" Kau tersenyum, Sasuke-kun! Dan itu sangat tampan! " Hinata berucap dengan mata yang berbinar dan sangat dekat dengan Sasuke.

BLUSH!

" A-aku bilang diam! " Bentak Sasuke, wajah putih miliknya memerah melihat wajah Hinata yang dekat dengannya.

" Wajahmu memerah, apa kau demam? "

" Diam atau aku akan menciummu! "

BLUSH.

Kali ini wajah Hinatalah yang memerah karena perkataan Sasuke. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dengan wajah yang memerah dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka tampak bahagia dan semoga saja semua kebahagiaan yang mereka rencanakan berhasil.

Ya, semoga saja.

::

Happiness

::

Neji dan Shikamaru pergi meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu keputusan Hinata. Shikamaru menghela nafas lalu menghadap temannya ini.

" Kurasa berbagi cerita akan sedikit meringankan bebanmu." Ujar Shikamaru yang melihat wajah Neji begitu frustasi.

Neji diam kemudian mengambil nafas, " Hinata-sama sudah melupakan Naruto."

" Apa?! " Wajah terkejut Shikamaru terpampang begitu jelas.

Neji menatap pria bermarga Nara itu, " Dia- "

" Apa dia jatuh cinta dengan Sasuke? " Shikamaru bertanya dengan sedikit nada tidak percaya.

Shikamaru berhenti, ia menatap Neji, " Tunggu sebentar! Aku yakin Sasuke sedang memperdaya Hinata sekarang. Bagaimana Hinata bisa jatuh cinta dengan mudahnya pada seorang pria yang bahkan baru ia temui?! Apalagi dia adalah Sasuke Uchiha, kau ingat? " Tanya Shikamaru sedikit membentak.

" Kau salah."

" Kau membela Sasuke, Neji? "

Neji menghela nafas, ia menatap langit yang menampilkan bulan dan bintang, " Sejak kecil mereka sudah saling kenal."

" Kau ... bercanda?" Tanya Shikamaru. Otaknya yang jenius tiba-tiba berubah menjadi lamban seolah semua ini hanya tipuan.

" Begitulah. Hanya saja sebuah 'kecelakaan' kecil terjadi hingga mereka berdua terlihat seperti orang asing." Balas Neji.

Shikamaru mengangguk, ia mulai mencerna semua yang terjadi dengan otak jeniusnya. " Kalau begitu, ucapannya tentang men- "

" Kalian disini! "

Ucapan Shikamaru terhenti kala melihat Naruto yang mendekati mereka. Neji menatap Shikamaru seolah berkata –jangan beritahu padanya- . Mendapat tatapan seperti itu membuat pria berambut nanas mendesah pelan kemudian menggumamkan kata-kata favoritnya.

" Apa kalian menemukan petunjuk? " Tanya Naruto dengan nafas yang sedikit terputus-putus karena kelelahan melompat.

Shikamaru dan Neji menggeleng, " Lebih baik kita lanjutkan besok saja." Usul Neji.

" Apa?! Ayolah kenapa kita harus beristirahat terus menerus! "

" Kami bukan Shinobi yang kuat sepertimu, Naruto."

Entah Naruto harus senang atas pujian atau ejekan yang diberikan Shikamaru itu. Tapi, Naruto sedikit membenarkan ucapan temannya ini. Mereka berbeda dengan Naruto yang memiliki chakra luar biasa.

" Baiklah, ayo kita berkumpul dengan yang lainnya."

" Eh? Yang lain sudah berkumpul? "

" Begitulah, mereka memintaku menyusul kalian karena kalian lama. Dan mungkin saja kalian menemukan petunjuk tapi, yah~ Seolah dihapus oleh angin kita bahkan tidak mendapatkan petunjuk. " Jelas Naruto.

Shikamaru hanya diam, ia melirik Neji yang sedang menunduk memikirkan sesuatu.

" Neji, kau- "

" Hoi! Neji, Shikamaru! Sampai kapan kalian akan disana,huh! " Bentak Naruto yang sudah jauh darinya namun suara bocah itu masih terdengar.

" Ayo, Shikamaru. Aku tidak mau Naruto mencurigai kita." Ujar Neji yang mengikuti Naruto begitupun dengan Shikamaru.

