Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.
- Alternate universe setting out of character.
- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.
Black Blood
.
.
.
Chapter Seven
A Sacriface
.
.
.
Dalam genggaman Chouchou, tangan Mitsuki bergerak lemah membalas genggaman itu.
Chouchou terkesiap sampai menitihkan air mata saking senangnya. "Mitsuki-san, Anda sudah sadar, yokatta!" ucapnya penuh syukur.
Mitsuki mengerjap lalu membiarkan matanya setengah terbuka. Yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Chouchou yang tengah menangis namun juga tersenyum. "Gomen… sudah membuatmu takut, Chouchou," katanya dengan suara serak dengan begitu lirih.
Chouchou menggeleng kuat. "Sama sekali tidak."
Dengan ditopang tangannya yang lemah dan bergetar, Mitsuki mencoba duduk bersandar di headboard. Melihatnya kesulitan, Chouchou cepat-cepat membantu.
"Arigatou," kata Mitsuki disusul batuk-batuk.
"Bukan masalah."
Jeda sejenak. Mitsuki menatap wajah bulat Chouchou dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mitsuki-san." Chouchou memecah keheningan. "Saya ingin membantu Anda sembuh," ucapnya sungguh-sungguh.
Mitsuki tersenyum miris. "Sudah kubilang, maka kau akan mati."
Pemuda itu selalu saja berkata begitu, Chouchou tak tahan lagi. "Kenapa Anda selalu menyebut-nyebut kematian dengan semudah itu?! Tidak akan ada yang mati! Anda akan sembuh dan saya akan selalu ada menemani!"
Mitsuki terbatuk lagi, menambah sakit di dada. "Kau tidak mengerti," katanya setelah batuknya berhenti.
"Kalau begitu buat saya mengerti, Mitsuki-san." Chouchou menggenggam tangan Mitsuki lagi.
Mitsuki menatap tangannya yang digenggam Chouchou dengan sedih, lalu matanya teralih pada wajah Chouchou yang memancarkan ketulusan untuk membantu. Siapa pun tak pernah memberikan Mitsuki tatapan semacam itu selain Chouchou. Hangat tangannya yang digenggam Chouchou menyentuh hati Mitsuki.
Sayangnya sesaat setelahnya Mitsuki terkesiap. Rasa sakit itu tiba-tiba kembali, dada Mitsuki seolah dihajar dari dalam. Satu tangannya meremas kemeja di dadanya. Kepalanya ia tundukkan, tak ingin Chouchou melihat ekspresinya yang begitu tersiksa.
"Mitsuki-san, sebaiknya Anda tidur kembali." Chouchou semakin cemas. Ia hendak membantu Mitsuki kembali berbaring namun pemuda tampan itu cepat-cepat mencegahnya.
Mitsuki mengangkat kembali wajahnya disertai senyuman manis di balik penderitaannya. "Chouchou… aku ingin kau mendengar kisahku."
Chouchou tertegun, bahkan sebelum Mitsuki memulai cerita, rasa pilu sudah memasuki relung hatinya.
.
.
.
Setelah bertahun-tahun tinggal di laboratorium itu, Mitsuki mengetahui banyak hal, salah satunya adalah tentang siapakah dirinya.
Ia adalah satu-satunya manusia buatan mereka yang berhasil bertahan hidup setelah disuntikkan cairan maut itu.
Mereka menciptakan Mitsuki sebagai wadah virus mematikan.
Apakah tujuannya?
Mitsuki pun pada awalnya bertanya-tanya, tapi ketika suatu malam dirinya terjaga karena rasa perih di perutnya, ia menemukan jawabannya.
Kala itu ia memaksakan tubuhnya bangun. Kalau sudah begini, ia harus "makan". Satu-satunya yang bisa dikonsumsi Mitsuki hanyalah darah manusia, bahkan tubuhnya menolak air putih biasa.
Untuk Mitsuki, laboratorium ini menyediakan berkantung-kantung darah manusia. Tapi Mitsuki tidak mengerti kenapa, ia tidak pernah sekali pun dibiarkan meminum darah manusia murni. Untuk bertahan hidup, ia selalu diberikan darah yang sudah dicampur cairan khusus.
Dalam perjalanannya ke ruang darah, Mitsuki melangkah tertatih-tatih sambil memegang perutnya yang teramat perih.
Sebelum tiba di sana, ia tak sengaja melintasi ruangan Kabuto dan Orochimaru.
"Mitsuki hampir siap, Orochimaru-sama. Tinggal menunggu satu atau dua bulan lagi."
Mendengar namanya disebut, Mitsuki menghentikan langkahnya.
Kabuto bicara lagi, "Sebaiknya kita mulai dari mana?"
