Assassination Classroom (c) Yuusei Matsui

TWIN! (c) julycious

Chapter 6 : Pertengkaran saudara


"YUUMAAAAAAA!!!"

Isogai Yuuma gelagapan melihat gadis rambut hitam panjang di depannya dengan tatapan ngeri. Tentu saja, playstation kesayangannya harus basah karena cola yang dijatuhkan si bungsu tanpa sengaja. Isogai Yukiko tahu itu, tapi hatinya tetap tidak terima.

"Yukiko, maaf, aku gak sengaja-- aduh!"

"Sialan, Yuuma! Bisa-bisanya banjur PS-nya pake cola. Gak kapok aku marahin?" ucap Yukiko setelah menimpuk Yuuma dengan remote TV. Masa bodo dengan adiknya, playstationnya lebih gawat sekarang.

"Sumpah, aku beneran gak sengaja, tadi kaki nyangkut kena kabel stik PS!"

Karena Yukiko sudah mengamuk, sepertinya ucapan Yuuma tadi tidak didengar. Buktinya gadis itu malah menampar Yuuma. Si bungsu Isogai bisa saja mengelak, kalau saja titik vitalnya tidak terkena tendangan super amarah dari kakaknya.

"Yuuma, ada apa? Kenapa Yukiko jerit-jerit?"

Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari si kembar melotot panik melihat putra bungsunya menjadi samsak Yukiko. Parahnya, belum ada tanda-tanda amarah gadis itu mereda. Buru-buru Nyonya Isogai melerai, kalau tidak bisa habis badan Yuuma.

"Lepasin, bu. Aku mau pukul Yuuma. Aku benci Yuuma. Pokoknya aku benci Yuuma!"

Pada dasarnya Nyonya Isogai tidak memiliki fisik yang kuat, sehingga Yukiko bisa membebaskan diri setelah sedikit berontak. Yukiko sedang emosi, tapi gadis itu tidak lagi memukuli Yuuma. Ia tak ingin namanya dicoret dari kartu keluarga hanya karena playstationnya rusak. Namun sebagai gantinya, Yukiko melangkah pergi keluar rumah, mau kabur ceritanya. Tak lupa ia menendang dada Yuuma sebelum pergi.

"Yukiko, tunggu. Mau pergi ke mana--"

"Bu, biarin dulu aja, percuma dijegat juga," cegat Yuuma sebelum ibunya ikut melangkah pergi. "Mending ibu sama aku dulu. Badan aku sakit semua."

"Memangnya ada apa sih, kok dia sampai nangis kejer gitu?" tanya sang ibu penasaran.

"Jangan marahin aku dulu ya, bu. Aku beneran gak sengaja," ucap Yuuma melas-melas. "Aku gak sengaja jatoh kesandung trus colanya tumpah dan kena PS Yukiko."

Nyonya Isogai tepok jidat. Anak gadisnya itu benar-benar maniak sampai rela adiknya dibuat babak belur. Padahal kalau rusak bisa diperbaiki, atau kalau mau beli baru juga bisa.

"Trus kenapa kamu diem aja tadi dipukulin?"

Yuuma mendadak gugup. "A-Aku mending dipukulin begini bu, daripada 'masa depan' aku dia tendang.

Awalnya sang ibu ingin menegur Yuuma lagi agar anak bungsunya bisa lebih bertanggung jawab. Tapi kondisinya sudah sangat miris, apalagi saat tahu kondisi asetnya. Nyonya Isogai mengurungkan kembali omelannya.

"Yaudah, ibu siapin air buat kompres kamu dulu. Abis itu cari Yukiko sampai ketemu."

Yuuma hanya mengiyakan, karena niat awalnya juga begitu. Sebagai bentuk tanggung jawabnya yang lain, ia harus pergi ke tempat servis dulu sebelum mencari Yukiko.

