KnB belong to Fujimaki T.
..
...
KuroAkaKuro
..
.
Memberikan pupuk, mencabuti rumput liar, serta memberi air di tiap tanaman bunga merupakan pekerjaannya sehari-hari.
Kuroko Tetsuya, seorang pemuda berkulit putih dan pemilik iris mata sewarna langit di siang hari itu tak pernah absen menilik pertumbuhan bunga-bunganya.
Ia begitu menyukai pekerjaan tersebut. Meskipun bunga identik untuk kaum hawa, namun Kuroko melakukannya dengan senang dan sepenuh hati. Baginya hal itu begitu membuatnya nyaman. Apalagi jika bunga-bunga itu tumbuh subur.
Seperti pada salah satu bunga yang ada di depannya. Warnanya merah menyala serta memiliki bentuk mahkota yang unik dan tampak indah memesona. Kuroko melebarkan senyuman. Bunga itu berbentuk pipih menarik perhatian. Terlihat begitu segar dengan tetesan air di sekeliling kuncupnya. Ia memetik salah satu bunga itu. Lalu mengamatinya lebih dekat.
"Permici kaka, apa yang cedang kaulakukan dicitu?" Suara cadel khas anak kecil mengalihkan perhatian.
Kuroko berbalik dan mendapati seorang bocah dengan topi bulat di atas helaian merahnya. Dia menatapnya polos dengan kedua manik ruby sewarna bunga ditangannya.
Kuroko balas menatap dengan menaikkan sebelah alis, heran. Menengok kanan kiri barangkali ada orang dewasa yang menemani anak itu, tapi di sana tidak ada siapa-siapa.
Maka Kuroko berjongkok untuk mensejajarkan tingginya. "Dek, kamu ke sini bersama siapa? Kok sendirian?"
Bocah berambut merah itu menggeleng.
"Tidak, aku tidak cendirian. Kan ada kaka, hehe," katanya menyengir lebar.
Melihat tingkah menggemaskan itu, tak ayal membuat Kuroko mengulum senyum geli. "Siapa namamu?"
"Ceijulo, Akachi Ceijulo. Kalau, nee-chan namanya ciapa?"
Senyuman di bibir Kuroko memudar. Ia tidak menyangkan akan dikira perempuan oleh seorang anak kecil. "Aku Kuroko Tetsuya dan aku seorang laki-laki. Akashi-chan jangan panggil aku Nee-chan ya. Panggil aku dengan sebutan Nii-san, oke?"
"Oh?" Akashi kecil mengedip bingung, sebelum kemudian mengangguk-anggukan kapala.
Atensinya teralihkan ke tangan Kuroko. "Apa tu?"
Kuroko mengikuti arah pandang Akashi. Ia menyodorkan bunga merah itu. "Ini bunga. Warnanya seperti warna rambutmu, ya."
"Um." Akashi mengambil alih.
"Apa ni bunga mawal?" tanyanya sambil memelototi bunga ditangannya.
Kuroko menggeleng. "Bukan. Ini namanya bunga jengger ayam."
"Owh, jenggel ayam." Akashi manggut-manggut. Ia merobek sedikit ujung bagian bawah mahkota bunga itu untuk ditempelkan di dahi Kuroko.
"Kuloko-nii-chan, coba kepakan lenganmu telus bilang 'Ptok! Ptok! Ptok!' Gitchu," katanya meniru suara ayam dan mencontohkan gerakan mengepak dengan kedua tangan kecil yang menekuk untuk dikepak-kepakkan macam sayap burung. "Jadi kaya ayam benelan ntal, hehe."
Kuroko tertawa kalem sambil menepuk-nepuk surai merah Akashi dengan gemas. Padahal baru bertemu, tapi Kuroko merasa begitu akrab.
...
..
Setahun berlalu dan Akashi kembali bertemu dengannya. Kuroko menyambut kedatangan bocah itu dengan sukacita.
"Akashi-chan, hisashiburii!"
Saat itu usia Akashi sudah bertambah satu tahun. Bocah tersebut menatapnya bingung.
"Eh? Kok nee-san bisa tau namaku?" Tanyanya dengan suara yang tak secadel tahun kemarin.
"Ha?" Kini giliran Kuroko yang kebingungan. Secepat itu Akashi melupakannya? Padahal baru setahun mereka tidak bertemu.
"Akashi-chan, ini aku Kuroko Tetsuya, ingat?"
Kuroko mencoba membuat anak itu mengingatnya. Namun melihat Akashi mengernyit dalam dan menggeleng kecil, membuat Kuroko agak kecewa.
"Um, apakah itu bunga jengger ayam?" tanya Akashi menatap bunga ditangannya. Kebetulan Kuroko baru saja memetiknya.
"Ah, iya."
Melihat tatapan Akashi yang tampak berminat menatapi bunganya membuat Kuroko sedikit berjongkok untuk menyerahkan bunga itu. "Warnanya merah. Seperti warna rambutmu, ya."
