Semua berawal dari ibunya, Kim Heechul yang mengatakan dengan suara paraunya bahwa perusahaan yang dirintis ibunya serta mendiang ayahnya bangkrut. Sebagai sosok yang selalu dimanjakan oleh gelimangan harta tentu membuat Baekhyun menggila.
Bagaimana perlahan kawan-kawan glamornya hilang dari sisinya. Bagaimana ia melihat dunia dari bawah. Juga, bagaimana kekasihnya-lebih tepat mantan kekasihnya, Lee Joongi memilih mengikuti teman-teman palsunya pergi dari kehidupannya.
Baekhyun terpuruk, menyadari orang-orang disekitarnya hanya memanfaatkannya saja. Terpuruk, bagaimana hal yang ia inginkan dalam sekejap kali ini tidak dapat dikabulkan dengan segera. Baekhyun menghabiskan satu hari untuk meraung-raung di atas ranjangnya. Melempar bantal juga selimut tebalnya dari sana. Dengan rambut berantakannya ia menuruni tangga rumahnya cepat lalu menghampiri ibunya yang terduduk lemas diruang keluarga. Baekhyun menghempaskan tubuhnya lalu memeluk lengan ibunya.
"Eomma, semuanya hanya senda gurau bukan?" Tanya Baekhyun menatap wajah Heechul penuh harap. Ibunya kerap membuat lelucon, pasti ini adalah salah satu hal dari sekian ribu lelucon milik ibunya bukan?
Heechul mengernyit menatap putrinya. Merasa bersalah menatap binar-binar harapan yang tercipta. Heechul menghela nafas pelan lalu menggeleng.
"Tidak, eomma bersungguh-sungguh."
Dan itu membuat bendungan airmata dipelupuk matanya. Ia memeluk ibunya erat sambil terisak.
"Apa yang harus kita lakukan, eomma~!" Rengeknya disela isak tangisnya. Heechul menghela nafas lelah lalu mengelus kepala putrinya lembut.
"Eomma mianhe, Baekhyun-ah." Ucap Heechul dari lubuk hatinya.
"A-aku akan lakukan apapun untuk membantu eomma membangkitkan perusahaan lagi."
Baekhyun menjauhkan dirinya lalu menatap manik coklat ibunya, memberikan keyakinan pada wanita berusia lima puluh dua tahun itu.
Dapat ia lihat tubuh Heechul tersentak kaget akibat ucapannya. Heechul memandang Baekhyun lembut. Senyuman kecil tersampir diwajah lelahnya.
"Kau yakin?"
Dan anggukan mantap Baekhyunlah yang menjadi balasan atas pertanyaan Heechul.
…
The Way
.
.
© BaekheePark
Present
.
You don't know me, you don't know me
You don't know me, you don't know me
So shut up boy, so shut up boy
Miss A- Bad Girl Good Girl
.
Chapter 1
Sudah satu bulan berlalu semenjak berita mengejutkan dari ibunya yang membuat Baekhyun uring-uringan. Tidak jarang ketika ia berbelanja dan menyerahkan kartu kreditnya sebagai sarana untuk membayar belanjaannya namun didetik kemudian pramuniaga meminta maaf dan mengembalikan kartunya karena tidak dapat digunakan.
Baekhyun bersungguh-sungguh akan melakukan apapun asalkan dahaga akan bergelimangan harta itu terpenuhi. Ia sudah lulus magister seni musik, suaranya cukup bagus, visualnya tidak terlalu buruk, apa sebaiknya ia bekerja di dunia hiburan? Sebagai produser musik mungkin?
Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak terlalu menyukai pemikiran sebelumnya. Menjadi produser musik tidak semudah itu. Belum lagi dengan saingan diluar sana yang memiliki nilai yang lebih tinggi juga bagus darinya juga faktor umurnya.
Kalau begitu, bagaimana dengan menjadi seorang penyanyi? Tinggal mengikuti audisi, trainee dan jadilah ia sosok yang bergelimang harta. Baekhyun bertepuk tangan dengan wajah sumringahnya.
Baiklah. Ia telah memantapkan hatinya, ia akan menjadi seorang penyanyi. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia yakin bahwa pihak agensi tidak akan berfikir dua kali untuk merekrutnya menjadi salah satu anak asuh mereka.
Baekhyun membuka layar ponselnya mencari informasi tentang audisi dari agensi besar di Korea. Senyumnya mengembang lagi kala melihat bahwa saat ini tengah dibuka pendaftaran untuk mengikuti audisi.
