Menjelang Festival Olahraga yang akan diselenggarakan oleh sekolah, Atsumu hanya memperhatikan teman-teman sekelasnya yang tengah berkumpul di salah satu meja dan sibuk membahas perihal berbagai macam perlombaan yang akan mereka ikuti nanti.
Merasa tidak tertarik, ia mendengus pelan dan memutar tubuhnya untuk berjalan menjauh dari sekumpulan orang tersebut.
"Atsumu!"
Panggilan itu membuat langkahnya terhenti. Atsumu menolehkan kepalanya, mendapati Ginjima yang tengah berjalan menghampiri.
"Apa?" tanya Atsumu.
Pemuda berambut sandy brown itu menyengir, membuat Atsumu sedikit merasa curiga karenanya.
"Untuk perlombaan di festival nanti… kau ikut, ya? Habisnya di kelas ini kan, kau yang paling jago olahraga." Pinta Ginjima hati-hati.
Memicingkan matanya, Atsumu langsung menolak dengan ketus, "Nggak mau." lalu kembali menghadap ke depan dan melanjutkan langkahnya.
Masa mereka yang heboh, dia yang capek?
"Oi, Atsumu!"
Ginjima tahu temannya itu tidak akan langsung menyetujui permintaannya, tapi tetap saja ia merasa sedikit panik. Bagaimana pun juga, Atsumu adalah seorang powerhouse dalam bidang olahraga, dan mereka membutuhkannya dalam perlombaan nanti.
Untungnya, ia sudah menyiapkan Plan B guna melancarkan aksinya.
"Atsumu, ku dengar Sakura bakal berpartisipasi di lomba lari berpasangan lho, kesempatan bagus tuh."
Perkataannya sukses menghentikan langkah Atsumu. Walau dia hanya berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ginjima tahu ia sudah berhasil menggoyahkan hatinya.
"Malahan, dia bakal ikut banyak lomba nanti. Kau pasti paham, kan? Soalnya, sama sepertimu, dia juga cewek yang paling jago olahraga di kelas."
Kali ini Atsumu menolehkan kepalanya, menatap Ginjima dari balik bahu. "Serius…?"
Ginjima berusaha mati-matian menahan seringai yang memaksa ingin muncul di bibirnya. Dalam hati, ia sudah terpingkal sangat hebat karena ternyata semudah itu untuk menghasut seorang Miya Atsumu.
"Duarius." Yakin Ginjima.
Atsumu menatap lamat-lamat teman sekelas sekaligus rekan setim voli nya tersebut, menimbang ulang permintaannya dengan informasi yang baru ia dapat.
Tapi serius, seharusnya ia tidak usah berlagak berpikir banyak. Karena kalau sudah menyangkut tentang Sakura, alias perempuan galak tapi cantik di kelasnya, mana bisa ia berkata tidak? Toh, semua kesempatan yang diberikan harus dimanfaatkan dengan baik.
"Oke, aku ikut."
Ginjima benar-benar harus berterima kasih kepada sang gadis musim semi. Dan juga bersyukur karena—Atsumu was such a sucker for her.
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Haikyuu by Furudate Haruichi
Warning!
Penggunaan kata tidak baku, cheesy, dan agak cringe.
Please enjoy!
.
.
.
"Kyaaa! Miya-senpai!"
"Atsumu-senpai!"
"Semangat, Atsumu!"
Atsumu—yang tengah bersiap untuk perlombaan tarik tambang—mendengus, dalam hati berdecak sebal. Inilah sebabnya mengapa ia tidak ingin berpartisipasi dalam event-event sekolah. Pekikan para 'babi' itu, tidak bisa membuatnya tenang dan fokus.
Tapi untungnya—
"OI, ATSUMU! TARIK YANG BENAR, YA!"
—ada perempuan itu di sana.
Atsumu menyeringai, memutar kepalanya ke samping dan menatap seorang gadis berambut merah muda panjang yang tengah berdiri di pinggir lapangan.
Kalau teriakan darinya, sih… ia tidak masalah.
"Tidak usah khawatir begitu, aku pasti menang!" seru Atsumu. Sakura melemparkan tatapan jijik kepadanya, tapi pemuda blonde itu tetap mempertahankan senyumannya.
Seorang panitia acara memberikan aba-abanya untuk bersiap-siap. Atsumu kembali menghadap ke depan, senyumnya melebar menjadi sebuah seringai keji begitu bertatapan dengan orang yang berada di depannya. Lawan mereka dari kelas sebelah, yaitu Miya Osamu, kembarannya sendiri yang tengah menatapnya malas. Ada sorot aneh yang terpancar dari matanya, oh, Atsumu tahu itu. Pasti Samu merasa geli usai melihat interaksinya dengan Sakura barusan.
"Apa-apaan tatapanmu itu?!" seru Atsumu jengkel. Osamu terlihat seperti sedang menahan tawanya. "Wajahmu menggelikan sekali, Tsumu. Ternyata jatuh cinta memang membuat orang terlihat bodoh, terutama kamu."
