Beberapa jam yang lalu.
Taehyung menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah sesuai permintaan Taeyong. Taehyung menatap pagar rumah bercat cokelat keemasan yang menjulang tinggi. Diliriknya Taeyong yang sudah keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Bahkan teman sekelasnya itu sudah melangkah untuk memasuki halaman rumah tersebut. Sebenarnya Taehyung tidak terlalu ingin tahu tapi dia tetap memutuskan untuk segera menyusul Taeyong.
Mereka memasuki rumah tersebut tanpa permisi karena memang pintu utama terbuka lebar. Taehyung terus bertanya tapi Taeyong hanya memberi isyarat untuk mengikuti saja. Dan sampai mereka berhenti pada ruang tengah yang telah dihuni oleh beberapa orang yang sama sekali tidak dikenali oleh Taehyung. Oke, kecuali satu orang dan itu adalah paman Hyera, Kang Minhyuk.
Taehyung mengamati setiap detail wajah orang-orang disana. Ada sepasang suami-istri, dua pemuda, dan paman Hyera, serta mereka berdua. Dia merasa pernah melihat pria yang berstatus sebagai suami itu tapi ingatannya seketika tumpul dan Taehyung malas mengingatnya kembali.
"Apa maksudmu, Byun Baekhyun?" sahut seorang pria yang duduk di single sofa, menatap seorang pemuda yang duduk di sofa sebelah kiri pria itu.
"Ayah, kita sudah membahas ini sejak kemarin. Apa hubunganmu dengan wanita yang bernama Lee Nayoung?"
Pria itu terlihat menghela nafas lalu membasahi bibirnya. "Kami hanya teman sekolah, Baek. Aku dan Nayoung teman sedari sekolah."
"Paman, aku sudah tahu soal keterlibatanmu dengan kecelakaan 12 tahun yang lalu." Pemuda lainnya bersuara. Dia menatap ke arah Taeyong yang berdiri di belakangnya.
"Seojoon-hyung, tolong katakan saja yang sebenarnya!" pinta Minhyuk dengan wajah lelah yang terpancar darinya.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Seojoon yang berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari seluruh orang yang ada disana.
"Hyera diculik dan ini ada hubungannya dengan wanita yang bernama Lee Nayoung." Baekhyun menaikkan suaranya. Dia berusaha meredam emosinya sebisa mungkin.
"Baekhyun, aku tahu kau membenci kami sebagai orang tuamu tapi tolong jangan mencoba untuk menghancurkan keluargamu sendiri." Yoona ikut bersuara. Wanita itu terlihat tidak menyukai topik pembicaraan mereka, tentang Byun Hyera.
"Paman, aku sebenarnya sudah tahu semuanya tapi aku hanya ingin paman menceritakan semuanya. Aku ingin mendengar langsung dari mulut paman soal perkara yang dilakukan oleh ibuku."
Kali ini seluruh pandangan tertuju pada pemuda itu. Pemuda bernama lengkap Choi Minho yang baru saja mengungkapkan fakta yang sulit dipercayai.
"Ah, tidak ada yang tahu soal inikan?" Tuturnya dengan tenang lalu menatap rekannya, Byun Baekhyun yang duduk di sampingnya. "Aku memang tinggal di panti asuhan tapi aku sudah cukup besar untuk mengetahui siapa orang tuaku dan Lee Nayoung, wanita itu adalah ibuku."
"Aku dibuang olehnya. Sebelum itu, dia membunuh ayahku. Aku tidak mengerti tentang kelakuannya tapi setelah bertahun-tahun, aku mulai paham. Wanita itu, Lee Nayoung, dia adalah orang gila. Dia tidak waras. Dia memiliki obsesi tinggi. Itulah salah satu kenapa dia membunuh ayahku. Dia tidak mau malu saat memiliki anak diluar hubungan. Dia ingin menyingkirkan semuanya. Sekecil apapun hal itu, dia ingin menyingkirkannya, memusnahkannya menjadi hal terkecil sampai menghilang."
