REINCARNATION
.
.
.
Chapther 9
.
.
.
"Hyung...Tolong aku!"
Kedua pasang mata menatapnya serius, menunggu sang bungsu berkata lebih banyak. Bibir kering dan pucat Jongin bergetar, "T-tolong bantu aku, Kyungsoo - "
Mendengar nama sepupunya disebut, Chen langsung menatap gadis yang ada di dalam mobil lalu beralih ke Jongin kembali. Ia menggeram marah, namun Xiumin segera memegang erat lengannya. Memintanya bersabar dan menunggu penjelasan.
"Kyungsoo membatalkan pernikahannya, eomma dan appa akan segera datang. Aku tidak ingin Kyungsoo mendapat tekanan dari eomma, aku akan menyembunyikannya sementara waktu," jelas Jongin.
"Jadi tolong tahan eomma appa untuk tidak mencari Kyungsoo. Aku yang akan bertanggung jawab atas pembatalan pernikahan ini. Aku janji akan menemui eomma appa, aku tidak akan lari," ujar Jongin pada Chen.
Tangan Chen melayang begitu saja di pipi Jongin, begitu cepat dan keras. Jongin menerimanya tanpa perlawanan. Pipinya berdenyut-denyut nyeri, tak perlu melihatnya dari cermin, Jongin tahu pipinya sudah semerah tomat sekarang.
Xiumin menutupi kekagetannya dengan menaruh tangannya di mulut. Dirinya agak syok, ia tak mengira Chen akan setega itu menampar adik kesayangannya.
"Bertanggungjawab katamu? Memangnya kau siapa, huh? Ikut campur tangan kehidupan Kyungsoo?" mata Chen menatap nyalang pada adiknya. Mencoba menyadarkan Jongin tindakannya salah.
Jongin menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap mata kakaknya sambil berucap dengan lirih, "Aku sepupunya."
Chen membuang mukanya, memegang dahinya erat-erat. "Lalu apa yang akan kau katakan saat menemui eomma appa? "
"Aku akan memohon merestui kami berdua," jawab Jongin.
Sebuah tawa yang dipaksakan keluar begitu saja dari mulut Chen. "Hahaha... Adikku sudah gila bukan?" ujarnya pada Xiumin.
"Kau tak akan mendapatkan restu mereka, Jongin," ucap Xiumin mencoba menafsirkan sindiran Chen.
"Aku akan menemui Kyungsoo," Chen melangkah melewati Jongin menuju mobil yang terparkir di depan restauran. Jongin ingin mencegahnya, tapi Chen sudah secepat kilat membuka pintu mobil.
Di dalam mobil Kyungsoo duduk di bangku penumpang dengan terbungkus selimut. Noda-noda darah tercecer di selimut maupun di kursi. Chen tak bisa menahan dirinya untuk berseru keras, "Apa yang terjadi?"
Sang sopir, Suho berujar dengan tenang. "Kyungsoo-ssi mengalami pendarahan setelah.. Eheemm," Suho mengakhiri kalimatnya dengan berdehem pendek.
" dengan Chanyeol-ssi," tambah Suho buru-buru sebelum Jongin babak belur di tangan kakaknya sendiri.
Melihat keadaan Kyungsoo yang tak berdaya, wajah Chen melunak, begitu juga dengan suaranya, "Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit? Kenapa tak menggabari oppa? Kenapa? Kau takut oppa memarahimu?"
Kyungsoo tersenyum kecil sambil menggeleng, sangat kontras dengan wajahnya yang pucat. "Aku baik-baik saja, oppa... Jongin sudah merawatku."
Chen membalasnya dengan senyum simpul seraya mengusap rambut Kyungsoo. "Kau yakin memilih adikku yang kaku dan bodoh itu?"
"Ya, maaf oppa.. ," ucap Kyungsoo merasa bersalah.
"Bagaimana dengan Chanyeol?"
"Chanyeol-ssi baik-baik saja," sahut Suho. "..sepertinya," sambungnya dengan nada tak yakin.
Chen tak bisa menutupi kegelisahannya. Fakta bahwa Chanyeol menyakiti adik sepupunya ini hingga mengalami pendarahan, membuatnya yakin Chanyeol tahu sesuatu. Secara tidak langsung, Chanyeol tak menginginkan jabang bayi yang ada di perut Kyungsoo. Dan Jongin adiknya yang pengecut kenapa seberani ini mengambil resiko?
