Yoongi terdiam selama beberapa saat. Dia yakin ada pertarungan diluar ruangan dimana dirinya disekap. Pemuda Min itu segera beranjak lalu berlari ke arah pintu. Telinga kirinya tertempel pada pintu untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. Sekarang pertanyaannya adalah siapa yang membuat kericuhan diluar?
Namun hanya butuh persekian detik untuk Yoongi mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, karena saat yang sama dia dalam mendengar beberapa nama yang diterikan oleh suara-suara diluar sana. Ada nama Taehyung, Jimin, Taeyong dan ssaem. Untuk yang terakhir, Yoongi tidak terlalu yakin.
"Mereka benar-benar ada disini?" pikirnya untuk beberapa saat.
Kepalanya sibuk bergerak kesana-kemari untuk mencari cara agar dia dapat keluar dari tempat ini. Lagi, tidak ada apapun yang bisa dijadikannya senjata. Selain harapan seseorang membuka pintu ini. Dan Yoongi memutuskan untuk berusaha mendobrak pintu itu, membuat keributan agar siapapun membukakan pintu untuknya.
"Sialan! Ayolah terbuka!"
Tidak peduli pada tubuhnya yang penuh luka dan bahkan menambah luka, Yoongi terus menabrakkan tubuhnya ke pintu hingga terdengar bunyi retakan dari luar. Tidak, dia tidak mungkin menghancurkan pintu itu dengan mudah, kecuali jika ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Benar saja, pintu itu terbuka lebar bersamaan dengan Yoongi yang dapat menyaksikan sebuah pertarungan tak seimbang di depannya. Sedangkan dia mendapati seorang pria asing yang berdiri dengan sebuah linggis di tangan kanannya.
"Sia~"
"Simpan dulu pertanyaanmu. Sekarang kau buka pintu di sebelahmu. Salah satu temanmu ada disana!" ucap pria itu seraya menyerahkan linggis kepada Yoongi lalu berlari menuruni tangga. Sebelum benar-benar menghilang, pria itu sedikit berucap pelan namun untungnya berhasil ditangkap Yoongi. "Jika sudah, cepat turun ke bawah! Ke lantai dasar. Dua temanmu ada disana!"
Yoongi sendiri tak tinggal diam. Dia menatap pintu di sisi kirinya dan berusaha membuka lilitan rantai dan gembok yang mengunci pintu. Sesekali pandangannya tertuju pada pertarungan yang masih terjadi -hebatnya tidak ada yang menyadari keributan yang dibuatnya. Jadi dia harus sedikit bersyukur.
Pintu berhasil terbuka dan menampakkan sebuah tubuh tak bergerak disana. Pencahayaan yang minim membuat Yoongi harus bertarung sedikit dengan pemikirannya. Sebuah tubuh yang meringkuk di tengah ruangan. Pandangannya mengamati sekitar sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.
"Yak! Kang Hyera! Bangun!"
Iya, itu adalah Hyera sedang meringkuk dan dalam keadaan yang tak sadarkan diri.
Berulang kali Yoongi menepuk pipi gadis itu agar sadar namun tampaknya percuma. Apalagi saat mengetahui seberapa kacaunya penampilan gadis itu. Kepala yang basah, wajah yang penuh luka, kaki serta tangan yang banyak luka lebam dan sukses membuat Yoongi meringis.
Jadi dia memutuskan untuk segera mengangkat tubuh itu ke punggungnya. Memperbaiki posisi gadis itu lalu beranjak dari sana.
Diluar, tanda pertarungan nyaris berakhir adalah saat beberapa orang berlari melewati pintu dan menuruni tangga, berhasil membuat Yoongi mengurungkan niatnya untuk keluar. Beberapa langkah kaki terdengar nyaring melewati area pintu hingga akhirnya kembali hening. Pikirannya agak panik ketika mengingat teman-temannya yang berkelahi diluar tadi.