Minho berhenti berucap saat dirinya merasa cukup dengan emosi yang menyerangnya. Dia, sebenarnya tidak ingin menceritakan hal ini kepada siapapun. Termasuk kepada Lee Taeyong yang sudah lama bersamanya.
Sebuah tangan terulur untuk mengusap bahunya dan itu cukup membuat Minho tersentak. Dia melirik ke arah temannya, Baekhyun sedang memberinya sebuah ketenangan.
Minhyuk memecahkan keheningan dengan menggebrak meja. Dia menatap tajam ke arah Seojoon yang sudah terdiam. Tidak ingin melakukan sesuatu.
"LAKUKAN SESUATU, HYUNG! HYERA DAN TEMAN-TEMANNYA SEDANG DALAM BAHAYA."
"Berhenti, Kang Minhyuk!" Seru Yoona yang terlihat tidak terima akan bentakan adik kandungnya itu. "Kau ingin menghancurkan karir suamiku ya? Lagipula itu sudah lama."
"Sudah lama?" Sahut Minho dengan suara mirisnya. "Apa anda tidak tahu seberapa menderitanya seseorang yang tidak pernah mendapatkan keadilan? Anda tidak tahu, ada orang yang menunggu keadilan seputar kematian orang tuanya! Dia, Min Yoongi, pemuda yang harus pasrah saat pengadilan memutuskan untuk menutup kasus kecelakaan yang mengorbankan orang tuanya. Dan suamimu adalah orang yang terlibat dalam masalah itu. Panutan? Motivator untuk para junior? Omong kosong! Tidak ada manusia suci di dunia ini, termasuk suamimu."
Taehyung yang hanya bisa menyimak, merasa sesuatu baru saja memukul relung hatinya. Soal Yoongi dan masalah tak terduga pemuda berkulit putih pucat itu. Kini dia paham tentang alasan penculikan teman-temannya.
Kedua tangan yang terkepal dan Taehyung sudah tidak tahan lagi. Dia sedang lelah tapi jika menyangkut sahabatnya, apa Taehyung akan diam saja? Jawabannya tidak. Jadi dia mendekati Seojoon lalu mencengkeram baju pria itu dengan penuh amarahnya. Mata sayupnya memancarkan amarah.
"Aku tidak peduli siapapun kau atau apapun jabatanmu. Mau kau anggota parlemen atau presiden, aku tidak peduli. Jika terjadi sesuatu pada teman-temanku, maka kau adalah orang pertama yang aku yakin akan menyesalinya."
Seseorang menarik mundur Taehyung, menjauhkan pemuda itu dari Seojoon. Dia adalah Baekhyun.
"Ayah, lakukan sesuatu demi Hyera! Aku mohon!"
Seojoon terdiam saat tatapan sang putra kian menanar. Dia juga ingin menyelamatkan putrinya tapi disisi lain ada titik dimana dirinya dilanda rasa egois untuk mempertahankan posisinya.
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya?"
"Jadilah saksi dan ungkapkan semua yang pernah kau lakukan untuk Lee Nayoung."
Minho berucap final dan diangguki oleh Seojoon. Pemuda bermarga Choi itu menghela nafas lega. Setidaknya dia berhasil mendapatkan hal penting, yaitu kesaksian.
Seokjin menghentikan langkahnya tepat di teras rumah pamannya. Pandangannya kini tertuju pada ponsel yang ada di tangan kanannya. Sebuah nomor tanpa nama tertera di layarnya. Nomor yang sama dengan nomor yang terus menghubunginya sejak tadi.
"Halo?!"
"Halo putra kesayanganku. Jo Seokjin."
Genggaman pada ponselnya mengerat saat tahu siapa pemilik suara itu. Sebuah suara yang sudah disingkirkan sejak lama. Suara yang sangat Seokjin benci dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"A-pa maumu?"