Dengan penampilan lusuh dan wajah masih banjir air mata, Isogai Yukiko pergi keluyuran tanpa arah. Gadis itu hanya ingin pergi dari rumah, tidak ingin melihat Yuuma dan playstationnya yang rusak. Tapi seandainya ia pergi tidak dengan emosi seperti ini, mungkin dia bisa dandan dulu sebelum pergi, lalu bawa uang untuk beli makan atau apapun.

Tapi namanya lagi emosi, kabur, yaa mana sempat dandan dulu, apalagi ambil uang.

"Aku harus kemana dong, ya?" gumamnya sepanjang jalan, masih sesenggukan. "Ke rumah Karma-kun aja kali, ya? Eh tapi, nanti dia malah lapor macem-macem. Dia kalau masalah ginian kan pasti lapor ibu."

Yukiko kembali berpikir, sampai kepalanya mulai muncul sebuah perempatan. "Yuuma, sialan! Kalau gak gara-gara dia, pasti gak bakal kayak gini. Padahal aku niatnya mau selesain misi..."

Lagi-lagi Yukiko menangis. Gadis itu tidak peduli dengan sekitarnya. Playstation lebih memprihatinkan saat ini. Bagaimana nasib game yang biasa dimainkannya? Hilang, atau bagaimana? Ahh, pokoknya Yukiko kesal.

Namun kekesalannya mereda setelah melihat game center yang memperlihatkan anak-anak yang masih pakai seragam SMA sedang mengobrol. Atau berantem, ya? Mukanya seram banget sih. Namun Yukiko malah masuk ke dalam game center, dan akhirnya memutuskan untuk melihat para gamer yang sedang bertengkar di dekat mesin permainan.


"Permisi..."

Isogai Yuuma menghembuskan napas pelan setelah melihat tempat servis yang didatanginya sepi. Kalau bisa Yuuma tidak ingin berlama-lama di sini. Ia ingin mampir ke minimarket, lalu mencari Yukiko yang entah pergi ke mana. Langit sebentar lagi gelap, dan ibunya hanya memberinya waktu sampai makan malam. Jadwalnya terlalu padat, sampai si bungsu Isogai tidak yakin bisa melaluinya. Yap, ini karena badannya masih sakit.

Dan kenapa tempat ini malah sepi?

"Ah, maaf, ada yang bisa saya bantu?"

Akhirnya keluar juga. Yuuma bisa bernapas lega sekarang. Tanpa basa basi, ia segera memberikan playstation Yukiko yang bermasalah.

"Apa ini bisa diperbaiki?"

Si penjaga toko mengamati barang yang diberikan Yuuma terlebih dahulu. "Playstation? Ada masalah di mana?"

"Kejadiannya belum lama, sekitar 30 menit lah, PS itu gak sengaja ketumpahan cola."

Si penjaga toko melotot. "Sumpah? Kok bisa?"

Entah kenapa orang itu kelihatan sok akrab.

"Namanya juga kecelakaan."

"Hiroto-kun? Apa ada pelanggan?"

Si penjaga yang dipanggil Hiroto menoleh ke arah sumber suara. "Ada yang minta servis PS nih, paman."

Pemuda berambut oranye itu segera menghampiri seseorang yang memanggilnya barusan. Mungkin itu pemilik toko ini, pikir Yuuma. Tak lupa, playstation milik si sulung Isogai dibawa masuk ke dalam. Hanya selang beberapa menit, pemuda itu kembali keluar.

"Ah, kayaknya butuh waktu lama buat servis PS-nya, soalnya cola agak repot bersihinnya," ucap Hiroto. "Kebetulan toko juga lagi banyak orderan nih, jadi kayaknya gak janji selesai cepet. Maaf yaa."

Duh, yang benar saja. Yuuma kembali galau. Kalau Yukiko masih emosi sampai PS selesai diservis, yang gak tau makan waktu berapa hari, bisa-bisa selama itu Yuuma bakal jadi samsak tinjunya. Siap tidak, ya?

"Tapi ada kemungkinan bisa diservis, kan? Data-datanya gimana? Bisa selamat, gak?"

"Nanti kita coba cek dulu yaa, kalau cairannya gak masuk harddisk, datanya masih bisa selamat kok."

