Terkenal itu memang menyenangkan...
Sungguh, sangat menyenangkan.
Bagi Ahri, menjadi bintang Popstar merupakan kesuksesan terbesar didalam hidupnya.
Tapi kadang kala, ketika kesuksesan yang ia terima itu justru membuahkan rasa bosan yang luar biasa, Ahri mulai jenuh dan khawatir dengan masa depan karirnya. si gadis rubah ekor sembilan ini tidak dapat memastikan apa yang akan ia lakukan jika kontraknya sudah habis.
.
.
.
"Ahri, kau seharusnya tidak bertingkah konyol di atas panggung" sahut managernya.
Sambil melangkah di sepanjang lorong menuju ruang ganti, Ahri mendengus acuh. dia tidak bertingkah konyol di atas panggung, dia hanya ingin mengeluarkan ekspresi sebebasnya demi fans. bukan hal yang salah kan?
"Dengar, aku butuh hiburan" ucap Ahri, berbalik dan langsung menatap managernya. "Aku tidak suka di atur-atur, aku sudah berusaha menjaga profesionalitasku demi keinginan kalian dan fans! tapi kalian semua tidak memberiku waktu!"
"Dengar nona, Management tidak ingin kau melakukan kesalahan sedikitpun. kau ini penyanyi hebat, jangan sampai ada kecacatan didalam dirimu Ahri"
"Cacat? katakan itu langsung pada bosmu! aku memang cacat sejak lahir!" Ahri menjawab penuh sarkas, dia langsung melangkah ke ruang ganti dengan perasaan amarah.
'Kenapa sih tidak ada kesempatan bagiku untuk bebas? SEKALI saja?'
Begitulah yang ia pikirkan saat ini.
.
.
.
Ahri merebahkan diri di atas kasur empuknya. hari ini benar-benar melelahkan.
Kontrak dengan Management yang telah membesarkan namanya akan segera berakhir, tapi si Foxy sampai saat ini belum menentukan masa depan karirnya.
Sungguh, ini sulit.
Keputusan untuk segera mengakhiri kontrak benar-benar membuatnya bimbang. antara ingin melanjutkan karir atau ingin hidup bebas selayak orang-orang pada umumnya. sesekali Ahri memimpikan hidup tenang jauh dari jepretan wartawan dan fans yang menggila-gilai dirinya. dia ingin tinggal di sebuah komplek sepi, di atas bukit, lengkap dengan fasilitas Gym dan kolam renang serta mempunyai ruang karaoke sendiri. oooohhhh nikmatnya...
Tapi sayang, itu cuma halu.
Ahri membuang nafas lelah, ekornya mengibas-ngibas cepat seiring emosinya yang masih memanas.
'Aku ingin bebas, mempunyai teman-teman yang bisa hidup bersamaku di sebuah rumah besar. jadi, aku tak kesepian' begitu pikirnya.
'Menjadi penyanyi single memang menyenangkan, tapi aku kesepian. ingin rasanya membentuk sebuah grup idol yang ramai dan asik'
Dia membutuhkan orang yang bersedia mau berjuang di dunia industri musik dari nol lagi, dan dia butuh seseorang yang bisa di percaya untuk memulai suatu grup.
Ngomong-ngomong tentang grup Idol, ini adalah ide sekilasnya Ahri.
Ahri pernah membayangkan jika dirinya membentuk sebuah grup idol seperti ada rapper, lead dancer atau vokalis utama kedua, nampaknya boleh juga. bahkan dengan konsep grup idol seperti ini sedang banyak digemari oleh fans-fans.
Tapi sayangnya, Ahri belum sempat mewujudkan keinginan tersebut. secara dia masih terikat kontrak yang mesti di patuhi, dia masih terbebani banyak tekanan yang nyaris membuat dirinya jatuh dalam jurang depresi. rasa lelah ini, hampir membunuhnya. dirinya bukan sebuah produk, dia juga manusia yang bernafas.
Dia ingin punya grup, dia butuh seseorang...
