Onigiri Miya
Haikyuu FurudateHaruichi
Pairing : Sakusa x Osamu? (Yup, Osamu is bottom)
Warn : OOC AF, cerita nggak jelas, dan ... ayo bikin fluffy No Beta, jadiiiiii ...
Summary :
Semua berawal dari Sakusa Kiyoomi memutuskan dapur Osamu cukup bersih untuk dia kunjungi. Sakusa/Osamu
Happy Reading (Semoga)
Semua berawal dari rengekan Atsumu yang menggelegar tentang dirinya yang ditendang keluar dari apartemen adik kembarnya, karena masuk ke dapur tanpa membersihkan diri setelah pulang latihan. Hanya sesederhana itu, tetapi cukup untuk membuat Sakusa Kiyoomi membuka pintu restoran baru yang sepi pengunjung di jam kerja.
Pemilik restoran keluar dari dapur, lantas terkejut sebelum kembali mengulum senyum tipis yang tampaknya masih dia latih untuk menjadi ramah. Sakusa tidak mempermasalahkannya, menjadi ramah tidak selalu mudah untuk sebagian orang. Sakusa tidak mengenal Miya yang lebih muda sebaik dia mengetahui Atsumu, tetapi dia telah mengambil kesan Osamu lebih tertutup daripada kakaknya.
"Aku dengar kau tidak akan pernah makan sesuatu selain masakanmu sendiri."
Sakusa tahu Osamu tidak bermaksud menyerangnya, jadi dia membuka maskernya dan menjawab, "Miya bilang kau menendangnya keluar karena dia masuk ke dapurmu tanda membersihkan diri."
Osamu mengangguk, tetapi tidak begitu menangkap kemana pembicaraan yang Sakusa bawa. "Lalu?"
"Itu cukup membuktikan dapurmu bersih untuk kudatangi," timpal Sakusa. "Lagipula aku bosan dengan masakanku sendiri."
Sakusa bukan pemasak yang handal, tetapi fobia membuatnya tidak berani membeli makanan apa pun. Sehingga dia harus membeli bahan makanannya sendiri, memasaknya dengan kemampuan yang terbatas, dan tubuh yang lelah. Sejak keluar dari rumah, dia bertahan dengan hanya beberapa jenis masakan. Setelah beberapa bulan, dia tidak lagi bisa merasakan makanannya sendiri.
Kebetulan sekali Atsumu mengatakannya. Beberapa hari terakhir dia memikirkannya sembari menatap kare yang mulai terasa hambar di mulutnya. Hari ini, di hari libur latihannya, dia memutuskan untuk mencoba.
Dia membersihkan tempat duduk di depan Osamu dengan tisu beralkohol yang selalu dia bawa, baru kemudian duduk. Osamu tidak memprotes, hanya menatap geli pada apa pun yang membuat pelanggannya lebih nyaman.
"Sayangnya untuk sekarang aku hanya menyediakan onigiri," kata Osamu. "Tapi aku tidak keberatan memasakkanmu sesuatu. Kau ingin apa?"
"Onigiri tidak masalah," balas Sakusa. "Aku kesini untuk membeli apa yang kau tawarkan, bukan memintamu untuk memasakkanku sesuatu."
Osamu tertawa ringan. Awalnya Sakusa tidak merasakan apa pun tentang tawa itu, kecuali perasaan aneh melihat wajah itu memberikan tawa yang tenang. Sakusa terlalu terbiasa melihat Atsumu tertawa. Akan tetapi tawa Atsumu hanya bisa dibagi menjadi dua, histeria, dan tawa mengejek yang tak menyenangkan untuk dilihat. Namun tawa Osamu terlihat ... entahlah cocok untuk dirinya.
"Bokuto selalu kesini dan meminta ini itu saat Akaashi sibuk," katanya ringan. "Dan aku suka memberi makan para penggila voli."
"Kau mengatakan itu seolah kau tidak pernah tergila-gila pada voli." Osamu kehilangan sedikit senyumnya. Sakusa menggigit bibir bagian dalamnya. Seharusnya dia tak pernah membawa topik itu, tetapi Sakusa bukan pemilih topik pembicaraan yang baik. Bukan berarti dia tidak bisa mengalihkan permbicaraan. "Onigiri saja. Yang mana pun. Yang menurutmu produk andalanmu."
