Hidden Lover

Kuroko No Basket © Fujimaki Tadatoshi

Hidden Lover © Alessana

M- Rated Fic

Tags : Romance, Omegaverse, Hurt/Comfort, CEO!Aomine, Model!Kise, Yaoi, R18

Pairing : Aokise

.

.

.

.

[Tokyo, 4:02 AM]

"Ya, bagus, pertahankan gaya itu!"

"Bagus, bagus sekali! Sekali lagi!"

Bunyi shutter kamera dan kilau flash membuat ruangan pemotretan sebuah majalah fashion terkenal di jepang hari itu begitu sibuk. Di belakang monitor yang menampilkan hasil jepretan foto, berdiri seorang lelaki dengan raut serius. Sepasang matanya tampak menatap tajam seseorang yang tengah berpose dengan koleksi terbaru sebuah brand pakaian mewah.

"Kasamatsu-san, silahkan air minumnya." Seorang kru menghampirinya dan menyodorkan nampan yang ia pegang dengan sebotol air mineral di atasnya.

Kasamatsu mengambilnya sambil tersenyum tipis lalu mengatakan, "Terima kasih."

Gadis yang tampak seperti anak kuliahan di sampingnya hanya mengangguk dan tersenyum. Tapi rupanya dia tak segera beranjak setelah memberikan Kasamatsu air mineral itu.

"Kise-kun makin hari makin hebat, ne?" Gumam sang gadis sambil melihat lelaki tampan berambut pirang yang sedang dikerumuni penata rias di tengah studio.

Kasamatsu mengangguk setuju. Tapi senyum yang merekah di bibirnya terlihat begitu sinis.

"Tentu saja dia begitu hebat, rela bangun jam 2 pagi hanya karena agent kalian memajukan jadwal pemotretan seenak jidat tanpa mengabariku terlebih dahulu," ujarnya dengan ketus dan diakhiri tawa sarkas.

Mendengar respon Kasamatsu, gadis itu terlihat terkejut, dia kemudian meringis dan mundur perlahan sebelum meninggalkan tempatnya.

'Dasar orang - orang tak tahu diri,' gerutu Kasamatsu kesal. Dia lalu melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.

Waktu menunjukkan pukul 4.15, langit di luar sana masih terlihat gelap. Di tengah kesibukannya memantau teman SMA sekaligus model yang tergabung dalam agensinya, ponsel Kasamatsu tiba - tiba bergetar.

Dia berjalan keluar studio lalu membaca sebuah email dari maskapai penerbangan yang menyatakan bahwa jadwal penerbangannya terpaksa tertunda karena masalah teknis. Kasamatsu mendecak kesal sambil memijat dahinya yang mengernyit. "Sialan!"

"Senpai, ada apa ssu?" Sebuah suara yang terdengar ringan datang dari balik pintu yang tertutup. Kasamatsu membalikkan badannya dan menjumpai seorang laki - laki berwajah tampan dengan postur tinggi ramping berjalan ke arahnya.

"Oh, sudah selesai?" Tanpa menjawab pertanyaannya, Kasamatsu membalas dengan sedikit gelagapan.

Kise mengangguk sambil membetulkan kancing kemejanya. "Hmm hmm," tapi setelah melihat raut wajah Kasamatsu yang campur aduk antara kesal dan khawatir, dia lalu bertanya, "Senpai, apakah ada masalah?"

Kasamatsu menghela nafas berat, usahanya untuk menutupi rasa kesal, khawatir dan juga kecewanya sudah gagal bahkan sebelum ia mulai. "Cih, rupanya kau masih begitu sensitif ya?"

"Haha, ternyata aku benar ssu! Ada apa, Senpai? Apakah pacarmu ngambek lagi kali ini?" Balas Kise dengan nada riang.

"Bukan, bodoh. Aku berencana mengirimmu ke Hokkaido agar kau bisa istirahat sebentar karena minggu ini adalah— ehem, yah ternyata jadwalnya delay," ujar Kasamatsu dengan sedikit memotong pembicaraannya sendiri saat manajer K-Agency itu sadar bahwa ia hampir membicarakan privasi Kise di ruang publik.

"Hokkaido? Hmm… bukannya bisa pakai kereta ssu?" Tanya Kise sambil memiringkan kepala.

"Bodoh kau. Memangnya bisa kau kesana tanpa dikejar fans mu di tengah jalan?"

Belum sempat Kise menjawab, tiba - tiba ia merasakan ponselnya bergetar. Model tampan itu lalu mengambil ponselnya dari saku belakang dan melihat nama pemanggil yang muncul di layar.

"Tunggu sebentar ya ssu," ucap Kise sebelum melangkah menjauh dari Kasamatsu dan mengangkat teleponnya.

"Ya, halo, Ryoko-nee san?"

"Ryota! Sudah lama aku tak mendengar suaramu! Bagaimana kabarmu sekarang?" Sebuah suara wanita terdengar dari seberang.

"Kabarku baik ssu, kak Ryoko juga baik - baik saja kan?" Tanya Kise pada kakak perempuannya sambil tersenyum.

