Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto
Warnings : Just for Hinata-cent, and just for fun.
.
enjoy
.
.
.
.
Hyuuga Hinata, heiress Hyuuga yang mendapat tittle calon menantu idaman para ibu-ibu Konoha. Jadi sejak kapan dia mendapatkannya?
Bagi ibu-ibu lain gadis itu mulai terkenal dikalangan mereka adalah ketika di tahun putri Hyuuga menjadi chunin. Dia terlihat begitu cantik dan anggun dengan rambut panjangnya, ditambah Hinata yang juga sering ke pasar tempat para ibu ini nongkrong, membuatnya semakin dikenali dan dilirik ibu-ibu yang punya anak lelaki.
Sayangnya, keinginan mereka untuk meminang Hinata nampaknya hanya menjadi harapan yang mengawang di udara. Pasalnya saingan mereka adalah tiga ibu negara yang punya pengaruh kuat bagi desa, ditambah mereka terangan-terangan menambuh gendang persaingan untuk merebut hati si sulung Hyuuga.
Jika kau warga atau shinobi biasa tanpa backup kuat, siapa yang akan berani ikut dalam persaingan mereka?
Dalam persaingan sengit itu, ada Kushina, Mikoto dan Yoshino. Mau ikut-ikutan? Setidaknya kau harus sekuat dan se-elit Tsunade.
Lalu bagaimana tiga ibu negara ini begitu repot-repot bersaing menjadikan Hinata menantu?
Mari kita mulai dari Kushina..
Tak seperti ibu-ibu lain yang melihat Hinata ketika gadis itu tengah dalam proses merekah. Kushina, ibu dari Naruto, justru telah memberi label Hinata sebagai menantu idamannya sejak gadis itu dan putranya masih di akademi. Agak ekstrem, tapi memang itu yang terjadi.
Kushina melihat gadis kecil pemalu diam-diam mengintip putranya yang tengah berbuat onar. Dan beberapa kali dia memergoki gadis itu memperhatikan Naruto saat ia mengantar dan menjemput putranya di akademi. Sebagai ibu tunggal dengan putra yang suka berbuat kerusuhan demi mencari perhatian, Kushina sangat terharu bahwa ada anak perempuan –yang imut lagi- justru melihat kagum ke arah Naruto yang awut-awutan itu.
Diam-diam Kushina mulai mendekati Hinata kecil. Mencari tahu lebih tentang gadis kecil itu, dan semakin membuat Kushina jatuh hati. Beberapa kali Kushina harus selalu menahan diri untuk tidak menculik Hinata dan membawanya ke kantor administrasi Konoha agar gadis kecil itu berubah menjadi Uzumaki. Apalagi ketika Kushina tau bagaimana klan Hyuuga terlihat tak peduli dengan pewaris utamanya ini.
Sejak itulah, Kushina memantapkan hatinya untuk menjadikan Hinata menantunya di masa depan. Bahkan karena dunia shinobi begitu berbahaya dan tak terprediksi. Kushina membuat surat wasiat berisi perintah agar Naruto segera menikahi Hinata ketika usia mereka sudah legal. Sebuah rencana pencegahan, pikirnya.
Kushina pikir dia tidak akan mendapat pesaing berat. Dia mengenal Hinata lebih dulu. Hinata juga mengenal Kushina bahkan sebelum gadis itu mengenal Kurenai sebagai gurunya. Dan yang paling utama, Hinata juga nampaknya menyukai putranya –Naruto. Jadi harusnya semua lancar dan aman sampai mereka dewasa nanti, tinggal sedikit memberi dorongan dan sentilan pada Naruto yang kurang peka, maka di masa depan Hinata akan benar-benar menjadi menantunya.
Namun rencana yang dikira mulus harus menjadi berkelok, ketika nyonya Uchiha tiba-tiba ikut-ikutan mendekati Hinata Hyuuga untuk menjadikan gadis itu menantu di keluarga mereka.
Oh sial.
Bagaimana bisa, nyonya Uchiha yang lemah lembut dengan dua putra itu juga ikut menandai Hinata sebagai anak menantunya kelak?
