I Have Changed, Now!
Disclaimer :Tokyo Ghoul by Sui Ishida
Genre : yang jelas Romace Action
Warning : AU, NTR, OOC (maybe), dll (kalo ada). Terdapat adegan kekerasan yang mungkin tidak boleh dibaca anak di bawah 13 tahun.
A/N : Di awal cerita ini, karakter Kaneki dan beberapa karakter yang seumuran Kaneki dalam Tokyo Ghoul saya buat seumuran anak kelas 1 SMA. Chapter satu ini sudah saya coba perbaiki. Tapi klo masih ada salah, maaf ya.
Pair : Kaneki x Rize, slight Rize x Nishio, slight Kaneki x ...(?)
Chapter 1
Saat ini, dua orang siswa dari salah satu SMA di Tokyo sedang singgah di sebuah kafe bernama Anteiku dalam perjalanan pulang dari sekolah mereka. Seorang siswa berambut putih yang biasa dipanggil Kaneki dan seorang lagi berambut pirang yang biasa dipanggil Hide.
"Kaneki, lihat! Bukankah gadis yang di sana itu sangat manis?" kata Hide sambil melirik seorang gadis pelayan berambut pendek yang sedang melayani tamu lain.
Kaneki yang sedang membaca novelnya menoleh ke arah gadis yang Hide maksud, lalu menoleh ke arah Hide.
"Hide, hati-hati! Aku pernah mendengar tentang seseorang yang dipenjara karena perbuatan asusila kepada seorang pelayan." kata Kaneki.
"Aku siap dipenjara untuk mendapatkan gadis semanis itu."
Sementara Kaneki hanya mengeluarkan senyum polosnya mendengar pernyataan mengada-ada Hide dan kembali membaca novelnya sambil menunggu pesanan mereka siap.
TRINGG
Bersamaan dengan pesanan yang sampai di meja Kaneki dan Hide, seorang tamu masuk ke dalam kafe itu. Dia adalah seorang gadis berambut panjang berwarna ungu dan memakai kacamata.
Saat gadis itu masuk, Kaneki langsung menoleh ke arahnya dan langsung terpaku dengan wajah merona saat melihatnya. Gadis itu adalah Rize Kamishiro, biasa dipanggil Rize. Dia sekelas dengan Kaneki.
Kaneki mulai tertarik pada Rize saat perkenalan di hari pertama sekolah, sekitar dua minggu yang lalu. Rambut panjang berwarna ungunya, kacamata yang dia pakai, serta sifat tenang yang dimilikinya membuatnya terlihat anggun di mata Kaneki. Namun, Kaneki sangat pemalu, sehingga membuatnya sulit untuk mendekati Rize.
Sebagai orang yang belum pernah pacaran, dia bingung harus memulai dari mana. Kaneki hanya bisa memperhatikan gadis itu tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Melihat Kaneki mematung seperti itu, Hide langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang Kaneki lihat. Mengetahui alasan temannya mematung, Hide langsung tersenyum, dan menepuk lengan kiri Kaneki dan tentu saja membuatnya kaget.
"Hei, jangan hanya dilihat saja! Kalau memang suka, dekati dia!" kata Hide yang mulai menggoda Kaneki.
"E-eh, apa maksudmu Hide?" kata Kaneki yang baru sadar lamunannya dengan sedikit gelagapan.
"Tidak usah pura-pura! Aku tahu, kau menyukai Rize, benarkan?" kata Hide dengan menyeringai dan semakin menggodanya.
"..."
Kaneki pun hanya bisa terdiam tanpa menjawab. Melihat tingkah Kaneki, Hide langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke belakang Kaneki. Dia menyelipkan kedua tangannya di kedua sela ketiak Kaneki dan mengangkat tubuhnya.
"Hey Hide, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kaneki yang mulai panik dengan tindakan Hide.
"Sudah, bawa saja makananmu, dan bicara dengannya!"
Setelah Hide mengatakan itu, Kaneki langsung mengambil makanannya dan membawanya menuju meja Rize sambil didorong oleh Hide dari belakang.