Osamu menyapu perasaan tidak enak dari wajahnya dengan senyum. Dia mengambil piring, dan dengan cekatan menyiapkan dua onigiri isi tuna, dan meletakkannya di hadapan Sakusa yang menunggu.
"Katakan padaku jika kau tidak bisa menangani pedas!"
Osamu tidak menunggu jawabannya, dan segera melayani pembeli yang baru masuk. Sakusa menatap dua onigiri di depannya cukup lama untuk meyakinkan diri bahwa dia bisa memakannya. Sebenarnya dia cukup kecewa. Onigiri adalah salah satu makanan yang bisa dia masak, dan seperti yang tadi kukatakan, Sakusa muak dengan masakannya sendiri.
Akan tetapi dia membuang perasaan itu. Dia lah yang memilih untuk memakan apa pun yang Osamu jual, dan apa yang dia harapkan dari restoran yang secara terbuka mengatakan mereka menjual onigiri?
Dia mengambil satu onigiri, dan mulai memakannya. Seketika dia menarik ucapannya. Onigiri buatannya jelas bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang Osamu buat. Setiap gigitan memiliki rasa. Bahkan tiap butir nasi yang dia pikir hanya memiliki satu rasa, hambar, sebelum sedikit manis ketika terlalu lama di kunyah.
Onigiri Osamu berbeda. Sakusa tidak bisa memutuskan perbedaan apa yang benar-benar menonjol, karena satu-satunya onigiri yang dia ingat hanyalah miliknya tak berasa, dan buatan ibunya yang lama tidak dia rasakan. Setelah kelezatan itu, rasa pedas mulai memukul setiap sudut bibirnya, sehingga Sakusa terbatuk-batuk.
"Ups!"
Osamu tersenyum permisi pada pelanggannya, dan masuk ke dapurnya untuk membawa gelas dan seteko kaca air putih. Dia mengisi gelas di depan Sakusa, yang segera Sakusa tenggak sampai setengah.
"Aku sudah memperingatkanmu," katanya geli. "Aku akan kembali."
Osamu telah kembali ke pekerjaannya, setelah meletakkan sisa air di teko.
Pelanggan lain berdatangan, dan satu per satu sementara Sakusa makan dengan lebih hati-hati. Dia tidak masalah dengan pedas, hanya saja dia terlalu larut pada rasa yang dibawa nasi Osamu, hingga melupakan rasa pedas di tuna isiannya. Osamu akhirnya kembali kepadanya setelah melambai pada gadis cilik, yang membawa pergi sekotak onigiri buatannya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Enak," kata Sakusa yang—bahkan untuk dirinya sendiri—secara mengejutkan terasa jujur. "Aku jadi bertanya-tanya apa aku benar-benar pernah membuat Onigiri sebelum ini."
"Kau mau lagi?" Sakusa menggeleng. Osamu memutukan untuk mengambil kursi, dan menemani piring kosong teman satu tim kembarannya. "Kau lebih banyak bicara daripada apa yang 'Tsumu ceritakan padaku."
"Miya selalu membesar-besarkan sesuatu."
"Tipikal 'Tsumu," tukas Osamu menyetujui.
Pembicaraan itu berakhir dengan beberapa kata itu. Osamu bukan pembuka pembicaraan yang baik. Itu tugas Atsumu. Bicara bukan keahlian terbaiknya, tetapi bukan berarti dia kesulitan mengutarakan apa yang dia rasakan. Sakusa di sisi lain, lebih kikuk dari penampilannya. Mungkin karena fobianya, dan mungkin karena memang pada akhirnya mereka tak saling kenal.
Osamu dan Sakusa tidak sering bertemu. Hanya beberapa kali sebagai lawan di masa SMA, dan beberapa kali saat Osamu menonton pertandingan kakak kembarnya. Sakusa tidak menyukai keramaian, ataupun jabat tangan sehingga yang Osamu tahu tentang lelaki di depannya hanya berdasarkan apa yang Atsumu bicarakan. Yang sebenarnya itu tidak adil untuk Sakusa.