Mitsuki mendekatkan telinganya ke ruangan itu, mencuri dengar.
"Cina," jawab Orochimaru. "Kita sebaiknya kirim dia ke sana."
Kabuto mengangguk paham.
"Kita ingin menyelamatkan bumi dari kehancuran akibat ulah manusia yang serakah dan sudah overpopulasi. Untuk tujuan itu, tak ada negara lain selain Cina yang paling tepat untuk kita jadikan titik awal.
"Negara itu sangat padat dan jalur perdagangannya sangat luas, banyak jalur yang bisa kita gunakan untuk tembus masuk ke sana."
Tenggorokan Mitsuki mendadak tersekat. Jantungnya yang lemah ikut sakit mendengar berita mengejutkan itu. Perutnya yang belum diisi semakin terasa perih.
Mitsuki ingin mendengar lebih banyak lagi, tapi kepalanya sudah sangat pusing dan perutnya semakin perih, jadi ia harus cepat-cepat pergi ke ruang darah sebelum ketahuan.
Di ruang darah, Mitsuki meneguk campuran darah dalam gelas. Ia duduk di tepi brankar dan menatap pantulan dirinya di cermin. Memperhatikan raut-raut kesakitan dan kelelahan di wajah pucatnya, meratapi hidupnya yang begitu menyedihkan.
Ia terlahir entah dari apa, sama sekali bukan dari hasil cinta seorang ayah dan ibu. Seumur hidupnya ia terkurung dalam ruangan-ruangan sempit dan lorong-lorong panjang. Tanpa pernah keluar, melihat dunia, mendapatkan teman, dan jatuh cinta.
Mitsuki menatap dalam matanya sendiri di cermin.
Ia diciptakan hanya untuk membunuh, menularkan virus ini agar orang-orang mati, orang-orang yang bebas, orang-orang yang memiliki keluarga, orang-orang yang dikelilingi teman, dan orang-orang yang jatuh cinta.
Nyawa mereka berharga… tidak seperti dirinya yang seandainya mati, tak satu pun yang akan menangisinya.
Astaga… Mitsuki begitu sakit. Seumur hidupnya ia sudah terbiasa disiksa. Mana mungkin ia membiarkan orang lain yang tak pernah merasa sakit mendapatkan siksaan seberat ini juga?
Berbeda dengan mereka, Mitsuki sudah terlatih menahan sakit, mereka tidak akan setangguh dirinya dalam menghadapi rasa sakit ini. Ia harus menyelamatkan mereka.
Ia tidak boleh kabur begitu saja. Jika ia kabur, Orochimaru dan Kabuto pasti tidak akan tinggal diam, mereka akan mencarinya atau yang terburuk... membuat "Mitsuki" berikutnya. Mitsuki tidak ingin itu terjadi, maka malam itu, ia menyusun rencana.
Setelah tinggal di laboratorium ini selama bertahun-tahun, Mitsuki sudah menghafal denah labirin dan jadwal Orochimaru dan Kabuto. Beruntung, karena organisasi ini ilegal dan sangat rahasia, Mitsuki tidak menghadapi banyak orang, hanya Orochimaru dan Kabuto saja. Orochimaru pasti sangat berhati-hati, ia tidak mempercayai siapa pun selain Kabuto yang telah membuktikan kesetiannya.
Setiap hari, Mitsuki diam-diam memperhatikan jam digunakannya ruang utama. Jika ia ingin berhasil, ruangan itu harus berada dalam genggamannya. Data-data mengenai virus, bahan-bahan pembuatannya, semuanya ada di sana tanpa terkecuali. Dan karena semua itu hanya terdapat di sana, ruangan itu dijaga ketat oleh pintu besi dengan pemindai sidik jari yang canggih. Hanya Orochimaru dan Kabuto yang memiliki akses ke sana.
Dan Mitsuki tidak akan bisa mencuri sidik jari mereka karena mereka selalu menggunakan sarung tangan dan melepas sarung tangan itu hanya saat membuka kunci pintu besi itu.
Kecuali…
Jika Mitsuki bisa mencuri sarung tangan itu!
Maka setelah rencana ia susun dengan matang, Mitsuki mogok makan selama tiga hari, membuat kesehatannya menurun drastis. Ia memuntahkan darah dari perutnya yang perih hampir setiap tiga jam sekali. Mendengar suara muntah-muntah dan batuk-batuk dari kamar Mitsuki, Kabuto mendatanginya.
Dalam hati Mitsuki begitu miris pada dirinya, hanya dengan cara inilah ia bisa mendapat perhatian seseorang yang sudah membesarkannya. Dan lagi, perhatian itu bukan atas dasar kasih sayang, melainkan hanya sebatas khawatir wadah virus ini rusak.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?!" Kabuto berkecak pinggang melihat Mitsuki yang terlihat sangat kesakitan.