"Apa aku salah ingin menyapa putraku sendiri? Ayah sudah bertemu dengan ibumu Minggu lalu. Sepertinya dia baik-baik saja dan hidup bahagia dengan ayah barumu. Oh ya, bagaimana keadaan saudara tirimu? Jeon Jungkook, bukan?"
Jantung Seokjin berpacu lebih cepat daripada saat dia mendengar soal hilangnya Namjoon. Dalihnya memang benci tapi sejujurnya dia sangat takut pada pemilik suara berat itu.
"Kenapa? Apa ayah tirimu tidak memperlakukanmu dengan baik?"
"Di-dia lebih baik darimu. Dia sangat menyayangi ibu daripada dirimu. Dia~"
Seokjin meneguk ludahnya saat mendengar tawa mengerikan dari seberang telepon itu. Keningnya berkeringat padahal dirinya sama sekali tidak melakukan aktivitas yang berat.
"Kalian bahagia sekali ya? Begini saja, apa kau ingin teman-temanmu selamat?"
Seokjin kembali bungkam. Dia berusaha mencerna kalimat terakhir sampai akhirnya tersadar akan maksud ucapan pria itu.
"Jangan sentuh teman-temanku!"
"Hmm, aku juga tidak berminat. Aku menantikan dirimu datang kesini dengan saudara tirimu. Ajak Jungkook. Aku ingin berkenalan. Setelah itu, kalian akan bergabung dengan mereka."
"Dimana kau?"
"Oh, oh. Santai! Kau akan segera datang kesini. Berdua atau sampaikan selamat tinggal pada keempat temanmu."
Seokjin menggigit bibirnya. "Cukup aku sendiri, jangan Jungkook."
"Kalau begitu, say goodbye pada kepala temanmu."
Saat yang sama, terdengar suara tembakan yang berhasil mengejutkan Seokjin. Membungkam pemuda itu sampai ke seluruh tubuh.
"Dan kau akan mendengar suara itu lagi. Bagaimana?"
"Aku akan kesana."
"Begitulah seharusnya putraku, Jo Seokjin. Aku akan mengirim alamatnya dan ingat, hanya kalian berdua tanpa siapapun. Terutama polisi."
Panggilan terputus dan Seokjin jatuh terduduk. Kakinya lemas. Tubuhnya bergetar ketakutan. Sampai sebuah tangan terulur untuk menyentuh pundaknya.
"Kenapa?"
Seokjin menggerakkan kepalanya ke samping untuk menatap pelaku yang menyentuh pundaknya lalu mendapati Jungkook yang sedang menatapnya khawatir. Bibirnya terangkat untuk tersenyum tipis lalu beranjak dari posisinya.
"Tidak apa-apa."
Jungkook memincingkan matanya, menatap ke dalam mata kelam yang sayup itu. "Jangan bohong! Apa tentang Hyera dan yang lain?"
Seokjin menggeleng lalu hendak melangkah pergi saat tangan Jungkook mencekal lengannya.
"Kau tidak perlu memberitahuku karena aku sudah tahu. Tadi itu, ayahmu, benarkan?"
Seokjin tidak menjawab. Matanya tertuju pada Jungkook yang tengah menatapnya saat ini.
"Ke-"
"Taehyung memberitahuku tepat saat kau keluar. Dia bilang ayahmu sedang menghubungimu."
"Darimana dia tahu?" Tanya Seokjin lagi. Seingatnya Taehyung tidak ada disana tapi-
"Ponselmu disadap oleh Taeyong sejak awal. Bukan hanya milikmu, tapi kita semua. Jadi dia tahu siapa saja yang menghubungi kita."
Seokjin terdiam. Kepalanya berusaha mencerna kalimat Jungkook. "Lee Taeyong kelas kita?"
Jungkook mengangguk lalu menatap ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Kemudian menarik lengan Seokjin agar menjauh dari sana dan menuju ke arah bagasi.
