Pemuda itu menghentikan langkah kakinya di tengah belantara tanaman ilalang yang memiliki tinggi hampir satu meter itu. Tubuhnya sedikit menunduk untuk memastikan tidak ada yang melihat keberadaannya disana. Tangan kanannya sibuk merogoh saku celananya sedangkan tangan kirinya sibuk memeriksa satu senjata api yang dibawanya.

"Sial," runtuknya pelan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, "apa ada yang membocorkan identitasku?!"

Pandangannya beralih pada layar ponselnya yang saat ini sedang menunjukkan satu pesan masuk yang diterimanya. Pesan dari Lee Taeyong yang berisi pertanyaan keberadaan lokasi dirinya dan pandangannya kian mengernyit heran saat pesan lainnya masuk. Dari pengirim yang sama dan sebuah nama yang dikenalnya tertera disana.

"Taeyong mengenal kapten?"

Samar-samar terdengar suara berisik dari arah belakangnya. Percakapan dua orang dengan langkah yang kian mendekat.

Reflek saja, pemuda itu menjatuhkan tubuhnya ke tanah, menahan seluruh pergerakannya. Berusaha meredam suara yang dibuatnya dan memfokuskan pendengaran pada orang disana.

"Apa kau lihat bagaimana Tuan Jo memukuli remaja itu?" tanya pria bertopi seraya membenarkan posisi tubuh yang sedang diseret mereka.

"Dia benar-benar psikopat berdarah dingin. Padahal itu putranya sendiri." Rekannya ikut menambahkan lalu menghentikan pergerakannya. "Kita buang disini saja?"

Pria bertopi itu mengamati sekitarnya lalu mengangguk. "Kita tinggalkan saja dia disini. Lagipula dia sudah hampir mati kehilangan banyak darah."

Keduanya melemparkan tubuh tak berdaya itu tanpa pikir panjang. Kemudian membalikkan tubuh mereka. Keduanya terlihat sedang menyulut api ke arah dua batang rokok milik mereka lalu menghela nafas bersama.

"Kita harus ke lantai sepuluh untuk memastikan anak itu mati karena gas beracun itu."

"Kau benar. Oh iya, aku dengar ada pengkhianat di antara kita."

Pria bertopi itu menoleh untuk menatap rekannya lalu berseru tidak percaya. "Hah? Kau yakin?"

"Kau tidak lihat remaja yang membawa pisau itu? Bagaimana bisa dia membawa benda itu dibalik bajunya?"

"Ah iya, aku melihatnya. Ayo masuk! Kita bicarakan sambil jalan saja."

Setelah itu, keduanya melangkah pergi. Seolah benar-benar tidak menyadari keberadaan pemuda yang sedari tadi duduk terdiam dibalik tanaman ilalang yang hanya berjarak lima meter dari lokasi mereka berdiri.

Setelah memastikan tidak ada siapapun disana selain dirinya, pemuda itu mulai mengendap ke lokasi dimana dua pria itu berhenti. Dia merayap dibalik ilalang tinggi. Beruntung saja cuaca hari ini cukup berangin dan dapat menutupi kecurigaan karena ilalang yang bergerak.

Matanya menyipit saat merasa yakin jika ada seonggok tubuh manusia pada jarak satu setengah meter di depannya. Sejenak pandangannya beralih waspada dengan senjata api yang ada di tangan kirinya lalu kembali menatap tubuh itu. Tubuhnya kembali merayap maju dan saat itu juga dia yakin, itu adalah tubuh dari teman Taeyong, salah satu dari enam orang yang diculik.


Jungshin mengerjap tidak percaya saat tiba-tiba Joonhyuk menyerahkan sebilah pisau ke arahnya tanpa mengatakan apapun. Dia menatap pisau dengan bentuk dua sisi yang berbeda. Satu sisi memiliki bagian tajam dan sisi lainnya bergerigi. Sedikit ngeri jika mengingat fakta orang yang saat ini memimpin barisan mereka adalah rekannya di sekolah sekaligus anggota pasukan khusus, ah, tidak, tepatnya ketua pasukan khusus.

