"Harry, aku tidak ingin meninggalkanmu." Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada pemuda bernama Harry yang tak lain adalah kekasihnya.
"Dengar Grisha, kita sudah merencanakan ini berminggu-minggu. Dan aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya."
"Tapi... tapi..." Gadis itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Entah mengapa ketakutan serasa mencengkram lehernya begitu erat.
"Ron dan Hermione sudah setuju untuk menjalankan rencana ini. Kami bertiga akan mengepungnya dari berbagai penjuru dan menyerangnya secara bersamaan." Jelas Harry sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
"Kalau begitu biarkan aku ikut dalam rencana ini, please."
"Tidak, tidak aku tidak ingin kau kembali terluka Love. Cukup satu kali aku hampir kehilanganmu." Ungkap Harry sambil menciumi puncak kepala kekasihnya itu.
Ya Harry memang nyaris kehilangan kekasihnya itu. Saat itu Grisha dan Hermione tertangkap oleh para Pelahap Maut. Mereka berdua di tahan di Malfoy Manor dan mendapatkan siksaan dari Bellatrix dan Lord Voldemort. Mereka berdua di siksa dengan kutukan Cruciatus tanpa henti dan berbagai siksaan lainnya. Hermoine menyaksikan saat tubuh sahabatnya itu terlempar ke tembok dengan begitu keras akibat terkena Cruciatus dan Avada Kedavra secara bersamaan. Tubuh Grisha diam tak bergerak, saat itulah Dobby datang membawa Hermione dan Grisha ke Shell Cottage.
Harry dan semua orang terpukul melihat jasad Grisha yang dibawa oleh Dobby bersama Hermione. Harry membaringkan tubuh kekasihnya itu di atas tempat tidur, air matanya terus jatuh menangisi kekasih hatinya yang kini telah tiada. Mereka telah bersama sejak tahun pertama mereka di Hogwart dan memutuskan untuk serius berpacaran saat mereka berada di tahun ketiga.
Banyak hal yang telah mereka lalui bersama selama ini ditemani oleh kedua sahabat mereka Hermione dan Ron. Mereka bertiga bersama-sama membantu Harry menghadapi berbagai kejadian yang luar biasa. Dan saat ini Grisha tewas, Harry terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Karena kesalahannya lah Grisha tewas.
Disaat semua orang tengah menangis dan berduka, tiba-tiba hal yang mengejutkan terjadi. Seberkas sinar bewarna biru tiba-tiba muncul dan menyelubungi tubuh Grisha. Harry yang semula berada tepat disampingnya secara refleks menjauh saat cahaya itu muncul. Dengan pandangan takjub Harry melihat perubahan yang terjadi pada fisik kekasihnya itu. Rambut Grisha yang berwarna pirang kecoklatan berubah menjadi berwarna coklat tua yang bergelombang dan memiliki panjang hingga pinggangnya, matanya yang berwarna biru laut yang jernih kini menjadi abu-abu yang begitu indah serta mustahil dan kulitnya yang kecoklatan kini menjadi putih pucat dan tubuhnya yang sudah berlekuk semakin berlekuk indah.
Saat selubung cahaya berwarna biru itu hilang terserap ke dalam tubuhnya, tiba-tiba Grisha terbangun dan menyapa mereka semua. Harry yang terkejut namun tidak bisa menutupi perasaan bahagia karena kekasihnya ternyata masih hidup langsung menerjang tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Tak akan mengira bahwa sosok yang baru terbangun itu adalah seorang Grisha Athena Alexander.
Sejak kejadian aneh itu Grisha jadi memiliki koneksi ke dalam pikiran Lord Voldemort sedangkan Harry kehilangan koneksinya. Untunglah Grisha memiliki kemampuan Occlumency yang mengagumkan jadi ia bisa melindungi pikirannya dari Lord Voldemort.
"Dengarkan aku Harry, jika aku ikut berpartisipasi kita bisa menyerangnya dari empat penjuru mata angin. Bukankah empat lebih baik daripada tiga?"
"Baiklah, berjanjilah kau akan segera pergi jika aku memintamu." Grisha mendengus sambil memandang wajah kekasihnya itu. Namun ia terpaksa mengangguka daripada tidak diijinkan untuk ikut dalam penyerangan kali ini.
Ia tidak mungkin berdiam diri dan bersembunyi sedangkan diluar sana pertempuran telah pecah hingga ke dalam kastil Hogwart. Sudah banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak dan itu semakin membuat Grisha semakin terpacu untuk membantu Harry dan kedua sahabatnya mengalahkan Lord Voldemort.
