A Namjin's Fanfiction

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin

.

#RMusic.

Pernah berpikir tentang alasan dibalik lagu-lagu rekomendasi dari Rap Monster di Twitter?

.

.

.

.

.


When you're on the outside, baby
And you can't get in
I will show you
You're so much better than you know

- By Your Side by Sade

#RMusic on 31 December 2016

.

2010
Namjoon benci diganggu saat dirinya sedang membaca buku. Bahkan saat ia sedang mengunci diri dalam studio untuk membuat musik pun ia masih mau menerima kunjungan, tapi ia sama sekali tidak bisa mentoleransi gangguan saat membaca buku. Karena itu ia selalu mencari tempat terpencil yang ada dalam ruangan agar bisa menenggelamkan diri dalam setiap kata bacaannya. Jadi pertemuan pertamanya dengan Kim Seokjin menjadi salah satu hal yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.

"Boleh aku duduk disini?"

Namjoon berusaha menahan geraman kesalnya saat mendengar suara yang menginterupsi dunia kecilnya bersama Aomame dan realitas alternatif yang baru mulai ia sadari. Memang salahnya memilih untuk membaca buku di dalam ruang audisi, tapi kalau bisa membela diri, ia akan menyalahkan panggilan mendadak Bang PD yang memintanya ikut memantau audisi hari itu di saat ia baru memulai membaca buku barunya.

Jadi Namjoon enggan mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara dan hanya sekedar menjawab, "boleh saja."

Si pemilik suara membalas masih dengan nada gugup yang sama, "terima kasih." lalu Namjoon dapat merasakan sofa yang sedikit berderit karena bertambah satu lagi beban penghuninya.

Setelah itu tak ada lagi percakapan yang tercipta, Namjoon mensyukuri itu dalam hati. Meski begitu ia tetap kesulitan mengembalikan konsentrasinya pada alur cerita bukunya, padahal biasanya seramai apa pun tempatnya membaca ia selalu bisa berkonsentrasi penuh pada setiap kalimat penyusun alur cerita dalam buku bacaannya.

Pada akhirnya, Namjoon menyerah dan menutup kasar bukunya, menahan sekuat tenaga agar tidak mengirinya dengan umpatan kasar juga. Ia baru menyadari kalau penyebabnya tidak bisa berkonsentrasi penuh pada bukunya adalah aura gugup yang terpancar jelas dari sang penghuni baru sofa. Saat akhirnya ia menoleh, rasa gugup dan gelisah laki-laki di sampingnya semakin terlihat jelas dari telapak kaki berbalut sepatu kets putih yang ia ketuk-ketukan ke lantai atau juga dari kedua telapak tangan yang ia remas-remas semakin kuat. Ia bahkan tidak menyadari perhatian Namjoon yang kini seratus persen beralih padanya.

"Tak perlu gugup." suara Namjoon membuatnya tersentak di tempat, nyaris tersungkur kalau boleh jujur, membuat Namjoon harus berusaha keras menahan senyumnya.

Laki-laki di sampingnya ini terlihat jauh berbeda dengan Namjoon dari segi penampilan. Namjoon hanya mengenakan kaus hitam lengan pendek bertuliskan merk distro terkenal di Gangnam, celana jeans lusuh yang sudah ia miliki sejak sekolah menengah, dan juga rambut hitam yang ia potong pendek nyaris bergaya spike. Sedangkan si penghuni baru sofa mengenakan jaket bomber coklat dengan kaus di dalamnya yang tidak bisa Namjoon lihat jelas warnanya, lalu celana jeans hitam yang terlihat jauh lebih baru dibandingkan milik Namjoon, dan rambut hitam pendek dengan poni yang menutupi seluruh keningnya. Namjoon kira orang-orang akan heran saat melihat mereka yang seperti pangeran dan preman duduk damai berdampingan.

"Aigoo, kau mengagetkanku saja." katanya pelan sembari menepuk-nepuk asal dadanya, "aku punya alasan bagus untuk merasa gugup."