"Well, kebetulan yang sangat tepat."
Baekhyun mengisi seluruh persyaratan yang tertera di formulir pendaftaran, mengeceknya sekali lagi lalu menekan tombol mengirimkan datanya kepada pihak agensi. Ia menaruh ponselnya dinakas lalu membaringkan tubuh mungilnya dengan senyuman yang tidak bisa lepas dari wajahnya.
Baekhyun menarik selimutnya lalu mengerlungkan diri dibalik balutan hangat selimut tebalnya. Ia memejamkan mata masih dengan mood yang baik dan senyuman diwajahnya. Ia mengarungi alam mimpi dengan harapan cerah untuk dirinya juga ibu tercinta.
…
Dua hari berlalu dalam bimbang, akhirnya Baekhyun menerima pesan elektronik dari pihak agensi yang berisikan alamat yang akan ia tuju untuk menampilkan kepandaiannya di hadapan juri atau mungkin petinggi yang bertanggung jawab untuk perekrutan artis baru.
Baekhyun telah siap dengan skinny jeans yang dipadu chiffon blouse jingganya. Ia melirik jam tangannya, mengatakan bahwa sekaranglah ia harus pergi, menjemput masa depannya. Jadi ia mengambil tas kecilnya kemudian ia sampirkan dibahu.
Ia sedikit bersenandung kala menuruni anak tangga, terus berjalan lurus melewati ruang keluarga menuju pintu utama. Heechul menoleh kala irisnya melihat sosok putrinya yang berjalan tanpa memperdulikan sekitar.
"Baekhyun." Tegur Heechul yang membuat langkah kecilnya terhenti. Ia menoleh dan mendapati ibunya berjalan kearahnya. Baekhyun tak bisa menahan senyumannya, membuat kening Heechul kembali mengernyit.
"Kau mau kemana? Ini masih pagi."
"Aku akan mengikuti audisi, eomma!" Pekik Baekhyun kelewat riang.
Heechul menukik tajam alisnya masih menginginkan jawaban lain dari putrinya.
"Aku akan menjadi penyanyi dan kita tidak akan merasakan hidup yang sulit eomma."
Heechul menghela nafas pelan, ia melihat kedalam kedua bola mata Baekhyun yang jernih dan dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari sana. Kepalanya menggeleng tak setuju dengan keinginan putrinya. Tidak akan ia biarkan putrinya jatuh kedalam gemerlap dunia hiburan itu.
"Tidak ada audisi, Baekhyun. Kembali ke kamarmu." Tutup Heechul lalu berbalik, berjalan menuju ruang keluarga. Dari belakangnya ia dapat mendengar Baekhyun yang merengek tak setuju dengan keputusan yang diambil ibunya.
"Tapi eomma dengan suaraku dan keahlianku dalam seni musik, aku pasti akan lolos dan menjadi penyanyi yang hebat." Protes Baekhyun yang sudah ikut menempatkan dirinya duduk disisi Heechul.
"Aku rasa aku telah memberi jawaban untuk hal ini, Byun Baekhyun."
Baekhyun mengerang sebal, ia menjatuhkan dirinya terlentang di ruang kosong sofa.
"Nanti malam, ikut eomma."
"Kemana?" Jawab Baekhyun malas.
"Kau bilang akan membantu eomma untuk membangkitkan perusahaan."
…
Saat Heechul berkata untuk ikut dengannya yang berurusan dengan perusahaan bukan ini yang ada difikirannya.
Kini ia dan Heechul tengah berada disalah satu restoran keluarga yang hangat. Dihadapannya ada dua orang pasangan suami istri yang bersenda gurau dengan ibunya. Sesekali Baekhyun hanya tertawa kecil apa bila pembicaraannya membawa perihal tentang dirinya. Pembicaraan yang hangat itu terputus kala suara berat yang diikuti sosok menjulang tinggi datang mengintrupsi pembicaraan mereka.
"Maaf aku terlambat."
Ia sedikit membungkuk untuk mengecup pipi kedua pasangan didepannya. Yang dapat langsung Baekhyun tangkap pria tiang ini adalah anak dari pasangan itu. Setelahnya ia duduk diantara pasangan suami istri itu, menempatkan dirinya ditengah-tengah yang langsung bertemu tatap dengan Baekhyun.
