Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.

- Alternate universe setting out of character.

- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.


Black Blood

.

.

.

Chapter Four

A Cup of Tea

.

.

.

Setelah menerima sikap baik dari pemuda itu, Chouchou lengah dengan kembali mengharapkan sikap serupa dari orang yang jelas-jelas sempat membentaknya dan melukainya. Seharusnya ia tidak kaget sekarang pemuda ini lagi-lagi memperlakukannya dengan buruk.

"Kau kuizinkan menunggu di ruang tengah, tapi jangan sekali-kali lagi kau masuk kamarku!" Pemuda itu masuk dan membanting pintu kamarnya, meninggalkan Chouchou sendirian di ruang tengah.

Apa boleh buat, ia terjebak di tempat ini sekarang. Sama seperti sikap pemuda itu, cuaca di luar sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Kantuk kembali menyerang Chouchou yang bisa dibilang dalam waktu yang tepat.

Gadis itu merebahkan dirinya di atas sofa empuk yang sempat ditiduri si pemuda. Karena bergadang semalaman, Chouchou tidur pulas dengan cepat.

Entah berapa lama tepatnya Chouchou tertidur, ketika ia bangun, hari sedikit lebih terang namun karena hujan belum juga mereda, sulit menembak waktu hanya dari langit. Hal pertama yang terpikir saat ia bangun adalah: lapar!

Bunyi perutnya terdengar keras, bahkan cukup terdengar di antara petir yang menggelegar di luar.

Ini buruk. Ia tidak bisa memesan pizza juga tidak bisa membeli bahan makanan ke pasar swalayan terdekat. Ia sudah persis seperti tahanan perang saja.

Rasa lapar itu memaksa Chouchou bangkit dari sofa. Sesuatu terjatuh saat ia berdiri. Dipungutnya benda itu di lantai, sebuah kardigan pria. Ini bukan miliknya. Chouchou tersenyum tipis. Seseorang menyelimutinya saat tidur, kalau bukan pemuda itu, maka siapa lagi?

Chouchou ingat pemuda itu melarangnya masuk ke kamar, tapi meski takut-takut, Chouchou merasa harus mengembalikan kardigan ini dan berterima kasih. Pemuda itu sudah berbaik hati membiarkannya tidur di sini dan menyelimutinya dengan kardigan saat tertidur. Terlepas banyaknya hal tidak menyenangkan yang terjadi antara Chouchou dengannya, terlepas dari pemuda itu yang seringkali bersikap kontradiktif.

Chouchou mengetuk pintu jati kamar pemuda itu dengan hati-hati. Berkali-kali ketukannya membunyikan pintu itu, namun tak ada balasan yang Chouchou terima.

Pemuda itu mungkin masih terlelap, lebih baik Chouchou menunggunya keluar. Mungkin ini terdengar aneh, tapi Chouchou merasa sangat gusar hingga ia nekat membuka pintu itu sendiri, tanpa peduli hal itu sama dengan masuk secara sukarela ke dalam kandang ular berbisa.

Ketika Chouchou masuk, perasaan gusarnya segera terjawab, ia disambut pemandangan yang memilukan. Pemuda itu tergeletak di lantai dekat tempat tidur, terbaring memunggunginya.

Chouchou segera berlari menghampirinya. Pemuda itu tidak sadarkan diri. Kedua matanya yang berkantung hitam terpejam rapat. Ada bekas darah merah pekat kehitaman mengalir dari bibirnya.

Chouchou menyelimutinya dengan kardigan lalu meraih tubuh itu yang terasa dingin saat disentuh.

Meski sedikit kesulitan, ia berhasil membopong si pemuda. Tidak mengherankan, tubuhnya kurus, sangat kurus, seperti tulang berbalut kulit. Dari piamanya yang tidak terkancing, Chouchou bisa melihat tulang selangka dan tulang rusuk yang menonjol di dadanya. Ditambah lagi, wajahnya sangat pucat, seperti tak ada darah yang mengalir di sana, membuat Chouchou semakin prihatin melihat pemuda yang tertidur di pangkuannya.

Ia baringkan tubuh lemah itu di atas kasur, dengan teramat hati-hati. Kemudian ia naikkan selimutnya hingga menutup dada.

Dengan handuk hangat, ia membersihkan darah di bibir dan di pipinya. Di tengah kegiatan itu, pemuda itu membuka matanya perlahan. Chouchou sudah bersiap jika pemuda itu melemparkan satu lampu lagi dari meja nakas.

Tapi itu tidak terjadi.

Pemuda itu hanya menatapnya dengan kedua mata sipitnya yang sayu.

Mendadak Chouchou merasa gugup. "Ah, tadinya saya ke sini hanya ingin berterima kasih dan mengembalikan kardigan Anda." Chouchou menengok kanan-kiri, mencari jam dinding. "Sekarang sudah tengah hari, Anda pasti lapar."

Pemuda itu merintih lirih mendengar kata "lapar", ia bahkan sudah lupa seperti apa perasaan lapar itu.

Diamnya si pemuda Chouchou anggap sebagai "ya". Gadis itu segera beranjak ke dapur, mencari bahan makanan apa pun yang bisa mereka konsumsi. Sayangnya, dugaannya semula benar. Hanya air dan teh untuk mengisi perut.

Teh dalam tin hanya cukup untuk satu orang. Dilihat dari sudut pandang mana pun, pemuda itu jauh lebih membutuhkan minuman ini ketimbang dirinya.

