"Yukiko..."

Sudah lima menit sejak Yuuma dipanggil Yukiko di dalam kamar, sebelumnya si bungsu Isogai sedang berada di ruang kerja ibunya untuk merapihkan berkas-berkas. Padahal sudah buru-buru masuk kamar, khawatir Yukiko sedang gawat butuh sesuatu. Wajar saja, Yukiko sedang sakit. Tapi setelah menunggu selama itu, Yukiko masih belum mengatakan apapun.

"Yukiko? Butuh bantuan?"

"Yuuma..."

Wah, akhirnya ngomong juga. Yuuma memperhatikan Yukiko tengah meraih ponselnya, kemudian mengetikkan sesuatu di sana. Apa dia mau chat di sosmed, ya? Kenapa gak ngomong langsung aja sih? Si bungsu mulai berpikiran yang tidak-tidak.

"Besok Akari-chan dan Manami-chan ngajak aku main," ucapnya. Yuuma mengernyitkan dahi, lantaran tidak tahu siapa itu Akari-chan dan Manami-chan. "Kamu yang gantiin aku pergi, ya?"

Kini Yuuma membulatkan kedua matanya. Tak lama kemudian, mulutnya yang membulat.

"Hah?"

.

.

.

Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei

TWIN! (c) julycious

Chapter 7 : Hukuman

.

.

.

Malam setelah Yuuma menemukan Yukiko.

"Aku pulang. Ibu, Ayah, bantu aku!"

Tak lama sosok pria dan wanita paruh baya menghampiri si bungsu ke pintu masuk. Wajah keduanya berubah dari panik menjadi lega.

"Baru aja Ayah siap-siap mau bantu nyari. Syukurlah kalian udah sampai duluan," ucap Nyonya Isogai. Buru-buru ia menghampiri Yuuma dan Yukiko yang sedang tertidur di punggung si bungsu. "Yukiko, bangun— eh, badannya panas."

Wajah Nyonya Isogai yang semula lega, kini kembali memasang ekspresi panik. Buru-buru sang Ayah menghampiri Yukiko lalu menggendongnya hingga ke kamar.

"Biar Ayah sama Ibu yang urus Yukiko. Kamu mandi trus makan dulu, Yuuma. Ibu udah siapin makanannya buat kamu."

"Baik, Ayah. Ini aku juga beli obat buat stok di rumah. Untung aku beli obat yang pas buat Yukiko."

Malam itu, seluruh anggota keluarga Isogai mulai sibuk mengurus Yukiko yang sedang sakit. Yuuma yang badannya masih sakit juga segera diobati oleh sang ibu, tepat setelah mandi dan makan malam. Sejak saat itu, Yuuma belum berbincang apapun dengan Yukiko. Sampai akhirnya di Sabtu pagi, Yukiko mengajaknya berbicara dan membuat Yuuma bingung setengah mati.

"Aku gantiin kamu? Maksudnya gimana?"

"Pulang sekolah kemarin, Akari-chan sama Manami-chan ajak aku pergi jalan-jalan." Yukiko terbatuk sebelum melanjutkan penjelasannya. "Kita mau pergi ke kafe yang baru buka itu, sekalian mampir ke beberapa toko di dekat sana. Katanya mereka mau beli sesuatu. Lalu aku diajak mereka."

Sejauh ini Yuuma paham penjelasan tersebut. "Trus hubungannya apa?"

"Besok kamu yang pergi sama mereka, gantiin aku."

Yuuma kembali gagal paham. "Makanya aku nanya, maksudnya gimana?"

"Masa gitu aja gak ngerti sih? Yaa, kamu yang pergi jadinya."

"Aku beneran gak ngerti loh, Yukiko. Kenapa jadi aku yang pergi?"

Yukiko menghembuskan napas berat, rasanya tambah pusing melihat kelemotan Yuuma. Seingatnya Yuuma tidak sebodoh itu. "Kamu gak liat aku lagi sakit begini? Ini juga gara-gara kamu, kan."