"Syukurlah jika kau baik - baik saja. Aku juga baik - baik saja disini. Eh iya, apakah kau ada di Tokyo sekarang?" Tanya Ryoko dengan nada penasaran.

"Hmm? Kok kakak tau?" Balas Ryota sambil menaikkan salah satu alisnya.

"Ah, kebetulan aku kenal bos dari brand yang koleksi terbaru pakaian yang memintamu menjadi model. Oh ya, Ryota, apakah kau punya waktu luang hari ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Kise melirik ke arah Kasamatsu dengan tatapan bingung. "Umm…" dia melihat manajernya mengangkat bahu. Kise hanya bisa meringis saat ia menyadari respon Kasamatsu.

"Sepertinya… aku agak free hari ini. Memangnya kenapa kak?" Tanya Kise.

"Tidak apa - apa, aku berencana ingin mengajakmu makan malam hari ini. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, aku juga jarang pulang ke Kanagawa. Apakah kau bisa datang?"

Kise kembali melirik ke arah Kasamatsu, tapi manajernya itu malah mengalihkan pandangannya. Karena merasa tidak enak menolak ajakan kakak perempuannya itu, dia lalu menjawab dengan sedikit ragu, "Sepertinya... Aku bisa malam ini ssu."

"Aaaah, akhirnyaaa aku akan bertemu adikku tersayang setelah sekian lama! Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu di The Lounge Tokyo, okay? Oh ya, karena aku hanya pesan untuk kita berdua, kamu harus datang sendirian ya!"

Mendengar kalimat terakhir Ryoko membuat Kise sedikit heran. Tapi dia tak menolaknya. "Hehe, iya iya ssu."

"Okay, see you there Ryota!" Ujar Ryoko dalam bahasa Inggris sebelum menutup pembicaraan mereka. Kise menghela nafas mendalam sebelum berjalan menuju Kasamatsu.

"Senpai..." Kise mendatangi manajernya yang terlihat cemberut dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. "Aku akan makan malam dengan kakakku malam ini,"

"Itu hakmu. Lagipula, aku masih bisa me-reschedule jadwal mu untuk besok."

Kise terkekeh kecil melihat tingkah kakak kelas SMA nya itu. Dia tahu betapa overprotektif nya Kasamatsu sejak kejadian dua tahun lalu.

Ingatan Kise tak sengaja kembali saat ia berada di titik terburuk di hidupnya, dimana ia hanya bisa terbaring di atas ranjang rumah sakit dikelilingi sejumlah alat penopang hidup dan kaki kirinya yang patah.

"Hehe, aku tahu Senpai khawatir. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri kok ssu."

Kasamatsu hanya mendecak kesal lalu beranjak dari bangku kursi yang ia duduki. Tangannya menggaruk kepala belakangnya yang tak terasa gatal. "Terserah kau saja,"

Tak terasa, matahari terbit dan menyinari langit Tokyo, membangunkan sebagian penduduknya walaupun kota itu sendiri tidak pernah tidur. Kise menghabiskan waktunya untuk berbelanja sejumlah pakaian yang hendak ia pakai untuk malam hari nanti.

Saat ia tiba di hotel tempat ia menginap pada sore harinya, ia membuang bebas topi, masker dan kacamata yang ia pakai seharian penuh untuk menghindari penggemar dan paparazzi.

"Gah… capek juga ternyata," ujarnya setelah menerjunkan diri di atas hamparan kasur empuk di depannya.

Sepasang iris topasnya menatap langit - langit dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali pada perkataan Ryoko yang menyuruhnya untuk datang seorang diri. Alasan Ryoko memang terdengar logis, tapi Kise tidak bisa mengambil resiko.

Dia memang belum sepenuhnya percaya jika insiden yang membuatnya absen dari dunia entertainment dan karir yang meredup dua tahun lalu adalah ulah Ryoko. Kise masih belum bisa menerima kenyataan dan menganggap bahwa kejadian paling mengerikan dalam hidupnya itu adalah murni hasil kesalahpahaman.

Kise telah memaafkan kakak perempuannya, tapi dia tidak akan menempatkan dirinya pada bahaya seperti dahulu.

Sebuah ide kemudian muncul di pikirannya dan membuat dia menelpon Kasamatsu.

"Senpai, apakah senpai bisa mengantarku malam ini?"

"Hah? Bukannya kau bilang kau bisa jaga dirimu sendiri?"

"Aku tahu ssu. Tapi setidaknya aku harus berjaga - jaga bukan?" Balas Kise sambil memainkan kukunya.

"Hah, kau ini merepotkanku saja."

"Hehe, Gomen senpai, besok aku traktir sushi kesukaanmu deh!"

Langit senja hampir menggelap seutuhnya setelah ia menutup telepon. Kise lalu beranjak dari kasur dan meregangkan tangannya ke atas. Satu per satu ia menanggalkan pakaian dan celana jeansnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.

Setengah jam setelahnya, Kise telah rapi dengan turtle neck hitam dan set blazer mocca dipadu celana berwarna sama. Dia lalu berangkat dengan Kasamatsu menuju tempat yang telah ditentukan oleh Ryoko.

