Status mereka hanya sebatas seorang wali murid dengan murid.Tanpa di ketahui semua orang Renjun hamil. Status tidak menjadi landasan atas perbuatan, menimbulkan rasa kekecewaan yang sangat mendalam. Datang banyak pangeran tapi tidak tahu karena terikat sebuah hubungan yang tak pasti.
--/--
Chapter 1: kecelakaan
Renjun tengah mengerjakan pelajaran Matematika, di ruang keluarga. Di dampingi dengan guru les privatnya,seorang mahasiswa pindahan dari kanada. Jangan remehkan mahasiswa,siapa tahu ia mahir dalam segala bidang seperti Mark.
Mark adalah orang keturunan korea-kanada. Ia lahir dan besar di kanada,lalu meneruskan setengah kuliahnya di negara asal ayahnya-korea. Ia sangat berkecukupan dalam keuangan,tapi ia enggan menbebani orang tuanya. Jadi,ia mencari tambahan untuk makan sehari-harinya dengan cara menjadi guru privat.
Mengajar tidak begitu sulit,asalkan anak yang di ajarnya penurut seperti Renjun. Mark yang memang dasarnya mudah di ajak komunikasi,membuat ia dengan Renjun begitu dekat. Bahkan sangking dekatnya mereka sudah hampir tiap hari menghabiskan waktu bersama.
Apalagi orang tua Renjun yang selalu sibuk di luar negri,membuat Renjun sangat senang dengan keberadaan Mark.Bagi Renjun,Mark sudah di anggap sebagai kakaknya sendiri. Dan untungnya kedua orang tuanya menjadi kan Mark sebagai walinya selama di korea.
"hyung,yang ini bagaimana?" Renjun menatap Mark dengan penuh tanya,membuat Mark tertawa kecil.
"ini,dikalikan dulu. Lalu di kurangi. Agar akarnya terbuka maka harus di pangkatkan 2. Coba,jangan pakai cara cepat dulu. Pakai cara dasar saja." ucap Mark dengan lembut.
"cara dasar lama. Mau cepat saja" Renjun mengambil alih minuman yang di genggam Mark lalu meminumnya. Sebotol jus jambu di minum Renjun sampai 3 teguk.
"semua harus dari dasar" Mark merebut minumannya dari Renjun,lalu sedikit menyentik dahi Renjun membuat Renjun sengaja mengaduh.
"baiklah." Renjun menurut lalu larut dalam pertanyaan matematika itu kembali. Sembari menunggu Renjun selesai,Mark bermain game di ponselnya.
Entah dari mana Mark merasa keseluruhan tubuhnya panas. Di bukanya minuman jus jambu kembali,menghabiskan semuanya berharap rasa panas di tubuhnya hilang.
Memang hilang,sehingga Mark melanjutkan kembali bermain game. Tidak di sangka Mark justru merasa lebih panas diseluruh tubuhnya. Gelisah,Mark mulai gelisah. Ia hanya minum jus jambu bukan?
Mark menelisik semua kegiatannya dari pagi sampai sekarang. Ah,ia makan siang dengan teman organisasi musiknya. Dan Johnny membelikan sebotol jus jambu karena Mark tidak mau minum soju sebelum ke rumah Renjun.
Dengan kaget Mark mengambil botol bekas jus jambunya,dan terdapat sisa obat berwarna biru yang sudah melebur. Peluh membasahi kening Mark,ia benar-benar kepanasan dan area sensitifnya mulai tidak karuan.
"Renjun,kau merasakan sesuatu?" tanya Mark pada Renjun.
"huh? Aku merasa bingung hyung. Aku sudah mengalikan ini dan membuka akarnya tapi, hasilnya jauh sekali." Renjun menjawab dengan wajah lugunya.
"kau lupa menguranginya," Mark sudah tidak tahan,ia berlari meninggalkan Renjun yang sedang mengangguk dan mulai mengerjakan kembali soalnya. Tujuannya sekarang kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi,Mark menyelesaikan solonya, dan berusaha menetralkan pikirannya juga melawan efek dari obat yang di masukan oleh Johnny.
'shit! Bangsat kau Johnny. Tidak akan pernah ku maafkan!' pikir Mark sambil menggeram tertahan,takut jika Renjun mendengarnya sedang melakukan solo.
Sementara itu,Renjun yang sedang mencoret asal bukunya karena ia sudah muak. Ia.sudah mengalinya,membuka akar dari soal itu juga menguranginya. Tapi tetap sangat jauh hasilnya.
Karena mencoret-coret dengan asal,Renjun memiliki ide.untuk memcoret-coret buku dengan segala warna. Renjun berdiri,ia akan ke kamarnya untuk mengambil pulpen warna-warninya.
Sesampainya di kamar dengan cepat mengobrak-akbrik meja belajarnya. Agak lama karena meja belajarnya ia telaah semua,sampai seperti meja bekas,berantakan. Mengeluh. Renjun mencari lagi,lagi dan lagi.
Mengingat sebuah benda membuat Renjun tiduran di samping kasurnya,tanpa sengaja ia melihat wadah pulpen warna-warni yang dia inginkan. Renjun merangkak ke bawah kolong kasur, 'kenapa jauh sekali?? Aku jadi susah' pikir Renjun.
Mark sudah selesai dengan solonya,sampai 2 kali pelepasan tadi. Membuat tubuhnya melayang kepanasan. Lemas tapi ia masih merasa panas. Mark berpikir,mungkin ia sudah bisa mengendalikan birahinya sekarang dan melawan efek dari obat itu.
Sampai ia melewati kamar Renjun yang terbuka,nampak Renjun yang sedang merangkak di bawah kasur. Penasaran,Mark mendekati Renjun. Dan,sialnya obat berwarna biru itu membuat Mark berpikir liar melihat Renjun yang sedang merangkak.
"Renjun,berdiri." Mark mengucapkan pelan karena miliknya sudah tegang kembali hanya dengan melihat Renjun merangkak.
"hyung? Tunggu aku belum bisa meraihnya" Renjun semakin menaikkan pantatnya karena ia berusaha menjangkau wadah pulpen warna warninya.
"sial! Cepat berdiri!" Mark kalut, wajahnya sudah memerah menahan efek obat sialan itu. Ingin Mark pergi saja lagi ke kamar mandi,sebelum Renjun menggengam tangan panasnya.
"ada apa hyung? Kenapa?" Renjun mendongak menatap Mark yang lebih tinggi.
Mark sudah tidak fokus. Bukan melihat wajah Renjun dan mendengar pertanyaan Renjun,ia lebih terfokus pada kemeja Renjun yang sedikit melorot dan hanya menampakkan tulang selangkanya sedikit. Imajinasinya mulai berjalan,rasa panas di tubuhnya semakin menjadi dan bagian bawahnya semakin tidak terkendali.
Mark yakin,Johnny tidak hanya memasukan 1 obat,mungkin 2 atau 3. Terbukti karena saat ini Mark.menutup pintunya dan menguncinya. Imajinasi Mark sudah meledak,dan ia sudah tidak mampu menahan efeknya. Mark kini hanya mengikuti naluri juga efek dahsyat dari obat itu.
"kenapa di kunci hyung??" Renjun kebingungan saat Mark sudah menatapnya dengan berbeda. Ini bukan Mark yang biasanya.