Tangannya langsung meraih ponsel dan iseng membuka media sosial. lihatlah, teman-teman penyanyinya banyak yang sukses dan nampak menikmati hidup. ada yang memenangkan Grammy, ada yang mulai syuting sebuah film besar, dan ada pula yang mengumumkan akan menikah. hhhh... enak ya, mereka seperti tidak ada beban. ibu jarinya terus meng-scroll down setiap baris foto-foto artis hingga-
Tunggu
Tunggu dulu...
Evelynn?
Headlines NEWS!
'Evelynn terlibat skandal dengan seorang pria yang diduga merupakan pengagum rahasianya'
Tunggu, berita macam apa ini? Klikbait ya?
Tapi nampaknya, ini bukan klikbait, soalnya tidak ada kalimat 'nomor 3 paling mengejutkan bla bla bla' apalah itu.
Wanita ini, Evelynn! ini sudah 5 tahun...
5 tahun yang lalu, Ahri dan Evelynn pernah menjadi teman. dia adalah sosok wanita yang misterius, yaah... mungkin kalau bahasa kasarnya, dia wanita jutek dan tidak peduli dengan siapapun di sekitarnya. hanya mementingkan urusannya sendiri dan mengoleksi mobil-mobil mewah. Oh satu lagi, Eve memang sebelumnya banyak menjalin hubungan dengan banyak pria, tapi tidak pernah jelas dalam status tersebut. itu yang Ahri tahu.
Tapi setelah ia melihat judul berita ini, Ahri jadi penasaran.
Apa yang terjadi pada Eve?
Di samping kasus skandal, Eve nampaknya memang sedang mengalami banyak masalah. dia pernah mendapat pesan penuh ujaran kebencian dari fansnya sendiri. bahkan managernya pun meninggalkan dia (yah, Ahri tidak pernah tahu apa alasannya)
Tapi apa Eve bisa mengatasi ini sendirian?
Terlintas didalam otaknya, ada keinginan untuk memanggil Eve.
Ah tidak, tidak, tidak. Ahri menggeleng cepat. ini sudah 5 tahun, Eve mungkin sudah lupa dirinya. meski ada perasaan ingin memanggil si Diva, tapi Ahri bersikeras untuk menutup isi hatinya agar tidak ikut campur dalam masalah orang.
.
.
.
"Ahri, kau sudah memutuskan ingin melanjutkan kontrak?"
Ahri agak tertegun. dia dan bosnya sedang berada di sebuah Starbuck kafe, duduk di area luar.
Ada satu lembar surat di atas meja tersebut, Ahri sedang memegang pulpen, tapi tangannya tidak bergerak untuk menggoreskan sebuah tanda tangan di atas lembar tersebut.
"Jujur saja, belum. aku belum memastikan masa depan karirku" gumam Ahri, menunduk sedih.
"Oh jangan khawatir nona Ahri! jika kau belum memastikan masa depanmu, management ini akan membantumu. apapun yang kau inginkan, pasti kami berikan!" jawab si bos, tersenyum penuh sumringah.
Ahri cemberut. "Kau pernah mengatakan hal itu saat pertama kali aku bergabung, dan aku belum mendapatkan apapun"
"Tapi kau sudah mendapat semuanya, sayang. fans, uang, ketenaran, apa lagi yang kurang? kau benar-benar sempurna dengan caramu sendiri"
Ahri menghela nafas berat. ingin rasanya dia segera pulang dan tidur saja. dia bosan dengan basa-basi belaka ini. Tapi selintas, pikirannya kembali teringat akan Evelynn.
'Eve...'
Ahri tidak bisa berhenti memikirkan si Diva tersebut sejak dia membaca berita skandalnya. sungguh, dia penasaran.
"Ngomong-ngomong, kau tahu Evelynn?" tanya Ahri.
si Bos menaikkan sebelah alisnya. "Evelynn? maksudmu si Diva itu?"
Ahri mengangguk cepat. "Benar! aku jadi penasaran, sekarang dia sedang apa ya?"
"Yahhh kau tahu? skandal-skandal yang melibatkan diri si Diva itu? aku juga kurang mengerti. tapi kudengar dari temanku, si Diva juga sedang bermasalah dengan management yang menaunginya"
Ahri terkejut. "A-Apa?"