Sayang sekali, keputusannya tidak bisa Yuuma dapatkan sekarang. Terpaksa ia harus menunggu kabar dari pemilik toko servis. Si surai hitam pun semakin bingung. Namun rasa cemasnya pada Yukiko lebih besar, sehingga Yuuma memutuskan untuk mulai mencari sang kakak setelah keluar dari toko servis.

"Eh, sebentar. Boleh minta kontaknya?" ucap si penjaga toko sesaat sebelum Yuuma keluar toko. "Kalau PS-nya udah dicek nanti kita kabarin rusaknya di mana dan butuh biaya berapa banyak. Ini pesanannya atas nama siapa?"

"Isogai Yuuma. Trus ini nomor teleponnya," jawab Yuuma sambil memberikan kontaknya.

Si surai oranye itu melakukan hal yang sama dengan Yuuma, memberikan kontak. "Karena aku yang terima pesanannya, jadi aku yang bakal hubungin kamu yaa buat ngasih kabar. Oh, aku Maehara Hiroto."

Buru-buru Yuuma memasukkan kontak tersebut ke dalam handphone-nya sebelum lupa. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan segera keluar dari toko. Dengan ini ia bisa sedikit lega, karena sambil menunggu PS-nya diservis, ia bisa mencari Yukiko sekaligus mampir ke minimarket.

Selanjutnya Yuuma berjalan mencari minimarket terdekat. Sepertinya jarak toko servis dengan minimarket terdekat cukup jauh, karena sampai sekarang pemuda itu belum melihat papan tanda minimarket. Sampai minimarket ditemukan, ia mencoba mencari Yukiko, siapa tahu gadis itu bisa ia temukan di semak-semak atau lorong antara dua toko yang ia lewati.

(Padahal yang dicari itu Yukiko, bukan kucing.)

Akhirnya setelah sepuluh menit berjalan kaki, Yuuma berhasil sampai ke minimarket yang ia cari. Buru-buru ia pergi menuju deretan obat-obatan, mengambil beberapa obat seperti paracetamol, plester demam, obat merah, kain kasa, juga krim oles khusus luka memar. Beberapa obat itu tidak semuanya berhubungan dengan lukanya sekarang, tapi si bungsu membeli itu untuk stok di rumahnya.

Selanjutnya Yuuma mampir ke rak berisi camilan, kemudian ke lemari es tempat penyimpanan minuman-minuman dingin. Suasana di dalam minimarket begitu nyaman. Sejuk dan tidak bising. Pikirannya bisa lebih rileks dan tenang. Agar perasaan itu bertahan lebih lama, ia mampir ke tempat penyimpanan majalah, mengambil salah satu majalah fashion edisi terbaru yang terdapat member idol grup favoritnya di sana. Kira-kira sepuluh menit Yuuma membaca majalah itu, sambil senyum-senyum dan menghalu.

"Eh, aku lupa kalau harus cari Yukiko!

Bisa-bisanya tujuannya teralihkan oshi-nya dalam majalah.

Beberapa saat kemudian, handphone-nya berbunyi. Yuuma menelan ludah setelah melihat nama si penelepon.

"Yuuma, di mana kamu? Yukiko udah ketemu belum?"

"B-Belum, bu," jawab Yuuma pada ibunya, si penelepon itu. Pantas saja anak itu gugup.

"Ibu udah coba kontak kenalan yang tinggal deket sini, atau yang punya toko di pinggir jalan raya. Ibu juga udah hubungin temen-temen kamu yang ibu kenal, termasuk Karu-chan. Mereka katanya gak liat Yukiko."

Mendengar ucapan panjang lebarnya, Yuuma merasa lega sekarang. Ia takut kalau ibunya akan mengancam kalau sampai tidak cepat-cepat menemukan Yukiko. Ibu juga sudah bergerak mencari kakaknya. Yuuma benar-benar bersyukur sekarang.

"Yuuma," panggil ibunya lagi. "Kalau Yukiko belum ketemu sampai jam makan malam, ibu hukum, ya."

