Park Chanyeol itu memang gila, dia berani berlutut didepan semua murid dan juga guru disekolahnya demi menyatakan cinta pada Baekhyun, guru olahraganya. Sebuah mawar merah menjadi lambang keseriusan lelaki itu terhadap semua perkataannya barusan.

"Guru Byun, jadilah kekasihku" Semua murid bersorak, beberapa dari mereka gemas melihat tingkah Chanyeol yang idiot dan yang lainnya melontarkan kata-kata agar Baekhyun menolaknya dan menendang jauh Chanyol dari sana.

"Park Chanyeol bangun, apa yang kamu lakukan?" Baekhyun menatap sekeliling, dengan banyaknya orang yang melihat sudah pasti berita ini akan sampai kepada kepala sekolah dan Baekhyun tidak ingin sampai dirinya dapat masalah karena ulah konyol murid bermasalah ini.

"Jawab dan aku akan berdiri"

"Aku akan pergi dan kau akan mati keram seperti itu"

"Guru Byun, kau ingin aku bangun?"

"Ya"

"Kau ingin aku pergi?"

"Ya"

"Kau mau jadi pacarku?"

"Ya"

"Yes"

"A-apa"

Chanyeol melompat dari posisinya, berpelukan bersama teman-temannya yang sama -sama gila. Memberi selamat atas diterimanya perasaan Chanyeol, FUCK! Itu hanya kecelakaan, Chanyeol menjebak Baekhyun dengan perkataan yang sebelumnya mendapat jawaban iya, dia juga tidak fokus karena malu melihat semua ini.

"Hey dengar" Baekhyun berteriak menghentikan kerusuhan yang terjadi

"A-aku tidak mengatakan mau menjadi kekasihnya, itu kecelakaan" Bela Baekhyun.

"Kecelakaan atau tidak jawabannya adalah iya, Miss" Kai teman Chanyeol memberi pembelaan lain, Chanyeol memberi dia jempol seolah setuju denganpernyataan temannya. Baekhyun pergi dari sana mencoba menenangkan pikirannya, berharap jika esok berita ini tidak menjadi alasan dirinya dipecat dari sini.

.

Pukul 4 sore dan ini sudah waktunya Baekhyun pulang untuk beristirahat menenangkan pikirnnya setelah menjalani hari yang panjang karena ulah Chanyeol.

"Hey, ayo masuk" Baekhyun menghela nafas, untuk apa Chanyeol diam disekolah sampai jam segini, biasanya dia tidak akan masuk sekolah berhari-hari tapi tetap aman karena ayahnya pemilik sekolah ini.

"Aku naik bis—"

"Kau kekasihku sekarang"

Chanyeol mencoba memulai percakapan dan Baekhyun hanya mengangguk dan menggeleng.

"Kepalamu akan putus jika terus seperti itu Baekhyun"

"Tidak sopan, aku ini gurumu"

"Jika disekolah"

Baekhyun menghela nafas dia harus meluruskan ini semua, dia tidak bisa jika dipermainkan oleh anak ingusan yang baru bisa mengerjakan soal aljabar.

"Chanyeol jika ini tentang taruhan atau sebagainya lebih baik jangan terlalu mendalami"

"Apa maksudnya?"

"Kenapa kau memintaku menjadi kekasihmu"

"Karena aku mencintaimu, Baekhyun. Sejak lama, kau tahu jarang sekali ada guru olahraga perempuan disekolahku dan saat kau datang kau mengalihkan semua perhatianku"

"Apa maksudnya?"

"Bermain basket, menggiring bola, melatih renang, kau tak sadar jika kau seksi melakukan itu?"

"Dasar mesum"

"Terimakasih"

.

.

Bisik-bisik semua murid terdengar sepanjang lorong yang Baekhyun lalui, masih tentang berita dirinya dengan Chanyeol yang sudah berlalu 4 hari dan entah kenapa para muridnya itu lebih memilih menggosipkan hal hal yang tidak penting.