"Oh ya, apa itu?" Tanya Namjoon penasaran, buku di tangannya ia lupakan begitu saja. Ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya sekarang.

"Dasar pelatihanku bukan bernyanyi, tapi akting. Aku di minta ikut audisi untuk Bangtan oleh PD-nim langsung, jadi tidak bisa kutolak."

"Jadi kau ikut audisi ini karena terpaksa?"

Si penghuni baru sofa mengerutkan kening dan menatap Namjoon seolah ia merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan barusan, "tidak bisa dibilang terpaksa juga, karena aku memang suka bernyanyi."

"Oke, kau melakukan apa yang kau suka kan? Lalu apa yang membuatmu gugup?"

Kali ini reaksi pertama si penghuni baru sofa adalah menghembuskan kasar nafasnya. Namjoon melihatnya seperti orang yang sedang mengumpulkan kesabaran dalam menghadapi penghuni sofa lainnya yang ia anggap sama sekali tidak mengerti posisinya. Senyum sudah tidak bisa lagi Namjoon tahan sekarang.

"Kau bercanda ya? Di Bangtan ada Jeon Jungkook! Aku melihat video audisinya kemarin, woah, kurasa tidak ada lagi penyanyi sebagus dia disini," ocehannya berhenti sejenak karena suara tawa Namjoon menginterupsinya, "eh, tunggu dulu. Kau disini juga untuk audisi kan? Maaf, maaf, aku tidak bermaksud meremehkanmu. Hanya saja aku belum pernah melihatmu tampil, jadi aku tidak tahu seperti apa suaramu. Tapi.. tapi.. aku yakin suaramu tidak kalah dengan Jungkook, atau paling tidak setara dengannya.."

"Hei, berhenti bicara dan tarik nafas yang dalam." Namjoon menurunkan nada suaranya, berharap dapat menenangkan si penghuni baru sofa yang semakin dikuasai panik.

Perintahnya diikuti dengan baik. Si penghuni baru sofa menarik dalam nafasnya lalu menghembuskannya perlahan dan melakukannya beberapa kali sampai rasa panik perlahan mulai meninggalkannya. Namjoon tidak melepaskan pandangannya satu detik pun dari si penghuni baru sofa.

"Siapa namamu?" tanyanya tiba-tiba setelah sadar kalau ia tidak bisa selamanya menyebut laki-laki ini si penghuni baru sofa. Apalagi kalau nantinya mereka akan berada di satu grup yang sama.

"Kim Seokjin."

"Kelahiran berapa?"

"Sembilan dua. Kau?"

Namjoon dibuat tertegun sejenak, menatap Kim Seokjin tak percaya. Selama interaksi mereka berlangsung, Namjoon selalu menganggap dirinya sebagai yang lebih tua.

"Kim Namjoon. Salam kenal, Seokjin hyung."

"Oh." Sepertinya bukan hanya Namjoon yang salah perkiraan soal umur, Seokjin juga pasti mengira dirinya lebih muda dari Namjoon jika dilihat dari ekspresi terkejutnya saat ini. "Salam kenal, Namjoon. Maaf soal yang tadi."

Namjoon sadar kalau kini duduknya sudah menghadap Seokjin sepenuhnya. Bahkan jarak antara mereka pun tereliminasi, entah siapa yang memulai untuk mendekat, yang ini tidak terlalu Namjoon sadari.

"Hyung, pertama, aku bukan penyanyi, tapi rapper, kau boleh tanya pada semua pelatih vokal disini kalau suaramu pasti jauh lebih bagus dariku. Kedua, Bangtan tidak butuh kesempurnaan, hyung," Namjoon berhenti sejenak karena menatap Seokjin terlalu lama rupanya mengacaukan sedikit pikirannya. "oke, suara Jungkook memang luar biasa, tapi bukan berarti bocah itu sempurna, masih banyak teknik yang harus ia latih. Jungkook mengatakannya sendiri padaku. Kau sudah pernah bertemu dengannya?"

Seokjin hanya menggelengkan kepala masih dengan ekspresi tertegun yang sama, yang membuat Namjoon kesulitan mencari kata-kata.