Dengan segenap keberanian yang tersisa, Yoongi berjalan pelan ke arah pintu, mengintip sejenak lalu memberanikan dirinya keluar. Pemandangan diluar sedikit mengenaskan. Beberapa tubuh terkapar tak sadarkan diri. Kemudian ada empat orang yang sedang berusaha mempertahankan posisi mereka dan itu adalah ketiga teman sekelasnya, serta…walikelasnya? Lee Jungshin?
"Min Yoongi?!"
Bukan dari salah satu dari keempat orang yang dimaksudnya, melainkan dari arah tangga. Ada Namjoon dan guru olahraganya? Nam Joonhyuk?
"Kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan Hyera?" lanjut Namjoon yang sudah berdiri di hadapannya dengan panik. Kemudian beralih pada sisa-sisa perkelahian yang terjadi sebelumnya. "Kalian baik-baik saja?"
"I'm okay!" seru Jimin seraya mengangkat ibu jarinya. Dia segera menghampiri Taeyong yang nyaris rubuh dan membopong pemuda itu seraya tertatih ke arah empat orang yang dikenalnya.
"Bagaimana dengan Hyera?" sahut Taehyung yang sudah berada di antara Yoongi dan Namjoon tanpa sepengetahuan siapapun.
"Tidak sadarkan diri. Kita harus segera turun." Yoongi mendahului langkahnya ke arah tangga ke bawah. "Yang lain disekap di lantai dasar."
"Sebentar," seru Jungshin yang sudah ditopang oleh Joonhyuk, "aku rasa mereka sedang menjebak kita disana. Minimal kita harus menyiapkan rencana."
Joonhyuk melemparkan pisau lipatnya ke arah Namjoon lalu menatap Taehyung yang sedang memeriksa pistolnya. "Taehyung, berikan pistol itu!"
Taehyung hanya menurut lalu melemparkan benda berbahaya itu dan untungnya berhasil ditangkap sang pemilik. Namun dia harus terdiam saat Joonhyuk menyerahkan tas yang berisi assault rifle bernama Hyukie.
"Kau berjaga dari lantai dua dan lumpuhkan dari kejauhan. Namjoon, pegang pisau itu untuk pertahanan." Joonhyuk mengalihkan pandangannya pada Jimin dan Taeyong. "Kalian berdua masih mampukan?" dan dijawab dengan anggukan oleh keduanya. "Taeyong, tetap berjaga di samping Yoongi dan Hyera. Jimin dan Jungshin, temukan Jungkook dan Seokjin. Aku dan Namjoon akan berjaga di depan. Bisakan?"
"Kau gila?" seru Jungshin seraya memukul belakang kepala Joonhyuk dari belakang. "Bisa-bisanya membiarkan Taehyung dan benda berbahaya itu! Lalu Namjoon? Berjaga di depanmu?"
Joonhyuk mengusap tengkuknya yang dipukul Jungshin lalu mengedikkan bahunya dengan acuh. "Setidaknya kita punya rencana daripada tidak ada sama sekali, lagipula akan ada Minhyuk disana. Taehyung, kau bisakan?"
Taehyung hanya mengangguk seraya menyampirkan tas senjata Joonhyuk dengan percaya diri. Dia jadi menyukai kegiatan menembak seperti ini.
"Ayo lakukan!"
Kembali ke Chanyeol dan Daniel yang sudah berhasil membawa Hoseok ke dalam mobil mereka. Chanyeol sedang sibuk mengatur posisi Hoseok yang sesekali meringis karena luka di perutnya, sedangkan Daniel sedang berusaha menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan.
"Niel," panggil Chanyeol seraya mengintip Daniel yang berdiri diluar mobil, "aku tidak yakin seberapa lama lagi Hoseok akan bertahan. Dia sudah terlalu banyak kehilangan darah."
Daniel melirik ke arah Hoseok yang terus meringis kesakitan di sisa kesadarannya. "Lalu? Bagaimana?"