Chouchou seduh teh lavendel itu dalam cangkir yang baru saja ia cuci karena cangkir itu cukup berdebu.

Setelah siap, Chouchou segera membawanya ke kamar si pemilik rumah.

Pemuda itu masih terjaga saat Chouchou kembali. Perlahan Chouchou taruh secangkir teh itu di atas meja nakas yang kosong tanpa lampu. "Anda belum sarapan dan makan siang, Sir. Minumlah ini dulu."

Pemuda itu mendecih, tahu apa gadis itu tentang dirinya? Sarapan dan makan siang? Jangan bercanda!

Chouchou membantu pemuda itu bangkit duduk dan mengarahkan secangkir teh itu ke mulutnya. Dan lagi-lagi hal yang tidak Chochou harapkan terjadi.

Pemuda itu menepis tehnya.

Cangkir teh terlepas dari tangan Chouchou, terjatuh hingga berkeping-keping, isinya tumpah menyebar di lantai, persis seperti perasaan Chouchou yang terbuang dan berantakan.

Kali ini Chouchou tidak bisa bersabar lagi, tidak peduli pemuda ini adalah "tuan"-nya. Dirinya marah melihat satu-satunya yang bisa dikonsumsi di rumah itu terbuang percuma. Dan yang lebih parahnya lagi, yang membuangnya adalah seorang pemuda sakit dan kurus yang jelas-jelas membutuhkannya.

"Sebenarnya Anda ini maunya apa?! Sudah kurus begitu, bisa-bisanya menolak?! ANDA CARI MATI?!"

"YA! AKU MEMANG INGIN MATI!"

Jawaban itu membuat Chouchou terpaku tanpa bisa berkata-kata lagi. Pemuda ini… ingin mati, katanya?

Kata-kata putus asa itu… Chouchou paham betul karena dirinya sendiri pernah mengalaminya. Entah ada dorongan dari mana lagi, Chouchou ingin menolongnya, meyakinkannya bahwa ada jalan keluar lain selain mati, meskipun itu membutuhkan pengorbanan.

Air mata Chouchou menetes menatap pemuda itu yang tengah menunduk dan menahan perih.

"Saya percaya Anda bisa sembuh… jadi jangan berkata begitu." Perlahan, Chouchou mengusap punggung ringkih pemuda itu dan merasakan tulang punggungnya yang menonjol.

Pemuda itu… tanpa sadar menitihkan air matanya. Ia tidak mengerti. Semenyiksa apa pun rasa sakit di tubuhnya, ia tidak pernah menangis sebelumnya. Lantas mengapakah ia menangis sekarang?

Pemuda itu mengangkat wajah tirusnya dan balas menatap gadis itu, merasakan kehangatan dalam belaian lembut di punggungnya.

Pemuda itu… tersenyum lembut dan tulus.

Senyuman itu sampai ke mata pemuda itu. Tak pernah sekali pun Chouchou merasa begitu terhibur hanya karena menerima senyuman.

Namun sayang, senyuman itu lenyap segera setelahnya, terhapus erangan lirih yang terdengar begitu memilukan. Pemuda itu menekan dadanya dan berusaha mengatur napas.

Di sela-sela napasnya yang pendek-pendek, pemuda itu melirik ke luar jendela sebelum kembali ke wajah Chouchou.

"Kau benar… aku memang bisa sembuh."

Chouchou tersenyum senang mendengar pemuda itu sepertinya menemukan semangat hidupnya kembali. Tapi kata-kata yang selanjutnya dilontarkan pemuda itu lagi-lagi memasukkan Chouchou dalam situasi yang penuh dengan tanda tanya.

"Tapi jika aku sembuh, kau akan mati." Pemuda itu mendorong tubuh Chouchou menjauhinya. "Kumohon, cepatlah pergi. Kau jauh lebih pantas hidup dibandingkan aku."

Chouchou tak melawan gerakan lemah pemuda itu, tubuh gemuk Chouchou terdorong hingga ke tembok di belakangnya.

Maksud pemuda ini… sebenarnya apa?

"Miss… cuaca di luar sudah membaik. Pergilah, dan kumohon jangan pernah kembali lagi."

Pemuda itu memohon dengan sungguh-sungguh, kemudian tersenyum sekali lagi. Begitu manis dan lembut, namun sarat akan kepedihan.

.

.

.

To Be Continued

Next Chapter

A Laboratory

.

.

.


Author's note:

Apa kabar, semuanya? Mungkin kalian udah pada melupakan fanfic ini? Ya, gak apa-apa. Soalnya aku sendiri sempet pengen nyerah, soalnya kupikir cuma aku sendiri yang excited di sini. Kupikir, gak ada orang yang tertarik nunggu kelanjutan cerita ini, alih-alih lebih milih naruh fanfic ini di tong sampah.

Tapi entah datang dari mana, semangat itu muncul, aku pengen nyelesain kisah mereka. Sebelumnya aku udah pernah nulis tanpa aku beresin dan itu masih aku sayangkan sampai sekarang. Jadi, aku bakal berusaha untuk selesain fanfic ini, terlepas kalian peduli atau nggak, terlepas kalian suka atau enggak.

Terima kasih banyak udah baca sampai sini, dukungan kalian berarti banget buat aku. :)


Balasan untuk reviewer:

Febrichan2425: Wah makasih banyak dukungannya, seneng banget ada yang baca sampai sini. Yah, Mitsuki-nya tsundere nih. Baca terus ya, soalnya dia punya alasan kuat kenapa bersikap begitu. :D