Di tempat lain, seseorang yang mereka bicarakan sibuk merangkum materi biologi dari buku tebal di hadapannya. Bagi Hyungu, siswa rangking 2 pararel di sekolah, nama-nama latin yang tercatat rapi di buku tulisnya tidak memusingkan ia sama sekali.

Terdengar derit pintu rumah terbuka, diiringi suara wanita paruh baya. Menginterupsi kegiatan Hyungu. "Mama pulang."

Hyungu melangkah keluar dari kamar, menyambut satu-satunya cahaya di hidupnya. "Malam mama."

"Sedang belajar ya, Hyungu sudah makan?" Tanya sang ibu.

Hyungu menggeleng perlahan sebagai jawaban.

Sang ibu menaruh kantong plastik ke atas meja makan. "Lapar? Mama membawa makanan, ayo makan sama-sama. Sebentar mama akan siapkan setelah mama ganti baju."

"Tidak apa, mama ganti baju saja, biar Hyungu yang siapkan. Mama mau teh?"

"Boleh, makasih ya."

Hyungu segera menyiapkan meja makan, sembari menunggu air panas untuk teh. Tak perlu waktu lama untuk menyiapkan meja, begitu pula dengan sang ibu yang telah berganti baju.

Memang tak banyak kegiatan Hyungu di rumah, hanya membaca buku, belajar, istirahat, dan makan malam bersama ibu juga sebagai salah satunya.

Sang ibu membuka percakapan, setengah isi di piringnya sudah habis. "Hyungu minggu depan akan ujian tengah semester, benar?"

Anak satu-satunya itu mengalihkan pandangan dari piringnya, menuju ibunya. "Iya, benar."

"Mama tahu Hyungu pasti mendapat nilai yang bagus. Tidak akan mengecewakan mama kan?"

Hyungu tersenyum kecil. "Iya mama. Ah ya, boleh Hyungu meminta sesuatu?"

"Tentu saja, sayang. Apa itu?"

"Uhm, jika Hyungu mendapat nilai bagus, boleh Hyungu libur les di hari jumat? Satu hari saja." Pinta Hyungu dengan pelan, mengantisipasi jawaban dari sang ibu.

Hyungu menangkap sekilas perubahan emosi pada wajah ibunya, membuat harapnya pupus seketika.

Hening terasa sejenak, sebelum Hyungu mendapat jawaban yang ia inginkan, "..Boleh, tapi hanya satu hari saja ya."

Ucapan sang ibu membuatnya membulatkan mata lucu, tidak dapat menyembunyikan terkejutnya. "Terimakasih, mama!"

"Bagaimana hari ini? Kau terlihat senang."

Hyungu melihat ibunya tersenyum, kemudian mengembangkan senyuman di bibirnya juga. "Ah, mama, apa Hyungu mirip dengan pinguin? Apakah itu pujian?"

Sang ibu tertawa. "Siapa yang bilang seperti itu? Dan ya itu sebuah pujian jika ia mengatakannya dengan baik."

"Seorang teman, ia memberi stiker pinguin dan mengatakan Hyungu mirip dengan mereka."

"Harin?" Sang ibu mencoba menerka, menyebut nama teman dekat dari anaknya.

Hyungu menggeleng. "Bukan, teman baru."

"Ada teman baru di tempat les?"

"Bu– benar teman baru di les." Nafas Hyungu hampir tercekat, hampir membuat dirinya berada dalam masalah.

"Oh ya? Siapa namanya?" Tanya sang ibu, menunjukkan ketertarikan.

"Namanya Yong–"

Kalimat Hyungu terjeda oleh dering telepon milik ibunya.

"Sebentar ya, sayang. Atau Hyungu bisa lanjutkan belajar atau istirahat jika sudah selesai makan."

"Ya, mama."

Hyungu memandangi ibunya yang sibuk berbicara di telepon. Menghela napas lega, walaupun tadi ia harus berbohong tentang teman baru di tempat les.

Hyungu memiliki alasan tentang tak bisa memberi tahu bahwa ia suka pergi ke taman, melihat penampilan musik seseorang.

Ibunya tak pernah suka musik, tidak, lebih tepatnya tak suka sesuatu selain akademik. Bahkan meskipun Hyungu selalu memiliki nilai bagus dalam pelajaran olahraga, itu bukanlah hal penting bagi sang ibu.

Sejak kecil kalimat ibunya terus beputar bagai kaset rusak. Setiap kata tertanam jelas pada memori.

"Belajar itu hal yang paling penting. Jangan membuang waktu melakukan hal yang lain."

"Wah, seandainya Hyungu bisa mendapat nilai matematika sebagus nilai olahraga, pasti mama akan senang sekali."

"Tidak. Hyungu tidak boleh ikut ekstrakurikuler musik. Mama kan sudah bilang jangan melakukan hal yang tidak berguna."

"Mama ingin Hyungu ikut ekstrakurikuler sains, seperti mama dulu."

"Hyungu tidak ingin mama sedih karena nilai ujian Hyungu, kan?"

"Benar, hanya belajar yang bisa membuat kita bertahan dari kehidupan, Hyungu harus pintar, agar tidak diinjak orang lain, mengerti?"

Bagi ibunya, Hyungu adalah satu-satunya cahaya di hidupnya, begitu pula arti ibunya untuk Hyungu.

Hyungu tahu ibunya sangat mengkhawatirkannya, dan Hyungu tak ingin membuat ibunya sedih. Ia tak punya pilihan lain, bebannya akan terasa lebih berat saat melihat ibunya menangis.

Mengingat kembali ingatan lama, ketika Hyungu kecil menemukan ibunya tersedu di ruang tamu, tangisan itu menyatu dengan keheningan malam. Tubuh Hyungu kecil bergetar, ketakutan, hati kecilnya sakit. Tangan mungilnya menggapai sang ibu, cahaya hidupnya yang seolah sedang meredup. Hyungu mendapati dunianya kosong dan menggelap kala sang ibu merengkuh dirinya.

Kegelapan yang tak ingin dilihatnya lagi membuat Hyungu tumbuh dengan mengorbankan hidupannya. Demi ibunya. Demi kebahagiannya. Demi menjaga cahaya hidupnya.

Hyungu hidup untuk ibunya. Ia kan bahagia jika ibunya bahagia.

Setidaknya itu yang ia pikirkan.


nulis sambil dengerin soundcloud enak bgt ;-; dan sebenernya aku ga ngerti ini aku nulis apa.. soalnya kayak ga jelas kalau dibaca lama lama ya ga si ;-;