Perempatan siku muncul di dahi Atsumu, wajahnya memerah karena amarah. "Diam kamu!"
Panitia mulai menghitung mundur, Atsumu mengeratkan pegangannya pada tali yang ia genggam, tatapannya penuh determinasi. Osamu terlihat seperti ogah-ogahan, tapi Atsumu tahu kalau kembarannya itu juga menganggap serius pertandingan ini.
Terserah mau lomba apapun, di tempat manapun atau dalam kondisi apapun, pokoknya kalau lawannya Osamu, ia harus menang.
Priittt!
"HNNGGH!"
Atsumu langsung menarik tali dengan sekuat tenaga, 6 orang teman sekelasnya yang berada di belakangnya juga membantu dengan semangat. Ia menatap Osamu sinis, kembarannya itu mengerutkan kening dan balas menarik tali dengan tidak kalah kuatnya.
Di sekeliling mereka para penonton bersorak-sorai. Atsumu dapat mendengar teriakan Sakura dengan jelas yang berbunyi; "KAU AKAN MERASAKAN TINJUKU KALAU SAMPAI KALAH, ATSUMU SIALAN!" Atsumu menarik sudut bibirnya. 'Khe..'
Menarik tali dengan kencang, Atsumu menahan pijakannya agar ia tidak tertarik ke area lawan. "Menyerahlah, Samu! Kamu belum makan, kan? Kamu pasti lelah sekarang!" Osamu yang mulai jengkel dengan kata-katanya balas menarik talinya dengan tiba-tiba, membuat Atsumu hampir kehilangan pegangannya. "Tutup mulutmu, Tsumu! Kamu terlihat sedikit gila sekarang, Sakura-san tidak akan mau berkencan denganmu."
Atsumu terkesiap, jadi dia menyerang balik lewat perasaan sekarang? "Gah! Berani-beraninya…!"
Osamu belum selesai. Ia melirik ke samping lewat sudut matanya sekilas lalu balik menatap Atsumu, melempar seringai padanya. "Tsumu, ku pikir dia menatapmu dengan berbinar tadi, seakan kamu adalah pangerannya."
Atsumu—dengan bodohnya langsung percaya dan menoleh dengan cepat ke arah Sakura. Pertahanannya melemah dan saat itu langsung dimanfaatkan oleh Osamu untuk menarik tali nya dengan menggebu-gebu. Atsumu yang kaget tidak sempat mengembalikan keseimbangannya dan terjatuh ke depan. Pemandangan yang terakhir kali ia lihat sebelum wajahnya menghantam lapangan adalah ekspresi Sakura yang berubah menjadi sangar dalam slow motion.
BUGH!
Priiittt!
"Pertandingan antara kelas 2-1 versus kelas 2-2 dimenangkan oleh kelas 2-1!"
Atsumu menggeram rendah. Ia segera bangkit berdiri dan membersihkan seragam olahraganya. Tatapannya nyalang mengarah ke Osamu yang memiliki seringai tipis penuh kepuasan terpatri di bibirnya.
"Samu! Kamu bermain curang, tidak sah!" Atsumu menunjuk-nunjuk Osamu, menyalahkan kembarannya tersebut.
Osamu memutar kedua bola matanya. Atsumu, seperti biasanya, sangatlah dramatis.
Ia segera berpindah ke sisi lapangan, tidak tahan menghadapi kembarannya itu lebih lama lagi, bisa-bisa ia jadi gila. Lagipula, sekarang adalah saatnya pertandingan tarik tambang antar siswi perwakilan dari kelas mereka berdua. Osamu mengangkat kepalanya, menatap Haruno Sakura yang sudah berjalan ke depan dan bertemu dengan Atsumu.
Hah… pasti habis ini Atsumu akan membuat ekspresi yang aneh lagi, menggelikan. Pikir Osamu dengan raut wajah yang pias.
Sementara di sisi lain, Sakura sudah bersiap untuk menyemproti Atsumu atas kekalahannya yang konyol itu. Yang benar saja, sudah kalah terjatuh pula? Dan lagi, kenapa dia secara tiba-tiba menoleh ke arahnya tadi? Hal itulah yang membuatnya tidak fokus dan gagal menahan talinya, benar-benar tidak keren.
"He… apa-apaan itu tadi, Atsumu?! Nggak keren banget." Mulai Sakura, wajahnya tertekuk.
Atsumu dapat merasakan kekesalannya berkurang secara perlahan hanya dengan kemunculan gadis itu di hadapannya. Bibirnya sedikit mengerucut lucu ke depan, Atsumu hampir tertawa melihatnya. "Maaf, maaf. Ada tindak kecurangan sedikit tadi."
Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Apa kau mau bilang Osamu berbuat curang?" kemudian ia tertawa, "Pfftt—kalau sudah kalah ya kalah saja, tidak usah banyak alasan untuk menjustifikasi diri sendiri."
Kali ini Atsumu yang merengut, suasana mendung kembali menyelimuti hatinya. Sakura tersenyum kecil. Ia maju selangkah dan memukul lengan atas Atsumu main-main, cowok itu melemparkan tatapan bertanya padanya.
