"Apa maksudmu!?"
bentakan dari seorang pemuda berambut kuning jabrik membahana di pojok belakang sekolah yang sepi, ia juga menarik kerah jaket parka yang di kenakan pemuda tampan di hadapannya, rambut pemuda malang itu tertutupi oleh tudung jaket yang hanya menyisakan poni panjang tak beraturan berawarna gelap, tinggi mereka sama.
Terlihat dari seragam yang mereka kenakan dengan suit berwarna hitam yang hanya dipakai pemuda kuning jabrik itu, jelas karena yang satunya lagi bukan mengenakan suit sekolah melainkan jaket parka warna hitam syal hitam dan juga sarung tangan warna senada, melapisi kemeja putih polos pada tubuhnya. Emblem sekolahnya melambangkan bordiran logo dari Heisei Gakuen. SMA swasta nomor wahid di tokyo.
SRET!
Perlahan pemuda yang memakai stelan serba gelap tersebut melepas sebelah kiri sarung tangannya. "Akan ku kabulkan." Melanjutkan dengan suara yang sangat pelan hampir terdengar seperti bisikan. "Biar ku sentuh."
Touch Of Emptiness
Dhuar!Terdengar seperti suara petir yang menyambar. Terlihat gadis bersurai pink berlari di lorong sekolah, ia mendengar suara keras tadi dan langsung berlari ke arah sumber suara tepatnya di belakang sekolah yang sepi.
Touch Of Emptiness
"Sasuke Uchiha?" pemuda berambut kuning itu menyebutkan nama dengan pandangan kosong.
TAP!TAP!TAP!
Suara langkah kaki terdengar dari arah lorong sekolah membuat pemuda berpenampilan serba hitam tadi menoleh. Di hadapannya berdiri seorang gadis berambut pink sepunggung dikepang menyamping lengkap dengan kacamata bulat yang selalu bertengger manis di hidung mancungnya, tapi tetap saja tak menutupi mata seindah batu emerald miliknya. Ia menatap kedua pemuda dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau anak pindahan kenapa bertengkar?"
Pemuda gelap itu menyahut dengan senyum yang sangat samar. "Aa sakura petugas moral." Ia melanjutkan dengan muka datar sedatar papan gilesan "Tidak terjadi apa-apa."
Sakura akan melanjutkan sesi pertanyaannya tapi pemuda gelap segera menyela. "Tanyakan padanya." Ia melirik pemuda rambut kuning jabrik itu dengan ekor matanya. "Bahkan dia tidak mengenalku."
Sakura tiba-tiba menjadi bingung.
"Tidak mengenal katamu? Tapi dia teman sekelasmu."
Pemuda gelap itu menjawab dengan kalem. "Hn tapi sekarang dia sudah lupa." Sakura semakin bingung dibuatnya tapi dengan segera pemuda itu menambahkan, "Sudah tidak ada lagi kenangan tentangku di dalam dirinya."
Wush...
Angin di siang itu berhembus pelan menggoyangkan beberapa anak rambut dari mereka yang masih berdiri mematung saling berhadapan. Untuk beberapa saat sakura merasa terpana akan paras bak dewa yunani yang dimiliki pemuda di hadapannya, wajah yang mulus tanpa cela, mata setajam elang dengan bola mata yang sehitam arang dibingkai sempurna dengan rambut yang mencuat berponi senada dengan warna bola matanya.
Sakura segera mengerjap dan memalingkan muka sebentar guna menetralkan detak jantungnya yang ingin keluar. Baru kali ini ia dihadapkan dengan pemuda yang tampan mahadahsyat. Ia sedikit berdehem dan melanjutkan pertanyaanya dengan suara pelan. "semuanya?"
Pemuda gelap itu berniat menjawab dengan menjulurkan tangannya yang tidak tertutup sarung tangan guna menyentuh kening sakura tiba-tiba terhenti setelah mendengar kalimat yang di lontarkan gadis itu padanya. "Pantas.. matamu terlihat sesedih itu."
Pria gelap itu bergeming menatap sakura dengan mata yang sangat sedikit sekali membulat dan segera berubah datar, ia memasukan tanganya yang tak tertutup sarung tangan ke dalam saku celana dan melangkah pergi meninggalkan gadis itu dalam diam.
Touch Of Emptiness
Sasuke Uchiha sedang duduk di bangku taman menengadahkan wajah guna menikmati belaian angin sore di wajahnya ia menatap langit yang mengeluarkan semburat kemerahan. 'Kenapa. Aku hidup dengan membuang semua, yang menggangguku, tapi kenapa waktu itu aku takut menyentuhnya.' Ia memejamkan mata dan merasakan kerja jantung yang berdetak tak seperti biasanya.
Touch Of Emptiness
Akhir-akhir ini Sasuke senang menatap langit, ia duduk selonjoran di atas rumput taman yang sejuk tepatnya di bawah jembatan yang agak sepi mengingat tempatnya yang berada dipinggiran sungai jernih sangat jarang orang datang kesana, adapun pasti hanya untuk memancing ikan. Ya hari ini ia bolos pelajaran lagi. Sasuke menatap langit yang berwarna biru cerah hari ini, cuaca sangat bagus dan terik sangat kontras dengan pakaian yang ia kenakan pakaian serba tertutup, jaket, syal, dan sarung tangan yang setia melekat di tubuhnya.
