Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apa pun dari fanfiction ini.

- Alternate universe setting out of character.

- Romance, Angst, Fantasy, Drama, Mystery.


Black Blood

.

.

.

Chapter Eight

A Gentle Kiss

.

.

.

"Setelah memastikan Orochimaru dan Kabuto pergi, aku melancarkan rencanaku. Dengan menggunakan sidik jari dalam sarung tangan karet itu, aku berhasil membuka kunci ruangan utama." Pada Chouchou, Mitsuki menceritakan kisahnya tanpa ragu. "Aku menghancurkan semua yang ada di dalam ruangan itu hingga tak bersisa," tutur pemuda berambut ikal itu di sela-sela batuknya. "Dengan begitu, hanya aku yang terjangkit virus ini, dan mustahil mereka bisa membuat 'Mitsuki' lagi."

Chouchou menerima tatapan Mitsuki yang begitu dalam. Gadis itu balas menatapnya dengan penuh air mata.

"Setelahnya aku memutuskan kabur, pergi jauh dari Jepang dan berniat memulai hidup baru." Sambil menelan pedih Mitsuki melanjutkan, "Itu pun kalau aku memang mampu bertahan hidup." Ia batuk-batuk lagi.

"London kota yang indah," lanjutnya. "Keinginanku untuk menjelajahi kota ini lebih besar dibanding nafsu makanku. Aku begitu menikmati perjalanan ini tanpa sekali pun berpikir mencuri gigit seorang manusia." Bibir pucat Mitsuki tersenyum tipis namun tulus. "Aku bahkan tidak puas menghabiskan waktu seharian di Hampton Court." Wajah tampannya terangkat memandangi jendela. "Banyak tempat-tempat menarik yang belum sempat aku kunjungi, Mayfair, Brixton, St. James' Park…." Tatapan Mitsuki kemudian teralih kepada gadis gempal di sisinya. "Tapi semua keinginan itu seolah lenyap begitu aku berjumpa denganmu, Chouchou."

Bagian ini membuat Chouchou merasa gelisah tanpa alasan. Gadis itu menghindari tatapan Mitsuki.

"Kau… menarik perhatianku. Sejak pertama melihatmu aku tak bisa menahan diri untuk mengigit lehermu dan menghisap darahmu."

Air mata Chouchou mengalir kembali begitu saja.

Mitsuki menunduk dalam, ikut menghindari tatapan Chouchou. "Begitu aku memesan kamar, menunggumu datang adalah waktu paling menggelisahkan seumur hidupku. Aku begitu menginginkanmu, tapi juga takut menyakitimu."

Mitsuki memberanikan diri menatap lawan bicaranya sebelum melanjutkan, "Dan begitu kau datang dengan gaun hitammu, kau yang sangat ketakutan telah berhasil mengalahkan nafsuku. Kau yang begitu cantik dan begitu hidup… aku tak sampai hati membiarkanmu menderita sepertiku." Pemuda itu tundukkan kembali wajahnya. "Silakan benci aku Chouchou." Batuk itu kembali menyerangnya. Lagi dan lagi tak kunjung berhenti, hingga Mitsuki kehilangan darahnya kembali.

"Mitsuki-san…" Chouchou mengusap air matanya. "Anda adalah korbannya, bagaimana mungkin saya membenci Anda?" Gadis itu mengigit lengannya kuat-kuat hingga darahnya mengalir dari sana.

Mitsuki terkejut melihat apa yang gadis itu lakukan. Tangan gemuk Chouchou tersodor di hadapannya.

"Minumlah ini, selama bukan Anda yang mengigit saya, saya tidak akan tertular virus itu bukan?" Chouchou semakin mendekat dan mengusap punggung Mitsuki.

Alih-alih menjilat darah yang menetes-netes itu, Mitsuki cepat-cepat mengambil setangannya dan menutup luka Chouchou. "Apa yang kau lakukan? Kau melukai dirimu sendiri, ini pasti sakit," kata Mitsuki dengan cemas, lirih dan parau. Tangannya yang lemah membebat luka itu dengan gemetar dan perlahan.

Chouchou kembali menangis. Bisa-bisanya Mitsuki mengkhawatirkan luka kecil ini sementara ia sendiri tengah berjuang melawan sakitnya. "Mitsuki-san, Anda membutuhkan ini!"