Baekhyun tidak peduli pada awalnya, tapi mendengar para murid pecinta Chanyeol membual dengan segala ucapan kotornya dia tidak sabar juga, kemarin dia memanggil 2 siswi yang mengatakan bahwa Baekhyun menerima Chanyeol hanya karena dia anak pemilik sekolah, anak sekolah dasarpun tahu jika Chanyeol tampan, menarik tanpa kayapun lelaki itu akan mempesona. Gerah lama-lama mendengar semua ocehan muridnya Baekhyun lebih memilih membelokkan langkahnya kekamar mandi, ada kamar mandi khusus guru tapi berhubung Baekhyun dalam keadaan buru-buru dan malas memutar arah jadi dia memilih kamar mandi yang biasa digunakan para siswa.

"Ada apa dengan mereka beberapa hari ini?" Baekhyun tersenyum pada siswi yang memberinya salam sebelum keluar kamar mandi. Baekhyun mencuci wajahnya agar lebih tenang.

"Hey kau tahu senior Chanyeol sedang sakit?" Suara murid perempuan yang masuk kedalam kamar mandi bersama temannya, dasar wanita menikmati moment kekamar mandi dan bergosip depan wastafel. Baekhyun sudah mendengar itu karena tadi pagi lelaki itu bilang tidak bisa masuk sekolah, Baekhyun pikir dia hanya bercanda.

"Aku sudah mendengarnya"

Baekhyun memberikan atensi penuh pada percakapan mereka yang belum menyadari Baekhyun disampingnya.

"Tangannya patah"

"Darimana kalian tahu?" Baekhyun melebarkan matanya ketika pertanyaan keluar dari mulutnya begitu saja.

"Ah Miss Byun, maaf" Dua siswi itu membungkuk sopan, meminta maaf karena membicarakan Chanyeol didepan kekasihnya.

"Jawab saja pertanyaanku"

"Senior Kai yang memberitahu kami"

Baekhyun berdehem dan mengangguk, merapihkan penampilannya dan langsung pergi darisana, dia takut terbawa suasana dan bergosip.

Pikiran Baekhyun melayang memikirkan keadaan kekasihnya, kemarin malam mereka masih saling mengobrol ditelpon walau Baekhyun akui hanya Chanyeol yang berbicara sedangkan ia hanya meng-iya tidakan semua ucapannya.

"Miss Byun" Baekhyun terlonjak kaget karena panggilan pelan rekan kerjanya itu, dia benar-benar tidak berada dibumi barusan.

"Kau sakit?"

"Ah sepertinya begitu"

"Pulanglah, akan aku izinkan hari ini"

"Bolehkah?"

"Tentu, akan aku urus nanti. Segera telpon jika besok masih sakit"

.

Baekhyun masuk kedalam toko roti, setelah berpikir panjang dia memilih pulang dan memilih memberi roti untuk ia bawa kerumah Chanyeol hari ini. Dia masih punya kebaikan untuk murid nakalnya itu. Setidaknya Chanyeol sudah berbuat baik dengan menjemput dan mengantarnya pulang, anggap aja sebagai ucapan terimakasih.

"Berikat aku yang ini" Baekhyun menunjuk roti coklat kesukaannya, semua orang suka coklat dan Chanyeol juga pasti menyukainya.

"Silahkan tunggu nona"

Baekhyun duduk menunggu pesanannya, mengecek ponselnya sesekali siapa tahu lelaki itu mencoba menelponnya atau sekedar memberi pesan singkat sebagai kabar tapi hasilnya nihil, tidak ada pemberitahuan apapun dari lelaki itu.

Lonceng diatas pintu berbunyi menadakan ada seseorang yang masuk kedalam toko, seorang wanita berbaju pink bersama dengan lelaki jangkung bertelinga lebar, bermata bulat dan bernama Park Chanyeol. Baekhyun tersenyum miring ketika tangan yang dikatakan siswi itu patah nyatanya baik-baik saja digandeng perempuan itu, Chanyeol juga sepertinya sehat lahir batin.

"Nona Baekhyun pesanan anda" Kasir disana memanggil dengan kotak putih berpita merah yang siap dia bawa.

"Baekhyun" Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya bahwa seseorang yang sekarang sedang berdiri dikasir adalah gurunya.

