Bagaimana apabila Nara Shikazu berada di Tim 7 dan bukanya Sakura?

Declaimer at Masashi Kishomoto

Murni untuk kesenangan pribadi

Nara Shikazu The Cursed Girl

Nara Shikazu adalah adik dari Nara Shikamaru. Dibandingkan dengan teman-teman genin seperjuangannya, dia adalah yang termuda. Dua tahun 7 bulan lebih muda daripada Shikamaru.

Tak seperti kawan-kawannya lainnya, walaupun dia dilahirkan di keluarga ninja, proses kelahirannya dahulu mengalami kendala yang menyebabkan kelahirannya tak senormal seperti bayi pada umumnya. Istri Nara Shikaku kehilangan banyak cakranya pasca kejadian kyuubi menyerang konoha, tepatnya saat Naruto dilahirkan.

Cakra Ibu Shikazu tak lantas kembali dalam waktu cepat dan membawa efek pada masa kehamilan dan kelahiran Shikazu.

Tampak seorang bayi perempuan manis berambut coklat sama seperti keluarganya yang lahir di kediaman Nara Shikaku. Beberapa dokter ninja yang diundang untuk membantu proses kelahiran tersebut tampak mengusap peluh pasca proses persalinan. Namun, selang satu menit bayi itu lahir di dunia, ia tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali. Nara Shikaku mulai panik. Bayi perempuannya tak kunjung menangis dan membuka matanya. Begitu pula dengan dokter medis yang ada di situ.

Sang Ibu mulai terisak. Bayi yang diperjuangkannya tak mungkin tak selamat. Nafasnya semakin terengah-engah dengan benak yang mulai meragukan aura kehidupan pada bayi perempuannya.

Sontak saja, dokter medis beraksi. Dipompanya jantung si bayi dengan jurus medisnya, namun tak menunjukkan hasil. Nara Shikaku memutar otaknya, menganalisa apa yang terjadi pada bayinya sekarang. Tak dipungkiri, raut takut dan khawatir menghiasi wajahnya. Sang istri lebih parah lagi. Tangannya mendekap mulutnya demi menahan isak tangis yang sudah sedari tadi tersedu-sedu.

Nara Shikamaru termenung di depan pintu, melihat di antara celah pintu apa yang terjadi dengan calon adiknya. Tak mungkin persalinan itu berlansung selama ini. Lantas ia mendekat. Dengan sumber penglihatan yang ada, ia bisa melihat bagaimana ibunya menangis dan ayahya dengan wajah takutnya memegangi wajahnya tampak berpikir keras.

Matanya menatap horor kala ibunya berteriak tak mampu lagi menahan emosinya.

Di saat itulah, dua orang tua yang tampaknya juga berasal dari klan Nara menerobos masuk. Shikamaru kecil sempat terdorong oleh salah satunya dan mulai bangkit untuk mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan. Ia lantas mencari tempat pojok untuk mengamati apa yang terjadi tanpa ikut campur kekacauan di dalamnya. Dalam benaknya hanya ada satu, apa yang terjadi pada adiknya?

Tak lama kemudian, tampak Akimichi Chouza dan Yamanaka Inoichi turut hadir dan bergabung dalam kekacauan itu.

Salah satu dari dua tetua klan Nara itu keluar ruangan bersama Yamanaka Inoichi. Tampak kedua raut orang itu begitu khawatir dan terburu-buru. Hal itu saja cukup membuat Nara Shikamaru yakin, adiknya sedang dalam bahaya. Ia bisa melihat sosok mungil yang diliputi cahaya cakra hijau sang dokter medis, namun bayi itu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti tangisan yang umumnya terjadi ketika bayi baru lahir.

Setengah jam kemudian, ia melihat paman Inoichi membawa sekantung penuh bunga berwarna ungu delima dan salah satu tetua klan Nara tadi membawakan tanduk rusa. Deberikannya tanduk rusa dan beberapa tangkai bunga tadi kepada dokter. Lantas, ia melihat ayahnya mengeluarkan cakranya langsung dihadapkan pada tubuh adiknya. Dua tetua klan Nara itu ikut membantu. Dokter medis tersebut lalu memberikan obat untuk diminumkan pada adik bayinya.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ia, dengan pendengarannya yang masih jelas, mendengar suara tangisan bayi yang paling indah yang pernah ia dengar. Suara itu mengangkat seluruh ketakutan yang dirasakannya sejak tadi dan ia bisa melihat tangisan ibunya yang beraduk lega dan bahagia.

Adiknya hidup dan ia yakin hal itu ada hubungannya dengan bunga ungu, tanduk rusa, dan cakra yang dikeluarkan keluarganya. Pun, sosok adiknya tak lagi mirip dengan kebanyakan klan Nara pada umumnya.