"Sekarang, lihatlah bagaimana seorang pro melakukannya."
Sakura tersenyum lebar. Usai mengatakannya ia langsung maju ke ke tengah lapangan, bersamaan dengan aba-aba dari panitia, tanpa menyadari sorot mata Atsumu yang menjadi sedikit bersinar usai perkataannya, dan bagaimana suasana gelap yang sebelumnya mengelilinginya langsung hilang dalam sekejap.
Atsumu, sedikit linglung, berjalan ke sisi lapangan, tepat di sebelah Osamu. Tatapannya fokus ke depan, melihat Sakura yang tengah beradu mulut dengan seorang cewek dari kelas sebelah, si Yamanaka Ino, yang katanya sahabat sedari kecil Sakura. Tapi mereka juga bisa disebut sebagai rival, karena keduanya merupakan pribadi yang sangat kompetitif terhadap satu sama lain, seperti sekarang ini. Bisa dibilang dinamik mereka berdua itu sama seperti Atsumu dengan Osamu.
Menurut Atsumu, ini adalah kemenangan yang mudah untuk Sakura. Mungkin dia sedikit bias, tapi semua orang juga tahu kalau cewek pink itu punya tenaga monster yang tidak main-main. Serius, di Festival Olahraga tahun lalu dia bahkan bisa membanting seorang murid cowok yang tiga kali lipat lebih besar dari badannya di pertandingan Sumo. Sebab itu teman-teman sekelasnya suka meminta tolong Sakura untuk mengangkut barang-barang yang berat, seperti mengangkat galon, itu sudah seperti tugas tetapnya di kelas. Selain itu, pukulannya benar-benar menyakitkan. Atsumu berpikir cewek itu akan cocok menjadi wing spiker dalam tim voli, sayangnya dia sudah menjabat sebagai ketua dalam klub Judo.
Peluit ditiupkan, para pemain di depan sana berjuang dengan sekuat tenaga.
"Menyerahlah, Ino babi! Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku!"
"Apa?! Jangan mentang-mentang kau mempunyai tenaga yang gila lalu kau menjadi terlalu percaya diri! Aku juga ingin menang, dasar jidat lebar!"
"Dasar Ino babi gendut!"
"Jidat lebar!"
Kedua perempuan itu saling melemparkan cacian dan melototi satu sama lain. Anak perempuan itu sangat membingungkan, terutama Sakura dan Ino, mereka bisa saling menghina selama seharian penuh lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka pada keesokan harinya.
Sakura menarik tali seperti orang kesetanan, seperti tengah kebakaran, dan seperti dugaan Atsumu, pertandingan itu pun dimenangkan oleh kelasnya. Para penonton bersorak-sorak.
"Heh… melihatnya jadi bikin lapar saja." Celetuk Osamu.
Atsumu menoleh. "Makanlah sana, apa yang menahanmu di sini?"
Osamu berpikir sejenak, lalu menatap Atsumu dengan tidak bersemangat. "Hm… tidak tahu juga, cuma ingin lihat."
Mulut sedikit terbuka, Atsumu menatap kembarannya aneh. "Kamu ini kenapa sih?"
Osamu mengedikkan bahu, lalu ia berputar dan berjalan menjauh dari sana. Atsumu tidak ambil pusing, ia kembali menatap ke depan dan dikejutkan dengan sosok Sakura yang sudah berdiri tepat di hadapannya, padahal beberapa saat sebelumnya cewek itu masih sibuk berdebat dengan sahabat pirangnya.
"Kau lihat itu tadi kan, Tsumu? Begitulah cara yang benar untuk memenangkannya!" kata Sakura seraya menyeringai lebar.
Atsumu tersenyum kecil. "Oke, oke, aku mengakui kalau kau memang hebat. Lagipula, siapa yang bisa menandingi kekuatan monster mu itu? Jawabannya tidak ada."
Sakura tertawa kencang mendengarnya. Atsumu bersumpah, gadis itu memiliki selera humor yang rendah. Seperti, dia selalu tertawa bahkan oleh hal yang tidak lucu sekalipun. Tapi itu justru merupakan salah satu sifat Sakura yang Atsumu sukai. Mudah tersenyum, mudah tertawa, karena dengan begitu ia bisa mengagumi lekukan bibir perempuan itu tanpa susah-susah membuatnya muncul ke permukaan. Yah, tapi Atsumu lebih suka lagi kalau senyumnya itu diarahkan hanya untuk dirinya seorang sih, atau ia yang menjadi alasan di balik senyum dan tawanya.
"Mau minum tidak?"
"Mau! Mau!"
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju salah satu vending machine terdekat, dengan banyak pasang mata yang mengikuti mereka.
Bagaimana, ya? Atsumu dan Sakura itu cukup sering terlihat bersama di sekitaran sekolah, semua siswa menyadarinya, belum lagi dengan tingkat ketenaran dua sejoli itu yang tidak main-main, sama sekali tidak membantu. Akibatnya banyak orang yang mengira mereka berpacaran—mereka dulu pernah membuat gempar satu sekolah dengan rumor tersebut—ditambah dengan keduanya yang tidak menyangkal, tak sedikit juga yang percaya bahwa mereka memang sebenarnya tengah menjalin kasih, tapi tidak mau blak-blakan saja.
