BBB HANYA MILIK ANIMONSTA

SEMOGA TERHIBUR


Tanah merah gersang ini dulunya merupakan kota pusat berkumpulnya Tujuh Ras Alien paling agung Planet Via Lactea, ras alien terbesar di sepenjuru galaxy, menurut sejarah merekalah ras alien pertama yang menghuni galaxy sebelum pernikahan campuran menciptakan ras-ras alien baru.

Mereka memegang pengetahuan tertinggi, berhasil mengembangkan teknologi terdepan, dikenal sebagai bangsa penyayang yang membenci perang. Sejauh mata memandang tidak ada bekas atau tanda-tanda bahwa tempat ini pernah memiliki kehidupan, sekedar puing-puing bangunan pun tidak tersisa. Gedung-gedung sederhana bernuansa ceria yang dulunya mengisi tempat ini, beserta jutaan nyawa yang memutar roda kehidupannya mungkin sudah terkubur di dalam tanah merah ini, beberapa mungkin menjadi abu, mengendap di suatu tempat, atau di bawa pergi oleh hembusan angin.

Berapa tahun kiranya semenjak terakhir kali Kaizo menginjakkan kaki ke planet ini. 6 tahun sudah berlalu dia yakin itu, di umurnya yang 18, dia ditugaskan ke planet ini untuk satu hal.

Memusnahkan power sphere yang dapat memanipulasi perasaan begitu pula pikiran. Betapa rapuhnya sesosok makhluk hidup, perasaan dan pikiran yang membedakan seorang hingga dapat disebut sebagai insan berakal dengan hewan begitu mudah di belokkan. Mengubah mereka tidak ada bedanya dengan binatang.

Siapa yang menduga, sebuah power sphere biadab yang berkelana di luar angkasa sana, memutuskan untuk singgah ke planet ini, menyaksikan betapa damainya semua planet membuatnya jengah, hanya karena dilumuri perasaan bosan, mesin keji itu sengaja menghancurkan kedamaian sebuah planet yang telah berjalan selama ratusan tahun. Hanya dengan satu gelombang kekuatan manipulasi, power sphere itu dapat menjangkau hampir ke seluruh penjuru planet, memanipulasi hati dan pikiran para penduduknya dengan ketakutan dan kebencian kepada sosok yang paling mereka cintai.

Power sphere terkutuk itu telah melakukan tindakan seperti ini bukan hanya untuk satu atau dua kali, berbeda dari power sphere lain, mesin yang satu ini merupakan suruhan langsung sesosok iblis dari neraka.

4 tahun dirinya berada dalam didikkan Maskmana, Kaizo rasa inilah kedua kalinya dia menyaksikan kebejatan dunia, menyapu kehidupan bagai kutu tak berharga. Setelah menyaksikan planet kampung halamannya musnah dikarenakan perang antar planet, Kaizo kira dia tidak akan menyaksikan sebuah perang mengudara lagi di tempat lain, namun dia salah, karena 4 tahun setelah dia berhasil lari dari perang yang membunuh orang tuanya, dia harus menyaksikan lagi sebuah perang yang menyerupai neraka di dunia. Planet ini membuatnya sadar, bahwa kakinya akan selalu membawanya menuju perang, takdirnya tidak akan pernah bisa dibelokkan.

Takdir yang mengikat dirinya dan juga adiknya.

"Kaizo," panggil Ramen Man dari Audio Komunikatornya. Orang itu tengah berada beberapa kilometer dari lokasi Kaizo berada, mencari jejak komplotan buronan yang kabur dan bersembunyi di planet mati ini. "Aku tidak mendapatkan tanda-tanda keberadaan mereka di area perbukitan, aku akan pergi menuju utara, kau pergilah ke selatan."

