Fanfiction ini saya buat spesial dalam rangka hari ulang tahun Baekhyun Oppa.
So, Happy Reading
Title: HACKER
Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Aku berkali-kali menyesap rokokku dan menghembuskan asapnya dengan keras. Aku tidak suka menunggu bahkan untuk waktu yang sebentar, tapi orang itu berani membuatku menunggu. Jujur aku kesal sekali. Jika saja orang itu bukan klien, aku pasti lebih memilih pergi dan tidur di rumah. Daripada berada di taman yang penuh dengan sejoli yang mojok untuk bermesraan. Apa mereka tidak bisa menyewa hotel atau semacamnya untuk bercumbu. Mengapa harus ditempat seperti ini. Dasar sampah masyarakat. Cihhh.
Ting
Sebuah pesan yang telah lama aku tunggu akhirnya datang juga. Apa terlalu berlebihan jika aku mengatakan lama padahal aku baru menunggu selama 15 menit? Sudahlah, itu tidak penting. Bukankah sudah kukatakan aku tidak suka menunggu.
'Aku sudah sampai. Kau dimana?'
Aku membaca pesan yang masuk pada ponselku yang jadul sekali. Aku sendiri juga tertawa, bagaimana bisa aku yang fashionable ini menggunakan ponsel tahun 2000an. Tapi dibanding smartphone, ponsel ini lebih aman dari peretasan dan hanya kugunakan untuk transaksi dengan kartu prabayar sekali pakai yang tidak pernah aku daftarkan secara resmi.
Kumatikan rokokku dengan menginjaknya sembarangan. Kukenakan tudung hoddie hitamku untuk menutupi sebagian wajahku. Aku pun membenarkan posisi tas ranselku dan melangkah pergi.
Aku melihat tempat yang bagus untuk transaksi. Sebuah bak sampah kosong. Masih bersih, sepertinya baru saja dibersihkan oleh petugas. Dengan cepat aku melemparkan sesuatu yang terbungkus plastik dengan rapi ke dalam bak sampah itu tanpa menoleh sedikit pun. Sebisa mungkin aku ingin terlihat seperti seseorang yang sedang membuang sampah dengan serampangan. Sambil berjalan menjau dari bak sampah itu, aku mengirim sebuah pesan balasan untuk klienku.
'Kirimkan uangnya lebih dulu.'
Aku menunggu, tapi tak juga ada balasan. Aku pun terus berjalan keluar dari taman dan segala isinya yang membuatku muak. Tapi tak berapa lama aku menerima sebuah pemberitahuan di smartphoneku. Ya, aku memang menggunakan dua ponsel, ponsel jadul untuk transaksi dengan klien dan smartphone untuk berhubungan dengan orang-orang di sekitar. Ponsel ini wewakili dua sisi diriku yang berbeda.
Aku segera membukanya. Dari M-Banking. Memberitahukan bahwa uang sebesar lima juta rupiah telah ditransfer ke rekeningku. Bukan, sebenarnya rekening ini bukan atas namaku. Aku memakai identitas orang lain saat membuatnya dulu.
Tak berapa lama aku sudah berada di depan mesin ATM. Aku memasukkan kartu ATMku dan mengetikkan sebuah pasword. Lalu aku memilih jumlah penarikan sebesar 2.500.000. Aku melakukan hal itu sebanyak dua kali untuk mengambil semua uangku. Aku memang tak suka menyimpan uang di bank, bagiku uang tunai lebih memudahkan untuk bertransaksi karena aman dari pelacakan. Dan terakhir aku tidak lupa mengganti pasword ATMku.
Setelah cukup jauh dari ATM dan berada di tempat yang cukup sepi. Aku dengan cepat membuka penutup ponsel jadulku dan melepaskan kartu USIMnya. Kartu itu kubuang begitu saja karena sudah tak lagi berguna. Lalu aku melepas hoddieku dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Menyisakan kaos berwarna merah maroon dan celana jins biru yang terpakai rapi di tubuhku.
Setelah kukenakan lagi tas ranselku, aku pun melangkah pergi. Berbaur dengan orang-orang yang sedang menunggu busway. Sekarang aku terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Tapi jangan lupakan bahwa aku lebih tampan daripada mereka. Rambutku yang kuwarnai coklat, kulitku yang putih bersih, dan mata bulan sabitku adalah pesona yang kumiliki. Tak hanya itu saja, pakaian dan semua yang kukenakan merupakan milik brand ternama dan hal itu sangat membuatku bangga. Semua di diriku sempurna jika saja tubuhku lebih tinggi dari ini. Aku kurang puas hanya dengan 174cm, tapi aku bisa apa jika sejak SMA tubuhku berhenti tumbuh.