Rambut dan matanya berwarna magenta.

()()()()()()()()

Kejanggalan mulai dirasakan Shikamaru lima tahun kemudian, saat mereka bermain di hutan Nara ditemani ayah mereka untuk pengenalan jutsu keluaga mereka. Nara Shikaku mengajarkan kedua anaknya teknik dasar pengendalian cakra dan jurus klan Nara. Kejeniusan klan Nara yang terkenal itu membuat Shikamaru tak kesulitan mempraktekkan setiap arahan dari sang ayah. Walaupun cakranya tak mampu menahan jutsunya se-lama ayahnya, setidaknya ia mampu mengeluarkan bayangan yang berhasil membekukan Nara Shikaku di tempatnya.

Ditengoknya adiknya yang memperhatikan ayahnya dengan serius. Mata itu berkilau penuh konsentrasi, mencerna setiap kata yang dilontarkan ayah mereka. Ia tersenyum, adiknya pasti juga bisa melakukannya.

Kedua tangan mungil yang lebih muda dua―hampir tiga― tahun darinya itu mulai membentuk jurus. Matanya fokus menatap korban di depannya. Dilihatnya bayangan adiknya, menanti akan bergeraknya bayangan itu menuju ayah mereka.

Namun, selang beberapa lama, bayangan itu masih membentuk sosok adiknya. Tak berubah sedikitpun apalagi bergerak. Dilihatnya adiknya kembali mencoba ―dengan beberapa arahan dari ayah mereka―, namun alhasil, masih tetap sama.

Ada yang aneh, pikir Shikamaru.

Ia yakin benar, adiknya ini belajar dengan cepat. Bahkan ia tak butuh waktu seharian untuk menjelaskan cara bermain shogi maupun permainan teka-teka lainnya untuk adiknya mempelajarinya. Tapi, mengapa kali ini…

Sesuatu aneh.

"Kita sudahi saja dahulu, mungkin Shikazu masih terlalu muda."

Ia bisa merasakan ada yang disembunyikan ayahnya. Apapun itu, ia hanya bisa berharap mungkin saja yang dikatakan ayahnya benar.

()()()()()()()()

Salah. Apa yang dikatakan ayahnya salah. Ini bukan karena usia Shikazu yang waktu itu masih terlalu muda, namun memang ada yang salah pada tubuhnya.

"Perkenalkan, dia adalah Nara Shikazu. Berdasarkan hasil tes kalian dan musyawarah para sensei, tidak ada yang bisa menempati kekurangan di kelas ini," kata Iruka-sensei di depan kelas. Di sampingnya, adiknya menatap seluruh anggota kelas itu dengan tatapan polosnya. "Maka, kami memutuskan untuk mengambil anggota lain dari kelas lain."

Semua mata tertuju pada Shikazu. Iruka memberinya senyuman. "Selamat, Nara Shikazu, kau berada di kelas ini mulai sekarang."

Kali ini Shikamaru berusia 12 tahun, usia yang tepat mendaftarkan diri pada ujian Chunin. Berdasarkan kekhawatiran keluarga, dimasukkannya Nara Shikazu di tahun yang sama dengan Nara Shikamaru dengan dalih agar Shikamaru dapat mengawasi Shikazu di waktu bersamaan. Jadi, ia tak yakin juga dengan apa yang dikatakan Iruka-sensei, pun ia yakin alasan Iruka-sensei lebih masuk akal. Memang tak masalah baginya, tapi di usia Shikazu yang berbeda dengannya dan teman seangkatannya, kemungkinan adiknya bisa mengejar kawan-kawannya, kecil.

Bahkan hingga sekarang, adiknya itu masih belum mampu mengeluarkan jurus bayangan keluarga mereka.

Apakah bunga dan warna rambut itu mempengaruhi kemampuannya?

Ia berharap adiknya itu tak berkecil hati. Dan ia ingin percaya bahwa adiknya bisa. Ia pintar dan cerdas. Shikamaru tahu karena ia yang selalu mengawasinya selama ini.

Mata ungu-magenta itu kembali menatap kelas, mengabsen satu persatu wajah di sana, termasuk wajah-wajah yang dikenalinya. Kemudian, ia membungkuk.

"Watashi wa Nara Shikazu desu. Yoroshiku onegaishimasu."

()()()()()()()()

"Aku sampai duluan!" teriakan gadis berambut pirang panjang itu menggema di ruang kelas.

"Hei! Tapi tanganku masuk kelas duluan, Ino." balas Shikazu. Pemandangan biasa di kelas Shikamaru di setiap paginya. Dua cewek itu tak pernah berhenti bersaing.

