"Mata safirnya serupa denganmu, Taufan."

"Ya, ini menurun dari Yang Mulia Raja."

"Huh, bagiku mata rubi ini lebih menawan dari safir. Persis seperti ibu..."

"Hali, ibumu adalah ibuku juga."

"Tapi kau lebih mirip bajingan itu."

"Dasar kekanak-kanakan."

Taufan tak habis pikir. Sang kakak, Jun Halilintar de Lytha, perangainya seperti sebilah pisau. Kadang ia bisa terlihat garang dan menyeramkan namun jika suasana hati sedang mood untuk berbincang (selain membicarakan rencana kudeta), sikap Halilintar bahkan bisa lebih kanak-kanak ketimbang anak kecil itu sendiri.

Taufan diam, mengingat kembali masa-masa di mana ia dan kakaknya masih berada di lingkungan istana utama Kerajaan Lytha. Mereka berdua tumbuh dengan baik. Raja juga sayang kepada Halilintar dan Taufan. Meski mereka berdua bukan terlahir dari rahim Yang Mulia Ratu. Sudah menjadi hal yang wajar ketika pemimpin sebuah kerajaan memiliki lebih dari 1 pasangan. Hanya sedikit dari mereka yang setia pada pasangan sahnya. Dan Raja Kerajaan Lytha adalah salah satu pemimpin yang jatuh hati pada wanita lain selain Ratu.

Meski Raja mengangkatnya sebagai selir, ibu dari kembar bersaudara ini mendapat penolakan cukup keras dari bangsawan lainnya. Jelas, karena selir tersebut berasal dari tempat yang rendah menurut pandangan mereka. Seorang penyihir. Para bangsawan tertawa dengan sinis ketika perayaan kehamilan yang diadakan sang Raja 10 tahun ke belakang. Tak ada yang memberikan ucapan dengan tulus, tak ada yang memberkati bayi yang tengah dikandungnya. Ibu Halilintar dan Taufan saat itu meremas gaunnya sendiri, berusaha tetap menjaga sikap sesuai etiket kebangsawanan. Meski julukan penyihir gelap disematkan oleh banyak orang kepadanya, tapi itu bukanlah masalah besar. Meski tidak ada yang memahami selir tersebut kecuali Raja. Baginya itu sudah cukup.

"Hali, haruskah kita melakukan ini?"

Halilintar mengangkat wajahnya, kini memandang adiknya tajam, "Apa maksudmu? Kau ragu?"

"Bagaimanapun, dia adalah adik kita. Dan bukankah ini tidak adil baginya? Dia tidak tahu apa-apa."

"Lalu? Ibu kita juga adalah bagian dari keluarga kerajaan. Apa ada yang merasa simpati akan hal itu?"

Taufan menunduk dalam-dalam. Menahan segala pergolakan batin di dalam dirinya.

"Jawab aku, Ash Taufan de Lytha!"

"Tidak ada, kak..."

Halilintar mendengus kasar, melipat kedua tangan di depan dadanya yang bidang, "Lagipula..." rubinya melirik ke arah foto-foto dengan objek yang dicoret tinta dengan tebal di atas meja kerja, "Akan lebih mudah jika kita bermusuhan karena kita bukan saudara kandungnya. Itu hal yang wajar kan?"

.

.

.

Revenge dari saya

Boboiboy milik monsta dan saya tidak mendapat keuntungan apapun dari fanfic ini

.

.

.

"Tuan Putri, bagaimana keadaan Anda?

"Aku baik-baik saja. Daripada itu, pastikan bahwa kejadian kemarin tidak diketahui Raja."

"Tentu saja, Yang Mulia Putri."

"Pergilah." Ying melihat Gempa gusar. Meski ia tahu jelas bahwa ksatria pelindungnya itu khawatir kejadian yang sama akan terulang lagi, namun Ying tetap ingin Gempa keluar dari ruangannya. Ia butuh waktu berpikir lebih banyak lagi, "Tidak apa-apa, Gempa. Berjagalah di luar."