"Nanti akan kukenalkan dengannya setelah ini," kali ini Namjoon mengambil jeda dengan berdehem sambil mencari-cari kata yang tepat untuk menyampaikan pikirannya, "menurutku, intinya yang Bangtan butuh kan itu bukan bakat, tapi kerja keras. Karena bakat yang sempurna saja tidak akan cukup membuat kita bertahan nantinya dan semua Member menyadari fakta itu."

"Kau Rap Monster ya?"

Lagi-lagi respon yang diluar prediksi Namjoon. Menghasilkan tawa keras darinya sampai orang-orang lainnya dalam ruangan menatap ke arah mereka. Beberapa detik berlalu ia biarkan tawanya karena rasanya sudah sangat lama terakhir kali ia tertawa lepas begitu. Lalu saat tawanya mulai reda dan pandangannya kembali fokus pada laki-laki di sampingnya, senyum yang terukir disana membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Memangnya kenapa?"

Seokjin yang masih tersenyum menatapnya dalam diam dan tak lama kemudian menggeser posisi duduk lebih dekat dengan Namjoon. Posisi mereka yang tadinya berada di masing-masing ujung sofa kini nyaris berada di tengah sofa dan saling berhadapan.

"Seseorang memberitahuku kalau leader Bangtan, Rap Monster itu lebih muda dariku tapi punya pemikiran yang jauh lebih bijak dan dewasa."

"Baiklah, itu terdengar sepertiku." balasnya diiringi tawa kecil yang anehnya membuat dirinya lebih ringan, "apa seseorang itu juga bilang kalau aku orang yang ceroboh?"

"Dia bilang 'hyung, dalam satu minggu ia bisa memecahkan lima gelas!' tepatnya."

"Ck. Min Yoongi atau Jung Hoseok?"

"Dua-duanya?"

"Seperti perkiraanku." Namjoon berdecak jengkel, diam-diam sudah merencanakan balas dendam pada hyung dan teman seumurannya itu, "kuharap itu tidak membuatmu ragu masuk Bangtan, hyung."

Seokjin menggeleng lagi masih dengan senyumnya yang Namjoon juga sedikit banyak berharap segera menghilang demi keselamatan jantungnya, "malah membuatku semakin berharap bisa lolos audisi."

"Kau pasti lolos, hyung. Aku percaya padamu."

Kalimat terakhir Kim Namjoon saat itu nyatanya masih tetap berlaku sepuluh tahun ke depan atau selama Kim Seokjin berada di sisa hidupnya.

.

When you're lost and you're alone
And you can't get back again
I will find you

.

2013

Namjoon tidak mengerti bagaimana caranya seseorang bisa menguasai penuh seluruh isi pikirannya saat ini. Setiap langkah cepat yang ia ambil hanya berisi satu nama 'Kim Seokjin' dan cara tercepat menemukannya.

Sebagai artis pendatang baru, apalagi ini adalah hari debut panggung pertama mereka, ruang tunggu yang disediakan pihak acara untuk mereka tentu tidak besar. Meski begitu Seokjin hyungnya tetap saja sulit ditemukan keberadaannya di tengah ramainya lalu lalang para penata busana, penata rambut, serta manajer mereka.

"Hob-ah, kau lihat Seokjin hyung?" Namjoon menarik lengan Hoseok untuk dia seret ke sudut ruangan yang lumayan sepi, firasatnya mengatakan tidak semua orang boleh tahu kalau si leader Bangtan sedang panik mencari keberadaan salah satu anggotanya.

"Seokjin hyung duduk di sofa panjang dekat jendela di pojok sana." jawab Hoseok sambil menunjuk arah yang dia maksud dengan kipas tangannya, "sepertinya masih menangis karena kejadian di panggung tadi. Sudah kubilang itu hanya masalah kecil, tak perlu dipikirkan, tapi kau tahu sendiri Seokjin hyung."