"Ayo pergi! Kita temui ayahmu."
"Tapi-"
"Taeyong bilang dia punya rencana tapi ini sedikit berbahaya. Hanya kita berdua dan jangan libatkan Jimin serta yang lain."
Disinilah keempat pemuda itu berakhir, di rumah yang cukup akrab bagi Taehyung. Rumah yang sering dikunjunginya saat merasa jenuh dengan pertengkaran ayah tirinya dan Namjoon. Inilah rumah Jung Hoseok.
"Kenapa kalian di rumah Hoseok?" Jungkook menjadi orang pertama yang menyahut saat mendapati dua teman sekelasnya baru saja keluar dari rumah yang dimaksud.
"Memberitahu apa yang terjadi sebenarnya."
"Soal Hoseok yang diculik?"
Taeyong menggelengkan kepalanya lalu menatap dua temannya yang baru tiba itu dengan tatapan jengkel. "Enak sekali kalian sudah mengganti pakaian."
Benar saja, dua orang itu sudah mengganti seragam mereka dengan pakaian santai dibanding dirinya dan Taehyung yang masih mengenakan seragam sekolah selama beberapa hari ini.
"Setidaknya bawakan kami pakaian ganti."
"Tidak kepikiran. Ini saja pakaiannya Namjoon." Jungkook menjawab enteng lalu beralih pada Taehyung yang berdiri dengan bertumpu pada mobilnya. "Dia kenapa?"
"Mungkin muak karena berhadapan dengan ayahnya Hyera." Taeyong mengedikkan bahunya lalu beralih untuk menatap Seokjin.
"Ayahnya Hyera masih hidup?" Jungkook memekik tidak percaya. "Bukannya dia bilang orang tuanya sudah tidak ada?"
"Tidak ada bukan berarti meninggal, Jung." Seokjin menghela nafas lalu membalas tatapan Taeyong seolah bertanya tentang ponselnya yang disadap.
"Soal sadap itu urusan belakangan. Intinya aku sudah menyadap ponsel kalian sebulan ini. Ya, kecuali untuk ponsel Yoongi yang baru aku sadap saat dia diculik."
"Ini soal yang lain dan penculikan ini." Taehyung mulai berucap setelah cukup lama terdiam. Dia membalikkan badannya untuk menatap ketiga temannya. "Byun Seojoon, ayah kandung Hyera dan ayahnya Hoseok, mereka berdua menjadi dasar penculikan ini."
"Sebelumnya, kita harus pergi dari sini."
Akhirnya Taehyung dan Taeyong menjelaskan segala hal yang mereka tahu. Mulai dari fakta Hyera yang merupakan anak kandung mantan hakim ternama sampai fakta keterlibatan setiap orang tua mereka. Tidak lupa pada satu adegan dimana Jungkook melempar sebelah sepatunya ke arah Taeyong karena pemuda itu sempat mengatainya.
"Tapi kenapa Hyera dan Hoseok harus menjadi korban? Bukankah ayah mereka juga membantu wanita itu?" Jungkook menyahut.
"Kau tahu peribahasa selama apapun bangkai tikus akan tercium juga, kan? Ini berlaku pada Nayoung. Dia tidak suka saat ada lalat mengerumuni bangkainya. Sudah aku katakan, wanita itu orang gila."
Entah sudah keberapa kali Taeyong menekankan kata 'orang gila' sepanjang hari ini. Dia juga sebenarnya enggan menyebut nama Lee Nayoung dan mengganti unsurnya menjadi orang gila.
"Kembali ke soal ayahmu," ucap Taehyung yang kini beralih pada Seokjin, "aku sebenarnya tidak setuju dengan ide Taeyong tapi aku rasa tidak ada ide lain."
"Aku juga setuju." Jungkook memotong dengan serius. "Minimal kita harus tahu lokasi mereka."