"Shikazu-chan! Kuberi tahu ya, dimanapun pemenang akan dianggap menang apabila kakinya sampai duluan."

Shikazu kesal, pipinya menggembung kesal. Ia tahu Ino benar, tapi ia tak ingin mengalah.

"Tapi kan―"

"SASUKE-KYUUUUUNNN!"

"KYAAA! SASUKE-KUUN!"

Kalimatnya terpotong oleh teriakan Ino dan siswi-siswi lainnya di kelas itu kala kedatangan seorang laki-laki dari pintu masuk sisi kelas yang lain. Siswi-siswi bagai terbuai pesona siswa laki-laki tersebut hingga dia duduk pun mendapat teriakan histeris fansgirl-nya.

Dua keturunan Nara itu dan siswa-siswa lainnya hanya bisa sweatdrop. Seorang anak laki-laki berambut pirang kentara sekali kekesalannya, Naruto.

Ini lah kebiasaan mereka sehari-hari.

Yang membedakan adalah materi pelajaran hari itu. Iruka-sensei akan memberikan pengumuman yang sudah ditunggu-tunggu semua siswa. Yaah, mungkin tidak semuanya.

"Apa memang kita harus melakukan ini?" gumam Chouji, kawan Shikamaru.

"Ini harus, Chouji. Kita tak selamanya berada dalam satu kelas. Bukannya asyik kalau salah satu dari kita bisa satu tim dengan Sasuke-kun?" balas seorang siswi berambut pink yang duduk di samping Chouji.

"Mendokusai." komen Shikamaru singkat.

"Anak-anak, hari ini Sensei akan mengumumkan nama-nama tim kalian. Satu tim terdiri dari 3 orang dan setelah ini kalian akan berlatih dengan guru kalian masing-masing untuk mendapatkan misi pertama kalian, juga sebagai ajang latihan sebelum menghadapi ujian Chunin." jelas Iruka-sensei.

"Yaaayyy! Aku harap aku bisa bersama Sasuke-kun."

"Bermimpilah, Jidat. Sasuke-kun tidak akan mau satu tim denganmu."

"Kau juga bermimpi sajalah Ino-pig."

"Dengan siapapun tak masalah, asal bukan pembuat onar berambut pirang itu."

"Oi Kiba! Apa menurutmu kita akan satu tim?"

"Aku tak tahu. Tapi itu pasti keren sekali."

Mendengar ocehan teman-teman sekelasnya, Shikamaru tak terlalu ambil pusing. Karena dalam hati ia sudah tahu dengan siapa ia akan satu tim. Terimakasih untuk ayahnya dan kedua sahabatnya yang membuatnya tak akan pernah bisa jauh-jauh dengan klan Akimichi dan klan Yamanaka.

"Tim 8, Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba, dan Aburame Shino." kata Iruka-Sensei.

Yang ia khawatirkan adalah sosok yang duduk di depannya. Adiknya ini akan se-tim dengan siapa?

"Tim 10, Nara Shikamaru, Yamanaka Ino, dan Akimichi Chouji."

Apa teman satu tim adiknya akan bisa depercaya? Apa mereka cukup kuat untuk melindungi adiknya?

"Tim 6, Shimura Yue, Haruno Sakura, dan Kouga Naru."

Yang terpenting, apa rekan se-tim adiknya bisa menerima keadaannya?"

"Dan Tim 7, Nara Shikazu…"

Telinga Shikamaru fokus mendengarkan.

"Uzumaki Narut―"

"YAY! Kita satu tim Shikazu-chan." teriak Naruto antusias, mengundang kejengkelan Iruka-sensei.

"Naruto! Itu tidak sopan," bisik Shikazu.

"Hehe, gomen Shikazu-chan."

Melihat interaksi keduanya, Shikamaru hanya bisa berharap Naruto akan menjadi kawan yang dibutuhkan Shikazu. Dan satu nama yang lolos seleksi namun belum dipanggil dari tadi adalah…

"Dan terakhir Uchiha Sasuke," lanjut Iruka-sensei.

Sudah ia duga.

"IIIIAAA DA! Kenapa dia se-tim denganku? Iruka-sensei! Kenapa anak itu bisa masuk tim-ku?" protes Naruto.

"Benar Sensei! Kenapa Sasuke-kun tidak se-tim denganku?"

"Aku ingin masuk tim-nya Sasuke-kun. Sensei! Tolong pikirkan ulang." Dan rengekan itu diikuti rengekan-rengekan lainnya, terutama kaum hawa yang masih belum menerima kenyataan bahwa idolanya itu tak satu tim dengan mereka. Ia yakin mereka telah melakukan ritual dan doa sebelum hari ini.