Ya, Kim Seokjin dan segala asumsinya soal orang lain selalu lebih baik darinya. Ingin sekali Namjoon memaksa Seokjin untuk melihat dirinya dari sudut pandang yang Namjoon pakai, karena Namjoon hanya dapat melihat hal-hal unik yang menjadi sempurna jika itu dimiliki Seokjin.

"Aku akan coba bicara dengannya."

"Ya ya ya," Hoseok menepuk-nepuk pundak Namjoon lumayan keras, lalu sedikit berjinjit untuk membisikan sesuatu ke telinga Namjoon. "Bisa tolong sekaligus nyatakan cintamu? Aku akan menang taruhan kalau kau menyatakannya hari ini."

Namjoon mengabaikannya, tentu saja. Ia berjalan lebih cepat lagi ke arah yang Hoseok tunjuk dengan wajah memerah dan umpatan kasar pada para anggotanya yang kelebihan semangat setelah debut.

.

Darling, and I will bring you home
And if you want to cry
I am here to dry your eyes
And in no time, you'll be fine

.

"Kau tahu apa yang membuatku kesal, hyung?"

Namjoon sudah berada tepat di hadapan Seokjin yang seperti kata Hoseok tadi, sedang duduk menyendiri di sofa panjang yang terletak di sudut paling belakang ruangan. Areanya sedikit terisolasi dari hiruk pikuk ruang ganti mereka karena di kelilingi rak-rak baju gantung milik penata busana mereka hari ini. Kim Seokjin dan dirinya punya kemahiran yang sama soal menemukan tempat-tempat terisolir bahkan di tengah keramaian sekalipun.

Seokjin mengangkat kepalanya, membuat Namjoon dapat melihat jelas mata sembab dan merah miliknya yang kini menatap penuh sorot kebingungan. Hingga menyajikan ekspresi super imut untuk dinikmati. Namjoon berusaha keras mempertahankan wajah datarnya sembari mengulurkan selembar tisu yang refleks langsung Seokjin terima.

"Wajahmu yang tetap tampan dan manis dan imut saat kau sedang menangis sekalipun," setelah itu Namjoon mengambil posisi duduk di samping Seokjin. Ia mengabaikan ukuran panjang sofa saat memilih untuk tak mengambil jarak sedikit pun dengan Seokjin hingga bagian samping badan mereka bersentuhan dengan sempurna. Wajah datarnya kini di lengkapi dengan kedua tangan yang terlipat di dada dan pandangan lurus ke depan, masih berniat mengabaikan tatapan heran Seokjin untuknya, "membuatku bertanya-tanya kapan sih Kim Seokjin itu jelek?!"

Lalu Namjoon mendapat balasan pertamanya, "kau itu sedang menghiburku atau menghinaku, Namjoonah?"

"Tidak dua-duanya. Aku sedang membicarakan fakta, hyung!" serunya lumayan keras, tapi tidak cukup keras untuk memancing perhatian lalu-lalang orang-orang di balik deretan rak-rak baju gantung di depan mereka.

Saat Namjoon melirik ke samping, ia mendapati Seokjin sedang mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya menggunakan tisu pemberian Namjoon. Ada senyum tersembunyi di balik seluruh gerakan tangan disana, Namjoon dapat melihat itu.

"Fakta ya.. benar juga, wajahku itu kan faktor utama aku berada disini bersamamu."

Kalimat Seokjin akhirnya membuat Namjoon menoleh dengan gerakan terlalu cepat hingga sepertinya ia mendengar bunyi gemeretak dari sendi-sendi di lehernya. Sorot matanya yang semula menghindari Seokjin, kini justru menyorot tajam sepenuhnya pada sosok yang masih sibuk membersihkan wajahnya dengan tisu. Seokjin jelas belum menyadari tatapan intens Namjoon saat ini yang seolah ingin mengguncang-guncang tubuh Seokjin supaya berhenti berpikiran buruk tentang Seokjin Hyungnya.

"Hei, jangan merendahkan Seokjin hyungku begitu."

Tegurannya berhasil memancing tawa Seokjin yang bergumam, "Seokjin hyungmu?"

Namjoon mengangguk sekali tapi penuh ketegasan, matanya masih menatap Seokjin tajam.