Lah, kok nyalahin? Batin Yuuma.

"Yaa, kamu tinggal bilang aja ke mereka kalau kamu lagi sakit."

"Mana tega aku batalin— uhuk, uhuk!" Sepertinya Yukiko belum bisa pakai suara tinggi. Ia harus lebih sabar menghadapi Yuuma mulai sekarang. "Ah, sakit. Aku gak mau batalin janji pertama sama temen pertama aku di SMA. Aku gak mau ngecewain mereka."

"Apa bedanya? Malah kalau aku yang datang, bukannya mereka bakal lebih kecewa?" tanya Yuuma yang masih bingung. "Aku cowok loh, memangnya mereka bakal nyaman sama cowok? Lagian, aku juga gak tau Akari-chan sama Manami-chan yang mana."

"Loh, kamu kan bisa nyamar,"

Hah? Nyamar?

"—jadi aku."

"MANA BISA GITU!" Yuuma emosi mendengar pernyataan si sulung Isogai. Sedetik kemudian, akhirnya ia paham mengapa Yukiko menyuruhnya pergi bersama dua temannya itu. "Jadi ini maksudnya nyuruh aku gantiin kamu? Aku nyamar jadi kamu trus pergi sama mereka? Aku pakai wig panjang terus pakai baju dress kamu? Gitu maksudnya?"

Yukiko mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya adiknya tidak bodoh lagi. "Kita kan kembar, jadi gak akan ketauan, kan?"

Tapi gak gitu juga dong! Yuuma menangis dalam hati.

"Ada yang salah sama kepala kamu, Yukiko."

"Yang salah itu kamu, Yuuma. Kamu udah rusakin PS aku."

Yuuma yakin kalau alasannya itu berlebihan, tapi tidak bisa menutup fakta kalau Yuuma penyebab playstationnya rusak, walaupun itu kecelakaan, sih. Yukiko sedang sakit, jadi kalau dirinya protes, anak itu pasti akan hilang kendali lagi. Kalau kedua orang tuanya tahu ini, pasti Yuuma yang akan kena marah. Tidak ada alasan lain, ya...

"Anggap aja ini hukuman buat kamu karena udah ngerusak PS aku, oke?"

Yuuma menelan ludah. Rasanya seperti berada di ujung tebing. Berat. Yukiko sialan.

"Sial. Ka-kali ini aja, karena kamu lagi sakit."

Mendengar kalimat barusan, Yukiko segera memasang sebuah senyuman lebar sebisanya. Jika kondisinya tidak sedang sakit, mungkin Yuuma sudah menyerangnya lantaran sebal dengan saudara kembarnya itu. Alhasil Yuuma hanya bisa meratapi nasibnya sambil nangis kejer.

.

.

.

"Kali ini aja, ya..."

Yuuma menghela napas sambil menatap layar ponselnya (atau lebih tepatnya ponsel milik Yukiko). Dirinya benar-benar tidak percaya akan melakukan hal sebodoh ini. Tapi jika tidak melakukan ini, Yukiko akan melapor macam-macam pada sang ibu, tentunya bukan dengan alasan sebenarnya, lalu si sulung akan membuat dirinya terpojok dan membuat ibunya marah bagaimana pun caranya. Hal itu jauh lebih merepotkan.

Untungnya tadi pagi, seseorang yang ia temui di toko servis kemarin memberi kabar mengenai kerusakan playstation milik Yukiko serta memberitahu rincian biayanya, sehingga ia punya alasan untuk keluar rumah di Hari Minggu. Tentunya dengan begini, Yuuma tidak perlu mengenakan dress berwarna putih dan corak kuning serta wig panjang hitam dari rumah. Selamat.

"Tapi ini kebangetan sih, nyuruh cowok bujang dandan jadi gadis SMA yang anggun banget. Padahal Yukiko gak anggun-anggun amat kalau lagi bareng aku atau Karma," keluhnya seraya menatap layar ponsel. Kebetulan sekali, ponsel itu bergetar dua kali, menandakan ada pesan masuk untuk dirinya. "Oh, ada chat dari Karma."