Kalau Atsumu sih, tidak masalah ya, karena ia sesungguhnya memang suka—pada saat ini semua teman sekelasnya sudah pada tahu, tinggal Sakura nya saja, tidak tahu apa dia memang tidak mengetahuinya atau hanya pura-pura tidak tahu saja—tapi Sakura? Ia tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya, jadi ia memilih untuk tutup mulut.
Atsumu tidak berencana untuk bergerak dalam kegelapan terus, kok. Santai saja, setelah acara ini selesai ia akan meningkatkan permainannya dan membuat rumor itu menjadi nyata, sehingga ia bisa dengan bangga membenarkan anggapan orang-orang tentang hubungan mereka.
Atsumu dan Sakura kembali ke lapangan utama usai mengambil dua kaleng minuman bersoda, memperhatikan lomba lari estafet yang tengah berlangsung. Oh ya, mereka berdua tidak berpartisipasi dalam lomba ini karena, seperti yang dijanjikan Ginjima, mereka akan mengikuti lomba lari berpasangan. Lagipula, tidak mungkin kan mereka berdua mengikuti semua lomba yang diadakan? Kalau harus meng-carry kelasnya sampai sejauh itu… melelahkan sekali.
Sembari meneguk minumannya, Atsumu diam-diam memperhatikan wajah Sakura dari samping. Cantik, bahkan dengan keringat sekalipun. Matanya yang hijau, hijau, terlihat berkilauan di bawah sinar matahari. Oh, dan jangan lupakan rambut panjangnya yang halus seperti sutra itu, rasa-rasanya ia jadi ingin menyentuhnya, sekadar untuk merasakan seperti apa rasanya menggenggam helaian merah muda itu di tangannya.
"Apa lihat-lihat?!"
Atsumu sontak terbatuk-batuk, terkejut karena mata hijau itu tiba-tiba berpindah ke arahnya dengan sorot yang nyalang. Sakura bingung, tapi ia tetap membantu Atsumu dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Kenapa kaget sampai sebegitunya sih? Aku kan tidak sedang memalakmu…" heran Sakura.
Setelah mendapatkan kembali kontrol atas tubuhnya, Atsumu menatap Sakura sinis. "Kau tiba-tiba menyentakku, bagaimana aku tidak kaget?!"
Sakura tertawa kencang. 'Tuh kan, tertawa lagi… gimana mau marah…' ringis Atsumu dalam hati.
"Habisnya kau sih, menatap wajahku terus… memangnya ada apa?"
"Memangnya tidak boleh?"
"Ya, boleh sih… tapi kan aneh! Memangnya kau suka kalau ditatapi terus?!"
"Suka, kalau kau yang menatapnya."
Sakura gelagapan, menatap Atsumu tidak percaya. Sementara Atsumu sendiri menarik sudut bibirnya ke atas, merasa puas dengan diri sendiri. Apalagi kini pipi Sakura berangsur-angsur bersemu merah karena perkataannya, perlu digaris bawahi, bersemu merah karena dirinya.
"B-bicara apa sih…" Sakura mengalihkan pandangannya, menatap sepatunya yang terasa jauh lebih menarik sekarang dengan semburat merah yang semakin kentara di pipinya.
Atsumu tertawa melihatnya. Selain bermain voli, satu hal lain yang ia suka lakukan adalah menggoda Sakura, hanya karena reaksi yang diberikan gadis itu sangat lucu baginya. Cemberut, seperti yang tengah dilakukannya sekarang.
"Berhentilah tertawa!" geram Sakura yang justru semakin mengguar tawa Atsumu.
Sakura mendesis, sebelum akhirnya memilih untuk pergi dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya. Atsumu berhenti tertawa, menatap punggung kecil gadis itu yang bergerak semakin menjauh dengan senyum kecil di bibirnya.
Sebentar lagi, sebentar lagi semuanya akan menjadi jelas.
.
.
.
.
.
Kibasen = suatu permainan olahraga yang biasanya dilakukan oleh pelajar Jepang pada hari olahraga mereka yang secara harfiah dapat diartikan sebagai 'pertarungan berkuda'. Dimainkan oleh 4 orang, 3 orang di bawah akan menjadi penyangga untuk 1 orang yang akan mereka angkat yang bertugas untuk merebut bandana milik lawan, atau menjatuhkan mereka. Satu tim yang bertahan hingga akhir adalah pemenangnya.
.
.
.
.
.
Pertandingan selanjutnya, kibasen.
Dari kelas mereka, ada Atsumu, Sakura, Ginjima dan Yuto Kosaku sebagai perwakilannya. Dengan Ginjima, Kosaku dan Atsumu yang berperan sebagai kuda, dan Sakura penunggangnya. Ginjima sebelah kiri, Kosaku kanan, dan Atsumu depan. Lengkap dengan bandana berwarna merah yang terikat di lingkaran dahi keempatnya.