"Um. Apa nee-chan yang merawat semua tanaman ini?" tanya Akashi ketika menerima bunga dari tangan Kuroko.
Kuroko mengangguk sambil tersenyum masam. "Iya. Ngomong-ngomong namaku Kuroko Tetsuya dan aku laki-laki. Tolong jangan panggil aku nee-chan, ya."
Mendengar hal itu agaknya membuat Akashi kecil menatapnya setengah tidak percaya. "Eh, maaf, aku kira kau perempuan."
...
..
"Permisi, apa nee-san pemilik kebun ini?"
Ketika itu Kuroko baru menyadari ada hal yang aneh pada Akashi. Setahun setelah pertemuan mereka yang kedua kalinya dan kini bertemu kembali, anak itu melupakannya lagi.
Kuroko terdiam untuk beberapa saat, lalu mengukir senyum tipis. Meski Akashi melupakannya, tapi kebiasaan memanggilnya 'nee-san' ditahun-tahun sebelumnya tak berubah juga. "Ya."
Dan hal itu terus berlangsung di tahun berikutnya. Kuroko mulai terbiasa. Ia mengetahui kalau Akashi berasal dari tempat yang jauh. Anak itu setiap tahun berlibur di rumah neneknya yang terletak tidak jauh dari perkebunan milik Kuroko.
...
..
"Hai, apa kamu pemilik kebun ini?"
Akashi kini tumbuh menjadi sosok remaja SMA yang tampan. Tubuhnya tampak proporsional. Tingginya bahkan sudah melampaui Kuroko.
Melihat perubahan Akashi sedikit membuat Kuroko merasa pangling dan terpesona. "Ya."
"Tempat ini indah dan sejuk. Aku baru tahu ada kebun bunga disekitar tempat nenekku tinggal."
Padahal tiap tahun Akashi selalu datang ke tempat ini. Anehnya, dia selalu lupa. Dan anehnya lagi, tiap tahun ia selalu datang menemukan tempat ini.
Kedua manik merah Akashi menjelajah. Menikmati pemandangan disekelilingnya, sebelum kemudian tatapannya terpaku pada sosok Kuroko.
"Aku Akashi Seijuuro, boleh kutahu siapa namamu?"
Kuroko melirik sekilas tangan Akashi yang terulur. Lalu menatap senyum tipis itu dengan datar.
"Kuroko Tetsuya," jawabnya tak membalas uluran tangan Akashi.
Akashi menurunkan tangannya. Merasa agak sedikit kecewa. Namun, itu bukan masalah buatnya. Lagi pula ia baru mengenal Kuroko.
"Kuroko Tetsuya, ya? Namanya seperti seorang laki-laki, tapi nama itu bagus juga."
Kuroko menghela napas lelah. Pasti Akashi mengira ia perempuan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. "Aku memang laki-laki, Akashi-chan, uh maksudku Akashi-san."
"Eh, maaf, kukira kau perempuan."
Kuroko melempar senyum datar. Lalu mengajak Akashi untuk duduk di gubuk kecilnya. Meski Akashi selalu melupakannya, Kuroko merasa nyaman berada di dekat anak itu. Kelihatannya Akashi pun begitu.
Namun, Akashi hanya akan mendatanginya sehari selama setahun sekali, kadang dua tahun sekali. Hal itu membuat Kuroko selalu menanti kedatangannya.
..
..
"Permisi, apa kau pemilik kebun in-"
"Ya, aku yang memiliki dan menanam semua bunga di sini. Namaku Kuroko Tetsuya dan aku adalah seorang laki-laki, jika kau mengira aku perempuan," sela Kuroko mencoba melakukan hal yang berbeda ditahun-tahun sebelumnya.
Tiga tahun berlalu semenjak pertemuan mereka. Waktu yang lumayan lama untuk Kuroko menunggu kedatangan Akashi. Dan kini Akashi menjadi seorang lelaki yang tampak dewasa. Tatapan matanya terlihat tajam, namun teduh secara bersamaan.
Akashi terdiam untuk beberapa saat, lalu tangannya terulur untuk mengusap helai biru Kuroko. Hal itu membuat Kuroko agak terkejut mengingat dulu Kurokolah yang selalu melakukan hal itu.
"Kamu lucu. Aku memang sempat mengiramu perempuan tadi. Oh iya, namaku Akashi Seijuuro. Salam kenal, Kuroko-chan."
Akashi memberi senyuman. Sebuah senyuman yang begitu menawan. Senyuman yang berhasil membuat Kuroko terpana.
Setelah tersadar dari reaksinya barusan, Kuroko berdehem. Berpaling untuk menutupi rona merah di pipinya. "Tolong jangan panggil aku dengan suffik 'chan' begitu, Akashi ...-kun."
.
..
tbc