"Keputusan ini berdasarkan tingkat kemampuan kalian baik dalam tes ninjutsu, taijutsu, genjutsu, teknik, serta kemampuan berpikir setiap individu." Iruka-sensei menutup catatannya. "Baiklah! Tidak ada yang akan dirubah. Setelah ini Sensei akan membagikan detail nama Sensei tim kalian masing-masing dan mulai sekarang, kalian akan berlatih dengan mereka. Selamat!"

Dan terdengarlah suara desahan pasrah anak-anak lain itu, termasuk gadis Yamanaka yang juga duduk di sampingnya. "Tuh kan, mana mungkin aku bisa satu tim dengan Sasuke-kun. Huft!"

Untuk ini dia bisa cuek.

"Iruka-sensei! Kenapa kau tega sekali padaku?"

Iruka-sensei mendesah. Ia lelah mendengar rengekan murid, yang jujur saja, adalah kesayangannya itu. "Naruto! Bagaiman kalau kita tanyakan persetujuan anggota timmu yang lain?" Iruka-sensei menatap Shikazu. "Nara Shikazu! Apa kau keberatan Uchiha Sasuke berada di timmu?"

Ditatapnya adiknya dari belakang, tampak wajah polosnya. Namun ia tahu benar, mata itu tengah berkilat menganalisa, menimang-nimang setiap detail keuntungan dan kerugian yang mungkin akan ia dapatkan. "Menurutku tidak ada masalah," jawabnya.

"Shikazu-chaaann! Kau juga teganyaa!" rengek Naruto yang hanya dibalas senyuman dari Shikazu.

"Kalau kau, Uchiha Sasuke?" tanya Iruka-sensei.

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menjadi ninja yang kuat," jawabnya singkat tanpa menghiraukan ocehan Naruto.

"Dasar Temeee!"

"Daijoubu yo, Naruto-kun." Shikazu menenangkan sebelum anak laki-laki aktif itu melakukan sesuatu tak terduga.

"Baiklah! Selesai untuk pertemuan ini. Selamat menghadapi ujian Chunin!"

Dengan berlalunya Iruka-sensei, setidaknya ia yakin satu anggota Tim 7 bisa diharapkan untuk melindungi adiknya.

Namun, dia tetap harus mengawasi mereka berdua. Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Pun ia tak yakin kedua bocah itu menyadari tatapan ancaman yang ia berikan, karena memang tak ada satupun di kelas ini yang mengetahui ia dan Shikazu adalah saudara kandung―selain Ino dan Chouji― atau setidaknya pura-pura tak tahu mengingat tak ada satupun dari mereka yang menanyakan identitas ke-saudaraan mereka.

Tapi, kalau mereka bisa jeli, pasti akan segera menyadarinya, hal yang mungkin bisa ia duga dari si jenius Uchiha.

()()()()()()()()

Menjadi yang termuda membuatnya terpaksa berpikir lebih keras, seperti sekarang ini, duduk di tempat pertemuan mereka pertama dengan Kakashi-sensei sebagai pembukaan.

"Nah, aku ingin kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing, hal-hal yang disukai, hal-hal yang tidak disukai, dan tujuan kalian menjadi ninja." Kakashi-sensei berfokus pada Naruto. "Kau, bocah! Kau duluan."

"HEYY! Aku bukan bocah," bantah Naruto dengan gaya khasnya. Di samping kirinya Sasuke duduk dengan bertumpu pada punggung tangannya dengan gaya cool-nya. Shikazu mengamati kawannya baik-baik.

"Namaku Naruto, Uzumaki Naruto. Tujuanku menjadi ninja adalah aku ingin menjadi hokage yang terkuat agar orang lain mengakuiku. Hal yang kusukai adalah ramen. Aku juga suka dengan Shikazu," Naruto menoleh ke arah Shikazu dengan cengirannya.

"Kenapa?" yang dibalas Shikazu dengan wajah polosnya.

"Karena Shikazu baik," jawab Naruto percaya diri. Shikazu senang mendengarnya.

"Dan hal yang tidak kusukai adalah," kali ini Naruto melirik Sasuke dengan tatapan yang kontras sekali dengan yang ia berikan pada Shikazu. Yang ditatapnya tampaknya sadar namun tak menggubris Naruto. Tanpa perlu diperjelas, Kakashi-sensei faham apa yang dimaksud Naruto.

Persaingan anak muda. Itu hal biasa.

Interaksi tersebut tentu tak luput dari pengamatan Shikazu.

"Baik. Selanjutnya, kau gadis manis," lanjut Kakashi.

Shikazu mempersiapkan diri. "Namaku Nara Shikazu. Hal yang kusuka adalah...," tampak Shikazu yang tak tahu pasti apa yang dia sukai. "Bermain shogi? Bermain dengan rusa-rusa di hutan Nara? Hmm… apa lagi ya?"