Seluruh perwakilan dari setiap kelas tengah bersedia di tempatnya masing-masing, siap untuk saling menjatuhkan lawan. Sakura juga merasa bersemangat, tapi fokusnya kali ini adalah mereka. Menggulirkan bola matanya, ia melihat perwakilan kelas 2-1 dengan Ino sebagai penunggangnya, Osamu berada di depan, Suna Rintaro di sebelah kiri dan seorang cowok berambut hitam yang tidak ia kenali di sebelah kanan. Bagus sekali, tidak hanya dirinya yang berhadapan dengan Ino, ada juga Osamu yang berhadapan dengan Atsumu.
Sakura memukul bahu Atsumu dengan kencang, membuat cowok itu meringis kesakitan. "Atsumu, kali ini kau tidak boleh kalah dari Osamu, mengerti?!"
Atsumu menatapnya tajam, lalu berdecak. "Ck, percayalah padaku sedikit!"
Tidak menggubrisnya, Sakura menatap Ginjima dan Kosaku bergantian. "Kalian juga, yang semangat ya! Kita harus menang!"
"OSU!!!"
Panitia memberikan aba-aba, Sakura mengeratkan tali bandananya. Setelah mendapat dorongan dari Sakura, kini aura yang mengelilingi mereka berempat terasa sangat intens, berapi-api. Beberapa kelas lain menyadarinya, dan berusaha menghindari mereka.
"Yosh! Mari kita menangkan pertandingan ini!" seru Sakura yang dibalas oleh ketiga temannya.
Priittt!
Tim mereka langsung melesat maju, mengarah pada tim terdekat. Memang benar fokus mereka adalah kelas 2-1, tapi bukan berarti mereka lantas menerjang dengan membabi buta. Tidak, mereka juga akan memperkuat pekerjaan dasarnya.
"HIYAAH!!"
Target mereka, yang sepertinya merupakan anak kelas satu, sama sekali tidak berkutik ketika Sakura berhasil meraih bandana kesatrianya, nyali terlanjur ciut saat merasakan aura dari senior mereka.
"Maaf ya!" ujar Sakura sebelum mereka berpindah ke target selanjutnya.
Banyak tim sudah mulai bertumbangan, tinggal menyisakan sedikit tim saja. Sakura juga sadar bahwa tim Ino masih terus bergerak. Baguslah—sebuah seringai muncul di bibirnya—bagaimana pun juga mereka sengaja menyisakan tim itu sebagai korban terakhir. Kalau Ino gagal, maka rencananya akan menjadi sia-sia.
Sakura mengangkat tangannya, berusaha menjatuhkan seorang lawan yang tengah mereka hadapi sekarang. Yang ini sedikit beringas, memberikan perlawanan padanya. Tapi sayang sekali, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.
Sambil berseru, ia mendorong lawannya dengan kuat dan sukses menjatuhkannya, menghancurkan formasi mereka. Ginjima, Kosaku dan Atsumu berseru, "YOSHAA!!!"
Sakura mengedarkan pandangannya, menyadari bahwa di sekitar mereka sudah tidak ada lagi tim yang masih berdiri. Sementara di ujung sana, tim Ino baru saja selesai merebut bandana milik tim lain.
Sudah selesai, sekarang hanya tersisa mereka berdua. Sakura menyeringai lebar, mendapati Ino yang juga sudah menyadarinya. Gila, pertandingan di antara mereka akhirnya terwujudkan juga.
"Ini dia, bos terakhir!" seru Sakura, kedua tangannya mencengkeram bahu Atsumu dengan kuat. Atsumu menyeringai, sekarang ia jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.
Dari ujung ke ujung, Sakura dan Ino bertatapan dengan instens. Bersamaan dengan teriakan yang mereka keluarkan, kedua tim itu melaju dengan cepat dan bertemu di tengah lapangan, berniat untuk mengalahkan satu sama lain.
Kedua tangan saling bertautan, Sakura dan Ino mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain, dengan raut wajah mereka yang beringas. Atsumu mencibir pada kembarannya yang berada tepat di depannya, sementara Osamu hanya menjulurkan lidahnya sedikit sebagai balasan.
Kedua perempuan itu memulai cibiran mereka terhadap satu sama lain;
"Kali ini aku tidak akan kalah, jidat!"
"Ha! Teruslah bermimpi, gendut!"
"Jangan coba-coba memancing emosiku!"
"Kenapa? Takut kalah, ya?!"
"Gah! Kalau memang itu yang kau mau, maka bersiaplah untuk kalah, jidat!"
"Heh, dalam mimpimu, gendut!"
Osamu sebenarnya sedikit capek mendengar amukan kedua cewek itu yang tidak ada habisnya. Ditambah Atsumu yang bukannya diam saja, tapi malah memanas-manasi Sakura dan memperparah keadaan. Sebagai pembelaan Atsumu, sudah pasti ia harus mendukung gadis yang ia sukai dan berada dipihaknya, meski dalam urusan pertengkaran sekalipun.
