasuke lebih tahu seperti apa beratnya Kedokteran karena Sasuke yang tinggal satu atap dengan Naruto.
"Seenggaknya gue gak bakal semenderita Naruto. Gue juga bisa belajar bareng Naruto tiap hari jadinya. Lagian gue yang ngajarin Naruto sampe lolos FK, ngapain juga gue masuk FEB kan kalo tau gitu?" tandas Sasuke.
Ino kini memilih untuk bungkam, membiarkan Sasuke berlarut dalam penyesalannya sendiri.
"Sorry, tadi curhat," ucap Sasuke tiba-tiba.
"Gue gak ngelarang, santai," jawab Ino.
Keduanya lalu kembali diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Temenin gue ke rumah sakit sebentar." Sasuke lagi-lagi berkata tiba-tiba.
"Hah? Serius lo?" tanya Ino, setengah heran setengah kaget.
"Bercanda. Turun lo di pom bensin depan!" perintah Sasuke galak.
"Yee, galak lo, anjing!" cibir Ino. "Gue nanya serius, anjir! Emang boleh gue ikut masuk jenguk Kak Itachi?"
"Siapa yang nyuruh lo masuk, gue tanya?" tanya Sasuke dengan intonasi serta mimik judesnya yang sudah kembali.
"Terus gue ngapain ke sana, anjir? Mending lo anter gue balik, dah. Udah kelar juga, kan, urusan curhat lo?" Ino bertanya sewot.
"Belum," jawab Sasuke tanpa beban.
Dalam hati, Ino sudah mengumpat keras-keras juga menyerapahi Sasuke dengan berbagai macam makian.
"Gue mau ceritain lo ke kakak gue. Nanti gue liat reaksinya, terus gue bisa nentuin langkah lo harus gimana buat deketin dia," jelas Sasuke.
"Anjir, ah! Gue jadi takut mau ngedeketin Kak Itachi kalo inget kondisinya gini," ungkap Ino setengah mengeluh.
"Akhlak lo bikin jantungan emang soalnya," sahut Sasuke.
Ino berdecak kesal.
"Pisahin makanan lo!" perintah Sasuke.
"Nanti gue turun, gak?" tanya Ino sambil mengambil kantong plastic yang semula ia taruh di jok belakang.
"Lo mau turun emangnya?" Sasuke bertanya balik.
"Hehehe." Ino cengengesan. Tentu saja ia mau.
"Lo tunggu di mobil. Gue gak mau nanggung malu," tandas Sasuke.
"Heh, anjir! Gue malu-maluin dari mana, sih?" protes Ino tidak terima.
"Kalo lo inget, lo pernah guling-guling nyiumin mukena nyokap gue."
"Emang ngapa, sih?!"
"Gue gak mau nanggung malu depan nyokap."
"Lah lo waktu itu malah 'aing maung' di rektorat, ya! Dasar sok jaim!"
"ITU SAMA LO JUGA, ANJING!"
.
Ino merebahkan tubuhnya di kasur, berusaha menenggelamkan wajah serta pikirannya setelah melalui hari yang teramat panjang. Empuknya kasur membuat rasa kantuk mulai menderanya perlahan. Namun, ia belum boleh tertidur untuk sekarang. Masih ada beberapa hal yang perlu dilakukannya untuk sisa hari ini.
Ia masih terbayang akan percakapannya tadi di perjalanan menuju tempat kosnya.
"Gue mau minta tolong sama lo, No." Sasuke kembali membuka pembicaraan.
"Tolong apa lagi, sih?" Ino bertanya sewot.
"Kakak gue bilang, jangan sampe ada orang yang kasihan sama dia cuma perkara jantungnya doang. 'Doang' katanya, anjing. Biasa. Tapi, yaa …, udah, lah."
"Kalo yang minta Kak Itachi, gue bakal bisain terus semaksimal mungkin demi memperjuangkan cinta gue, Sas. Tapi lo mau minta tolong apa lagi?" tanya Ino tidak sabar.
"Tolong dengerin gue–" Perkataan Sasuke terputus.
