..

"Kuroko, kalau aku boleh tahu, umurmu berapa?" Akashi kini berusia dua puluh lima tahun.

Dengan potongan rambut merah rapi dan jas hitam. Garis rahangnya sudah terlihat lebih matang. Pria dewasa yang kini menjadi seorang pengusaha muda berbakat.

Kuroko terdiam sambil memainkan bunga jengger ayam di tangannya. Tak lama kemudian mengembuskan napas lelah.

Perbedaan mereka kini semakin kontras terlihat. Akashi seorang pria dewasa bersama Kuroko yang masih tampak remaja.

Kuroko menoleh untuk mendongak menatap langsung sepasang manik ruby itu. "Enam belas tahun."

Akashi tersenyum. "Sekolah di mana?"

"SMA Seirin."

Akashi diam. Dahinya menyergit, sebelum kemudian mengangguk mengiyakan. Mengalihkan perhatian pada kebun bunga milik Kuroko. Hari ini ia sedang berlibur di rumah neneknya yang tidak jauh dari tempat ini. Entah dorongan dari mana kaki Akashi melangkah kemari. Menemukan kebun bunga beraneka ragam dan juga Kuroko Tetsuya.

"Ayahku memerkenalkan seorang wanita padaku. Dan lusa nanti aku akan menikah," ucap Akashi tiba-tiba.

Mendengar itu membuat Kuroko mematung. Entah kenapa ada perasaan tidak rela membayangkan Akashi akan menjalani hidup baru bersama orang lain.

"Oh, kalau begitu selamat." Kuroko membalas dengan lesu.

Diliriknya bocah bersurai biru itu dengan alis bertaut. Akashi mendengus setelahnya. "Kau seperti tidak ikhlas mengucapkannya."

Kuroko hanya tersenyum miris. Ia mengakui kalau dirinya selama ini sudah memiliki rasa pada Akashi. Dan sepertinya diusia Akashi yang sekarang membuat pria itu lebih peka. Akashi pasti langsung tahu.

Namun, itu berlaku hanya untuk hari ini. Tahun depan jika Akashi mampir ke kebunnya lagi, pasti juga akan lupa. Jadi Kuroko merasa tidak perlu menutup-nutupi perasaannya.

"Itu benar. Sejujurnya aku tidak rela mendengar Akashi-kun akan menikahi orang lain." Kuroko berkata dengan lirih.

Akashi sempat tertegun. Ini memang pertama kalinya Akashi bertemu Kuroko, tapi Akashi merasa mereka sudah saling mengenal. Ia ingat saat barusan memasuki kebun ini, Kuroko seperti sudah menunggu. Seolah tahu kalau ia akan datang.

"Hei, Kuroko. Apakah sebelumnya kita sudah pernah bertemu?" Akashi merasa mungkin saja ada memori yang hilang dari kepalanya. Ia mencoba mengingat, tapi tidak ada satu pun memori yang menunjukkan sosok Kuroko di masa lalu.

Mungkin ini saat yang tepat untuk Kuroko berkata jujur. Mengenai pertemuan mereka sebelumnya dan …

"Kalau aku bilang iya? Apa Akashi-kun akan percaya?"

Akashi tertarik. Ia menghadap sepenuhnya pada bocah remaja itu. "Jadi itu benar? Bisa kau ceritakan? Mungkin saja aku bisa mengingat. Karena, jujur saja, aku merasa kita seperti sudah saling kenal."

Bunga jengger ayam di tangannya masih dimainkan. Kuroko mengukir senyum. "Sabenarnya setiap Akashi-kun berlibur ke daerah sini, kau selalu datang kemari."

Akashi ingin percaya, tapi ia tidak ingat apapun. Akashi memang sering berkunjung ke rumah neneknya setiap ada waktu luang atau kalau ia sedang libur. Dan Akashi merasa ini adalah pertemuan pertama mereka meski ia merasa tidak asing dengan Kuroko.

"Aku tidak ingat apapun."

Kuroko menatap matanya. "Tentu saja. Kau selalu lupa ditiap pertemuan kita. Setelah ini pun, kau pasti lupa pernah bertemu denganku lagi."

Perkataan Kuroko terdengar tidak masuk akal. Namun kedua mata biru itu berkata jujur. Akashi jadi tidak tahu antara mau percaya atau menganggap kalau Kuroko hanya mengarang cerita saja.

Pandangan Kuroko meredup. Senyumnya kembali terukir. Sebuah senyuman tipis yang tidak mencapai mata. "Tapi tidak apa. Asalkan bisa bertemu dengan Akashi-kun lagi, kurasa itu sudah cukup untukku. Tahun depan, Akashi-kun akan ke sini lagi kan?"

Akashi ingin sekali berkata ya, hanya saja seminggu yang lalu neneknya meninggal. Akashi tak punya alasan untuk berlibur ke tempat ini lagi. Terlebih setelah menikahi wanita pilihan ayahnya, Akashi akan pindah ke luar negeri bersama calon istrinya dan akan menetap di sana.

Melihat senyuman Kuroko membuat Akashi tak tega untuk mengatakan semua itu. Apalagi jika apa yang diucapkan Kuroko benar adanya, mungkin bocah itu akan merasa sangat sedih.

