Namjoon tengah berjuang membuka pintu dimana Jungkook disekap. Sebenarnya dia ingin segera menyelamatkan Seokjin tapi melihat Yoongi yang nyaris tak bertenaga, maka dia segera menawarkan diri untuk merusak kunci pintu ruangan itu dan berhasil.

Di dalam sana gelap, lebih gelap dari tempat dimana Yoongi dan Hyera disekap. Bahkan tidak ada sumber pencahayaan jika saja pintu itu tidak terbuka. Namun mereka sibuk menelisik ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati Jungkook yang meringkuk di sudut. Tidak, pemuda itu menangis.

Yoongi hendak mendekat namun sesuatu melayang ke arahnya dan untung saja berhasil dihindarinya.

"Sialan! Ini aku!"

"Jungkook, ini kami!" timpal Namjoon yang melangkah cepat ke arah Jungkook namun mendapat perlakuan yang sama. Sesuatu terlempar ke arahnya.

"PERGI! JANGAN MENDEKAT!"

"Oi, Jeon Jungkook! Ini kami! Min Yoongi dan Kim Namjoon!"

"PE-RGI! JANGAN!"

Suara itu bergetar, jelas sekali tersirat ketakutan yang luar biasa. Namjoon segera menghentikan Yoongi yang hendak kembali mendekat.

"Tahan dulu! Dia ketakutan."

"Tumben sekali?!" cibir Yoongi namun tetap mengikuti perintah Namjoon. "Lalu kita harus menunggu sampai kapan? Sampai mereka datang dan memukuli kita?"

"Tunggu sebentar, Min Yoongi!" geram Namjoon.

Yoongi menghela nafas, tak ingin tersulut emosi lebih lanjut. "Lebih baik kau keluar saja, selamatkan Seokjin! Keadaannya sangat memperihatinkan."

Seolah baru teringat, Namjoon segera berlari keluar ruangan dan nyaris bertabrakan dengan Jimin yang baru saja akan masuk.

"JUNGKOOK?! Dimana Jungkook?"

Yoongi tak langsung menjawab dan malah menatap ke arah yang sedari tadi menjadi sudut pandang favoritnya. "Dia melempari kami dengan sesuatu dan berteriak jangan mendekat."

Yakin, Yoongi dapat melihat manik khawatir di wajah Jimin. Pemuda itu mengusak surainya lalu berulang kali menggigit bibirnya seraya mengamati ruangan sekitarnya. Pelan, bibirnya mengumpati berbagai ungkapan kasar.

"Kenapa? Sesuatu terjadi?"

Jimin gusar, sangat. "Jungkook phobia ruang gelap dan sendirian."

"Hah? Lalu? Bagaimana?"

Jimin menghela nafas lalu berusaha menenangkan diri. Satu-satunya cara adalah melakukan hal yang sama seperti yang dulu dia lakukan saat Jungkook mengalami hal yang sama.

"Jungkook, ini aku, Jimin, Park Jimin. Hei, kau dengar aku?"

"Jimin?!" cicit Jungkook dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Iya, Jimin. Jimin, sahabatmu. Aku mendekat ya?"

"Ji-min?"

"Hati-hati!" bisik Yoongi seraya mengamati Jimin yang mendekat secara perlahan. Cukup lama dia terdiam di posisi yang sama namun pikirannya sedang tertuju keluar, soal keadaan teman-temannya.

"Yoon, kau bisa pergi! Biar aku yang menenangkan Jungkook!" ucap Jimin yang tampaknya sudah berhasil mendekati sahabatnya. "Aku tidak bisa membantu mereka karena terlalu memikirkan Jungkook."

Yoongi tak menjawab dan malah membawa tubuhnya pergi, berlari keluar ruangan dan disambut oleh pemandangan yang sedikit mengejutkan. Hampir setengah dari mereka terkapar dengan lumuran darah, sisanya terkapar karena perkelahian.

"Apa-apaan ini?!" gumamnya dengan nada tak percaya.

