Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.

"Maaf!" ujar Sakura sambil membungkukkan badan.

Rambut merah jambunya yang panjang ikut jatuh, tampak bagai tirai sutra. Lurus dan lembut.

Pemuda pirang itu berdiri di depannya; terpana dan bengong di saat bersamaan. Ia baru saja ditolak oleh Sakura, tapi ia tetap tersenyum meski merasa sedih.

"Tak apa, Sakura-chan. Jangan seperti ini!" balas Deidara, pemuda itu.

Sakura pun menegakkan badan sebelum berpamitan. Setengah mati siswi kelas 2 SMA itu menahan air mata sampai tibalah ia di kelasnya yang sepi. Hanya ada Hinata di sana, satu-satunya sahabat yang ia punya.

Si gadis berambut hitam memeluknya sampai ia merasa lebih tenang. Hari itu adalah hari paling menyedihkan, di mana ia terpaksa menolak ajakan berpacaran dari Deidara, sang kakak kelas yang menawan hatinya sejak awal. Cinta pertamanya.

"Sakura-chan, kau tak harus menolaknya. Kalau dia memang pemuda yang baik, dia akan menerima dirimu apa adanya. Siapa pun kau," ujar Hinata lembut.

Sakura menggeleng lemah. Itu mustahil. Cepat atau lambat, Deidara akan meninggalkannya begitu tahu siapa dia sebenarnya.

"Kalau bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuaku, aku ingin menjadi anak seorang petani. Aku tak harus berhubungan dengan dunia gelap seperti ini, Hinata-chan," ujarnya.


EVERY WOMAN'S (HONEST) DREAM

o

o

o

o

o

Chapter 1: Obliviate, Disapparate!

"Selamat ulang tahun!" seru beberapa orang dengan serempak.

Kejutan perayaan dari teman-teman kerja menyambut Haruno Sakura begitu ia tiba di kantor. Mereka terdiri dari beberapa pimpinan unit dan karyawan. Tentu saja yang paling meramaikan suasana adalah kru, terutama dari unit Pelaksana Proyek yang ia pimpin.

Betapa terharunya ia mendapat perhatian sebanyak ini, terlebih dari Hinata, sahabat sekaligus pimpinan humas di perusahaan perencana pernikahan. Sang pemilik juga ada di sana, mengapit Hinata yang memegang sebuah kue tar berdiameter besar.

Setelah menyanyikan dua lagu ulang tahun dengan yang tidak kompak, mereka berseru bersahutan, meminta Sakura untuk meniup lilin. Tapi, seorang anggota kru mencegahnya dan berkata bahwa ia harus membuat permintaan terlebih dahulu.

Ia pun memejam beberapa saat dan yang lain memperhatikannya. Setelah itu, ia membuka mata. Ia tatap lilin berbentuk angka 2 dan 9 dengan perasaan yang sedikit sulit dijelaskan.

Dua puluh sembilan. Angka yang cukup sakral, terutama bagi kaum hawa. Masa-masa di mana orang-orang terdekat bertanya kapan kawin. Apalagi, rata-rata teman sebayanya sudah berumah tangga. Hinata, contohnya. Wanita itu bahkan sedang hamil tua.

Untungnya, di zaman sekarang sudah banyak perempuan yang tersentuh oleh feminisme dan modernisme. Wanita yang belum menikah di umur yang sangat matang pun sudah bukan hal tabu seperti di generasi pendahulunya. Namun, paham itu bukan alat yang dapat mengikis habis keinginan seorang perempuan untuk memiliki teman hidup. Sadar tak sadar.

Sakura pernah mencoba, tapi dia belum beruntung. Pertama dan terakhir kalinya ia berpacaran dengan pemuda Suna yang berkuliah di negara yang sama, hubungan mereka kandas begitu pemuda itu tahu tentang latar belakang Sakura. Sejak saat itu, dia jadi sangat berhati-hati hingga di titik pesimis.

"Senpai, apa kau berdoa agar kau secepatnya menikah?" tanya salah satu anak buah.

Dengan senyum masam, Sakura menjawab, "Apa yang kudoakan itu rahasia, Konohamaru. Lebih baik pikirkan nasibmu dengan Moegi!"