Lagipula Sakusa tidak pernah mau ikut perayaan kemanangan teman se timnya, dan semua orang memakluminya. Karena itulah sungguh mengejutkan melihat lelaki itu membuka pintu restorannya. Osamu menimbang-nimbang apakah dia akan memberi tahu kembarannya tentang hal ini, dan memutuskan untuk memihak Sakusa. Bajingan itu pasti akan menggoda Sakusa habis-habisan bila tahu dia kemari.
Sakusa meminum segelas air, dan mengeluarkan dompetnya.
"Berapa?"
"Tidak perlu," tolak Osamu. "Anggap saja ucapan selamat datang."
Sakusa menghela napasnya. "Aku kemari bukan untuk makanan gratis."
Osamu mengangat bahunya. "Aku tidak mengambil uang teman setim 'Tsumu. Ucapan terimakasih karena telah membuatnya jengkel. Tanya saja pada Bokuto."
Sakusa memutar bola matanya. "Kalau begitu, aku akan membawakanmu sake pada kunjungan berikutnya."
Dan Sakusa benar-benar melakukannya seminggu kemudian. Saat itu malam hari, setelah latihan, dan untungnya Osamu belum mengunci pintu restorannya. Sayangnya tidak ada satu pun onigiri yang tersisa. Sakusa membuka jaketnya, dan membersihkan tempat duduk dengan tisu beralkohol.
Ketika Sakusa meletakkan botol sake di atas meja, Osamu terbelalak, "Kau benar-benar tidak bercanda. Oh ... sial, itu sepuluh kali jauh lebih mahal daripada onigiri yang kusiapkan untukmu."
"Minuman enak untuk makanan enak," balas Sakusa.
Osamu terkekeh. "Aku tidak tahu kau bisa berkata seperti ini."
"Berkata-kata ramah bukan keahlianku, tetapi aku sedang mengusahakannya."
"Tidak cocok untukmu," tukas Osamu geli. Dia melepas apronnya—dan Sakusa ingin menendang dirinya sendiri karena meskipun hanya sedikit berpikir gerakan itu seksi—dan menyambar jaket di balik pintu dapur. "Aku kehabisan onigiri. Namun aku senang memasak nasi. Tunggulah sebentar! Aku akan mencari sesuatu untuk makan malam."
Mata Sakusa mengikuti Osamu keluar dari area kerjanya. "Aku kemari untuk masakanmu."
"Aku tahu," tukas Osamu. "Ada sesuatu yang tak bisa kau makan?"
"Sesuatu yang tidak bersih," dengkus Sakusa.
Osamu tertawa. "Aku akan memastikan semuanya sudah benar-benar bersih. Tunggu!"
Osamu menghilang dari restorannya, dan meninggalkan Sakusa sendirian di restorannya. Sakusa mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapa pun. Dia jadi bertanya-tanya apa yang dipikirkan Osamu setiap kali dia bekerja?
Sakusa bukan pecinta keramaian, tetapi restoran ini terasa begitu hening meski dibuka di pinggir jalan raya. Restoran itu terasa tidak terjamah, dan sepi. Bukan kesepian yang mencekik, tetapi Sakusa bertanya-tanya apakah Osamu tidak pernah merasa kesepian?
Meskipun Sakusa tidak akan sudi mengatakan pada rekan setimnya, tetapi dia bisa merasakan warna yang Atsumu bawa. Cukup besar untuk melingkupi kehidupannya. Terutama jika digabungkan dengan Hinata dan Bokuto. Bahkan lebih berdampak daripada Komori. Lantas bagaimana dengan Osamu setelah Atsumu meninggalkannya? Osamu yang berdiam diri di restoran yang saat ini terasa dingin. Mereka telah bersama seumur hidup, dan sekarang kedewasaan harus memisahkan mereka.
Saat pertama kali Sakusa salah bicara, dia sudah memastikan bahwa Osamu sedikit menyesal telah meninggalkan voli. Akan tetapi melihat bagaimana dia tertawa dan melayani pelanggan, Sakusa tidak berani memutuskan apakah Osamu menyesali pilihannya.