Taeyong meletakkan sepatu yang beberapa saat yang lalu digunakan Jungkook untuk melemparnya. Kemudian menendangnya kembali kearah Jungkook begitu saja.
"Mereka tidak akan membawa kalian langsung ke lokasi penyekapan, melainkan menyeret kalian ke suatu tempat. Setelahnya barulah kalian akan dibawa ke lokasi aslinya."
"Kau tahu darimana?"
"Setelah mempelajari pola penculikan Yoongi." Taeyong menjawab sekenanya lalu meletakkan sebuah ponsel di atas telapak tangan Jungkook. "Simpan ini di dalam mobil kalian. Ini seperti, hmm, anggap saja GPS dan ya, aku akan mengetahui kemana saja kalian."
"Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan kalian berdua," ucap Taehyung yang terlihat enggan menatap dua orang yang berstatus sebagai sepupunya, "tapi hanya ini yang bisa kita lakukan. Polisi tidak dapat melakukan banyak hal saat ini."
"Aku paham. Lagipula ini memang pilihan kami. Tenang saja, aku dan Jungkook akan baik-baik saja."
Jadi itulah bagaimana Seokjin dan Jungkook berakhir di tempat keempat temannya berada. Sebelum benar-benar sampai disana, mereka berdua diberikan sebuah alamat yang menuju pinggiran kota. Kemudian sebuah Van mencegat mobil mereka dan keduanya digiring masuk ke dalam Van hitam tersebut. Cukup lama sampai akhirnya Seokjin dan Jungkook tiba di tempat yang mereka incar. Tempat dimana teman-teman mereka berada.
Jungshin dan Joonhyuk langsung menghampiri dua pemuda berseragam sekolah yang kini berada beberapa meter di depan mereka. Keduanya segera datang saat mendapati pesan yang dikirim Taeyong sebelumnya.
"Bagaimana kau tahu lokasi mereka?" Joonhyuk menjadi orang pertama yang mengajukan pertanyaan.
"Aku memasang chip pelacak di sepatu Jungkook." Taeyong menjawab santai dan tidak terlalu menggubris kedua gurunya yang mengernyit bingung. "Seokjin dan Jungkook pergi kesana untuk menyerahkan diri jadi berkat mereka kita mendapatkan lokasinya."
"Kau menyerahkan mereka berdua?" Jungshin menyahut tidak terima. Bagaimanapun dua pemuda yang menyerahkan diri itu masih murid kesayangannya.
"Ssaem, kau bisa menunda kemarahanmu untuk sekarang." Taehyung berucap seraya melepaskan seragamnya dan meninggalkan kaos putih berlengan yang menjadi dalamannya. "Ssaem, bawa yang kami mintakan?"
Joonhyuk menatap paper bag yang ada di tangannya lalu menyerahkan benda itu kepada Taehyung. Paper bag itu berisi dua stel baju, sesuai permintaan Taeyong.
"Aku sudah mengirim lokasi mereka ke Minho-hyung dan polisi. Jadi kita harus segera berangkat sekarang." Taeyong menutup notebook-nya lalu memasukan benda itu ke ransel dan melemparkannya asal ke dalam mobil Taehyung.
"Ayo!" Joonhyuk memukul pundak Jungshin sebelum akhirnya berlari ke arah mobil mereka.
Saat yang sama, sebuah mobil terparkir tepat mencegat mobil Taehyung dan Taeyong yang baru saja hendak melaju. Di depan sana, tiga pemuda turun dengan raut wajah yang tak terbaca. Salah satu mereka bahkan mengetuk kaca mobil bagian Taehyung.
"Kau menghubungi mereka?" Tanya Taehyung saat hendak menurunkan kaca mobilnya.
Taeyong segera menggelengkan kepalanya lalu beralih pada dua pemuda yang berdiri di depan mobil mereka. "Kita sudah berjanji dan pada Jungkook untuk tidak melibatkan Jimin dan yang lain lagi."