Tapi jika Akashi tak berkata jujur, Kuroko pasti akan lebih sedih karena terus menunggunya dengan sia-sia. Jadi sebisa mungkin Akashi harus memberitahunya. "Kuroko."

"Iya?"

Kuroko mendongak lagi. Tatapan mata birunya yang bulat, begitu terlihat polos dan ekspresi datar menggemaskan itu, semua yang ingin Akashi katakan seolah hilang begitu saja. Ia benar-benar tidak tega. Dan sejujurnya Akashi juga mulai menaruh rasa pada bocah biru itu.

Alih-alih mengucapkan kata perpisahan, yang ada Akashi malah berkata, "Maukah kau ikut denganku ke kota?"

"Eh?" Kuroko tidak menyangka Akashi akan berkata begitu.

"Kalau ucapanmu benar mengenai aku yang selalu lupa padamu, bagaimana jika kita hidup bersama. Mungkin saja aku tidak akan lupa." Akashi mengukir senyum. Ia sabenarnya juga tidak begitu suka dijodohkan oleh ayahnya.

Bertemu dengan bocah biru ini membuat Akashi jadi punya rencana. Kalau Kuroko mau ikut dengannya, mungkin saja hal itu bisa dijadikan alasan untuk menolak perjodohan. Mengatakan pada ayahnya kalau Akashi sudah punya Kuroko.

Hidup bersama Akashi adalah harapan besar baginya. Kuroko juga selalu membayangkan ia bisa bersama dengan Akashi setiap waktu. Namun …

Senyum Kuroko memudar mengingat sesuatu. "Aku tidak bisa."

Dan hal itu membuat senyuman Akashi yang ikut memudar. "Kenapa tidak bisa?"

Kuroko menunduk. "Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini."

Ternyata tidak semudah itu mengajak Kuroko untuk ikut bersamanya. Akashi merasa ini akan sedikit rumit. Dimatanya Kuroko tampak memiliki banyak kenangan di tempat ini sehingga sampai tidak rela untuk meninggalkannya. "Kalau begitu, aku akan pindah ke sini. Membangun rumah di dekat kebunmu."

Melihat Akashi tampak antusias begitu tak bisa menutupi rasa senang dalam diri Kuroko. Ini seperti secara tidak langsung Akashi juga membalas perasaannya. Kuroko bahagia tentu saja.

Tapi Kuroko juga memikirkan masa depan Akashi. Ia tidak bisa membayangkan pendapat orang-orang terdekat Akashi melihat Akashi hidup bersamanya di sini. Kuroko yakin keluarga Akashi pasti akan merasa cemas, karena sabenarnya Kuroko itu …

"Akashi-kun, terima kasih. Aku senang kau berkata begitu."

Kuroko senang, tapi mengingat Akashi pasti akan melupakannya membuat Kuroko tak ingin berharap lebih banyak.

Dan seperti yang Kuroko duga bahwa Akashi cepat atau lambat pasti akan melupakannya lagi.

Untuk pertama kalinya juga, Kuroko mengikuti kepergian Akashi sampai keujung perbatasan kebunnya. Kuroko melihat tepat setelah Akashi keluar dari perbatasan kebun, pria itu celingukan seperti merasa linglung.

"Apa yang barusan aku lakukan di sini ya?" gumam Akashi menatapi jalan setapak di dekatnya. Ia menatap ke kanan dan ke kiri yang hanya di isi oleh banyak pepohonan dan tanaman liar.

"Hei kau pria tampan, apa yang kau lakukan di sana?!" Seorang kakek-kakek berseru tidak jauh darinya berada.

Akashi sendiri seperti lupa apa yang baru saja dia lakukan. Ia merasa bingung.

"Tunggu dulu, kalau aku tidak salah ingat kau itu bocah berambut merah yang dulu suka kelayaban di sekitar sini kan?" kata kakek itu lagi sambil melangkah mendekat dan mengamati Akashi dari atas sampai ke bawah.

Akashi hanya terkekeh canggung. Tidak ingat kalau dia dulu suka kelayaban di sekitar sini.

"Ah, ternyata benar. Aku ingat betul dengan rambut merahmu itu. Ya ampun, sudah berapa kali kakek bilang jangan kelayaban di tempat angker itu. Di sana itu ada hantunya. Lagi pula apa yang kau cari di sana huh?" tegur si kakek kemudian.

"Entahlah, kek, aku juga tidak tahu."

"Lain kali jangan pergi ke sana lagi ya. Aku dengar tempat itu sering disebut dengan forgotten forest, wajar sih kau tidak ingat apapun. Untung kau masih selamat."

Dari belakang mereka, Kuroko hanya tersenyum miris. Sekarang ia tahu mengapa Akashi selalu lupa padanya.

"Makanya jangan baper sama manusia," kata sosok lain dibelakang Kuroko.

Kuroko menoleh mendapati salah satu makhluk sejenisnya yang kini tengah melipat kedua tangannya di dada. "Ogiwara-kun."

.

..

...

End or tbc?

End aja deh ya, dah stuck gw