"Ya ini gue dengerin!" potong Ino.
"RESE LO MOTONG MULU!" bentak Sasuke.
"LO NGOMONG BELIBET LAGIAN KEK KABEL HEADSET!"
"ITU INTINYA YANG LO POTONG, ANJIR! DENGERIN!" Sasuke berseru kesal. "Maksud gue, tuh, tolong dengerin gue sama kakak gue sebagai pendengar yang baik. Bukannya gue percaya sama lo sepenuhnya buat ngedengerin gue atau kakak gue, ya. Tapi situasinya emang lo yang lagi gue suruh buat deketin kakak gue dan lo emang mau dengan senang hati. Dari omongan kakak gue barusan, kakak gue keliatan percaya sama lo."
"Hah, demi apa Kak Itachi percaya sama gue?" sambar Ino dengan mata berbinar. "Gila gila, selangkah lebih dekat menuju pernikahan gue sama Kak Itachi ini fix!"
Sasuke berdecak kesal, lalu memutuskan untuk mengabaikan perkataan Ino barusan. "Kedua, tolong temenin kakak gue sebisa lo, jangan sampe dia stres apa gimana. Gue gak ngewajibin yang kedua, makanya sebisa lo aja. Kalo bisa terus alhamdulillah, kalo nggak juga gak jadi masalah."
"Kalo gue temenin sampe pelaminan gimana, Sas?"
Sasuke hanya bisa mengumpat kasar sebagai jawabannya.
Tok tok tok! Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" sahut Ino.
Pintu pun terbuka, menampakkan sosok Shikamaru yang juga masih mengenakan kemeja lapangan seperti Ino. Tanpa aba-aba, Shikamaru sudah ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Ino.
"Apa sih anjing deket-deket?!" Ino mendorong tubuh Shikamaru.
"Gue ngantuk, No!" sahut Shikamaru malas.
"Ngapain ke sini kalo cuma numpang tiduran doang?" omel Ino.
"Lo yang nyuruh, bego!"
Keduanya pun diam, larut dalam keheningan.
"Lo udah makan?" tanya Shikamaru.
"Udah. Ditraktir pancong sama Mekdi. Lo?"
"WDP."
Hening pun kembali menyapa.
"Shikaaaa!" Ino tiba-tiba menjerit.
"Apaan?" tanya Shikamaru kesal.
"Kak Itachiii!" seru Ino dengan nada merajuk.
Shikamaru terdiam. Ia tentu paham apa yang Ino maksud. "Sasuke udah bilang ke gue barusan," ungkapnya pelan.
"Selama ini Kak Itachi gak pernah bilang ke elo, apa?" tanya Ino.
Shikamaru menghela napas. "Nggak. Yang tau kayaknya cuma Temari sama Anas doang," jawabnya.
Tanpa disangka, Ino malah tertawa meledek. "Lo gak dipercaya, tuh! Mampus!" ejeknya.
"Yaa," jawab Shikamaru malas.
Keduanya kini kembali diam untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya isak tangis Ino pun pecah.
.
A/n:
Lah, update? Kukira bakal update tahun depan hyahahaa ~ (author pun digebuk massal).
Tbh, tadinya aku mau update persis pas tanggal anniv debut fanfiksi ini. Tapi ternyata masih mentok dan harus dikerjain perlahan. Anw, yup, fanfiksi ini udah setahun, lho, tanggal 29 Juli kemarin. Happy anniv buat "Aku Berhijrah!" :D
Oh iya. Karena waktu itu ada yang request penjelasan istilah-istilah kampus (iya maaf aku kasih rate T, tapi kontennya konten anak kuliahan, hehe), entah kapan ya aku mau buat dictionary-nya sekalian. Agak bingung juga mau jelasin dari mana dan maunya sih sekalian gas balesin review gituu.
Last but not least, makasih banget udah mau nunggu dan baca sampe sejauh ini. Kalo masih penasaran sama kelanjutan perjuangan hijrah Ino PLUS perjalanan timses ShikaSasu, jangan lupa review, follow, sama fav juga ya! See you next time! Jangan lupa bahagia, ok?