Taehyung menghela nafas lalu menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum canggung pada Jimin yang sudah berkecak pinggang seraya menatap ke arahnya. "Aku bisa jelas-"
"Kami ikut!" Jimin memotong kalimat Taehyung dengan cepat. "Beritahu kami dimana lokasi mereka!"
Kini pandangan Taehyung beralih pada dua pemuda yang masih setia berdiri di depan mobilnya. Kang Daniel dan Park Chanyeol.
"Kenapa ka-"
Jimin menatap tajam kearah Taeyong lalu menjawab, "kami bertiga mengikuti Jungkook dan Seokjin menemui kalian. Tidak ingin melibatkanku? Lucu sekali saat kalian berjuang sedangkan aku hanya duduk dengan bodohnya menunggu kabar dari polisi?"
"Oke, Jim, maafkan aku." Taehyung segera berucap lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Jimin. "Kita harus cepat. Taeyong akan mengirimkan lokasinya kepada kalian. Kita pergi sekarang!"
Tiga mobil itu memasuki sebuah areal bangunan pertokoan yang terlihat sudah lama tidak ditinggali. Areal bangunan yang jangkauannya cukup jauh dari pusat kota. Namun bukan areal itu yang menjadi tujuan mereka, melainkan bangunan lain yang ada di belakang areal tersebut.
Mobil yang dikendarai Taehyung berhenti dan diikuti dua mobil lainnya di belakang. Seluruh pengendara dan penumpangnya segera turun lalu menghampiri dua pemuda yang kini berdiri di depan mereka.
"Kita tidak mungkin masuk kesana dengan mobil karena kemungkinan besar akan ketahuan. Aku sengaja menggunakan rute ini karena jalan utama akan lebih mudah diketahui mereka." Jelas Taeyong yang kini sedang menatap ponselnya. "Kita hanya perlu berjalan 500 meter kesana. Butuh hampir satu jam untuk menunggu polisi tiba di tempat ini."
"Dan kita tidak bisa menunggu selama satu jam." Jimin menyahut dengan sisa amarahnya.
"Kita harus bergerak sekarang," ucap Joonhyuk yang sudah mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya.
"Kau, apa?" Jungshin agak tersentak lalu mengernyit bingung, menatap tak percaya kearah rekannya itu.
"Ssaem?! Kau gila!" Komentar Taeyong yang sudah melangkah mundur saat moncong pistol yang dikeluarkan Joonhyuk tertuju ke arahnya.
"Haha," Joonhyuk tertawa ringan lalu kembali menyembunyikan pistol di balik jaketnya, "aku juga punya rahasia. Aku adalah seorang pasukan khusus yang sedang dimutasi sejak lima tahun yang lalu dan memutuskan untuk menjadi guru. Sekarang masa mutasiku sudah berakhir jadi aku sudah diperbolehkan ikut terlibat dalam masalah seperti ini. Penggunaan senjatapun sudah diizinkan."
Daniel dan Chanyeol hanya menatap bodoh ke arah pria itu. Mereka tidak menduga karena -setahu mereka, Joonhyuk itu tipe guru yang ceroboh. Dan sekarang apa? Pria itu salah satu anggota pasukan khusus?
Jimin saja ingin membenturkan kepalanya ke kap mobil. Banyak hal yang baru diketahuinya hari ini, termasuk si guru olahraganya.
"Kita harus segera bergerak sebelum teman-teman kalian semakin terluka."
Joonhyuk kembali bersuara, menyadarkan jiwa keenam orang yang ada disana. Bahkan keenamnya tidak sadar jika Joonhyuk baru saja mengambil sebuah tas berisi senjata laras panjang dari mobilnya.
"Isi mobilku sebenarnya hanya berisi senjata-senjata milikku yang baru diserahkan oleh markas. Jadi maklumi saja jika kau menemukan pisau sampai granat di dalam dasbor mobil, hehe."