[Semoga hari ini menyenangkan, Yukiko-chan.

Eh, salah. Semoga menyenangkan, Yuuma-chan (wkwk).]

KARMA SIALAN! Gak ada bosen-bosennya ngeledek dari tadi. Kenapa juga harus dia yang bantu dandanin aku jadi Yukiko? Mana sempurna banget lagi, apalagi bagian dadanya, ukurannya pas banget. Gila, aku aja gak tau detail yang begituan, padahal aku kembarannya.

Selanjutnya, secara tidak sadar, Yuuma malah memuji usaha Karma saat menyulapnya menjadi Yukiko.

"Maaf menunggu lama, Yukiko-chan."

Karena sedang asik melamun, akhirnya Yuuma terkejut. Sejak kapan teman-teman Yukiko ada di sampingnya?

"Eh, maaf, kamu kaget ya?" tanya si rambut hijau yang bernama Yukimura Akari. "Kamu gak apa-apa, Yukiko-chan?"

"A-Ah, gak apa-apa, Akari-chan. Maaf, aku tadi lagi fokus liat chat, hehehe." Oh tidak, Yuuma masih gugup. Semoga suaranya tidak berubah menjadi suara maskulin.

"Oh, begitu ya," tanggap gadis lain yang mengenakan kacamata bulat. Kalau tidak salah namanya Okuda Manami. "Kalau gitu, kita langsung pergi aja, yuk."

"Ah, ayo."

Wah, ajaib. Mereka gak sadar kalau aku bukan Yukiko. Batin Yuuma.

Akhirnya Yuuma, Akari, dan Manami pun berjalan menuju kafe baru yang menjual berbagai macam kue. Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dari titik kumpul, sehingga sepuluh menit kemudian ketiganya sudah tiba di kafe tersebut. Ternyata pengunjung kafe tersebut lebih ramai dari yang mereka kira. Untung saja tempatnya cukup luas, dan mereka bertiga datang sedikit lebih pagi.

"Syukurlah kita masih bisa dapat meja. Gak nyangka jam segini udah rame aja," ucap Manami seraya mendaratkan tubuhnya di kursi.

"Maaf yaa, aku lama banget milih kuenya," ujar Akari lesu. Sepertinya anak itu tidak enak membiarkan Manami dan Yuuma (yang menyamar jadi Yukiko) menunggu sekian menit.

"Gak apa-apa, Akari-chan. Sebenarnya aku juga bingung kok pilih makanannya tadi, semuanya keliatan enak, hehe." Manami tersenyum, mencoba menghibur Akari yang masih merasa tidak enak.

"Kalau kamu masih penasaran, gimana kalau kita saling cicip kue aja? Kebetulan kue yang kita pesan beda-beda." Yuuma memberikan usul. Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa sealami itu berbicara dengan teman-teman kakaknya. "Atau kalau kamu masih belum puas, gak masalah kok kalau kita lama-lama di sini."

"Yukiko-chan..." Manik mata Akari menampakkan bintang-bintang kecil. Sepertinya anak itu sudah kembali bersemangat.

"Ah, boleh tuh. Aku juga pengen cicip kue kalian, hehe," sambung Manami. "Kita pergi gak terlalu siang kok, jadi kita bisa lama di sini sebelum pergi ke toko. Jadi santai aja yaa, Akari-chan."

"WAAAHHH, MAKASIH KALIAN!"

Saking senangnya, Akari berhambur merangkul akrab Yuuma dan Manami sampai membuat sekelilingnya menatap bingung saking hebohnya. Manami tertawa canggung, karena pada dasarnya gadis itu memang sedikit kikuk. Berbeda dengan Yuuma yang komat-kamit dalam hati ingin pulang ke rumah.

Plis. Stop. Jangan rangkul. Aku cowok, jangan di rangkul. Karma, Yukiko, tolongin! Yuuma menjerit dalam hati.

