All characters belongs to GMMTV and family. Did not take any advantage in making this fanfiction. Made just for fun.
warning; boys love, mpreg.
first ohmnon fanfiction, please enjoy.
.
[ i wanna take forever tonight ]
by
Dianzu
.
Jika filosofi mengatakan bahwa rembulan adalah hal terindah—maka Ohm Pawat akan menyangkalnya.
Secangkir teh hangat menemani perbincangan ringan—tentang masa lalu, masa kini, atau masa depan. Apa pun itu yang keluar dari bibir Nanon Korapat akan disimak baik-baik—lihatlah, bahkan matanya tidak berkedip barang sedetik. Mana bisa—makhluk semanis dan secantik Nanon disia-sia. Bintang menjuntai di langit sebagai saksi; bagaimana tatapan seorang Ohm Pawat terhadap Nanon tidak dapat disepelekan. Ketika Nanon bercerita tentang kehidupan—ah, kehidupan; pahit dan manis, sengsara atau bahagia, semua dikeluarkan. Nampak afeksi yang begitu kentara dari wajahnya yang indah—dan Ohm dengan senang hati mengamati.
Tangan ikut bergerak ketika bercerita; tentang mitos yang beredar pada anak-anak sekolah dasar—tentang seorang pria dengan kepala retak yang senang berdiam diri di toilet anak perempuan, atau hanya sekadar humor-humor mengenai kancil dengan segala kelicikannya. Dua insan berjenis kelamin sama tertawa, terkekeh, berbagi kebahagiaan—dengan sekaleng kue.
"Aku tidak paham, mengapa dulu aku percaya dengan mitos murahan seperti itu." Nanon bercakap, mengusap sudut mata yang mengeluarkan setitik air akibat terlalu banyak tertawa.
Ohm meminum tehnya sejenak, "Kamu terlalu lugu."
Keduanya terdiam—menikmati pemandangan wajah yang menyejukkan hati. Nanon mengalihkan mata terlebih dulu, dan Ohm hanya tertawa, "Sudah dua puluh tahun berlalu, dan kamu masih saja malu."
Nanon tak menjawab. Senyumnya mengembang—mengingat sudah beberapa tahun belakangan ini hari-harinya selalu diisi oleh Ohm.
"Aku punya sebuah cerita," ucap Nanon pada akhirnya—guna menghilangkan rasa gugup serta rona merah di wajah.
Ohm mengangguk—siap mendengar, tentu saja. Semilir angin malam akan menemani keduanya berbincang-bincang. Jangkrik di rerumputan bahkan segan untuk mengeluarkan suara—enggan mengganggu, membiarkan dua insan yang dimabuk cinta menghabiskan waktu berdua hingga puas (entah sampai kapan, yang pasti Ohm tidak akan pernah merasa puas jika bersama Nanon—ya, ya, tidak akan). Kerlap-kerlip bintang kejora pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang istri yang kini masih setia menceritakan beberapa kisah—sebelum tidur.
"Mengaku saja," ucap Ohm tiba-tiba. Tentu saja itu membuat kedua alis Nanon merengut kebingungan.
Ohm memajukan wajah, "Kamu memiliki sihir bukan? Agar aku selalu cinta dan cinta padamu."
Lagi-lagi Nanon dibuat memerah oleh perkataan sang suami.
"Bahkan hingga kamu memberikan aku dua anak pun aku tetap cinta kamu." lanjut Ohm.
Afeksi Nanon mulai menguar—membara membakar isi rongga tubuh, membuat panas hingga ubun-ubun terasa ingin mengeluarkan asap mengepul. Ia malu, dan sang pelaku masih asyik menatapnya erat—seakan besok lusa tak akan pernah kembali berjumpa, dan dunia hancur-melebur. Ohm senang melihatnya—reaksi Nanon yang selalu menggemaskan jika dirayu, masih seperti dulu; tidak berubah, dan tidak akan pernah berubah.
Kunang-kunang terbang tak tahu malu—melayang di sekitar dua insan yang masih saling memandang satu sama lain. Seakan iri dengan manusia yang sedang melakuan afiliasi—Ohm seakan tak peduli dengan keadaan sekitar, karena atensinya hanya tertuju pada satu objek sekarang; yaitu Nanon Korapat.
