Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.

- Alternate universe setting out of character.

- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.


Black Blood

.

.

.

Chapter Six

A Drop of Blood

.

.

.

Saat Mitsuki untuk pertama kalinya membuka mata, dirinya tengah mengambang dalam sebuah tabung kaca besar berisi cairan bergelembung. Di sekelilingnya banyak tabung-tabung serupa yang berisi sosok-sosok anak kecil yang mirip sekali seperti Mitsuki. Namun tidak seperti Mitsuki yang membuka mata dan mengambang, mereka semua terbaring di dasar tabung masing-masing.

Apakah mereka semua saudaranya? Apakah mereka kesakitan?

Dua orang yang datang mengalihkan pandangan Mitsuki. Satu berambut panjang hitam, dan seseorang yang lebih muda mengenakan kacamata bundar dan rambut kelabu berkuncir. Mereka menatap Mitsuki dengan senyuman lebar, seolah menawarkan harapan besar. Mereka saling bicara namun tatapan mereka tak lepas dari Mitsuki. Sayang, Mitsuki tak dapat mendengar satu kata pun yang mereka lontarkan.

Seseorang dengan rambut kelabu menarik tuas di sisi tabung, perlahan cairan di dalamnya surut membuat Mitsuki berdiri dengan kedua kakinya. Tabung kaca dibuka dan pemuda itu mengeluarkan Mitsuki dari sana, membawanya ke luar dari ruangan penuh tabung itu.

"Dia yang terakhir, Kabuto. Pastikan anak ini selamat!" ujar pria berambut panjang itu dengan suara serak dan nada dingin.

"Kalkulasi saya kali ini tidak akan meleset, Orochimaru-sama."

Pria dan pemuda itu berpisah ketika lorong bercabang. Seseorang bernama Kabuto itu menyeret Mitsuki dengan kasar. Mitsuki kecil tak memiliki ingatan apa pun, tapi ia merasa sangat takut entah karena apa.

Pemuda itu terus menyeretnya ke lorong-lorong panjang yang gelap dan berbelok ke lorong lain berkali-kali sampai mereka dihadapkan pada sebuah pintu besi besar.

Mitsuki mundur beberapa langkah, Kabuto memelototinya dan menyeret paksa ia masuk.

Ruangan sempit itu begitu suram, lampu neon di langit-langit sudah redup. Dalam cahaya putih yang remang-remang, Mitsuki menemukan banyak ceceran darah yang telah kering di lantai, dinding, dan brankar.

Mitsuki dipaksa berbaring di atas brankar itu. Kedua tangan dan kakinya diikat. Diperlakukan seperti ini semakin menakuti Mitsuki. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.

Sementara Kabuto mempersiapkan sesuatu di meja besi. Pisau, suntikan, beberapa botol kaca, dan entah benda apa lagi.

Pemuda itu mengenakan masker dan sarung tangannya sebelum kembali menghampiri Mitsuki. Sebuah suntikan berisi cairan hitam pekat berada di tangan kanannya.

Mitsuki semakin panik dan ketakutan, namun ia tidak bisa melakukan apa pun saat jarum itu menusuk lengannya. Tangan Mitsuki membiru seketika dan otot-ototnya yang lemah mendadak menegang.

Ia hanya bisa mengerang, menjerit keras, dan terus meronta-ronta seiring cairan dalam suntikan itu memasuki tubuhnya. Rasa perih di tangannya itu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya.

"SAKIIIIIIT! KUMOHON HENTIKAAAAAAAN!" jeritanya di sela-sela erangan kesakitannya.

Setelah memekikkan rasa sakit tak henti-henti, ia mulai kelelahan, hanya bisa menahan nyeri di setiap inci tubuhnya. Keringat terus mengucur, dahinya mengerut dalam, dan kedua matanya terpejam.

Ia pikir siksaannya berakhir, namun ternyata tidak. Setelahnya ia segera tahu tujuan keberadaan pisau itu.

Kabuto itu menyibak pakaian Mitsuki hingga perutnya terbuka.

Mitsuki yang sudah lemah hanya bisa berucap lirih, "Apa yang kau lakukan?"

Tanpa perlu menerima jawaban, Mitsuki segera tahu. Pemuda ini berniat menyayat kulit perutnya, dan mengamati darah yang mengalir dari sana.

Mitsuki lagi-lagi hanya bisa menahan perih, tenaganya telah terkuras habis setelah menjerit dan meronta-ronta tadi.

Dari luka di perutnya itu, darah yang semula berwarna merah berangsur-angsur berubah warna kehitaman. Setelah darah yang mengalir menjelma hitam sepenuhnya, Mitsuki merasa isi perutnya merangsek keluar.

Ia muntah.