"Ya, Seokjin hyungku itu sudah bekerja mati-matian untuk bisa satu panggung dengan kami hari ini."

Seokjin terlihat menggigit bibir bawahnya, bukan lagi menahan tangis tawa senyum yang semakin lebar, seperti perlahan tapi pasti bayang-bayang kesalahannya di panggung tadi terganti dengan serbuan memori masa-masa pelatihannya sebelum debut.

"Oh ya?"

"Tentu saja." Namjoon dengan mudah menggeser posisi duduknya membuat keduanya saling berhadapan, "Seokjin hyungku itu selalu diam-diam berlatih sampai tengah malam. Bahkan Jimin pernah cerita kalau sering menemukannya tertidur di dalam ruang dance karena terlalu lelah latihan sampai tidak sanggup berjalan pulang ke dorm. Seokjin hyungku memang tidak sempurna, sama sepertiku dan anggota lainnya. Tapi dulu aku pernah mengatakannya kan? Kalau yang Bangtan butuh kan bukan kesempurnaan, tapi kerja keras. Jadi jangan pernah lagi meremehkan usaha Seokjin hyungku untuk debut ya, karena itu artinya kau juga meremehkan Bangtan."

Semua kalimat Namjoon ucapkan dalam satu tarikan nafas, jadi setelahnya ia fokus menghirup oksigen untuk paru-parunya. Sampai tiba-tiba di kagetkan oleh tangan-tangan Seokjin yang meraih lehernya untuk di peluk erat.

"Wow, Seokjin hyungmu ini orang yang beruntung sekali ya.." bisikan lembutnya memenuhi pendengaran Namjoon dengan indahnya.

Namjoon balas melingkarkan tangannya ke bahu lebar Seokjin, "lebih tepatnya kami yang beruntung memilikimu, hyung.

.

You think I'd leave your side, baby
You know me better than that

.

2017

Ada saat dimana Namjoon mempertanyakan apa jalan hidup yang sedang ia jalani saat ini adalah hal yang benar.

Ia menyukai musik, itu benar. Musik seperti bagian dari tubuhnya yang terkadang bisa ia rasakan mengalir bersama darahnya saat ia sedang berkutat seharian dengan peralatan dalam studionya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi dulu hal itu adalah yang membuatnya melangkah penuh keyakinan memasuki dunia seorang musisi.

Ya, musisi. Seseorang yang bekerja di dunia musik. Itu pilihan hidup yang ingin Namjoon jalani. Lalu, apa yang ia lakukan sekarang? Duduk menyendiri dalam ruangan tertutup di gedung agensinya yang ia pinta manajernya carikan dengan mengemis-mengemis nyaris menangis, demi menghafal teks pidato yang akan ia bacakan nanti di depan para petinggi PBB. What. the. hell.

Tiga jam sebelum keberangkatan mereka ke New York dan Namjoon sudah sungguhan berada di ambang batas kerusakan mental. Dengan segala keluhannya, bukan berarti Namjoon membenci apa yang akan ia lakukan di New York nanti. Justru ia merasa bangga pada dirinya dan Bangtan karena bisa mendapat kesempatan bicara di area besar sekelas PBB yang ia harap akan menambah motivasi anak-anak muda seperti mereka di luar sana. Tapi kebanggaan yang ia rasakan selalu diiringi sifat perfeksionis menjengkelkan dari dalam dirinya. Hal itu yang Namjoon benci.

Suara pintu ruangan yang di buka membuat Namjoon ikut membuka matanya dan menghentikan gumaman kata-kata hafalannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha tetap tenang menghadapi apa pun atau siapa pun itu gangguan yang akan datang. Sebelumnya, Jimin dan juru kamera Bangtan Bomb sudah nyaris kena amukannya, sebelum mereka berdua akhirnya sadar diri bahwa membiarkan Namjoon sendirian adalah hal yang paling benar saat ini.