. . .

Hinata dan Sasuke telah sampai di tempat peristirahatan mereka.

" Dimana airnya? " Tanya Suigetsu.

Hinata terkejut kemudian menepuk kepalanya, gara-gara pertemuannya dengan Neji ia sampai lupa mengambil a-

" Ini. " Sasuke menyerahkan air yang diminta Suigetsu, Hinata menatap Sasuke tidak percaya.

" Ka-kapan Sasuke-kun mengambilnya?" Tanya Hinata.

" Saat aku mencarimu." Ujar Sasuke santai merekapun duduk melingkar.

Sasuke segera mengeluarkan jurus apinya kearah kayu bakar untuk membuat api unggun.

" Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? " Tanya Suigetsu.

" Ya tentu saja mencari penginapan, bodoh!" Maki Karin

Suigetsu menatap tajam kearah Karin, " Aku sudah tau! Maksudku kita tidak mungkin hanya menginap disana bukan?! Bukankah tujuan utamamu untuk mencari Itachi? " Suigetsu bertanya pada Sasuke.

" Hn. Aku mendengar bahwa dia berhasil menangkap Jinchuriiki lagi."

" Siapa?! "

Sasuke, Karin, Juugo dan Suigetsu menatap Hinata yang setengah berteriak. Sementara gadis itu yang baru menyadari ucapannya kini menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.

Hinata melirik Sasuke takut pasalnya firasat Hinata berkata bahwa Sasuke menatap tajam dirinya, dan-

BINGO!

Sasuke sedang menatap tajam kearahnya seolah berkata – Kau bereaksi cepat saat mendengar Jinchuriiki – Yah, Hinata tidak menutup kemungkinan bahwa dia sedikit mengkhawatirkan pemuda yang sempat menguasai hatinya itu.

" Lalu? " Suigetsu berusaha mengalihkan fokus Sasuke pada Hinata, karena aura pria Uchiha itu seakan sedang mengintimidasi putri Hyuuga.

Sasuke menoleh kearah Suigetsu, " Jinchuriki itu berasal dari Desa *** yang akan menjadi tujuan kita kali ini."

" Oh begitu. " Ujar Suigetsu mengangguk.

Karin menatap Sasuke, " Kurasa berita mengenai Orochimaru-sama yang terbunuh juga sudah tersebar keseluruh desa, dan kurasa Akatsuki juga mengetahuinya."

" Hn."

Sasuke berdiri dari tempat ia duduk dan hendak pergi.

" Kau mau kemana, Sasuke?" Tanya Juugo

" Aku ingin sendiri."

Sasuke pergi dan masuk kedalam hutan sendirian. Sementara Hinata hanya menatap punggung pria itu, entah kenapa ia merasa Sasuke sedang marah dengan dirinya karena masalah reaksi Hinata tadi.

" Hinata-san? " Panggil Juugo menyadarkan lamunan Hinata.

" Ah, iya? Kenapa Juugo? " Balas Hinata sedikit terkejut.

Ia baru sadar bahwa Suigetsu dan Karin sudah menuju tempat istirahatnya, meninggalkan dirinya dan Juugo berdua.

" Ada apa? "

" Hm? "

" Kau melamun." Ungkap Juugo.

Hinata diam, matanya menatap api yang sedang menyala dihadapannya. Apa ia harus menceritakan apa yang sedang ia pikirkan?

" Mengenai Sasuke? " Tebak Juugo, Sontak Hinata menatap Juugo mendengar nama pria yang sedang di pikirannya. Hinata kembali menunduk namun Juugo dapat melihat anggukan kecil dari Hinata.

" Aku tidak tahu mengenai hubunganmu dan Sasuke. Tapi dari yang kulihat sepertinya Sasuke tidak menyukai reaksimu tadi ya?"

Lagi. Juugo hanya mendapat anggukan kecil dari Hinata.

" Kau berpikir dia marah padamu? "

" Begitulah." Jawab Hinata. " Apa aku harus menyusulnya? " Tanya Hinata.

Juugo menatap Hinata dan terlihat berpikir, " Mungkin tidak perlu. Seperti yang kau dengar dia berkata ingin sendiri. Akan lebih baik jika dia menenangkan dirinya malam ini dan kau bisa berbicara dengannya esok hari." Jelas Juugo.