"Oppa mohon tolong kali ini jawablah, kau sudah terlalu lama bungkam, Kyung. Sebenarnya siapa ayah bayimu?" tanya Chen lembut.
Dengan ekspresi enggan - hampir menangis- Kyungsoo menguatkan hati membuka bibirnya, lalu mengatupkannya lagi karena terlalu takut mengatakannya.
Chen menggeser tubuhnya menjauh, kepalanya menggeleng menolak terkaan di pikirannya. Jika Chanyeol ayahnya, Kyungsoo tidak akan setakut ini mengatakannya. "Hanya ada nama adikku, Kim Jongin dikepalaku sekarang - "
"Katakan, Kyung.. aku salah bukan?" desaknya dengan wajah mengiba.
"Hyungg... " panggil Jongin pelan dari luar mobil. Memohon Chen untuk berhenti, sebelum semakin membuat Kyungsoo merasa bersalah.
Chen menoleh ke arah Jongin, lalu turun dari mobil dengan wajah linglung. Tangannya terulur, mencengkram baju Jongin bagian pundak. Jongin tak melakukan reaksi berarti. "Jangan berani menemui eomma appa, larilah yang jauh!"
.
.
.
Matahari mulai menyelinap di antara pohon sepanjang jalan jalan. Suho tak tahu jalanan ini, ia hanya berbekal arahan Jongin. Berkelok-kelok dan ia rasa dirinya sudah melewati setidaknya sepuluh distrik. Atau mungkin sudah berpindah kota. Ia memarkirkan mobilnya di depan gedung di daerah pinggiran kota.
Suho turun dari mobil dengan ragu-ragu. Seorang kakek tua menghampirinya. Membukakan pintu gerbang yang berkarat dengan cekatan. Membiarkan rombongan anak muda ini masuk. Tentu dengan pandangan curiga.
"Kami ingin ruangan lantai paling atas," pinta Suho.
Kakek tua itu dengan tidak sabar menolaknya. "Tapi kami tidak menyewakan lantai atas, pilih saja - "
"Anda tak mengingatku?" Jongin menyela seraya mengguncang tubuh Kyungsoo pelan untuk memperbaiki gendongannya.
Kakek itu menelisik wajah Jongin dengan seksama. Pengelihatannya sudah mulai berkurang, namun ia mengenali wajah itu. Ia hampir limbung karena terlalu terkejut. "Ya Tuhan Anda sial sekali Tuan, dilahirkan kembali lagi. Lalu siapa gadis ini? Ohhh maaf.. Maaf aku terlalu banyak bertanya. Silahkan masuk Tuan Kim!"
"Terima kasih, panggil aku Jongin saja.. Mmm Paman Kang." Jongin sedikit ragu menyebut kata 'paman'.
Kakek itu tertawa kecil, "Ya.. Ya.. Panggil saja sesuka Anda. Kakek pun tak masalah. Toh aku memang lebih tua dari Anda sekarang."
Jongin menaiki tangga, mendapati tak banyak yang berubah disini. Hanya saja sudah di cat ulang dan ditambah interior yang lebih modern. Sesampainya lantai atas, mereka semua berhenti di pintu kayu cukup besar. Berwarna putih, tak seperti pintu-pintu lainnya yang berwarna gelap.
Setelah masuk yang terlihat hanya kain putih menutupi kursi-kursi dan perabotan agar tidak semakin berdebu dan usang. Suho dengan cekatan membantunya membersihkan ruangan. Tuan Kang turut serta meski tubuhnya tak secekatan dulu lagi. Sesekali memandangi Suho yang tampak familiar baginya. Suho membalasnya dengan senyum paling lebar, setiap kali kakek tua itu mencuri pandang dirinya.
Jongin mendekat ke sisi ranjang lalu membenarkan selimut yang membalut tubuh Kyungsoo. Menatapnya lama, Kyungsoo sampai bingung di buatnya. Atap kamar yang landai membuat cahaya dari jendela membanjiri ruangan. Ia tahu itu agak menyilaukan bagi Kyungsoo. "Kau ingin aku menutupnya?" tanya Jongin.
Kyungsoo menggeleng. "Istirahatlah.. Kau tampak berantakan," ucapnya seraya merapikan rambut Jongin yang acak-acakan dan beberapa helai mencuat kesana kemari tak beraturan.
Jongin yang sempat tersentak kaget ketika Kyungsoo tiba-tiba menyentuh kepalanya. Suho yang memperhatikan mereka berdua, terkekeh pelan. Merasa lucu melihat Jongin begitu kaget. Seperti anak kecil yang was-was hendak dimarahi.
