Pagi ini Sanji sudah siap membawa dessert box yang kemarin ia buat. Rencananya sih untuk Yonji. Adiknya itu sudah pesan dessert box hari sebelumnya. Tentu saja Sanji tidak membuat dengan percuma. Imbalannya adalah alat masak terbaru yang ia menangkan dari lotere.
Ia keluar hanya membawa ponsel dan totebag berisi kue-kue. Beberapa baju masih ditinggalkan di kediaman Vinsmoke di kamar pribadinya supaya ia tidak kerepotan membawa baju ganti lain. Ia sudah siap dengan celana krem dan kemeja biru pastel. "Pak tua, aku pergi dulu!" ia berseru.
"Woi maskermu!" teriak Zeff.
Sanji meraih masker dari dalam kantungnya dan segera mengenakannya. Ia berjalan keluar rumah, bersiap memesan Uber. Namun tanpa sengaja malah bertemu dengan Zoro yang sibuk olahraga pagi.
"Mau kemana?" tanya Zoro.
"Mampir ke rumah Vinsmoke bentar," jawab Sanji.
"... Gamau gue anter?" Zoro menawari tumpangan.
"Ah gausah gapapa kok, lu lanjut olahraga aja," tolak Sanji.
"Gue udah selesai olahraga kok,"
Sanji mulai mengalkulasikan pengeluaran dan risiko nyasar berdasarkan riset yang sudah ia kumpulkan selama tiga tahun bersahabat dengan makhluk hijau buta arah. Seperti kata Nami, uang adalah segalanya, daripada menghamburkan uang mending bareng Zoro aja kan ya. Zoro kan bukan segalanya hehe. "Boleh deh kalo gak ngerepotin,"
Zoro melesat masuk ke dalam rumah. Bersiap dengan mandi bebek dan ganti baju. Lalu keluar membawa kunci motor. "Naik vespa gapapa kan lu? Gak alergi sama vespa kan?" Zoro melempar helm hitam pekat ke arah Sanji.
"Yeu, mana ada gue alergi sama vespa!" Sanji mengomel seraya mengenakan helm.
"Woy ayo naik," panggil Zoro.
"Iya bentar," Sanji memposisikan kakinya. "Udah, ayo jalan,"
Vespa mulai melaju perlahan melewati rindang pepohonan. Cahaya matahari yang menyusup di antara celah dedaunan terasa hangat. Tapi bagi Sanji pundak Zoro kini terasa jauh lebih hangat.
.
.
"Tumben kita cuma nyasar lima kali," Sanji melepaskan helmnya. "Kebiasaan sih lu, gue bilang belok kanan ngapa lu ngiri?"
Zoro tidak menjawab. Lensanya hanya terpaku menatap rumah besar di sisi kiri jalan. Pagarnya begitu tinggi ia tidak bisa melihat apapun di dalam. "Jangan bengong entar kemasukan," tegur Sanji.
Surai pirang berjalan menuju bel rumah. "Ini Sanji, buka pagarnya," ucapnya setelah memencet bel merah. Pagar terbuka secara otomatis, menunjukkan pekarangan rumah dengan air mancur besar di tengah. Di atas air mancur terdapat lima patung kuda bewarna putih tulang. Tampak juga rumah putih berarsitektur Eropa klasik dengan pepohonan palem.
Zoro menganga, "Ini rumah lu? Ini kantor bukan sih?!"
"Rumah lah bego, modelan jadul gini lu bilang kantor?" omel Sanji. "Kenapa? Lu mau mampir?" pemuda pirang itu menawarkan. Zoro menggeleng. "Ayo mampir aja mumpung saudara gue belum ada yang pulang," ia menahan lengan Zoro.
Setelah dibujuk berulang kali, barulah Zoro berani memasuki kediaman Vinsmoke.
.
.
Zoro tidak kuat berada di dalam rumah itu. Terlalu besar menurutnya. Langit-langit atap juga menjulang tinggi bersamaan dengan lampu gantung mewah. "Ini teh," Sanji meletakkan secangkir teh panas di depan Zoro.
"Lu hidup di sini? Di tempat kayak gini? Gue pikir kita sama kasta!" ungkap Zoro masih setengah percaya.
"Lah emang sama, kita kan satu perumahan," jawab Sanji heran.
"Kalo beda kasta gini berarti lu gabisa jadi pacar gue dong?" Zoro masih nyerocos.
Doengg.
Sanji kelabakan. Salah tingkah lagi mendengar Zoro mengatakan hal yang berkaitan dengan pacaran. "Heh lu kan gasuka sama gue, nyet!"
"Kok ngegas anjing,"
"Bodo amat! Kalo gasuka gausah ajak gue pacaran, bikin salting bego," gumam Sanji.