Hinata masih diam memikirkan ucapan Juugo.

" Tapi, terserahmu. Aku hanya memberikan saran saja. Kalau begitu aku akan pergi tidur." Juugo berdiri dari tempatnya dan hendak pergi.

" Terimakasih atas sarannya Juugo-san. " Hinata tersenyum pada pria yang menjadi timnya itu. Juugo tersenyum tipis kemudian pergi. Namun ia berhenti sebentar dan melihat kearah Hinata.

" Kurasa Sasuke tidak marah denganmu, mungkin dia hanya sedang memikirkan Itachi. Mempertimbangkan apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan Itachi? Mengingat Itachi yang akan menjadi target balas dendamnya." Jelas Juugo.

Hinata kembali tersenyum dan sedikit menunduk, " Sekali lagi terimakasih." Ucapnya saat Juugo benar-benar meninggalkannya.

Sudah sepuluh menit berlalu dan Sasuke masih belum kembali. Hinata kembali memandangi api yang masih menyala dihadapannya. Melihat api itu ia teringat akan desa Konoha. Tempat tinggalnya. Rumahnya. Keluarganya.

Gadis itu menundukan kepalnya, ia mengingat kembali ucapan Nii-san nya yang berkata bahwa Tou-san menginginkan Hinata kembali. Apakah ia harus senang?

Jujur saja. Di dalam hati kecil Hinata sangat gembira, ia juga merindukan Tou-sannya. Tapi akal sehatnya menolak. Seolah seperti sebuah fim, ingatan dimana Tou-sannya memberi ia pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan untuknya kembali terlintas.

Hinata tersenyum miris. Yah, tidak mungkin. Itu hanya omong kosong. Lagi pula kembali atau tidaknya dia tidak akan mengubah fakta bahwa dirinya bukanlah seorang Hyuuga lagi. Hanya mata ini yang mencerminkan bahwa ia keturunan Hyuuga.

Perlahan tangan Hinata mulai menyelip ke area perpotongan lehernya. Ia mengelus pelan tanda kutukan miliknya. Ya, memang itu yang terbaik. Hal yang terbaik adalah Hinata tidak akan pernah kembali ke Konoha.

Lagipula dia juga bukan Hyuuga Hinata yang dulu lagi. Saat ini tanda kutukan telah menyatu dengan tubuhnya, ia tidak bisa mencegah hal itu.

" Kenapa lama sekali? " Hinata menatap jalan yang tadi Sasuke lalui. Walaupun Juugo berkata bahwa Sasuke tidak mungkin marah padanya, tapi di dalam hati kecilnya Hinata tau bahwa Sasuke tidak menyukai jika Hinata mengingat Naruto lagi. Dan ia memutuskan untuk menunggu pria itu kembali.

Hinata duduk memandang perapian yang sudah mengecil dan hampir padam. Tapi sayangnya pria bermarga Uchiha itu masih juga belum kembali sampai sekarang. Dirinya sudah mulai diserang kantuk. Beberapa kali matanya terpejam tanpa sengaja. Dan pada akhirnya Hinata kalah dengan rasa kantuknya. Ia tertidur tepat saat api di hadapannya padam.

Kicauan burung di pagi hari tidak membuat gadis bermata bulan itu terganggu dari tidurnya. Ia semakin menyamankan posisi tidurnya. Semilir angin yang membelai wajahnya membuatnya sedikit terganggu.

" Enggh " Gadis itu membuka sedikit matanya yang masih terasa memberat, sepertinya bangun sedikit lama tidak akan masalah. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada batang kayu yang empuk.

Tunggu?! Empuk?!

' Sejak kapan batang kayu jadi empuk?!' Batin Hinata.

Ia melihat bekas perapian semalam yang tak jauh darinya, bukannya ia tidur didepan perapian ya? Tapi kenapa-

Mata itu terbuka sempurna, Jantungnya berdegup dengan kencang. Rasa kantuknya saat ini telah mengudara sempurna.

Ia melirik sebuah kain yang menutupi tubuhnya, sepertinya bukan hanya dirinya. Hinata mendongakan kepalanya dan sukses membuatnya terpaku.