Mikoto tentunya telah mengenal Hinata bahkan sejak gadis itu masih balita. Namun saat itu, ia mengenalnya hanya sebatas putri sulung keluarga bangsawan Hyuuga yang ditinggal mati ibunya.
Mereka sama-sama berasal dari klan dengan kekuatan mata. Sama-sama berasal dari keluarga elit desa. Tapi tradisi mereka sangat berbeda. Uchiha tak bisa dikatakan klan bangsawan, mereka memang istimewa dan punya posisi khusus pada pemerintahan desa, namun tak seperti Hyuuga, Uchiha jauh lebih modern dan menerima perubahan, mereka juga lebih terbuka dengan perkawinan di luar klan. Berbeda dengan Hyuuga yang masih sangat menjunjung tradisi kolot keluarga dan memastikan darah murni keturunan tetap terjaga.
Sebagai nyonya Uchiha yang menghargai segala kebijakan dan privasi klan-klan lain. Mikoto tak pernah berniat ikut campur ataupun mengulik masalah keluarga lain. Kecuali tentunya jika ada sesuatu yang mengancam kedaulatan desa.
Karena itu pula ia tak pernah memperhatikan sosok Hinata Hyuuga. Hingga ketika ujian chunin diadakan.
Mikoto yang tengah menonton pertandingan dengan temannya –Kushina, terpukau pada kegigihan Hinata yang mencoba mengalahkan kakak sepupunya sendiri. Ia bahkan melupakan kekhawatiran pada putranya yang sebelumnya telah bertanding dan harus dibawa ke ruang perawatan.
Pertandingan Hinata dan Neji, jelas bukan pertandingan dengan lawan yang sepadan. Dari sudut manapun, semua orang tau bahwa si gadis Hyuuga yang akan kalah. Tapi kegigihannya, bagaimana gadis itu tidak menyerah, bagaimana gadis itu ingin agar kakak sepupunya tidak meremehkannya, telah memukau semua mata yang melihatnya, tak terkecuali Mikoto.
Saat Neji menyerang Hinata diakhir pertandingan, Mikoto hampir berteriak dan melompat ke arena, sebelum akhirnya menyadari bahwa banyak guru yang telah mencegah pemuda Hyuuga itu melukai Hinata lebih dari sebelumnya. Mikoto membuang napas lega tapi kembali tercekat ketika Hinata batuk darah dan jatuh tak sadarkan diri. Tanpa sadar, air mata lolos dari netra hitamnya. Mikoto tak begitu mengenal gadis itu, tapi dia begitu merasa sedih melihatnya menderita.
Disampingnya, baru Mikoto sadari bahwa Kushina bahkan menangis tersedu-sedu. Raut wajah istri mendiang hokage keempat menampakan amarah dan luka untuk gadis itu. Tapi ketika putranya mengikrarkan janji dengan darah Hinata bahwa ia akan mengalahkan Neji di pertandingan berikutnya, Kushina berteriak histeris membanggakan putranya, dia nampak sangat bangga dan terharu. Oh bahkan Kushina menjadi jauh lebih ekspresif dibandingkan saat Naruto tadi berhasil mengalahkan pemuda dari keluarga Inuzuka.
Saat Hinata akhirnya dibawa ke ruang perawatan dan Neji tentunya diumumkan sebagai pemenang, baru Mikoto menyingkir untuk menengok kondisi Sasuke pasca pertarungan putranya tadi. Dan setelah memastikan bahwa putranya telah mendapat perawatan terbaik dan dalam kondisi yang stabil, Mikoto mampir ke ruang rawat gadis tadi, beruntung bahwa ruang rawat Sasuke dan Hinata nampaknya bersebelahan.
Ketika memasuki ruangan Hinata, gadis itu masih tak sadarkan diri, luka-lukanya sudah diperban dan beberapa infus terpasang di tubuhnya. Tidak seperti Sasuke dimana saat Mikoto masuk, putranya telah dijaga seorang anbu dan seseorang dari klannya, Hinata justru sendirian di ruangannya, bukan berarti gadis itu tanpa penjagaan karena Mikoto dapat merasakan ada anbu yang menjaga ruangan dari luar, hanya saja ruangan ini terasa begitu sepi dan kosong.