"Kau mengenalnya?" Tanya perempuan itu

"Hey sayang" Baekhyun menghampiri Chanyeol dengan tersenyum ramah, dia juga memberi salam pada perempuan disamping Chanyeol.

"Sayang?"

"Hallo, aku Byun Baekhyun kekasih Chanyeol" Baekhyun mengulurkan tangannya dan disambut dengan cepat.

"Do Kyungsoo, adik sepupunya orang ini"

Kyungsoo yang menyadari jika tangan kirinya masih melingkar dilengan kanan Chanyeol langsung melepasnya dengan cepat, dia merasa tidak enak jika nanti Baekhyun salah paham walau pada awalnya Baekhyun memang sudah salah paham.

"Ah Chan, kalau begitu aku akan pulang naik taksi saja"

"Tapi Kyung"

"Tidak masalah, aku rasa kalian butuh waktu"

Kyungsoo pamit setelah memegang kotak rotinya dari kasir, dia merasakan atmosfer tidak bersahabat dari Baekhyun. Mata Chanyeol menatap meminta ampun pada Baekhyun, dia tidak berbohong tentang tadi pagi bahwa dia memang sakit walaupun hanya demam biasa.

"Baekhyun"

"Sopan sedikit, aku ini gurumu" Baekhyun berlalu dari sana, dia kesal setengah mati sekarang, merasa dibohongi dan dibodohi oleh siidiot Park Chanyeol.

Chanyeol menahan tangan Baekhyun, menariknya masuk kedalam mobil miliknya terparkir disana. Chanyeol perlu menjelaskan sesuatu pada kekasih kecilnya ini, ah tidak! Baekhyun lebih tua darinya tapi badannya tidak lebih tinggi dari bahu chanyeol.

"Aku benar-benar sakit tadi pagi, aku demam"

"Ku kira tanganmu patah"

"Kai yang bilang begitu?" Baekhyun tidak menjawab, dia hanya memandangi kotak roti yang tadi dia pesan, dia sudah baik hari membawakan itu sebagai sopan santunnya menengok Chanyeol tapi yang dia lihat chanyeol malah berada ditoko roti bersama perempuan, ya walau dia tahu itu sepupunya.

"Kai cemburu karena Kyungsoo menyuapiku sup tadi pagi, dia bilang tanganku patah karena tidak bisa makan sendiri"

"Baguslah"

"Kau ini kenapa?"

"Kenapa? Chanyeol tadi pagi kau bilang sakit parah dan tidak bisa berangkat kesekolah, aku mendengar semua orang disekolah bilang bahwa tanganmu patah, aku tidak berkonsentrasi bekerja dan aku memutuskan pulang untuk melihat keadaanmu, tapi yang aku lihat kau malah didalam toko roti bersama perempuan"

"Kau berlebihan Baek, lagi pula Kyungsoo sudah bilangkan dia sepupuku"

Chanyeol terpancing emosi, dia membanting setir ke arah kanan, menghentikan mobilnya disisi trotoar. Dia memang marah tapi setidaknya dia masih punya akal untuk tidak menyetir dalam keadaan emosi seperti ini. Lagi pula Baekhyun itu berlebihan, dia terlalu kekanakan untuk umurnya yang hampir menginjak 28 tahun.

"A-aku turun disini" Baekhyun membuka pintu mobil tapi Chanyeol menariknya kembali kedalam dan mengunci pintu, dia tidak suka jika ada masalah dibiarkan menggantung seperti ini.

"Baiklah aku salah, puas!" Chanyeol berteriak, dia bukan lelaki sabaran sebenarnya. Baekhyun tidak menjawab hanya diam menunduk dengan badan bergetar, suara isakan kecil terdengar oleh Chanyeol dan dia tahu Baekhyun menangis.

"Kau benar, aku berlebihan Chan. Tapi mau bagaimana? Aku khawatir. Dengan kebiasaanmu balapan dan berkelahi kemungkinan apa yang dibicarakan mereka disekolah itu benar, kau bilang kau sakit dan aku tidak bisa diam saja sampai mendengar kau sembuh" Baekhyun mencoba menghentikan tangisnya tapi tidak bisa, mata sipitnya memerah karena air mata yang terus mengalir

"Aku ini kekasihmu Chan, benar? Apa aku salah mengkhawatirkan kekasihku? Atau kau hanya mempermainkanku?"