Gempa mengangguk ragu tapi tak dapat membantah lebih jauh. Ying akhirnya sendirian, kepalanya sungguh berat. Tidak ada perkembangan dari para bawahannya, sungguh sebuah kemunduran yang teramat nyata. Apakah karena aku hanyalah seorang perempuan? Mereka memandangku hanyalah putri yang tidak bisa apa-apa jadi mereka tidak melakukan perintah yang aku keluarkan dengan serius? Apakah benar seperti itu?

"Bagaimana bisa aku senaif ini..." Ying memijat pelipisnya. Ia sadar akan satu hal, tidak akan ada yang berubah jika bukan dirinya sendiri yang terjun langsung. "Memang sejak awal harusnya aku saja yang menyelidikinya sendiri."

Angin lembut mengusap rambut hitamnya, Ying menoleh ke arah balkon. Ia beranjak, berjalan menuju balkon dengan arah pandang tengah ibukota. Sayup-sayup terdengar suara masyarakat dari sana. Ying bersandar dengan nyaman di pembatas balkon. Dari sini masyarakat di ibukota seperti semut yang berjalan tidak beraturan. Kecil. Ying jadi teringat apa yang dikatakan ibunya saat ia masih anak-anak. Ying-ku sangat kecil dan imut. Ibu harap kau tetap seperti ini selamanya. Tapi ibu tahu itu mustahil. Biar bagaimanapun, Ying pasti akan jadi Putri yang cantik dan menawan. Untuk sekarang, ibu hanya ingin kau tumbuh sehat dan bahagia. Ia menutup matanya, membiarkan memori-memori itu kembali memenuhi kepala. Ying merindukan ibunya, sangat. "Aku merindukanmu, ibu. Sudah 7 tahun ibu pergi ke tempat yang jauh..."

Pemandangan Kerajaan Lytha yang indah dan sejuk menjadi saksi bisu Putri Kerajaan Lytha bersedih. Gunung-gunung melintang di segala penjuru seakan melindungi kerajaan ini secara alami dari musuh. Dengan gunung yang menjulang tinggi, medan yang akan dilalui oleh musuh sangat terjal dan licin. Hanya orang bodoh yang nekat untuk menyerang kerajaan ini secara terbuka. Sebelum sampai di gerbang utama, mereka akan kelelahan dan mati di lereng gunung. Itulah kenapa gunung dipercaya sebagai representasi Dewa di Kerajaan Lytha. Mereka menyebutnya, Shatra. Ada kuil besar di ibukota yang secara resmi menjadi tempat peristirahatan bagi anggota keluarga Kerajaan Lytha yang meninggal dunia. Makam-makam tersebut ada di tempat tersembunyi, orang yang tidak memiliki kekuatan suci atau kekuatan sihir tidak akan bisa melihatnya. Kuil tersebut juga menjadi tempat ibadah bagi seluruh masyarakat yang ada di Kerajaan Lytha. Raja pertama Kerajaan Lytha menamainya Kuil Esviren.

Ying termenung. Jika tidak bisa melihat ibunya lagi, paling tidak ia bisa pergi mengunjungi makamnya. "Akhir-akhir ini aku lambat berpikir. Baiklah, lebih baik besok aku pergi ke kuil."

.

.

Putri Ying adalah keturunan langsung Raja, yang mana itu berarti ia memiliki kekuatan suci secara alami. Ia tidak memerlukan bantuan Saintess atau murid Saintess untuk menuntunnya ke arah makam keluarga kerajaan. Ying hanya memberitahu Raja, Gempa tidak diperkenankan ikut oleh sang Putri, ia pergi sendiri dengan kereta kuda sederhana. Saat Raja menanyakan mengapa, putri kecilnya itu hanya menjawab, "Saya tidak ingin menarik perhatian siapapun, Ayah. Ini akan jadi hal yang baik karena orang-orang akan tetap pada kepentingannya masing-masing dan dari sana saya bisa melihat mereka dengan leluasa." Raja berpikir itu pemikiran yang masuk akal dan akhirnya mengizinkan putrinya pergi tanpa "introgasi" lebih dalam.