"Aku akan pergi ke arah tenggara dulu." Kaizo memutar pandangan, menatap ke arah ngarai tebing di tenggara, Kaizo tahu kemungkinan besar mereka ada di sana lebih besar, saat terlibat perang saudara di planet ini, Kaizo perlu gesit mencari persembunyian demi lepas dari serangan ke tujuh ras yang berperang, tanpa mencoba mengenal seseorang yang mereka temui di tengah perjalan, pasukan militer dari salah satu ras akan memuntahkan ratusan peluru panas ke arah orang yang bukan bagian dari ras mereka.

Di ngarai itu, menjadi tempat persembunyian terbaik Kaizo, terdapat banyak celah sempit yang mendukung untuk persembunyian. Kaizo tidak perlu ikut untuk mengevakuasi atau ikut melawan salah satu kubu yang berperang, tugasnya hanya satu, mencari dan memusnahkan power sphere.

"Baiklah, laporkan segala yang kau temukan, aku mulai muak dengan komplotan ini," balas Ramen Man, menutup panggilannya.

Jika bukan karena tugas, Kaizo tidak akan pernah mau menginjakkan tempat ini lagi. Tiap langkah yang dia ambil, Kaizo dapat merasakan panasnya hawa dari bangunan yang terbakar, telinganya seolah mendengar puluhan tank saling menghajar kendaraan baja lain, pesawat tempur meledak di udara, puing-puing yang menghantam para orang sial, teriakan lara dari penduduk yang tidak dapat mempertahankan diri membuat bulu kudunya berdiri, ribuan tawanan yang dibunuh secara brutal oleh pihak yang mendominasi kekuatan, ratusan anak-anak direbut secara paksa dari orangtuanya dan dikumpulkan dalam satu lubang, puluhan bom sudah di tanam di dalam lubang itu, untuk menghabisi para calon pembela bangsa, mereka dibunuh dan tidak diberikan pemakaman yang layak, serpihan tubuh dibiarkan bertebaran di jalan, membusuk dan menyebarkan penyakit mematikan.

Teriakan ketakutan anak-anak itu selalu mengingatkan Kaizo akan Fang. Adiknya yang dia tinggal di Base kapal militer, sendirian menunggu kepulangannya. Kaizo saat itu bahkan sangsi dapat pulang menemui Fang karena ganasnya medan perang di planet ini, dia kira dirinya akan wafat di planet ini.

Tidak pernah ada yang mempercayai kenyataan, jika seseorang mendengar bahwa penyebab kehancuran planet ini hanyalah dikarenakan sebuah power sphere, mereka hanya menganggap hal itu sekadar dongeng biasa, jika saja Kaizo tidak menjadi saksi mata penyebab kehancuran mereka adalah sebuah mesin yang menyerupai makhluk hidup dari neraka, betapa bengisnya kekuatan power sphere tersebut.

Power sphere pemanipulasi hati dan pikiran termasuk dalam deretan power sphere terkuno, umur mereka panjang dengan kekuatan yang skalanya berkali-kali lipat kekuatan power sphere generasi muda, satu gelombang manipulasi benar-benar dapat meracuni seseorang hingga orang itu kehilangan jati dirinya sendiri, Kaizo sendiri merasakan efek keji tersebut.

Di tengah pengejarannya, power sphere itu menghempaskan kekuatannya pada Kaizo, walau dengan perisai tenaga level tiga miliknya, efek manipulasi hati dan pikiran dapat menembus pertahan tertinggi.

Kaizo ingat apa yang dia rasakan waktu itu, sekujur tubuhnya terasa diracuni. Hal yang dapat membahagiakannya seketika berubah memuakkan, mimpi-mimpinya seolah dirobek dan dibakar, Kaizo merasa tidak memiliki siapa pun lagi, dia sendiri, dia terkutuk dan orang-orang disekitarnya terlihat seperti membencinya.

Kebahagiaannya seolah musnah, bahkan perasaanya sendiri berubah. Fang, adiknya yang merupakan harta karun Kaizo seketika berubah menjadi hama yang ingin dia singkirkan dengan segera. Jika diingat lagi, Kaizo tidak percaya dia dapat berpikir seperti itu dulu.