Di samping Jungshin, ada Chanyeol yang sedari tadi merapat ke arahnya. Sesekali pemuda bermarga Park itu melangkah mundur saat Joonhyuk membalikkan badannya ke arah mereka. Ayolah, siapa yang tidak takut saat mengetahui orang terceroboh yang saat ini kalian kenal akan mengacungkan moncong assault rifle jenis M16-nya ke arah kalian? Itulah yang diwaspadai Chanyeol sejak tadi. Tidak peduli jika Joonhyuk terus mengatakan dirinya tidak akan menembak. Padahal jelas sekali jika pria itu sudah melumpuhkan lima orang yang mereka temui dengan senjata yang dinamai Hyukkie itu.

Beda Jungshin dan Chanyeol, beda lagi Taehyung yang terlihat sudah terlihat tenang dan terbiasa dengan pistol jenis Glock 20 yang ada di tangannya. Tampaknya remaja itu sudah cukup beradaptasi dengan benda yang mengerikan itu, awalnya.

"Tunggu!"

Taeyong berseru pelan tapi masih dapat terdengar oleh seluruhnya. Bibirnya sedikit digigit seraya menatap layar ponselnya. Cukup lama remaja itu membaca pesan yang diterimanya dari Minhyuk. Detik berikutnya, pandangannya beralih untuk menatap satu persatu orang-orang yang ada didekatnya.

"Keberadaan Hoseok sudah ditemukan. Dia ada di belakang dalam keadaan sekarat tapi sempat sadar sampai detik ini."

Joonhyuk menurunkan senjata miliknya lalu menatap dua pemuda yang berdiri didekat Jungshin. Mereka, Chanyeol dan Daniel terlihat meneguk ludah saat menyadari tatapan dari pria bermarga Nam itu.

"Aku serahkan keberadaan Hoseok kepada kalian berdua. Aku akan menuntun kalian sampai kesana." Ucapnya lalu kembali mengambil senjatanya dan menatap Taehyung dan Jungshin. "Kalian berdua, akan tetap masuk sesuai rencana awal kita. Aku akan menyusul. Dan Taeyong, katakan pada Minhyuk untuk bertemu kalian di dalam sana."

Belum sempat Taeyong menjawab, Joonhyuk sudah memimpin jalan dan diikuti Chanyeol dan Daniel. Ketiganya mengendap dibalik dinding bangunan yang setengah hancur, melewatinya dengan tenang dan perlahan.

Sedangkan Taehyung terlihat sudah bersiap dengan pistolnya dan menatap Jungshin untuk meminta izin untuk memimpin jalan. Setelahnya, keempat dari mereka memutuskan untuk tetap pada rencana. Masuk ke gedung seperti awal, sesuai rencana tanpa Joonhyuk serta Chanyeol dan Daniel.


"Nyonya, ada penyusup yang sudah melumpuhkan beberapa orang kita!"

Nayoung mendelik lalu mengerang penuh amarah. Kaki kirinya menendang objek yang saat ini masih bersimpuh di bawahnya.

"Apa mereka polisi?"

Pria berpakaian serba hitam itu beringsut mundur lalu menggeleng. "Sepertinya bukan polisi karena mereka semua berpakaian biasa."

Tidak lama, erangan penuh amarah itu berubah menjadi seringai mengerikan dan berhasil membuat pria itu menatap takut. Detik berikutnya seringai itu langsung berganti menjadi sebuah tawa menggema.

"Tembak mati mereka semua!"

"Ba-baik, nyonya!"


Chanyeol dan Daniel sudah tiba di belantara ilalang yang dimaksud, sedangkan Joonhyuk sudah kembali menghilang entah kemana. Mereka berdua mengendap perlahan dan sebisa mungkin untuk tidak menonjol di antara ilalang yang tinggi. Denyut jantung mereka semakin tidak normal, waspada jika saja musuh menemui mereka.

Daniel berjalan paling depan, sedangkan Chanyeol memutuskan menghadap belakang seraya berjalan mundur. Gerakan mereka sangat hati-hati jika mengingat posisi dimana mereka berada. Ditambah lagi, keduanya tidak diberi bekalan senjata untuk bela diri. Bukannya tidak diberi, keduanya kontan menolak tawaran Joonhyuk yang mengulurkan sebuah Glock 20.