Mikoto memperhatikan Hinata. Teringat pertandingan tadi perasaan sedih namun juga kagum kembali merayap ke hatinya. Karena peraturan dan tradisi klan, gadis semuda ini harus mendapatkan kebencian dari saudaranya sendiri akibat kesalahpahaman. Dia bahkan hampir meregang nyawa ditangan kakak sepupu yang harusnya menjaganya.
Nyonya Uchiha tercekat ketika Hinata tiba-tiba mengigau memanggil ibunya yang telah tiada. Gadis itu menangis dalam tidurnya, dan dengan suara lirih terus memanggil ibunya. Mikoto merasa jantungnya tercubit, merasa bersalah telah mengabaikan si putri Hyuuga sendirian selama ini. Dengan menggenggam tangan gadis itu, Mikoto mengucapkan kata-kata penenang.
Dan saat itu, Mikoto ingin Hinata menjadi putrinya. Ia ingin menjadi sosok ibu untuk gadis itu. Tentunya, untuk menjadikan Hinata putrinya secara legal dan sah tanpa harus ribut-ribut dengan keluarga Hyuuga adalah dengan menjadikan Hinata menantunya.
Maka Mikoto pun berjanji ketika gadis ini dewasa nanti, ia akan meminangnya untuk putranya kelak. Masalah suka atau tidak. Mikoto cukup percaya diri, maksudnya kedua putranya memiliki wajah rupawan dan selalu menjadi idola, jadi mungkin Hinata juga mengidolakan putranya kan?.
Lalu untuk Sasuke, Mikoto bisa menanamkan doktrin-doktrin tentang Hinata agar pemuda itu mendekati si gadis Hyuuga. Sasuke memang terlihat dingin, tapi dibalik itu dia sangat penurut dan menjadi lembut jika sudah berurusan dengan ibunya.
Jadi Mikoto pikir semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana, sebelum ia tahu bahwa temannya telah lebih dulu mengenal dan mendekati Hinata. Pun dengan tujuan yang sama –menjadikan Hinata menantu mereka. Lebih parahnya, si sulung Hyuuga rupanya menaruh hati pada putra temannya itu. Sebuah fakta yang membuat Mikoto blank seketika. Sepengetahuan Mikoto, putranya itu si Sasuke banyak di kejar-kejar gadis muda. Dari sekian banyak gadis yang mengejar putranya, bagaimana bisa justru Hinata yang tidak tertarik dengan si bungsu Uchiha.
Oh Nasib.
Dan double sial ketika Kushina dan Mikoto berpikir bahwa persaingan hanya terjadi diantara mereka, tanpa malu Yoshino Nara ikut masuk ke arena pertarungan keduanya. Bukan untuk meredakan persaingan, justru menambah panas keadaan.
Yoshino memang yang paling telat menyadari tentang bagaimana mempesonanya kunoichi dari Hyuuga. Ia memandang Hinata hanya sebagai kunoichi biasa seperti teman-teman Shikamaru lainnya. Tentu ia tau bahwa mereka adalah gadis-gadis kuat dan harta karun desa. Tapi mengenai siapa yang nanti akan dekat dengan putranya ia juga tak begitu mempermasalahkannya.
Pandangan biasa itu berubah ketika Hinata dan Shikamaru menjadi dekat setelah Izuma –guru Shikamaru wafat. Shikamaru merasa bertanggung jawab kepada keselamatan Kurenai yang ditinggalkan Izuma dalam keadaan hamil, karena itu ia sering mengecek kondisi istri gurunya itu dan berakhir bertemu dengan Hinata yang juga tengah menemani sang guru di waktu kosongnya.
Beberapakali Yoshino menjumpai putranya mengantar si kunoichi ke kediamannya. Melihat mereka berjalan beriringan, jiwa shipper nyonya Nara bangkit ke permukaan. Di mata Yoshino mereka tampak sangat serasi. Yoshino menyesali dirinya yang baru sadar bahwa Hinata begitu sangat pas untuk menjadi sosok menantunya kelak. Dia cantik, keibuan dan juga menarik atensi putra tunggalnya yang pemalas itu. Asumsi tentang putranya yang tertarik pada Hinata bukan hanya sebuah bualan, ingatkan jika Shikamaru itu pemalas dan menghindari hal-hal merepotkan tapi dia justru mau repot-repot mengantar Hinata ke rumahnya, sesuatu yang jelas tidak perlu mengingat jika Hinata adalah seorang chunin yang kuat.