"Untuk menjadi monster, begitu? Kau belum tahu dampak darahmu bagiku Chouchou…," balas Mitsuki setelah selesai membebat luka gadis itu. "Begitu aku menghancurkan laboratorium saat itu, aku mencoba meneguk salah satu kantung darah murni yang kubawa sebagai bekal." Mitsuki menunduk dalam dan mulai menangis. "Sesaat setelahnya, aku tidak ingat apa pun. Ketika aku sadar, aku menemukan banyak sekali hewan-hewan yang mati di sekelilingku. Beruntung tidak ada satu pun orang di sana." Mitsuki mengernyit, enggan mengingat kejadian buruk itu. "Darahmu memang akan melepaskanku dari rasa sakit… tapi itu mengubahku menjadi monster. Aku akan kehilangan kesadaranku dan membunuh semua yang ada di depan mataku." Mitsuki batuk-batuk kembali.

Chouchou memandang Mitsuki yang tengah kesakitan dengan begitu pilu. Astaga… kalau begitu harus dengan cara bagaimana Chouchou menyelamatkannya?

Chouchou menghampiri pemuda itu dan memeluknya lembut. Dalam pelukan mereka Chouchou mendengar Mitsuki terus-menerus berkata dengan suara parau dan lirih di tengah isak tangis, "Maaf… maaf…."

"Mitsuki-san… daripada meminta maaf, lebih baik Anda mendengar cerita saya."

Mitsuki melepaskan pelukannya perlahan, karena gerakan kecil pun membuat sekujur tubuhnya terasa nyeri. Ia menatap Chouchou sebagai bentuk persetujuannya untuk mendengarkan.

Gadis itu tersenyum sambil menghapus air mata Mitsuki lalu memulai cerita, "Saya lahir dalam keluarga kecil yang bahagia dan sederhana, ayah dan ibu saya sangat menyayangi saya. Namun Tuhan lebih menyayangi mereka, Tuhan memanggil mereka sebulan yang lalu…."

Mitsuki tertunduk mendengarnya, ikut berduka.

"Mereka bekerja sangat keras demi melihat saya kuliah di Cambridge. Tapi biaya yang kami butuhkan sangat besar, sehingga mereka meninggalkan banyak utang. Utang itu begitu besar hingga membawa saya kabur ke London dan berniat menjual diri di kota ini." Chouchou meraih tangan kurus Mitsuki dengan kedua tangannya. "Kemudian Anda datang… membebaskan saya dari utang itu, seperti melepaskan kupu-kupu yang terjebak di jaring laba-laba." Chouchou tersenyum pada Mitsuki sambil mengusap pelan tangannya. "Anda tidak semestinya meminta maaf pada saya, justru saya yang seharusnya meminta maaf. Anda begitu berjasa menyelamatkan saya sementara saya tidak melakukan apa pun untuk membalas Anda."

Mitsuki menggeleng, tidak merasa membantu sedikit pun.

"Mungkin niat Anda berbeda pada awalnya, tapi kenyataan bahwa Anda menolong saya… hingga kapan pun tidak akan berubah. Toh, Anda berhasil menguasai diri Anda untuk tidak menyakiti saya hingga saat ini." Chouchou mengecup tangan kurus dalam genggamannya. "Hontou ni… arigatou gozaimasu, Mitsuki-san."

Mitsuki tidak menjawab namun senyuman merekah di bibirnya yang pucat.

Chouchou memainkan rambut lurusnya dengan malu-malu. "Anda bahkan bilang saya cantik." Chouchou terkekeh miris. "Saya yang gemuk dan gelap ini tidak pernah mendapatkan kata itu selain dari orang tua saya dan Anda, Mitsuki-san."

"Kenapa? Memang kenyataannya Chouchou cantik," ujar Mitsuki dengan tulus.

Chouchou tersenyum senang, terlalu senang hingga air matanya mengalir.

"Setiap melihatmu tersenyum, kenapa… dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya? Di sebelah sini." Mitsuki menunjuk dada kirinya.

Chouchou terkejut, namun antusias. "Mungkinkah Anda jatuh cinta pada saya?"

"Jatuh… cinta…."

Chouchou mengangguk dan kembali memeluk tubuh ringkih Mitsuki. "Saya juga jatuh cinta pada Anda." Gadis itu mengutarakannya dengan tulus dari hatinya tanpa banyak berpikir.

