Warnings : Just for Hinata-cent and just for fun.
.
.
Hinata duduk di engawa* di bagian belakang kediamannya, dimana terdapat lapangan luas yang biasa menjadi tempatnya dan neji berlatih.
Gadis itu hanya duduk menatap langit yang semakin berwarna orange sendirian. Suasana sore itu begitu sepi hanya ditemani suara dentingan dari furin* yang diterpa oleh semilir angin yang sejuk.
Beberapa kali terdengar suara helaan napas berat yang berasal dari gadis itu sendiri.
"Jika Neji-niisan masih disini, apa yang akan dia katakan?" Hinata bergumam.
Perasaannya yang kalut dan pikirannya yang semakin berkabut, membuatnya jadi lebih merindukan mendiang kakak sepupunya.
Biasanya Neji akan selalu membantunya. Pria itu bisa memberikannya saran dan nasihat yang selalu bisa menenangkannya.
Itu karena Neji yang selalu percaya pada Hinata dan kemampuannya. Ya, meski Hinata kemudian menyadari bahwa ada orang lain yang juga telah mempercayainya seperti Naruto, Sasuke dan Shikamaru, namun tentu saja kepercayaan dari Neji terasa berbeda. Karena Neji hanya memandangnya seperti adik yang perlu ia jaga, membuat Hinata lebih ringan untuk sedikit bergantung pada kakak sepupunya itu.
Itulah mengapa, kepergian Neji menjadi kehilangan terbesar bagi gadis itu.
Hinata kembali menghela napas, "Apa yang harus aku katakan ketika bertemu mereka, nii-san?"
Sejak kejadian satu minggu yang lalu di kedai yakiniku, Hinata belum keluar dari rumah sama sekali. Ia bahkan meminta para bunke untuk mengatakan dia tengah tak bisa ditemui jika ada yang datang mencari.
Hinata masih malu, juga merasa bersalah. Ia ingat semua apa yang telah terjadi dan yang ia katakan sebelum dan saat dirinya mabuk saat itu. Padahal disana juga ada kage yang rupanya telah memberinya sebuah lamaran, tapi dengan tidak sopan Hinata menolak mentah-mentah dalam keadaan mabuk.
Jika mengingatnya kembali, Hinata langsung merasa mual.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Hinata?"
Hinata terlonjak kaget dan segera mendongak ke sumber suara. Ayahnya tengah berdiri di sebelahnya dan menatapnya penuh tanya.
"Otou-sama!" Hinata akan bangkit untuk memberi hormat sebelum Hiashi menahannya dan justru ikut duduk di samping putrinya itu.
Sang pemimpin Hyuuga kemudian memberi isyarat pada bunke –yang ternyata sudah sedari tadi berada di belakang pria itu- untuk meletakkan nampan berisi satu teko teh dengan dua cangkir kecil dan cemilan ringan.
Sebagai putri keluarga bangsawan yang telah diajari tata krama sejak balita, Hinata segera menuangkan teh tersebut di cangkir kecil dan diserahkan untuk ayahnya.
"Otou-sama, tidak biasanya minum teh di tempat seperti ini."
Hiashi memiliki ruangan untuknya biasa menikmati teh sendiri. Aneh juga rasanya jika seorang kepala klan duduk di pinggir engawa dengan lapangan latihan yang kosong hanya untuk menikmati teh sorenya.
Hiashi menyeruput tehnya, mengabaikan pertanyaan putrinya. Karena memang Hiashi tidak berniat untuk duduk di tempat ini, sebelumnya dia hanya berniat untuk menemui tetua Hyuuga hingga akhirnya melihat putri sulungnya tengah duduk sendirian dengan wajah pias.
Sudah lama juga Hiashi tidak mengobrol dengan putrinya. Akibat kesibukan klannya yang ikut berpartisipasi pada keamanan desa karena pertemuan para kage, Hiashi bahkan belum sempat berbicara pada putrinya dan mencari tahu penyebab Hinata mengurung diri di rumah setelah waktu Hinata pulang dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Tentunya Hiashi tau garis besar permasalahannya dari mata-mata yang ia tugaskan. Tapi Hiashi ingin tahu juga dari mulut Hinata sendiri.
"Otousama, hanya ingin berbicara denganmu."
Hinata menunduk. Tiba-tiba ia merasa gugup.