Jungshin jadi teringat saat dirinya ingin membuka dasbor itu tapi dicegah oleh Joonhyuk karena rekannya itu menyimpan makanan yang sudah basi di dalam sana.
"Rasanya kita perlu bergerak sekarang," ucap Chanyeol yang seketika menyadarkan semuanya dari keterdiaman.
Hal yang terakhir dapat diingat Namjoon adalah lengan Jungkook yang ditembak, kepalanya yang dipukul dan sebuah pisau berdarah jatuh tepat di depan wajahnya. Pandangannya sedikit kabur dan dia merasa tubuhnya kembali terikat di kursi. Kepalanya bergerak kiri-kanan, mencari tanda keberadaan dari teman-temannya. Namun Namjoon hanya dapat menyadari dirinya berada di tempat yang berbeda dengan sebelumnya sendirian.
Sebuah ruangan berukuran kurang dari lima meter persegi. Tidak ada apapun disana selain sinar lampu kuning yang menerangi ruangan. Ditambah bau telur busuk? Entahlah, Namjoon tidak terlalu dapat berpikir jernih tapi dia cukup yakin bau ini adalah bau telur busuk.
"Sial!" Runtuknya setelah cukup lama menelusuri ingatannya seputar bau ini.
Hidrogen sulfida, gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Namjoon yakin itu karena indera penciumannya mulai terganggu. Sudah berapa lama dia terperangkap di tempat ini?
Tubuhnya bergerak liar, berusaha melepaskan diri dari kursi. Namun usahanya cukup sia-sia. Bukannya terlepas, kursi itu malah membawa tubuhnya jatuh ke samping. Tubuhnya terseok untuk mencari benda, apapun yang dapat dijadikan alat untuk memutuskan tali ini.
Bibirnya terus meruntuki berbagai macam kata makian. Dia harus segera keluar dari sini sebelum mati konyol hanya karena terlalu banyak menghirup gas berbahaya ini.
Namjoon berhasil berdiri ketika tersadar pada sebuah triplek yang menutupi bagian dinding. Berbekal nekad, dia menggigiti sisi pinggir triplek dibantu tangan kirinya. Ada bercak cahaya dari balik triplek tersebut dan dia yakin ada jendela kaca disana.
Namjoon memutar otaknya. Tubuhnya bergerak maju hingga sisi lain dinding lalu berlari mundur. Membenturkan kaki kursi ke dinding triplek dan berhasil mematahkannya, bersama pecahnya kaca jendela disana.
Pecahan kaca berserakan di lantai. Kepalanya sudah cukup pening karena terlalu banyak menghirup gas berbahaya ini. Namjoon menahan nafas seraya menggapai pecahan kaca yang ada lalu menggenggamnya dengan erat. Dengan tenaga seadanya, dia berhasil melepaskan tangan kanannya lalu beralih pada tangan kirinya dan kedua kakinya.
Entah sudah ke berapa kali, tapi Namjoon kembali mengumpat. Pintunya terkunci dari luar dan parahnya, pintu ini bukan tipe pintu yang dapat dibuka dari dalam.
Jadi Namjoon membuka sisa triplek yang masih menutupi jendela lalu memecahkan sisa pecahan kaca jendela disana. Dia menghirup rakus oksigen dari luar lalu menatap ke bawah. Bangunan ini tinggi, sekitar sepuluh lantai. Jika dia melompat dari sini, apakah dia akan selamat?
Di ruangan yang berbeda, Jungkook hanya bisa terus meringis saat tubuhnya berulang kali dipukuli. Wajah tampannya sudah ditutupi bercak darah dan lebam. Ditambah lengannya yang terus berdarah karena sengaja diinjak oleh tiga orang yang ada di depannya.
Jungkook tidak terlalu memikirkan dirinya. Dia hanya memikirkan keempat temannya dan saudara tirinya. Tubuhnya hanya bisa tersungkur sambil menatapi Namjoon yang diseret pergi, Yoongi yang tak sadarkan diri, serta Hoseok dan Hyera yang dia tak yakin bagaimana kabarnya.