"Uchiha-san!"
Merasa marganya di panggil, Sasuke langsung menoleh dan memakai lagi tudung jaket yang sengaja ia lepas tadi. Ia mengernyit. "Sakura?"
Sakura ngos-ngosan karena habis berlari untuk mencari Sasuke. Sakura adalah petugas moral siswa tugasnya memastikan moral semua siswa agar selalu taat pada peraturan sekolah termasuk mengurusi siswa siswi yang suka bolos pelajaran macam sasuke. Mengingat sekolah mereka adalah sekolah terakreditasi A.
"Uchiha-san, lagi-lagi kau bolos." Sakura membenerkan letak kacamatanya yang sedikit melorot dari hidung karena habis berlari tadi.
GUK! GRRR!
Seekor anjing putih berjenis anjing shiba inu muncul di balik tubuh Sasuke, anjing itu menggeram menatap Sakura dengan tajam dan siap menyerang. Sakura berjengit kaget takut juga ditatap anjing segarang itu. Tidak anjing tidak tuannya sama saja menyeramkan. Batin sakura. Dengan agak gemetar sakura menyuarakan ketakutannya. "Uchiha-san bisa kau tenangkan dulu anjingmu itu."
Sasuke mengelus kepala anjingnya dengan tangan yang terbungkus sarung tangan untuk menenangkan anjingnya yang menggeram menganggap sakura sebagai orang asing yang akan menyerang tuannya. "Shiro benci dekat dengan orang lain. Sama sepertiku" sengaja memelankan suaranya dikalimat terakhir.
Sakura tertegun, sedetik kemudian ia mengangguk mengerti dan merubah wajah yang sempat ketakutan tadi menjadi yakin. Dengan segenap keberanian yang berusaha ia kerahkan Sakura mencoba mendekati shiro. Shiro yang tadinya sudah tenang, kembali menggeram. Sakura dengan pelan berusaha meyakinkan anjing garang sasuke. "Tenanglah.. Aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin menjadi temanmu." Sakura menatap mata shiro dengan yakin dan berusaha untuk mengelus kepala berbulu shiro dan... hup berhasil, shiro menjadi lebih tenang daripada sebelumnya, menurut sakura.
Ia lebih mendekat pada shiro dan mengelus lehernya dengan pelan berusaha membuat shiro tenang dengan sentuhan lembutnya dan seperti yang dilihat shiro menyukainya. Shiro menggoyangkan ekornya. Sakura tersenyun senang. "Kau anjing yang sangat manis ternyata shiro."
Sasuke yang melihat interaksi antara Sakura yang bisa menaklukan anjingnya dengan mudah sedikit tersenyum, senyum yang amat tipis.
Sasuke ikut berjongkok mengelus kepala anjingnya. "Aku menemukannya dibawah jembatan waktu itu shiro sangat kurus." Sasuke bernostalgia "Hn aku memberinya makan dan sekarang seperti yang kau lihat."
Sakura menyahut "Shiro sangat manja denganmu Uchiha-" Sasuke segera memotong. "Sasuke, panggil aku sasuke, SA-KU-RA." Sengaja ia mengeja kalimat terakhir dan menyeringai senang ketika menemui semburat merah di pipi gadis musim semi tersebut.
Sakura selalu grogi tiap dihadapkan dengan Sasuke Uchiha entah kenapa jantungnya selalu bertalu talu tiap melihat seringai Sasuke yang sialnya amat seksi.
Ia berdehem untuk mengurangi rasa groginya "Ehem, ngomong-ngomong Uch-maksudku Sasuke kenapa kau berada di bawah terik matahari begini?" ia melirik pakaian yang dikenakan Sasuke, Sakura mengernyit "Jika niatmu ingin berjemur setidaknya tak perlu memakai pakaian seperti itukan."
"Hn." Jawab Sasuke sekenanya.
"Dasar, repot kalau sampai ketauan petugas moral lain kan." Sakura mencoba menasehati "Di sekolah sebelumnya kau memakai kekerasan pada siswa yang mengusikmu, masalahnya jadi besar dan akhirnya." Sakura menuding Sasuke dengan telunjuk lentiknya "Kau pindah." Mudah bagi Sakura untuk mengetahui profil siswa siswi yang menjadi incarannya dalam artian 'kenakalan' disekolah.
Sasuke mendengar dengan muka lebih datar dari biasanya. Dia mungkin agak sedikit kesal dengan omelan sakura yang merasa paling baik bagaikan bunda Teresa.
Ia kembali mengelus kepala shiro sebentar dan berdiri ia mendengus mendengar sakura masih menasehatinya bla bla bla. "Cih."
Sakura yang mendengar decihan Sasuke langsung sewot yang benar saja ia bermaksud baik dengan menuturinya tentang hal baik 'menurut' sakura tapi malah tidak di anggap!? Sakit tauk! Menyebalkan!
"Kau mendecih!?"
"Tidak, aku menggonggong." Sambil beralalu meninggalkan Sakura dengan segenap kekesalannya.
"UCHIHA SYALAN!"
TBC
