Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.
- Alternate universe setting out of character.
- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.
Black Blood
.
.
.
Chapter Five
A Laboratory
.
.
.
"Kau yakin, Chouchou?"
Chouchou menunduk dan tak langsung menjawab. "Ya, saya ingin kembali ke Gloucestershire," tuturnya tanpa yakin. "Saya sudah tidak punya alasan lagi untuk menetap di London."
Mrs. Wingsley mendesah. Hati kecilnya menyayangkan keputusan Chouchou untuk mengundurkan diri karena tak ia pungkiri dirinya benar-benar butuh jasa gadis itu, tapi ia juga tidak bisa menahan gadis tambun itu di sini. Chouchou punya kehidupan sendiri.
"Kau sudah menghitung uangmu?"
"Sudah, jumlahnya pas, Madam."
Chouchou tak menduga akan mendapat bagian sebanyak ini, yakni 85% dari total jumlah yang dibayarkan tuan berambut perak. Ia benar-benar sudah salah mengira tentang Mrs. Wingsley. Wanita itu memang ketus dan frontal, tapi wanita itu mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan kepedulian pada orang lain.
Tanpa basa-basi lagi, Chouchou berpamitan pada Mrs. Wingsley. Tubuhnya membungkuk, menyalaminya ala budaya Jepang. "Terima kasih banyak, Madam."
Mrs. Wingsley tersenyum tipis dan mengangguk.
Tanpa disangka-sangka, kedua kaki gemuk Chouchou melangkah meninggalkan rumah bordil dengan berat hati, salah satu tempat yang sebelumnya paling mengerikan untuknya.
Chouchou menengadahkan kepala menatap langit kota London yang selalu mendung.
Benarkah rumah bordil yang membuatnya berat hati? Ataukah seseorang yang ditemuinya di sana?
Chouchou menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil merapatkan mantelnya. Ia bergegas ke Stasiun Paddington sebelum berubah pikiran lagi, ia tidak boleh membiarkan tiket kereta yang sudah ia pesan untuk pulang hangus begitu saja hanya karena perasaan remeh yang absurd.
Sekarang ia sudah punya cukup uang untuk melunasi utang orang tuanya pada rentenir, maka ia harus pulang sekarang. Sesuai dengan tujuan awal ia mendatangi kota ini, segera setelah ia punya cukup uang, pulang!
.
.
.
Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya yang muram.
Entah mengapa, ia selalu teringat akan belaian lembut di punggungnya. Merasa sesuatu menghilang dari dalam dadanya sejak gadis gemuk itu pergi, seolah gadis itu membawa sepotong hatinya. Ia yang semasa hidup hanya mengenal laboratorium, jarum suntik, ventilator, dan elektrokardiogram, ia tak pernah sekali pun mendapat perlakuan lembut sampai gadis itu hadir dalam kehidupannya.
Tumbuh lebih dari dua puluh tahun tanpa kasih sayang telah membekukan hatinya yang sudah terlalu banyak menanggung luka. Tapi kenapa… di hadapan gadis itu dadanya menghangat, sensasi magis itu terus menjalar hingga ke wajahnya, membuat ia yang tak punya air mata bahkan menangis?
Ah, betapapun ia menyuruh gadis itu pergi, ia tetap mengakui bahwa hati kecilnya menjerit sebaliknya. Ia menginginkan gadis itu tetap tinggal….
Masih dengan berbaring di tempat tidurnya, pandangannya yang tak berbinar kini terarah ke jendela. Menatap rerumputan di halaman yang terpotong rapi tanpa dihiasi sekuntum bunga pun.
Ia tahu harapannya terlalu muluk kalau ia mengharapkan bertemu dengan gadis itu bahkan paling tidak hanya untuk sekali lagi. Maka tak ada hal lain yang bisa ia harapkan selain kematiannya sendiri. Hanya dengan cara itu, ia dapat melenyapkan serangkaian rasa sakit tak terkira ini tanpa melukai orang lain.
Ia begitu menderita karena sakitnya, namun ia juga tidak ingin menjadi pembunuh dengan menularkan rasa sakit ini, maka hanya matilah jawabannya.
Dirinya tahu betul, sekarang ini ia tengah sekarat, tinggal menunggu waktu hingga tubuh ringkih ini sepenuhnya kalah akan rasa sakit yang bertubi-tubi itu.
Tapi pemuda itu tak sanggup menunggu lagi. Setiap kali menarik napas, rasanya seperti seseorang meremas jantungnya dengan tangan kosong. Setiap kali kedua matanya berkedip, kepalanya seolah siap meledak saat itu juga. Setiap kali tubuhnya bergerak, seluruh tulangnya seakan telah remuk.