Aku tidak berbohong tentang statusku yang seorang mahasiswa. Di usia 25 tahun ini, aku memang masih menyandang status mahasiswa di jurusan IT sebuah universitas swasta di kotaku. Seharusnya di usiaku aku sudah mendapatkan gelar S1. Tapi aku sengaja menunda kelulusanku selama yang aku bisa. Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimanaa jika orang-orang bertanya tentang pekerjaanku. Jadi kupikir jawaban aku adalah seorang mahasiswa merupakan yang terbaik.
Aku memutar gagang kunci untuk mengunci pintu apartemenku. Aku juga turut mengunci satu gembok tambahan yang kupasang di pintu bagian dalam untuk memastikan tak ada seorang pun bisa masuk. Setelah memastikan semuanya aman aku pun melemparkan tas ranselku ke sofa lalu merebahkan tubuhku di kasur.
Apartemen ini milikku dan kugunakan sendiri. Aku membelinya satu tahun lalu dari uang hasil kerja kerasku. Tidak luas memang. Hanya satu ruangan tanpa sekat yang kugunakan untuk semua keperluan, tidur, masak, makan, nonton tv dan kerja. Dilengkapi dengan kamar mandi yang cukup bersih. Dan yang paling penting aku memasang jaringan internet dengan kecepatan tinggi di sini.
Aku baru saja akan memasuki alam mimpi saat terdengar beberapa kali pemberitahuan email masuk dari komputer di samping kasurku. Aku mencoba mengabaikannya tapi suara itu tak juga berhenti. Jadi aku terpaksa bangun dan melangkah menuju komputerku yang tidak pernah kumatikan selama 24 penuh setiap harinya.
Aku duduk pada kursi nyaman di depan komputerku. Ini adalah tempat kerjaku. Tiga buah monitor layar datar berukuran 40 inci. Sebuah keyboard dan mouse. Juga beberapa instalasi rumit yang hanya seseorang sepertiku yang mengerti fungsinya.
Aku menggerak-gerakan mouse untuk memasang mode mute pada komputer agar tidak berisik. Lalu memeriksa semua email masuk pada akun emailku yang bernickname BACON.
'Berapa yang harus kubayar untuk sebuah ponsel duplikat?'
'Apa kau bisa melakukan pelacakan lokasi jika kuberitahu nomor ponsel seseorang?'
'Berikan padaku akun media sosial seseorang yang kuinginkan.'
Aishhh. Aku membanting mouse ditanganku. Kesal. Kenapa hanya pekerjaan semacam ini yang kudapatkan akhir-akhir ini. Mengapa aku harus membantu seorang penguntit. Mengapa aku harus membantu istri-istri yang suaminya selingkuh padahal mereka sendiri hanya bisa menghabiskan uang suami.
Aku memang kesal. Tapi dari sanalah aku menghasilkan uang. Dari pekerjaan ringan yang cukup aman dari jerat hukum. Seperti barusan, aku menjual sebuah ponsel duplikat dengan harga 5 juta rupiah. Tapi mengapa lama-lama aku menjadi bosan. Aku bukan serakah akan uang. Aku hanya merasakan kemampuanku sebagai hacker handal tersia-siakan jika hanya melakukan pekerjaan remeh seperti ini. Aku butuh pekerjaan yang lebih besar untuk memastikan eksistensiku di dunia cyber.
Ya, aku memang seorang peretas atau bahasa kerennya hacker. Menelusup pada privasi seseorang adalah pekerjaanku. Hanya dengan cara itu aku juga bisa melakukan banyak hal yang menurut orang-orang adalah kejahatan.
Aku cukup terkenal diantara orang-orang sepertiku meski aku bukan yang terbaik. Mereka menyebutku Bacon sesuai dengan nickname yang kugunakan. Aku memang sebisa mungkin menyembunyikan identitasku sebagai hacker dari orang-orang di sekitarku. Bahkan hacker-hacker lain pun tidak tahu identitasku yang sebenarnya. Dalam menggeluti dunia seperti ini, bagiku kerahasiaan adalah hal yang sangat penting.
Aku menerima beberapa pekerjaan dari klien untuk menghasilkan uang. Mulai dari pekerjaan kecil seperti pelacakan lokasi, peretasan akun media sosial, penyadapan, pembuatan ponsel duplikat, sampai pembuatan website palsu. Semua bukan untuk diriku sendiri, aku hanya dibayar oleh klien yang memperkerjakanku untuk melakukannya.