Biarpun pada akhirnya Kaizo berhasil menghancurkan power sphere itu, bukan berarti kedamaian menggantikan perang yang telah berkobar di planet ini, apa yang terjadi tetap terjadi dan berlanjut hingga menghasilkan kepunahan tujuh ras agung Planet Via Lactea.

Kekuatan power sphere berumur uzur tidak dapat si tangkis lagi begitu perkasa, Kaizo dapat merasakan efek manipulasi itu perlahan menghilang saat kehancuran si power sphere, namun tidak segera tersingkir sepenuhnya, sisa-sisa manipulasi itu tetap bertahan dalam dirinya selama beberapa bulan lamanya.

Dan dia membawa pulang efek itu bersamanya.

Ada saat dimana Kaizo bahkan ingin mengakhiri hidupnya sendiri dikarenakan efek itu. Semua orang yang berada di base kapal militer maskmana terasa seperti tikus-tikus menjijikan, dia ingin marah, namun Kaizo menahannya. Dia menahan kebencian yang tiba-tiba muncul terhadap kapal militer ini, dia menahan kebenciannya pada teman seperjuangannya, dia menahan kebencian terhadap Maskmana, orangtua angkatnya. Orang yang memungut dia dan adiknya, menyelamatkan mereka dari perang.

Sayangnya, Kaizo tidak dapat menahan perasaannya terhadap Fang. Kaizo sadar semakin besar kasih sayangnya kepada seseorang, semakin besar juga efek yang dihasilkan oleh manipulasi kekuatan terkutuk itu, menyebabkan kasih sayang terhadap adiknya berubah menjadi kebencian yang tak tertahan.

Malam itu dia kembali ke ruang mereka, ruang yang khusus di buat oleh Maskmana untuk dihuni oleh mereka berdua. Fang, selalu menyambutnya pulang ketika dia pulang dari misi. Sambutan yang selalu berhasil membangkitkan kekuatan Kaizo tiap kali dia menerimanya, suara ceria Fang terdengar bagai lonceng lembut ditelinganya, wajahnya yang diisi kepolosan selalu mengingatkan Kaizo bahwa hidupnya memiliki arti dan tidak semata-mata menunggu kematian.

Malam itu segalanya berbeda. Melihat Fang yang berlari menyambutnya terasa seperti percikan api di tungku penuh minyak, mendengar suara adiknya yang berceloteh justru mengingatkannya pada teriakkan teriakkan memekakan di medan perang, senyuman adiknya, terasa seperti ejekkan. Dia tidak menginginkan senyuman itu lagi, dia ingin senyuman itu hilang selamanya.

"Diam!" geramnya, dia bahkan tidak dapat mengendalikan mulutnya. "Bisa kau kunci mulutmu itu untuk sesaat? Aku muak dengan suaramu!"

Kaizo tidak tahu dari mana kalimat itu berasal. Kalimat yang bahkan membuat dirinya sendiri terbelalak tidak percaya.

Senyuman Fang memudar, hilang tak berbekas saat mendengar kalimat itu keluar. Raut di wajah adiknya berubah menjadi ketakutan yang tak terbendung. Tubuh kecilnya bergetar menahan tangis dan ngeri, menyaksikan kakaknya sendiri telah berubah menjadi sosok yang tidak dikenalnya.

Perasaan aneh memenuhi dada Kaizo, dia sadar tidak seharusnya dia melakukan ini, namun sesuatu di hatinya mengatakan bahwa ini adalah suatu yang pantas adiknya terima. Kaki kecil Fang mengambil langkah mundur, dan yang Kaizo lakukan adalah bersikap bagai sesosok asing yang siap mencabut nyawa adiknya sendiri.

Sesuatu mendorong tubuhnya untuk memojokkan Fang, membisikkan kalimat busuk itu.

"Jika kau tidak mau diam, aku bersumpah akan melemparkanmu ke panti asuhan kau paham itu!"

