Judul: Terkantuk
Karakter: Midoriya Izuku, Kirishima Eijirou
Kali ini, Midoriya bisa pulang cepat. Akhirnya dia bisa beristirahat lebih awal. Ia sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Segera ia keluarkan kunci untuk membukanya. Sepatu merah itu ia lepas, kemudian meletakkannya rapi di rak dekat dengan pintu masuk.
Praktikum yang mengharuskan ia menjelajahi sungai membuatnya merasa begitu kotor. Ilalang, sampah rumah tangga, dan berbagai macam hewan yang tidak familiar dimatanya bermunculan saat ia melakukan pengambilan sampel di bantaran sungai dekat dengan kampusnya. Tapi praktikum itu berakhir cepat karena awan hitam yang mulai menggelayut di atas sana.
"Ok, untuk hari ini cukup sampai disini, kita lanjutkan pertemuan depan," ucap seorang kakak tingkat kepada kumpulan mahasiswa yang terlihat berantakan lantaran menyusuri tepi sungai yang terbilang kotor itu.
Pemuda bersurai hijau lumut itu memutuskan untuk mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa sungai itu. Akhirnya ia bisa mendapat setengah dari sampel yang harus ia dapatkan. Hal itu cukup membuatnya puas karena di pertemuan selanjutnya ia hanya perlu melakukan pencarian data karena ada pergantian shift.
Ya, praktikum ini terdiri dari dua orang. Keduanya saling berbagi tugas agar keduanya sama-sama merasakan praktikum.
Setelah mandi sekitar 10 menit, ia pun keluar dengan hanya bertutupan handuk putih. Rambutnya basah menteskan air yang membasahi lantai. Setelah mengganti baju, ia putuskan untuk pergi ke ruang tengah.
Kamarnya ini memang cukup luas. Ada ruang tengah, kamar mandi dan dapur. Setidaknya itu cukup untuk dihuni dua orang, atau bahkan lebih jika memang ingin berhemat. Tapi pada kenyataannya hanya ada dua penghuni dalam kamar ini.
Penghuni yang lain masih belum datang.
Midoriya memutuskan untuk pergi ke dapur, melihat penanak nasi yang masih mengepulkan uap. Ia buka tutupnya dan bisa ditebak, isinya masih utuh.
"Haaah," ia mendesah pelan.
Kebiasaan sekali. Midoriya sudah hafal dengan perilaku temannya itu. Pagi hari menanak nasi untuk makan siang, tapi setelah itu tidur dan kesiangan, kemudian tergopoh berangkat menuju kampus. Akhirnya nasi itu dilupakan dan utuh sampai malam. Ia sudah sering menegur agar tidak melakukannya. Karena orang seperti Midoriya menolerir yang namanya Pemborosan.
Syukurlah masih ada makanan dingin di dalam kulkas. Nuget sisa kemarin, masih ada 6 biji. Ia juga masih punya soup dari kampus tadi. Setidaknya makan malamnya tidak terlalu kering di tenggorokan. Setelah menggorang nuget, ia juga sudah menghangatkan soup yang ia punya, akhirnya ia mulai mengisi perutnya yang sudah dari tadi keroncongan. Berdiri-berlutut-jongkok selama beberapa jam membuat kakinya sedikit ngilu.
"cklek" suara pintu dibuka membuat netra hijau itu melirik ke arah pintu, yah meski tidak akan terlihat karena ia sedang ada di dapur.
"Okaeri," suara yang terdengar lesu itu terdengar dari arah pintu. Akhirnya sang teman pun datang.
"Tadaima Kirishima-kun." Midoriya menyahut dari dalam dapur.
Mengetahui suara temannya berasal dari dapur, ia langkahkan kakinya yang sudah sangat berat itu ke arah dapur.
"Waaah, syukurlah, Midoriya. Kau pengertian sekali." Mata merahnya berbinar melihat ada lauk dan soup yang sudah siap disantap di meja makan. "Aku dari tadi siang belum makan," imbuhnya dengan suara memelas.
"Jangan dibiasakan Kirishima-kun. Jika nasinya telalu lama dipanaskan rasanya tidak enak." Midoriya mencoba memberi nasihat.
"Iya, iya, Midoriya-sama. Ittadakimasu!" dengan lahap ia menyantap makan malam sederhana itu.
Teman berambut hijau itu hanya maklum ketika teman berambut merahnya hanya mengiyakan saja. Karena ia tahu kemungkinan kejadian ini akan terulang lagi.
Dengan berbekal piring dan gelas ia menuju wastafel, kemudian bertanya pada jabrik merah yang sedang melahap makanannya, "Jarang-jarang Kirishima-kun pulang agak larut seperti ini. Ada rapat lagi?" tangannya membersihkan piring dan gelas dengan cepat, kemudian meletakkan di rak piring. Sudah menjadi kebiasaan ia akan langsung mencuci peralatan makan yang sudah ia gunakan.