Harry kembali memandangi kekasihnya itu dengan dalam. Kemudian ia menciumnya dengan tergesa, seolah itu adalah ciuman terakhir yang akan dirasakannya. Kedua sejoli itu saling mencium dengan perasaan yang tak menentu, rasanya seperti ciuman perpisahan bagi Grisha namun gadis itu menjauhkan pikiran buruk yang menghampiri kepalanya. Lidah mereka saling menjelajahi dan saling memilin. Harry sangat sangat mencintai Grisha begitu pun dengan gadis itu. Harry berjanji setelah perang selesai mereka berdua akan menempati Grimmauld Place nomor dua belas setiap liburan musim panas.
Mereka melepaskan ciuman mereka dengan nafas yang terengah. Harry menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. "Ayo kita musnahkan penyihir jahat itu, Love." Ucapnya dengan nafas yang masih terengah. Harry mencium kening Grisha dengan penuh kasih sebelum melepaskan kekasihnya itu untuk bergabung bersama Ron dan Hermione yang telah menunggu mereka berdua.
Mereka berempat menuruni tangga-tangga kastil yang terhalangi oleh reruntuhan dinding kastil. Keempat siswa Gryffindor itu saling waspada dan melindungi satu sama lain. Setelah sampai di Aula depan mereka di hadang oleh beberapa Pelahap Maut. Namun mereka berhasil di singkirkan berkat kerjasama mereka yang mengagumkan.
"Baiklah ini saatnya kita menyebar ke posisi masing-masing. Aku melihat Lord Voldermort ada di lapangan luas dekat Danau Hitam." Ucap Harry.
"Oke, hati-hati kalian semua." Ucap Ron, mereka saling menangguk mengerti dan mulai berpencar ke posisi masing-masing.
Mereka berjalan berendap-endap dan sesekali melawan Pelahap Maut yang kebetulan bertemu dengan mereka di jalan. Ron, Hermione dan Grisha bersembunyi di posisinya masing-masing, menunggu Harry sampai di hadapan penyihir hitam itu. Karena jika Harry sudah berhadapan dengannya itu adalah tanda bagi mereka bertiga untuk muncul di posisi masing-masing.
Setelah beberapa menit menunggu dengan gelisah. Akhirnya mereka bertiga melihat Harry yang sudah berhadapan dengan Lord Voldemort. Saat itulah Ron, Hermione dan Grisha muncul di posisi masing-masing.
"Kau ingin mengeroyokku Harry?" Desis Lord Voldemort sambil menatap berkeliling mereka berempat. Tongkat teracung kepadanya.
"Kami akan membunuhmu sekarang juga." Teriak Harry.
"Harry, Harry, Harry. Kau tidak akan bisa mengalahkanku. Mari kita lihat kira-kira siapa yang akan aku bunuh terlebih dahulu." Lord Voldemort memandangi Ron, Hermione dan Grisha satu per satu. "Ah, ada Darah Lumpur kesayanganmu disini Harry. Bagaimana kalau aku membunuhnya terlebih dahulu."
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh Grisha seujung rambut pun, Tom." Harry mendesis marah.
"Kau tidak akan bisa membunuhku Tom Riddle." Teriak Grisha.
"Ah, selalu berani seperti biasanya." Cemooh Lord Voldemort.
Mereka berempat secara serentak memberikan serangan kepada Lord Voldemort. Namun ia begitu kuat dan bisa memukul mundur mereka berempat. Tubuh mereka terpelanting ke belakang.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya Hermione sambil menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya.
"Kami baik-baik saja Mione." Ron menimpali.
Di saat mereka berempat sudah bisa berdiri kembali dan bersiap untuk kembali menyerah. Tiba-tiba ada Pelahap Maut yang menyerang dengan menggunakan kutukan membunuh dan memukul Ron dan Hermione secara bersamaan. Gugurnya mereka berdua membuat Harry dan Grisha sangat terpukul. Untunglah Pelahap Maut yang menyerah berhasil di jatuhkan oleh Grisha.
Mereka berdua merapatkan tubuh saling menguatkan. "Dengarkan aku kali ini, Love."
"Tidak. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu Harry, sungguh aku tidak akan mendengarmu." Tolak Grisha dengan gemertar karena amarah.
"Aku tidak ingin kau terluka. Setidaknya harus ada yang tetap hidup di antara kita berempat, Love." Bisik Harry lembut.
Grisha semakin terisak "Tidak Harry, kalau pun harus ada yang harus hidup itu pastilah kita berdua Harry."
"Dengar aku akan menyerangnya saat itulah kau pergi secepat mungkin. Mengerti."