Gelak tawa memenuhi ruang yang luas itu. Mereka tak tahu, dalam hati Sakura ada perasaan tak nyaman yang ia coba tutupi dengan tawa riang.

Pesta usai; mereka pun kembali bekerja. Mereka sedang menghadapi tahun yang sibuk. Begitu banyak pasangan yang akan menikah sampai-sampai Every Woman's Dream Inc. terpaksa menolak beberapa klien dikarenakan kapasitas permintaan yang sudah penuh.

"Sakura-chan, sepertinya hari ini aku harus melimpahkan tanggung jawabku padamu. Naruto memintaku untuk lebih banyak istirahat," ujar Hinata.

"Sudah seharusnya, 'kan? Jadi, apa saja yang harus kulakukan?" tanya Sakura.

Hinata menyerahkan selembar kertas dan dokumen tentang klien. Dalam kertas itu, tertulis waktu dan tempat pertemuan. Sakura memeriksanya dengan saksama, terlebih saat mempelajari dokumen, lalu dia berpikir. Tak ada data calon mempelai pria. Yang ada cuma daftar detail tentang konsep yang dimaui, tapi tak masalah. Yang penting biodata calon pengantin wanitanya sudah ada.

Seorang guru TK berusia 24 tahun. Baiklah.

"Bagaimana?" tanya Hinata.

"Oke, aku akan datang sebelum pukul dua," jawab Sakura.

XxX

Tepat sepuluh menit sebelum pukul dua siang, Sakura sudah duduk manis di salah satu meja di Konoha Coffee Bean. Saat itu, suasananya indah. Bunga-bunga sakura bermekaran di sepanjang trotoar dan udaranya hangat. Cocok untuk dinikmati dengan segelas coco moon yang dingin, tapi tetap mampu mengusir kantuk di saat ia harus berkonsentrasi dengan pekerjaan.

Sambil menunggu klien, ia memeriksa ulang poin-poin presentasi yang sudah ia persiapkan. Maklum, tema yang dipilih kali ini berbeda dari pasangan pengantin kebanyakan. Tak terlalu terkesan romantis, malah.

Setelah beberapa menit berlalu, seorang wanita muda datang. Dia memiliki rambut hitam pendek; tak terlalu cantik, tetapi memancarkan aura yang menyenangkan. Tipikal wanita ceria dan optimis.

"Apa Anda pengganti Uzumaki-san?" tanyanya.

Sakura berdiri, lalu keduanya sama-sama membungkukkan badan.

"Selamat siang. Aku Sakura yang menggantikan Uzumaki Hinata," balasnya.

"Kurotsuchi," jawab wanita tadi, "mohon bantuannya, Nona ... ."

"Sakura."

Kurotsuchi tampak bingung dan Sakura tahu wanita itu merasa tak enak memanggil nama kecilnya saja.

"Sakura saja," ulangnya.

Sang klien mengangguk, lalu keduanya duduk berhadapan dan memulai obrolan. Cuma basa-basi; hanya tentang keadaan Hinata dan pekerjaan Kurotsuchi sendiri.

Biasanya, basa-basi akan membuat Sakura lekas jenuh walau bisa ia tahan, tapi Kurotsuchi membuatnya terasa lebih hidup. Tak heran ia menjadi guru TK. Anak kecil jauh lebih sulit dikendalikan saat bosan dan ia harus menemukan cara-cara kreatif agar mereka mau mengikuti kelas.

Semua yang mereka bicarakan membuat Sakura mengerti mengapa Kurotsuchi tak memilih tema pernikahan super romantis. Dia sangat menyayangi murid-muridnya dan akan mengundang mereka, maka ia berpikir anak-anak itu juga harus ikut menikmati acara. Meski demikian alasannya, pilihan Kurotsuchi seakan mengirim ingatan yang cukup familiar.

"Jadi ... Harry Potter, ya," ujar Sakura.

Kurotsuchi mengangguk. "Siapa yang tak suka, 'kan? Selain anak-anak, kurasa banyak orang dewasa yang menyukainya," jawabnya.

Sakura tersenyum. Kali ini bukan demi profesionalitas, tapi ia memang tulus.

"Anda benar," balasnya.

"Bahkan, calon suamiku juga sangat suka," tambah Kurotsuchi.

Benar. Tema ini memang mengingatkan Sakura akan seorang pemuda yang pernah ia kenal. Orang itu juga sangat tergila-gila tentang semua yang berkaitan dengan Harry Potter.