Bukan haknya untuk bertanya dan memutuskan juga.
Dia dan Osamu praktis hanyalah dua orang yang mengenal karena Atsumu. Yang membuat Sakusa duduk di sini tidak lebih karena usaha yang digeluti Osamu. Mereka bukan teman—Sakusa terdiam dan menatap sake yang dia bawa—atau begitulah yang dia kira. Lagipula meskipun mereka berteman, Sakusa tetap tidak berhak mempertanyakan keputusan Osamu.
Lagipula dia tidak bohong mengenai Onigiri Osamu luar biasa, dan seminggu terakhir dia tidak bisa mengenyahkan rasa pedas menggigit, dan rasa nikmat onigiri buatnya. Sejujurnya, dia mencoba membuat Onigiri sesuai dengan ingatannya, tetapi tetap saja tidak bisa menyentuh rasa yang membuatnya ingin segera kemari. Yang bisa dia buat hanyalah rasa pedas yang menghilangkan semua rasa dari onigiri dan tunanya. Bagaimana cara Osamu membuat makanan pedas tetapi tetap mempertahankan rasa asli makananya?
Osamu kembali beberapa menit kemudian, dan memutuskan kereta pemikiran Sakusa. Ada sekantung bahan makanan di tangannya.
"Aku membuatmu menunggu lama?" tanyanya. Sakusa menggeleng, dan membuka ponselnya seolah dia sedang bermain-main dengan itu sejak tadi, dan bukannya memperhatikan restoran Osamu, dan kemungkinan bahwa pria itu kesepian. "Kurasa kau harus menunggu lebih lama."
"Tak masalah," katanya. "Aku tidak terburu-buru."
Osamu mengangguk. Dia menghilang secepat kedatangannya ke dapur, dan Sakusa bisa mendengar kesibukan di dalam sana. Setelah menunggu setengah jam, Osamu keluar dari dapur dengan senampan makanan, dan menghilang untuk mengambil nampan lainnya. Dia kembali, dan membawa gelas untuk sake yang Sakusa bawa.
Sakusa tidak bisa untuk tidak takjub pada kare yang beraroma seratus kali lebih sedap daripada setiap kare yang pernah dia buat. Sakusa menatap Osamu kemudian ke kare di depannya. Terlihat berwarna lebih nikmat daripada setiap kare yang dia ingat.
"Apa yang kau lakukan pada karenya?" tanya Sakusa menuntut. Osamu mengangkat sebelah alisnya bingung. "Sebelumnya onigiri, kemudian kare ini, kau membuatku merasa semua hal yang kumakan selama ini terasa salah."
Osamu tertawa, dan anehnya Sakusa mulai merasa senang bila Osamu melakukannya.
"Kau terlalu sering bergaul dengan 'Tsumu."
"Aku—Kenapa?"
"Kau suka membesar-besarkan sesuatu," katanya geli. "Oh ngomong-ngomong, aku pinjam ponselmu."
"Untuk apa?" tanya Sakusa bingung, tetapi dia memberikan ponselnya tanpa diminta dua kali. Lantas mulai memakan karenya yang masih panas. Gila. Sakusa terbelalak. Dia pasti salah memasukkan sesuatu ke kare buatannya selama ini. Osamu benar-benar membuat Sakusa bertanya-tanya apakah selama ini dia membuat kare dengan benar. "Kau sungguh melakukan sesuatu pada masakanmu, huh."
Osamu tertawa geli. "Itu hanya kare, Sakusa," katanya. Tangannya masih cekatan memainkan ponsel Sakusa. Dia melemparkan ponsel Sakusa begitu saja, dan bukan Sakusa namanya jika tidak bisa menangkap lemparan pelan itu. Osamu bersiul. "Reflek voli."
"Jangan bermain-main, Miya!" ketusnya. Osamu benar-benar menunjukkan dia benar-benar berbagi DNA dengan Atsumu. Dia memperhatikan deretan nomor di ponselnya. "Nomormu?"
"Yep," balas Osamu menekan huruf p bersamaan dengan dia memakan suapan pertama. "Hubungi aku sebelum kau kemari. Aku bisa memasakkanmu sesuatu lebih dari hidangan tiga puluh menit siap."