"Perhatikan langkahmu!" protes Chanyeol saat merasa punggungnya menubruk Daniel yang berhenti mendadak. "Kenapa berhenti?"

"Itu…Hoseok, 'kan?" seru Daniel tanpa menoleh ke lawan bicaranya.

Chanyeol segera memutar tubuhnya, menatap objek yang dimaksud Daniel dan ya, Jung Hoseok ada disana dengan tubuh yang berlumuran darah tapi dalam keadaan sadar.

"H-hyung?!"

Chanyeol segera mendorong Daniel ke samping lalu mendekati tubuh itu. Kedua tangannya memindahkan kepala Hoseok secara perlahan ke pangkuannya.

"Hei, hei! Tetap bertahan, okay?"

Sedangkan Daniel hanya terdiam seraya menggigit bibirnya. Dia ingin menolong tapi bayangan cairan merah itu mengganggu pikirannya. Ya, satu kelemahan seorang Kang Daniel lainnya. Dia memiliki phobia darah yang lumayan parah.

"Niel, apa yang kau pikirkan? Cepat bantu aku membawa Hoseok dari sini!"

Tidak, Daniel harus menepis sedikit ketakutannya. Darah tidak menakutkan. Itu hanya cairan berwarna merah. Ya, anggap saja air mineral yang diberi pewarna merah pekat dan kental. Sebisa mungkin Daniel memperkecil jaraknya dengan Hoseok seraya memejamkan matanya. Posisinya sudah sangat dekat bahkan terlalu dekat sampai hidungnya berhasil menghirup aroma amis yang menusuk hidungnya.

It's okay, dude! You can do that, untuk Hoseok!


Taehyung masih memimpin jalan, diikuti Jungshin, Taeyong dan Jimin di belakangnya. Mereka sudah cukup jauh di dalam gedung, berada di lantai tiga namun tidak ada siapapun disana. Seolah tidak ada bahaya apapun yang menanti keempatnya.

Di sisi lain, Joonhyuk sudah berada di lantai enam dan menghabisi beberapa orang yang ditemuinya. Hanya melumpuhkan tanpa membunuh mereka. Dia masih sadar posisinya saat ini berada di antara murid-muridnya.

Pisau lipat di tangan kanan sudah siap dihujamkan saat menyadari seseorang berjalan di belakangnya, dari arah tangga ke atas. Ditambah lagi dengan suara gerutuan kecil dan membuat Joonhyuk segera memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding dan menyiapkan pisaunya.

Sebuah balok kayu menggelinding dari atas tangga, turun ke bawah dan melewati Joonhyuk yang bersembunyi. Tidak ada suara langkah kaki lagi selama beberapa detik. Namun pria bermarga Nam itu tetap bertahan pada posisi waspadanya.

Sampai detik-detik berselang, langkah kaki itu kembali terdengar, kian mendekat, menuruni anak tangga satu persatu. Joonhyuk tetap pada posisinya, pisau lipat teracung ke arah tangga. Hingga kaki berbalut converse hitam-putih itu menapak di lantai dasar. Ada helaan nafas lega disana sebelum kemudian berakhir dengan nafas tercekat.

Joonhyuk mengacungkan pisaunya tepat di leher orang itu dari belakang, sehingga mereka tidak saling mengetahui wajah masing-masing. Bagian tajamnya siap menggoreskan luka di leher putih itu kapan saja.

Hening beberapa saat. Joonhyuk yang terdiam and targetnya yang menahan nafas.

"Astaga! Apa aku memang akan mati hari ini?" gumam pemuda itu dengan cukup pelan.

"Kim Namjoon?!" seru Joonhyuk dengan pelan namun berhasil direspon oleh pemuda yang masih menjadi sanderanya itu.

"Joonhyuk-ssaem? Apa itu kau?"

Joonhyuk segera menjauhkan pisaunya lalu berpindah ke hadapan pemuda yang tak lain adalah salah satu muridnya, Kim Namjoon.

"Kau benar-benar memanjat dinding itu?"