"Ini putraku, Chanyeol. Chanyeol, ia adalah teman dekat eomma dan appa, Kim Heechul. Ia dengan mendiang paman Byun yang memiliki perusahaan Lunar Corp." Ucap Zitao sambil tersenyum lembut pada putranya.
"Ah, ya aku ingat, Paman Byun orang yang sangat baik dan ramah. Halo bibi, saya Park Chanyeol." Sapa Chanyeol sopan dengan senyuman tampannya. Heechul memberikan senyuman indahnya sebagai balasan. Dan dalam satu detik disanapun sosok Heechul telah memberikan nilai baik untuk Chanyeol.
"Kau sudah pernah bertemu Hankyung?"
"Ya, saat aku mengikuti appa bermain golf juga beberapa rapat."
Heechul mengangguk, semakin tenggelam dalam pesona yang dipancarkan dari pria muda yang berhadapan dengan putrinya.
"Dan disebelah Heechul adalah putrinya, Byun Baekhyun." Lagi, Zitao mengenalkan sosok mungil yang tampak bingung dengan keadaan saat ini.
"Kalian seumuran." Timpal Kris.
"Park Chanyeol." Ujar Chanyeol mengulurkan tangannya. Baekhyun dengan ragu menyambut uluran tangan Chanyeol, membuat tangan mungilnya tenggelam dalam tangan besar milik Chanyeol.
"Byun Baekhyun." Balas Baekhyun dengan senyum canggungnya. Masing-masing dari mereka menarik tangan dari genggaman.
Baekhyun menghisap pipi dalamnya menahan senyuman yang akan mengembang kapan saja karena takjub akan sosok tampan disebrang sana. Kini Baekhyun tahu dari mana tubuh tinggi menjulang juga wajah tampannya. Kris dan Zitao memiliki tubuh yang sama-sama menjulang, Zitao manis dan Kris luar biasa tampan. Perpaduan sempurna untuk menghasilkan Chanyeol diantara kehidupan mereka.
Makanan tersaji dihadapan mereka, dengan masing-masing sajian yang berbeda. Setelah pelayan menyajikan seluruhnya mereka undur diri. Kris sebagai pria yang paling tua disana memimpin keberlangsungan acara makan malam yang Baekhyun masih belum mengerti bagian mana ia akan membantu perusahaan ibunya?
Apa seperti ini caranya orang-orang berbicara tentang bisnis dan perusahaan?
Setelah waktu berlalu selama tiga puluh menit Kris meminum air mineralnya lalu berdeham, membersihkan kerongkongannya. Kini seluruh atensi berubah menuju Kris.
"Ada hal yang ingin kami sampaikan."
Heechul memandang Kris dengan senyuman sedangkan Baekhyun sedang menerka-nerka sama seperti Chanyeol, Zitao mengelus punggung tangan Chanyeol memberikan ketenangan yang Chanyeol sendiri tidak tahu untuk apa ibunya menenangkan dirinya.
"Kami tahu kalian pasti cukup bingung. Sebenarnya kami telah lama membicarakan ini dan segalanya telah matang sejak sebulan yang lalu."
"Appa intinya, please?" Sambar Chanyeol. Kris terkekeh, tau bahwa ia telah mengulur-ngulur waktu. Tapi ia memang harus menjelaskannya terlebih dahulu bukan?
"Baiklah, Byun Baekhyun, aku Park Kris, ayah dari Park Chanyeol, melamarmu untuk anakku."
Baik Baekhyun ataupun Chanyeol membelalakan matanya. Baekhyun menoleh pada ibunya yang menampilkan senyum lebarnya. Baekhyun menukikkan alisnya tajam, menuntut penjelasan pada ibunya. Namun Heechul tetap mempertahankan senyum sumringahnya.
"A-apa?" Jawab Chanyeol dengan nafas tercekat. Jiwanya entah hilang kemana akibat ucapan yang lancar keluar dari mulut ayahnya.
"Dan aku rasa, perkenalan juga pendekatan dapat kalian lakukan setelah menikah."
"Tu-tunggu-"
"Semuanya telah matang dibulan lalu seperti yang telah aku ucapkan. Dua minggu lagi pernikahan kalian, dan aku rasa seminggu adalah waktu yang cukup untuk Baekhyun memfitting gaun dan tentu tuxedo untukmu, juga perawata-"
"-appa!" Potong Chanyeol. Membuat Kris memberhentikan penjelasannya. Sedangkan Tao tidak henti-hentinya memberikan ketenangan pada putranya.