Pekerjaan terbesar yang pernah kulakukan adalah melakukan serangan Ddos pada sebuah perusahaan swasta satu tahun lalu. Dengan ribuan pc zombie yang kumiliki, aku berhasil membuat sistem perusahaan itu lumpuh dalam beberapa menit. Aku mendapatkan uang yang cukup dari klien untuk pekerjaan itu, hingga aku membeli apartemen dan juga perlengkapan kerjaku ini. Selain itu namaku juga mulai dikenal di kalangan hacker lainnya. Tapi sialnya itu polisi cyber pun mencurigai perbuatanku. Meski aku berhasil lolos saat itu, aku tak lagi mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya lagi. Dan hingga kini aku hanya melakukan pekerjaan yang menurutku aman.
Pekerjaan besar semacam Ddos hanya bisa dilakukan sebuah tim. Tapi aku melakukannya sendiri, jadi karena itulah hacker-hacker lain mulai mengakui eksistensiku di dunia cyber. Aku bangga sekali karenanya.
Aku memang selalu sendiri, karena aku tidak mempercayai orang lain. Entah sejak kapan aku memiliki kecenderungan meretas semua orang di sekitarku untuk bisa mengenal mereka lebih baik. Aku meretas mulai dari smartphone, komputer, dan akun media sosial mereka. Tapi dari sanalah awal dari ketidakpercayaanku pada orang lain. Seorang mahasiswi cantik dan paling pandai di angkatanku merupakan pelacur di bar. Beberapa mahasiswa di kampusku juga pecandu narkoba. Dosenku bahkan diam-diam menikmati tubuh mahasiswinya yang ingin lulus ujian dengan mudah. Semua orang ternyata hanya berpura-pura baik. Meski aku juga mengenakan topeng, tetap saja aku tidak bisa bergaul dengan orang-orang seperti itu.
Aku memutuskan untuk mengabaikan pesan-pesan itu. Saat ini aku masih memiliki cukup uang. Dan sebenarnya aku juga tidak tertarik dengan pekerjaan semacam itu. Aku pun memilih bangkit, membuka kulkas dan mengambil satu botol soju. Aku membuka tutupnya dan langsung meminum dari botol. Bagiku ini lebih baik dari menuangkan di gelas dan minum sedikit demi sedikit. Aku berharap setelah aku mabuk, aku bisa tertidur tanpa merasakan gangguan.
Tiba-tiba saja aku mendengar pintu apartemenku di gedor-gedor dari luar. Aku pun langsung memeriksa layar komputerku yang terhubung dengan kamera tersembunyi yang kupasang di depan pintu apartemenku untuk berjaga-jaga. Seseorang pria berambut ikal hitam, dengan postur tubuh tinggi dan tegap muncul di layar komputerku. Wajah tampannya tampak cemas dan tangannya memerah. Apa itu bekas darah? Aku mengerutkan keningku dan hanya memperhatikannya dengan seksama tanpa berniat membukakan pintu.
Saat kuperhatikan lebih dalam, wajah cemasnya, mengingatkanku pada diriku 15 tahun lalu. Bagaimana aku merasakan ketakutan saat berlari dari ayahku yang memukuliku. Bagaimana aku berada di depan pintu panti asuhan dan memohon untuk diizinkan tinggal disana. Bagaimana takut dan khawatirnya aku saat itu. Kurasa tampangku persis seperti itu dulu.
Tapi pria itu terus-menerus menggedor pintu apartemenku. Membuatku jengah juga. Akhirnya aku menarik sebuah tirai dari langit-langit untuk menutupi semua perlengkapan kerjaku. Tirai ini jika diperhatikan sekilas akan terlihat seperti dinding. Tapi jika disentuh, ini hanyalah sebuah karton tipis yang sengaja aku desain menyerupai dinding.
Aku meletakkan botol sojuku ke meja makan dan berjalan ke arah pintu lalu membuka gembok serta kunci pintu apartemenku. Aku membuka sedikit pintunya hanya untuk mengeluarkan kepalaku.
"Ada apa?"
Aku bertanya pada pria itu. Tapi tanpa kuduga, pria itu malah menahan pintu dan membukanya lebih lebar lalu masuk setelah mendorong tubuhku yang lebih kecil darinya. Aku tidak bisa melawan karena tenaganya cukup kuat. Setelah kami berdua di dalam dia segera mengunci pintu dan gemboknya. Dia lalu melangkah masuk.