"Ssaem!" suara Taeyong menyadarkan Yoongi dari lamunan, terlihat remaja itu terpincang mendekati Jungshin yang tampak terduduk karena kelelahan. "Apa mereka tidak mati?"

"Entahlah," balas Jungshin lalu melirik ke sekitarnya, "dimana Hyera?"

Yoongi juga tersadar. Dia tidak mendapati keberadaan Hyera. Gadis itu hilang dari sana. Hanya ada Jungshin dan Taeyong, Namjoon yang sudah membawa Seokjin menepi, lalu Joonhyuk yang sudah berjalan ke arah tangga dan mulai menaiki tangga itu.

"Kalian tunggu disini! Bala bantuan sudah tiba dan mengepung wilayah ini."

Namun bukan Yoongi namanya jika hanya berdiam diri. Dia ikut bergeming dari posisinya, berlari menyusul Joonhyuk.

Sesaat sesudah keduanya menghilang, belasan polisi masuk. Di antara mereka, ada Chanyeol yang langsung mendekati Namjoon dan Seokjin. Sedangkan polisi, mulai menyebar, mencari sisa-sisa yang masih dapat ditemukan.


Kembali ke lantai dua, Taehyung menyudahi kegiatan menembaknya. Dia tidak tahu jika ada orang lain di belakangnya. Seseorang yang sedang berniat jahat kepadanya.

Setelah memasukkan kembali Hyukie ke dalam tasnya, Taehyung segera beranjak dari posisinya. Namun baru saja akan berbalik, terdengar suara tembakan bersamaan dengan timah panas yang mengenai permukaan kaki kirinya dan membuat tubuh itu jatuh berlutut. Kepalanya mendongak dan mendapati seorang pria asing tengah tertawa sambil mengacungkan pistol ke arahnya.

Jo Insung mendekat, dengan jari yang setia menarik pelatuk pistolnya kapan saja. Dia menyeringai, tidak peduli jika Taehyung sedang meringis.

"Kim Taehyung, keponakanku."

Taehyung mengernyit heran namun tetap meringis. Dia menjatuhkan tas Hyukie dan sibuk menghentikan pendarahan di kakinya.

"Siapa kau?"

"Oh, kau tidak mengenaliku? Pamanmu sendiri? Ayahmu benar-benar pria yang jahat."

"Apa maksudmu?" balas Taehyung yang masih tidak mengerti apa maksud pria itu.

"Jo Insung, ayah kandung Kim Seokjin."

Saat itu pula Taehyung dapat merasakan ketakutan yang sebelumnya dirasakan Seokjin. Dia tidak tahu kenapa tapi pria di depannya ini benar-benar berbahaya. Pria di depannya ini sangat menakutkan, entah atas dasar apa.

"Lalu, apa maumu?"

"Anggap saja sebagai ucapan selamat datang karena sudah menjadi bagian dari keluarga besarku, bagaimana? Baguskan?" ucap Insung yang sudah menurunkan pistolnya. "Untuk ukuran pemula, aku patut mengakui cara menembakmu. Walaupun melumpuhkan tapi tetap saja ada yang mati di bawah sana. Kau diperintahkan untuk melumpuhkan, bukan? Bukannya membunuh."

Taehyung tidak terlalu terkejut karena ya, memang mustahil rasanya hanya melumpuhkan seseorang sedangkan orang itu berusaha menembak temanmu sendiri. Tidak sekali atau dua kali, tapi beberapa kali Taehyung melanggar amanat Joonhyuk dan pria bernama Minhyuk. Lagipula dia siap menerima resikonya, setidaknya kedua guru dan teman-temannya selamat.

"Lalu, memangnya apa yang salah dengan membunuh? Aku bahkan belum membunuh ratusan orang, atau mungkin ribuan orang sepertimu?!"

Ayolah, Taehyung memang tidak tahu bagaimana rupa ayah dari seorang Kim Seokjin. Dia hanya pernah tidak sengaja mendengar jika Ayah Seokjin adalah seorang pembunuh dalam organisasi gelap. Pria berdarah dingin yang tak segan mencongkel mata targetnya jika memang bernafsu.