"Kise, kau yakin tidak mau aku menemanimu ke dalam?" Tanya Kasamatsu setelah mereka sampai di tempat parkir hotel.

Kise hanya tersenyum tipis, "Aku tahu bagaimana harus menjaga diriku ssu. Senpai tunggu saja disini,"

Pemandangan fantastis 360 night view kota Tokyo menyambut Kise saat ia melangkahkan kaki menuju sebuah meja reservasi dengan seorang wanita berambut pirang yang duduk di salah satu kursinya. Suasana restoran hotel high-end yang ada di tengah kota Tokyo itu begitu tenang, dengan samar iringan musik klasik dan suara percakapan.

"Ah, Ryota," Ryoko beranjak dari kursinya dan memeluk adik laki - lakinya itu. "Aku begitu merindukanmu,"

"Ryoko nee-san… Semakin cantik saja," Kise membalas dengan gestur serupa, lalu mengambil duduknya.

Wanita cantik dalam balutan gaun malam warna maroon itu kemudian memulai pembicaraan. "Haha, bisa saja kau. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat kepadamu karena dipilih menjadi model untuk brand Satsumo. Aku masih tidak percaya kau bisa bangkit lagi dan berdiri di atas kedua kakimu sendiri,"

Ryoko mengakhirinya dengan sebuah senyuman. Tapi entah kenapa, Kise bisa merasakan jika senyuman itu tidak sampai ke mata yang tampak tajam dengan make up smokey eyes milik kakaknya. Dia juga merasa ada sesuatu di balik kalimat terakhir Ryoko.

"Ah, arigatou, aku masih perlu belajar lagi, hehe." Balas Kise dengan senyum yang sedikit terpaksa.

Setelah memilih makanan di menu, keduanya melanjutkan percakapan mereka. Di sela - sela pembahasan yang tak jauh dari dunia fashion dan entertainment, Ryoko mendekatkan kursinya dan menangkupkan kedua tangannya.

"Ne, aku penasaran. Bagaimana bisa agensi tempatmu bekerja mendapatkan kontrak dari Satsumo?" Tanya Ryoko.

Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah jarum yang menelusup masuk ke telinga Kise. Dia bisa merasakan maksud tersembunyi Ryoko ketika menanyakan hal itu. Perempuan di depannya jelas memandang rendah agensinya dan menilai bahwa mereka tidak pantas mendapat kontrak dari salah satu brand pakaian mewah di Jepang.

Kise ingin mengelak, tapi sebuah ide kembali ke pikirannya.

"Ah, agensi kami memang tergolong kecil, staff PR nya pun masih sedikit hehe tapi aku yakin mereka handal dalam masalah publikasi hasil photoshoot ku, sampai - sampai perwakilan Satsumo sendiri yang datang ke kantor," jawab Kise dengan nada sedikit sombong dan mengusap arloji jutaan yen yang melingkar di tangan kanannya.

Merendah untuk meninggi, sebuah strategi yang membuatnya memiliki banyak haters terselubung ini tak pernah ia tinggalkan. Setelah mengatakan jawaban itu pada Ryoko, Kise bisa melihat perubahan ekspresi wajah kakak perempuannya yang tadinya penasaran menjadi mengerutkan alis seolah kesal.

"Oh, I see… Adikku hebat juga ternyata," puji Ryoko, namun senyumnya langsung pudar saat ia menyicip gelas anggurnya.

Percakapan mereka berlanjut sampai menu yang mereka pesan datang. Setelah menghabiskan makanan masing - masing, Kise melirik ke jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 8 malam. Wajahnya agak memerah karena terlalu banyak minum wine.

"Nee-san, aku permisi ke toilet sebentar," Kise meninggalkan arlojinya di atas meja lalu beranjak dari kursi.

Setelah ia meninggalkan meja, Ryoko tampak melirik ke kanan dan ke kiri dengan raut yang sulit dibaca. Dia kemudian memanggil pelayan dan memesan satu lagi botol anggur.

"Nee-san? Kenapa memesan wine lagi?" Tanya Kise setelah ia kembali dari toilet dan memasang arlojinya kembali.

"Ayolah, aku sudah lama tak bertemu denganmu. Temani aku minum!" Jawab Ryoko sambil mengangkat gelasnya.

"Fuh… baiklah," Kise tampak segan, tapi karena wine yang dipesan kakaknya malam ini adalah salah satu favoritnya, dia tak bisa menolak.

Namun dia tak pernah menyangka, bahwa menemani Ryoko menghabiskan wine malam itu akan mendatangkan sebuah bencana untuknya…

"Ternyata kau lebih cantik daripada di foto… Kise-kun..."

Sebuah suara serak laki - laki yang terdengar menjijikkan membangunkan Kise tidurnya. Ia mengedipkan matanya berkali - kali untuk mengusir pandangannya yang masih buram. Badannya terasa panas dan kepalanya terasa begitu berat saat ia sadar seseorang menaikinya dari atas.

"S...Siapa kau…!"

To be continued….

Note:

Waduh, siapa itu ya? :