The Heart Maze
Disclaimer: Harry Potter © J.K Rowling
Author: MilesMalfoy
Rated: T (bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan)
Pair: Dramione
Warning: Typo, OOC, Muggle World
Tidak ada keuntungan apapun yang saya ambil dalam pembuatan fic ini.
Summary: Hermione pergi meninggalkan Paris dan seluruh kehidupan mewahnya karena tak ingin dijodohkan. Setelah dua tahun bersembunyi di London, sebuah keadaan mengantarkannya pada seseorang yang menawarkannya sebuah pernikahan –hal terakhir yang diinginkan Hermione pada hidupnya saat ini. Akankah Hermione menerima tawaran tersebut?
The Heart Maze
Hermione menatap pemandangan kota Paris dari balik kaca jendela ruang kamar pasien dengan segelas kopi panas di tangannya. Kepulan uap yang menguar seolah mewakilkan rupa pikirannya yang sedang berkelana, mencoba meluruskan segala hal yang sedang ada di hadapannya sekarang.
Apa yang harus dia lakukan dengan pernikahan Feredico? Hadir? Bagaimana jika dia memutuskan untuk tidak hadir? Namun tentu saja tidak bisa, ibunya pasti tetap akan memaksa Hermione untuk pergi.
Dan bagaimana dengan pekerjaannya? Hermione merasa tidak enak kepada bosnya jika ijin terlalu lama.
Satu helaan nafas meluncur keluar dari mulutnya. Jemarinya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan menunduk sesaat.
"Hermione." sontak Hermione menoleh setelah mendengar suara dari belakangnya itu. Kakeknya terbangun, menatapnya.
"Kakek," jawabnya sembari mendekat. Diletakkannya gelas karton kopinya di atas meja di samping ranjang pasien.
"Apa yang kau pikirkan, hm? Kau tampak tidak baik-baik saja." Tangan rapuhnya terangkat, mengusap sebelah wajah cucunya itu.
"It's fine, Grandpa. Hanya masalah kecil, jangan khawatir." Hermione berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk meyakinkan. "Bagaiamana kondisimu? Sudah merasa lebih baik?"
William ikut tersenyum. "Aku baik-baik saja." kini jemari yang berkeriput itu mengusap helaian rambut Hermione. "Dengar, cucuku. Kakek mendukung apa pun yang kau putuskan mengenai hidupmu. Jangan biarkan ibumu menyulitkanmu. Namun, ingatlah bahwa orang tua terkadang merasa mereka tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Mereka juga bisa salah."
Hermione hanya bisa mengangguk mendengat ucapan kakenya.
"Dan satu hal penting lagi yang tidak boleh kau lupakan."
"Apa itu, Kek?"
"Kau adalah seorang Granger. Di dalam dirimu mengalir darah itu. Jika ibumu bersikeras menjodohkanmu, itu semata-mata bukan hanya karena bisnis, tetapi juga karena value dirimu dan keluargamu."
"Aku mengerti." kepala Hemione terangguk dengan senyum yang kembali ia tunjukkan. Ekspresinya itu sungguh berbanding terbalik dengan keadaan di dalam hatinya. Rasanya ia ditampar dengan ucapan Kakenya itu.
Hermione tentu sadar dengan siapa dirinya. Tetapi rasanya tidak pernah semenyakitkan ini menyadari realitanya. Baru kali ini menyandang nama belakang terasa memuakkan bagi dirinya.
Hermione akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk pertama kalinya sejak ia kembali menginjakkan kakinya di Paris. Setelah obrolan dengan Kakeknya itu, dia memutuskan untuk mencoba berdamai dengan ibunya. Jika masalah ini berhasil menemui titik tengahnya, maka keadaan bisa berubah dan dirinya bisa membuat keputusan berikutnya untuk kelanjutan hidupnya.