Entah di mana orang itu sekarang. Andai sudah menikah, mungkin dulu dia juga memilih tema Harry Potter. Tapi, Sakura belum pernah mendengar pesta pernikahan dengan tema itu di kotanya, jadi hanya ada dua kemungkinan. Belum menikah atau sudah pindah.

"Sakura-san," tegur Kurotsuchi.

Sakura tersadar dari lamunan. "Oh, maaf! Aku baru saja memikirkan makeup artist terbaik untukmu," dustanya, "karena ada dua orang yang bisa kurekomendasikan, tapi aku yakin temanku lebih ahli dalam melihat ini."

Kurotsuchi terkekeh. "Anda seperti orang yang memikirkan segala sesuatunya. Tenang saja, kita masih punya waktu sebulan, bukan?" katanya.

Untung saja Kurotsuchi bukan tipe klien yang gampang panik karena soal tukang rias tadi bukan kebohongan.

"Lagi pula, Anda sedang berulang tahun, jadi bersantailah!" lanjut Kurotsuchi.

Sakura mengangkat alis. Seakan dapat membaca pikirannya, Kurotsuchi melanjutkan, "Aku mengetahuinya dari status pesan Hinata-san. Selamat, ya!"

"Ya, ampun," balas Sakura, "terima kasih! Anda perhatian sekali. Pantas saja calon suami Anda tergila-gila."

Salah satu poin memenangkan hati klien: pujilah dia! Tapi, lagi-lagi, kali ini Sakura berkata jujur. Kurotsuchi adalah wanita yang mengagumkan.

"Oh, dia datang!" kata wanita itu, lalu melambaikan tangan.

Sakura menoleh ke pintu masuk dan ... pintu itu mungkin adalah portal waktu. Atau dunia sebelah. Atau ilusi. Atau bukan.

Cinta pertamanya ada di sana.

Nanti, ia akan menanyakan pada Hinata, apakah ini alasannya tak ada biodata si calon mempelai pria. Namun, rasanya tak masuk akal juga sebab nanti dialah yang akan bertanggung jawab sampai pada pelaksanaan di lapangan.

"Sakura-chan!" sapa Deidara. Pria itu tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Halo! Jadi, Deidara-senpai calon mempelai prianya?" balas Sakura setelah berhasil menstabilkan perasaannya.

Pria itu mengangguk, lalu duduk di samping Kurotsuchi. Keduanya saling melempar senyum hangat sebelum dialog standar lain muncul. Misalnya, tanya-jawab tentang bagaimana Deidara dan Sakura bisa saling mengenal. Untung saja pria itu cukup waras untuk tak membuka kisah masa lalu mereka, atau keributan mungkin saja akan terjadi.

Sebentar, Tuhan, sepertinya ada yang keliru, pikir Sakura. Ia berdoa agar dipertemukan dengan seseorang yang dapat mengerti dan menerima keadaan dirinya, bukan dengan calon suami orang yang memang baik sekali. Seperti dulu; saat setelah tertolak pun, Deidara masih mencoba mencarinya. Sakura tahu itu.

Ia segera melenyapkan prasangka buruk itu dan mulai mengingat hal lain. Mungkin tak sepenuhnya keliru sebab saat ini pun ia sedang dekat dengan seseorang meski belum ada kemajuan yang signifikan. Dan yang pasti tak ada "gangguan" lagi. Ini cukup bisa jadi pertanda, 'kan? Lagi pula, Sakura bukannya masih menyimpan rasa pada Deidara yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Anggap saja rasa aneh itu seperti pengalaman pertama jatuh dari sepeda. Tak sakit lagi, hanya ingatannya yang masih tersisa. Kita bisa tertawa atau merasa konyol karenanya.

Lamunannya buyar saat Kurotsuchi tiba-tiba pamit ke toilet. Wanita itu meninggalkan mereka berdua dan situasi menjadi semakin aneh. Keduanya sama-sama terdiam sebelum Deidara membuka pembicaraan.

"Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu.

"Seperti yang kau lihat, aku luar biasa," jawab Sakura asal-asalan.

"Bukan itu maksudku. Apa kau sudah menikah?" terang Deridara.

Oh, tidak!