"Permisi Rize-san, bolehkah temanku ini duduk di sini? Dia ingin bicara denganmu." kata Hide saat berada di dekat bangku yang berhadapan dengan Rize.
Dengan perasaan gugup karena berada di dekat Rize, Kaneki langsung melihat Hide dengan tatapan seakan mengatakan "Aku tadi tidak bilang begitu, Hide!"
Rize yang mendengar perkataan Hide itu langung menoleh ke arah mereka berdua.
"Silahkan, jangan sungkan." kata Rize sambil tersenyum manis.
"Terima kasih." balas Hide.
Kemudian dia membisikkan sesuatu kepada Kaneki dan langsung kembali ke tempat duduknya tadi.
"Semoga beruntung, Kaneki."
"Hide ..." kata Hide yang mencoba memanggil Hide.
Namun, yang dipanggil hanya duduk di tempat yang agak jauh dari tempat duduk Rize dengan posisi tubuh membelakangi Kaneki dan Rize.
Melihat itu, Kaneki hanya dapat menaruh makanan dan minumannya di meja yang sama dengan Rize dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Rize.
"Konnichiwa Rize-san."
"Konnichiwa Kaneki-san."
Hanya sapaan seperti itu yang dapat Kaneki ucapkan dan dibalas oleh sapaan yang sama oleh Rize, mengingat Kaneki adalah orang yang canggung kalau baru pertama kali berbicara dengan seseorang. Dia masih bingung ingin membicarakan apa dengan Rize.
Menyadari Kaneki diam saja sejak tadi, Rize memulai pembicaraan.
"Hei, bukankah kau ingin mengajakku bicara tadi, kenapa diam saja?" tanya Rize yang heran.
"Eh, maaf, aku memang agak canggung jika berbicara dengan orang yang belum akrab denganku." jawab Kaneki.
Dan Rize sedikit tertawa halus mendengar pernyataan Kaneki tadi. Kaneki pun terpana dengan wajah manisnya saat gadis itu tertawa halus seperti itu.
Setelah itu, terjadi perbincangan antara Kaneki dan Rize, walaupun Rize yang lebih banyak berbicara daripada Kaneki.
Setelah cukup berbincang, Kaneki mulai mencoba mengajak Rize.
"Rize-san, aku ingin mengajakmu jalan-jalan, apakah kau mau?"
Mendengar itu, Rize terlihat agak malu-malu sambil menoleh ke samping. Namun, dia langsung menatap Kaneki tidak lama setelah itu dan langsung menjawab tawaran Kaneki dengan sedikit gugup.
"I-iya, aku mau."
Setelah itu, dia meminta kepada Rize untuk menunggu karena dia ingin berbicara sebentar dengan Hide.
"Tunggu sebentar ya."
Kemudian dia menuju ke arah Hide.
"Hide, bisakah kau pulang sendiri dulu hari ini? Aku ingin mengajak Rize jalan-jalan."
"Wah, kau ingin berkencan yah? Tidak perlu memikirkan aku! Nikmati saja kencanmu! Aku bisa pulang sendiri." kata Hide menggoda Kaneki.
"Terima kasih, Hide." Kaneki langsung meninggalkan Hide setelah mengucapkan terima kasih dengan wajah yang terlihat memerah.
Setelah sampai di tempat duduknya, Kaneki mengambil ponsel miliknya, dan mencoba menelepon sopirnya.
"Sebentar dulu ya, Rize-san, aku ingin menelepon sopirku dulu." kata Kaneki.
"Silahkan." kata Rize.
"Yomo-san, bisakah kau menjemputku di Kafe Anteiku?"
[Tentu saja Kaneki-sama, saya akan segera ke sana.] kata seorang sopir yang dipanggil Yomo itu.
Sebenarnya, Kaneki adalah anak orang kaya, bahkan ayahnya adalah pengusaha terkaya ke-10 di Tokyo, sehingga dia mempunyai mobil yang bahkan lebih dari satu, sopir pribadi, dan juga pelayan. Sehingga, dia bisa menggunakan mobil pribadi kapapun dia mau. Hanya saja, Kaneki lebih suka jalan kaki daripada naik mobil, sekalipun sekolahnya cukup jauh dari rumahnya.
