CHAPTER 2 : UNCONSCIOUS GIRL 2
"Jika di hari itu hujan berhenti
Aku akan berjalan melewatimu
Jika bis tiba di waktu biasanya
Aku tak akan bertemu denganmu"
If – Kana Nishino
.
.
Pagi ini ramai sekali. Hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama libur membuat Tokyo lebih padat dari sebelumnya. Murid-murid sekolah berlalu lalang sambil mengobrol dan bercanda. Saling tukar sapa dan rindu.
"Ya ampun aku kangen!"
"Ku juga kangen! Gimana kabarmu?"
"Hei, aku bertaruh sepanjang liburanmu kau hanya memelototi cewek-cewek di majalah karena kau jomblo. Lol."
"Ciusan? Wow"
"Apa katamu?! Aku bukan kau, dasar gila!"
"Ahaha"—
Kira-kira kalimat seperti itu yang Kuroko curi dengar dikala ia berlari. Napasnya memburu hasil kaki-kakinya melangkah cepat.
Ia terlambat. Dan ia panik.
Masih ada sedikit waktu sampai upacara penyambutan sekolahnya dimulai. Kuroko harap bisa datang sebelum itu.
Will Me Be There?
Chapter 2: Unconscious Girl (2)
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Rated T
Genre: Romance, Slice of Life
Story by ChocoKhrs
Kuroko mendongak melihat papan di atas pintu kelas untuk memastikan. Di sana tertulis nomor ruang kelas yang akan ia naungi sampai dirinya lulus nanti.
Kelas 3-6.
Setelah upacara penyambutan yang untungnya ia datangi tepat waktu, Kuroko langsung pergi mencari kelas barunya. Perjalanannya cukup jauh di lantai 3. Staminanya sudah cukup habis terkuras dari pagi. Rasanya ia bisa ambruk kapan saja.
"Ah! Kurokocchi~!"
Suara cempreng yang khas dan familiar langsung menyambut Kuroko tanpa basa-basi begitu ia melangkahkan kaki ke dalamnya.
Oh.. bentuk kesialan lain Kuroko hari ini.
"Kise-kun, selamat pagi." salam Kuroko datar.
Kise menghampiri Kuroko dengan riang. "Selamat pagi! Senang sekali kita satu kelas-ssu!"
Sayang sekali Kuroko berpikir sebaliknya.
"Ke sini, ke sini! Duduk di sini-ssu!"
Kise mengarahkan Kuroko ke meja di paling belakang dekat jendela a.k.a tempat duduk paling klise sejagat peranimean. Meja di sampingnya sudah Kise tempati.
"Berisik, Kise. Suara cemprengmu terdengar sampai luar."
Kuroko dan Kise menoleh ke sumber suara. Dari arah pintu muncul Aomine dengan wajah mengantuk.
"Aomine-kun,"
"Aominecchi!"
Aomine langsung duduk di kursi yang Kise ingin Kuroko menempatinya.
"WHA?!-Apa yang kau lakukan?! Itu tempat Kurokocchi-ssu!" Kise mencoba menarik Aomine keluar.
"Hah? Apa, sih? Ini tempat favoritku tau?!" ucap Aomine kesal. Tangan kanannya mendorong wajah Kise jauh-jauh.
"Udah dibooking-ssu!—Aominecchi cari tempat duduk lain aja-ssu!"
"Ano.."
"Enggak mau, teme!"
"Tolong jangan bertengkar,"
"Khh—minggir-ssu-!"
"Sialan—"
"..."
Kuroko menghela napas.
Ia ingin melerai, tapi dua insan ajaib ini susah dipisahkan kecuali Sang Kapten Merah. Selain 'beliau' akan dibutuhkan lebih banyak energi sementara Kuroko rasanya sudah capek duluan.
Ia hanya ingin istirahat.
Pada akhirnya Kuroko duduk di kursi depan Aomine.
Hasilnya si kuning kalah, si biru dongker menang. Kise mencibir dan ngedumel sendiri di mejanya.
"Ngomong-ngomong, Tetsu," Aomine menunjuk matanya sendiri sebagai contoh. "Wajahmu keliatan sangat lelah. Apa yang terjadi?"
"..." Kuroko tidak tahu harus merespon apa.
Memang jika diperhatikan ada kantung hitam menggantung di sana. Kulit Kuroko yang putih bak porselen condong pucat pasi jadi semakin mirip mayat hidup.
"Eh iya-ssu, seperti setengah kehidupan Kuroko cchi menguap." Kata Kise khawatir. "Kurokocchi sakit?"
"Apa kau melakukannya berlebihan kemarin?" Yang dimaksud Aomine adalah kerja sambilannya. Ia ikut khawatir.
Kepala Kise muncul tanda tanya tak mengerti.
Kuroko menggeleng pelan. "Bukan." Ia ragu.
Sebelah alis Aomine terangkat.