"Itu benar, aku yakin Eve hampir berada di titik paling bawah"
"Oh"
Eve, ini sudah 5 tahun. Ahri tak pernah berbicara dengan si Diva itu lagi, tiba-tiba dia punya keinginan untuk mendapatkan kontak. setidaknya, dia ingin berbicara dengan Eve. walau hanya sekali.
"Kalau boleh tahu, apa aku bisa mendapatkan kontak Evelynn?"
"Memangnya apa yang akan kau lakukan?"
"Aku dan Eve pernah menjadi teman. tapi kami berpisah, ini sudah 5 tahun sejak kami tidak melakukan kontak lagi, aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja" ucap Ahri.
Sungguh, Ahri ingin tahu keadaan Evelynn.
"Sayang sekali, aku tidak punya kontak untuk menghubungi si Diva. tidak satupun dari teman-teman yang bekerja disana menyimpan kontaknya Evelynn. wanita itu terlalu misterius"
"Ohhh baiklah..."
Ahri menunduk kecewa.
"Dan sekarang, ngomong-ngomong soal kontrak. bagaimana keputusanmu?"
Ahri menelan ludahnya dalam-dalam. "Maaf, aku belum punya keputusan. bisa beri aku tenggat?"
"Baiklah, dua bulan dari sekarang. kalau belum memutuskan, kami akan langsung menghapus kontrakmu dan resmi berakhir"
"Baiklah, terima kasih"
.
.
.
Ahri menghabiskan sepanjang hari didalam kamarnya.
Melalui laptopnya, dia mencoba mencari-cari kontak Evelynn. Ahri sudah memberi pesan lewat DM, dan sial, yang dibalas malah bot. sudah sering dia menanyakan pada teman-teman Evelynn apakah mereka punya kontaknya, dan sayang... mereka mengaku tidak punya.
"Sial!"
Ingin rasanya Ahri membalikkan meja. kenapa sih wanita itu misterius!? bagi kontak telepon aja pelit!
"Astaga... Evelynn, aku benar-benar ingin bicara denganmu" Ahri bergumam penuh resah.
Membuang nafas menyerah, Ahri memutuskan untuk langsung tidur saja. tapi bunyi notif dari laptop membuatnya menoleh lagi.
Ini kan...
Salah satu seorang dari teman dekatnya Evelynn memberi pesan pada Ahri. begitu Ahri membukanya, tertera sebuah nomor telepon.
"Ini kan..!?"
Nomor telepon Evelynn!
Tapi, apa benar ini nomornya, secara Evelynn tidak mungkin membagi kontak pada orang yang tak ia percaya kecuali kerabat dekatnya.
'Ini nomornya Evelynn, berbicaralah pelan-pelan. Eve sangat tidak suka kalau ada orang asing yang menelponnya secara mendadak' ucap si teman dekatnya tersebut.
Ahri buru-buru mengetik pesan tersebut di atas deretan keyboard laptopnya penuh semangat.
'Baiklah! baiklah! terima kasih banyak!'
Dan yap, ini nomornya.
'Aduhhh apa yang harus ku lakukan?'
Ahri sekarang malah bingung, dia gugup. ingin rasanya menggigit-gigit jemari sampai putus. dia berharap Eve tidak langsung memblokir nomor telepon begitu ia menghubunginya sekarang. ibu jarinya menekan tombol contact dan munculah tabel nomor di layar ponselnya.
Hubungi?
Tidak
Hubungi?
Tidak
Hubungi?
"..."
Jarinya gemetar gugup, Ahri sampai harus mengelap keringat di tangannya sendiri.
'Ayolah Ahri, ayolaahhh...'
Tanpa pikir panjang, dia menekan setiap angka sesuai dari pesan yang ia dapat dari temannya Evelynn, dan segera memanggil.
Belum, masih beberapa detik..
Belum...
Belum...
Dan akhirnya, tidak di angkat.
"Hahhhh..." mungkin Evelynn sedang sibuk, Ahri menghela nafas pasrah.
Oh iya, beda server. ini kan di Korea, sedangkan Evelynn berada di Los Angeles.
"Duhhh goblok!" Ahri menepuk jidatnya sendiri.
Kesempatan untuk berbicara dengan Evelynn hari ini, gagal. dan akhirnya, Ahri memilih langsung tidur.
.
.
.