Ying mengintip dari balik jendela kereta kuda, ibukota mulai terlihat. Para pedagang berteriak untuk menarik minat pembeli, anak-anak kecil yang berlari di tengah kerumunan, hingga pertunjukkan seni jalanan. Ying sedikit heran, ibukota terlihat lebih ramai dari biasanya, "Apa hari ini ada festival?" tangan putihnya yang berbalut sarung tangan berwarna krim lembut disambut oleh pembawa kereta kuda saat ia berniat turun.

"Benar, Putri. Ini adalah hari pertama festival Artilerre, festival ini selalu diadakan di minggu ketiga bulan Cytz."

"Artilerre? Aku baru mendengarnya. Aku hanya tahu festival Senith."

"E-eh... setahu saya festival Artilerre adalah nama dari orang yang berharga bagi Yang Mulia Raja. Saya malah tidak tahu tentang festival Senith."

Ying diam dan merasa pembawa kereta kuda itu mungkin salah menyebut festival karena sudah lanjut usia. "Baiklah, Franz, tidak apa-apa. Aku akan berada di ibukota hingga petang. Sampai saat itu kau boleh beristirahat dan jemput aku di sini saat petang nanti."

"Baik, Tuan Putri."

Kereta kuda semakin jauh dari pandangan, Ying mulai berjalan ke arah kuil Esviren. Meski sudah memakai kereta kuda sederhana, sebagai tambahan ia juga memakai tudung kepala agar masyarakat tidak mengenalinya. Langkah kakinya pelan, tidak terburu-buru. Ying menikmati ini. Dalam tradisinya, setiap keluarga kerajaan yang mengunjungi makam diharuskan membawa bunga yang melambangkan orang yang sudah meninggal tersebut. Ying tidak lupa, ia membeli bunga lavender. Iris ibu Ying senada dengan lavender, sangat indah. Mata yang selalu melihat lembut ke arah Ying, mata yang memancarkan ketulusan paling murni. Ketika melihat lavender, Ying selalu teringat dengan Yang Mulia Ratu. Raja juga mengatakan hal serupa. Ibumu satu-satunya yang menatapku dengan penuh cinta dan kehangatan. Iris lavendernya sangat memukau dan aku selalu kalah jika lomba menatap dengan iris lavendernya yang indah. Kemudian Ibumu akan menertawakanku, putriku. Meski aku tidak dapat melihatnya lagi karena putriku ini menuruni warna mataku, tapi tatapanmu dan tatapan Ibumu padaku sangatlah mirip.

"Apa Anda tahu bahwa arti dari bunga lavender, Nona?"

Ying menjawab dengan tenang, "Kesetiaan. Apa aku benar?" tangannya membelai pucuk atas bunga.

Penjual bunga tersenyum cerah, "Tidak salah, Nona. Bagi saya sendiri, lavender berarti cinta suci. Saya selalu teringat istri saya yang menyatakan cintanya kepada saya dengan memberikan bunga ini." Bola matanya bergulir ke arah lavender yang Putri beli. "Setiap orang punya persepsi tersendiri mengenai sesuatu yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Semua pernyataan benar, tidak ada yang salah, baik saya maupun Anda. Nona, jika suatu saat nanti Anda berselisih paham dengan orang lain mengenai dua atau tiga kebenaran semu, saya berharap Anda bersikap bijak."

"Terima kasih atas nasihatmu. Aku akan mengingatnya." Ying mengeluarkan koin emas dan menaruhnya di meja penjual.

"Eh Nona? Anda sudah membayar bunganya, kenapa-" Laki-laki penjual bunga berteriak hampir mengejar Ying.

"Ambil saja, Tuan! Terima kasih!" Saat Ying berlari, tudungnya berkibar akibat ulah sang angin. Kakinya terasa ringan seolah tekanan yang ia rasakan hari-hari sebelumnya karena sibuk mencari petunjuk mimpi di dunia nyata sirna. Sinar matahari menghangatkan wajahnya yang bersih. Ying tidak memerhatikan orang-orang yang menatapnya di kanan dan kiri. Dan tidak menyadari ada sepasang rubi meliriknya dengan seringai saat berselisih arah langkah.

.

.