Satu tangannya menggeret kopornya melintasi ruang tengah yang kosong. Tampaknya Ibunya sedang tidak berada di rumah. Melihat situasi rumah yang sepi Hermione memutuskan untuk beranjak ke kamar. Namun kemudian langkahnya terhenti saat sosok yang dicarinya muncul dari balik pintu.
"Aku kira ponselmu tidak memiliki fitur maps." ucapan sarkasme dari Jean menyambut Hermione dan dibalasnya dengan putaran mata.
Hermione lupa kalau inilah alasan mengapa sulit baginya untuk berdamai dengan Ibunya. Bahkan untuk bicara saja sulit sekali jika tidak ada sarkasme di dalamnya.
"Kukira kau sudah terbang ke London demi bersembunyi dari pernikahan mantan kekasihmu." lanjutan kalimat Jean semakin menohok hati.
Hermione tertawa penuh sarkasme juga untuk menghadapi kata-kata Ibunya. "Tidak ada alasan untuk bersembunyi."
Jean menganggukkan kepala. "Bagus kalau begitu. Jika kau berniat datang ke pesta itu, pastikan kau punya pasangan. Atau jangan datang sama sekali jika kau sendirian."
"Aku akan datang. Seorang diri." jawab Hermione tegas. Mengapa pula dia harus memusingkan diri mencari pasangan sekedar untuk datang ke pernikahan Elfata jika ia bisa melakukannya sendiri?
"Akan kubuat janji temu dengan Richard Mills untukmu."
"Mother!"
"Ucapanku bukan untuk dibantah, Hermione. Jika kau tidak bisa mencari pasangan untuk dibawa ke sana, maka aku yang akan melakukannya untukmu."
Hermione menatap mata Ibunya sengit, berusaha menahan kemarahan yang datang dalam dirinya. Pertengkaran ini seketika menyadarkan dirinya, bahwa memang ada hal-hal yang tidak bisa lagi diperbaiki. Dan berdamai mungkin bukan opsi yang bisa diterapkan untuk hubungannya dengan Ibunya.
Bibirnya Hermione bergetar, "Untuk pertama kalinya, aku berharap aku tidak dilahirkan sebagai seorang Hermione Granger." ujarnya penuh emosi.
Pertengkaran beberapa jam lalu pada akhirnya membuat Hermione mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Hermione bahkan sudah tidak yakin bahwa rumah itu adalah rumahnya, tempat pulangnya.
Kopornya kini tergeletak di lantai sembarangan, sementara dirinya terbenam di ranjang kamar tamu di apartemen milik sahabatnya. Beruntung dia memiliki sahabat yang bisa diandalkan. Jika tidak, Hermione harus berakhir di hotel dan itu akan membengkakkan biaya hidupnya. Gajinya sebagai barista tentu tidaklah banyak. Sungguh tidak etis untuk membuang gaji demi tidur di hotel selama beberapa hari di kota di mana ia lahir dan tumbuh. Di kota di mana keluarga dan kerabatnya semua berada di sini. Di kota di mana ia memiliki rumah.
Ponsel Hermione berbunyi, membuatnya mengangkat kepala untuk mencari di mana persis letak ponselnya sehingga ia bisa meraihnya. Saat ponselnya berhasil didapatkan, dilihatnya nama Thalia yang muncul, bersama dengan deringan telepon masuk. "Halo."
"Halo, Hermione."
"Ya, Thalia. Ada apa?"
"Um, ada yang ingin kutanyakan."
"Ya?"
"Apa kau mendapat undangan pernikahan Daphne Greengrass dan Elfata Feredico?"
Kening Hermione mengernyit ketika ia mendengar pertanyaan itu. Tidak menyangka akan mendengarkan pertanyaan semacam ini dari Thalia. "Kau dapat undangannya juga, Thalia?"
"Aku? Kau bercanda? Siapalah aku ini hingga bisa mendapatkan undangan dari kalangan atas seperti mereka, Hermione? Tapi aku kemungkinan akan menghadiri undangan tersebut."