Zoro tidak menanggapi. Ia meminum tehnya dan menatap sekitar. "Ini rumah apa gak kegedean? Isinya berapa orang?" tanya Zoro.
"Hmm... Lima ditambah asisten rumah tangga 3 sama sopir 1," jawab Sanji sambil mengingat-ingat.
"Tadi yang bukain pagar siapa?"
"Cosette, dia kepala asisten di sini,"
Zoro ngangguk-ngangguk. "Saudara lu yang lain pada kemana?" ia mulai celingukan.
"Palingan ngemall atau ngurus bisnis, ntar lagi juga pulang kok," Sanji memperhatikan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Eh, gue pulang deh kalo gitu! Ga enak mampir ga bawa apa-apa," Zoro berdiri.
"Ayo gue anter sampe gerbang," Sanji mengikuti. Mereka keluar dari pintu depan. Zoro sudah siap di atas vespanya sebelum terdengar suara mobil dari luar gerbang. Kemudian pagar hitam menjulang itu terbuka lebar. Menampilkan mobil Jeep Wrangler hitam legam. "Oh, Ichiji pulang."
Mobil terparkir tak jauh dari vespa butut warisan moyang Zoro. Ini kali pertama Zoro melihat Jeep mahal itu dengan mata kepalanya sendiri. Ia segera mengenakan helm dan memundurkan motornya sebelum pemilik mobil keluar. Tapi sudah terlambat.
"Sanji, itu siapa?" tanya Ichiji.
"Temen kuliah," jawab Sanji singkat.
"Salken, saya Zoro mas,"
Sanji hampir tersedak tawanya. Bisa-bisanya kepala lumut itu memanggil Abang tertuanya dengan sebutan mas. Dan kenapa dia pakai acara perkenalan segala?
"Hm," Ichiji memilih tidak membalas sapaan Zoro dan masuk ke dalam rumah.
Sanji memperhatikan kepergian Ichiji sampai pintu tertutup. Kemudian ia melempar pandang pada Zoro yang udah siap-siap cabut. "Gausah dimasukin hati ya, emang dia suka gitu,"
"Gapapa kok, gue pulang dulu ya, dah!" dan vespanya melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Dah,"
.
.
"Eh lu lain kali bisa gak sih supel dikit," tegur Sanji. Orang yang ditegur sih nggak peduli. Ya mau gimana pun kan emang muka dia gini dari sananya.
"Itu," ia menunjuk tas Sanji. "Meringue sama dessert box buat siapa?"
"Oh, ini yang dessert box punya Yonji, yang meringue buat Reiju, ini buat lu sama Niji," Sanji mengeluarkan biskuit berbentuk anjing kepada Ichiji.
"Kok gue dapet gini doang? Lu pilih kasih banget anjir," Ichiji menautkan alisnya melihat biskuit-biskuit anjing.
"Sukur sukur masih gue buatin, oh ya itu satu toples bagi sama Niji ya," ujarnya ketika melihat Ichiji sudah memakan satu keping biskuit.
"Enak sih, tapi kok bentuk anjing?"
"11 12 sama elu,"
"Adek bangsat."
Suara nyaring bel mendadak terdengar berkali-kali. Sanji melirik siapa yang sekiranya datang. "Eh gue baru liat mobil itu, mobil siapa?" Tunjuk Sanji.
"Lu masuk kamar aja gih, itu ayah," usir Ichiji.
.
.
"Kak! Dessert box yang aku pesen mana?" Adiknya yang berbadan bongsor itu membuka pintu kamar.
"Nih," Sanji mengeluarkan kotak bening berisi kue. "Alat masak gue mana?"
"Nih," Yonji meletakkan sekardus berisi alat memasak di samping Sanji. Rasanya seperti pertukaran narkoba.
"Abisin ya, awas kalo sisa!"
"Aku mana ada sisa sih kak," Yonji melenggang keluar kamar dengan perasaan bahagia sebelum dia dicegat oleh suara Sanji.
"Kak Reiju dimana?" Tanya Sanji.
"Siang gini palingan di kolam ngasih makan ikan," jawab Yonji.
Benar saja, Sanji menemukan Reiju di dekat kolam setelah hampir 5 menit mengitari rumah. "Sanji," sapa Reiju setelah melihat kedatangan adiknya. "Mau kasih makan ikan juga?" Tanyanya.
Sanji melongok ke dasar kolam. Mana ada kolam ikan, orang isinya buaya tiga ekor gitu. "Sejak kapan kalian melihara buaya?"
"Lucu kan," Reiju berucap gemas.
"Yah mending buaya air sih daripada buaya darat,"
"Hm? Kau bilang sesuatu, Sanji?" Gadis berambut pink itu menoleh.