Chanyeol keluar dari mobil lalu meletakkan kunci mobil di telapak tangan Daniel. "Kita tidak bisa menunggu bantuan lebih lama. Apa kau bisa membawanya dulu?"
Daniel masih menatap Hoseok seraya menggigit bibirnya. Jujur saja, tubuhnya masih bergetar tak nyaman karena darah. Untung saja tidak nyaris pingsan.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan tetap tinggal untuk membantu mereka. Kita tidak mungkin pergi semua. Dan adikku ada di dalam sana, Niel."
"Baiklah. Aku titip Hyera."
Chanyeol mengangguk lalu menutup pintu mobil dan membiarkan Daniel masuk ke dalam mobil. "Aku titip Hoseok, Niel!"
"Baik, hyung." Daniel menyalakan mobil, melirik sejenak Hoseok yang berbaring di jok belakang lalu menghela nafas. Detik berikutnya dia segera melajukan mobilnya keluar dari tempat ini.
Sedangkan Chanyeol, pemuda itu sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke tempat dimana Jimin dan yang lain berada. Dia merapalkan berbagai doa di dalam hati, berharap jika mereka baik-baik saja dan bala bantuan segera datang.
Sesuai dugaan. Mereka dijebak.
Mereka semua sudah memperkirakan semua ini. Kini, mereka -tanpa Taehyung harus kembali terpojok di sudut ruangan. Keenamnya digiring ke arah lapangan terbuka, tepat di tengah bangunan. Setidaknya ada satu peluang bagi Taehyung untuk menjangkau dari tempatnya.
Disana, ada Nayoung dan Insung sedang menatap angkuh ke arah mereka. Wanita itu terus tertawa tanpa peduli jika enam orang di depannya sudah menatap jengkel ke arahnya.
"Bagaimana? Sudah merasa berhasil? Kalian pasti berpikir ini lebih mudah."
Jimin meruntuk seraya menatap ke belakangnya, bersama Namjoon yang berjaga agar Yoongi dan Hyera tetap di tengah mereka.
"Sebenarnya apa mau kalian?" seru Jungshin.
"Tidak. Bukan kalian, tapi aku. Hanya aku." Nayoung berucap bangga lalu melirik Insung. "Dia hanya sekalian membantu untuk mendapatkan sesuatu."
Saat yang sama, dua orang suruhan Nayoung menyeret seseorang yang tidak sadarkan diri lalu dihempaskan ke tanah lapang. Tubuh itu tertungkup dengan pakaian yang sudah tidak terbentuk lagi. Percikan darah tercipta dimanapun sampai tidak ada yang yakin dimana saja luka yang didapatnya.
"Seokjin!" pekik Namjoon saat menyadari jika itu adalah sepupunya.
Mereka semua tahu. Dari ujung kepala itu, rambut itu, postur itu. Tubuh itu milik Kim Seokjin.
"Sayang sekali," ucap Insung dengan suara sedih, "dia masih hidup. Hebat sekali anak itu. Namjoon-ah, sepupumu hebat dalam bertahan hidup. Bagaimana denganmu?"
Namjoon menggeram, nyaris hilang kesabaran jika saja Joonhyuk tidak memperingatinya.
"Tenanglah, Nak! Mereka berusaha mengacaukan amarahmu. Jangan terpancing!"
Di sisi lain, Jimin sibuk mengedarkan pandangannya ke penjuru bangunan di sekitarnya, mencari keberadaan sahabatnya yang masih tidak diketahui walaupun nihil. Dia mendesah kesal lalu melirik Yoongi yang sedang berusaha menurunkan Hyera ke lantai.
"Hei, apa yang kau lakukan?" bisiknya.
"Dia memaksa turun," balas Yoongi yang sudah menurunkan sempurna gadis yang sudah bangun itu. "Lagipula punggungku sudah cukup pegal karena menggendongnya." Bohong.
Kini perhatian mereka tertuju pada Hyera yang sedang melakukan peregangan seolah tidak peduli dengan situasi yang dihadapi. Gadis itu meringis sebal lalu meruntuk karena sakit di seluruh tubuhnya.
