Chapter sebelumnya :

Sasuke menatap tak percaya perubahan gadis dihadapannya. Tunggu! Apa yang terjadi? Ia melihat segel di leher Hinata bersinar terang menandakan segel itu telah aktif. Tapi kenapa perubahannya berbeda dari miliknya dan pemilik segel kutukan lain?

" Kurasa kita harus segera mengakhirinya, Sasuke-kun." Ucap Hinata sambil menatap Deidara tajam, entah mengapa rasa malu yang ia miliki meluap begitu saja tergantikan dengan kekuatan besar yang ia miliki.

Walaupun Sasuke masih merasa aneh tapi dia menyetujui ucapan gadisnya. Mereka harus cepat menghabisi Deidara dan Tobi.

Hinata sedikit menyeringai menatap Deidara yang juga menatapnya tajam, " Permainan akan segera dimulai."

::

Happines

::

DUARR!

Sebuah ledakan besar terjadi, membuat seluruh orang yang melihatnya terkejut. Ledakan sebesar itu terjadi di hutan tempat Sasuke, Hinata dan Deidara bertarung.

" Deidara, meledakan dirinya sendiri." Ucap Zetsu putih yang melihat ledakan tersebut.

" Dimana Tobi?" Tanya Zetsu Hitam

" Mungkin tewas, dia berada dalam jangkauan ledakan milik Deidara." Balas Zetsu Putih.

" Saatnya melaporkan pada markas." Zetsu mulai menghilang dari bawah tanah.

Di Markas Akatsuki terlihat beberapa anggota berkumpul dengan bayangan milik mereka, yang asli hanya Sasuke dan Kisame.

" Deidara tewas karena meledakkan dirinya sendiri." Ucap Zetsu

" Sayang sekali, kita harus kembali kehilangan anggota lagi. Jadi, siapa pelakunya? Sasuke kah atau Jinchiriki Kyuubi?" Tanya Kisame

" Seorang gadis Hyuuga."

Ucapan Zetsu membuat anggota Akatsuki terkejut, Hyuuga?

" Tunggu? Bukannya Deidara pergi menemui salah satu diantara Sasuke atau Jinchuriki itu? " Tanya Kisame tak mengerti.

" Gadis Hyuuga itu bersama Sasuke. Aku rasa dia merupakan anggota dari Tim Sasuke juga."

Itachi yang mendengarnya sedikit gelisah. Hyuuga? Siapa? Apa mungkin Hinata? Tapi, bagaimana bisa?

" Apa Hyuuga sekuat itu?" Kini Pain yang berbicara.

" Aku melihat perubahan yang tidak biasa pada tubuhnya. Aku rasa dia termasuk dalam percobaan Orochimaru."

Tanpa sadar Itachi mengepalkan tangan miliknya.

" Walau begitu, aku rasa mereka berdua sudah tewas." Jelas Zetsu

Kisame menyeringai, " Dia mati hanya untuk membunuh Sasuke? "

" Kau harusnya bersyukur Itachi, Deidara mati dengan membantumu menghilangkan masalahmu." Ucap Pain, namun Itachi hanya diam tak menanggapinya.

" Hm, kurasa kita melupakan sesuatu? "

" Sepertinya Tobi juga sudah mati, Deidara meledakan diri tanpa memandang sekelilingnya. Itu membuktikan bahwa gadis Hyuuga itu berbahaya." Jelas Zetsu.

" Tidak masalah, dia bisa dengan mudah berpindah tempat. Sayangnya kita harus kehilangan Deidara. Kalau begitu aku harus pergi, aku akan meratapi kematian Deidara dalam keheningan." Ucap Pain kemudian menghilang.

Begitu juga dengan anggota lain, menyisakan Itachi dan Kisame yang terselimuti keheningan.

Disatu sisi tepatnya ditepi sungai Suigetsu tengah dilanda panik. Melihat ledakan dari arah tempat Sasuke membuatnya sedikit khawatir tentang pemuda Uchiha tersebut dan juga gadis yang bersamanya.

" Jika simbol ular menghilang, aku harus melakukan ini!" Ucapnya kemudian merentangkan sebuah gulungan ditanah.