Mitsuki ikut tersenyum, menikmati rasa hangat nan magis yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ah… jadi seperti ini rasanya jatuh cinta.

.

.

.

Hari ini cuaca begitu cerah. Matahari bersinar terang dan langit begitu biru berhias awan putih. Mitsuki menatapnya dari balik jendela. Ini aneh, kenapa melihat cuaca cerah saja bisa membuatnya tersenyum seperti ini?

Sejak bertemu Chouchou, ia jadi sering tersenyum. Mendengarkan gadis itu bicara, melihat gadis itu memainkan rambutnya, merasakan gadis itu mengusap punggungnya saat ia kesakitan…. Semua hal-hal sederhana itu selalu mengundang senyuman Mitsuki.

Sesaat setelahnya, Mitsuki mendengar suara yang tidak asing lagi, yang tanpa sadar selalu ia tunggu-tunggu, suara langkah kaki. Chouchou datang.

"Sudah kubilang, kau tidak perlu datang setiap hari jauh-jauh dari East End untuk menemuiku, Chouchou." Ya, perkataannya kadang kali memang kontradiktif dari sebenarnya ia rasakan.

"Aku punya kejutan untukmu, Mitsuki."

Sejak mereka membahas tentang jatuh cinta beberapa hari lalu, Chouchou mulai berhenti bicara dengan Mitsuki menggunakan bahasa formal. Dan sama seperti dirinya, Chouchou juga lebih sering tersenyum.

Mitsuki memperhatikan Chouchou yang pergi keluar kamarnya kemudian kembali masuk dengan mendorong sebuah kursi roda.

"Tada!" serunya.

"Itu untuk apa?" tanya Mitsuki, disusul batuk-batuk kecil.

"Hari ini London sangat cerah, kita harus memanfaatkannya untuk kencan pertama kita!"

Pipi Mitsuki seketika memerah. Ia memang tumbuh besar dalam laboratorium, tapi ia tahu betul apa itu kencan. Namun saat pandangan Mitsuki kemudian terjatuh pada kedua tangannya yang sangat kurus, rona merah di pipi Mitsuki kembali hilang menyisakan pucat. "Aku tidak tahu apa aku bisa."

"Kau ini bicara apa? Bukankah kau ingin pergi ke Mayfair, Brixton, St. James's Park…."

Mitsuki menunduk tanpa memberi jawaban.

Dan Chouchou sama sekali tidak berniat menunggu jawaban. Ia dorong kursi roda itu mendekati tempat tidur dan menggendong Mitsuki, mendudukkannya di kursi roda. Dalam hati, Chouchou merasa miris saat melakukannya, Mitsuki sangat ringan.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Mempersiapkan kencan kita!" Chouchou berusaha tampak ceria kembali. Ia mengeluarkan kardigan, jaket dan syal yang baru dibeli dari paper bag-nya. Ia memakaikan semua pakaian itu pada Mitsuki tanpa mendengarkan protes darinya. "Walaupun cuaca cerah, udara di luar tetap dingin. Aku tidak mau kau sakit." Chouchou kali ini mengeluarkan selimut kecil lalu menaruhnya di pangkuan Mitsuki. "Nah, sekarang kita siap!"

Chouchou sudah menyiapkan semuanya, jadwal kencan mereka, transportasi, dan lain-lain. Hari ini ia hanya ingin menyenangkan Mitsuki.

Melihat keseriusan Chouchou, Mitsuki tidak tega merusak usaha Chouchou untuk kencan hari ini. Jadi akhirnya ia menyerah dan membiarkan Chouchou membawanya.

Di perjalanan dari Harrow menuju Mayfair dalam taksi, Mitsuki lebih banyak diam. Mata sayunya ia arahkan ke jendela, menatap kosong jalanan diselingi batuk sesekali.

"Kau sakit? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" Chouchou menepuk lembut bahu Mitsuki.

Pemuda itu menggeleng dan tersenyum tipis pada gadis di sisinya. "Chouchou sudah payah menyiapkan kencan istimewa kita. Aku baik-baik saja, lagi pula ke rumah sakit untuk orang sepertiku hanya akan menambah masalah."

Jawaban itu justru membuat Chouchou semakin cemas. "Kau yakin?"