"Ku tinggal sebentar, aku akan mencari makanan untuk kita," pamit Suho merasa dirinya harus pergi untuk memberi waktu mereka berdua bicara.
Sepeninggal Suho aura kecanggungan dan kegugupan begitu terasa. Apalagi memang pada dasarnya Jongin pemuda yang tak banyak bicara dibandingkan sang kakak, Chen. Kyungsoo yang lebih banyak memulai pembicaraan, tapi kali ini dia tetap diam. Menunggu Jongin yang sibuk mengobrak-abrik lemari pakaian miliknya dulu.
"Hanya ada ini," ucapnya menemukan kemejanya di lemari. Cukup berbau tua namun setidaknya Kyungsoo harus berpakaian bukan. "Akan ku bantu memakainya."
Kyungsoo menatapnya terkejut, Jongin buru-buru menambahkan seraya mengosok lehernya karena merasa malu dengan ucapannya sendiri. "Bukan maksudku untuk kurangajar, m-maksudku - "
"Aku tahu. Tolong!" potong Kyungsoo menurunkan selimutnya sebatas pinggang.
Ketika Jongin begitu dekat dengannya dan menyelipkan kemeja itu di bawah badannya, Kyungsoo memalingkan wajahnya. Menahan nafasnya dalam waktu cukup lama. Sampai lengan kemeja terpasang di kedua lengannya. Tinggal mengancingkan baju...
Namun Jongin berhenti beberapa detik sebelum menyentuh kancing itu. Ia menatap perut datar sepupunya itu. Menimbang-nimbang sesuatu yang ingin ia ucapkan. "Kyung..." panggilnya.
"Bolehkah aku bertanya?"
Kyungsoo terpaksa menoleh, rupanya Jongin ada dihadapanya hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya. Nafasnya cukup tidak beraturan. Detak jantung terdengar samar-samar di telinganya. Kyungsoo cukup terkejut bisa mendengar detak jantung Jongin. Segera ia meraih tangan pemuda itu, "Apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa kau bisa begitu gugup dibanding aku yang belum berpakaian dengan benar?"
"Apa aku ayahnya?" tanyanya lirih.
Genggaman tangan Kyungsoo melemah, tangannya lemas seketika. Ia tak bisa menghindari pertanyaan ini pada akhirnya. Ia takut reaksi Jongin nantinya. "Ya, tapi kau tak perlu merasa terbebani. Ini anaku, dia tanggung jawabku."
Dahinya mengernyit kuat, rahangnya mengeras tiba-tiba. Dengan setengah menggeram, Jongin menekankan di setiap kata yang ia ucapkan, "Kenapa kau tak mengatakannya lebih awal padaku?"
Kyungsoo menghela nafasnya panjang, menutup matanya karena begitu frustasi menjawab pertanyaan sepupunya itu. "Aku takut kau marah."
"Aku melakukannya sendirian, tanda ijinmu. Aku takut kau marah karena melakukan hal bodoh seperti ini. Aku hanya menyukaimu, aku takut seseorang mengambilnya selain dirimu. Aku juga terkejut dan takut saat diriku berakhir mengandung seperti ini. Tapi aku lebih takut kau marah dan membenciku."
Dahi Jongin mengernyit sangat rapat, menandakan seberapa serius ia mendengarkan. "K-kau.. Kapan kau melakukannya? Bagaimana bisa aku tak ingat?"
"Sudah ku bilang aku melakukannya sendiri. Saat kita berteduh di gubuk, kau demam tinggi... Mana bisa kau ingat, sadar pun tidak."
"Kenapa.. Kenapa kau senekat itu?"
"Aku juga tidak tau."
Jongin melihat setetes air keluar dari mata cantik sepupunya. Membuat jejak ke bawah dan menghilang di balik sela-sela rambut, bercampur keringat. "Buka matamu, Kyungsoo... Aku sedang berbicara denganmu," serunya agak keras.
Matanya terbuka, saat itulah ia menemukan Jongin sudah melingkup di atasnya. Menghalangi cahaya matahari dari jendela. Tapi hatinya sudah cukup hangat sekarang, berkat kecupan di keningnya. "Kau tidak marah?" tanyanya bingung.
"Aku marah, aku tidak suka orang lain menyentuhku apalagi melakukan hal tidak senonoh pada diriku. Tapi semarah apapun, aku tetap tak bisa membencimu. Ini tidak adil bukan?"