"Oh, tadi bagian perkap butuh bantuan di lokasi, aku jadi harus membantu mereka meskipun bagianku sudah selesai." Ia mengeluh sambil mengecap nuget yang tersisa. "Tapi tak apa, besok akan menjadi hari bebasku. Tak ada kuliah dan bagianku di event bulan depan sudah selesai."
"Pas sekali Kirishima-kun. Besok jadwal Kirishima-kun untuk mencuci. Jadwalku besok penuh, jadi, jaga rumah ya. Hehehe." Bersamaan dengan tawa itu, Midoriya pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Kirishima dengan wajah 'aku-lupa'.
Pekerjaan rumah memang sudah dibuat jadwal, menyesuaikan dengan kegiatan masing-masing. Termasuk mencuci pakaian. Di lantai satu memang ada tempat untuk laundry, dan untuk menggunakannya cukup menyiapkan koin. Mereka berdua tidak keberatan untuk mencuci pakaian temannya. Setidaknya mereka merasa itu cukup efisien.
Midoriya kini sedang berada di kamar yang cukup untuk menampung dua ranjang dan satu lemari yang cukup besar. Ada meja belajar di sudut ruangan dan balkon yang menghadap matahari terbit. Kamar ini ada di lantai 4, jadi cukup jauh dari keramaian jalanan.
Ia rebahkan tubuhnya di kasur dengan sprei berwarna biru muda. Akhirnya, ia bisa segera tidur, mungkin. Tapi tangannya tengah sibuk dengan smartphone yang ia punya. Melihat satu persatu pesan yang baru masuk tadi sore. Kantuk yang tadi datang kini sudah pergi efek dari cahaya gawai canggih itu.
Ia lihat nama Bakugo Katsuki di salah satu pengirim pesan itu.
"Hei, Deku. Jangan lupa besok kau bawa sampelnya." Begitulah isinya. Hampir saja ia lupa kalau meskipun sampel itu baru setengah, tapi sampel itu harus segera dianalisis, tidak harus menunggu lengkap.
"Ok, Bakugou-san," begitulah jawabnya.
Bakugou Katsuki adalah teman sekelompoknya untuk praktikum ini. Ia bukanlah sosok yang pandai bersosialisasi, tapi mengetahui kecerdasannya yang bisa dibilang di atas rata-rata membuat banyak mahasiswa lain mengerumuninya, meski berakhir dengan penolakan mentah-mentah. Bahkan ada dosen yang sudah mengincar dia di semester 1, ia tertarik dengan Bakugou yang begitu kritis di kelas. Yah, kita kesampingkan sikapnya yang sedikit kurang sopan, tapi apa yang ia tanyakan memang benar-benar tidak terduga.
"Ne, Midoriya. Sepertinya ototku menjerit karena kerja rodi tadi sore." Remaja berambut merah itu menjejeri Midoriya di kasurnya- atau lebih tepat jika disebut menginvasi. Meski itu kasur Midorriya, tapi cukup untuk menampung dua orang. Dan invasi ini biasa dilakukan temannya jika ia sedang tidak ada pekerjaan apapun.
Midoriya sudah biasa dengan urusan pijat-memijat. Ia memang tidak pernah kursus memijat. Dia hanya belajar dari pamannya yang ahli akupuntur. Ia jadi paham dengan titik tubuh yang penting dan cara untuk meringankan rasa sakit yang dirasakan tubuh.
Bagaimana bisa Kirishima tahu? Jadi, saat maba dulu ia pernah terkilir di bagian kaki. Setelah Midoriya memijatnya, rasanya agak baikan dan beberapa hari kemudian sembuh. Setelah itu, Midoriya merasa menjadi tukang pijat pribadi seorang Kirishima. Ia tidak keberatan dengan itu. Lagi pula temannya juga tidak sering memintanya.
"Tanganmu, Kirishima-kun," ucap Midoriya. Ia letakkan gawainya di samping sambil mendengarkan lagu kesukaannya.
Ia sedang memijat tangan berkulit tan itu, sambil tiduran. Posisinya sekarang keduanya sedang tidur di ranjang Midoriya. Dengan Midoriya diapit tembok di sisi kiri dan Kirishima di sisi kanan.
Mata Midoriya kini tenggelam di balik kelopak matanya. Begitu pula sang pemuda berambut merah, sudah dari tadi karena lelah dan kenyang sudah mengambil kesadarannya.
Malam itu berakhir dengan kedua tangan Midoriya yang memegang tangan kiri Kirishima sepanjang malam. Hari yang melelahkan.
Selamat tidur.
Bagaimana? Saya serahkan kepada masing-masing pembaca untuk memaknai hubungan mereka, wkwkw.
Karena cerita ini based on true story, alias pengalaman pribadi. Saya sebagai pelaku saja tidak pernah membayangkan jika itu terjadi. LOL.
Saya berharap reviewnya, hehe. Kritik, saran, curhat, dll.
Terima kasih sudah mau membaca.