"Apa ada yang ingin tousama sampaikan?"
"Kau baik-baik saja? Hampir satu minggu kau hanya di rumah."
"Aku baik-baik saja, tou-sama tidak perlu mencemaskanku."
"Apa karena kau ingin menghindari mereka?"
Tepat sasaran. Hinata mematung sesaat. Sebisa mungkin padahal ia telah menutupinya namun semua orang seperti mudah membaca pikirannya.
"Kenapa menghindari mereka? Mereka menyakitimu?"
"Tidak-tidak, mereka tidak pernah menyakitiku, tousama!" Hinata terkejut dengan pertanyaan ayahnya. Dibanding itu, Hinata rasa justru dirinya lah yang selalu menyakiti mereka.
"Lalu?"
"Aku ingin segera membuat pilihan. Tapi, aku takut akan menyakiti yang lainnya."
Hiashi mengerti. Putrinya ini begitu baik hati sehingga ia tidak kuasa jika harus menyakiti orang lain, yang malah akhirnya justru membuatnya semakin merasa bersalah dan menyakiti diri sendiri.
"Hinata, apa kau tidak percaya pada perasaanmu? pada perasaan pilihanmu? Atau pada perasaan yang lain?"
Hinata menatap ayahnya, entah kenapa ia merasa tengah dimarahi. Hinata merasa kembali saat ia di Akademi, saat ayahnya masih dengan keras dalam melatihnya. Ada sedikit perasaan takut namun juga hangat menyelimuti hatinya. Bukan berarti Hinata senang dengan masa kecilnya yang kelam, tapi nada yang digunakan ayahnya tadi membuatnya merasa kembali menjadi anak kecil yang wajar berbuat kesalahan dan harus mendapat teguran karena ayahnya menyayanginya.
"A –aku..." sudah lama sekali Hinata tidak gagap ketika berbicara di hadapan ayahnya.
"Hinata, kau tidak perlu bertanggung jawab pada perasaan semua orang. Kau hanya perlu bertanggung jawab pada perasaanmu sendiri.*" Hinata terperangah, menatap ayahnya yang juga tengah menatapnya lembut.
"Bukan salah mereka jika memberimu cinta, dan bukan salahmu jika kau hanya bisa membalas satu cinta yang kau terima. Maka yakinlah, percayalah pada hatimu."
"Otou-sama percaya padamu," Hiashi menggenggam kedua tangan Hinata. Mencoba memberinya kekuatan.
"–dan tousama percaya pada pilihanmu. Siapapun itu, entah Naruto, Sasuke, Shikamaru." ataupun Gaara sekalipun.
"Siapapun itu, asalkan dia adalah pilihanmu, tousama tidak akan keberatan Hinata. Dan aku yakin mereka tidak akan menyakitimu. Dan sama seperti tousama, mereka juga tidak akan keberatan siapapun pilihanmu."
"Otou-sama," Hinata sudah berkaca-kaca. Perasaan hangat kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Hinata tidak menyangka jika ayahnya akan memberinya kekuatan sebanyak ini di tempat dimana dia dulu justru mendapat banyak tekanan dari ayah dan para tetua klan.
Hiashi membelai dan menepuk puncak kepala Hinata. Sesuatu yang sudah sangat lama sekali tidak pernah ia lakukan.
"Kau adalah putri tou-sama yang berharga. Kau tidak perlu takut. Jika kemudian akhirnya keputusanmu salah, jika akhirnya semua orang tidak mempercayaimu, aku akan tetap membelamu,"
Lagi pula, Hiashi yakin siapapun itu, keputusan dan pilihan Hinata tidak akan salah. Hiashi tau sendiri bagaimana semua orang menyayangi putrinya itu. Setidaknya jika kemudian salah satu dari ketiga pemuda itu menyakiti Hinata. Hiashi yakin, sebelum dirinya sendiri yang maju, para pemuda itu sudah lebih dulu dihabisi para ibu-ibu penuh kekuatan itu. Makanya Hiashi bisa tenang.