Sejujurnya, ia tak pernah terlalu memikirkan hal-hal―yang menurut kakaknya― sepele seperti ini.

"Mungkin ramen? Ramen juga enak kok," lanjutnya sambil mendelik ke arah Naruto yang diikuti dengan pekikan senang Naruto.

"Suatu hari aku akan mentraktirmu ramen, Shikazu." Dan mereka pun tertawa bersama.

"Oi, Naruto! Dia belum selesai," potong Kakashi. "Shikazu! Kau boleh melanjutkan."

"Ha'i! Hal yang tidak kusukai adalah ketika aku tidak memahami sesuatu." Tampak alis Shikazu berkerut tengah berpikir keras. "Ya, aku yakin itu hal yang tak kusukai."

Ia kembali menatap ke depan.

"Sementara tujuanku menjadi ninja adalah secara spesifik aku tidak ingin menjadi Hokage seperti Naruto atau kunoichi terkuat. Aku hanya tidak ingin terus-menerus merepotkan Oniichan, jadi aku harus kuat untuk bisa melindungi diriku," jawabnya diikuti senyum. Kakashi ikut tersenyum mendengarnya. Jawaban yang sangat jujur, ia suka.

"Selanjutnya, kau!" perintah Kakashi pada Sasuke.

"Namaku Uchiha Sasuke. Hal yang kusukai, tidak ada. Hal yang tidak kusukai ada banyak."

Naruto mengeryit mendengarnya. Pasti ia termasuk di dalamnya, pikirnya.

"Aku menjadi ninja karena ada seseorang yang harus kukalahkan."

Suasana hening.

"Akan kubalaskan dendamku."

Seketika hawa berubah dingin. Tampak Naruto yang terpaku, tidak menyangka hal seperti itu ada di benak Sasuke. Menjadi ninja untuk balas dendam?

Sementara di depan mereka, Kakashi tampak mengetahui maksud di balik ucapan Sasuke juga apa yang menyebabkan Sasuke mengatakannya. Jangan pernah remehkan ninja senior dengan segala pengetahuan mereka.

"Hei! Kita tak pernah diajari untuk balas dendam saat menjadi ninja di akademi," sahut Shikazu tiba-tiba. Lantas saja mendapat delikan dari Sasuke.

Shikazu tak menggubris. Ia menoleh ke Kakashi. "Sensei! Apa kau akan mengajarinya untuk balas dendam? Bukankah itu hanya akan merugikan saja?"

Benar. Kakaknya selalu tak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Lalu kenapa ada seseorang yang ingin repot-repot balas dendam? Bukankah itu perbuatan tak baik?

"Memang tidak sebaiknya kita balas dendam. Tapi, aku hanya ditugaskan untuk mendidik kalian menjadi ninja sebelum menjadi Jounin." Ia menghela nafas. "Kita lanjutkan saja perkenalan kita. Namaku Hatake Kakashi. Hal yang kusuka adalah membaca buku. Hal yang tidak kusuka adalah ketika orang lain mengangguku membca buku. Dan tujuanku menjadi ninja…hmm… itu tak terlalu penting."

Yang lain sweatdrop. Namun, suasana menjadi lebih cair.

"Hei! Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Kau seharusnya menjadi contoh yang baik Sensei!" teriak Naruto tak suka dengan jawaban Kakashi. Dari samping, Shikazu mengangguk menyetujui ucapan Naruto.

"Iya, benar."

"Pelajaran pertama akan kuberikan besok di lapangan. Kalian harus datang pukul 06.00 pagi atau kalian tidak boleh memakan bekal kalian." Ia tak menghiraukan Naruto.

Dengan diikuti senyum menyebalkannya, Kakashi menghilang dalam asap.

Phuff

Menyebalkan, bukan?

"Sensei sialan! Sensei macam apa tadi? Kita disuruh datang jam 06.00 pagi? Bagaimana bisa?" gerutu Naruto. "Sepertinya aku tidak bisa bergadang malam ini. Huaaaa!" rengeknya.

Di tengah suara berisik Naruto, Shikazu hanya mengamati tempat menghilangnya Kakashi tadi. Pelajaran pertama, datang di pagi hari dan tak boleh terlambat. Pelajaran stamina kah?

Ia menggeleng, ia tak tahu. Ia akan tahu besok.

Perhatiannya kini teralihkan pada kedua temannya. Ada beberapa pertanyaan yang mengganggu benaknya sedari tadi. Kini ia punya tim baru. Tak lagi bersama kakaknya belajar di akademi. Ia tak akan lagi bisa bergantung pada keberadaan kakaknya. Benar-benar kesempatan untuk mengembangkan diri.