"Suara detak jantungmu sangat berisik," keluh Kyungsoo dengan suara parau akibat matanya yang berkaca-kaca.
"Ini karenamu, kau tak boleh mengeluhkannya," balas Jongin dingin masih sibuk mengecup sisi lain wajah Kyungsoo. Pipi kanan, berhenti sesaat hanya untuk menatap mata Kyungsoo, lalu beralih ke pipi kiri.
"Kita tumbuh bersama sejak kecil, kau seharusnya tau meskipun aku akan marah, aku tak akan pernah bisa membencimu, Kyung," ucapnya.
Selanjutnya yang terdengar hanyalah desir bibir yang saling mengecap satu sama lain. Tidak lama namun cukup membuat mereka berakhir saling menatap dengan senyuman simpul. Karena berhasil mengungkapkan perasaan tanpa kalimat cheesy yang membuat gatal telinga.
Jongin segera merampungkan pekerjaannya mengancingkan baju. Menggulung bagian lengan yang terlalu panjang dengan rapi. Seraya melirik Kyungsoo yang kembali membuat mimik wajah penuh kekhawatiran. "Tenang saja, kali ini aku tak akan menjauhimu seperti setelah kita berciuman di kamarmu tempo hari."
"Ya, itu sangat menyebalkan."
Jongin menarik kursi terdekat dan membawanya ke samping ranjang. Mendudukan dirinya disana dengan tenang. Meraih pergelangan tangan Kyungsoo dan merasakan detak nadi melewati permukaan jarinya. Ia tersenyum getir tanpa mengatakan diagnosisnya. "Berbaringlah miring, aku akan mengusap punggungmu agar sakitnya agak reda. Lalu cobalah untuk tidur."
"Tidak," Kyungsoo menahan tangan Jongin, menautkan jari-jarinya dengan kuat disana. "Aku tak akan tidur, aku tak akan memberikanmu waktu untuk bersedih sendirian."
.
.
.
Di luar, udara semakin berangin. Tanda musim dingin akan segera datang. Chanyeol memutuskan mengalihkan pandangannya dari televisi, ia berpaling ke jendela. Pohon-pohon terayun seperti orang sedang menari-nari. Sejenak ingatannya berputar tiga minggu terakhir ini. Mengurung diri dan menangis. Mabuk dan tertidur. Bak operasi bedah tanpa obat bius.
Ia pandangi jahitan di permukaan nadinya. Merabanya lalu mengambil nafas panjang sebelum ia benar-benar menangis. Setiap hari rasanya seperti menonton potongan film dari episode yang ingin ia lupakan. Chanyeol benci harus terus mengingatkan dirinya bahwa "Kyungsoo sudah lebih bahagia sekarang, aku juga harus bahagia karenanya."
Beberapa hari yang lalu, lewat jendela pula. Ia melihat foto Jongin berterbangan di jalanan. Selembaran yang sudah memenuhi seluruh kota tiga pekan ini. Keluarga Kim melaporkan kehilangan putranya tepat setelah sadar putranya tak di asrama lagi. Suho, Sehun, Chen, Xiumin mengarang berbagai alibi untuk menutupinya. Sedangkan Chanyeol yang masih dalam pemulihan kejiwaan tidak bisa dipaksa bersaksi.
Kraukk.. Krauukk.. Kraukk.. Sehun mengunyah camilan dengan rakus. Mengambil segenggam lalu menggiling di mulutnya lagi, tapi kali ini sambil berujar, "Hyung, mau jadi kekasihku?"
Chanyeol tak tersinggung tapi ia menanggapi gurauan Sehun dengan datar. "Boleh saja, tapi tunggu setelah aku berhasil menabrakan diri ke mobil di jalanan."
"Ini penolakan tersadis yang pernah kudengar," komentar Sehun mengelap tangan ke bajunya sendiri, lalu mengambil kudapan milik Chanyeol ke piringnya. Chanyeol hanya mengamatinya dengan decihan kecil.
"Kalau begitu anggap saja kau tak mendengarnya," Chanyeol memilih mendorong piring kudapannya ke sisi meja Sehun. Merelakannya dengan ikhlas.
"Kurasa aku perlu memeluk dan menepuk-nepuk bokongmu, hyung, " sindirnya. "Sampai kapan aku harus melihat wajah ditekuk-tekukmu itu?"