Dia menunjuk kare di depan Sakusa dengan dagunya. Sakusa memutar bola matanya. "Tukang pamer. Benar-benar seorang Miya."
"Hei!" tukas Osamu jengkel. "Aku dan 'Tsumu berbeda."
"Aku tidak bilang kalian sama," jawab Sakusa tidak peduli. Dia memilih topik baru, sementara Osamu meminum sakenya, dan mengeluarkan sikap seolah-olah dia tak pernah minum air selama bertahun-tahun. "Kau tidak mempekerjakan pegawai?"
"Apa?"
"Pegawai," ulang Sakusa. "Kau tampak kewalahan minggu lalu." Dan tempat ini terasa terlalu sepi.
"Oh ..."
Osamu memainkan gelasnya, dan Sakusa benar-benar takjub pada piring Osamu yang sudah tidak tersisa dalam sekejap. Sedangkan milik Sakusa masih setengah. Mungkin Sakusa hanya merasa tidak terlalu lapar, atau dia hanya merasa sayang menghabiskan masakan Osamu tanpa benar-benar merasakannya rasanya? Itu tidak penting. Pada akhirnya Sakusa akan menghabiskannya, lagipula karena makanan inilah dia kemari.
"Jadi?" katanya mencoba untuk tidak begitu peduli.
"Aku masih bisa mengatasinya," kata Osamu. Dia memainkan kursinya, seperti yang dilakukan Atsumu setiap kali mereka beristirahat. "Aku tidak bisa membiarkan orang lain memasuki wilayahku. Katakanlah dapurku. Memasak menyenangkan, dan terkadang orang lain hanya membuatku entahlah ... tetapi mungkin aku akan memperkerjakan seseorang untuk menerima pesanan."
Sakusa mengangguk. Sebenarnya ada hal yang benar-benar ingin dia katakan, dan pertanyaan itu bahkan sudah terpilin di ujung lidahnya. Hanya saja itu terlalu berat, dan Sakusa merasa salah tempat untuk menanyakannya. Sehingga hanya keheningan yang menemani mereka, sementara dia menghabiskan makan malamnya.
Apakah kau tidak kesepian di sini?
Dan kesempatannya berakhir begitu saja saat Atsumu masuk dari pintu depan.
"Samu, kau kemana saja? Aku menunggumu—Omi-Omi?"
"Shit!" decak Sakusa kesal.
"Heee—ada apa ini? Aku tidak tahu kau kemari setelah pulang latihan?"
Ini neraka. Sakusa tidak menyangka Atsumu akan memergokinya dia hari kedua dia kemari. Lagipula dia tidak pernah bermaksud menyembunyikan kedatangannya, tetapi bila boleh memilih, dia berharap Atsumu tidak akan tahu.
"Kupikir kau tidak mau makan sesuatu yang kau tidak yakin itu 'bersih'," katanya menggoda.
Sebelum Sakusa sempat menjawab, Osamu sudah lebih dulu memaki, "Brengsek, 'Tsumu, tutup mulumu di depan pelangganku!"
"Kau bahkan makan kare," kata Atsumu tak menggubris saudara kembarnya. Dia bahkan mengerling pada Osamu. "Kupikir kau hanya menjual onigiri, 'Samu."
Sakusa segera berdiri. "Aku pergi! Terimakasih makanannya."
"Oh ... kau bahkan tidak membayar."
Sakusa tidak lagi mendengar dua saudara kembar itu berdebat, setelah dia meninggalkan restoran. Meskpun besok Atsumu akan menggodanya habis-habisan, Sakusa menemukan dirinya tak pernah menyesal pergi ke restoran Osamu.
Sakusa mencatat untuk memastikan Atsumu tidak akan mengganggu kedatangannya lain kali.
To Be Continued or END?
A/N
Kau tahu ini hanya promt, tapi aku punya banyak hal yang ingin kutuliskan. Jadi ini bisa END, atau lanjut. Pada akhirnya aku serahkan kepada kalian readerku tercinta. Jangan ragu tinggalkan jejak, agar aku tahu apakah cerita ini mau dilanjut, atau biar begini aja.
ArinaAsh