"Tapi... Harry." Namun kekasihnya itu tidak mendengar dan memberikan serangan kepada Lord Voldemort.
"Pada hitungan ketiga kau harus lari Grisha." Teriak Harry yang tengah mencengkram kuat tongkat sihirnya. "Satu..."
"Harry, aku tidak mau."
"Dua..."
"Harry, aku mencintaimu." Ucap Grisha lirih.
"Aku lebih mencintaimu. Tiga... lari sekarang Grisha." Teriak Harry.
Grisha berlari secepat yang ia bisa tanpa menengok ke belakang. Ia terlalu takut dengan apa yang akan dilihatnya. Harry disana sedang berjuang untuk nyawanya meskipun tidak ingin Grisha harus memastikan bahwa ia bisa selamat dan tetap hidup dalam pertempuran ini.
Kaki-kaki jenjangnya berlari dengan tergesa ke dalam kastil yang sudah hancur sebagian. Banyak tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan dimana-mana dengan darah yang menggenangi tanah serta lantai. Lagi, air matanya jatuh melihat itu semua. Semua orang-orang yang dikenalnya telah pergi. Pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Semua itu karena ulah salah satu penyirih hitam yang sangat jahat. Lord Voldemort. Dan sekarang kekasihnya tengah berjuang mengalahkan penyirih itu.
Andai saja Profesor Dumbledore masih hidup. Keadaannya tidak akan sekacau dan separah ini. Tidak akan banyak siswa, pengajar, dan penduduk negeri sihir yang menjadi korban. Dengan tangan gemetaran Grisha mendorong pintu Aula Besar yang tertutup, kemudian berlari menuju ke arah meja yang di peruntukkan bagi para pengajar. Ia bersembunyi di balik meja dengan gemetaran.
Kesunyian yang mencekam membuat jantungnya berpacu dengan begitu cepat. Terlebih saat ia mendengar suara hentakan sepatu yang menggema. Grisha sempat berharap bahwa itu adalah Harry, namun saat suara melengking yang menyeramkan itu terdengar membuatnya semakin ketakutan. Harry telah tewas dalam pertempuran. Hanya Grisha satu-satunya orang yang tersisa.
"Keluarlah sekarang, darah lumpur kesayanganku. Jangan bersembunyi lagi." Lengkingan suara itu lebih terdengar seperti desisan membuat Grisha menggigil.
"Kekasihmu sudah mati, dia sudah tidak bisa melindungimu lagi. Cepatlah keluar." Teriaknya.
Dengan badan yang gemetaran dan air mata yang terus menerus membasahi pipi Grisha berdiri, keluar dari persembunyiannya. Menatap penyihir gelap yang ada di hadapannya dengan pandangan berkabut karena air mata.
"Menyerah dan bergabung denganku maka hidupmu akan terus berlanjut. Menolak kau akan mati menyusul kekasihmu itu." Tawarnya.
Grisha mengusap kasar air mata yang menghalangi pandangannya dan memandang tajam Lord Voldemort, "Tidak. Aku lebih baik mati." Desis gadis cantik itu.
Tongkat putih pucat Voldemort teracung dan membanting tubuh mungil Grisha hingga terjatuh tepat ke hadapannya.
"Tetap keras kepala, eh?"
"Lebih baik mati dari pada aku harus bergabung denganmu." Kata-kata Grisha tajam.
"Baiklah, sesuai permintaanmu." Lord Voldemort kembali mengacungkan tongkatnya dan melafalkan kutukan tak termaafkan tepat ke arah Grisha.
Cahaya hijau keluar dan meninggalkan ujung tongkatnya dan memukul tepat dada gadis itu. Alih-alih rubuh ke tanah, Grisha menjerit kesakitan. Rasanya seperti sesuatu masuk ke dalam tubuh dan pembuluh darahmu dengan brutal hingga rasanya tubuhmu terasa begitu sakit.
Sedangkan Lord Voldemort yang menyadari ada hal ganjil berusaha untuk melepaskan pegangan tongkatnya. Namun tongkat putih pucat kesayangannya itu seolah melekat dengan pegangan tangannya. Tubuhnya terasa panas, semua sihirnya tersedot keluar dari tubuhnya dan terserap oleh gadis yang kini tengah menggelepar kesakitan di hadapannya. Hingga akhirnya tubuh Lord Voldemort mulai menghilang menjadi butiran debu yang terbang terbawa angin. Sedangkan tubuh Grisha menghilang, meninggalkan kastil yang kini memberikan kesan angker dan mengerikan dengan mayat dan darah yang bergelimpangan dimana-mana.