"Biarkan aku bersembunyi disini."
Aku hanya bisa mengerutkan keningku melihat seseorang asing di apartemenku. Padahal sebelumnya aku tak pernah membiarkan orang lain masuk apartemenku. Dialah orang pertama yang dengan beraninya menerobos masuk apartemenku dan mengatakan akan bersembunyi disini.
"Memangnya siapa yang mengejarmu?"
Aku tersenyum menyeringai sambil meraih kotak rokok di depan sofa. Aku mengambilnya satu batang kemudian menyalakannya. Lalu aku pun duduk di sofa dengan menyilangkan kaki. Dengan memasang tingkah mengintimidasi seperti ini, aku berharap dia tak akan berani macam-macam padaku.
"Mungkin polisi. Sepertinya aku baru saja membunuh seseorang."
"Brengsek."
Aku terkejut setelah mendengar ucapan pria itu. Aku langsung mematikan rokokku yang baru kusesap satu kali itu dengan menekannya pada asbak. Aku melangkah menuju jendela dan membukanya tirainya sedikit untuk mengintip. Aku memang jarang membuka jendela apartemenku yang berada di lantai 3. Aku tidak suka jika aktifitasku terlihat dari luar.
"Ah sial. Polisi."
Aku berbalik setelah melihat beberapa mobil patroli polisi di luar. Kemudian menatap pria itu dengan tatapan tajam. Betapa marahnya aku karena pria itu berani melibatkanku pada kasus pembunuhan.
"Kau pembunuh?"
"Tidak, bukan seperti itu. Aku sendiri sebenarnya juga tidak yakin."
"KELUAR BRENGSEK!"
Aku berteriak keras sambil menunjuk ke arah pintu. Berharap orang ini keluar dari apartemenku. Aku malas berurusan dengan polisi, apalagi ikut campur dalam kasus pembunuhan. Tapi tanpa kuduga pria ini meraih tanganku dengan wajah memelas.
"Kumohon tolonglah."
Wajah itu kembali membuatku bersimpati. Aku mengerti perasaan ketika tidak seorang pun mau membantu walau mereka tahu kita sedang dalam kesusahan. Aku tahu perasaan ketika kita sudah mengatakan kebenaran tapi siapa pun tidak mempercayainya. Aku ingin mengutuk diriku sendiri karena mempercayainya dan berniat menolongnya.
Aku pun melangkah dengn terburu-buru dan menaikkan tirai yang menutupi komputer milikku. Aku langsung duduk di kursi depan komputerku. Tangan terampilku langsung kugerak-gerakkan di atas keyboard. Mengetikkan sesuatu pada bar Command Prompt dan setelahnya beberapa kode-kode pemrongraman muncul dengan cepat. Untung saja aku pernah meretas server cctv milik gedung apartemenku beberapa saat yang lalu jadi aku bisa langsung mengaksesnya saat ini. Setelah aku mengklik enter, layar monitor di sebelah kananku menampilkan rekaman cctv di sekitar apartemenku.
Lalu aku mengetikkan beberapa kode lagi dan mendapatkan akses untuk menghapus rekaman cctv itu. Dengan sekali enter pada perintah yes, rekaman cctv pada monitor di kananku berubah menjadi warna biru.
"Apa yang kau lakukan barusan? Bukankah tadi itu cctv?"
Aku memutar kursi kebesaranku menghadap pria itu dan menatapnya dengan senyuman angkuh. Kulihat dia hanya berdiri menatapku dengan wajah heran.
"Aku baru saja menghapus jejakmu masuk ke apartemenku. Aku memastikan diri aku tidak terlibat."
"Tapi bukankah dengan menghapusnya kau malah terlibat lebih dalam?"
"BRENGSEK. AKU BARU SAJA MENYELAMATKANMU."
Aku berteriak keras pada pria yang tak tahu terimakasih ini. Aku menyembunyikannya di apartemenku tapi kata-katanya barusan terdengar seperti merendahkan.
"Oke. Aku minta maaf. Terimakasih sudah percaya padaku."
"Aku tidak percaya padamu. Kau masih seorang pembunuh bagiku."
"Kau tidak takut padaku?"
"Tidak. Aku tidak peduli bahkan jika kau membunuhku sekarang."