"Aku telat makan." Mitsuki meringkuk dengan balutan selimut tipis di atas kasurnya yang sudah penuh dengan darah yang bahkan hingga menetes ke lantai.
"Nani?! Sudah kubilang makan yang teratur! Harus berapa kali kuingatkan padamu betapa berbahayanya dampak telat makan bagi tubuhmu?! Kau bisa rusak sebelum digunakan!"
"Maaf," kata Mitsuki dengan parau di sela muntah dan batuknya.
"Ikut aku ke ruang medis!" Kabuto menarik tangan Mitsuki dengan kasar, memaksanya berdiri.
Belum selangkah Mitsuki berjalan, ia yang terlalu lemah terjatuh dan mengerang sambil meremas perut, berbaring miring di lantai. Lagi-lagi ia terbatuk hingga kehilangan semakin banyak darah.
"Kau ini benar-benar merepotkan!" Kabuto meraih tubuh Mitsuki dan mebopongnya dengan tangannya yang berotot.
Di tengah kesakitannya, bolehkah Mitsuki senang dengan perlakuan itu? Ini pertama kalinya ia digendong dan diperlakukan dengan lembut. Ia ingin menikmati ini sejenak, karena ia tahu, tidak lama lagi ia akan berpisah dari sosok yang telah membesarkan dan merawatnya. Walaupun Mitsuki tahu tidak ada cinta dalam laboratorium ini, tapi mau bagaimana pun… ini tetaplah rumahnya.
Kabuto membaringkan Mitsuki di brankar ruang medis, ia melepas sarung tangan kulitnya dan menggantinya dengan sarung tangan karet. Kedua tangannya cekatan memasang infus untuk Mitsuki, kemudian meracik obat-obatan sebelum dimasukkan ke dalam suntikan. Setelahnya, ia suntikkan obat itu ke dalam infus.
Beberapa saat kemudian Mitsuki merasa tubuhnya semakin lemas, namun rasa sakitnya perlahan berkurang dan muntah-muntahnya berhenti.
Kabuto melepas sarung tangan karetnya dan membuangnya ke tempat sampah. "Kau baru boleh keluar dan melepas infus itu jika kantung darahnya sudah habis, mengerti?!" bentaknya sambil mengenakan kembali sarung tangan kulitnya.
Mitsuki mengangguk lemah.
"Jangan sampai telat makan lagi!" Kabuto meninggalkan ruangan dan membanting pintu.
Mitsuki tersenyum tipis sambil menatap langit-langit ruangan yang remang. Setelah tenaganya terkumpul, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka tempat sampah. Dipungutnya sarung tangan karet bekas Kabuto dan ia masukkan ke dalam saku celana.
Baru beberapa saat turun dari tempat tidur sudah membuat Mitsuki pusing. Ia segera kembali merebahkan tubuh di brankar dan memejamkan kedua mata.
Belum lama ia beristirahat, kedua matanya kembali terbuka saat ia merasa cairan keluar dari hidungnya. Ia tersenyum miris. Lagi-lagi darah.
Tidak… tidak… tidak sepatutnya ia bersedih atas segala rasa sakitnya hari ini. Penderitaannya hari ini hanya sebuah pengorbanan kecil yang bisa ia lakukan demi menyelamatkan banyak orang.
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Gentle Kiss
.
.
.
Author's note:
Long time no see! Apa kabar semuanya! Ada yang nungguin update-an ini gak? Kita ketemu lagi sekarang, yeay! XD
Maaf ya lama banget update-nya soalnya sempet kena writer's block. Dan tiba-tiba dapet ide waktu kubuka lagi failnya hehe. :D
Gimana chapter ini? Makin jelas ya masa lalu Mitsuki. Aku pribadi juga kasihan sama dia, semoga di anime dan manganya dia bahagia selalu deh. XD
Ngomong-ngomong, chapter depan sudah final ya, sampai ketemu! Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom review ya? Semakin banyak review, semakin cepat update! ;)
Balasan untuk reviewers:
Mahartroops23: Oke deh! Gak jadi tamat di chapter ini! Kalau gitu sampai ketemu di chapter depan ya! XD
Guest: Nice guess! In this fanfiction Mitsuki is not a vampire, he is an artificial human just like in the anime. But like you, I also think he is like a vampire! :D
Febrichan2425: Wah, makasih banyak sudah klik favorit dan review juga! Dukunganmu berarti banget! XD
Febrichan: Iya sama, aku juga berharap banget MitsuChou jadi canon! :") Makasih buat semangatnya ya! XD