Insung tertawa, menggema sepanjang area lantai dua ini. Kemudian dia kembali menatap Taehyung dengan pandangan jika ia benar-benar tertarik pada pemuda itu.

"Aku suka orang sepertimu."

"Suka untuk kau siksa atau bunuh?!" balas Taehyung yang kini sudah berdiri tegak walaupun kakinya masih terasa sangat perih.

"Mari kita pikirkan sambil berbincang," ucap Insung lalu menyimpan pistolnya dan berjalan ke sisi lain, tepatnya jendela yang dilompati Minhyuk sebelumnya.

"Taehyung!"

Taehyung tersentak lalu mendapati Hyera sedang berlari ke arahnya. Gadis itu, wajahnya semakin banyak bekas luka. Namun tidak menghentikannya untuk bertingkah cerewet seperti biasa.

"Kau?! Kenapa mau-maunya disuruh Joonhyuk-ssaem? Kau tidak apa-apakan? Astaga, kakimu kenapa?"

Bukannya menjawab, Taehyung malah menarik Hyera agar berdiri di belakangnya. "Tetap di belakangku."

Saat itu juga Hyera menyadari ada orang lain di belakangnya. Jo Insung.

"Hmm, kalian berdua punya hubungan spesial? Kisah cinta memang indah ya." Insung berkomentar seraya tersenyum lembut. "Aku sudah memutuskan semuanya, mari mati bersama di tempat ini. Bagaimana?"

Baik Hyera maupun Taehyung, keduanya agak terkejut saat mendapati Insung sedang memegang sebuah remot kecil dengan tiga tombol merah di tengahnya. Pria itu berniat menekan salah satu tombol dan membuat kedua remaja itu memejamkan matanya.

"Aku belum menekannya, haha."

Saat yang sama, terdengar ledakan dari gedung sebelah, terlihat jelas dari jendela dimana Insung sebelumnya berada. Sebagian besar bangunan itu hancur. Sedangkan Taehyung merengkuh pinggang Hyera dan memeluknya karena jujur saja, ledakan itu cukup besar untuk didengar pada jarak mereka. Bahkan getarannya dapat dirasakan.

"Hanya gedung kosong sebelah jadi tidak mungkin ada yang tewas."

"Jo Insung! Berhenti!"

Seluruh perhatian langsung tertuju pada Joonhyuk yang tiba bersamaan dengan Yoongi. Joonhyuk sudah mengacungkan pistolnya ke arah Insung sedangkan sebelah tangannya menahan Yoongi agar tak segera berlari ke arah Taehyung dan Hyera.

"Jatuhkan benda itu!" perintah Joonhyuk lagi.

"Hmm, tidak akan." Insung hanya menjejalkan remot tadi ke dalam sakunya. "Dari tadi aku penasaran, kau Nam Joonhyuk si alpa dari tim khusus yang memburuku, bukan? Tapi tim kalian dimutasi karena komandan kalian yang mati saat bertugas. Aku jadi ingat senyuman menyebalkannya waktu itu. Dia memohon agar aku tidak membunuh anak buahnya. Bukankah itu mengharukan?"

Joonhyuk tidak terpancing walaupun ingatan itu cukup merusak mood-nya. Dia bahkan ingin menarik pelatuk pistolnya detik itu juga. Namun bukan tugasnya menembak saat ini.

"Tapi saat masa mutasimu berakhir," pandangan Insung beralih pada Taehyung, "kau malah membuat seorang remaja yang adalah keponakanku untuk membunuh. Bukankah itu sangat kejam?"

Insung masih tidak melepaskan remot yang ada di sakunya. Dia tersenyum. Jarinya bersiap untuk menekan tombol lainnya di dalam sana. Namun saat yang sama, sebuah peluru menembus remot itu dan nyaris mengenai tangannya. Pria itu tertawa.

"Apa itu Minhyuk?" balasnya seraya menatap ke arah jendela dimana Taehyung berada. Jauh disana, gedung sebelah, Minhyuk sedang bersiap melepaskan peluru kedua. "Lee Minhyuk yang menyelinap di rencana ini. Hebat sekali dia."