Ia mengambil sebuah botol dan membuka penutupnya, " Sial! Aku bahkan tidak punya sampel darah Hinata, tapi kurasa Sasuke pasti bisa melindunginya." Ia meletakan tetesan darah Sasuke di gulungan tersebut kemudian meletakan tangannya.

" Kuchiyose no Jutsu!"

POFFTT

Ular raksasa berwarna ungu itu telihat tak berdaya dengan luka ledakan yang menjulur diseluruh tubuhnya.

" Ja-jadi ini jurus pemanggilnya Orochimaru? Ma-manda kah?" Ucapnya sedikit takut melihat wujud Kuchiyose milik Orochimaru.

SRINGG!

" Sekarang aku mengerti, Sasuke mengendalikan Manda menggunakan Genjutsu." Gumam Suigetsu melihat mata Manda yang berubah dari Sharingan kembali menjadi mata ular biasa.

Dari mulut ular tersebut terlihat Sasuke yang membopong Hinata dengan langkah tertatih-tatih.

" He-hey!" Ucap Suigetsu sigap menangkap tubuh Hinata yang tak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah sama seperti Sasuke.

" Apa yang terjadi pada kalian? Kalian bertarung dengan siapa sebenarnya? " Ucap Suigetsu sedikit panik melihat penampilan Sasuke dan Hinata yang kacau.

" Dimana Karin?" Tanya pemuda Uchiha itu dengan nafas yang terputus-putus.

" Aku belum melihatnya, tapi kurasa dia sebentar lagi sampai kemari. Bertahanlah!" Ucap Suigetsu

Sasuke tak mendengarkan ucapan Suigetsu, tangannya bergerak membelai wajah Hinata yang sedang tidak sadarkan diri. Tubuh gadis itu sudah mencapai batasnya, ia bahkan sudah pingsan sebelum Deidara meledakan dirinya.

"Bertahanlah Hinata." Gumam Sasuke. Mendengar ucapan pria dihadapannya membuat Suigetsu semakin yakin bahwa Hinata adalah orang penting untuk Sasuke. Ia bahkan tidak memperdulikan keadaannya sendiri yang jauh dari kata baik-baik saja.

" Kurang ajar! Aku membenci mata itu. Kau mengendalikanku dengan mata terkutuk itu! Kau selamanya akan menjadi orang yang tidak akan memiliki hati! Kau tidak akan pernah bisa bahagia." Ucap Manda kemudian ia tewas karena telah menyelamatkan Sasuke dan Hinata.

Sasuke yang mendengar ucapan Manda tiba-tiba merasa gelisah. Entah kenapa ucapan ular itu terasa seperti sebuah kutukan bagi Sasuke. Apa benar ia tidak akan bisa bahagia? Bahkan balas dendamnya belum terlaksana. Apa dirinya harus berhenti sekarang dan hidup bahagia bersama Hinata?

" Wah, kau kejam sekali. Padahal Manda adalah ular kesukaan milik Orochimaru."

" Tidak ada pilihan lain. Hinata sudah mencapai batas kemampuannya dan kami tidak akan bisa menghindari ledakan besar itu." Jelas Sasuke.

" Tunggu? Apa segel dileher Hinata telah aktif?"

Sasuke mengangguk dan memegang tengkuk Hinata, " Tapi ada yang aneh dengan segelnya."

" Kenapa?"

" Segel milik Hinata berbeda dari milik Orochimaru biasanya, aku bahkan tidak tahu apa yang direncanakan Orochimaru."

" Maksudmu?" Ucap Suigetsu tak mengerti

" Ketemu! Sudah kuduga kalian disini!" Teriak Karin yang belari kearah mereka bersama Juugo.

Juugo terkejut menatap Hinata terbaring tak sadarkan diri, " Apa yang terjadi padanya?"

" Karin, obati Hinata sekarang juga!" Perintah Sasuke

Karin terkejut dan menatapnya tajam, " Apa maksudmu! Kau yang seharusnya aku obati terlebih dahulu!" Ujarnya tak suka kala Sasuke lebih mementingkan Hinata.

" Aku tidak masalah. Bagiku yang terpenting saat ini adalah keselamatan Hinata." Jelas Sasuke datar

" Cih, bagaimana bisa kau disebut sebagai pembunuh Orochimaru. Bahkan kurasa gadis ini hanya menjadi penghambat-"

" Jaga mulutmu, Karin! " Desis Sasuke dan menatap tajam Karin dengan Sharingan yang aktif membuat gadis berambut merah itu ketakutan.