Tetapi, mana mungkin dia mengajak seorang gadis berkencan dengan berjalan kaki jika dia memiliki mobil.
Sambil menunggu sopirnya datang, Kaneki dan Rize kembali berbincang-bincang sambil menyantap hidangan mereka di sela perbincangan mereka.
Setelah sopirnya datang, Kaneki dan Rize beranjak dari kafe itu dan masuk ke dalam mobil untuk jalan-jalan.
Namun, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap kepergian mereka dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
..
.
Kaneki dan Rize menghabiskan waktu mereka dengan berbelanja di mall dan menonton film di bioskop hingga jam 21:30 malam.
Mereka terlihat menikmati acara jalan-jalan itu. Kaneki sendiri senang dan tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Rize.
Setelah dari bioskop, Kaneki menemani Rize pulang ke rumahnya menggunakan mobil.
"Arigato Kaneki-san, kau sudah mengajakku jalan-jalan hari ini, aku sangat senang." kata Rize yang sudah sampai di rumahnya dan berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Douita Rize-san, aku juga senang karena kau mau menemaniku jalan-jalan hari ini." kata Kaneki yang ikut keluar dari mobil saat sudah sampai di depan rumah Rize.
Setelah itu, Rize terlihat diam sambil menunduk dengan ekspresi wajah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Melihat itu, Kaneki pun heran dan mencoba bertanya kepadanya.
"Ada apa? Rize-san?"
"Kaneki, sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu."
Kaneki yang mulai heran dengan nada bicara dan ekspresi Rize yang kelihatan serius kembali bertanya kepadanya.
"Apa itu, Rize-san?"
Dan tiba-tiba, Kaneki dikejutkan oleh tindakan Rize yang tiba-tiba memeluknya.
"Kaneki, sebenarnya, aku mencintaimu! Sejak awal aku melihatmu, aku sudah mulai tertarik padamu, aku harap, kau menerima cintaku, Kaneki-kun."
Kaneki kembali dikejutkan oleh pernyataan cinta dari Rize yang juga menambahkan suffix -kun di belakang namanya. Dia juga heran, selama dua minggu dia sering bertemu Rize dan memperhatikannya, dia tidak merasa kalau gadis itu tertarik kepadanya.
Tetapi, dia merasa tidak terlalu perlu memikirkan itu. Yang penting, Rize mencintainya dan itu yang dia inginkan. Hal itu membuatnya senang dan membalas pelukan Rize, dia pun memberikan jawaban kepada gadis itu.
"Sebenarnya, aku juga mulai tertarik padamu sejak pertama kau memperkenalkan dirimu di kelas, sayang sekali aku terlalu malu untuk mengatakannya. Aku juga mencintaimu, Rize-chan, boleh aku memanggimu begitu?"
Setelah itu, Rize pun melepaskan pelukannya.
"Tentu saja Kaneki-kun, kita kan sekarang sudah menjadi sepasang kekasih." kata Rize dengan senyum manisnya.
"Kau benar Rize-chan. Kalau begitu, aku pulang dulu ..." kata Kaneki yang akan berpamitan seandainya Rize tidak memotong perkataannya.
"Tunggu, Kaneki-kun!"
"Ada apa, Rize-chan?" tanya Kaneki.
"Kaneki-kun, bisakah kau membungkukkan badanmu? Ada yang ingin aku bisikan padamu."
Kaneki yang masih tidak mengerti dengan permintaan kekasih barunya itu hanya bisa menurut.
Cup
Detik selanjutnya, Kaneki langsung tersentak sambil memegang pipi kanannya dengan wajah memerah setelah Rize memberikan sebuah ciuman ke pipinya itu.
"Arigato Kaneki-kun, jaa."
Setelah mengatakan itu sambil mengeluarkan senyum manisnya, Rize langsung masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit berlari, dan kemudian menutup pintu.