"Tapi apa kalian pikir akan berakhir sampai disini?" lanjutnya seraya menepuk tangannya sebanyak satu kali. Lima orang keluar dari pintu sebuah ruangan yang berada didekat Taehyung dan Hyera, mengacungkan rentetan senjata ke arah mereka dan dua orang lainnya sibuk memisahkan kedua remaja itu dengan mengarahkan sebuah pisau ke leher mereka.

Joonhyuk mengumpat lalu mendorong Yoongi agar tetap berdiri di belakangnya. Sedangkan dari arah tangga, beberapa polisi terlihat berjaga disana. Sebagian dari mereka menampakkan diri dan ikut mengacungkan senjata mereka ke arah lima orang itu.

Tidak ada suara, selain decitan sepatu dan gencatan senjata. Deru nafas disana kian mencekam.

"Yoongi, kau turunlah ke bawah!" perintah Joonhyuk seraya mendorong muridnya itu ke arah tangga dan mengisyaratkan kepada seorang polisi untuk membawanya turun.

"Jadi apa kesepakatan kita?" sahut Insung yang memecah keheningan lalu menatap Joonhyuk. "Aku rasa tidak ada."

Di sisi lain, Minhyuk sedang mengumpat. Dia berusaha menargetkan lima orang yang menahan Taehyung dan Hyera namun kelima orang itu bergeser ke titik buta yang sulit untuk ditentukannya. Mungkin pelurunya dapat menghancurkan dinding bangunan itu tapi tidak akan menutup resiko jika dua remaja itu akan menerima pelurunya.

"Habi~"

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Insung sedikit dikejutkan oleh kejadian dadakan dari Hyera -satu-satunya sandera perempuan itu menendang dua orang bersenjata dari belakang dan berhasil membuat pria yang menodongkan pisau di lehernya harus jatuh tersungkur. Sedangkan dirinya berhasil melepaskan diri. Belum cukup atas kejutan itu, dia mengangkat sebelah kaki Taehyung dan membuat teman sekelasnya itu ikut tersungkur, menimpa pria di belakangnya.

Taehyung mendapatkan peluang untuk mendorong salah satu pria bersenjata ke arah jendela dan memberikan kesempatan pada Minhyuk untuk menembaknya tepat di bagian perut.

Melihat kesempatan itu, Joonhyuk segera mengambil kesempatan untuk menembak dua orang yang ditendang Hyera. Kemudian beralih menatap Insung yang hanya menatap datar kejadian di depannya. Kedua tangan pria itu masih setia di saku.

"Kalian berdua adalah anak-anak favoritku." Komentar Insung sambil tersenyum tipis lalu mengeluarkan pistolnya dan remot yang tadi. "Hmm, benar-benar rusak!" lalu melempar remot tadi ke sembarang arah dan malah mengacungkan pistolnya ke arah Taehyung.

Saat yang sama, Minhyuk segera menarik pelatuk senjatanya, melumpuhkan Insung dengan tiga tembakan sekaligus. Pertama, tangan kanan. Kedua, kaki kiri. Ketiga, kaki kanan. Mutlak melumpuhkan pria itu tanpa membunuhnya.

Sedangkan dua pria dengan pisau tadi sudah diamankan polisi dan menyisakan Joonhyuk bersama dua muridnya. Insung ikut diseret untuk diamankan.

"Kalian baik-baik saja, 'kan?" tanya sang guru olahraga dan direspon oleh anggukan dari sang murid laki-laki, sedangkan murid perempuannya itu tampak jatuh terduduk sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Taehyung segera menopang tubuh itu dan agak terkejut karena baru menyadari sesuatu. Pandangannya segera beralih pada Joonhyuk yang tampak terkejut.

"Cepat bawa dia!"


Hari itu berakhir dengan sedikit lancar. Insung sudah diamankan ke penjara khusus, sedangkan Nayoung yang sempat melarikan diri berhasil dihentikan oleh Chanyeol yang dengan sengaja menabrakan mobil Taehyung pada mobil Nayoung. Mobil wanita itu masuk jurang dan untungnya tidak tewas jadi Chanyeol dapat bebas dengan syarat.