Ia akui, ia pintar di kelas, namun dari segi ninjutsu nilainya tak jauh beda dengan Naruto, tapi kenapa ia ditempatkan di tim ini? Apa yang membuat keberadaannya bisa menyeimbangkan tim ini?

Dan lagi, keinginan Naruto ingin menjadi Hokage, sosok yang diakui, kenapa baginya terdengar aneh? Lalu, satu anggota timnya yang lain, sosok tampan yang menjadi pujaan setiap gadis di akademi itu, kenapa ia bisa berfikir untuk balas dendam? Kepada siapa ia akan balas dendam?

Kenapa semua jadi terdengar seperti cerita di buku-buku yang pernah ia baca?

Ia tak suka apabila ia tidak paham.

()()()()()()()()

Mereka sedang berada di hutan kematian, menghadapi musuh-musuh shinobi untuk saling memperebutkan gulungan ninja. Bagi tim yang berhasil mendapatkan minimal 2 gulungan, mereka berhasil lolos di tingkat selanjutnya.

Tim 7 tengah beristirahat memakan makan siang mereka di tepian sungai.

"Aku tidak setuju dengan ide ini. Membuat perapian tepat di pinggiran sungai, kita mau jadi korban?" tanya Shikazu.

"Tapi aku lapaar. Dan kalaupun ada yang menyerang kita, bukannya bagus. Kita akan saling berhadapan untuk saling memperebutkan gulungan itu." Naruto menyanggah.

"Baka! Kalau tim yang kita hadapi lebih kuat dari kita bagaimana? Selesai sudah perjalanan kita di sini."

"Jangan pesimis begitu, Shikazu-chan. Siapa tahu tim itu justru lebih lemah dari kita."

Shikazu menghela nafas. "Bagaimanapun juga, lain kali diskusikan denganku sebelum bertindak. Aku memang tak sekuat kalian, tapi aku berusaha berguna di tim ini."

"He he!"

"Kau juga Sasuke! Bagaimana bisa kau membiarkan dia bertindak seenaknya?"

Ninja yang sedari tadi diam itu menoleh ke arahnya, lantas berucap. "Kau lupa? Kau yang menyuruhku mencari binatang di hutan."

"Dan apa kau lupa? Kemampuanku tak sehandal dirimu. Apa kau membutuhkan waktu selama itu untuk mencarinya? Bukannya kau bisa mencari dengan mata saringgan-mu itu?" balas Shikazu. Tampaknya ia perlu mengawasi kedua temannya itu untuk tak bertindak lebih ceroboh dari ini.

Sasuke menatapnya tajam. "Apa yang kau tahu tentang mataku?"

Ada nada tak suka ketika pembahasan tentang mata itu dimunculkan. Lantas saja situasinya berubah dingin.

Shikazu sadar ada yang salah dengan ucapannya. "Aku tak tahu. Tapi aku tahu kalau mata itu berguna."

"Mata ini tidak digunakan untuk hal sepele seperti ini."

Satu-satunya ninja perempuan itu menghela nafas. Ia lantas mengambil duduk di sisi yang menhadap sungai. Naruto di samping kirinya berhap-hadapan dengan Sasuke yang berada di kanannya. "Aku melihatnya Sasuke. Dengan mata itu kau mampu melihat gerakan cepat lawan, bahkan menirukannya. Mata itu sungguh luar biasa."

Kali ini ia menatap Sasuke yang juga masih menatapnya. Tanpa terpengaruh, ia melanjutkan, "Bagaimana kau bisa memulai yang besar sebelum kau memulai yang kecil? Bukankah Kakashi-sensei pernah meminta kita memanjat pohon itu bukan tanpa alasan. Kalian tak akan mencapai puncak kalau kalian tak melewati bagian yang rendah."

"Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya?"

Naruto menyela, "Kalian, sudahlah! Kita tak seharusnya bertengkar. Mari kita pikirkan baik-baik apa yang harus kita lakukan sekarang. Oke? Shikazu? Teme?"

Shikazu tak menggubris Naruto. Ia berdiri dan mengambil duduk di samping Sasuke sambil menatap api dan sekali-kali memutar panggangan mereka. Sasuke tak menurunkan kecurigaannya. Naruto tanpa sadar juga ikut mendekat.

"Aku berasal dari klan Nara. Seharusnya aku sudah bisa menguasai jurus keluargaku sekarang ini. Bahkan yang paling dasarpun. Kakashi-sensei bilang, di antara kita bertiga, kemampuan mengendalikan cakraku adalah yang terbaik. Lalu, di saat ini, siapa di antara kita yang paling berguna pengendalian cakranya?"