Sanji nyengir kuda. "Nggak, aku kesini bawa ini," dia menyerahkan sekantung meringue warna warni. "Bentuknya bagus, rasanya juga enak, ini pertama kalinya aku sukses bikin meringue,"
Reiju mengambil satu dan memakannya. "Enaaakk, nggak jualan ginian aja nih? Untung banyak nanti," puji Reiju.
"Ga punya modal, bokek aku,"
"Oh omong-omong, kamu mau berapa lama di sini?" tanya Reiju sambil tetap mengunyah meringue.
"Cuma satu malam aja, besok pulang."
"Tadi kesini sendiri? Zeff-san mana?"
"Nggak ikut, tapi tadi kesini bareng temen,"
Reiju berkaca-kaca dengan tangan menutupi mulut. "Sanji-kun, kamu punya teman?" Ia bertanya dengan nada terharu.
Kok rasanya minta dikeplak ya kakak satu ini.
.
.
Niji tanpa sengaja berpapasan dengan Sanji. Alis Sanji bertaut begitu melewati jambul biru bin norak nauzu. "Oi Sanji! Lu gak ngasih salam dulu ke kakakmu ini, hah?" Ia mulai memojokkan Sanji.
"Hah? Beresin dulu jambulmu sana baru ngomong!" Ia menepis tangan Niji. "Ah iya, elu udah makan biskuit di ruang tamu?"
"Biskuit apa?" Niji bertanya, heran.
"Tadi ada satu toples buat lu sama Ichiji," ujar Sanji.
Niji mulai mengingat-ingat. Setahunya tidak ada toples apapun di atas meja ruang tamu. "Kalau mau makan minta Ichiji aja, palingan udah dibawa kabur ke kamar," tukas Sanji.
"Eh, lu udah makan siang?" Tanya Niji mendadak.
"Belom sih, lu mau traktir gue?" Sanji nyengir, menggoda kakak ketiganya.
"Gue barusan beli mie ayam, ayahanda bilang gamau, lu aja deh yang makan," Niji menunjuk ruang makan.
Sanji mendelik ke meja marmer di ruang makan. Terdapat satu bungkus mie ayam di atasnya. "Yang lain udah pada makan mie ayam? Yonji? Reiju? Ichiji?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Udah, udah," Niji mengangguk. "Tinggal lu aja, cepet makan keburu dingin tolol," ia berlalu.
Sanji memasuki tempat makan. Ia mulai mengambil piring dan sumpit. Ketika sedang makan siang, mendadak dia kedatangan tamu tak diundang. Yonji.
"Kak? Ngapain makan sendiri?" Tanyanya.
"Lu ngapain ke sini?" Sanji balik bertanya.
"Laper banget," ia memegang perutnya yang sudah keroncongan.
"Lah, lu bukannya udah makan mie ayam?" Tanya Sanji lagi.
Yonji mengerjap. "Mie ayam mana? Mie ayam Bu Sumiyati yang gang sebelah? Hah mie ayam mana sih?" Yonji tampak bingung.
"Yang dibeliin Niji?"
Yonji masih kebingungan. "Perasaan gak dibeliin apa-apa deh, ah au gelap pengen masak indomi aja," daripada pusing mending langsung mulai masak aja kan.
.
.
Sanji duduk di sebelah Yonji. Meja makan luas itu tampak tenang. Tidak ada yang mengatakan apapun selama makan malam berlangsung. Judge duduk di kursi paling ujung. Kemudian ia bersuara, "Ichiji, bagaimana dengan program kerjasama internasional yang tadi kau datangi?"
"Mereka setuju," jawab Ichiji.
"Lalu bisnis ternak lele bagaimana, Niji?"
"Bagus," Niji menjawab.
"Perusahaan pemasok bahan senjata masih lanjut, kan?"
"Iya masih," ucap Reiju.
"Produksi kapal di dermaga?"
"Sudah bernegosiasi dengan harga lebih rendah," tukas Yonji.
"Hanya kau yang malah memilih hidup bersama koki tua itu, Sanji," nadanya tampak meremehkan. Sanji tidak ambil pusing. Ia memilih diam tak menjawab. Kalau dijawab malah lebih panjang urusannya. Jadi ia buru-buru menghabiskan makanan dan keluar dari ruang makan.
~•-•~
Lanjut kok! Aku keburu lupa sama cerita ini saking sepinya haha. Tapi kalau mau baca lebih banyak bisa liat di Wattpad yaa, tapi sebisa mungkin aku usahain buat nulis di sini juga kalau ada yang nggak punya wattpad!
(Maafffff bangettttt sebelumnyaa ಥ‿ಥ)
Thanks a lot buat yang udah mau mampir baca dan kasih komen biar aku inget hehe