"Woahh! Ayo maju terus, Sakura-chan! Kalahkan dia!"
Osamu menatap kembarannya malas. Mereka sudah bersama sejak di dalam kandungan tapi Osamu tetap merasa heran, kenapa Atsumu tidak mudah merasa lelah? Yang ada malah dirinya yang capek melihat kelakuannya itu.
"Kamu berisik banget, Tsumu." Keluh Osamu. Atsumu dengan cepat menatapnya sinis. "Tidak usah pedulikan aku!"
Osamu menghela napas panjang. "Tsumu, kalau aku menang, kamu harus membelikanku pudding."
Atsumu mengerutkan keningnya. "Oke, tapi kalau aku yang menang, kamu harus membelikanku tuna sashimi!"
"Deal," Osamu mengangguk. "Tapi kamu juga harus mengaku suka pada Sakura-san."
Atsumu sedikit terkejut mendengarnya—untung saja Sakura masih sibuk beradu mulut dengan Ino—namun sedetik kemudian ia menyeringai. "Heh, kalau itu sih, kamu tidak perlu menyuruhku…" sorot matanya berkilat, "Karena aku memang sudah berencana untuk melakukannya selepas acara ini."
Osamu membelalak. Bersamaan dengan berakhirnya percakapan itu, berakhir pula pergulatan antara Sakura dan Ino yang sukses dimenangkan oleh Sakura. Ino terjatuh, Osamu yang semakin kaget karena kejadian yang tiba-tiba tersebut tidak bisa menahannya. Alhasil, mereka berempat jatuh bersama ke bawah dan menggelepar di atas lapangan. Semuanya bersorak heboh.
Sakura dan Atsumu tertawa dengan kencang, Ginjima dan Kosaku juga, tapi tidak seheboh keduanya. Ino meringis kesakitan, sementara Osamu rasanya ingin pulang dan beristirahat saja, lelah bukan main.
"Yamanaka, kau berat sekali.." Suna, yang tertimpa oleh Ino mengeluh pelan. Gadis blonde tersebut langsung menatapnya nyalang. "Apa kau bilang?! Suna, kau seharusnya tidak berkata begitu pada seorang gadis! Itulah sebabnya kau masih menjomblo hingga sekarang!"
Di tengah keramaian itu, Atsumu mendongak ke atas, menatap wajah Sakura yang cerah diterpa cahaya matahari, lengkap dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya. Ia spontan ikut tersenyum, merasa damai di hati hanya karena melihat senyum yang indah tersebut.
Tinggal sedikit lagi…
.
.
.
.
.
.
Sucker
.
.
.
.
.
.
Pertandingan selanjutnya, sekaligus pertandingan terakhir untuk hari ini, adalah yang sedari awal ditunggu-tunggu oleh Atsumu. Lomba lari berpasangan. Alias lomba lari yang diikuti oleh pasangan laki-laki dan perempuan, dengan salah satu kaki mereka yang diikat bersama, sehingga mereka seperti berlari hanya dengan tiga kaki.
Atsumu dan Sakura baru saja selesai mengikat tali di kaki mereka, sekarang tengah menunggu aba-aba dari pihak panitia.
"Sakura-chan…" panggil Atsumu pelan. Sakura menoleh, menatapnya bingung. "Kenapa, Tsumu?"
Atsumu juga tidak tahu kenapa ia memanggilnya. Yang jelas, ia tadi sempat terpikir untuk menembaknya pada saat ini juga. Sedikit gila, tapi Atsumu memang terkenal dengan kegilaannya, apalagi dalam dunia voli yang ia geluti. Namun sekarang ia bingung, masa iya dia menembaknya sekarang? Kan, gak romantis banget…
Tapi karena sudah terlanjur, ya sudah gas saja.
"…pacaran yuk?"
"…."
"…."
"HAH?!"
Sakura mendadak linglung, berusaha bergerak mundur, melupakan fakta bahwa sebelah kakinya telah terikat dengan kaki Atsumu. Ia sontak menjerit, merasakan dirinya terjatuh. Sampai Atsumu dengan sigap melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Sakura, menahannya sebelum benar-benar terjatuh.
Iris cokelat dan hijau bersirobok, bertahan selama beberapa saat. Sampai bisikan-bisikan dari penonton sekitar mencapai telinga mereka, barulah Atsumu dan Sakura saling memisahkan diri. Tidak berguna juga sih, soalnya kaki mereka masih terikat, jadi badan mereka masih bersentuhan.
Sakura berdehem pelan, berusaha menghilangkan suasana canggung yang menghinggapi mereka. Atsumu merasa bodoh, tapi nasi sudah menjadi bubur, jadi lebih baik blak-blakan saja.
"Yang tadi itu, aku serius."
Sakura memutar kepalanya dengan cepat, mendapati Atsumu yang menatapnya serius. Ia sedikit terlonjak, sangat jarang Atsumu bisa seserius ini, biasanya hanya ketika bermain voli. Tetapi ketika tatapan itu diarahkan kepadanya, dan dengan pernyataannya yang barusan…
….Atsumu benar-benar serius.