Ia kembali menatap Sasuke lebih lembut dari sebelumnya. "Kau, dengan matamu itu setidaknya bisa menangkap hewan di hutan dengan cepat, mengawasi keadaan sekitar dengan cepat sehingga kita bisa bersiap melindungi diri." Ia menoleh kepada Naruto, tersenyum. "Dan Naruto bisa menggunakan jurus kagebunshin-nya untuk melawan mereka.

Naruto dan Sasuke terdiam.

"Aku bisa merasakan betapa kuatnya cakra Naruto waktu itu." Dari mimik wajah Naruto, tampaknya anak rumah itu tak ingat kejadian melawan Zabuza dulu. "Aku juga tahu betapa hebatnya mata yang dimiliki Sasuke. Kalian sama-sama kuat. Aku bersyukur bisa berada satu tim dengan kalian."

Ketegasan tampak di mata yang biasanya tampak polos itu. Keyakinan ia tunjukkan dalam kepalan tangannya. Lantas ia berdiri. "Tapi, aku tak mau mengaku kalah sebelum bertarung. Aku juga akan kuat seperti kalian. Ini masih karir pertamaku. Perjalanan kita masih panjang, aku ingin memanfaatkan apapun yang kupunya sekarang ini demi kita, demi kesuksesan kita. Aku juga akan sama kuat dengan kalian."

Dengan senyumnya, ia beranjak ke depan mereka, posisi duduk Naruto sebelumnya. "Jadi, kumohon untuk saling mempercayai dan bekerja sama. Onegaishimasu!"

Ia tahu ia masih anak-anak dibandingkan dengan kedua temannya. Ia tahu pemikirannya tak se-dewasa mereka. Tapi, ia akan belajar, menjadi ninja hebat juga menjadi sosok yang dewasa. Ia tak mau ketinggalan. Memang sebenarnya merepotkan. Ia tak tahu pasti kenapa, tapi ia ingin memperjuangkannya.

"Ha'i! Onegaishimasu, Shikazu-chan!"

Itu balasan Naruto. Pun, sosok satunya hanya terdiam, dari lengkungan di sudut bibirnya, ia rasa Sasuke punya pemikiran yang sama.

()()()()()()()()

Mereka terpisah dari Naruto. Beberapa ninja bisa memanfaatkan keadaan mereka untuk menyamar menjadi Naruto dan mengambil gulungan yang mereka punya. Sasuke dan Shikazu beristirahat di belakang pohon besar yang sangat rindang yang hanya bisa ditemukan musuh apabila mereka menemukan mereka dari arah depan dan atas. Tempat yang nyaman untuk berdiskusi.

"Dasar Dobe baka!"

"Apa Saringganmu tidak bisa menemukan keberadaan Naruto?" tanya Shikazu. Matanya berkeliling mengamati tempat persembunyian mereka. Anehnya, mata itu justru tampak berbinar daripada khawatir akan kehilangan salah satu teman mereka.

"Fungsi mata ini berbeda dengan mata Hyuuga. Kita harus memikirkan rencana baru. Kau punya rencana?" tanyanya dengan terus berfokus pada depannya mengawasi ada tidaknya musuh yang menemukan mereka.

Hening.

Merasa tak mendapat respon, ia menoleh ke belakang, hanya untuk mendapati Shikazu yang tampak bahagia bermain-main dengan beberapa kupu-kupu.

Apa yang dilakukannya, pikir Sasuke.

"Sasuke-kun, kemarilah!" perintah Shikazu sambil mendudukkan diri di samping bebungaan tempat kupu-kupu itu sebelumnya hinggap.

"Kita harus tetap terjaga."

"Tenangkan dirimu. Bukannya tempat ini cukup tak terlihat dari luar? Semakin kau mengawasi semakin mudah musuh menyadari keberadaan kita," balasnya, tangannya ia gerakkan seolah memberi isyarat Sasuke untuk mendekat.

Merasa ada benarnya, Sasuke melangkah ke arahnya setelah sebelumnya menaruh perangkap bom di sekitar pohon itu.

Ia pun duduk di samping Shikazu.

"Mendekatlah! Lihatlah!"

Shikazu mengepalkan kedua tangannya, atau lebih tepatnya tangannya tengah membungkus sesuatu. Diulurkan tangan itu mendekat kepada Sasuke.

"Perhatikan baik-baik ya, ini berbeda dengan yang lainnya," pintanya.

Sasuke mengerutkan alis. Perlahan, dibukanya kedua tangan itu sedikit demi sedikit hingga terlihat jelas apa yang ada di dalamnya.

"Kupu-kupu?"