Melihat Rize yang sudah masuk ke rumahnya, Kaneki langsung masuk ke dalam mobilnya dengan wajah yang masih memerah sambil memegang pipi kanannya yang dicium oleh Rize tadi.
..
.
Mereka pun menjalani hari-hari berikutnya sebagai sepasang kekasih. Setiap pergi sekolah, Kaneki akan menjemput Rize naik mobil yang dikendarai oleh sopir pribadinya dan mereka pun pergi bersama. Setiap ingin masuk gerbang sekolah, Rize selalu menggandeng tangan Kaneki dengan manja. Walaupun hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, tetapi Kaneki tetap saja malu saat teman-temannya melihat betapa manjanya Rize.
Setiap jam istirahat, mereka selalu ke kantin bersama dengan Rize yang terkadang menyuapi Kaneki saat sedang makan. Setiap pulang sekolah, mereka selalu pulang bersama setelah menunggu sopir pribadi Kaneki menjemput mereka.
Biasanya, mereka akan jalan-jalan ke berbagai tempat untuk berkencan. Di sela kencan mereka, Rize cukup sering berbelanja barang yang beberapa di antaranya cukup mahal. Kaneki tidak terlalu mempermasalahkannya karena memang keluarganya sangat kaya dan dia sendiri juga memiliki uang tabungan yang sangat banyak, jadi tidak masalah kalau Rize ingin membeli sesuatu semahal atau sebanyak apapun itu.
Terkadang, Rize juga tidak bisa berkencan dengan Kaneki saat pulang sekolah dengan berbagai alasan. Kaneki sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Lagipula, di hari Minggu dia memiliki waktu yang lebih banyak jika ingin berkencan dengan Rize.
Selama menjadi kekasih Kaneki, Rize tidak pernah sekalipun datang ke rumah Kaneki. Selalu Kaneki yang datang ke rumah Rize setiap ingin berkencan ataupun keperluan lainnya. Sehingga Rize tidak tahu di mana rumah Kaneki, apalagi bertemu dengan orang tuanya Kaneki. Tetapi, itu bukan masalah karena Rize tidak perlu repot datang ke rumah Kaneki. Cukup Kaneki yang datang ke rumahnya jika ingin menjemput ataupun ada keperluan lain.
Tidak terasa, sudah tiga minggu Kaneki dan Rize menjadi sepasang kekasih sampai hari ini. Hari ini sebenarnya hari minggu, tetapi Rize tidak bisa berkencan dengan Kaneki. Rize bilang, dia harus ke Hokaido karena neneknya yang tinggal di sana meninggal.
Karena itu, Kaneki memutuskan untuk lari pagi bersama salah satu pelayannya hari ini.
Walaupun orang tua Kaneki memiliki kekayaan yang berlimpah, namun Kaneki bukanlah orang yang sombong. Kaneki dan kedua orang tuanya cukup akrab dengan setiap pegawai di rumahnya. Bahkan, mereka dengan senang hati menerima masukan dari pegawainya. Seperti acara lari pagi yang saat ini dia lakukan bersama salah satu pelayannya. Sebelum menjadi kekasih Rize, biasanya dia mengajak salah satu pelayannya untuk lari pagi setiap seminggu sekali.
Hari ini, seorang pelayan bernama Enji Koma yang Kaneki ajak lari pagi. Secara kebetulan, rute yang dipilih oleh Kaneki untuk melakukan lari pagi hari ini adalah rute yang tidak pernah dilewati oleh Kaneki setiap pergi ke manapun bersama Rize. Ada sebuah kejanggalan yang membuat Enji tiba-tiba berhenti di dekat salah satu rumah. Kemudian, Enji mencoba mengintip di sela pagar rumah tersebut.
"Ada apa, Enji-san?" kata Kaneki yang berada di belakang Enji.
"ssst" Enji memberikan isyarat kepada Kaneki untuk diam dan mendekat.
Saat Kaneki mencoba ikut melihat melewati sela pagar itu, Kaneki dibuat sangat terkejut. Dia melihat Rize duduk di sebuah kursi yang berada di teras rumah itu. Padahal yang dia ingat, Rize mengatakan lewat telepon ingin menghadiri acara pemakaman neneknya yang meninggal di Hokaido.