"..Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian."
Kemarin malam.
Kuroko cengo di tempat setelah mendapati gadis yang entah berantah tiba-tiba ada di sini. Tertidur. Tidak sadarkan diri.
Gadis itu meringkuk seperti bayi dengan setelan one piece putih. Pakaian yang tidak cocok di malam yang dingin ini.
Kuroko be like.. seriously?
Pemuda pemilik surai baby blue ini yakin sedari tadi tidak ada siapa-siapa di sini.
Tapi kenapa..
Kuroko itu observant. Tipe orang yang selalu memperhatikan orang lain dan sekitarnya. Jadi tidak mungkin Kuroko melewatkan hal seperti ini. Kecuali ada seorang yang ajaibnya punya hawa keberadaan tipis yang sama seperti dirinya. Lagipula sebenarnya cahaya apa itu tadi?
Alien?
Mana mungkin. Kuroko geleng-geleng. Tidak ada UFO di sini.
Lalu?
Kuroko speechless. Jangan-jangan..
Hantu?
Kuroko berjalan mendekati gadis itu. Ia berpikir untuk menyentuhnya barang sedikit—dalam artian hanya ingin memastikan. Meskipun dalam pikirannya itu tidak sopan menyentuh gadis tak dikenal yang sedang tak sadarkan diri. Tapi apa boleh buat.
"Permisi.." Ijinnya tatkala jari telunjuk Kuroko menyentuh pipi gadis itu.
Suhunya masih hangat..
Sekarang ia mencoba menepuk halus pundak gadis itu guna membangunkannya.
Tapi wajahnya pucat.
"Nona?"
Kuroko tidak tahu apakah itu kata yang tepat untuk memanggilnya.
"Tolong jangan tidur di sini," Kuroko masih menepuk pundaknya, "Kau bisa terkena demam."
Gadis itu tidak bergeming. Tanda bahwa ia ada kesadarannya.
Ia mengerang seperti kesakitan ketika disentuh oleh Kuroko. Mulutnya bergerak gerak, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Kuroko kebingungan. "Nona?"
Tiba-tiba tangan Kuroko dipegang dengan cepat dan erat.
Gadis itu terbangun—terduduk. Matanya terbuka lebar-lebar. Ia terengah-engah dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Kuroko terkejut, tentu saja.
"Anu.."
Kuroko berusaha menopangnya. "Kau baik-baik saja?"
Jawabannya adalah tidak ketika gadis itu meringis. Kedua tangannya menahan kepalanya yang pusing.
"Tunggu sebentar." Kuroko langsung berinisiatif untuk mengambil minum. Yang kalau tidak salah ia punya satu di dalam tas-nya.
Ketika Kuroko pergi ke tempat tasnya berada, gadis itu pelan-pelan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dengan visual matanya yang agak buram, yang bisa ia lihat hanya pagar tinggi yang mengelilingi seluruh lapangan, ring basket, dan pepohonan. Cahaya di sana remang-remang karena hanya didukung lampu taman dengan daya yang minim.
Ia bingung dan merasa asing. Tubuh kecilnya juga menggigil. Perasaan takut pun mulai menggerogotinya. Sebenarnya ini di mana?
"Silahkan." Kuroko menyodorkan sebotol mineral baru yang tadi buru-buru ia ambil. Tutup segelnya sudah ia buka untuk memudahkannya minum.
Tapi gadis itu hanya memandanginya ragu. Dari ekspresinya seperti mengatakan 'siapa?' dengan cemas.
Responnya gadis itu membuat Kuroko bertanya-tanya dalam hati.
Ah, benar juga.
Jika Kuroko menempati dirinya di situasi seperti ini, normalnya orang pasti akan takut dan waspada pada manusia tak dikenal-menawarkan sesuatu-di malam hari-setelah ia bangun-di tempat asing
Jadi wajar kalau gadis ini takut-takut. Dalam hatinya pasti campur aduk bingung harus berbuat apa.
Mengetahui itu Kuroko berbicara hati-hati. "Tidak apa-apa. Saya tidak punya niat buruk." lalu tersenyum tipis.
Suara yang dikeluarkan Kuroko terdengar hangat dan menenangkan.
Mendengarnya wajah gadis itu melunak. Ia merasa sedikitnya mungkin bisa mempercayai Kuroko.
Syukurlah—
—bruk
"Nona?"
Air mineral yang sedari tadi digenggam Kuroko pun tumpah.
Curcol :
Entah kenapa kemampuan menulisku turuun T-T /ditampar/
Salah sendiri sih, lama update ffn setahun sekali wk. Padahal kayaknya series ini agak panjang /nangid/
Kalo ada kata atau kalimat yang salah atau keliru mohon dikoreksi, ku hanya manusia biasa:'3
Terima kasih sudah baca!
Mind to RnR? :D
· ChocoKhrs