"Lihat warnanya!" shikazu semakin lebar membuka tangannya hingga benar-benar terbuka. Membuat kesempatan kupu-kupu itu terbang.

Benar. Ada yang aneh dalam kupu-kupu itu. Bentuk sayapnya berbeda. Warnanya ketika mengatup tampak hijau, namun saat terbuka terlihat warna delima dan kuning keemasan, motifnya pun hampir membentuk hati.

"Kukira tadinya itu daun, habis dia nggak terbang sama yang lainnya." Ia tersenyum pada Sasuke sambil menunjuk kupu-kupu temuannya terbang, "Tapi lihatlah, indah bukan? Dia seolah tak dikenali, tapi nyatanya dia yang paling indah."

Ini non-sense, Sasuke tahu itu. Mereka tengah berada di dalam hutan kematinan dan kehilangan salah satu anggota tim mereka, tapi gadis itu―

"Shikazu! Dengar―"

"Maafkan aku! Aku tidak bisa berbuat banyak saat kita kehilangan Naruto tadi." Shikazu menunduk, tangannya bermain-main dengan bunga-bunga dan dedaunan di bawah mereka.

Sasuke mengepalkan tangannya. "Oleh karena itu, kita harus memikirkan sesuatu. Kalau kita saja sempat terkecoh dengan adanya tempat ini, bagaimana dengan si baka itu? Tidak mungkin kita menunggu dia untuk menemukan kita."

Hening kembali, hanya ada suara gesekan dedaunan yang ditimbulkan Shikazu.

"Kita harus keluar dan mencarinya."

Sasuke sudah akan beranjak sebelum suara Shikazu menghentikannya.

"Kita butuh istirahat."

Sasuke mendelik ke arahnya.

"Aku sudah membuat jejak tanda untuk diikuti Naruto. Jejak itu akan dikenali Naruto karena kita pernah memakainya dulu saat mencari kucing," kata Shikazu. Mata itu tampak yakin menantangnya.

"Kenapa kau tak mengatakannya?" tanya Sasuke kembali duduk.

"Gomen!" Shikazu lagi-lagi menunduk dan berkutat dengan daun-daunnya. "Kupikir Sasuke-kun tak akan sepanik ini."

Sasuke terdiam. Benar juga, ia seperti bukan dirinya sendiri begitu menginjakkan kaki di tempat persembunyian ini, bahkan mungkin sejak mereka kehilangan Naruto. Shikazu benar-benar observant.

Hening sempat tercipta di antara mereka hingga Shikazu kembali bersuara, menarik atensinya, "Aku selalu berpikir, sejak pertama aku dipindahkan ke kelas kalian dan juga sejak pertama kali kita ditempatkan dalam satu tim, Sasuke-kun kuat, Naruto-kun juga kuat." Ia mendongak menatap daun-daun pohon yang menari di atasnya. Mata itu tampak menerawang. "Lalu, apa posisiku di tim ini?"

Jadi, itu yang mengganggu pikirannya. Sasuke tak pernah berpikir hingga ke sana. Mungkin karena ia terlalu difokuskan dengan bagaimana mengalahkan Naruto dan mencapai cita-citanya.

Shikazu menoleh ke arahnya dengan senyum yang dipaksakan. "Kalian bisa lebih kuat tanpa diriku."

Yang kali ini ia tak merespon karena memang ia tak tahu harus merespon bagaimana. Ia paling tidak suka berurusan dengan perasaan.

"Kore―ini!" ia menyodorkan hasil buatan tangannya pada Sasuke. Sebuah mahkota yang terbuat dari rangkaian daun dan bunga. "Ino yang mengajariku membuatnya."

"Aku tidak mungkin memakainya."

"Bukankah keren? Seperti raja," balas Shikazu sedikit cemberut.

"Kenapa kau tak memakainya sendiri?" diraihnya mahkota itu dari tangan Shikazu dan memakaikannya di atas kepala gadis itu sendiri. "Seperti ratu, kau bisa membuat orang-orangmu menurutimu."

Ia dapat merasakan tatapan terkejut yang rekan setimnya berikan padanya. Entah apa yang dipikirkannya, ia tak tahu. Pada dasarnya, ia hanya berniat untuk merespon kalimat terakhir yang ditujukan kunoichi itu padanya.

Saatnya ia kembali fokus pada misi mereka.

"Kita tunggu di sini tiga puluh menit lagi. Kalau ternyata ia belum juga menampakkan batang hidungnya, kita akan mencarinya."

()()()()()()()()

Maafkeun atas typonya, italicnya, dll. Sungguh, fiksi ini hanya untuk kesenangan pribadi saja dan kejadian yang akan dibahas juga random, sesuai keinginan author.

Jadi warningnya! Update berdasarkan inspirasi.