Untuk mempersingkat waktu, akhirnya ketiga siswa SMA Kunugigaoka itu mulai menikmati kue yang sudah mereka beli. Sesuai saran Yuuma, mereka juga saling berbagi untuk mencicipi kue yang tidak bisa dibeli. Hal ini dapat membuat hubungan persahabatan mereka semakin akrab, karena itu mereka melakukan usul tersebut.

Sejujurnya Yuuma merasa senang, karena ini kali pertama ia merasa bisa mengakrabkan diri dengan orang lain selain Karma dan kembarannya. Hanya saja keakrabannya ini palsu, karena ia mengakrabkan diri dengan Akari dan Manami sebagai Yukiko, bukan sebagai dirinya sendiri. Sedih sekali. Bagaimana jika mereka tahu kalau Yukiko yang mereka ajak pergi ini bukanlah Yukiko? Sepertinya Yuuma harus memarahi Yukiko soal ini.

"Yukiko-chan, apa kamu suka pergi ke tempat begini bareng Yuuma-kun?" tanya Akari setelah topik pembicaraan sebelumnya berakhir. Pertanyaan yang umum diajukan pada awal menjalin hubungan persahabatan.

Kemudian Yuuma merasa bingung hendak menjawab apa, khawatir Akari bertanya macam-macam yang membuat dirinya menjadi narsis. "Ah, nggak kayaknya."

"Eh, yang bener?" tanyanya lagi tak percaya. "Jadi kalian biasa pergi ke mana?"

"Kita lebih sering pergi ke taman deket rumah sih, atau nongkrong di dekat sungai," jawab Yuuma. "Kalau lagi bosen ke sana, baru kita main ke rumah Karma-kun."

"Jadi rumah kalian dekat, ya?" kali ini Manami yang menanggapi. "Apa kalian saling kenal dari kecil?"

"Yap, kita kenal dari kelas 3 SD. Waktu itu aku sama Yuuma pindah dari Osaka trus masuk sekolah yang sama kayak Karma-kun, kita satu kelas, dan gak nyangka ternyata rumah kita juga deket. Jadi kita deket, deh."

"Wah, jadi kalian bukan asli sini?" tanya Manami lagi. Sepertinya dia sangat antusias, berbeda dengan Akari yang sedikit terkejut.

"Kita asli sini sih, tapi kita sering pindah-pindah karena kerjaan ayah. Tapi sejak kelas 3 SD itu kita udah gak pindah-pindah lagi kok."

"Pantas kalian keliatan akrab banget. Ya kan, Akari-chan?" Manami menoleh ke arah Akari minta persetujuan, dan si gadis hijau mengangguk setuju. "Akabane-kun dan Yuuma-kun baik, kan? Boleh gak kalau aku mau temenan juga sama mereka?"

"Ah, aku juga mau temenan sama mereka," sambung Akari. "Teman Yukiko-chan itu teman kita juga, jadi aku juga mau kenal lebih jauh sama mereka. Oh ya, akhir-akhir ini kalian sering bareng Sakakibara-kun sama Asano-kun dari kelas A, kan?"

Selanjutnya mereka mulai membicarakan Karma dan Yuuma, mulai dari ketampanan mereka, sifatnya yang sedikit berbeda, kedekatan mereka saat bersama Yukiko, dan hal-hal lain yang menurut keduanya lucu untuk dibicarakan. Sesekali mereka juga menyebut nama Ren dan Gakushuu saat membicarakan mereka.

Melihat kedua gadis dihadapannya saling melemparkan pendapat mengenai dirinya dan Karma, membuat Yuuma sedikit merona malu. Ia juga merasa terkejut saat Akari dan Manami ingin berteman dengan dirinya dan Karma. Mereka berdua perempuan, dirinya dan Karma laki-laki, tapi apa mereka benar-benar ingin berteman? Tidak ada maksud lain, kan?

"Teman Yukiko itu teman kita juga, ya?"