Pagi hari kemudian...
Seoul, Korea Selatan
Pukul 07:00 am
Cahaya sinar pagi masuk melalui celah-celah tirai kamar si Popstar. sinar terang ini langsung menyerang kedua matanya yang masih terpejam lelah. dia pun memiringkan tubuhnya ke sisi kiri, menghindari terang pagi tersebut.
Teleponnya berdering keras.
Ahri mengernyitkan dahi, memejamkan mata serapat mungkin untuk berpura-pura tidak mengangkat telepon. itu pasti dari managernya, sudah cukup dengan aktivitas yang membebani dirinya. Ahri benar-benar lelah.
Telepon terus berdering.
"Duuh APA SIH!"
Ahri menyibakkan selimut dengan perasaan kesal dan langsung meraih ponsel. tapi begitu dia ingin segera mematikan panggilan, ini nomor yang asing.
Tunggu dulu...
Ahri menerima panggilan tersebut.
"Halo?" tanya Ahri.
"Ahri? apa ini kau?" tanya seseorang.
Ahri tertegun, kedua matanya yang tadi sipit karena mengantuk, mendadak melebar. Suara ini kan...
"EVELYNN?" Ahri bertanya balik.
"heh" terdengar suara dengusan dari si Diva. "Aku di beritahu temanku karena dia membagi kontakku padamu"
"EVELYNN! APA INI BENAR-BENAR KAU!?" tanya Ahri.
"Hei bodoh! berhenti berteriak! kau ingin meledakkan ponselku?" desis Evelynn, mulai kesal.
"EVELYNN! A-aku... aku memang membutuhkanmu, eeeh maksudku... aku memang sedang mencarimu! sungguh... maaf jika aku menganggu pagi harimu" ucap Ahri.
"Pagi hari? di Amerika masih malam jam 12. Sebaiknya bicarakan hal yang penting, Gumiho, aku benci buang-buang waktu" ketus Evelynn.
"Woaah? kau masih memanggilku Gumiho? berarti kau ingat aku?" tanya Ahri.
Evelynn mendengus acuh "Memangnya aku peduli padamu? jelas tidak"
Ahri langsung kesal. "Ggggrr! aku berusaha mencari kontakmu dasar kau succubus! karena aku benar-benar perlu bicara denganmu! kau memang tidak berubah seperti terakhir kali kita bertemu 5 tahun yang lalu!"
Jeda sejenak, Evelynn menghembus nafas ringan.
"Kau juga tidak berubah, masih cempreng seperti biasanya. aku tidak suka orang cempreng"
"Ugghhh! baiklah Eve! dengarkan aku baik-baik! kita hanya bicara sekali, oke!?" kata Ahri, menegaskan nada suaranya. "Begini, aku menghubungimu, karena kita adalah teman. yaa memang dulunya sih, maksudku... aku ingin berbicara denganmu. apa kau punya waktu jika kita bisa bertemu?"
"Tidak, tidak ada waktu. dan aku tak punya niat bertemu denganmu, kucing" jawab Evelynn.
"Aku bukan kucing! aku ini rubah!"
"Aku ingat waktu itu kau bermain dengan bola benang dan berguling-guling di atas rerumputan hijau. apa aku salah?" tanya si Diva, suaranya memang terdengar tenang, namun sarkasnya benar-benar menyakitkan hati.
"Baiklah baiklah! soal bola benang itu... yaaah bener sih.. seperti kucing" Ahri mengakui. "Tapi aku serius Eve! aku ingin membentuk sebuah grup!"
"Grup?"
"Iya grup!" Ahri mengangguk cepat. "Oke, mungkin terdengar bodoh. tapi aku bersungguh-sungguh. kontrakku akan habis dua bulan lagi, bosku memberi tenggat dalam waktu sesingkat itu. aku belum bisa memutuskan. jika kontrakku habis, aku memang akan bebas, tapi aku tidak akan punya kesempatan bermusik lagi. jika aku memperpanjang kontrakku, aku selamanya akan terus menghadapi tekanan... tekanan karena terlalu banyak aturan!"
"Oh" jawab Evelynn
"Hah? 'Oh' saja katamu?" Ahri tersinggung.