Ia tidur dipelukan pria bermarga Uchiha ini! Dunia terasa seakan berhenti, rasanya seperti Deja Vu. Hinata memperhatikan wajah Sasuke dalam diam, tangannya tergerak ingin mengelus rahang tegas milik pria itu namun dengan cepat ia urungkan.

' Apa yang aku pikirkan! Lebih baik aku pergi diam-diam' Batin Hinata

Ia bergerak pelan hendak keluar dari kain yang menghangatkan mereka berdua. Sedikit lagi, dan-

GREP!

Mata bulan itu terkejut saat kedua tangan menariknya dan mendekapnya erat.

" Jangan kemana-mana." Suara serak khas bangun tidur pria itu terdengar jelas ditelinga Hinata.

Sasuke menelusupkan wajahnya diperpotongan leher Hinata. Menghirup bau khas wanita yang ia cintai. Mengindahkan pemberontakan Hinata yang merasa geli, karena hidung Sasuke yang tanpa sengaja bergesekan dengan kulit lehernya.

" Sa-sasuke-kun hentikan! Ayo cepat bangun! Na-nanti kita- Kyaa! " Hinata berteriak saat tiba-tiba Sasuke mengubah posisi mereka.

Yang tadinya mendekap gadis itu dari belakang, kini mereka saling berhadapan. Hinata duduk dipangkuan Sasuke.

" Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu? " Tanya Sasuke yang memandang wajah gadisnya dengan intens. Kedua tangannya masih ia lingkarkan dipinggul gadis itu agar dia tidak terlalu jauh padanya.

Hinata gugup jika terus ditatap Sasuke seperti ini. Mendengar pertanyaan Sasuke membuatnya teringat kejadian semalam, " Maaf." Cicit Hinata.

Gadis itu menunduk tidak ingin menatap mata kelam sang kekasih. Sasuke hanya diam menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.

" Maaf karena menyinggung dia lagi. Tapi sungguh aku tidak bermaksud. Aku takut Sasuke-kun akan marah. Aku tidak mau Sasuke-kun marah." Hinata menatap Sasuke dengan pandangan berkaca-kaca.

Sasuke tersenyum tipis, " Tadinya aku memang ingin marah, tapi melihatmu seperti kelinci yang tertangkap oleh mangsanya seperti ini membuatku tidak tega." Ujarnya pelan. Ia mengacak surai indigo Hinata.

" Sungguh?"

" Hn." Jawabnya singkat. Kini Sasuke tengah fokus memainkan rambut Hinata.

Hinata menatap mata pria itu, " Sasuke-kun. " Panggilnya, berharap ia mendapatkan perhatian pemuda itu dan ia berhasil.

" Ada apa? "

" Kau janji kan? "

Sasuke menatap Hinata dengan pandangan tidak mengerti, " Kau janjikan tidak akan pernah meninggalkanku? " Tanya Hinata ragu.

" Tentu saja!" Jawab Sasuke pasti.

Sekarang mereka kembali terdiam masih dengan posisi yang cukup dekat, Sasuke mengamati wajah Hinata dan terpaku pada satu tempat.

" Kau tau? Rasanya aku ingin sekali menciummu."

BLUSH!

Wajah Hinata memerah mendengar ucapan frontal pria dihadapannya, ia hendak protes namun Sasuke kembali melanjutkan ucapannya.

" Tapi aku akan melakukannya saat kau ingin melakukannya juga. Aku tidak mau memaksamu, aku tau masih ada pria Jinchuriki itu diihatimu. Kau masih ragu dan belum yakin sepenuhnya pada hatimu. Dan aku akan menunggu saat kau benar-benar membuka hatimu untukku. "

Ucapan Sasuke itu mampu membuat Hinata membatu, pasalnya ia rasa itu adalah kalimat terpanjang yang Sasuke ucapkan. Dan Hinata tidak akan membantah apa yang pria itu katakan, karena sejujurnya itu adalah benar.

Hinata dapat melihat kepedihan di mata pria dihadapannya ini. Namun, Hinata kembali ragu dengan perasaannya saat Sasuke berkata demikian.

" Sekarang aku menyesal telah meninggalkan kalian berdua."