Ia tak sanggup hidup seperti ini! Kemudian senyuman miris merekah di bibir pucatnya, memangnya sejak kapan dirinya "hidup"?
Tapi ia sendiri pun belum mati. Bagaimanakah caranya mati itu? Di saat dirinya sendiri bahkan tak mampu untuk sekadar beranjak ke dapur untuk mengambil pisau?
Saat kelopak matanya memberat, sayup-sayup ia mendengar suara pintu dan derap langkah mendekat ke arahnya.
Gadis itu lagi.
Ia sangat senang. Tapi… gadis itu tak boleh berada di sini. Tak boleh… setiap kali gadis itu datang, naluri tubuhnya sering kali bernafsu untuk membunuhnya! Gadis itu dalam bahaya jika terus berada di dekatnya!
"Kau! Harus berapa kali kukata—"
"Saya tak bisa pergi, Sir! Saya tak bisa!"
Pemuda itu terlalu terkejut untuk bereaksi. Gadis ini… memeluknya?!
Setelah beberapa saat, pemuda itu tak merasakan tanda-tanda gadis itu akan mundur, alih-alih ia merasa dekapan gadis itu semakin erat dan perlahan ia rasakan kemejanya telah basah oleh air mata yang hangat.
"Bagaimana mungkin… saya meninggalkan penyelamat hidup saya dalam keadaan seperti ini? Sir, saya mohon jangan usir saya! Karena saya tak tahu lagi bagaimana cara saya berterima kasih atas uang yang Anda bayarkan pada saya!"
Gadis itu terisak-isak di dadanya. Pemuda itu belum pernah berada dalam situasi seperti ini dan tidak tahu sama sekali bagaimana mengatasinya. Namun kedua tangan kurusnya bergerak spontan, membalas dekapan gadis itu dan mengusap punggungnya yang bergetar akibat tangis.
Palukan itu tak hanya nyaman bagi si gadis, namun bagi si pemuda juga. Mereka terus saling membagi kehangatan sampai pemuda itu membuka suara, "Mitsuki," katanya dengan suara serak. "Namaku Mitsuki." Dirinya sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia sukarela memberitahukan namanya.
"Mitsuki-san berasal dari Jepang?" tanya gadis itu dalam bahasa Jepang. Ia melepas pelukannya dan menatap wajah tampan Mitsuki lekat-lekat.
Mitsuki mengangguk sepintas.
Gadis itu tampak sumringah, senyumannya lebar dan sepenuh hati, kedua tangan hitamnya meraup kedua tangan Mitsuki yang putih. "Ayah saya juga berasal dari Jepang. Nama saya Akimichi Chouchou, saya lebih senang dipanggil dengan nama dibandingkan dengan marga saya. Salam kenal, Mitsuki-san."
Mitsuki masih bergeming.
"Saya membawakan sesuatu untuk Mitsuki-san, saya mohon jangan menolaknya kali ini."
Pemuda itu mengamati apa yang gadis itu lakukan selanjutnya. Menunjukkan padanya paper bag super besar yang dibawanya dan mengeluarkan sangat banyak makanan dan minuman dari dalam sana. Roti-roti baguette, Shepherd's pie, sup krim wortel, sup Miso, jus jeruk, susu, teh hijau, wassail, croissant, baumkuchen, dan entah berapa stoples kukis. Semuanya gadis itu tata di atas tempat tidur karena meja nakas tidak cukup untuk menampungnya.
Mitsuki menatap semuanya tanpa berkedip. "Kau pikir aku sanggup menghabiskan semuanya?" Sekalipun tubuhnya normal, Mitsuki yakin dirinya tidak akan sanggup menandaskan bahkan setengah dari makanan dan minuman yang Chouchou bawakan itu.
Chouchou menatap nanar wajah Mistuki yang tirus, kulitnya pucat, matanya sayu, dan pipinya cekung. Seluruh tubuhnya sangat kurus hampir seperti pengidap Anoreksia. "Mitsuki-san, saya lihat Anda kekurangan berat badan. Saya membawakan banyak makanan karena tidak tahu makanan seperti apa yang Anda sukai. Anda tidak perlu khawatir, Anda boleh memilih salah satu, yang penting perut Anda terisi." Chouchou tersenyum kembali, tangan gemuknya mengusap punggung si pemuda.
Menerima perlakuan itu menghalangi Mitsuki untuk menolak. Dengan tangan bergetar ia meraih sendok dan menyuap sup Miso.
Dalam seumur hidup, ini menjadi kedua kalinya ia makan.