"Sendiri masih terasa mengasyikkan, Senpai," jawabnya berpura-pura masa bodoh dengan pertanyaan Deidara.

Catat: Deidara. Ini Deidara yang bertanya, maka kesan pertanyaan tadi menjadi tak sama. Menjadi lebih tidak baik-baik saja, apalagi setelah melihat cara pria itu menanggapi jawabannya. Entah mengapa anggukan kepalanya yang berulang itu terasa mengganggu.

"Hm ... aku sempat mencari tahu tentang keberadaanmu dan tentangmu sebelum aku bertemu dengan Kurotsuchi," katanya.

Pasti dibutuhkan usaha keras untuk menemukan Sakura sebab setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk mengambil jurusan desain interior di Cambridge School of Art. Di luar negeri, sekolah yang terbilang elit.

Jangan lupakan bahwa bagaimanapun ia anak seorang pengusaha besar!

Sakura tak tahu apakah ia harus bersyukur atau tidak dengan kenyataan itu. Satu sisi, berkat usaha ayahnya yang sangat maju dan terkenal di berbagai belahan dunia, ia mampu membayar berapa pun biaya untuk berkuliah di sana. Di sisi lain, ia benci ayahnya menjalankan usaha yang sekarang.

"O, ya, apa Gaara sedang di rumah?" tanya pria itu lagi.

Ia jelas tidak bersyukur untuk hal itu. Jantungnya sekarang mungkin sudah anjlok ke mata kaki.

"Saudara kembarmu," lanjut Deidara.

"Ba ... bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sakura.

"Sudah kubilang, aku pernah mencari tahu semua tentangmu, Sakura. Aku tahu kau memiliki saudara kembar bernama Haruno Gaara karena dia juniorku di jurusan perkuliahan yang sama. Teknik Kimia," jawab Deidara.

Sakura memegangi penanya kuat-kuat. Ini benar-benar tidak baik.

"Apa kau mendapatkan semua informasi tentangku darinya?" tanya Sakura.

Deidara menggeleng. "Aku sendiri heran kenapa aku tidak menggunakan kesempatan itu," katanya.

Bertahun-tahun berlalu, rasanya cara bicara pria itu berubah jauh. Deidara yang di hadapannya sekarang adalah pria yang berbicara dengan tenang dan sulit ditebak. Bukan pemuda ceria yang banyak intonasi bicara, atau yang mimiknya lucu. Rambutnya bahkan dipanjangkan.

"Dia bekerja di kemiliteran sebagai penjinak bom. Divisi Anti Teroris," ujar Sakura.

"Aku tahu karena akulah teroris itu," balas Deidara.

"Apa?"

Deidara tertawa rendah.

"Aku membuat bom untuk kepentingan militer," jawabnya.

Betapa sempitnya dunia ini dan Sakura mendadak pusing! Bukan tidak mungkin Deidara juga sudah mengetahui bahwa ayahnya adalah ... .

"Aku sedikit kecewa kau menolakku karena alasan ... 'itu'," ujar Deidara pelan. Ia tampak bingung. Atau sungkan. "Tapi, bahkan Gaara memilih menjadi anggota militer daripada menjadi pewaris."

Jelas sudah Deidara mengetahui semuanya. Tak usah diragukan lagi.

"Aku menyukaimu sebagai dirimu sendiri. Aku tak peduli dengan latar belakangmu." Deidara menutup pembicaraan.

Sakura terdiam dan menatap meja. Lalu, ia angkat wajahnya dan ia berikan senyum pada pria itu.

"Kurotsuchi-san ... harusnya dialah yang kita bicarakan," katanya.

Sakura jengah saat hal itu disinggung. Ia membenci apa yang dibangun oleh ayahnya. Anak mana yang bisa dengan entengnya menerima kenyataan bahwa sang ayah adalah pengusaha yang memproduksi film-film dewasa? Film panas. Lebih jelasnya lagi, film porno!

Deidara menatapnya, lalu berkata, "Kau salah paham, tapi ... ngomong-ngomong rambut pendekmu terlihat keren."

"Ya, ini lebih praktis," jawab Sakura sedikit berbohong, "dan aku memang suka yang sedikit bergelombang."

"Dan aku tahu kau memotong rambutmu sehari setelah kau menolakku," jawab Deidara, "juga memutuskan untuk menyembunyikan nama belakangmu."