Karena itu meski tahu bahwa ada nyonya Uchiha dan Uzumaki yang sudah terangan-terangan menginginkan Hinata, Yoshino tanpa takut ataupun malu karena terlambat tetap ikut mendekati sulung Hyuuga itu. Lagi pula, bagi Yoshino saingan kuatnya hanya pada si Uzumaki, itu karena Hinata yang menyukai pemuda itu, meski Uchiha juga tidak bisa dianggap sebelah mata.
Untungnya, untuk persiapan perang, bocah Uzumaki dan Uchiha harus keluar desa karena pelatihan. Mereka harus menjadi lebih kuat karena menjadi kunci dari peperangan ini. Putranya yang ahli dalam strategi tetap di desa dan bersama Hinata. Masa-masa sebelum perang adalah masa Shikamaru mendekati Hinata. Agak kurang tepat sih waktunya, tapi Yoshino yakin putranya yang jenius bisa mengerjakan dua hal bersamaan.
Mikoto dan Kushina kesal bukan kepalang. Yoshino hadir dan menambah beban saja. Apalagi mereka juga dari keluarga terpandang. Lebih-lebih Nara dikenal dengan ahli strateginya, dua ibu yang sudah membuat rencana menjadi lebih waspada dan hati-hati agar tidak disalip duluan.
Masa-masa menuju perang, semua sibuk untuk persiapan. Mau tidak mau para ibu ini juga lebih memikirkan keluarga, klan terlebih keamanan dan kedaulatan warga desa. Di bandingkan apapun mengalahkan Madara menjadi prioritas utama.
Pasca perang yang menyisakan luka, Konoha dan desa lain perlahan-lahan mulai bangkit dari kesedihan akibat ditinggalkan orang-orang terkasih. Begitu pula dengan Hinata yang ditinggal Neji sang sepupu.
Melewati masa-masa kelam penuh kesedihan, Hyuuga Hinata menjadi gadis yang lebih matang. Dia begitu mempesona, menawan dan memikat banyak kalangan.
Trio ibu bahkan menjadi makin gencar, siapa saja dari keluarga Hyuuga didekati untuk mencari dukungan.
Sialnya, tiba-tiba semua orang menjadi berani untuk sekedar bertanya pada Hinata. Ibu-ibu di pasar, kerap kali iseng bertanya tentang pernikahan, atau diam-diam memperlihatkan foto putra mereka. Ataupun shinobi-shinobi muda yang pernah bekerja sama dengan Hinata di medan perang dulu, juga sering kali bercanda tentang ajakan menjadi kekasih hati. Mereka semua tentunya tau siapa saingannya, hanya saja siapa tau pas lagi nanya, Hinata mabok dan tanpa sengaja menjawab iya. Iseng-iseng berhadiah, siapa yang tahu kan? Pikir mereka.
Seperti saat ini, Hinata yang sedang membeli bahan untuk membuat kue lagi-lagi di hadapi dengan ajuan pertanyaan dari si ibu penjaga toko. Dan tentu di jawab dengan tolakan sopan dan senyum manis seperti biasa.
Hal ini sudah sering Hinata alami sejak chunin. Tapi setelah perang, Hinata rasa ia jadi lebih banyak mendapat pertanyaan serupa. Kadang Hinata berpikir agar dirinya segera menikah saja untuk menghindari fitnah. Masalahnya, sama siapa?
Well, terlalu banyak pilihan juga membuat susah kan?
"Hinata-chan!"
Sebuah panggilan dari tiga suara berbeda dan arah berbeda.
Hinata menoleh, dan mendapati tiga ibu dari nakama-nya berjalan cepat ke arahnya.
Hinata tersenyum dan menunduk sopan membalas sapaan.
Kira-kira kali ini akan ada obrolan apa lagi?