"Lalu, bagaimana kau akan datang? Dengan siapa?"
"Bosku yang dapat undangan. Dan karena beliau tidak memiliki pasangan, maka rencananya ia akan membawaku. Sebab itulah aku bertanya, dengan background-mu, rasanya tidak mungkin mereka tidak mengundangmu."
"Oh, ya. Aku dapat undangannya."
"Bagus! Kita bisa bertemu di sana, kalau begitu. Omong-omong, kau datang dengan siapa?" Thalia terdengar puas di ujung sana. Entah untuk alasan apa.
"Kemungkinan besar sendiri, kemungkinan lainnya juga bersama seseorang. Entahlah, kau tahu aku tidak punya pasangan."
Hermione menghela nafas frustrasi. Dia sungguh ingin datang seorang diri. Atau jika harus bersama seseorang, dia ingin orang tersebut bukanlah siapa pun yang berada dalam daftar Ibunya. Tapi rasanya mustahil untuk bisa menemukan seseorang itu karena Hermione tidak memiliki ide apa pun. Yang dia tahu, seseorang itu haruslah bisa memenuhi selera Ibunya jadi wanita itu bisa membungkam mulutnya dan berhenti merecoki Hermione.
Yang mana semakin membuatnya tidak mudah.
Pilihan terakhir adalah menerima perintah Ibunya. Tapi, sungguh, Hermione tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin melakukannya.
"Aku tahu ini akan terdengar gila. Tapi… bagaimana jika kau datang dengan bosku? Kalian berdua sama-sama tidak memiliki pendamping."
Tawa Hermione tersembur seketika. "Thalia! Are you insane? Datang dari mana ide itu? No way! That's impossible." sungguh konyol. Apa yang Thalia pikirkan?
"It's not impossible, Hermione. Look, kalian sama-sama tidak memiliki pasangan dam kalian juga sama-sama diundang. Dan lagi, di atas segalanya, yang sedang kita bicarakan ini bosku. Bosku! CEO M Group! Seorang Draco Malfoy! Setidaknya kalian akan cocok bersama dalam pesta mewah itu. Latar belakang kalian saling mendukung."
Hermione terdiam sesaat. Penjelasan Thalia barusan rasanya seperti menjawab seluruh keresahannya.
"Hermione!" Thalia memanggil karena tak ada sahutan dari sisi Hermione.
"I'm here. Tapi aku tidak mengenal bosmu, Thalia. Sungguh aneh datang ke pesta bersama orang asing. Dan asal kau tahu, mempelai pria di pesta pernikahan itu adalah mantan kekasihku." Hermione menggelengkan kepala, kemudian menepuk jidatnya pelan.
"What?! Kau gila?! Elfata Feredico adalah mantanmu?! Wah, dunia macam apa yang kutempati ini. Hermione, kau memang sesuatu."
Hermione hanya mampu mendesah mendengar Thalia. "Sudahlah, lupakan idemu. Itu tidak mungkin."
"Tidak. Aku akan membuatnya mungkin. Kau tunggu saja. Dua hari lagi kami terbang ke sana dan aku akan menyiapkan segalanya. Satu-satunya hal yang perlu kau lakukan adalah tolak siapa pun yang akan jadi pasanganmu! Spot itu milik bosku."
"Kau sudah gila, Thalia."
Halo.
Lama tidak bersua.
Semoga masih ada yang baca ya, wwkkw. Terima kasih jika kalian masih menunggu THM.
Terima kasih juga untuk semua review kalian 3
if you guys are interested to know about me or wanna say hi or have a talk, please feel free to hit me up at teleg*am. My id: sayankku
Um, btw, kalian sudah vaksin?
Semoga kita semua selalu sehat dan semakin kaya ya. Amin.
Wkwkw saya bingung mau ngomong apa lagi.
Ya sudah, dadah! See you!
Ps: sekali ketik, typo mohon dimaklumi. maaf ya, tidak panjang