Sakura butuh Harry Potter saat itu juga. Ia ingin amnesia.

XxX

Sakura tak jadi lembur. Ia harus pergi ke stasiun demi hari yang menggembirakan ini, namun terjadilah sebuah insiden. Drama picisan sepasang kekasih: Gaara dan pacarnya. Wanita itu langsung marah begitu Sakura memeluk kembarannya dari belakang sambil memanggilnya Master Shifu.

Ia dan Gaara dibuat latihan cardio saat Suiren, wanita itu, main kabur begitu saja. Bukannya tanya dulu apa hubungan mereka! Itu pun Gaara tak diberi kesempatan untuk melakukannya sebab si pacar bilang, "Aku tak ingin penjelasan apa-apa!", tapi mau-mau saja saat mereka giring ke sebuah restoran cepat saji di kawasan stasiun.

Kini, mereka bertiga duduk bersama. Si kembar bersebelahan, sementara Suiren di seberangnya. Mereka disidang!

"Jelaskan siapa wanita ini!" tegas Suiren.

Sakura memijit-mijit hidungnya. Tadi, bilangnya tak mau penjelasan apa-apa; sekarang malah menuntut. Inilah kenapa dia paling malas menghadapi pecemburu, baik pria maupun wanita. Apalagi wanita. Terlalu merepotkan.

"Ini Sakura, kakak kembarku," jawab Gaara dengan nada tenang.

Penjelasan Gaara seketika membungkam Suiren yang kemudian mengamati dan menyadari kemiripan mereka. Perbedaan tipis pada warna rambut dan mata itulah yang telah mengecohnya. Rambut merah dan merah muda. Bola mata hijau pucat Gaara dan mata hijau terang Sakura. Ia juga pernah mendengar bahwa kembar tak selalu identik, apalagi kembar dampit.

Baiklah.

Suiren merasa sangat bodoh karena sudah berprasangka buruk. Ia juga takut kalau ia akan mendapatkan penilaian buruk dari Sakura. Ia pun langsung meminta maaf sambil memperkenalkan diri dengan formal.

"Sekali lagi, aku minta maaf telah bersikap kekanakan, Sakura-san," ujar Suiren.

Meski sempat sebal, Sakura tetap menyambut perkenalan itu dengan baik. Ia harus menghormati pilihan adik kembarnya.

"Sudah, lupakan saja!" balas Sakura sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan, lalu beralih pada Gaara dan bertanya, "Jadi, kau sedang bebas dinas selama empat hari?"

Si rambut merah mengangguk dalam diam. Selalu begitu, sampai Sakura bosan dan melempar tatapan malas.

Bukan hanya warna rambut dan mata saja yang berbeda, tetapi juga kepribadian. Sakura bahkan curiga ada masalah saat ibu mereka melahirkan Gaara hingga pria itu terkena masalah syaraf. Tapi, sekalinya marah atau kesal, hantu saja minggat.

Mereka, kedua wanita itu, mengobrolkan tentang daerah asal Suiren. Di sanalah Gaara berdinas dan bertemu dengannya. Kota kecil pusat kegiatan militer berada, namun hampir semua penduduknya masih berpikiran seperti orang lampau.

"Apa Sakura-san sudah menikah?" Suiren bertanya tiba-tiba.

Semacam itu. Tapi, ya, tidak juga. Toh, di kota besar saja hal itu sering ditanyakan.

Dengan senyum kecut, Sakura menjawab, "Ah, itu ... pekerjaan menyita waktuku, tapi aku sedang dekat sengan seseorang. Dia juga akan datang ke sini. Kami sudah janjian."

Tak sepenuhnya bohong. Kenyataannya, ia memang wanita sibuk ... yang sengaja melakukannya demi mengempas pikiran-pikiran tentang menikah, lalu punya alasan untuk lebih berhati-hati. Ia tak mau kejadian buruk yang lalu terulang kembali. Seperti sekarang, saat ia dalam masa pendekatan dengan seorang fotografer kenalan Asuma, sang pemilik perusahaan. Prosesnya lambat.

"Aku mengerti. Aku jadi kagum padamu. Pria itu pasti sempurna," puji Suiren.

Sakura tersenyum bangga, tapi senyumnya itu memudar begitu melihat Gaara mengulum senyum.