Mitsuki yang masih tersenyum mengangguk.

Selang beberapa waktu, mereka tiba di Mayfair. Kedua mata emas Mitsuki berkilat-kilat melihat bangunan-bangunan abad ke-18 di sana.

"Mitsuki, lihat ke sini!" panggil Chouchou sambil membidik dari kamera polaroid.

Mitsuki refleks menoleh.

Chouchou tertawa melihat hasilnya. "Ini bagus! Akan kusimpan dalam album keluarga!"

"Album keluarga?"

"Kau sudah menjadi bagian dari keluargaku, Mitsuki."

Pengakuan sederhana itu mengalirkan kehangatan dalam dada Mitsuki. Pemuda itu lagi-lagi dibuat tersenyum oleh Chouchou.

"Boleh kupinjam kameranya?"

"Tentu."

Mitsuki menerima kamera itu dengan tangannya yang lemah. Tapi ia benar-benar berusaha menggunakan kamera itu. "Sekarang giliranku yang memotretmu. Lihat ke sini, Chouchou."

Gadis itu menatap ke arah kamera dan memberikan senyuman lebarnya, memamerkan gigi-giginya yang putih. Jarinya membentuk simbol peace.

"Yang ini biar aku yang simpan." Mitsuki mengeluarkan dompetnya dan memasukkan foto itu ke dalam sana.

Chouchou tersipu melihatnya. Ia tidak pernah menyangka akan ada seorang lelaki yang mau menaruh fotonya di dalam dompet.

Setelah berkeliling Mayfair, Chouchou mengajak Mitsuki ke tempat-tempat lain, tidak hanya ke Brixton, Chouchou membawa Mitsuki melihat London dari ketinggian di London Eye, duduk-duduk di pinggir sungai Thames, sampai berjalan-jalan di St. James's Park.

Chouchou mendorong kursi roda Mitsuki mengelilingi taman, selama itu ia bercerita macam-macam, tentang ayah dan ibunya, kuliahnya yang gagal, dan lain-lain. Sementara Mitsuki hanya mendengarkan, hidupnya yang monoton dan terisolasi membuatnya tidak punya banyak kisah untuk diceritakan.

Menyenangkan mendengar Chouchou bercerita. Gadis itu energik dan ekspresif. Seumur hidupnya, Mitsuki tak pernah menyangka hari yang teramat indah seperti ini akan datang, hari di mana ia begitu bahagia, seperti terlahir kembali menjadi manusia biasa yang normal. Diam-diam, Mitsuki menyeka air mata bahagia yang jatuh dari pelupuk matanya.

Sayang, Mitsuki tidak bisa menikmati momen ini lebih lama lagi, karena rasa sakitnya yang tak tertahankan kembali menggempur tubuhnya.

Mitsuki mengerang pelan, tapi Chouchou tetap mendengarnya. "Kita ke rumah sakit ya?" Gadis itu mengusap punggung Mitsuki.

Pemuda itu menggeleng.

"Kalau begitu kita pulang saja."

Mitsuki ingin membantah, iya sudah nyaman berada di taman ini. Tapi ia cukup tahu diri, tubuhnya kedinginan dan dampaknya cukup buruk. Persendiannya nyeri, dan perutnya perih, dan kepalanya pening, dan dadanya sesak, dan entah berapa banyak lagi titik rasa sakit yang dihadapi tubuhnya.

Chouchou mendorong kursi roda Mitsuki dan mencegat taksi. Selama di perjalanan, Chouchou mendekap tubuh Mitsuki yang sedingin es. Pemuda itu merintih tak henti-henti. Sepertinya kali ini ia sudah tak sanggup menahan sakitnya lagi.

Chouchou sudah meminta sopir taksi untuk menaikkan suhu penghangat, tapi Mitsuki tetap kedinginan.

Setelah sampai di Harrow, sopir taksi itu berbaik hati menggendong Mitsuki ke dalam rumah. Chouchou tahu arti di balik kerutan di dahi sopir itu, ia pasti miris mengangkat seorang lelaki dewasa yang begitu ringan.

Seperginya sopir taksi itu, Chouchou menaikkan selimut Mitsuki dan mengompres dahi pemuda itu. Chouchou menggenggam tangannya erat sambil menunduk dalam-dalam. "Maafkan aku… ini salahku. Seharusnya aku tidak mengajakmu keluar."