Sakura meneguk ludahnya gugup. Gawat, gawat! Ia menyengir masam. Aku baru saja ditembak Atsumu!
Untungnya momen itu diselamatkan oleh seorang panitia yang memberikan mereka aba-aba akan dimulainya perlombaan. Atsumu melirik panitia tersebut, dalam hati jengkel bukan main. Sementara Sakura diam-diam mengembuskan napas lega, karena ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Mereka berdua langsung mengambil posisi. Sambil menunggu hitungan mundur, Atsumu menoleh ke samping, tersenyum lebar pada Sakura, yang membuat gadis itu tambah bingung lagi.
"Kalau menang, kita pacaran ya."
"A-apa?!"
Priittt!
Sakura tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh karena Atsumu langsung menggerakkan kakinya dengan cepat, ia harus sigap mengimbanginya. Untungnya Sakura bukanlah orang yang lemah dalam berlari, Atsumu benar-benar gila ketika sedang serius dan menginginkan sesuatu. Bahkan sekarang cowok itu tengah menyunggingkan senyuman yang lebar.
Sakura masih sedikit tidak yakin dengan situasi mereka sekarang, tapi ia ikut tersenyum. Bagaimana pun juga, ia berada di sini untuk menang, bukan untuk bergalau ria. Ia berlari tak kalah bersemangat dengan senyum yang tak kalah lebar.
Atsumu melirik gadis itu sebentar, merasakan perubahan dalam auranya. Melihat senyumannya itu, ia jadi merasa sedikit tenang. Setidaknya Sakura memiliki hasrat yang sama dengannya untuk memenangkan pertandingan ini.
Dalam waktu singkat mereka berdua langsung memimpin para peserta yang lain. Tapi semua orang sudah menduganya, karena seperti yang dibahas sebelumnya, Atsumu dan Sakura adalah orang yang sangat sportif dan terkenal di sekolah karena status mereka dalam bidang olahraga. Atsumu dengan voli, Sakura dengan Judo.
Perwakilan kelas 2-1 bukanlah Osamu atau Ino, jadi saingan yang benar-benar menyusahkan mereka sudah tidak ada. Osamu katanya capek, tidak mau lomba lagi. Ino ngambek, gara-gara perkataan Suna yang tadi. Kalau tadi keduanya berpartisipasi, pasti sudah beda cerita lagi.
Jarak antara Atsumu dan Sakura dengan pasangan yang lain semakin menjauh. Tidak tahu apa memang kecepatan lari mereka yang di atas rata-rata dan peserta lainnya yang payah, atau mereka yang terlalu bersemangat sementara yang lainnya ogah-ogahan.
Tak berselang lama mereka berdua pun mencapai garis finish. Terlalu gampang, tapi biarin lah, yang penting menang.
"Whoop!"
Atsumu dan Sakura saling memberikan tos dengan kedua tangan mereka, kemudian tertawa bersama, entah apa yang lucu. Mungkin keadaan ini, keadaan yang menjebak mereka inilah yang lucu.
Mereka berdua hanya berdiri di sana, menunggu yang lainnya untuk segera menyusul.
Atsumu yang tidak bisa hanya berdiam diri, memutuskan untuk mengangkat topik yang sebelumnya; "Ingat ya, kita pacaran."
Sakura melirik cowok itu sebentar, menghirup napas panjang sebelum menjawab; "Oke."
Atsumu kaget.
Ini serius? Semudah itu?
Ia menyuarakan kebingungannya. "Serius?"
Sakura memutar badan, alisnya terangkat sebelah. "Ya iyalah. Kau pikir aku berbohong?"
Atsumu kehabisan kata-kata. "Bukan begitu, maksudku, rasanya aneh saja kalau kau langsung setuju."
"Jadi kau lebih suka kalau aku marah-marah dulu, begitu?"
"Ya, nggak. Intinya aku tidak berpikir akan semudah ini."
Sakura mendengus. Satu persatu pemain mulai menyelesaikan pertandingan mereka. "Kau suka aku kan?" Atsumu mengangguk mantap. "Aku juga suka kau, ya sudah intinya begitu."
Atsumu bergumam. Sambil menopang dagu, ia mengangguk-anggukan kepalanya. Ini sangat aneh, ia sedikit ragu sebenarnya. Tapi ketika ia menatap wajah Sakura, ia mendapati semburat merah tipis yang menghiasi pipinya, seperti, sangat tipis. Perempuan itu pasti berusaha dengan kuat untuk menyembunyikannya.
Atsumu merasa terharu, seperti kala ia mendapatkan bingkisan dan pesan dari seniornya, Kita Shinsuke, ketika ia tengah sakit dulu. Situasi ini sangat aneh, dan sama sekali tidak keren. Tapi biarin lah, yang penting jadian.
"Mau pulang bersama tidak?"
"Terus Osamu dikemanain?"
"Eh, paling juga sudah pulang duluan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lalu, sehabis acara selesai, di sinilah mereka sekarang.