Mendengar gumaman Yuuma, Akari dan Manami menghentikan pembicaraan mereka dan fokus menatap si bungsu Isogai. Tentu saja Yuuma panik. Apa ucapannya itu terdengar? Apa ia mengatakan itu dengan suara laki-laki? Bisa gawat kalau begitu.

"Kamu bilang apa, Yukiko-chan?" tanya Akari bingung.

Wah, kayaknya mereka gak sadar. Baguslah!

"A-Ah, aku yakin Yuuma dan Karma-kun mau kenal sama kalian," jawabnya sedikit gugup. "Nanti aku kenalin kalian deh, ya?"

Mendengar kalimat barusan, Manami dan Akari memasang senyum senang. Keduanya tidak terlalu akrab dengan laki-laki. Namun melihat Yuuma dan Karma yang begitu baik dan sangat menyayangi Yukiko, sepertinya mereka ingin memiliki teman laki-laki yang seperti itu juga.

"Waah, Yukiko-chan baik. Makasih banyak," ucap Akari girang. Lagi-lagi gadis itu merangkul Yuuma, membuat ia yang sebelumnya merasa tenang dan nyaman mendadak jadi gelisah lagi. Ya, selama ini yang pernah merangkul akrab begini hanya Yukiko, saudara kembarnya sendiri, jadi wajar saja kalau si bungsu Isogai gugup begitu.

"Ayo kita pergi ke toko. Kue kita udah abis, trus di luar juga masih banyak yang mau makan di sini," ucap Manami yang sukses mengembalikan Akari menuju mode tenangnya. Sedangkan Yuuma hanya menghembus napas lega karena ia sudah bebas dari rangkulan si surai hijau. Namun ia buru-buru menenangkan diri karena kedua gadis itu kini mengajaknya ke toko yang mereka tuju untuk membeli keperluan mereka.

Entah karena terbiasa dengan Yukiko atau bagaimana, namun selama bepergian bersama Akari dan Manami, Yuuma tidak mengalami masalah apapun di sana. Sampai mereka selesai belanja dan pergi menuju rumah masing-masing, Akari dan Manami tidak menyadari kalau Yukiko yang mereka ajak pergi itu adalah Yuuma yang menyamar. Begitu juga dengan Yuuma, yang secara tidak sadar menganggap Akari dan Manami adalah temannya, bukan teman Yukiko.

Hari ini Yuuma sungguh sial karena harus menyamar menjadi perempuan. Namun hari sialnya ini memiliki sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan selama masa sekolah, terutama semasa SMP dulu. Ya, rasa nyaman saat melakukan sesuatu dengan teman sekolah, selain Karma dan Yukiko yang sudah ia kenal sejak kecil. Mungkin mulai sekarang, Yuuma bisa memiliki lebih banyak teman di sekolah, serta bisa bergaul dengan siapa saja.

"Isogai-kun, ada kejadian apa hari ini?"

Yuuma terkejut, sepertinya ia melamun saat sedang menunggu penjaga toko servis berambut oranye membuat sebuah catatan. Tiba-tiba saja Maehara Hiroto, pemuda surai oranye itu, bertanya begitu sambil menatapnya sok akrab.

"Eh? Kenapa emang?"

"Gak apa-apa, sih. Cuma mukanya keliatan kayak lagi seneng gitu," jawab Hiroto. "Dapet cewek baru, ya?"

"Boro-boro, yang lama aja gak ada." Yuuma menanggapi pemuda itu malas. Lagi-lagi salah sangka nih anak. "Emang keliatan banget, ya?"

"Oh, berarti beneran dapet cewek baru? Cie..."

"Sotoy, sih."

"Tapi beneran keliatan kayak lagi seneng gitu, gak bohong deh." Sebelum dirinya diberikan tanggapan malas-malasan oleh Yuuma, Hiroto buru-buru menyerahkan selembar kertas catatan mengenai kondisi playstation Yukiko beserta rincian biayanya. "Servisnya kira-kira tiga hari selesai, paling lama seminggu lah yaa, berhubung di sini lagi banyak pesanan. Catatannya jangan sampe ilang ya, nanti bawa pas mau ambil barang."