Mitsuki bisa merasakan air mata yang hangat membasahi jari-jari tangannya. Ia membuka paksa kedua matanya dan menatap Chouchou meski pandangannya sudah mengabur. "Bu…kan… salahmu."

Chouchou menggeleng dan terus menangis.

"ini… hari terindah… dalam hidupku… terima kasih," ujar Mitsuki, lemah dan patah-patah. Perkataan itu disusul batuk-batuk berdarah.

Chouchou seketika semakin cemas. Ia hapus air matanya dan menatap Mitsuki. Betapa kagetnya ia dapati Mitsuki tengah menahan sakitnya. Kelihatannya ia sangat menderita. Kedua tangannya menekan dada, matanya terpejam, dahinya mengerut dalam, wajahnya semakin memucat, erangan lirih tak henti keluar dari bibirnya yang sudah seputih awan.

"Mitsuki! Astaga! Kali ini kau benar-benar harus ke rumah sakit!"

Mitsuki menggeleng kuat. Tak sempat dirinya berucap, ia tiba-tiba muntah lagi.

Melihatnya, Chouchou segera berdiri untuk membawa Mitsuki secepatnya, namun pemuda itu dengan sigap mencegahnya. "Ti… dak…."

Air mata Chouchou kembali merangsek keluar.

"Aku… sudah… menca… pai… batas… ku…"

"Jangan bicara begitu!"

Mitsuki dengan tangannya yang lemah penuh darah meraih tangan gemuk Chouchou dan membawanya dalam genggaman lemah. "Arigatou… boku wa… totemo… shiawase… desu."

Chouchou tidak mendengarkan, ia buru-buru membuka kancingnya mantelnya, dan mendekat ke wajah Mitsuki. "Gigit leherku!"

Mitsuki tidak bergerak.

"Ayo gigit leherku!" Chouchou mengangkat tubuh Mitsuki agar pemuda itu semakin mendekat padanya. "Kalau kau senang bersamaku kau harus tetap hidup! Biarkan aku menjadi bagian dari dirimu! Selanjutnya kita cari jalan keluar bersama!"

Mitsuki tetap bergeming.

"AYO GIGIT, MITSUKI!"

Barulah Mitsuki mendekatkan wajahnya pada leher Chouchou, namun bukanlah gigitan yang Chouchou rasakan, melainkan sebuah kecupan lembut dan hangat.

"Aishiteru… Chouchou."

Mitsuki terjatuh ke pangkuannya. Kedua matanya terpejam tenang tanpa tanda-tanda rasa sakit, tubuh kurus dan ringkihnya begitu dingin dalam pelukan Chouchou.

Mitsuki tak lagi bernapas.

"Mitsuki no baka!"

Seiring dengan deru nepas Mitsuki yang terhenti, seketika itu pula Chouchou kehilangan hidupnya. Pemuda itu telah membawa pergi seluruh bagian hatinya. Maka ia rengkuh tubuh kaku dan dingin itu, digigitnya leher pucat itu, dan menghisap darah hitam yang menetes dari sana.

Chouchou memutuskan untuk ikut pergi.

.

.

.

The End

.

.

.


Author's note:

Wah, finally waktunya mengucapkan selamat tinggal buat cerita ini! 'Gak nyangka bisa sampe sejauh ini. Dan setelah kesulitan buat nyari ending-nya, akhirnya hari ini aku putuskan seperti ini. Semoga kalian suka, kutunggu pendapatnya di kolom review. :D

Terima kasih banyak buat yang udah baca sampe sejauh ini, semoga berkenan baca fanfic-ku yang lain. See you there, guys! XD


Balasan untuk reviewer:

Febrichan2425: Makasih banyak buat bertahan baca sampai sejauh ini, seneng banget kalau kamu suka. Mudah-mudahan bisa suka karya-karyaku yang lain juga ya! Sampai ketemu di sana! XD


Special thanks to:

Allah SWT,

Masashi Kishimoto,

Sano Manjiro.1, Guest, anakambigu, Febrichan2425, sebastiansonubatulalala, Anon, Mahartroops23, gekanna87, Sera, Febrichan, Chimi Wila Chan, FF.N AZRIEL, Nabilalala, RionAn, arannis,

and you.