"Kau baik?" tanya Jungshin yang sudah bertukar posisi dengan Taeyong, merapat ke arah Hyera.
"Ya, lumayan. Aku berdoa kakiku tidak patah." Balas gadis itu lalu menatap sang walikelas dengan tatapan tak percaya. "Ssaem? Sejak kapan ada disini? Lalu kenapa ada Taeyong?"
"Ceritanya panjang jadi diam saja jika masih sayang nyawa," sahut Joonhyuk yang berusaha mengembalikan fokus mereka. "Sadarlah dimana kita berada!"
Tak lama, satu tembakan terlepas. Sukses mengembalikan fokus mereka ke arah Nayoung yang sedang memegang sebuah pistol dengan moncong yang menghadap ke atas.
"Aku pikir gadis itu sudah mati." Ucapnya dengan nada kecewa lalu mengarahkan pistolnya ke sisi kirinya, tepat ke arah seorang pria yang sedang menunduk. "Bukannya aku sudah memerintahkan kalian untuk memastikan anak itu mati disana?!"
"Maafkan ka~"
Terlambat. Satu peluru kembali terlepas dan kini berpindah tempat dengan bersarang di suatu tempat di kepala pria itu. Tubuh itu ambruk dalam hitungan detik dan mempertegang situasi yang ada.
"Rasanya aku kehilangan satu orang." Lanjut wanita itu seraya menggerakkan pistolnya, menghitung jumlah tawanan yang didapatnya. "Dimana adik tirimu, Kim Namjoon?"
Namjoon berdecih, membuang muka. Sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Atau ingin aku temukan?" sahut Insung yang tampak mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya. "Sebuah tanda selamat datang dariku karena sudah menjadi anggota keluarga kita."
"Jangan menyentuh Taehyung!" pekik Namjoon dengan segala rasa amarahnya yang membuncah. Namun dia masih berusaha menahan diri untuk tidak menerjang pria itu, yang besar kemungkinan hanya berakhir dengan konyol.
"Kenapa? Saudara tiri Seokjin saja sudah kuberi ucapan selamat datang walaupun terlambat. Mungkin dia sedang kesulitan bernafas di suatu tempat disana." Insung berucap tenang lalu mengarahkan ujung tajam pisaunya ke tubuh Seokjin, seolah sedang berusaha menombak targetnya.
Jimin mencengkeram kedua tangannya dalam diam lalu mengetukkan kaki kirinya dengan tidak sabar. Dia tidak bisa diam saja dengan keberadaan Jungkook yang belum diketahui. Tidak akan ada kata tenang baginya jika belum melihat sang sahabat dengan mata kepalanya sendiri.
"Jungkook ada di ruangan itu," bisik Hyera dengan suara yang nyaris tak terdengar namun berhasil tertangkap indera pendengaran Jimin dan Yoongi. "Ruangan di belakang mereka, yang dijaga dua orang itu."
Sontak, baik Jimin maupun Yoongi segera menelisik sekitarnya, mengubah posisi mereka untuk melihat pintu yang dimaksud Hyera. Sebuah pintu yang berada di belakang Nayoung dan Insung, ada dua orang pria berjaga disana. Keduanya jadi yakin jika Jungkook ada disana.
"Joonhyuk-ssaem!" panggil Hyera dengan nada pelan. "Bisa kau sedikit bergerak mundur? Maksudnya menggiring kita berjalan mundur?"
Joonhyuk menatap ke arah depannya lalu kedua sisinya. Mereka terkepung. Tidak ada celah untuk mereka keluar dari lingkaran itu. Namun otaknya sedikit berputar, mencoba mencari kemungkinan terkecil dari permintaan satu-satunya murid perempuannya itu.
"Sebenarnya apa rencanamu, Kang Hyera?" bisik Taeyong yang terlihat kesal namun penasaran.