Aku tersenyum kecut. Bukannya aku tidak takut mati. Hanya saja bagiku mati itu sebuah takdir. Jika saatnya dia datang padamu, lari ke ujung dunia pun tidak ada gunanya. Tapi jika dia memang belum waktunya datang, mencarinya ke dalam lautan pun tak akan kau temukan. Seperti itulah prinsipku. Hanya menjalani hidup sebagaimana seharusnya.
"Wah. Kau berani sekali. Siapa namamu? Melihat kemampuanmu tadi sepertinya kau bukan orang biasa."
Ahh. Aku terkejut. Apa yang kulakukan barusan. Bisa-bisanya aku menunjukkan diriku yang sesungguhnya pada orang yang tidak kukenal. Ini tidak seperti diriku. Tapi entah sihir apa yang dimiliki pria ini hingga aku bisa membuka diri padanya. Aku rasa aku tidak bisa berbohong padanya.
"Aku seorang hacker."
"Wah. Aku baru tahu bahwa hacker itu nyata. Kukira hanya ada di dalam drama."
Aku melihat ekspresi kagum dari pria itu. Dan tak bisa dipungkiri aku merasa bangga. Selama ini belum ada orang yang secara langsung memujiku karena aku menyembunyikan identitasku sebagai hacker. Para hacker lain pun hanya mengenalku sebagai Bacon.
Pria itu mendekat ke arahku. Bukan, tepatnya ke arah kumputerku. Sepertinya dia menyentuhnya. Aku pun dengan sigap memukul tangan itu dengan keras.
"Jangan coba-coba menyentuhnya. Atau aku akan membunuhmu."
Kulihat pria itu sedikit ketakutan dengan ancamanku dan menjauh. Baguslah. Aku memang tidak suka jika orang lain menyentuh komputerku, lebih tepatnya pekerjaanku. Aku pun berbalik dan mengaktifkan program keamanan pada komputerku. Jika seseorang memasukkan sandi yang salah, program itu akan menghapus seluruh data di dalamnya secara otomatis. Aku selalu melakukannya untuk berjaga-jaga jika ada seseorang ingin mencuri semua pekerjaan milikku atau ada polisi yang mencoba menangkapku.
"Maaf. Tapi kau belum menjawabku? Siapa namamu? Aku Park Chanyeol."
"Byun Baekhyun."
Lagi-lagi aku terkejut dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menyebutkan nama asliku pada orang lain. Apalagi dia tahu aku seorang hacker. Bagaimana jika dia melaporkanku ke polisi? Ah tidak. Dia sendiri tersangka pembunuhan. Dia tidak akan melaporkanku. Aku yakin hal itu.
Aku pun bangkit dari kursi dan menuju lemari pakaian, mencoba mencari sesuatu yang pas untuknya. Baju-bajuku pasti tak akan muat mengingat tubuh bongsornya yang menjulang tinggi. Untung saja aku memiliki sepasang baju kebesaran yang kubeli beberapa waktu yang lalu. Aku pun melempar baju itu ke wajahnya.
"Mandi sana. Kau kotor sekali. Aku mau tidur dulu."
Aku pun berjaan ke kasur, segera merebahkan diri dan memejamkan mata. Aku benar-benar lelah. Harus mendengarkan dosen berceramah tentang hal-hal yang sangat tidak penting. Membuat ponsel duplikat dan bertransaksi dengan klien. Lalu sekarang harus berususan dengan pembunuh. Sambil memejamkan mata, aku memperingatkan orang yang bernama Chanyeol itu sekali lagi.
"Jangan pernah sentuh komputerku!"
Tidak berapa lama setelah aku mengatakannya. Aku tidak merasakan apa pun lagi. Alam mimpi telah membawaku jauh.
Sepertinya malam suda larut, saat aku terbangun karena merasakan tubuhku lengket. Aku pun menyadari bahwa aku masih memakai pakaian yang sama sejak pagi. Aku juga baru ingat bahwa aku belum mandi setelah pulang tadi. Aku menguap dan meregangkan kedua tanganku. Tiba-tiba saja hidungku mencium bau masakan. Aku pun segera menoleh ke arah dapur.
Siapa yang memasak di apartemenku? Ahhh, sesaat aku lupa bahwa aku telah memasukkan orang asing ke apartemenku. Dan sekarang dia sedang memasak di dapur milikku. Aku tidak terbiasa dengan hal ini karena aku sudah hidup sendirian sejak lulus SMA dan memutuskan pergi dari panti asuhan.
"Ah kau sudah bangun? Maaf, aku lapar. Jadi aku memasak. Cukup banyak kok untuk kita berdua."