Yuuma meraih kertas tersebut sebelum mengiyakan kalimat Hiroto. Buru-buru ia masukkan ke dalam tas dan membuat catatan di ponsel Yukiko sebelum ia lupa.

"Nanti aku hubungi kalau udah bisa diambil, Isogai-kun."

"Oke, siap."

.

.

.

Pukul lima sore, Isogai Yuuma sampai ke rumahnya dengan membawa beberapa makanan sebagai oleh-oleh. Sesuai rencananya tadi pagi, setelah kegiatan hari ini, ia akan menceramahi Yukiko habis-habisan.

Namun niat Yuuma tersebut harus pupus lantaran Yukiko terus menerus menertawakan dirinya yang berdandan seperti si sulung Isogai.

"Gila, Yuuma cantik banget ini—uhuk, uhuk," ucapnya. "Gak salah aku minta bantuan Karma-kun hari ini. Makasih banyak, ya."

Apalagi ada Akabane Karma di sini. Habis sudah Yuuma jadi bulan-bulanan mereka berdua.

"Aku seneng banget bisa bantu kamu, Yukiko-chan. Kapan lagi bisa liat Yuuma pake baju kamu, ya kan?"

Sialan! Yuuma mengumpat dalam hati.

"Nih, aku bawa makanan buat kalian. Tapi plis, jangan ledekin aku terus."

Yukiko dan Karma memang tidak mengejeknya lagi, namun mereka masih anteng menatap foto Yuuma yang sedang menyamar menjadi Yukiko, lalu tertawa terbahak-bahak. Oh, jangan tanya siapa yang memotret karena sudah jelas jawabannya adalah si surai merah, Akabane Karma. Sudah pasrah dengan kelakuan kedua orang terdekatnya, Yuuma hanya pasrah.

"Sama ini, catatan buat ambil PS kamu."

Mendengar kalimat barusan, Yukiko dan Karma melongo. "Catatan? Kwitansi?"

"Iya, aku bawa PS kamu ke toko servis. Alamatnya ada di situ kok, tapi nanti aku kabarin kalau udah bisa diambil," jelasnya. "Rusaknya lumayan parah, tapi data game-nya masih bisa selamat. Jadi biayanya lumayan mahal, karena ada yang harus diganti gitu, gak tau lah gak ngerti."

"Yuuma..." Yukiko masih bingung. Entah kenapa adiknya ini terlihat berbeda dari biasanya. Auranya terlihat dewasa dan serius. "Kamu seriusan?"

"Hah? Seriuslah. Kalau gak, kamu pasti marah lagi." Justru Yuuma heran mengapa Yukiko menatapnya bingung begitu. Kalau barang elektronik rusak, sudah sewajarnya segera dibawa ke tempat servis, bukan? "Waktu kamu kabur itu, aku langsung kepikiran buat bawa PS-nya dulu ke tempat servis. Kalau rusak total, nanti bakal beli lagi yang baru. Aku udah omongin ini ke ibu kok."

Mendengar penuturan adiknya, Yukiko hanya bisa terdiam. Awalnya ia berpikir Yuuma tidak bertanggung jawab, makanya gadis itu tidak banyak bicara padanya kemarin, selain meminta dirinya pergi bersama Yukimura Akari dan Okuda Manami.

"Trus tadi sebelum pulang, aku mampir dulu ke toko itu, ambil catatan sama bayar biaya servisnya. Untung datanya bisa selamat, jadi aku gak kena amuk lagi sama kamu," sambung Yuuma. "Aku cuma bisa ngelakuin itu buat kamu. Udah ya, jangan marah lagi. Aku minta maaf, Yukiko."

Baik Yukiko maupun Karma, mereka sama-sama tidak menyangka Yuuma akan mengeluarkan kalimat dewasa seperti itu. Biasanya yang selalu bersikap dewasa ketika si kembar tengah bertengkar adalah Karma, namun si surai merah tidak melakukan apapun kali ini. Yukiko juga menjadi pendiam setelah mendengar Yuuma, tidak lagi mengelak atau terus memojokkan adiknya. Mungkin Yukiko sudah memaafkan Yuuma perihal playstationnya, hanya saja ia tetap tertegun mendengar kalimat itu.