" Dari awal Orochimaru sudah lemah, yang kami lawan saat ini adalah Akatsuki. Tak ku sangka dia lebih kuat dari yang kubayangkan tapi Hinata dapat menyeimbangi kekuatan bertarungnya. Dia bahkan bisa memojokan pria peledak itu dengan mudah." Jelas Sasuke

Karin segera memberikan pertolongan pertama pada Hinata karena tidak mau mendengar pujian yang akan Sasuke layangkan untuk gadis itu.

'Menyebalkan' Batin Karin.

" Disekitar sini ada sebuah desa kecil, lebih baik kau dan Hinata beristirahat disana sebelum memikirkan rencana perjalanan kita." Jelas Juugo dan dibalas anggukan oleh Sasuke.

Naruto, Neji dan Kakashi telah sampai ditempat yang menjadi ledakan Deidara.

" Apa yang terjadi!" Tanya Naruto pada Shikamaru, Sakura, Kiba, dan Shino yang telah sampai terlebih dahulu.

" Ada tanda-tanda bahwa Sasuke-kun baru saja disini, selain itu sepertinya benar dugaan kita bahwa Sasuke-kun bersama Hinata." Jelas Sakura dengan nada sedikit sedih. Entah apa yang ia rasakan, padahal seharusnya dia sudah bisa melupakan pria Uchiha itu tapi mengetahui fakta bahwa Sasuke dan Hinata bersama membuat Sakura sedikit terganggu.

" Ini sangat samar-samar tapi aku yakin ini adalah bau Hinata dan Sasuke." Jelas Kiba yakin. Ya, Naruto juga percaya apa yang Kiba katakan bagaimanapun juga Kiba bisa mengenal bau Hinata dengan tepat.

" Dari keadaan disini bisa disimpulkan bahwa mereka melakukan sebuah pertarungan besar."

" Tu-tunggu? Maksudmu Sasuke dan Hinata berkelahi?" Ucap Naruto terkejut mendengar perkataan Shikamaru.

Kiba menggeleng, " Tidak, aku mencium bau orang lain. Kurasa Sasuke dan Hinata melawan seseorang yang kuat."

Perasaan cemas tiba-tiba masuk kedalam diri Naruto, bagaimana keadaan Hinata sekarang? Apa dia baik-baik saja?

" Maaf menyela kalian, tapi menurut penciumanku sepertinya ada orang lain juga yang berpergian dengan Sasuke dan Hinata. Baunya sama seperti di desa yang kita telusuri." Jelas salah satu anjing Kakashi pada Sakura.

Sakura tertegun, ia teringat saat menelusuri Desa mereka bisa mencium bau Sasuke. Namun tiba-tiba bau itu sudah menghilang begitu saja.

" Sepertinya setelah mengalahkan Orochimaru dia membentuk sebuah tim. Satu dari kelima baunya adalah milik Deidara dari Akatsuki."

" Akatsuki?" Ulang Neji

" Ya, Akatsuki selalu bergerak dengan dua orang jadi sisanya adalah tiga dan berari Sasuke memiliki tim empat orang. Termasuk Hinata"

Alis Neji bertaut tak suka, " Kenapa dia mengincar Sasuke?"

" Entahlah. Ada dua kemungkinan. Akatsuki yang mengejar Sasuke atau Sasuke yang mengejar Akatsuki untuk mendapatkan informasi Itachi."

" Tapi, kenapa dia juga membawa Hinata?" Tanya Shino tak mengerti.

Kakashi dapat melihat Neji yang gelisah. Sebenarnya ia ingin Sasuke menanyakan hubungan Klan Uchiha dan Hyuuga yang dimaksud oleh Kabuto, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

" Ayo bergerak! Kita harus menemukan Hinata dan Sasuke!" Teriak Naruto.

" Sayang sekali baunya berhenti disini." Ujar salah satu anjing milik Kakashi.

" Apa!"

Shikamaru terlihat berpikir, " Dalam kasus seperti ini terdapat dua kemungkinan. Sasuke ikut hancur atau dia menggunakan jurus transportasi untuk melarikan diri dari ledakan."