Kaizo melihat kepedihan terlintas di wajah adiknya, dan dia tahu, malam itu, hubungan persaudaraan mereka telah rusak. Adiknya berubah, sosok penuh keceriaan itu hilang entah kemana. Kalimat itu telah mengukir luka dalam di lubuk hati adiknya, selamanya tidak akan sembuh kecuali Kaizo yang berusaha menyembuhkannya.

Apa kiranya yang terbersit di kepala Fang kala itu? Kaizo sendiri ngeri membayangkannya.

Dia merasa harus meluruskan keadaan tersebut, tapi di saat bersamaan Kaizo berpikir mungkin inilah yang terbaik, untuk tidak membiarkan Fang terlalu tergantung padanya. Membiarkan perasaan Fang berubah menjadi kebencian pada kakaknya sendiri mungkin adalah sebuah keperluan.

Jalan takdir yang menunggu Fang, sama kejamnya dengan apa yang dijalani oleh Kaizo. Dengan pekerjaan ini, tidak akan menjamin Kaizo dapat melindungi Fang selamanya, dia tidak akan dapat berada di sisi Fang selamanya, karena suatu saat, bisa saja kematian menjemputnya lebih awal, dengan kematiannya, Kaizo tidak ingin menjadi akhir untuk Fang. Anak itu harus kuat, anak itu harus tahu cara mempertahankan dirinya tanpa seorang di sisinya.

Sejatipun efek power sphere telah luntur sepenuhnya, Kaizo mempertahan hubungan beku mereka, antara dirinya dan Fang seperti tidak penah memiliki tali pesaudaraan, hubungan di antara mereka berubah menjadi koneksi antara atasan dan bawahan. Pikiran untuk memperbaiki hubungan mereka terus melayang-layang. Kaizo ingin hubungan mereka kembali, tapi dia tidak dapat mengelak kalau dirinya sendiri takut. Begitu banyak ketakutan yang terlintas.

Dia takut adiknya tidak akan memaafkannya, dia takut adiknya akan berubah lemah, dan dia takut tidak dapat membuat kenangan lain bersama adiknya sebelum ajal menjemputnya, dia takut kematian justru menjemput adiknya terlebih dahulu.

Haruskah dia meluruskan seluruh hal ini? Mengembalikan hubungan mereka ke sedia kala? Apakah hal itu tidak akan membuat adiknya lemah?

"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Ramen Man.

Kepalanya yang penuh akan memori lama tersadarkan, Kaizo menemukan dirinya sudah berada di tengah ngarai tebing, tebing bebatuan terlihat mengintimidasi. Kaizo melihat tanda-tanda kehidupan di area ini, bekas api unggun menciptakan tanah kehitaman. Seseorang atau sekelompok sepertinya berkemah di area ini tadi malam.

"Ada bekas api unggun," jawab Kaizo. "Kurasa lebih baik kau ke tempat ini."

"Sial," maki Ramen Man. "Butuh 2 jam untuk mencapai tempatmu."

"Tidak masalah," balas Kaizo, sisi matanya menangkan pergerakan di atas tebing, batu-batu kecil menggelinding ke bawah. "Aku bisa menghabisi mereka sendiri."

"Hei! Sisakan, aku tidak mau datang ke tempat ini tanpa mematahkan tulang seseorang."

Seringai tergambar di wajah Kaizo, dia dapat merasakan seseorang mengarahkan moncong senjata ke arahnya. Malang nasib para buronan itu, biarpun Kaizo dan Ramen Man kalah jumlah, bicara soal kekuatan, perpaduan kekuatan mereka sudah cukup untuk memusnahkan satu battalion.

Kaizo rasa kenangan masa lalu perlu ditunda dulu, untuk sekarang dia perlu mendidik para buronan idiot.


Maaf ya updatenya lama, sebenernya udah lama plotnya jadi tpi ngetiknya sudah bngt wkwkwkw

Untuk FF COURAGE akan ada 3 part ya, untuk part terakhir, POV nya campur antara Kaizo dan Fang.