Mampus. Ternyata sejak awal Yuuma berada dalam posisi tidak aman. Buru-buru ia menarik pemikiran naifnya barusan.

"B-Baik, bu,"

Dulu ketika Yuuma dan Yukiko bertengkar hebat, sangat hebat, ibunya tidak segan-segan memberinya hukuman yang cukup kejam untuk anak seusianya. Di antara hukuman-hukuman itu, yang paling parah ada memangkas uang jajan dan membuang semua koleksi drama koreanya. Yuuma tidak ingin mengalami itu lagi sekarang. Karena itu, ia buru-buru mencari Yukiko, masa bodoh dengan luka-lukanya sekarang. Hukuman ibunya lebih sakit dari itu soalnya.


Sejujurnya, Yukiko tidak tahu mengapa kakinya tiba-tiba melangkah ke dalam game center. Sebagaimana dirinya suka game pun ia tidak mungkin masuk saat ada segerombolan anak SMA yang kelihatan seperti berandalan bertengkar di mesin tembak-tembakan. Parahnya, mereka mulai mengelilingi Yukiko sekarang.

"Eh, ada cewek cantik. Mau ngapain ke sini?"

"Wah, mukanya kusut banget. Abis diputusin pacar, ya?"

Entah kenapa, Yukiko merasa tersinggung. "Siapa juga yang diputusin."

"Ah, jangan judes gitu dong. Biasa aja kali. Kalau abis putus jujur aja, gak usah ngeles."

Wah, gak beres nih orang-orang. Pikir Yukiko.

"Daripada galau, mending main sama kita aja. Dijamin gak bakal galau lagi."

Ya, lumayan bisa modus dikit.

Mendengar kata main membuat pikirannya kembali mengingat playstation kesayangannya yang rusak serta wajah Yuuma yang menyebalkan, katanya. Alhasil ada banyak perempatan muncul di kepalanya, lalu wajahnya memerah saking marahnya.

(Padahal kata main di situ tidak seperti yang Yukiko pikirkan, loh.)

"Kurang ajar kalian semua, ngajak main ke orang yang PS-nya abis dirusakin. Pada gak peka apa gimana, hah? Dasar bodoh. Mana main game ginian doang payah banget lagi!"

Kini anak SMA berandal itulah yang memiliki perempatan yang banyak di kepalanya. Mereka tidak tahu Yukiko sedang berusaha melindungi diri atau bagaimana, yang jelas mereka tidak terima disebut payah.

"Cewek sialan. Nantangin kita, nih? Siapa takut!"

"Gua gak peduli kalau lu cewek, tapi gua gak bakal bikin lu menang!"

"Lagian mana ada cewek main di sini. Nih orang halu, ya?"

"Kalau lu menang, gak perlu bayar buat main game di sini sekarang. Kita bayar semua."

Yukiko yang sedang dalam emosi negatif malah menyetujui taruhan tersebut. "Oke, gak takut."

.

"Ampun, suhu."

Semua anak SMA yang berandal itu tergeletak di lantai game center, menyisakan Isogai Yukiko yang masih berdiri tegak setelah memenangkan semua taruhannya. Tapi mukanya masih kusut.

"Gila, nih cewek, jago banget."

"Padahal niatnya mau godain doang, malah dibantai."

"Lagian sok godain, dah tau tuh cewek lagi galau sampe nangis gara-gara diputusin."

"DIBILANGIN, SIAPA YANG PUTUS SIH?!" Yukiko kembali naik darah. Perasaan ia sudah kasih tahu alasannya nangis itu apa. "Pake acara nantangin main game segala lagi, untung gratis."

Siapa suruh ngatain kita semua payah main game. Batin semua anak SMA yang terkapar itu.

"Tapi gara-gara kalian, aku jadi lega sekarang. Semua emosi udah dilampiasin ke kalian, jadi makasih banyak ya."

Oh, jadi kita cuma pelampiasan, ya. Lagi-lagi mereka membatin.