"Percuma saja kalian menyusun rencana! Kalian semua akan mati disini!" teriak Nayoung yang berhasil menarik fokus seluruhnya.
"Kapan bala bantuan akan datang?" tanya Jimin dengan tidak sabaran.
"Lima menit dari sekarang," jawab Taeyong seraya menatap jam tangan digitalnya. Jam itu tidak sepenuhnya menampilkan angka, melainkan sebuah peta GPS pergerakan dari mobil Minho yang berhasil disadapnya, lagi. "Setidaknya kita harus mengulur selama itu sampai mereka mengepung tempat ini dari berbagai arah."
"Dan mereka tidak akan menunggu selama itu," ucap Yoongi yang sudah menegakkan tubuhnya. Dia mengamati pergerakan Insung yang mulai melangkah pergi dari posisinya, sedangkan Nayoung meneriakan satu ultimatum terakhir sebelum akhirnya ikut beranjak dari sana.
"Habisi mereka semua!"
Hal yang terjadi berikutnya adalah Joonhyuk melaksanakan permintaan Hyera, yaitu menggiring yang lain untuk berjalan mundur dengan musuh-musuh yang mendekati mereka. Taeyong dan Jimin sibuk memukuli lawan terdekat tanpa beranjak dari posisi mereka, sedangkan Hyera sudah berbalik untuk menatap ke arah belakang yang dimaksudnya. Ada beberapa orang disana dan Namjoon hendak melawan namun terhenti karena Hyera menahannya.
"Kau dan Yoongi, larilah untuk menyelamatkan Jungkook dan Seokjin. Aku akan membuka ruang untuk kalian."
Sontak Namjoon dan Yoongi membulatkan mata mereka tidak percaya saat tiba-tiba Hyera melompat ke depan, menerjang dua orang sekaligus lalu memukul dua orang lainnya dan berhasil membuat ruang kosong untuk mereka lari.
"SEKARANG!" seru Hyera.
Jadi sesuai perintah, keduanya segera berlari keluar dari kerumunan dan melepaskan diri dari musuh, meninggalkan yang lainnya di tengah musuh.
Joonhyuk mengeluarkan pistolnya, tidak benar-benar digunakan untuk menembak selain untuk alat bantu untuk memukulkan bagian pistol ke beberapa bagian tubuh musuh. Dia bahkan sudah terpisah dari yang lain. Begitu juga Jungshin dan Taeyong yang sudah tertarik ke ruang kosong lainnya. Sedangkan Jimin sedikit kewalahan karena harus menghadapi beberapa orang sendirian. Tidak berbeda jauh dengan Hyera yang terpojok dengan beberapa orang yang terus berusaha menghabisinya tanpa peduli jika dia adalah seorang gadis.
Di lain sisi, Taehyung sibuk memfokuskan pandangannya pada senjata yang bahkan baru pertama kalinya dia gunakan. Posisinya sedang duduk di sebuah kursi dengan senjata assault rifle sudah bertengger di meja sedemikian rupa. Butuh waktu lama untuknya menyesuaikan diri, tidak seperti Glock-20 sebelumnya. Sampai sesuatu menyapa kepalanya, sebuah jaket menutupi sebagian kepalanya.
"Rileks saja!" seru seorang pria yang berjongkok di sampingnya, sedang memainkan sebuah pematik. "Kau jangan terfokus pada penglihatan saja. Ikuti instingmu."
Sontak Taehyung segera berdiri, menjaga jarak dengan pria asing itu. "Siapa kau?"
"Tenang, aku Minhyuk. Mungkin Joonhyuk-hyung sudah mengatakannya padamu. Duduklah!" ucapnya seraya menepuk kursi yang sebelumnya diduduki Taehyung. "Bantuan akan tiba dalam waktu tiga menit tapi mereka tidak akan menahan sampai selama itu. Jadi kau perlu melakukan sesuatu disini untuk membantu mereka."