Kris membentuk wajah bingung kala Chanyeol juga menampakan wajah bingung yang kosong.
"Siapa yang akan menikah?" Tanya Chanyeol pelan.
"Kau dengan Baekhyun." Jawab Kris, bukankah ia sudah mengatakannya juga sebelumnya? Mengapa anaknya yang cerdas ini seketika bodoh.
"Dan apakah appa pernah menanyakan pendapatku? Apakah aku setuju atau tidak?"
Kris menghela nafas pelan.
"Chanyeol, kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak peduli dengan urusan asmaramu. Kau berusia dua puluh tujuh tahun dan kau fikir aku juga ibumu akan diam saja? Lagi pula sejak kau lahir dan Baekhyun lahir kami sudah merencanakan dan mewanti-wantinya nak. Apa saat bayi kau bisa setuju atau membantah perkataan kami?"
"Maka dari itu mengapa kau menanyakan hal ini padaku saat bayi appa? Apa ini sebuah lelucon?"
"Apa wajahku saat ini sedang menunjukan aku bergurau, Park Chanyeol?" Tanya Kris dengan wajah tenangnya namun tatapan kelamnya dapat membuat Chanyeol merasakan sesuatu menusuk tulang-tulangnya.
Chanyeol hanya membuang nafas diudara. Pandangannya ia bawa pada sosok mungil di depannya yang tertunduk.
"Eomma dan appa ingin ada yang mengurus dan memperhatikanmu sayang dan kami tidak ingin salah langkah untuk sosok yang mendampingimu kelak." Ujar Zitao lembut serta menenangkan. Chanyeol menoleh pada ibunya, tatapannya bertemu dengan mata sipit Zitao yang memancarkan ketenangan dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
Chanyeol kembali memandang perempuan mungil dihadapannya yang betah menunduk, mengapa ia tidak menyerukan pendapatnya? Ia juga mengharapkan pernikahan ini terjadi? Jadi dia sudah mengetahui perihal pernikahan ini lebih dulu darinya? Chanyeol memandangnya kesal setengah mati, tentu saja wanita manja sepertinya tidak akan membuang kesempatan ini begitu saja. Ia pasti sama seperti kebanyakan wanita kaya diluar sana, tidak mau bekerja keras, menggilai lelaki tampan juga membuang-buang harta. Chanyeol memusatkan emosinya pada buku-buku jarinya yang mengepal bewarna putih.
…
"Eomma! Jadi itu yang kau maksud untuk membantu perusahaan kita bangkit? Apa kau serius? Ini sama saja kau menjualku pada keluarga Park! Ya Tuhan, eomma!" Pekik Baekhyun tidak terima dengan semua keputusan sepihak yang diambil ibunya juga orangtua Chanyeol.
"Baekhyun! Jaga ucapanmu! Dengarkan aku-"
"Tidak, eomma yang harus mendengarkan aku! Aku tidak mau dijodohkan dengan anak dari keluarga Park atau siapapun itu! Setampan apapun dia, semapan apapun dia aku tidak akan melakukannya. Bahkan jika didunia ini pria yang tersisa hanya Park Chanyeol aku tidak mau! Lebih baik aku meminta Tuhan untuk mencabut nyawaku dari pada menikah dengannya!"
"Baekhyun! Kau berlebihan! Chanyeol adalah pria yang pantas untukmu. Kau hanya perlu waktu untuk menyadari itu. Aku, ayahmu juga Kris dan Tao telah bersahabat lama. Dan aku jelas tahu bahwa mereka tidak akan sembarangan dalam mendidik putranya!"
"Itu keinginan kalian, harapan kalian. Dan apa eomma tahu? Bahwa tidak semua harapan itu harus tercapai. Begitupun dengan perjodohan ini, tidak akan pernah terjadi!"
"Baekhyun, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin pria yang dapat melakukanmu dengan sopan dan santun, dengan lembut juga menghargaimu. Ia pria cerdas dengan lulusan termuda dan terbaik di universitasnya dulu, ia menjabat sebagai deputy direktur utama di usia muda karena kecerdasannya!"
"Aku tidak peduli, Ya Tuhan!"
"Tidak ada bantahan Byun Baekhyun." Lanjut Heechul.
"Tidak. Sampai kapanpun itu aku tidak akan mau dijodohkan dengannya atau pria manapun!"