Ada satu hal yang membuat Kaneki sangat kesal, yaitu Rize yang duduk di sebelah laki-laki yang tidak dikenalnya dan terlihat sangat mesra. Laki-laki itu memiliki rambut pirang dan berkacamata. Ada rasa tidak suka di hati Kaneki saat melihat Rize bersamanya. Sebagai kekasih Rize, wajar bagi Kaneki kalau melihat Rize bermesraan dengan laki-laki lain seperti itu. Karena itu, Kaneki pun mencoba untuk langsung mendatangi Rize dan laki-laki itu, tetapi langsung dicegah oleh Enji.
"Kaneki-sama, apa yang anda lakukan?" kata Enji yang berusaha menghalangi majikannya itu.
"Jangan menghalangiku, Enji-san! Biarkan aku yang menegur mereka secara langsung!" kata Kaneki yang sepertinya mulai tersulut emosi.
"Maafkan kelancangan saya, Kaneki-sama. Namun sebaiknya, kita coba dengarkan saja dulu. Saya khawatir laki-laki itu adalah kakaknya. Mereka terlihat mesra karena sudah lama tidak bertemu." kata Enji yang berusaha menenangkan Kaneki.
"Lalu, untuk apa dia berbohong dengan mengatakan kalau dia ingin menghadiri pemakaman neneknya?" kata Kaneki yang sepertinya masih belum bisa tenang.
"Mungkin dia punya alasan lain, sebaiknya kita dengarkan dulu, Kaneki-sama."
Mendengar itu, Kaneki hanya menurut dan mendengarkan dengan seksama apa yang sedang terjadi.
Walaupun Rize belum pernah datang ke rumah Kaneki, tetapi Kaneki pernah memperlihatkan fotonya bersama Rize saat sedang berkencan.
"Bagaimana dengan laki-laki itu? Apakah dia curiga?"
"Maksudmu Kaneki? Tentu saja tidak. Kau tenang saja Nishio-kun, aku memainkan peranku dengan baik."
Curiga, peran, dua kata itu membuat Kaneki semakin curiga dan segera ingin ke sana. Tetapi, dia menahan keinginannya dan memilih untuk tetap mendengarkan.
"Tapi, kau tidak mencintainya kan?"
"Mencintai laki-laki culun seperti itu? Untuk apa? Walaupun Kaneki lebih kaya, tetapi aku jelas lebih memilihmu, Nishio-kun. Aku hanya memanfaatkannya untuk tambahan biaya kencan kita, Nishio-kun."
"Kau licik Rize-chan. Tapi, karena itulah aku semakin mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, hanya kamu, Nishio-kun."
Sebenarnya, suara Rize dan laki-laki itu masih agak samar-samar karena halaman rumah itu cukup luas. Namun, Kaneki masih bisa mendengar beberapa bagian tertentu yang mereka ucapkan.
"Kaneki-sama ..."
Apa yang didengar oleh Kaneki membuatnya tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia langsung menghampiri Rize dan laki-laki yang dipanggil Nishio itu tanpa mempedulikan apa yang ingin diucapkan oleh Enji, sehingga pelayannya itu tidak sempat untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Jadi ini yang kau lakukan di belakangku, Rize-chan?"
Nishio dan Rize pun terkejut saat Kaneki tiba-tiba menghampiri mereka saat sedang bermesraan.
"Ka-Kaneki-kun, i-ini tidak seperti yang kau pikirkan." kata Rize yang terlihat panik dan berusaha mencari alasan.
"Tidak seperti yang kupikirkan, JADI MENURUTMU SEPERTI APA? Saat kau bilang kau mencintainya ..." kata Kaneki sambil menunjuk Nishio "Saat kau bilang tidak mencintaiku! Saat kau bilang hanya memanfaatkanku! Menurutmu, bagaimana lagi cara untuk mengartikan semua itu, HAH?!" kata Kaneki dengan sangat marah.