"Kau lihat dia? Ceroboh sekali bepergian tanpa keamanan. Haruskah aku kembali dan menebas kepalanya diam-diam saat ia lengah? Bagaimana menurutmu, Taufan?" Halilintar memainkan belati kecil nan tajam. Mata pisaunya mengkilap, siapa saja bisa bercermin dengan belati kecil itu.

"Ayolah, Hali. Bukankah kau bilang tidak seru kalau terlalu cepat selesai?" Taufan mengacak rambutnya sendiri, "Menurutmu apa Putri akan menemukan kebenaran di kuil? Aku senang-senang saja jika ada orang yang memberitahu fakta mengenai masa lalu Raja. Saintess atau muridnya atau siapalah, aku tidak peduli siapa orang yang bisa membeberkan itu semua pada Putri."

Halilintar menatap lekat kuil Esviren. Makam ibunya juga ada di sana tapi terpisah dengan makam anggota keluarga kerajaan lainnya. Ketika pertama kali ia mengetahui makam ibunya terpisah, ia berontak dan bersikeras memindahkan makam ibunya ke tempat yang sama seperti keluarga kerajaan lainnya. "Ini tidak adil. Biar hanya selir, ibuku sudah memiliki ikatan dengan Yang Mulia Raja. Pindahkan makam ibuku bersama lainnya!"

"Oh pangeran terbuang, Jun Halilintar de Lytha. Sampai kapan pun hidup tidak akan pernah adil untukmu. Jadi diam dan terima saja. Kami sebagai dewan bangsawan masih berbaik hati karena mengizinkan ibumu disemayamkan di sini, harusnya kau berterima kasih dan bukan merengek seperti ini." Suara melengking dari Marchioness Rithian menggema di kepala Halilintar saat itu.

Bahunya digenggam kencang oleh bangsawan lainnya, "Dengar Halilintar. Kakakku itu sudah menderita karena menjadikan ibumu bagian dari kerajaan. Tidakkah kau paham? Yang Mulia Raja tidak mencintai ibumu dengan teramat sangat. Selesaikan pemakaman menjijikan ini dengan cepat dan pergilah ke istana barat bersama adikmu. Jangan pernah menampakan batang hidungmu lagi di ibukota. Gelarmu tetap ada, jangan khawatir. Jadi, jangan pernah kau meminta apa-apa lagi dari Yang Mulia Raja!" Duke Kylle mengancam Halilintar dengan tajam.

Halilintar mendesis pelan, mengingat memori-memori paling menyakitkan. Ia dan Taufan memang tetap memiliki gelar bangsawan tapi itu hanyalah gelar yang kosong. Bangsawan dengan gelar dan tanpa kekayaan. Bagi bangsawan hal tersebut adalah neraka. Tidak ada yang lebih menyedihkan dibanding menjadi bangsawan miskin. Istana barat adalah istana yang jauh dari ibukota, tidak terawat dengan baik semenjak ibu dari kembar bersaudara meninggal dunia. Dewan bangsawan saat itu sengaja menghapus jejak keberadaan selir beserta anak-anaknya dari sejarah Raja Kerajaan Lytha. Raja tidak bergeming sama sekali, ia larut dalam kesedihan.

"Kau baik-baik saja, kak?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan ibu."

"Haruskah kita ke dalam kuil? Kita bisa masuk dengan sihirku."

"Ide bagus. Bicara soal sihir... aku penasaran akan sesuatu, apa menurutmu kekuatan suci adik kita itu kuat?"

Taufan menaikkan bahunya, "Yah, mau besar atau kecil, dia tidak pernah diajarkan siapapun untuk mengendalikannya. Kita hanya perlu membuat diri kita semakin kuat agar jurang kekuatan antara Putri dan kita semakin lebar."

Halilintar menyeringai, "Aku setuju. Ayo masuk... ke makam ibu."

.

.

.

Halo, saya menyapa pembaca sekalian. Jika ada yg bertanya apakah ada romance? Hoho, saya tidak bisa kasih spoiler. Alurnya akan lambat, jadi gpp kalau merasa greget ahaha. Terima kasih ya. Jangan lupa vaksin ya teman"!