" Aku rasa Uchiha tidak sebodoh itu untuk membiarkan dirinya mati." Ucap Neji.

Kiba telah berhasil melakukan pelacakan dengan jurusnya, " Benar! Aku telah menemukan Hinata!" Ucapnya senang dan dibalas oleh antusias lainnya.

" Kalau begitu, Ayo!" Teriak Naruto kemudian mereka segera bergerak dengan Kiba sebagai pemimpin jalan.

PENGINAPAN –

Juugo sedang melilitkan perban ke badan Sasuke, sementara pria itu masih setia memandangi Hinata yang masih tertidur.

" Lama-lama matamu bisa keluar dari tempatnya jika terus memandangi Hinata." Gerutu Suigetsu yang merasa jengah melihat kelakuan Sasuke. Oh, ayolah! Gadis itu sedang pingsan dan tidak mungkin melarikan diri.

Mendapat omelan dari Suigetsu membuat Sasuke berganti menatap tajam binatang air itu.

" Huh! Kau sangat sombong berbicara tentang keinginanmu membunuh Itachi! Lihatlah, kau tidak akan mampu bergerak sampai kondisimu kembali." Ejek Karin.

Suigetsu menyeringai, " Belakangan ini kita sudah sering bergerak, jadi ini kesempatan kita untuk istirahat."

" Sudah selesai, istirahatlah." Ucap Juugo pada Sasuke, mereka berdua tidak terganggu dengan pertengkaran antara Karin dan Suigetsu.

" Karin."

Panggilan Sasuke membuat Karin terdiam, tiba-tiba ia menjadi gugup.

" A-ada apa?"

" Apa kau tahu mengenai Orochimaru yang menanam segel pada Hinata?"

Karin terkejut, " Tunggu? Kau mencurigaiku? Aku bahkan tidak tahu segel apa yang kau maksud!" Pekik Karin tidak terima.

" Hinata memiliki segel juga?" Ulang Juugo.

" Hn. Itu juga yang menjadi alasan aku membunuh Orochimaru." Jelas Sasuke.

' Oh, pantas saja' Batin Suigetsu.

" Sejak pertarungan melawan Akatsuki itu, segel miliknya aktif. Namun tidak seperti segel yang biasa Orochimaru buat." Jelas Sasuke

" Maksudmu?" Tanya Juugo

" Saat segel milik kita aktif, biasanya saat di level 1 tanda itu menyebar ke kulit kita. Tapi, tidak dengan milik Hinata."

Suigetsu menatap penuh minat, " Apa yang terjadi padanya?"

" Dia mengeluarkan chakra ungu dari seluruh tubuhnya dan rambutnya menjadi lebih panjang. Hanya itu yang berbeda, selebihnya kekuatannya meningkat drasis sama seperti kita." Jelas Sasuke

Karin terlihat berpikir sebentar, " Apa kau tahu apa yang dikatakan Orochimaru sebelum menanamkan segel pada Hinata?"

" Hamura." Gumam Sasuke, ia mengingat dengan jelas ucapan Orochimaru waktu itu.

" Hamura? Apa itu? Apa sejenis makanan?" Tanya Suigetsu.

" Sayangnya aku juga tidak tahu." Tambah Juugo.

Sasuke menghela nafas, " Sudahlah, tidak masalah. Asal segel itu tidak menyakitinya itu bukan hal yang besar."

" Huh! Kau sangat perhatian pada gadis itu." Ejek Suigetsu

" Kalian berdua, apa sudah mendapat info mengenai Itachi?" Tanya Sasuke

" Nihil."

" Tidak ada informasi khusus mengenai Itachi."

Pria Uchiha itu menghela nafas mendengar ucapan Karin dan Suigetsu. Apa sebegitu sulitnya mendapatkan informasi pria itu? Seharusnya ia bisa dnegan mudah mendapatkannya dari anggota yang ia temui tapi sayangnya pria itu memilih meledakan dirinya.

" Menurut informasi beberapa hewan ini, mereka merasakan chakra yang sangat kuat dan tidak menyenangkan mengelilingi setiap daerah." Jelas Juugo.

" Hn. Baiklah. Karin, Juugo pergilah ke pasar untuk membeli beberapa bekal dan baju untuk Hinata." Perintah Sasuke.

" APA! TIDAK MA-"

" Baiklah. Ayo karin." Ucap Juugo kemudian menarik tangan Karin yang meronta-ronta tidak ingin ikut.

Setelah mendengar suara pintu Shoji ditutup Sasuke melirik sekilas Suigetsu, " Aku akan istirahat sebentar, bangunkan aku jika Hinata sudah sadar."

" Sasuke. Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Perkataan Suigetsu membuat Ssuke yang hendak berbaring mengurungkan niatnya.

" Apa itu?"

" Tidak masalah, kau bisa mendengarkannya sambil berbaring. Bagaimanapun juga kau harus beristirahat."

Sasuke mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan Suigetsu.

" Jadi ada apa?"

" Sebenarnya aku tidak berhak ikut campur atas kehidupan pribadimu tapi-"

Suigetsu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, " Em, apa kau yakin ingin membawa Hinata?"

" Memangnya kenapa?"

" Yah, kau tahukan. Bahwa tim ini dibentuk untuk kau membalaskan dendammu pada Itachi. Setelah itu apa yang akan kau lakukan?"

Sasuke terdiam mendengar ucapan Suigetsu. Benar, apa yang akan dia lakukan setelah membalas dendam pada sang kakak? Apa dia bisa hidup tenang setelah membunuh keluarganya sendiri?

" Kenapa kau tidak mecoba mengakhiri balas dendam mu dan hidup bahagia bersama Hinata?" usul Suigetsu.

" Bagaimana dengan kalian?"

" Woah, sejak kapan seorang Uchiha peduli pada orang lain? Yah, pengecualian untuk nona Hyuuga itu sih." Ejek Suigetsu dan hanya mendapat dengusan dari Sasuke.

" Entahlah." Ucap Sasuke.

" Ah, ada satu hal lagi. Sebenarnya aku pernah mendengar sesuatu tentang Hamura dari Orochimaru."

Mendengar hal itu membuat Sasuke terkejut dan segera bangkit dari tidurnya membuat luka miliknya terasa nyeri, " Aw" Ringis Sasuke

" Wow, Santai bung! Reaksimu terlalu berlebihan." Tegur Suigetsu melihat reaksi Sasuke yang sangat cepat mendengar tentang Hinata.

" Katakan!"

" Aku tidak mendengarnya secara langsung tapi aku tidak sengaja mendengar dia berbicara dengan Kabuto."

Suigetsu memasang tampang mengingat, " Hm, kalau tidak salah Hamura merupakan anak dari Kaguya. Aku bahkan tidak tau siapa itu Kaguya." Jelas pria itu kesal.

" Kaguya? Selain itu?"

" Orochimaru pernah membicarakan tentang Hyuuga dan Uchiha. Entah hanya firasatku atau dia memang sengaja ingin menjebak Hinata untuk bisa mengendalikanmu."

Tangan Sasuke mengepal. Orochimaru sialan! Dia sengaja memancing Hinata karena mengetahui perjodohan antara Hyuuga dan Uchiha, tidak aneh Orochimaru bisa mendapatkan informasi rahasia tersebut. Ular itu sangat licik.

Ia memandang wajah Hinata yang terlelap disebelahnya dan mengelus wajah gadisnya. Seketika ia merasa bersalah, jika saja Orochimaru tidak mengetahui perjodohan itu ia yakin Hinata pasti akan selamat.

Ini semua salahnya, jika dari awal Sasuke mampu melupakan Hinata Orochimaru pasti tidak akan membawa Hinata dan menanamkan segel terkutuk itu. Hinata pasti akan bahagia.

Sasuke memegang kepalanya yang terasa nyeri, " Suigetsu kau boleh keluar, kurasa aku perlu istirahat." Ucap Sasuke.

Pria berambut biru itu mengangguk dan meninggalkan Sasuke.

" Kau harus memutuskan pilihanmu, Sasuke. Kau tidak bisa membiarkan Hinata mengikuti kita dengan arah dan tujuan yang tak pasti." Suigetsu menutup pintu Shoji meninggalkan Sasuke yang memandang langit-langit kamarnya kosong.

Apa Sasuke akhiri saja balas dendam ini? Toh, ia sudah bahagia bukan? Bersama Hinata ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Mereka bisa memulai kehidupan yang baru, bukan?

- tbc -