"Lain kali kita main lagi, ya."

Kemudian Yukiko melangkah keluar dari game center itu. Sepertinya dirinya terlalu asik, sehingga tidak sadar kalau langit sudah gelap. Si gadis Isogai menyadari selama apa dirinya kabur dari rumah setelah perutnya berbunyi cukup kencang. Kalau diingat, terakhir makan nasi itu tadi siang saat di sekolah. Dan saat sampai di rumah, ia hanya minum air satu gelas. Setelah itu insiden cola tumpah terjadi.

Gawat, Yukiko mulai merasa lemas sekarang. Sudah belum isi perut, sisa tenaganya malah ia habiskan untuk membantai anak-anak SMA itu. Ia harus pulang sekarang. Kira-kira sudah jam makan malam belum, ya?

"Loh, kok jalan pulang ke rumah jauh banget, ya?" gumam Yukiko. Selanjutnya si sulung Isogai merasa kepalanya pusing, sampai matanya berkunang-kunang. Syukurlah ada dinding di dekatnya, jadi ia bisa bersandar dulu.

"Berarti tadi aku jalan jauh banget, ya? Apa gara-gara lagi emosi jadi pergi aja gak merhatiin jalan? Ah, aku kalap berarti."

Sekarang tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Baju yang dipakai juga hanya kaus tipis dan celana pendek. Udara musim semi tidak terlalu dingin sebenarnya, hanya saja kondisi tubuhnya membuat Yukiko jadi sensitif dingin. Si gadis juga mulai merasa mual, dan sakit kepalanya makin menjadi-jadi. Pandangannya juga sudah mulai gelap. Bagaimana caranya ia pulang sekarang?

"Yu-Yuuma..."

Kini tubuh Yukiko sudah tidak berdaya, sudah tidak bisa berjalan, dan dalam hitungan detik ia akan jatuh ke trotoar. Ia juga sudah tidak bisa membiarkan emosi negatifnya menguasai tubuhnya, sehingga tanpa sadar, ia menyebut nama Yuuma yang menjadi penyebab kemarahannya hari ini.

"Yu-Yuuma, tolong..."

BRUK!

"Ah, hampir aja. Akhirnya ketemu juga kamu, Yukiko."

Tidak disangka-sangka, Yukiko yang ambruk segera ditangkap oleh sosok pemuda yang ternyata adalah adiknya, Isogai Yuuma. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya si bungsu menemukannya tak jauh dari game center. Game center ini cukup jauh dari rumah, dan ini bukan tempat langganan Yukiko. Wajar saja ia baru menemukannya saat sudah malam.

"Mukanya keliatan pucat-- wah, badannya panas ternyata."

Ada hikmahnya juga ia membeli obat-obatan untuk stok di rumah. Mungkin Yuuma juga sudah menduga hal ini akan terjadi, karena ia ingat kapan terakhir Yukiko makan. Namun yang jadi permasalahan, bagaimana cara ia membawa Yukiko pulang disaat badannya masih sakit semua?

"Yuuma... Yuuma..."

Yuuma mendengar Yukiko bergumam pelan, sepertinya kesadarannya belum sepenuhnya hilang. Namun gadis itu hanya bisa menggerakkan mulutnya, hanya sedikit. Suaranya saja sudah lirih begitu. Namun Yuuma merasa senang mendengarnya. Sepertinya kakaknya sudah tidak marah lagi. Melihat kondisinya sekarang, Yuuma semakin tidak tega. Sepertinya panggilan itu memberikan si bungsu tenaga yang cukup untuk pulang ke rumah.

"Yuuma, di mana..."

Setelah memapah Yukiko di punggungnya, Yuuma segera melangkah menuju rumah, dengan senyum lega setelah mendengar gumaman terakhir dari gadis itu.

"Aku di sini, kok. Kita pulang sekarang, ya, Yukiko-nee-san."

.

.

.

TBC

A/N : Lama tidak berjumpa~

Sampai bertemu di chapter selanjutnya~ :D