Berjalan beriringan di trotoar, dengan pohon maple yang daun merahnya mulai berguguran berdiri tegak di sepanjang jalan.
Sekarang sudah musim gugur, temperatur udara berangsur-angsur menurun. Atsumu dan Sakura mengenakan jaket masing-masing untuk menghangatkan tubuh mereka. Ditambah berpegangan tangan, biar tidak membeku—kata Atsumu.
"Osamu gila juga sudah pulang duluan, padahal acara belum selesai."
"Kan tadi sudah ku bilang… jangan tertipu dengan penampilan luarnya."
Sakura mengangguk. "Bagaimana pun juga kalian adalah kembar."
Mendengar itu, Atsumu mengernyitkan alisnya. "Apa kamu berusaha mengatakan kalau aku gila?"
Iya, setelah resmi berpacaran, mereka jadi pakai aku-kamu, Atsumu yang minta.
"Tapi kamu kan, memang gila."
"Hm... ada benarnya juga."
Masih ingat kan, mereka mengatakan bahwa situasi sebelumnya sangat aneh? Lebih anehnya lagi, sekarang mereka menjalani status sebagai kekasih tanpa masalah sedikit pun, seakan-akan peran itu datang secara natural pada diri mereka masing-masing. Kalau menurut Atsumu, ini karena mereka berdua yang memang sudah dekat dari awal, jadi seperti tidak ada yang berbeda, masih terasa seperti hari-hari biasanya. Bedanya, status hubungan mereka saja yang berubah.
"Gawat! Aku baru teringat sesuatu!" seru Sakura tiba-tiba. Atsumu sontak menatapnya cemas. "Apa? Apa?!"
Sakura lantas menyengir, "Penggemarmu, pasti mereka akan marah kalau tahu kita berpacaran sekarang."
Atsumu menatapnya datar, padahal ia kira ada masalah apa… "Baguslah, biar mereka tidak menggangguku terus."
"Tapi aku bisa diserang dengan amukan mereka lho, Tsumu."
Atsumu mendengus remeh. "Memangnya mereka berani melawan seorang juara bertahan pertandingan Judo tingkat nasional?"
"Benar juga, ya."
Karena gemas, Atsumu mencubit pipi kanan Sakura dengan cukup keras, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Ia tertawa saat melihat bekas merah di pipinya, sebelum hilang dibalik telapak tangan Sakura yang mengelusnya dengan ringisan.
Atsumu kembali meraih tangan Sakura, menautkan jemari mereka dan memasukannya ke dalam kantong jaketnya. Kalau berpacaran rasanya semenyenangkan ini, maka ia ingin berpacaran selamanya dengan Sakura. Tidak, tunggu. Lebih baik kalau menikah, jika sudah cukup umur.
"Sakura-chan…"
"Hm…?"
"Aku senang sekali,"
"…."
"Karena yang berada di sampingku saat ini, adalah kamu."
Sakura tersenyum kecil, genggaman tangannya mengerat pada jemari Atsumu, yang dibalas oleh pemuda itu.
Pada sisa perjalanan, mereka tidak berkata apa-apa lagi, murni menikmati ketenangan yang tercipta di antara keduanya. Terkadang, bola mata mereka akan saling berbentrokan secara tiba-tiba dan mengguar tawa dari diri mereka. Entah apa yang tepatnya lucu bagi mereka, tapi tetap saja membuat keduanya ingin tertawa.
Biasa, pasangan yang tengah kasmaran. Semua hal yang ada pada diri kekasihnya akan selalu terlihat menarik di mata mereka.
.
.
.
.
.
Fin
Hello again! seperti yang sudah dijanjikan, ini edisi Atsumu nya!
Aku juga udah post yang edisi Kageyama ya, silakan dibaca!
Please leave your thought if you have any!
.
.
.
.
.
Omake
.
.
.
.
.
Serius deh, Atsumu sudah semangat banget buat mempublikasikan hubungan mereka, siap banget buat mengkonfirmasi rumor yang beredar di kalangan warga sekolah. Tapi kok…
KOK NGGAK ADA YANG KAGET?!?!
Padahal pagi ini dirinya dan Sakura berangkat ke sekolah bersama, sambil berpegangan tangan pula. Tapi yang lainnya cuma melirik sebentar lalu langsung melengoskan wajah mereka, seakan-akan pemandangan itu merupakan hal yang biasa dilihat sehari-hari.
Atsumu ingin menangis bombay. Ini pasti karena dirinya yang terlalu sering bersama dengan Sakura sehingga satu sekolah sudah tidak terkejut lagi ketika melihat mereka bergandengan tangan.
Tidak seru banget, padahal Atsumu ingin membuat sekolahnya gonjang-ganjing…
"Tuh kan, aku bilang juga apa, pasti sudah tidak ada yang kaget lagi."
"Tapi kan, ini pertama kalinya kita bergandengan tangan di publik."
"Hmph, kalau kamu pegangan tangannya sama Ginjima tadi, baru deh satu sekolah akan gonjang-ganjing."
"Sakura-chan!!"