"Kau memintaku untuk bergabung dengan grup yang kau bilang tadi, kemudian kau curhat karena kontrakmu akan habis, pembicaraan macam apa ini?" ketus si Diva.
"EVE! BISA KAU PAHAMI DULU MAKSUDKU!?" Ahri berteriak.
"Berhentilah berteriak, kucing"
"DENGAR! AKU MEMBUTUHKANMU! AKU INGIN MEMBENTUK GRUP IDOLA! YANG ISINYA ADA VOKALIS, LEAD DANCER ATAU RAPPER! AKU INGIN KAU BERGABUNG DENGAN IDEKU!" ucapnya lagi berteriak dalam satu nafas. sial, Ahri butuh pompa oksigen.
Evelynn tertawa. "Maksudmu seperti Girlband? ohh ya, aku baru sadar. kau berasal dari Korea, industri musik Korea yang penuh pengalaman luar biasa dan menampung calon-calon artis yang nantinya akan di bentuk menjadi grup idola"
"IYA!" jawab Ahri lagi. "Dan aku, memilihmu untuk bergabung denganku, Succubus sialan"
"Tidak" jawab Evelynn. "Aku tidak minat, aku tidak suka kerja sama dengan cara yang kekanakan. aku sudah nyaman jadi penyanyi single daripada harus membentuk grup yang kau maksud, kucing"
"Dan aku sudah memutuskan nama grup ini!" sahut Ahri.
"Oh ya? apa itu?"
"Namanya... eeeeehhmmm..." Ahri nampak berpikir. astaga, dia belum menemukan nama grup yang cocok. "Ehhh yaa... untuk sementara, KDA"
"KDA? Korea Dangdut Academy?" tanya Evelynn.
Ahri menepuk dahinya keras-keras. "Bukan Dangdut! astaga Eve, berhentilah sarkas!"
"Musik dangdut bukan levelku, berhentilah bermain-main. atau aku akan memblokir nomormu, kucing" jawab Evelynn.
Ahri benar-benar kesal, tangannya sudah mengacak-acak rambut pirangnya. "Ugghh! bisa kau beri aku waktu!?"
"Tidak, waktu kita sudah habis" jawab Evelynn.
"Eve! untuk kali ini saja, aku berusaha memahami kesibukanmu. tapi luangkan waktumu untuk berbicara denganku. jujur saja, aku kesepian. dan aku butuh teman yang sama-sama bisa di ajak untuk membuat lagu. dan pilihanku jatuh padamu Eve, aku tahu kau tidak akan suka. tapi sungguh, aku percaya padamu. kita pernah jadi teman kan? aku tidak pernah memusuhimu sama sekali. aku tidak bohong, aku ingin kita bisa seperti semula, dari seorang teman menjadi sahabat terbaik!" jelas Ahri.
Evelynn mendengus acuh. "Aku sudah punya banyak teman yang bisa di ajak kerjasama untuk membuat lagu. aku sudah mandiri dan bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan. satu lagi, aku tidak suka caramu berbicara, kau ini masih seperti Ahri yang dulu. terlalu ambisius"
"Kenapa dari nada suaramu terdengar pesimis? apa hanya karena aku penyanyi popstar yang tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Ahri.
"Memang benar, bukan seleraku" jawab Evelynn.
"Oh Benar juga kata orang! tingkah dan kelakuan aslimu itu benar-benar menyebalkan bagi semua orang! pantas saja managermu meninggalkanmu! dan kau hanya punya sedikit teman! fansmu yang tadinya cinta padamu, akhirnya jadi haters! dan di tambah, kau punya skandal kan!? skandal dengan banyak pria tapi kau tidak pernah mengkonfirmasi apakah itu benar atau tidak, iya kan!?" tanya Ahri panjang lebar.
Ada jeda agak lama dalam pembicaraan tersebut. Ahri menunggu jawaban si Diva.
Sungguh? Skandal? jelas. Evelynn sangat suka bermasalah.
"Kau tahu, kucing? kita tidak akan bertemu lagi"
Dan pembicaraan mereka berakhir.
"Eve! hei! EVELYNN!" Ahri memanggil lagi. "SIAAAL! SIAL! Kenapa begini sih!?"