"Ah, maaf, ada telepon dari ibuku. Permisi," kata Suiren.

Ketika wanita itu menjauh, Sakura menendang tulang kering Gaara sampai pria itu mendesis menahan sakit. Sudah dari tadi ia ingin melakukan hal ini.

"Apa-apaan kau ini?" protes Gaara.

"Apa-apaan juga senyummu itu? Kau mengejek? Dengar, ya! Aku memang sedang dekat dengan seseorang dan dia tampan, dewasa, menggoda. Memangnya dirimu?" omel Sakura.

Gaara menghela napas. Mungkin inilah sindrom perawan tua yang disebut-sebut itu. Makin lama seorang wanita melajang, makin sensitif pula hati dan perilakunya.

"Baiklah. Aku tidak tampan dan kau tidak cantik. Kita ini kembar. Kalau kau mengejekku, kau juga menghina dirimu sendiri," ujar Gaara sambil bersedekap.

Mulai lagi mulut pedasnya itu!

"Ah, ngomong-ngomong, apa Suirenmu itu sudah tahu tentang apa pekerjaan ayah kita?" goda Sakura.

Tak ayal, Gaara pun tampak kelabakan. Sakura menang telak. Ketahuan, 'kan, kalau Gaara belum memberitahu kekasihnya. Bagaimanapun, cuma Sakura yang tahu titik kelemahannya.

"Kau jangan berbuat yang tidak-tidak! Biar aku yang menjelaskannya," balas Gaara agak berang.

Sebelum Sakura mengejeknya lebih lanjut, seorang pria datang, lalu menepuk pundak Sakura. Wajah cantik rupawannya langsung sumringah.

"Ah, Kakashi-san!" sapanya.

Dialah orang yang dimaksud.

"Apa aku membuatmu menunggu lama?" tanya pria itu.

Gaara menyipitkan mata. Apanya yang menggoda? Wajahnya saja ditutupi masker hitam. Apa rambut putihnya itu yang menggoda Sakura untuk menjambaknya?

Sakura yang menangkap sinyal ejekan Gaara langsung menatap tak terima, tapi ia tak mungkin berkelahi di depan pria gebetannya itu. Jadi, ia berusaha bersikap biasa saja.

"Perkenalkan, ini Gaara, saudara kembarku," katanya.

Kedua pria itu pun berdiri berhadapan, kemudian saling membungkuk dan memperkenalkan diri. Bertepatan dengan itu, Suiren pun kembali, lalu keempatnya duduk dan terlibat dalam obrolan ringan.

Di tengah-tengah suasana yang sudah mencair itu, segalanya kembali terasa beku. Hanya bagi Sakura. Ia terserang panik saat seorang pria masuk ke sana dan mengelilingi seisi ruangan dengan pandangannya.

Rambut panjang dan hitam itu ... mata elang yang hitam ... tubuh jangkung itu ... wajah dinginnya ... ia memang mirip dengan shinigami dan ia bernama Uchiha Itachi.

Sakura mematung. Otaknya berputar seperti gasing, mencari segala cara supaya si Uchiha tak melihat mereka. Sementara itu, Itachi berjalan semakin dekat meski tampak belum menyadari bahwa ia dan saudara kembarnya ada di sana.

Gaara segera menyadari ketegangan Sakura ketika menoleh ke meja kasir dan tatapan licik ia lempar pada sang kakak. Dia juga sudah tahu siapa Itachi, tapi tak perlu merasa panik. Toh, di pikirannya sudah ada daftar perkakas militer andai pria itu berbuat di luar dugaan selagi ada Suiren.

Sakura sudah terlalu frustrasi untuk menanggapi keisengan adiknya. Yang penting sekarang adalah bagaimana ia bisa keluar dari situasi ini.

Alasan ke toilet juga tidak mungkin karena letak toilet berada di belakang Itachi. Artinya, ia harus berhadapan dengan si pria gondrong, sedangkan ia juga tak mungkin mengatakan di depan Kakashi bahwa ia sedang menghindari pria itu. Bisa-bisa, ia malah akan ditanyai tentang siapa Uchiha Itachi dan mengapa ia harus lari.

Oh, Tuhan! Sakura ingin menghilang!

o

o

o

o

o

Bersambung...