Suara itu membuat Sasuke dan Hinata menoleh. Dengan cepat Hinata berdiri dari hadapan Sasuke dan sedikit menjauh, pasalnya ia malu karena Suigetsu, Juugo dan Karin yang memergoki mereka.

" Maaf mengganggu momen kalian, tapi kita harus segera pergi, bukan?" Ujar Suigetsu.

Sasuke bangkit dan berjalan melewati Karin, Suigetsu dan Juugo. " Aku ingin membersihkan diri dulu, baru kita pergi." Ujar Sasuke meninggalkan Hinata yang masih terdiam memikirkan ucapan Sasuke.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Tim Sasuke tiba di Desa *** .

" Baiklah, kita berpencar. Telusuri dan cari informasi mengenai Itachi." Jelas Sasuke.

" Uchiha Itachi, huh? Baiklah."

Suigetsu dan Juugo telah pergi terlebih dahulu meninggalkan Sasuke, Hinata dan juga Karin. Hinata kembali menghela nafas, Sasuke bahkan tidak mengurangi niat sedikitpun untuk melepaskan Itachi.

Gadis Hyuuga itu menatap wajah Sasuke sekilas. Selama ini, Sasuke sudah banyak membantunya. Hinata jadi teringat dengan Tim 8, ia tidak mau menjadi orang yang menyusahkan lagi.

" Kalau begitu aku- "

" Tidak. Kau tetap disini. "

Sasuke memanatap Karin, " Kau juga harus pergi, Karin. "

" Apa?! Uh, baiklah."

Karin dengan sangat terpaksa harus meninggalkan Sasuke dan Hinata berduaan. Rencana yang telah ia susun agar bisa memisahkan mereka berdua runtuh seketika. Moodnya mendadak berubah menjadi buruk.

" Kenapa kau tidak mengizinkan aku pergi? "

" Kenapa harus aku izinkan? " Sasuke tidak menatap gadis itu sama sekali. Hinata terlihat kesal.

" Ayolah, Sasuke-kun. Setidaknya izinkan aku membantumu. "

" Kau harus berada disekitarku, tidak perduli kau setuju atau tidak."

" Apa-apaan itu?!" Hinata menggerutu mendengar ucapan Sasuke. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan.

Perjalanan itu terasa sunyi, hanya suara daun yang saling bersentuhan dan angin lembut disekitar mereka. " Sasuke-kun." Panggil Hinata.

Sasuke menoleh, " Ada apa? "

" Apa kau akan terus seperti ini? "

" Maksudnya? "

Hinata menatap wajah pria Uchiha itu, " Kau dan balas dendammu? "

Tatapan Sasuke berubah sendu, Hinata menjadi merasa bersalah karena membicarakan hal yang tidak seharusnya ia bicarakan. Gadis itu menggenggam tangan pria dihadapannya.

" Maaf."

Sasuke menatap Hinata sambil tersenyum tipis, " Tidak apa."

" Aku tidak tau, Hinata. Semua yang telah Itachi lakukan pada Clan terlalu membekas dihatiku. Aku bahkan tidak mengetahui alasan dibalik semua itu. Aku hanya ingin membalas apa yang telah ia perbuat." Balas Sasuke mantap.

Selama ini Sasuke hidup dalam kesepian, keluarganya meninggalkannya. Ayah, Ibu bahkan Itachi.

Andai saja dulu dirinya sudah kuat.

Andai saja dulu dirinya lebih hebat dari Itachi.

Andai saja dulu dirinya mengetahui rencana busuk Itachi.

Semuanya tidak akan-

" Sasuke-kun."

Hinata kembali memanggilnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang sedikit memerah.

" Butuh pelukan?" Tanya Hinata dengan malu-malu. Sasuke membentuk seulas senyum tipis kemudian mendekati gadis itu.

Hyuuga Hinata. Ya, gadis yang Sasuke cintai sejak dulu. Gadis yang selalu menomor satukan pria bernama Uzumaki Naruto. Gadis yang terlihat lemah namun pada kenyataannya sangat kuat. Gadis yang bisa memberikan Sasuke ketenangan hanya dengan sebuah senyuman dan pelukan.