Joonhyuk dan Jungshin masih sibuk memenuhi panggilan untuk mengisi laporan selama tiga hari berturut. Ayah Hyera, Byun Seojoon dan Ayah Hoseok, Jung Haejun mengumumkan secara khusus soal perkara 12 tahun yang lalu. Dan juga, Seojoon menyatakan akan mundur dari dunia politik dan melanjutkan sisa karirnya.

Sedangkan sembilan remaja yang terlibat tampak masih mendapatkan perawatan khusus. Jimin dan Namjoon mulai menghadiri sekolah dengan sedikit pengamanan karena jujur saja masih banyak wartawan yang mencari tahu tentang mereka. Taeyong masih harus bertanggung jawab soal kegiatan meretasnya dan beberapa hal lainnya. Jungkook juga tak luput dari perawatan atas phobia yang dialaminya. Yoongi dan Taehyung masih harus memenuhi panggilan dari polisi seputar permasalahan mereka. Jika Yoongi soal kecelakaan 12 tahun yang lalu, maka Taehyung seputar penggunaan senjata api -walaupun rata-rata berisi kebohongan karena demi menjaga nama baik Joonhyuk.

Untuk ketiga lainnya, masih belum ada perkembangan. Mungkin sedikit pengecualian untuk Hoseok yang sudah sadar tadi pagi. Meninggalkan Hyera dan Seokjin yang masih menutup erat mata mereka. Soal keadaan, ketiga remaja itu -tambah Hoseok sempat mengalami masalah karena terlalu lama mendapatkan perawatan. Hyera sendiri, tidak ada yang tahu jika gadis itu memiliki luka tusukan di perut kirinya karena ditutupi oleh jaket Taehyung yang setia dikenakannya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jungkook yang baru saja kembali dari ruang perawatannya.

Hoseok tersenyum lalu menghela nafas. "Lebih baik daripada pertama kali. Bagaimana yang lain? Aku baru melihatmu hari ini."

Jungkook menarik kursi lalu duduk di samping ranjang Hoseok tanpa ragu. "Jimin dan Namjoon sedang berada sekolah tapi sepertinya mereka akan lanjut ke kantor polisi untuk membuat laporan. Yoongi dan Taehyung juga harus bolak-balik kesana sejak kemarin. Taeyong masih berurusan dengan bagian tertentu, aku tidak tahu itu apa."

"Bagaimana dengan Seokjin dan Hyera?"

"Ah," Jungkook menghela nafas lalu memejamkan matanya selama lima detik, "mereka masih belum sadar. Seokjin masih shock. Mungkin dia yang akan paling lama sadar. Soal Hyera, gadis itu mungkin akan dasar dalam seminggu ini."

Hoseok kembali menghela nafas lalu menepuk pundak Jungkook. "Bagaimana denganmu?"

"Kau bisa lihat aku," ucap Jungkook santai, "hanya butuh beberapa perawatan sebelum akhirnya bisa kembali beraktivitas lagi. Ayah dan Ibu masih tidak mau membiarkanku lepas begitu saja. Padahal dokter sudah mengatakan jika aku dapat pulang."

"Ya, mau bagaimanapun orang tuamu khawatir. Apalagi Seokjin masih belum sadar."

Jungkook menghela nafas lalu bertopang dagu pada ranjang Hoseok. "Aku yakin saat Seokjin bangun nanti, dia akan berteriak untuk mengajukan protes."

"Soal?"

Jungkook tak langsung menjawab dan malah mengangkat tiga jari sebelah kanannya. Hanya beberapa detik sebelum akhirnya pemilik mata bulat itu memejamkan matanya malu.

"Kau pasti bercanda?!" seru Hoseok yang terlihat terkejut, tidak percaya dan sejenisnya. Namun detik berikutnya dia tertawa. "Jeon Jungkook harus sabar ya!"


END

Waiting for epilogue...00%