Belum sempat Namjoon menolehkan kepala ke arah pintu, Kim Seokjin yang mengenakan jaket bomber hijau tua bersama boneka RJ lumayan besar di pelukannya sudah duduk pada sofa tempat Namjoon menyamankan diri. Anehnya, segala rasa kesal karena merasa terganggu tadi kini perlahan luruh meninggalkan tubuh Namjoon.

"Hyung, aku ingin sendiri." ucapnya dengan bisikan, tak ingin mengontaminasi suasana tenang ruangan yang tetap terjaga meski dengan tambahan satu penghuni baru.

"Aku juga," Seokjin menjawab juga dengan bisikan, "lanjutkan hafalanmu. Aku tidak akan mengganggu."

Kehadiran Kim Seokjin di sana, di sisinya tidak mengganggu, adalah satu fakta yang Namjoon sadari detik itu juga. Jadi Namjoon melakukan apa yang Seokjin pinta tanpa kesulitan. Fokusnya kembali sepenuhnya pada lembaran kertas berisi teks pidato, sementara Seokjin yang duduk diam di sampingnya menambah suasana tenang ruangan persis seperti yang Namjoon inginkan sejak awal.

Sampai ketukan pintu serta suara salah satu manajer berkata, "Namjoonah, setengah jam lagi kita berangkat" menyadarkan Namjoon kalau tiga jam telah berlalu. Tak ada yang berubah dari suasana ruangan, masih di penuhi ketenangan yang bahkan perpustakaan terbaik dunia pun tak bisa mengalahkannya. Hanya suara gumaman Namjoon yang melafalkan kata-kata bahasa Inggris yang ia yakini semua sudah berada dalam ingatannya.

Oh. Satu hal yang berubah.

Entah bagaimana prosesnya, Namjoon tidak begitu menyadarinya, yang pasti tak ada lagi jarak antar dirinya dan Seokjin seperti di awal tadi. Mereka duduk berdempetan di atas sofa panjang yang cukup di huni sekitar lima orang. Namjoon bahkan menjadikan bahu Seokjin sebagai sandaran kepalanya setelah lehernya mulai terasa kaku di tengah-tengah proses menghafalnya tadi.

"Namjoonah, kau mendengarku?" satu lagi teriakan dari balik pintu sana.

"Ya, hyung."

"Apa Seokjin ada disana juga? Dia tidak bersama dengan anggota lainnya sejak tadi."

Namjoon rela meninggalkan posisi bersandarnya hanya agar bisa menatap Kim Seokjin dan segala kesempurnaannya yang terlihat sederhana. Namjoon memberikan senyum terbaiknya, Seokjin membalas dengan tawa lepasnya.

"Ya, Seokjin hyung disini." Selalu disini, setiap aku membutuhkannya. Kalimat terakhir ia lanjutkan dalam bisikan, jadi hanya Kim Seokjin seorang yang dapat mendengarnya.

Namjoon berhenti mempertanyakan apa jalan hidup yang sedang ia jalani saat ini adalah hal yang benar, karena kehadiran Kim Seokjin selalu membuat semua hal benar dalam hidupnya.

.

.

Oh, when you're low
I'll be there by your side, baby

.

.

.

.

.


ini terinspirasi dari video yt yang nunjukin namjin punya daya magnet sendiri. Linknya ada twitterku buat yang mau lihat.

eh iya, sekalian disini aku mau bilang kalo aku ga pernah publish tulisan-tulisanku di website lain, selain ffn dan nantinya ao3 (nama akunnya sama semua)

jadi kalau ada yang nemuin fanfik punyaku di luar sana yang cuma diganti nama karakter, itu udah pasti bukan aku dan kalau bisa tolong langsung di report saja ya. Kemarin sempet lumayan down pas tau Second ada yang ambil tanpa ijin dan nama-nama karakternya diganti dengan grup lain :') tapi ya sudah aku ga mau perpanjang masalahnya karena siapapun pelakunya aku anggap itu cara ekstrimnya buat apresiasi Second.

lagi mulai ngumpulin mood buat nulis lagi, kemungkinan Act bakal dilanjut kalo ada yang masih nungguin, but I still won't promise anything, dear..