Chanyeol menarik Baekhyun kedalam pelukannya, dia tidak mau melihat Baekhyun menangis lagi apalagi karena dirinya yang memang brengsek, dia tidak pernah memperainkan Baekhyun dia hanya tidak ingin Baekhyun khawatir berlebihan atau memang dia tidak mau Baekhyun khawatir.

"Maafkan aku, sungguh maafkan aku"

Mereka tetap diam seperti itu mencoba menenangkan dirinya masing-masing.

.

.

"Rumahmu rapih Chan" Baekhyun menatap beberapa foto yang terpajang disana, ada banyak foto Chanyeol dan kakaknya yang tampak seperti Chanyeol versi wanita, ada foto Chanyeol dan Kyungsoo juga disana saat mereka kecil dan Baekhyun sekarang tambah yakin jika mereka memang saudara sepupu.

"Aku tidak suka yang berantakan, ini jusmu" Chanyeol meletakkan dua gelas jus dan setoples kue kering dimeja.

"Terimakasih" Baekhyun duduk disana menikmati jus dan kuenya sementara Chanyeol menyiapkan film untuk mereka tonton. Setelah kejadian pertengkaran kecil dimobil tempo hari mereka semakin dekat, mulai terbuka satu sama lain tentang hal kecil sekalipun.

"Tidak ada film bagus, aku yakin kau sudah menonton semuanya" Baekhyun melihat beberapa keping CD yang dibawa chanyeol, ya dan Baekhyun sudah menontonnya beberapa kali.

"Apa kita pergi kebioskop saja?" Baekhyun menggeleng menolak ajakan Chanyeol, dia terlalu malah keluar rumah ditengah akhir pekan, akan begitu banyak orang dan Baekhyun tidak suka berdesakkan.

"Tidak perlu, kita bisa menonton dari laptop. Ada banyak film baru diinternet"

Mencari beberapa rekomendasi film yang sepertinya bagus sebelum panggilan video dari Kai mengganggunya. Kenapa sisialan ini menggangggu akhir pekannya?

"Ada apa?" Chanyeol bertanya dengan tidak sabaran.

"Sabar dude, marah sekali" Baekhyun tertangkap lensa kamera, membuat Kai tersenyum miring. "Pantas saja marah. Hallo Miss Byun"

"Hallo Kai" Baekhyun melambaikan tangannya

"Ck, cepat katakan ada apa?"

"Sabar telinga layar, aku hanya ingin bilang latihan band hari ini dibatalkan saja. Kau pasti senangkan?" Kai menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Chanyeol. Tentu saja Chanyeol senang akhirnya dia punya waktu banyak bersama Baekhyun, walaupun sebelum Kai menyampaikan itu dia berniat membatalkan pertemuan mereka.

"Biasa saja. Kenapa tiba-tiba dibatalkan?"

"Dia terlalu lelah untuk bermain gitar" Kamera Kai mengarah pada seseorang yang tidur disampingnya, pundaknya terlihat jelas tanpa busana.

"Kau dan Sehun? Gila"

"Kau dan Baekhyun saja aku biasa"

"Kalian laki-laki"

"Cinta itu tidak memandang apapun,tampan. Selama nikmat ya jalani saja" Ucap Sehun yang tiba-tiba bangun lalu memeluk Kai dan dibalas dengan kecupan dikening Sehun. Chanyeol mengernyit Jijik melihatnya.

"Kai hebat diranjang, Yeol."

"Omong kosong, aku lebih hebat"

"Buktikan saja. Miss Byun tolong ceritakan padaku tentang pengalamanmu nanti"

Baekhyun tersedak jus yang sedang diminumnya, Chanyeol mengusap punggung Baekhyun entah untuk apa. Baekhyun tentu saja paham apa yang dimaksud Sehun, umurnya sudah 28 tahun dan jelas ini berhubungan dengan hal berbau ranjang.