Seketika Jungkook berharap pria yang membantunya tadi datang kesini dan kembali membantunya. Namun dia sadar, pria itu pasti akan ketahuan berkhianat. Apalagi setelah memberi pisau itu.
"Argh, sial!" Umpatnya saat teringat pisau berdarah yang jatuh.
Dia tidak terlalu melihat dengan jelas tapi Jungkook ingin menyangkal jika darah itu berasal dari Hyera atau Yoongi. Jikapun faktanya benar begitu, dia hanya berharap mereka berdua baik-baik saja.
Seperti yang diharapkan Jungkook, Yoongi dalam keadaan baik walaupun tidak sepenuhnya. Setidaknya pemuda berkulit putih pucat itu mengalami nasib yang sedikit sama dengan Jungkook. Wajah yang babar belur, serta luka-luka pada beberapa bagian tubuh lainnya.
Mata sipitnya enggan terbuka karena dia harus berusaha menetralisir seluruh rasa sakit yang mendera pada seluruh tubuhnya. Tidak ada siapapun disana, selain dirinya. Orang-orang yang memukulinya juga sudah keluar dari ruangan ini.
Dirinya, hanya sendirian dan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya.
Di tempat yang sedikit terbuka, Seokjin terikat di dinding dengan posisi berdiri. Kedua kakinya sudah terlalu lemas hanya untuk menopang seluruh tubuhnya. Kedua tangannya terbentang ke atas dengan lilitan rantai.
Darah di wajahnya kian mengering dan Seokjin semakin dilanda rasa takut yang kian mendalam. Bibirnya terus bergetar, menggumamkan kata maaf dan permintaan pergi untuk pria yang saat ini masih memegang tongkat baseball di depannya.
Jo Insung sadar, pemuda di depannya itu sedang ketakutan. Dia kelewat tahu dan hanya tertawa mengerikan. Insung bersiap mengayunkan tongkatnya lalu menghantamkan tepat di perut Seokjin dan membuat pemuda itu memuntahkan darah segar.
"Hahaha."
Tawa Insung kian menggema dan mengabaikan Seokjin yang terus merintih, memohon untuk berhenti.
"Lihatlah, betapa lemahnya putra semata wayangku! Kau itu tidak pantas menjadi putra ibumu!"
Seokjin tidak menjawab. Seluruh tubuhnya sudah mati rasa karena setiap inci tubuhnya sudah disentuh dengan pukulan. Dia juga semakin dilanda ketakutan yang menjadi. Otaknya sudah tersetting agar dirinya takut pada pria itu.
"Kau tahu," ucap Insung seraya meletakkan tongkatnya ke lantai, "ibumu itu wanita yang bodoh tapi cantik. Bisa-bisanya dia jatuh cinta pada pria psikopat dan gila sepertiku."
"Kau tahu, pamanmu, dia adalah orang yang menentang pernikahan kami karena aku gila dan juga buronan negara. Saat mendengar ibumu hamil, aku tidak terima. Bisa-bisanya dia memilih untuk merawatmu dan membiarkan aku pergi."
"Aku tidak suka saat ibumu memilih untuk merawatmu dan membesarkanmu. Aku tidak suka saat perhatian yang ditujukan kepadaku harus teralihkan kepadamu. Aku akan membunuhmu hari ini juga."
Saat itu juga, Seokjin tersadar jika ayah kandungnya itu benar-besar psikopat gila.
Next chapter
"Kita harus ke lantai sepuluh untuk memastikan anak itu mati karena gas beracun itu."
"Tembak mati mereka semua!"
"Hei, hei! Tetap bertahan, okay?"
"Kim Taehyung, kenapa kau berhenti?"
"Ini bukan waktunya sesi tanya jawab, Park Jimin."