"Jangan membantah! Ini yang terbaik Baekhyun, kumohon sekali ini saja turuti permintaanku!" Bentak Heechul dengan suara yang semakin meninggi.
"Kau selalu egois! Tidak heran appa memilih mati dari pada hidup denganmu!" Maki Baekhyun dengan nafas menderu, dadanya naik turun akibat emosi yang meluap-luap.
Heechul menatap Baekhyun tak percaya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih. Otaknya telah dikabuti selimut bernama emosi dan amarah yang membuatnya gelap mata hingga semua itu terjadi begitu saja.
Plakk
Rasa panas juga bekas tangan menghiasi pipi mulus Baekhyun, ia menitikan airmatanya. Tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan ibunya.
"Ya benar! Aku egois! Dan ayahmu lebih memilih mati dari pada menghabiskan sisa hidupnya bersamaku! Dulu aku juga rela mati untuk membuatmu dapat melihat dunia!" Bentak Heechul dengan airmata yang menumpuk dipelupuk matanya lalu berlalu meninggalkan Baekhyun yang terdiam.
…
Heechul mendudukan dirinya ditepian tempat tidurnya. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Buliran airmatanya berlomba-lomba jatuh dari pelupuk matanya. Ia tidak pernah mendidik Baekhyun untuk mengucapkan hal-hal sembarangan dan tidak pantas. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani semua ini sendiri tanpa adanya sosok yang selalu ia rindukan di tiap detiknya.
Mungkin ini memang salahnya, selalu memaksakan kehendaknya pada putrinya. Namun putrinya selalu setuju tanpa keberatan. Ia dan mendiang suaminya juga terlalu memanjakan kehendak putrinya sejak ia dilahirkan ke dunia. Karena menurut mereka berdua itu adalah cara menyalurkan kasih sayangnya.
"Hankyung-ah.. apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya lirih menatap foto pernikahannya yang terpampang besar di tembok kamarnya.
…
Baekhyun menangis sejadi-jadinya dibalik selimut tebalnya, ia tidak ingin dijodohkan. Ia tidak ingin menikah hanya karena perusahaannya yang diambang kebangkrutan, ia juga membenci dirinya yang hilang akal ketika emosi mengambil alih kesadarannya. Ia tidak bermaksud berkata seperti itu, Ya Tuhan! Apa lagi membawa-bawa mendiang ayahnya yang tenang didalam surga.
Baekhyun hanya gadis manja yang ingin semuanya berjalan sesuai keinginannya. Pernikahan atas nama cinta adalah salah satunya. Ia tidak ingin mengalah dan berkorban untuk hal ini. Ia hanya ingin menikah atas nama cinta dan kasih sayang yang abadi.
…
Chanyeol melonggarkan dasi yang ia pakai lalu melemparkan jas mahalnya keatas kasur. Apa lagi ini? Sudah cukup lelah dengan tetek bengek bisnis dan kini ayah tampan juga ibu manisnya bersekongkol untuk menjodohkannya pada gadis mungil yang baru saja ia temui sepanjang dua puluh tujuh tahun ia hidup?
Chanyeol mengacak rambutnya kemudian memandang keluar jendela kaca raksasa dari dalam kamar apartemennya, bukankah semuanya sudah cukup? Menjadi anak terpintar, lulusan termuda dan terbaik, mengambil jurusan yang ia tidak minati sama sekali, menjadi deputy direktur utama termuda, mengabdikan diri sebagai anak yang baik. Apa semua itu belum cukup?
Chanyeol seakan-akan tidak pernah memiliki kehidupan pribadinya. Semua sudah diatur oleh orangtuanya bukan Tuhan! Tidak ada kelonggaran dalam hidupnya yang membosankan dan monoton. Sekarang ia harus menyeret gadis mungil Byun itu untuk ikut menjalani kehidupan membosankannya, hebat sekali.
Chanyeol tidak pernah berdoa untuk menikahi anak manja demi mewarnai kehidupan membosankannya, tidak pernah!
.
.
.
Tbc
Sebenernya ini cerita udah lama aku buatnya, ragu mau upload ga ya dari tahun lalu hahaha. Jadi yaudahlah, aku upload aja berharap kalian suka!^^ sampai ketemu lagi ( kalau pada mau dilanjut ya). Maafin juga kalau ada typo yang kelewat dari pengeditan! Luv u~