"Tu-tunggu dulu Kaneki-kun, aku bisa menjelaskan semuanya." kata Rize yang semakin panik.
"Menjelaskan apa Rize? Semua sudah jelas, kau tidak mencintaiku! Kau hanya memanfaatkanku saja!"
"Kalau memang benar seperti itu, kau mau apa?" kata Nishio yang tiba-tiba ikut bicara.
"Nishi ..." "Sudahlah Rize-chan, kita sudah ketahuan, mau apa lagi?" apapun yang ingin dikatakan oleh Rize, tidak bisa lagi dia lanjutkan karena dipotong oleh Nishio.
"Kau ..." sambil menunjuk ke arah wajah Nishio "Kau tahu'kan Rize menjadi pacarku? Kenapa kau tidak putuskan saja hubunganmu dengannya?"
"Untuk apa? Dia pacaran denganmu hanya untuk memanfaatkanmu saja. Dia membeli barang mewah, dan menjualnya secara online. Hasilnya nanti untuk kami berdua, kami juga bisa gunakan uang itu untuk tambahan biaya kencan kami." kata Nishio dengan sangat arogan.
"Kau ..." sambil kembali menunjuk ke arah wajah Nishio "Kau membuatku muak! Kau sama saja dengan Rize! Kuhabisi kau sekarang! HEAAH!!!" kata Kaneki yang sudah sangat marah dan langsung melayangkan sebuah pukulan dengan tangan kanannya ke arah wajah Nishio.
BUGH
Melihat itu, Nishio langsung memiringkan badannya sambil melakukan tendangan samping ke arah dada Kaneki menggunakan kaki kirinya. Kaneki pun terdorong dan akhirnya terjatuh.
BRUKK
Melihat Kaneki yang terjatuh, Enji pun menghampirinya untuk memastikan keadaannya.
"Kaneki-sama, anda tidak apa-apa?"
"A-aku baik-baik saja." kata Kaneki dengan sedikit meringis.
"Kau! Berani sekali kau menyerang Kaneki-sama!" kata Enji yang merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Nishio.
"Kaneki-sama? Apakah dia majikanmu? Maaf, tapi dia yang lebih dulu menyerangku, aku hanya membela diri." kata Nishio.
"Tetap saja, kau yang salah! Sekarang, kau harus menerima akibatnya!"
Setelah mengatakan itu, Enji langsung melayangkan sebuah pukulan ke arah pipi kiri Nishio.
Melihat itu, Nishio langsung mengambil posisi sedikit berjongkok untuk menghindari pukulan Enji dan langsung memukul perut Enji dengan tangan kanannya.
BUGH
"ugh"
Setelah itu, dia langsung mengambil posisi berdiri dan langsung memukul pipi kiri Enji.
BUAGHH
Tidak cukup sampai di situ, Nishio dengan cepat menarik kaki kanannya ke belakang dan langsung memutar kaki kanannya ke arah kiri sambil berjongkok. Sehingga kaki kanan Nishio mengenai kaki Enji dan membuatnya terjatuh.
BRUKK
"Enji-san!" kata Kaneki yang sudah bisa berdiri.
Melihat itu, Nishio langsung berjalan mendekati Kaneki. Enji ingin mencegahnya, namun dia masih kesulitan bergerak akibat serangan Nishio tadi.
Sementara Rize, dia hanya melihat apa yang sedang terjadi. Walaupun dia bisa saja mencoba berteriak untuk menyuruh mereka berhenti berkelahi.
Saat Nishio berada di dekat Kaneki, Kaneki langsung mengangkat tangan kanannya untuk memukul Nishio. Saat Kaneki mengangkat tangan kanannya, terlihat dia juga menarik kaki kanannya secara bersamaan, sehingga kaki kirinya berada di depan.
Dan itulah yang menjadi kesempatan Nishio untuk langsung melayangkan sebuah tendangan dengan memutar kaki kirinya ke arah paha kiri Kaneki, sehingga Kaneki tidak sempat untuk memukul Nishio.
BUGH
Setelah menendang paha Kaneki, Nishio langsung menendang lurus ke arah dada Kaneki menggunakan kaki kanannya.