Aku malas menjawab kata-kata basa-basi itu. Aku bangun dan melangkahkan kakiku dengan berat. Mengambil handuk di gantungan dan masuk ke kamar mandi. Aku mengguyur tubuhku dengan air dingin. Meski ini sudah larut malam, aku tidak peduli. Kubiarkan saja rasa dingin yang menyegarkan ini mengaliri pori-pori kulitku. Berharap semua rasa lelahku menghilang bersamanya dan tubuhku menjadi segar kembali.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan acara mandiku. Aku pun segera keluar dan menggantung handuk basah di tempat cucian kotor. Lalu aku mendudukkan diriku dengan nyaman di sofa lalu menyalakan tv yang cukup besar di depanku. Aku menekan-nekan tombol remote tv dengan kesal karena tidak juga ada acara yang menurutku bagus. Membuatku malas menonton tv.
"Kau tidak mau makan?"
Aku menoleh ke asal suara dari meja makan di belakangku. Aku benar-benar belum terbiasa dengan ini.
"Aku tidak biasa makan dengan orang lain."
Jawabku seadanya lalu kembali fokus untuk mencari channel yang menunjukkan acara tv yang bisa kutonton. Saat tiba-tiba saja Chanyeol meletakkan dua piring nasi goreng di depanku lengkap dengan telur mata sapi.
"Aku tidak biasa makan sendirian."
Aku mengabaikannya. Meski sesekali aku meliriknya dan kulihat dia menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Tanpa kusadari perasaan hangat itu muncul entah dari mana. Apakah hatiku yang kukira dingin mulai mencair? Selama ini aku sadar aku hanya seorang diri. Bukan karena orang lain menjauh dariku. Tapi aku yang sengaja mengisolasi diriku dari orang-orang di sekitarku. Karena merasa mereka tidak layak untukku. Apakah ini tanda bahwa selama ini aku kesepian?
Aku masih melamun saat tiba-tiba saja fokusku teralihkan saat mendengar sebuah berita di tv.
'Insiden pembunuhan telah terjadi dini hari tadi di sebuah supermaket. Seorang pekerja paruh waktu tewas tertikam. Polisi sedang melacak keberadaan tersangka utama yang terekam kamera cctv sedang meninggalkan tempat kejadian kemudian menghilang. Namun sayang, wajah dari tersangka tidak terlihat dengan jelas. Polisi kesulitan menemukannya setelah tiba-tiba server dari cctv yang berada di daerah itu mengalami gangguan yang menghilangkan semua rekamannya.'
Aku mengacak-acak rambutku dengan kasar mendengar berita itu. Apa aku berurusan dengan orang yang salah? Bagaimana jika memang dia seorang pembunuh? Bagaimana bisa aku mempercayainya dan malah mengungkapkan identitasku padanya? Aku tidak pernah seceroboh ini sebelumnya.
"Maaf. Aku telah melibatkanmu dalam masalah."
Chanyeol melihatku dengan tatapan bersalah. Kulihat mata dengan manik hitam legam itu menunjukkan kilat frustasi. Suaranya bassnya terasa bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Lagi-lagi aku tidak tega padanya.
"Tidurlah. Aku akan memikirkannya besok."
"Kau mau membantuku?"
Aku hanya menjawabnya dengan menunjukkan seringai menakutkan milikku. Aku beranjak dari sofa dan menuju meja komputer. Kurapikan beberapa usb dan sebuah pc tablet super tipis lalu kumasukkan ke dalam tas ransel. Aku mengenakan hoddie hitamku lalu memakai tas itu.
"Kau mau kemana malam-malam begini?"
"Ada yang harus kulakukan malam ini. Lalu akan kuputuskan besok. Apa aku harus menyerahkanmu ke polisi atau membantumu. Jika kau memang seorang pembunuh, aku memberikanmu kesempatan untuk kabur malam ini."
Aku pun beranjak keluar. Perasaanku mengatakan aku harus mencari tahu yang sebenarnya. Apakah Chanyeol memang seorang pembunuh? Aku yakin kemampuan hackingku akan sangat berguna untuk kasus ini. Jika memang dia tidak bersalah, aku akan menolongnya. Aku merasa setelah semua kejahatan yang kulakukan selama ini, setidaknya aku harus melakukan sedikit kebaikan.
-oOo-
To Be Continue/End?
-oOo-
Inti dari cerita ini belum saya buat. Jadi mau lanjut atau end tergantung dari minat pembaca. Berikan review jika ingin cerita ini dilanjutkan. Terima kasih.
Happy Birthday Baekhyun Oppa.