Taehyung menurut, kembali duduk di kursinya. Jari-jarinya sibuk diatur seperti sebelumnya, jari telunjuk kanan bersiap pelatuk dan tangan kiri mengatur teropong.
"Tidak, jangan seperti itu." Minhyuk menutup teropong dengan penutupnya. "Gunakan matamu, jangan bantuan." Lanjutnya lalu meletakkan tangan kanannya dekat pelatuk. "Bahkan aku baru ini menyentuh Hyukie-nya. Cukup lakukan ini dan selesai."
Taehyung terlonjak kaget. Okay, mungkin bukan karena bunyi senjata yang digunakannya -karena ya, senjata itu memiliki peredam, tapi dia dapat melihat peluru itu melesat begitu saja dan mengenai kaki salah satu orang di bawah sana. Sungguh, bukan Taehyung yang menarik pelatuk itu walaupun jarinya memang ada disana.
"Kau~"
"Ya, ya!" Minhyuk beranjak dari posisinya lalu menepuk pundak Taehyung. "Aku harus mengejar Insung sebelum dia lepas lagi. Ingat, kau hanya melumpukan! Jangan sampai membunuh! Karena sensasinya akan terasa berbeda. Aku tidak mau kau jadi ketagihan melakukannya. See you soon, Kim Taehyung-ssi." Lalu berlari dan melompati jendela yang ada di sisi lain.
"Gila!"
Setidaknya itulah komentar Taehyung sebelum akhirnya kembali fokus pada perkelahian di bawahnya. Dia fokus, mengabaikan teropong dan menghela nafas.
Tugasmu hanya melumpukan, Kim Taehyung, bukan membunuh.
Insung tak benar-benar pergi dari sana dan malah berdiri di ambang pintu seraya mengamati perkelahian yang terjadi. Bibirnya menyeringai penuh kepuasan. Setidaknya dia berhasil menuntaskan keinginannya, walaupun tidak benar-benar tuntas karena Insung yakin, putranya itu tidak mati. Mungkin hanya sekarat. Harusnya dia membunuh pemuda itu dengan kedua tangannya tapi sepertinya dia ingin membuat anaknya itu menderita lalu mati secara perlahan.
"Bala bantuan mereka sepertinya akan datang tidak lama lagi," ucap Nayoung seraya memeriksa pistolnya. "Aku ingin membunuh gadis itu dengan tanganku, Jo Insung. Apa kau tidak mengerti?"
Insung terkekeh. "Kau sangat terobsesi pada gadis itu ya?"
Nayoung menyeringai lalu mengarahkan moncong senjata itu ke arah keramaian di dalamnya. "Dia cantik dan menarik. Aku jadi semakin membencinya. Aku ingin membunuhnya, menembak kepalanya atau menusuk perutnya. Mendengarkan bagaimana dia berteriak kesakitan."
"Kau benar-benar gila."
"Dan kau psikopat, Jo Insung. Jangan lupa!" ucap Nayoung seraya melirik rekannya. "Kau menyayat tubuh itu tanpa minat membunuhnya secara langsung. Kau menikmati semua hal itu? Huh, padahal dia putramu."
Wajah Insung mengeras. Dia tidak suka fakta jika Seokjin adalah putranya. Dia lebih suka menyebut Seokjin adalah perusak kisah cintanya.
"Awas!" serunya seraya menarik Nayoung saat menyadari ada sebuah peluru nyasar ke arah mereka.
"Siapa itu? Apa si penyelinap?"
Insung menggeleng, menyeringai. "Aku mendapat mainan menarik di atas sana." Lalu melangkah pergi.
"Cih, anak itu benar-benar mencari mati!"
Next chapter
"PERGI! JANGAN MENDEKAT!"
"Kalian tunggu disini! Bala bantuan sudah tiba dan mengepung wilayah ini."
"Aku suka orang sepertimu."
"Tapi apa kalian pikir akan berakhir sampai disini?"
"Aku yakin saat Seokjin bangun nanti, dia akan berteriak untuk mengajukan protes."