Joonhyuk sangat ingat akan kejadian Jimin berseru di tengah kegiatan mengendap mereka. Pemuda berpostur pendek itu tiba-tiba menujuk ke salah satu sisi bangunan, tepatnya kepada seseorang yang sedang bergelantungan di dinding dari lantai teratas bangunan yang menjadi tujuan mereka. Kemudian meyakinkan diri jika itu adalah Kim Namjoon, temannya.

"Daripada aku mati konyol karena gas sulfida itu." Namjoon berujar kesal lalu pandangannya tertuju pada pisau yang ada di tangan Joonhyuk. Dia bergedik ngeri saat teringat benda tajam itu nyaris menggores permukaan lehernya.

"Apa di atas tidak ada teman-temanmu? Atau mereka?"

Namjoon sibuk meraba lehernya, memastikan tidak ada goresan luka disana. "Aku sempat memeriksa beberapa ruang disana tapi sepertinya tidak ada siapapun disana. Hanya aku yang disekap di lantai 10, tapi aku sempat bertemu beberapa orang yang sepertinya sedang menuju tempatku disekap. Lalu bagaimana dengan ssaem? Kenapa ada disini? Dan, apa-apaan dengan tas besar itu lalu pisau itu?"

"Ceritanya panjang," balas Joonhyuk yang sudah membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah tangga menurun. "Apa kau tahu dimana teman-temanmu disekap?"

"Tidak terlalu," ucap Namjoon seraya mengikuti langkah Joonhyuk, "Seokjin, dibawa ke lantai bawah. Jungkook dan Yoongi, mereka diseret ke arah yang sama. Hyera dan Hoseok, aku tidak tahu dimana mereka."

"Hoseok sudah bersama Daniel dan Chanyeol," jelas Joonhyuk yang masih sibuk memimpin jalan, "kita akan bertemu Taehyung dan yang lain di lantai tiga."

"Taehyung? Bagaima~"

"Sudah kubilang, ceritanya panjang. Cukup diam dan ikuti saja!"


Kalimat perintah dari sang guru olahraga hanya diangguki oleh Namjoon. Pemuda itu memilih untuk memungut sebuah besi panjang lalu membawanya untuk berjaga-jaga. Mereka harus waspada sampai menuju lantai tiga.

Taehyung segera menghentikan langkahnya. Dia merasa ada yang tidak beres di lantai ini -mereka masih berada di lantai tiga. Karena sedari tadi, rasanya sama sekali tidak ada hal yang menghalangi langkah mereka. Seperti dipermudah begitu saja.

"Kim Taehyung, kenapa kau berhenti?" seru Jimin dengan suara pelan namun jengkel. Dia berdiri tepat di belakang Taehyung dan nyaris menabrak punggung pemuda itu.

"Apa kalian tidak merasakan hal yang aneh?" sahut Taehyung sambil mengamati sekitarnya. Dia mempersiapkan jari-jarinya pada senjata api di tangannya. "Tidak ada siapapun disini."

Jungshin ikut menatap sekitarnya. Dia setuju atas pernyataan sang murid. Tidak ada siapapun disini sejak mereka masuk. Mungkin pengecualian pada lantai dasar yang dijaga oleh dua orang namun berhasil dilumpuhkan oleh Jimin dan Taeyong. Setelah itu, tidak ada gangguan satupun bagi mereka.

"Mungkin mereka berada di tempat yang berbeda dengan posisi kita." Taeyong menimpali, berusaha menampik pemikiran negatif yang sudah terlintas di kepalanya. Dia setuju dengan pernyataan Taehyung. Ini terlalu mudah.

Namun pernyataan positifnya harus berganti saat Taehyung dengan tiba-tiba menarik Jimin dengan tangan kirinya untuk berdiri di belakangnya, sedangkan tangan kanannya langsung mengancungkan moncong senjata api tepat ke arah depan mereka. Seketika situasi menegang karena ada belasan pria berpakaian hitam yang berjalan ke arah mereka dengan beberapa senjata tumpul dan berbagai senjata api. Perlahan mereka berjalan mundur, berusaha menjaga jarak dari kumpulan musuh yang kian mendekat.