Dan juga Hiashi tidak perlu takut Hinata akan pergi jauh dari pengawasannya. Dia tau Hinata sudah menolak Gaara. Walau perjodohan dengan kage Suna memang sangat menarik, tapi jika dipikirkan akan lebih baik Hinata tetap di Konoha. Selain karena pasti dia akan diamuk para ibu, Hiashi juga jadi tidak bisa mengawasi putrinya. Nanti juga jika dia rindu dan ingin bertemu Hinata serta cucu-cucunya, itu akan menyusahkan. Hiashi sudah tua, membayangkan harus menempuh perjalanan jauh dan tinggal di padang pasir untuk menemui Hinata saja sudah membuatnya lelah.
Tapi tunggu, kenapa dia jadi sudah membayangkan soal cucu?!
Sepertinya tanpa disadari, Hiashi juga ingin Hinata segera menentukan pilihan, agar cepat dilangsungkan pernikahan. Rela tidak rela sih, tapi memang Hiashi ingin cepat menimang cucu.
"Jangan ragu lagi, mengerti? Cepat sampaikan, kepada siapa hatimu telah memilih."
Hinata mengangguk mantap. Kali ini perasaannya lebih ringan, seperti beban yang mengganjal telah menguap entah kemana.
Benar, dia tidak perlu lagi ragu. Hinata hanya perlu mengungkapkan siapa pria yang ia tatap sebagai seorang lelaki selama ini. Bukan hanya sebagai teman.
"Aku mengerti, arigatou, tousama," Hinata bangkit, "Aku permisi dulu," lanjutnya dan membungkuk.
Hiashi hanya membalas dengan anggukan dan senyum kecil yang tak kentara.
Hinata tersenyum cerah dan segera berlari menuju kamarnya. Hinata ingin bertemu dengan mereka dan para ibu, maka ada yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
.
.
Malam itu, bulan bersinar begitu terang dengan bentuk bulat sempurna. Di dalam kamarnya, Hinata telah menuliskan tiga surat untuk tiga pemuda berbeda yang selama ini telah memberinya banyak perhatian.
Hinata ingin bertemu dengan mereka secara terpisah, dan kali ini Hinata sendiri yang akan menemuinya, jadi di dalam suratnya Hinata meminta agar mereka datang tepat waktu. Karena selama ini mereka telah menunggu Hinata, maka Hinata ingin agar kali ini Hinatalah yang nanti menunggu mereka.
Semoga saja mereka mengerti dan semoga saja Hinata dapat menyampaikan perasaannya dengan benar.
Ah tidak, Hinata yakin mereka akan mengerti dan Hinata yakin dirinya bisa menyampaikannya dengan baik.
Hinata percaya pada mereka, mereka juga percaya pada Hinata lebih dari Hinata percaya pada dirinya sendiri.
"Tolong berikan surat ini pada mereka." Hinata menyerahkan tiga amplop berwarna ungu dengan aroma vanila kepada bunshin-nya.
Bunshin Hinata menerimanya dan tersenyum ke arahnya. Tanpa mengatakan apapun, bunshin tersebut melompat keluar melalui jendela kamar Hinata.
Hinata menatap kepergian bunshin-nya itu dengan tatapan penuh kelegaan dan harapan.
Urusan dengan para pemuda itu akan segera ia selesaikan besok, dan sebelum itu Hinata harus bertemu para ibu lebih dahulu.
"Tidak apa Hinata, kaa-san juga pasti akan menerimanya."
Benarkan?
.
.
.
Catatan Kaki :
engawa: koridor bagian luar rumah
furin: lonceng angin khas jepang
*3: kata-kata ini terinspirasi dari story berjudul those who fall in love karya chrrydrmy. (Abis baca ini akhirnya punya ide buat ngisi kekosongan tulisan di chap ini yang pas.)
.
.
AN : Haloo, aku kembali. Maaf karena lama sekali updatenya. I should finish my thesis and publish paper : It took a lot my energy.
Sebelumnya udah ku tulis sebagian, tapi emang ngerasa ada yang kurang jadi aku hold dulu sebelum publish.
Terimakasih banyak yang udah setia baca dan nunggu. Chap depan akan jadi chap terakhir.
Dan sekali lagi aku sampaikan. Endingnya dengan siapa, silakan menggunakan imajinasi sendiri. Karena gak akan aku tulis secara gamblang. Sudah ku bilang sebelumnya jika fic ini akan berakhir gantung, dan akan kubuat alternate ending untuk semua pasangan.
Saya harap nanti tidak kecewa, karena berkali-kali udah aku sampaikan.
Anyway, have a nice day semua.
See you
09/06/21