"Aku pastikan untuk menendang bokong kalian"

"Ya terserah" Kai akan menutup sambungan mereka tapi Sehun menahannya.

"Miss Byun, Kau lihat ini?" Sehun menunjukkan tanda kemerahan disepanjang garis lehernya hingga dada, jelas Baekhyun tahu itu. "Kai yang membuatnya, aku hampir pingsan semalam"

"Ya Oh Sehun"

"Benarkah?" Baekhyun bertanya tidak percaya "Aku kira Kai memang hebat"

"Hey" Chanyeol berang ketika dia memuji Kai, dia hanya belum tahu betapa hebatnya Chanyeol dan Baekhyun tidak perlu mengira masalah itu, dia bisa langsung mempraktekkannya.

"Sialan" Chanyeol menutup laptop dengan kasar, tidak peduli apakah dua orang gila disana marah atau malah mentertawakannya.

"Baekhyun!"

"Apa?"

"Apa maksudnya itu?"

"Melihat Sehun yang tidak bisa berlatih band aku rasa Kai memang hebat, aku jadi menginginkannya"

Chanyeol mencengkram bahu Baekhyun cukup keras tapi Baekhyun sama sekali tidak bergeming, dia tetap diam memandang Chanyeol seolah menantang lelaki itu untuk berbuat lebih jauh.

"Akan aku buktikan jika aku lebih baik"

"Coba saja"

Bibir Baekhyun dilumat dengan tidak sabar oleh Chanyeol, Baekhyun bahkan terkejut ketika Chanyeol menggigit dan bermain dengan bibirnya. Baekhyun memang sengaja menantang Chanyeol agar berbuat lebih jauh, sekali lagi Baekhyun katakan jika dia adalah gadis 28 tahun, normal, suka pria tampan dan bukan wanita polos.

"Kau lihat" Chanyeol bangga karena Baekhyun terengah-engah ketika ciuman mereka berakhir.

"Ya lumayan"

"Lumayan?" Chanyeol menaikan sebelah alisnya, sepertinya Baekhyun sedang mengujinya, haruskah Chanyeol ingatkan pada Baekhyun bahwa pekan ujian masih lama?

Baekhyun mencondongkan tubuhnya, berbisik pada telinga kiri Chanyeol dengan sedikit tiupan napas diujung kalimat.

"Aku akan percaya jika kau melakukan hal yang sama seperti Kai"

Tangan mereka saling menjelajah setiap inchi lawan main, bibir yang bertaut menciptakan suara kecipak yang menambah kesan panas diruang tengah rumah Chanyeol. Berlahan bibir Chanyeol berpindah keleher Baekhyun, meninggalkan jejak yang menurutnya lebih indah dibanding yang diciptakan Kai untuk Sehun.

"Chan" Baekhyun mendesah diujung kalimat, dia benar-benar terbuai dengan apapun yang dilakukan Chanyeol padanya. Kelembutan saat Chanyeol memulai semuanya tapi Baekhyun tahu Chanyeol bukan tipe orang seperti itu.

"Jangan ditahan aku mohon, keluarkan apapun yang ada pada dirimu"

"Kau yakin?" Chanyeol menatap mata Baekhyun mencari keraguan dimata gurunya itu

"Aku milikmu"

Sedikitnya mungkin Baekhyun menyesal mengatakan jika dia menyerahkan dirinya pada Chanyeol dan meminta Chanyeol berlaku seperti bagaiaman dirinya, sentuhan Chanyeol memang kasar tapi memabukkan, Baekhyun menyukainya sangat menyukainya. Puncak telah diujung kepala, membuat Baekhyun menarik Chanyeol kedalam pelukannya untuk menikmati ini bersama.

"Ba-bagaimana?" Chanyeol bertanya tersenggal, ini melelahkan dan juga menyenangkan.

"Luar biasa, aku akui"

"Jadi?"

"Apa?"

"Aku atau Kai?" Baekhyun mendekat kesisi telinga Chanyeol membisikkan sesuatu yang membuat Chanyeol membawanya dan mengurungnya dikamar bersama.

"aku tidak tahu bagaimana Kai, boleh aku mencobanya?"

"Aku pastikan kau puas hanya dengan diriku.