"Mereka banyak sekali," bisik Jimin pada Taeyong yang berdiri di sampingnya. Sedangkan Taeyong tampak mengangguk setuju dan sedikit mengumpat sebal karena kalimatnya sama sekali tak menenangkan.

"Kim Taehyung," panggil Jungshin yang berjalan mundur di sisi kanan Taehyung, "apa pelurumu masih banyak?"

"Masih ada 11 peluru." Taehyung membalas seraya melirik Jimin dan Taeyong yang sedang mengambil potongan kayu untuk senjata mereka. "Kalian tetap di belakang!"

"Aku juga tidak mau berdiri di depan. Aku tidak ahli berkelahi."

"Dasar tukang dusta. Pantas saja tubuhmu tidak tumbuh-tumbuh." Taeyong menyindir Jimin tanpa peduli jika pemuda di sampingnya itu sedang menahan diri untuk tidak memukul dirinya. "Bukannya kau dan Jungkook pernah terlibat perkelahian dengan preman pusat kota."

Jimin mencibir tanpa niat membalas ucapan pemuda yang memiliki tinggi yang nyaris seperti dirinya. Walaupun dia sedikit berbangga diri karena dirinya lebih tinggi 0,01 meter dari Taeyong.

"Kalian berdua! Berhenti bertengkar!" seru Jungshin yang sedang memperhatikan langkahnya.

"Kita tidak bisa terus mundur. Kita tersudut." Taeyong segera berucap saat menyadari jika tubuh mereka sudah terpojok pada dinding. Tidak ada jalan lain disana selain sebuah jendela pada sisi kanan mereka dengan jarak kurang lebih lima sampai tujuh meter.

Sedangkan belasan pria yang menjadi musuh mereka tampak tertawa remeh saat mengetahui jika target mereka sudah terpojok. Bahkan beberapa dari mereka sudah memperlebar langkahnya agar semakin dekat.

"Kenapa tidak kau tembak saja?" sahut Jimin yang terlihat gencar ingin menghabisi musuh mereka.

"Aku hanya punya 11 peluru dan mereka lebih dari 11. Belum lagi kalau ada kemungkinan tembakanku akan meleset." Taehyung membalas, tak kalah berisik.

"Aku hanya punya pisau di sakuku," ucap Jungshin yang kini sedang memegang saku celana sebelah kanan. Di dalamnya, ada pisau pemberian Joonhyuk untuk berjaga-jaga.

"Aku punya pertanyaan," ucap Jimin lagi yang tidak sadar sudah membuat Taeyong menatapnya jengkel, "jika kita membunuh mereka, apa kita akan masuk penjara?"

"Ini bukan waktunya sesi tanya jawab, Park Jimin." Taeyong menyahut sebal.

"Tergantung," balas Jungshin seraya melirik remaja Park itu, "jika kau bernafsu untuk membunuh, tentu saja salah. Kecuali kau tidak sengaja atau merasa terpojok."

"Tapi, ssaem," potong Jimin lagi, "kita sudah terpojok sekarang, jika kau lupa."

Jungshin tidak menggubris lebih lanjut. Dia segera mengambil jarak dari Taehyung saat ada dua pria yang berniat memukul keduanya dari satu arah.

Jimin dan Taeyong segera menundukkan kepala mereka saat sebuah balok nyaris menghantam kepala mereka. Sedangkan Taehyung sudah berlari ke arah kiri.

Keempatnya terpojok dengan lawan yang tak sepadan. Taehyung memilih menyimpan pistolnya ke celah celananya lalu menghajar lawannya dengan tangan kosong. Tidak ketinggalan Jungshin yang sudah membalas pukulan lawannya dengan meninggalkan beberapa luka berkat pisau Joonhyuk. Kemudian sepasang remaja Park dan Lee itu disibukkan dengan lawan yang berjumlah empat kali lipat dari jumlah keduanya.


Next chapter

"Taehyung, berikan pistol itu!"

"Sebenarnya apa mau kalian?"

"Percuma saja kalian menyusun rencana! Kalian semua akan mati disini!"

Tugasmu hanya melumpukan, Kim Taehyung, bukan membunuh.

"Cih, anak itu benar-benar mencari mati!"