BUGH
Kaneki yang sudah kehilangan keseimbangannya karena paha kirinya ditendang oleh Nishio langsung terdorong ke belakang dan kembali terjatuh.
BRUKK
Kaneki pun hanya bisa meringis setelah terjatuh akibat serangan Nishio.
"Huh ... lemah." kata Nishio dengan sangat arogan.
"Apakah kau pikir kau sudah hebat hah?!"
Mendengar itu, Nishio langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat Enji yang sudah berdiri, walaupun agak kesulitan.
Melihat itu, Nishio langsung mendekati Enji sambil menyeringai.
Melihat Nishio yang mendekat ke arahnya, Enji langsung melayangkan sebuah tendangan dengan memutar kaki kanannya ke arah pinggang kiri Nishio saat Nishio sudah berada di dekatnya.
Melihat itu, Nishio langsung memblok serangan Enji dengan mengangkat kaki kirinya dengan cukup tinggi, sehingga serangan Enji hanya mengenai bagian samping dari paha dan betis Nishio.
Sebelum menurunkan kaki kirinya, Nishio langsung menendang lurus ke arah dada Enji menggunakan kaki kirinya yang diangkat tadi, sehingga Enji sedikit terdorong ke belakang.
BUGH
Setelah itu, dia langsung melompat ke arah Enji dengan kaki kanan diangkat dan lutut mengarah ke arah dada Enji, sehingga lutut Nishio mengenai dada Enji.
BUGH
Setelah menyerang Enji dengan lututnya, Nishio langsung memukul pipi kanan Enji.
BUAGHH
Setelah itu, Nishio langsung memutar siku kanannya ke arah pipi kiri Enji.
BUAGHH
Tidak berhenti sampai di situ, Nishio pun memutar badannya dan juga kaki kanannya satu putaran ke arah kanan, sehingga kaki kanannya mengenai pipi kanan Enji.
BUAGHH
Karena serangan itu, tubuh Enji pun terputar ke arah belakang dan langsung terjatuh dengan posisi tengkurap.
BRUKK
Secara perlahan, Enji mulai kehilangan kesadarannya dan akhirnya pingsan.
Tap
Tap ...
Terdengar suara langkah kaki seseorang. Tanpa melihat pun, Nishio sudah tahu bahwa itu suara langkah kaki Kaneki. Benar saja, saat ini, Kaneki sedang berjalan ke arah Nishio. Namun, langkahnya terlihat tertatih-tatih karena menahan rasa sakit akibat serangan Nishio tadi.
Tetapi, karena serangan Nishio tidak terlalu brutal, rasa sakit di tubuh Kaneki menjadi agak menghilang. Kaneki pun mulai bisa mempercepat langkahnya dan langsung menyerang Nishio dengan kepalan tangan kanan yang disiapkan untuk memukul Nishio saat berada di dekatnya.
Melihat itu, Nishio pun memutar kaki kanannya ke arah pelipis kiri Kaneki.
DUAGHH
Walaupun kaki kanannya sudah mengenai pelipis Kaneki, Nishio tidak menarik kaki kanannya ke belakang. Tetapi, dia membiarkan kaki kanannya tetap berputar, sehingga tubuhnya pun ikut berputar ke arah yang sama dengan kakinya. Saat tubuhnya menghadap belakang, barulah dia menurunkan kaki kanannya.
Setelah itu, dia langsung memutar kembali kaki kanannya ke arah kiri bersamaan dengan tubuhnya ke arah yang sama. Hanya saja, jika sebelumnya sasaran Nishio adalah pelipis kiri Kaneki, sekarang sasaran Nishio adalah betis kiri Kaneki yang kebetulan berada di depan.
Karena serangan itu, Kaneki yang sudah kehilangan keseimbangannya karena serangan sebelumnya langsung terjatuh.
BRUKK
Setelah itu, dia mendekati Kaneki yang sedang meringis.
"Huh ... ternyata kau begitu lemah!"
Setelah mengatakan itu, Nishio langsung menginjak perut Kaneki dengan kaki kanannya.