Chanyeol mengulurkan tangannya, menghapus sisa makanan di sudut bibir Sehun dengan ujung jarinya. "Kenapa kau begitu baik padaku, Sehunna? Kenapa kau begitu mengkhawatirkanku? Aku hanya tetangga kawan sebangkumu."
Mereka saling bertatapan lama. Sampai akhirnya Chanyeol menengadahkan wajahnya, kemudian sambil menarik nafas panjang ia berkata. "Apa karena Kyungsoo yang memintamu?"
"Tidak," sahutnya singkat.
"Tidak?" ulang Chanyeol ragu-ragu.
Sehun berhenti mengunyah, menyandarkan punggungnya ke kursi. Menyamankan dirinya, karena ia tau ini akan menjadi obrolan yang tidak ia sukai. "Aku tau kita tak bisa di bilang akur. Tapi aku membantumu atas kemauanku sendiri. Percayalah."
"Kenapa?" Chanyeol terus mendesaknya.
"Well, aku hanya berprinsip membantu semua orang baik. Dan menurutku pada dasarnya semua orang baik," Sehun mengambil remote televisi, mengubah ke saluran olahraga kesukaanya.
"Aku orang jahat, Sehunna - "
"Semua orang baik, percayalah hyung. Memangnya hyung pernah melihat bayi yang baru lahir membawa pisau lalu memutilasi orang-orang?"
Chanyeol terdiam sesaat. Sehun menoleh kearahnya, lalu terkekeh keras. "Sekeras apa pun hyung berpikir, jawabannya tetap tidak ada bayi seperti itu, Raja Firaun sekalipun."
" Jangan terlalu menyesali hal yang lalu. Karena entah hyung memilih pintu A atau B, keduanya sama-sama menuju jalan yang sama. Bukan tidak mungkin Kyungsoo noona tetap pendarahan, meski hyung tak melakukannya malam itu."
"Jongin menyebutnya dengan Takdir," sambung Sehun.
"Berarti Nyonya Kim sedang melawan takdir sekarang," timpal Chanyeol mengambil sekaleng bir untuk dirinya sendiri, karena Sehun belum cukup umur.
Sehun mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, mengeluh akan bau alkohol yang tercium. Tapi Sehun tak melarang Chanyeol meminumnya, ia sadar hanya tamu disini. "Memangnya hyung Tuhan, tau takdir orang?"
Alkohol membuat Chanyeol begitu fasih bercerita. "Bukan, aku bukan Tuhan. Tapi dari yang kudengar keluarga Kim dan mendiang ayah Kyungsoo sudah tau jika nanti Jongin dan Kyungsoo ditakdirkan saling menyukai. Sayangnya jika mereka sampai punya anak, maka harus ditukar dengan nyawa salah satu dari mereka."
"Itu konyol..," komentar Sehun merasa geli dengan ramalan seperti itu. "Dan mereka semua percaya? Bahkan kau, hyung?" lanjutnya dengn decakan tak percaya.
Chanyeol tersenyum miring, "Awalnya aku juga berpikir ini tidak masuk akal. Itu hanya ramalan. Tapi lihat sekarang Kyungsoo benar-benar mengandung."
Wajah Sehun berubah menjadi serius. "Apa Jongin dan Chen hyung tau?"
"Nyonya Kim tak memberi tahu putra-putranya. Hanya aku, aku diberitahu saat akan menikahi Kyungsoo. Karena beliau berharap aku bisa membelokkan takdir."
"Kenapa tak memisahkan mereka saja sejak awal?"
"Tidak bisa. Karena setelah mendengar ramalan itu di pesta kelahiran Jongin, Kyungsoo menjadi sebatang kara. Keluarganya menjadi korban kebakaran. Nyonya Kim tak tega melihat gadis anak sahabatnya hidup sendirian."
"Sahabatnya? Apa kupingku berhalusinasi?" pekik Sehun bangkit dari posisi bersandarnya.
"Ya, Nyonya Kim dan mendiang ayah Kyungsoo bersahabat. Akhirnya Nyonya Kim membuat rencana dengan menjadikan Jongin dan Kyungsoo menjadi saudara sepupu. Agar mereka tak bisa menikah," ujar Chanyeol menaruh kaleng-nya yang telah kosong di atas meja dengan bunyi yang nyaring.
"Jadi mereka tak benar-benar bersepupu?" Sehun melebarkan matanya. Pantas saja wajah mereka tidak mirip, bahkan berbeda marga.