"Satu lagi, Yukiko."

Saat Yukiko merasa senang dengan permintaan maaf Yuuma, anak itu tiba-tiba menginterupsi. Tentu saja ia terkejut.

"Nanti, kenalin aku sama Aka—maksudnya Yukimura-san dan Okuda-san. Oh, Karma juga. Kamu harus kenal juga sama mereka."

Eh? Yukiko dan Karma sama-sama mengernyitkan dahi.

"Wah, wah, ada apa ini? Yuuma minta kenalin cewek? Naksir yang mana, nih?" Karma malah menggoda si bungsu Isogai.

"Tadi, waktu lagi ngobrol, mereka pengen kenalan sama aku dan Karma. Mereka bilang kita baik, jadi mereka mau temenan sama kita. Katanya teman Yukiko itu teman kita juga, gitu. Mereka jujur banget kok ngomongnya."

Entah yang keberapa kali, Yukiko dan Karma terkejut. Sebelum resmi masuk SMA, mereka merasa takut jika memiliki teman baru. Namun kini, banyak orang-orang mendekati mereka dengan tulus niat ingin berteman, bukan karena maksud lain. Rasanya senang sekali, padahal selama SMA, mereka belum melakukan apapun yang membuat orang lain terkagum-kagum, di luar fisik mereka yang terlihat good looking.

Yukiko tertawa pelan. "Akari-chan dan Manami-chan manis banget. Aku jadi penasaran gimana muka mereka pas ngomong gitu."

"Makanya, Yukiko. Kalau lain kali mereka berdua ngajak main keluar, kamu harus nolak ajakan itu kalau kamu memang lagi gak bisa pergi. Mereka berdua orang baik, jadi gak akan kecewa kalau kamu jujur gak bisa pergi," ucap Yuuma tegas. Ia menatap Yukiko yang lagi-lagi tertegun mendengar kalimatnya. "Aku gak mau ngerasain kayak gini lagi, pura-pura jadi kamu buat main sama mereka. Gak enak, tau. Aku mau main sama mereka sebagai aku, bukan kamu."

"Maksudnya gak mau main sama mereka pas lagi pake baju cewek, kan?"

Sedetik kemudian, sebuah perempatan muncul di kening Yuuma.

"Karma! Orang lagi ngomong serius juga, pake ngingetin itu lagi." Si bungsu Isogai menatap sebal pemuda rambut merah di hadapannya.

"Haha, maaf maaf. Aku cuma mau mencairkan suasana. Liat, Yukiko kayak mau nangis gitu denger kata-kata kamu. Dia lagi sakit, tau."

"Mana ada nang—uhuk, uhuk."

"Tuh kan, batuk. Jangan macem-macem dulu kalau lagi sakit," ucap Karma sambil memberikan segelas air untuk Yukiko. "Mending sekarang kita dengerin cerita Yuuma-chan hari ini."

"Woi, jangan pake '–chan'!"

"Nah, bener. Mending ceritain ke kita tadi ngapain aja. Cerita sedetail-detailnya, ya," pinta Yukiko. "Aneh kalau kamu ngomong serius banget kayak tadi. Dah, cepet cerita."

Yuuma menghembuskan napas pelan, rasanya lelah meladeni mereka berdua saat sifat jahilnya kumat. Namun ia tersenyum kecil seraya menatap sahabat dan kakaknya. Ketiganya begitu akrab, saling mengejek dan membantu satu sama lain sesuai kondisi masing-masing. Berkat hari ini, hati kecil Yuuma berharap bisa merasakan keseruan ini bersama dengan teman-temannya, seperti Asano Gakushuu dan Sakakibara Ren, atau bersama dua gadis yang telah menemani dirinya seharian.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :D