~Saimin Kuoh Gakuen~
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Genre : Adult, Harem, Drama, Romance,
Rated : M++ , 18+
Warning : AU, OOC, Miss-typo(s), dont like? dont read then
Pairing : Naruto x …
.
.
.
.
.
Aku mendapatkan hipnotis.
Ini dimulai ketika gudang milik kakekku yang sudah meninggal terbakar tahun lalu.
Karena tidak ada yang bisa merawatnya, mungkin karena iklim musim dingin yang kering amat berbahaya, gudangnya yang tiba-tiba terbakar sudah terbakar habis. Sampah dan alat pertanian sudah berubah menjadi abu.
Karena aku tidak tinggal disana, aku tidak terlibat dalam kekacauan ini. Namun, untuk memeriksa sisa-sisa kebakaran, aku pergi bersama dengan keluargaku untuk mengunjungi tempat kejadiannya.
Saat itulah aku secara tidak sengaja melihat sesuatu yang bersinar di reruntuhan yang hangus.
Kenapa ini berkilauan atau bagaimana bisa benda ini tidak berubah menjadi abu dalam kebakaran ini, aku tidak tahu itu. Bahkan polisi dan petugas pemadam kebakaran harusnya sudah menginvestigasi area ini dengan seksama.
Tetapi, hanya akulah yang melihatnya secara kebetulan-dan mengambilnya. Menyembunyikan hal ini dari orang tuaku, aku membawanya ke rumah dengan cara menaruhnya di bagasi secara diam-diam.
Dan identitas dari apa yang kutemukan ini-adalah buku yang menjelaskan metode dari hipnotis. Meskipun awalnya aku tidak yakin, setelah berhasil mempengaruhi orang tuaku, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kesenanganku.
Selama aku memiliki ini, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Terutama kepada 'Wanita'.
Aku menghabiskan setengah tahun mempelajari seluruh isi dari bukunya, dan sekarang waktunya untuk berlatih sudah tiba.
Akademi Swasta Kuoh Gakuen; meskipun ini terdaftar sebagai sekolah yang menyiapkan muridnya masuk ke perguruan tinggi khususnya untuk perempuan, kemampuan akademisnya berada di atas tingkat menengah. Ini adalah sekolah yang seperti itu.
Aku, yang masih kelas 2 SMA, sedang berjalan di lorong sekolah, pergi menuju ke tujuanku.
Meskipun aku mendapatkan hipnotis, aku, yang tidak punya kekasih, apalagi kenalan perempuan, aku mulai memikirkan sesuatu.
Bagaimana caranya aku menghipnotis seorang wanita?
Hipnotis yang aku miliki tidaklah sempurna. Sekali dilakukan, ini memungkinkan untuk memenuhi mimpi apapun. Namun, lama-lama ini akan menuju ke titik yang semakin sulit.
Setidaknya, butuh beberapa waktu untuk menanamkan sugesti hipnotis.
Selanjutnya, ada syarat yang mengharuskanku untuk berduaan dengan target. Jika ada gangguan di sekitar kami, sugestinya tidak bisa didengar olehnya.
Membuat situasi dimana aku bisa berduaan dengan wanita, dan tanpa gangguan apapun. Ini adalah hambatan pertama.
"Ah, syukurlah aku menemukannya."
Entah mengapa aku bisa melihat kalau masalah ini bisa kuatasi.
"Perawatan mental."
Saat ini, aku berada di lantai satu di bangunan baru Akademi Kuoh, tepat di sebelah ruang teknik. Di lorong yang biasanya tidak dilalui kecuali sedang dibersihkan, disanalah tempatnya.
Ruangan yang digunakan untuk konseling murid. Ruang konseling.
Ini adalah tempat bagi murid yang mengalami masalah dalam memilih karir atau hubungan sosial. Siapapun bisa datang kesini dan mendapatkan bimbingan.
Jika disini, maka tidak akan ada yang mengganggu dan ini bisa dijadikan alasan untuk berduaan. Selama aku menghipnotis konselornya, maka ini adalah ruangan yang sempurna.
Selanjutnya, mungkin yang membuat ini semakin sulit untuk ditemukan murid, jalan yang menuju kesini hampir tidak diperhatikan oleh murid, dan juga struktur bangunannya membuat sulit bagi orang luar untuk memsukinya.
Ini benar-benar ideal.
"Aku akan mengetuk pintunya."
Aku sebelumnya sudah memesan tempatnya. Nampaknya disana ada kotak suara di depan ruang, jadi murid cukup mengisi nama mereka dan menunggu gilirannya.
*thud thud*-aku mengetuk pintunya dengan pelan. Meskipun aku sudah merencanakan dengan matang, tapi aku masih gugup.
"Masuklah."
Jawaban datang dari balik pintu ini. Sepertinya konselornya adalah perempuan.
"Halo."
Saat ini, aku memutar gagang pintunya dan masuk.
Jika aku harus mendeskripsikan bagian dalam dari ruangan ini dengan satu kata, maka aku akan mengatakan "rapi".
Di ruang yang nampaknya tidak ada debu ini ada sofa yang kelihatannya nyaman, yang pernah kulihat di Ruangan Kepala Sekolah. Meja yang elegan ada disampingnya, membuat suasana seperti ruang tamu.
Dengan adanya rak buku dan ornament di sekeliling ruangan, interior dari ruangannya terasa luas.
Ini adalah tempat latihanku dimana aku akan menjalankan rencanaku…itulah niat awalku.
"Makasih sudah datang."
Konselor yang berada di tengah ruangan membuka mulutnya. Aku mendengar suara yang jelas, mengingatkanku kepada bel yang berbunyi.
Tanpa berpikir, kekuatan berkumpul di pundaku karena aku sudah terlalu senang.
"Halo."
*grin*–memiringkan kepalanya dengan memberikan senyuman, nona konseling ini benar-benar cantik.
Dari penampilannya saja, tidak diragukan lagi dia nampaknya adalah seorang mahasiswi. Meskipun dia terlihat dewasa, aura mudanya masih belum menghilang. Sementara pakaiannya cukup rapi, malahan aku bisa melihat pahanya yang menggoda dari bawah roknya.
Rambut Silvernya panjang dan lurus, dan juga halus seolah-olah itu akan menyentuhku di kereta yang ramai.
"…? Apa ada yang salah?"
"Ah, tidak, aku tidak mengira kalau aku akan mendaptkan konseling dari seorang wanita."
Aku tahu bahwa seseorang yang ahli dalam konseling direkrut oleh sekolah ini, tapi aku tidak memikirkan siapa orang ini.
Ini adalah kebiasaan burukku. Aku masih payah dalam beberapa hal. Aku harus segera mengatasinya.
"Begitu ya? Seperti yang kuduga, aku tidak terlalu dikenal oleh murid-murid."
"Tidak, bukan seperti itu."
"Aku akan memperkenalkan diri dulu. Namaku Rossweisse."
Setelah Rossweisse menunjukkan eskpresinya yang kecewa, dia sekali lagi membungkuk kepadaku. Menundukkan kepalanya secara halus, pemandangan dari rambutnya yang jatuh ke pipinya amat seksi.
Setelah aku juga memperkenalkan diriku, aku lalu duduk.
"Meskipun ini adalah Ruangan Konseling, isi dari konselingnya tidak perlu terlalu serius. Aku tidak masalah bila kamu datang dengan masalah yang sepele, jadi santai saja."
"O-ok."
Saat aku duduk, aku melihat ke Rossweisse yang duduk di seberangku. Mungkin karena aku dekat dengannya, kecemasanku mulai muncul dengan liar.
"Aku akan menyiapkan tehnya. Kamu mau minum apa?"
"Aku mau minum yang ringan saja. Aku akan minum apapun"
"Fufuu. Kalau gitu, aku buat teh hitam ya."
Saat Rossweisse berdiri, aku melihat punggungnya selagi dia berjalan ke tempat dimana cangkir teh disimpan.
Dengan tetap duduk, aku fokus ke bagian bawah dari sesosok yang pergi itu.
Kedua kakinya ditutupi oleh celana ketat hitam yang ramping dan melengkung karena menahan pantat kecil diatasnya. Saat dia membungkukkan badannya untuk mengambil cangkir teh dari laci, aku bisa melihat garis pinggangnya di atas roknya.
"Ok, ini dia."
Karena Rossweisse mulai mengarahkan badannya kepadaku, aku menegakkan punggungku karena panik.
"Ini minumanmu."
"Ini bulat kan?"
Mungkin karena aku sedang gugup, aku tidak bisa menjawabnya dengan baik. Cangkirnya kecil dan bulat ya.
Sementara masih terlihat tenang, Rossweisse mulai meminum tehnya.
"…"
Dia sedang menunggu. Mungkin menungguku bicara dan memecahkan keheningan ini.
Meskipun ini adalah konseling, sepertinya konselingnya tidak langsung terjadi. Ya, memang ini bukanlah sesuatu yang bisa kau bicarakan saat sedang panik.
Aku melihat ke sekeliling sebelum pandanganku mengarah ke jam tanganku.
"Um, berapa lama waktu konsultasinya?"
"Karena tidak ada yang bilang akan kesini lagi hari ini, waktunya tidak ditentukan."
"Ya, bagaimana jika seseorang datang di tengah-tengah…"
"Jangan khawatir. Jika kamu mau, apa perlu pintunya aku kunci? Ruangan ini sudah kedap suara kok, jadi tidak akan ada yang bisa mendengar percakapan kita."
Rossweisse dengan lembut menjelaskannya kepadaku. Ini terasa seperti aku sudah merasa baikan karena berbincang dengannya. Tetapi, sepertinya kebanyakan murid tidak tahu kalau konselornya amat menakjubkan.
Mungkinkah ada alasan dibalik itu?
"Um, kalau gitu, ini tak apa kan?"
Sementara aku masih waspada, ini juga bagian dari permainannya.
Aku mencoba menekan rasa gemetar di mulutku saat aku mulai berakting.
Rossweisse mungkin berpikir kalau aku sedang cemas. Bahkan jika dia ragu, dia tidak akan menanyakannya. Pintunya terkunci dengan *clink* dan suaranya menggema di ruangan.
"Um, sebelum konsultasinya dimulai, bolehkah aku melakkan tes mental kepada Rossweisse -san?"
"Tes mental…kah?"
"Maaf. Karena aku tidak tahu orang seperti apa Rossweisse -san, aku agak khawatir apakah aku bisa mempercayaimu untuk melakukan konsultasi."
Pendekatan ini lumayan bagus.
Menggunakan dalih akan menguji konselor, hipnotisnya bisa dimulai.
Andaikan ini gagal, maka konselornya tidak tahu kalau aku akan menghipnotisnya, aku bisa pergi dengan alasan yang ingin aku coba.
"Iya, tak masalah. Ujilah aku semaumu."
Membuat pose yang imut itu, Rossweisse menerimanya.
Aku bisa memanfaatkan kesempatan baik ini. Bukannya merasal bersalah, perasaanku malah bergembira.
"Kalau gitu… lihatlah kesini."
Dari tasku, aku mengeluarkan sebuah pulpen. Tanpa keraguan apapun, Rossweisse melihat ke pulpen itu.
"Seperti ini?"
"Tidak, lihatlah sedikit ke ujungnya. Ya benar, lihatlah di ujungnya. Lihatlah dengan seksama selama mungkin."
"Di dekat ujungnya… ada sesuatu yang tertulis kan?"
"Iya, tolong lihat itu dengan seksama."
Ujung pulpen ini adalah kristalisasi dari darah, keringat, dan air mataku. Ujung dari pulpennya adalah sebuah gambar yang aku buat sendiri.
Aku membuat gambar yang berupa salinan dari buku kakek yang digunakan untuk hipnotis.
Rossweisse mencoba memahami gambarnya.
Namun, meskipun gambarnya jelas, ini tidak mungkin untuk mengetahui gambar apa itu. Ini tidak hanya menguras konsentrasinya, tapi juga bisa melelahkan matanya.
"Entah mengapa…..bentuknya aneh ya."
"Tolong lihat dengan seksama lagi. Gambar apa yang ada disana?"
Meskipun dia lelah, pandangan Rossweisse tidak berpaling dari gambarnya. Untuk mengetahui gambar apa itu, dia sekarang menjadi putus asa.
Dia melakukannya dengan serius. Syukurlah. Lagipula, ini berhasil.
Sampai titik dimana dia tidak bisa menyadarinya, aku membalikkan pulpennya di arah yang dia tidak akan bisa melihatnya dengan baik.
Dengan begitu, setelah dia meningkatkan konsentrasinya lagi, ini sudah waktunya untuk masuk ke tahap selanjutnya.
Aku menggoyangkan pulpennya ke samping.
"…"
"…"
Aku tidak mengatakan apapun. Dengan tingkah yang sama, Rossweisse benar-benar mengikuti gerakan dari pulpennya. Jadi agar tidak mengeluarkan suara sebisa mungkin, aku diam-diam menggerakkan tanganku.
Dengan perlahan, kesadaranku hanya berkonstrasi kepada mata Rossweisse .
Keadaan di Ruang Konseling yang sunyi membuat hipnotisku berjalan lancar. Karena hal ini, waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari perkiraanku.
Setelah memasuki tahap sugesti, ini memungkinkan untuk membatasi kelima indera dari seseorang. Sementara, dalam hal ini, itu adalah mata, sekali masuk, itu bisa membatasi indera lainnya. Dengan melakukan ini, ini mudah untuk membuat kondisi dimana informasi dimasukkkan hanya dengan satu sumber saja.
"….."
Secara bertahap, aku meningkatkan osilasi dari pulpenya. Dengan mengatakan itu, aku membatasi jaraknya sampai hanya bisa dilihat dalam jangkauan penglihatanya. Gerakan yang besar masih bukanlah hal yang bagus.
Aku terus melihat ke mata Rossweisse. Aku memeriksa apakah ada tanda darinya untuk berkedip.
Pada awalnya, dia berkedip seperti biasa. Memang sih manusia itu berkedip. Namun, setelah mengalami induksi ini, dia akan berhenti berkedip bahkan setelah beberapa menit berlalu. Ada fenomena dimana pemain Kendo berkonsentrasi dan tidak berkedip, dan ini adalah hal yang sama. Secara terus menerus, bisa aku pastikan kalau dia tidak melihat apapun selain pulpennya saja.
Aku memastikan bahwa jarum jam di pergelangan tanganku yang satunya sudah berputar secara penuh. Jika aku menunggu terlalu lama, dia mungkin akan lupa berkedip meski sudah 3 menit berlalu.
Sekarang waktunya.
"…lama-lama, kelopak matamu menjadi semakin berat."
Dengan sengaja aku membisikkan suara itu sekecil mungkin. Mengayunkan pulpennya ke bawah, aku menggoyangkannya, menjatuhkan gambar ke target. Rossweisse tidak menjawab. Namun, seolah-olah dia telah tertelan oleh kata-kataku, kelopak matanya semakin berat sebelum menutup.
Sepertinya, dia menuju ke pikirannya yang paling dalam.
"Ok! Sekarang, buka matamu."
"…eh, huh?"
Saat itu juga, aku membangunkan Rossweisse dengan suara yang jelas.
Rossweisse masih tidak tahu apa yang sedang terjadi barusan. Namun, secara bertahap, dia akhirnya bisa mengembalikan ketenangannya.
"Um, itu tadi tes mental kan?"
"Iya, sudah selesai. Aku sudah mendapatkan hasilnya. Aku yakin bahwa Houjou-san bisa dipercaya."
"Baklah. Kalau begitu…"
Rossweisse secara energik membuat senyuman yang bahagia sambil menempelkan kedua tangannya.
"….."
Mengincar momen ini, aku sekali lagi meletakkan pulpen di depannya.
Kembali ke kesadarannya, dan dari sana, dijatuhkan lagi. Ini adalah hal yang biasa disaat manusia merasa lega, maka mereka ada di titik paling rentannya.
Dengan melakukan itu, ini memmungkinan bagi kesadarannya untuk jauh lebih dalam dengan mudah daripada sebelumnya.
Tanpa mengatakan apapun kali ini, kelopak matanya menurun dan matanya tertutup.
"…..tolong buka matamu. Tolong berkediplah."
"…"
Kali ini, agar tidak membangunkannya, aku memberikannya instruksi dengan suara yang lirih.
Menerima kata-kata yang masuk dari telinganya, Rossweisse membuka matanya. Ini hal yang sama seperti menoleh ke kanan setelah diberitahu untuk menoleh ke kanan.
"…"
Pupil mata Rossweisse yang terbuka sedang melihat ke sekitar, seolah-olah tidak melihat apapun, sambil melihat ke ruangan yang kosong.
Berhasil!
Aku dengan rahasia melakukant Gut-Pose. Saat sudah sampai ke tahap ini, sebagian besarnya, ini berhasil.
Saat ini, dia berada di tempat paling dalam di hatinya.
"Sekarang, kamu berada di kondisi yang paling nyaman dan nikmat. Lepas dari semua rasa sakit, tidak ada penderitaan. Ini sangat bahagia, yang membuatmu ingin berada di kondisi ini selamanya."
"…"
"Dan juga, dengan mengikuti arahanku, kamu akan bisa tetap berada di kondisi ini. lagipula, ini karena kedatangankulah kamu bisa berada di kondisi ini…"
Rossweisse tidak menjawab. Aku sedikit khawatir mengenai apakah dia ini mendengarkan sugestiku atau tidak, tapi mungkin ini adalah sesuatu yang tidak bisa kulakukan.
Maka dari itu, ayo buat ini mudah dimengerti. Jika instruksi ini dituruti, maka dia haursnya patuh terhadap perintahku.
"Mulai sekarang, saat aku berbicara kepadamu, maka jawablah. Apa kamu paham?"
"…iya."
Aku mendapatkan jawaban! Mantap!
Jadi untuk memastikan agar tidak gagal, mari lanjutkan secara pelan-pelan. Ketidaksabaran adalah suatu hal yang dilarang di penaklukan pertama.
"Kondisimu saat ini, apakah sangat nyaman?"
"…iya."
"Kamu akan ingin selalu berada di kondisi ini."
"Iya."
"Kalau begitu…. Mulai sekarang, meski dalam waktu normal, saat aku memberimu instruksi 'Ayo main bersama', kamu akan berada di kondisi ini. Ini hanya akan terjadi ketika kata-kata ini diucapkan oleh mulutku, dan bukan orang lain. Saat aku tidak ada di sekitar, kamu tidak bisa berada di kondisi ini."
"…iya."
"Dan juga, kamu tidak akan bisa mengingat hal apapun yang terjadi dalam kondisi ini. namun, semua yang kamu ceritakan disini tertidur di dalam hatimu. Jika kamu melakukannya, kondisi ini akan menjadi lebih nyaman dan bahagia."
"…iya."
Ok, ini berjalan lancar sejauh ini.
Selanjutnya adalah sentuhan terkahir. Aku mendekati tubuh Rossweisse.
"…"
"…"
Meskipun aku menelan ludah ketika melihat ekspresi polos dari wajah Rossweisse, aku tidak boleh merusaknya. Aku masih tidak yakin.
Ini adalah konseling. Ini mustahil untuk membuang kemungkinan yang bisa saja salah.
Secara perlahan aku menjulurkan tanganku-
"…"
*squish*-aku mencubit pipinya.
Untuk melihat apakah dia akan bangun dari hipnotis karena rasa sakit ini, untuk melihat apakah dia sedang bersandiwara atau tidak. Hipnotis ini tidak mudah untuk dipatahkan dengan rasa sakit. Itulah yang terjadi dengan orang tuaku.
Lagipula, meskipun semua ini adalah sandiwara, aku masih bisa lolos karena ingin mencobanya.
"…"
Aku tidak bisa memecahkannya.
Meskipun pipi Rossweisse sudah aku cubit dengan kuat sampai berubah menjadi merah, tidak ada responnya.
"Ini…berhasil."
Keberhasilan pertamaku. Kegembiraanku langsung meroket dengan perkataanku.
Selanjutnya, dengan keberhasilan pertamaku, ada kesalahan hitung yang menyenangkan.
Ruangan Konseling yang awalnya ingin aku gunakan sebagai tempat persembunyianku, dan juga konselor yang akan aku gunakan sebagai pelayan ternyata dia cantik juga.
Bersama dengan kesuksesanku, aku juga mendapatkan panen pertamaku. Aku mendapatkan tempat untuk keinginanku.
Aku yakin. Ini adalah awal dari kehidupan-mimpiku.
Kepada hipnotis yang memberiku jalan ke kehidupan terbaikku, aku ucapkan terima kasih.