Chanyeol menggeleng kaku. "Bukan, itu hanya rekayasa. Tapi ikatan sepupu yang harusnya bisa membatasi perasaan mereka berdua, nyatanya malah membuat mereka semakin dekat."
"Aku sekarang paham kenapa hyung mencoba menahan Kyungsoo noona disisimu, menggugurkan bayi Kyungsoo noona . Semua hyung lakukan untuk menghindari ramalan buruk itu kan? Agar Kyungsoo noona tetap hidup," sahut Sehun iba.
Chanyeol tertawa getir sebentar. Menghentikan tawanya dengan helaan nafas berat. "Sayangnya tak bisa dihindari, pada akhirnya Kyungsoo harus menghadapi ramalan itu."
Tepukan ringan Sehun berikan di punggung Chanyeol. Beberapa kali hingga yang lebih tua merasa malu bersikap semenyedihkan ini. "Aku bisa mempercayai kawanmu kan?"
"Uummt, walaupun dia kaku dan bodoh setidaknya Jongin cukup berani bertanggung jawab," timpal Sehun asal. "Aku masih tak habis pikir bagaimana dia secabul itu hingga membuat noona mengandung. Kupikir dia anak baik sepertiku," rutuk Sehun setelahnya.
"Ohh ya? Memang kau anak baik?" goda Chanyeol. "Bagaimana kau menjelaskan saat di mobil dan Suho-ssi menghisap lehermu? Lalu saat kalian menjengukku di rumah sakit, lalu saat di kantor polisi - "
"Kita tak melakukan apa pun, hyung" elak Sehun cepat-cepat menginterupsi. Mengangkat tangannya kembali dari punggung Chanyeol. Wow, tepukan hangatnya di balas dengan boom granat.
Chanyeol tak berkomentar, ia hanya tersenyum maklum. Sejujurnya Sehun menunggunya bicara memberinya sedikit solusi untuk hubungan yang tidak biasa ini. "Hyung tak menceramahiku?"
"Kau mau dengar?"
"Akan ku coba, jika telingaku berdarah hyung harus membayarku ganti rugi."
"Menyerahlah selagi bisa, hubungan tak mesti harus sepasang kekasih. Tapi jika menyerah tak bisa, maka bertahanlah. Aku tak mau mendukungmu karena ini salah dan kau tau betul itu." Chanyeol mengusak rambut Sehun pelan.
"Kau terlalu muda untuk menyimpulkan orientasimu. Jika memang Suho-ssi yang terbaik maka kau akan kembali padanya bagaimana pun caranya," sambung Chanyeol.
"Seperti Kyungsoo noona dengan Jongin?"
"Terima kasih kau membuatku jadi ingin menangis lagi."
"Tck.. Aku jadi ingin mendorongmu ke jalanan!"
.
.
.
Sehun bangun cukup pagi hari ini, ketukan pintu yang memaksanya mengangkat kepala dari paha empuk Chanyeol. Dengan langkah gontai ia membuka pintu, sambil mengutuk Chanyeol yang bisa-bisa masih terlelap.
"Ya, siapa?" sambut Sehun malas.
"Kami dari kantor kepolisian wilayah. Mohon kerja samanya untuk penyelidikan. Anda Tuan Park Chanyeol?"
Sehun menggeleng dengan cepat. Di sisinya Chanyeol sudah mengulurkan tangannya. "Park Chanyeol-ssi anda ditangkap karena bersekongkol melakukan penculikan saudara Kim Jongin. Anda berhak memanggil pengacara dan berhak diam."
"Lakukan dengan cepat. Aku akan mengakui yang telah kulakukan."
Ketika Chanyeol sudah di borgol dengan kuat, Sehun hanya menatap seperti orang linglung. "T-tunggu... Ada apa ini?" protesnya.
"Apa aku bisa bertemu dengan Nyonya Kim?" tanya Chanyeol kepada dua pria berjaket kulit di sampingnya.
"Tidak," jawaban tegas yang ia dapat.
"Kalau begitu katakan pada Nyonya Kim. Jika menyakiti Kyungsoo, pada akhirnya yang terluka adalah putranya sendiri. Dan jika aku tak terbukti bersalah, tulis namaku di kolom wali Nona Do sebagai... "
"...kakak laki-lakinya."
.
.
.
.
Kalau ada banyak salah, typo, kurang menarik ceritanya, ceritanya ngga nyambung, jarang update mohon di maklumi dan dimaafkan.
Tetap jaga kesehatan yap kawan-kawan.