"Dad,"
Keduanya menatap ke arah pintu—anak sulung mereka; Marc Pahun berdiri dengan gagah. Nanon tersenyum—memperlihatkan dua lubang di pipi, ia bangga melihat hasil hubungannya dengan Ohm tumbuh dengan sehat. Tak lama, muncul si kecil Mac Nattapat dari belakang tubuh sang kakak—mengintip malu-malu sembari tersenyum. Nanon semakin mengembangkan senyum, mengingat bagaimana ia berjuang keras untuk melahirkan si bungsu—rasa sakit dan lelah itu terangkat semua ketika mendengar Mac telah lahir dengan selamat dan juga sehat.
Ohm yang melihat kedua anaknya pun tersenyum, "Ya, Nak?"
"Hari mulai gelap. Udara juga mulai dingin. Lebih baik kita segera tidur." ucap Marc mengingatkan. Ia tidak ingin orangtuanya mendadak sakit di keesokan hari karena terlalu lama di luar rumah hingga larut.
Nanon dan Ohm saling bertatapan, lalu melemparkan senyum.
"Marc benar, sudah terlalu larut untuk berada di luar rumah." ucap Nanon. Dan Ohm mengiyakan.
Keduanya berjalan masuk—meninggalkan secangkir teh yang sudah habis isinya. Bergandeng tangan mesra hingga membuat sesiapa pun iri dibuat—kalau bulan dan bintang bisa menyuarakan isi hati, mungkin mereka akan protes dengan kemesraan Ohm dan Nanon yang tak ada hentinya.
"Kamu tidur ya, sudah larut." ucap Marc pada si bungsu.
Mac yang menurut pada sang kakak pun segera melesat masuk ke dalam kamar. Marc menghela napas—dilirik sejenak orangtuanya sudah menghilang dari bilik kamar. Tubuh tingginya ia dudukkan pada kursi ruang tengah. Menatap langit-langit kamar yang nampak ukiran tulisan Yunani. Setetes air mengalir begitu saja dari sudut mata—seperti air terjun yang deras; dan Marc tidak bisa menghentikannya.
Masih terasa di dada sakitnya; mengingat sang ayah—Ohm yang begitu frustasi mendengar kabar kematian istrinya; Nanon.
Nanon meninggal tepat dini hari ketika tengah berjuang melahirkan anak bungsunya—Mac Nattapat. Ohm kala itu sedang pergi ke luar negeri dengan segudang pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan. Mendengar kabar Nanon meninggal membuat Ohm langsung kembali ke Thailand—membiarkan semua projek perusahaan terbengkalai. Sejak saat itu, Ohm sering melamun, tertawa sendiri, bahkan mengamuk entah pada siapa. Sang ayah dinyatakan menginap skizofrenia; di mana terjadi gangguan pada otak yang menyebabkan si penderita mengalami beberapa hal seperti berhalusinasi dan gangguan pada pemikiran serta perilaku.
Skizofrenia yang diderita Ohm sudah sampai tahap residual; sang ayah sering berhalusinasi jika Nanon masih berada di rumah—tersenyum cantik hingga memperlihatkan dimple yang mempesona. Gulf Kanawut—ibunda Ohm pun begitu menderita melihat keadaan anak semata wayangnya sekarang.
Marc buru-buru menghapus air matanya. Ia tersenyum getir.
"Mom, tolong buat Daddy tetap tersenyum seperti tadi dari surga, ya?"
Matanya melirik ke arah jendela—melihat bintang-bintang bergelantung cantik di atas langit hitam, jangkrik yang kini sudah berani membuka suara, kunang-kunang seakan berlarian mengelilingi pekarangan rumah, serta rembulan yang menerangi dunia malam.
Cangkir yang awalnya penuh kehangatan, kini berubah menjadi dingin—seiring berjalannya malam.
finish
Tangerang, 18 Juni 2020 - 15:11 PM
a/n: spesial buat Erumin Smith yang sudah membuat saya berniat kembali menulis di ffn, thanks! anyway, this is my first fanfic about ohm pawat x nanon korapat (warga raikantopeni pasti tau wkwkwk). i hope u enjoy!