Kesempatannya untuk mengajak Evelynn sudah pupus. Ahri ingin sekali membanting diri ke atas lantai, dalam waktu dua bulan kontraknya akan habis, masa depannya terlalu samar dan takkan ada kesempatan yang datang untuknya.
"Haaahhh... kenapa semuanya serba sulit"
si rubah memijat-mijat dahinya. sekarang dirinya menghadapi masalah baru : Eve tidak mau bekerja sama dengannya. oh, atau mungkin cara mengajaknya yang salah. yaahh... Ahri mengakui, mungkin karena terlalu banyak ekpestasi, kesannya jadi memaksa. tentu Evelynn tidak suka cara seperti itu.
Dan lagi, soal skandalnya... Ahri tidak bermaksud menyakiti perasaan si Diva. hanya saja emosi yang tadi meluap-luap membuat dirinya lupa untuk menjaga tata bicara. Ahri membungkuk di atas kasur dan setetes air mata mengalir dari sudut matanya.
'...'
.
.
.
Los Angeles, Amerika
Evelynn menghembus nafas berat. pembicaraan dia dengan Ahri bukan awal yang baik. memang benar, ini sudah 5 tahun sejak mereka tidak pernah bertemu. saling kontak saja pun tidak sama sekali, entah bagaimana Ahri bisa menemukannya, tapi intinya, Ahri hanya ingin mengajak dirinya membentuk grup bersama-sama.
Grup Idol ya?
Jujur saja, menyanyi dari bagian grup idol bukanlah seleranya. tapi, dia tidak bermaksud menolak ajakan Ahri.
Jika Ahri sedang bermasalah karena kontraknya akan habis, justru dirinya yang sedang berada di ambang yang lebih parah. skandal yang melibatkan dirinya, membuat semua media berpikir bahwa Evelynn si Diva telah melakukan banyak kesalahan. dia di anggap mencemarkan nama baik management yang selama ini menaunginya. tentang pria itu, tentang manager yang meninggalkannya, teman-teman yang perlahan pergi...
"..."
Sekarang Evelynn tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Bunyi notif dari ponsel menarik lamunannya. ini pesan dari Ahri
'Eve,
Maaf jika aku membicarakan skandal yang terjadi padamu. sungguh, aku minta maaf Eve. tapi aku bersungguh-sungguh soal grup yang ku bicarakan. aku sangat berharap dan percaya padamu kau akan setuju dengan ideku. kita bisa memulainya dari nol, kita akan berjuang sama-sama menciptakan genre musik yang baru. kau adalah temanku, dan aku tidak akan meninggalkanmu, tak peduli seberapa sering kau mengabaikanku atau memblokir nomorku.
Salam, si Kucing Ahri'
Evelynn termenung.
Dia tahu, Ahri selalu ambisius ketika menginginkan sesuatu. sepertinya si rubah itu sangat bersalah karena membicarakan skandal yang terjadi, tapi tidak apa-apa, Evelynn paham. sebenarnya, Ahri adalah gadis yang sangat menghargai perasaan seorang teman.
'Dia memang tidak berubah'
Ya, memang begitulah yang terjadi...
.
.
.
"Si Diva ini memang hobi membuat masalah! dia tidak mengklarifikasi skandal yang menimpa dirinya!"
"Iya! dasar wanita ular, pasti dia hanya mencari pria untuk bermain-main saja"
"Suara dia memang bagus sih, tapi siapa yang mau mengidolakan seorang jalang?"
Kolom komentar penuh dengan nada pedas dari netizen membuat Ahri naik darah. membacanya saja sudah perih, ingin rasanya Ahri membalas satu-persatu setiap komentar jahat tersebut dan mencaci maki netizen sialan. tak peduli netizen itu adalah fansnya atau bukan, Ahri pasti membela Evelynn.
Karena Evelynn adalah temannya.
'Pasti Eve masih marah padaku' Ahri membatin.
Ahri berharap semoga Evelynn memberinya kesempatan kedua. jika memang si Diva masih menolak permintaannya untuk bergabung dengan Grup Idol. Ahri bisa memahami, dia akan menghargai jawaban sang Diva demi kebaikannya.
Apapun yang terjadi, mereka tetap teman kan?
Bersambung