Ia tolehkan kepalanya ke samping. Dari mulutnya, ia tak henti-henti memuntahkan darahnya yang merah. Lagi dan lagi ia begitu tersiksa dengan serangkaian nyeri di sekujur tubuhnya, kini ditambah dengan perih di perut dan pening di kepala.

"Sakiiit… sakiiit…," rintihnya di sela-sela muntah dan batuk-batuknya.

Ia muntah terus-menerus hingga darahnya yang berwarna merah telah habis, baru berhenti hingga seluruh darah di setiap aliran tubuhnya berwarna hitam.

Mitsuki kembali memejamkan mata setelah kelelahan dan kesakitan yang menyiksanya selama berjam-jam. Namun Mitsuki masih bernapas.

Kabuto tersenyum puas. "Mitsuki-ku kali ini berhasil!"

Dengan napas terengah-engah Mitsuki berusaha mencoba membuka mata namun tak sanggup.

Kabuto tahu bocah itu tidak tertidur. Ia mencondongkan tubuhnya mendekat, berbisik ke telinga Mitsuki. "Dengar, Mitsuki. Aku terpaksa melakukan ini karena manusia-manusia biadab itu. Jadi jangan salahkan aku, salahkan mereka."

Tak ada reaksi dari Mitsuki, ia masih bertahan di posisinya tanpa bergerak sedikit pun.

"Jahat sekali mereka. Kau pasti sangat kesakitan, bukan?" Kabuto mengusap kepala Mitsuki dengan lembut. "Biar kuberitahu sesuatu yang bisa membebaskanmu dari serangkaian penderitaan ini." Kabuto terkekeh. "Darah mereka… setetes darah manusia saja sudah cukup untuk menyelamatkanmu."

.

.

.

Sejak kemarin Chouchou tiada henti memikirkan perkataan Mitsuki.

Apa maksudnya bukan manusia?

Pemuda itu adalah monster yang tidak bisa mengonsumsi makanan dan minuman manusia, katanya?

Semuanya terlalu aneh untuk dicerna begitu saja. Tapi ini memang menjelaskan banyak hal, pemuda itu berniat membunuhnya, menepis teh buatannya dan sesendok sup Miso membuat pemuda itu muntah-muntah parah. Dan lagi, darah pemuda itu…

Hitam.

Mitsuki pasti memang istimewa, tapi di mata Chouchou ia jelas-jelas manusia. Ia tersenyum, ia menangis, dan ia… kesakitan.

Sekarang, akibat muntah terlalu banyak, Mitsuki semakin lemah dan berakhir demam tinggi. Pemuda itu bahkan tak sanggup hanya untuk sekadar mengangkat satu jarinya.

Di tengah tidurnya, Mitsuki mengerang lirih disusul batuk-batuk pelan.

Sebelum kondisinya semakin memburuk kemarin, Mitsuki sempat bertanya apakah Chouchou takut padanya. Melihat keadaan pemuda itu sekarang, bagaimana Chouchou bisa takut? Yang ada, justru Chouchou ingin menyelamatkannya. Walaupun, pemuda itu juga sempat berkata bahwa bila pemuda itu selamat, maka Chouchou sendiri yang akan mati.

Chouchou sama sekali tidak mengerti apa maksudnya namun saat ini ia tidak ingin berpikir ke arah sana. Gadis gemuk itu menggenggam tangan ringkih pemuda itu yang hanya menyisakan tulang dan kulit. Ia usap lembut demi memberikan kehangatan.

Pasti ada cara! Pasti ada cara! Mitsuki akan terus hidup bersama-sama dengannya! Apa pun yang terjadi!

.

.

.

To Be Continued

Next Chapter

A Sacriface

.

.

.


Author's note:

Gimana episode ini menurut kalian? Kecepetan gak? Padahal rencananya ini bakal jadi chapter terakhir tapi aku putuskan buat dipecah sama chapter depan. Mending chapter depan kutamatin apa kupanjangin lagi ya? Ditunggu jawabannya di kotak review ya. XD

Mungkin di sini ada yang masih baru baca di FFN? Kalau kalian belum punya akun pun tetep bisa review kok, tenang aja. :D

Buat yang udah baca sampai sini dan bersedia review di chapter sebelum-sebelumnya, makasih banyak ya! Kalian yang bikin aku tetep semangat lanjutin fic ini! XD


Balasan untuk reviewers:

Mahartroops23: Makasih sudah meninggalkan jejak ya, seneng deh. :)

Guest: Wah, mudah-mudahan terjawab ya rasa penasarannya. :D

gekanna87: Yaampun gak nyangka fanfic ini di-review sama author favorit. Mudah-mudahan ya bisa terus menulis di sini, jadi bisa saling review. XD