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya seakan ia takut bahwa Hinata juga akan meninggalkannya. Ia tidak sanggup. Sudah cukup kehilangan Ayah dan Ibunya, ia tidak mau lagi kehilangan sesuatu yang berharga.

" Jangan pikirkan hal buruk lagi, aku disini bersamamu." Ujar Hinata sambil mengelus punggung lebar pria Uchiha itu.

Sasuke melepaskan pelukannya, ia menatap dan mengelus surai indigo milik gadis itu. Ia melihat kearah leher Hinata yang terpasang bandul lambang Uchiha. Pemberiannya tempo lalu.

Sasuke memegang bandul itu, " Berjanjilah untuk tidak melepaskan ini."

Hinata memandang kalungnya dan menatap Sasuke, gadis itu menggenggam tangan Sasuke yang sedang mengelus kalungnya. Membuat pria Uchiha itu menatap Hinata.

" Tidak akan. Kau berjanji untuk tetap bersamaku dan ... " Ucapan Hinata terhenti, semburat merah mulai menjalar diwajahnya membuat bungsu Uchiha menaikan alisnya bingung.

" dan? " Ulang Sasuke

" ... D-dan me-menikahiku. A-aku sudah bi-bilang pada Ne-neji-nii, jadi Sa-sasuke-kun harus me-menepatinya." Jelas Hinata dengan nada yang pelan namun Sasuke masih dapat mendengarnya dengan jelas.

Hampir saja Sasuke akan tertawa melihat kelakuan gadis manisnya ini. Terlalu menggemaskan untuk ditinggalkan. Terbesit ide jahil dibenak Sasuke.

Ia memegang dagu Hinata, " Tatap aku Hinata."

Mata mereka bertemu,membuat jantung Hinata berdebar tak karuan. Entah kenapa dia sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini.

Entah hanya perasaan Hinata atau wajah Sasuke semakin mendekat kearahnya. Oh, Tidak! Ini nyata! Hinata bahkan dapat merasakan hebusan nafas Sasuke diwajahnya. Sudah dipastikan wajahnya memerah sempurna. Hinata hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya.

CUP!

Hinata terkejut merasakan benda kenyal yang menempel di keningnya. Terkejut? Tentu saja! Hinata meraskan dunianya hampir runtuh karena perilaku Sasuke.

" Aku mencintaimu, Hinata. "

Hinata tersadar saat melihat Sasuke menatapnya penuh damba, ia terharu. Dalam hidup Hinata ia merasa tidak pernah di tatap seperti ini. Tak ada yang memperlakukan Hinata se-istimewa Sasuke. Dan Hinata sadar bahwa ia harus benar-benar membuka hatinya untuk pria Uchiha terakhir ini dan menutup masa lalunya.

GREP!

Sasuke terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Hinata, " Terimakasih." Ucap Hinata.

Namun, Sasuke melepaskan pelukannya dan menyembunyikan Hinata dibelakangnya. Gadis itu terkejut dengan sikap Sasuke.

" Sasuke-kun. Ada ap- "

" Keluar kalian?! "

Hinata menegang, ia baru menyadari ada seseorang disekitar mereka. Dari balik pohon itu muncul seseorang yang membuat Hinata membeku, namun tidak dengan Sasuke. Pria itu hanya menatap tak suka.

TBC


HOLAA! CEK OMBAK DULU GAES~ MASIH RAME GAA~~ Yuhuu, Author Come Back!

Ga juga comeback sih hehe. Sebenarnya Author udah lama ga nulis lagi, cuman masih suka baca-baca reviwe dari kalian semua dan buat Author terharu banget :' *lebayy~

Sebenarnya Author udah lupa Ide cerita ini hahahaha, tapi ternyata pas dicek filenya udah ada 2 chapter yang udah jadi. Chapter ini sama chapter depan. Ga tau ini masih mau dilanjutin apa engga, authornya bingung hiks.

Tapi makasih banget yang selalu support dan nungguin, Ilysm.

Btw, Author rencananya mau nyoba nulis di Wattpad. udah ada beberapa cerita yang Author buat. Kalau kalian berminat boleh dong mampir di Wattpad Author hehe

Ini username Author : Nanayra_

Jan lupa mampir gaes, segitu dulu yaa. Thank u yang udah baca. Arigatou!