Chouchou memperhatikannya dengan gusar, di matanya pemuda itu seolah tengah mencoba bunuh diri alih-alih makan. Pemuda itu tampak sangat tegang dan ketakutan. Chouchou dapati keringat membasahi wajah Mitsuki saat sesendok sup Miso itu berhasil lolos masuk ke mulutnya. Dahinya mengerut dan tak lama kemudian tangannya yang masih bergetar membekap mulutnya, sementara satu tangannya lagi cepat-cepat menjangkau paper bag.
Mitsuki memuntahkan semuanya. Bukan hanya sesendok kuah sup Miso, tapi juga cairan tubuhnya, darah.
Kedua mata Chouchou terbelalak, tubuhnya yang sangat panik refleks mendekat dan tangannya memijat lembut punggung Mitsuki. Mendadak ia merasa bersalah telah membawakan makanan sembarangan untuk Mistuki. Apakah pemuda ini keracunan? Atau memiliki alergi parah?
Mitsuki masih belum berhenti muntah bahkan hingga paper bag anti air itu sudah hampir terisi seperempatnya. Pemuda itu sendiri sangat berharap muntahnya bisa segera berhenti, namun tubuhnya bergerak sendiri, lagi dan lagi memuntahkan darahnya seolah ingin menguras habis cairan tubuhnya.
Perutnya perih setengah mati dan kepalanya pening luar biasa.
Setelah muntahnya berhenti Chouchou merogoh tasnya dan mengelurakan beberapa lembar tisu dan menyeka sisa darah di bibir kering Mitsuki.
Ketika itulah tangan Chouchou seketika membeku. Gadis itu pernah melihat pemuda ini berdarah sebelumnya, tapi baru kali ini gadis itu benar-benar memperhatikan warna darahnya. Setelah melihat darah di bibir pemuda itu, takut-takut pandangannya bergulir mengintip isi paper bag.
Hitam.
Darah Mitsuki berwarna merah gelap nyaris hitam pekat.
"Sekarang kau tahu… aku bukanlah manusia. Bagaimana? Kau takut padaku… Chouchou?"
.
.
.
Dalam sebuah laboratorium luas dan dingin, seorang pemuda berambut kuncir memungut pecahan kaca yang terserak di lantai kemudian membuangnya kembali. "Tak ada yang tersisa," katanya, di sela helaan napas putus asa. "Dia menghapus semua data sampai ke backup-nya dan memusnahkan semua serumnya."
Lawan bicara pemuda itu tetap bergeming.
"Hampir mustahil kita bisa membuat 'Mitsuki' lagi, Orochimaru-sama." Pemuda itu tidak ingin mengakuinya tapi kenyataannya Mitsuki memang sangat pintar. Pemuda berambut perak dan bermata emas itu tak hanya terang-terangan menolak terlibat dalam rencana besar Orochimaru-sama, tapi juga berniat menggagalkan usaha bertahun-tahun dalam laboratorium rahasia itu.
"Tenang saja, Kabuto," timpal seorang pria dengan rambut hitam panjang dan bersuara serak. "Dia tidak akan bertahan dengan kondisi seperti itu. Sekalipun kita tidak bisa membuat yang seperti dirinya lagi, cepat atau lambat virus itu akan menyebar. Kita lihat saja, rencanaku berjalan sempurna."
Pemuda bernama Kabuto itu memperbaiki letak kacamata bundarnya yang sempat melorot. "Baik, kalau Orochimaru-sama yang berkata demikian, saya tidak akan risau."
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Drop of Blood
.
.
.
Author's note:
Halo, ketemu lagi kita! XD
Di chapter ini latar belakang Mitsuki mulai terkuak sedikit ya? Ada yang bisa tebak hal apa lagi yang menanti di chapter depan? Kalian pengennya aku buru-buru tamatin atau santai aja nih? Aku tunggu jawabannya di kolom review ya! :D
Tak lelah aku ingetin kalau dukungan kalian berarti banget buat aku, sekali pun yang baca fanfic ini cuma seorang, itu udah cukup buat memotivasi aku ngelanjutin fanfic ini. So, kutunggu terus dukungannya ya, supaya aku bisa tau kalau fanfic-ku beneran dinikmati orang, hehe. :)
Balasan untuk reviewers:
sebastiansonubatulalala: Sama-sama! Aku juga terima kasih udah mau membaca karyaku yang gak seberapa ini. Mudah-mudahan penantiannya gak mengecewakan ya. :D
Anon: Thank you so much for reading this fanfiction. I'll try my best, hope you like it! :)