BUGH
"argh"
"Selain lemah, kau juga bodoh! Sangat mudah untuk ditipu!"
Setelah mengatakan itu, Nishio kembali menginjak perut Kaneki dengan kaki kanannya saat Kaneki sudah mulai tersulut emosi oleh perkataan Nishio.
BUGH
"argh"
"Pantas saja Rize lebih memilihku daripada memilihmu!"
Kaneki yang semakin emosi karena perkataan Nishio, kembali diinjak di bagian perut oleh kaki kanan Nishio.
BUGH
"argh"
Setelah itu, Nishio mengambil posisi berjongkok. Kemudian, dia mengucapkan sesuatu yang terdengar pelan, namun cukup untuk membuat emosi Kaneki memuncak.
"Walaupun kau kaya, namun kau tak pantas untuk Rize. Lebih baik kau tinggalkan saja dia, biarkan dia bersamaku. Jadi ..." Nishio pun menyeringai dan kembali berdiri "Selamat tinggal."
Setelah mengatakan itu, Nishio pun mengangkat kaki kanannya untuk kembali menginjak perut Kaneki.
Kaneki yang emosinya sudah sangat memuncak secara reflek berguling beberapa kali ke arah kiri sebelum kaki kanan Nishio sempat menginjak perutnya.
Setelah itu, Kaneki pun mencoba untuk berdiri, walaupun secara perlahan karena tubuhnya masih terasa sakit akibat serangan Nishio tadi.
"Oh ... kau sudah bisa menghindar ya? Baiklah, kalau begitu ... apakah kau juga sudah bisa melawanku?" kata Nishio sambil menyeringai dan langsung mendekati Kaneki yang sedang mengatur nafasnya.
Saat Nishio berada di dekat Kaneki, Kaneki pun langsung memasang posisi siaga layaknya seorang petinju.
Setelah Nishio juga memasang kuda-kuda, Nishio langsung menendang lurus ke arah perut Kaneki menggunakan kaki kanannya.
Kaneki yang sebenarnya tidak memiliki beladiri apapun, hanya bisa memikirkan satu cara untuk menahan serangan Nishio. Dia pun menggenggam kaki kanan Nishio dengan kedua tangannya, dan langsung melemparnya ke arah kiri.
Setelah itu, Kaneki langsung memeluk pinggang Nishio sambil membungkukkan badannya serendah pinggang Nishio saat dia baru ingin memukul Kaneki dengan tangan kanannya. Dalam posisi ini, Nishio cukup kesulitan untuk menyerang Kaneki.
Nishio pun mencoba menyikut punggung Kaneki.
Merasakan ada gerakan dari tubuh Nishio, Kaneki mencoba melangkah mundur dengan kedua tangan yang masih memeluk Nishio untuk mengganggu apapun serangan Nishio yang tidak bisa dilihatnya. Tubuh Nishio pun tertarik ke depan dan tidak jadi menyikut Kaneki.
Gagal menyikut Kaneki, Nishio mencoba menyerang Kaneki dengan cara membenturkan lutut kanannya ke arah perut Kaneki yang sedang menghadap ke bawah.
Kaneki yang kembali merasakan gerakan dari tubuh Nishio langsung kembali melangkah mundur dengan tangan yang masih memeluk Nishio. Tubuhnya pun kembali tertarik ke depan dan gagal menyerang Kaneki.
Saat merasakan gerakan dari tubuh Nishio tadi, Kaneki sempat melihat kaki kanan Nishio yang sedikit bergerak. Karena itu, Kaneki mendapatkan ide untuk menjatuhkan Nishio.
Kaneki pun langsung berjongkok dan memegang kedua kaki Nishio. Dia pun berdiri dengan tangan yang masih memegang kedua kaki Nishio, sehingga Nishio langsung terjatuh.
Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyerang Nishio, Kaneki langsung memukul perut Nishio dengan tangan kanannya sebelum tubuh Nishio menyentuh tanah.
BUGH
BRUKK
Setelah itu, Kaneki langsung memukul perut Nishio secara bertubi-tubi.
BUGH BUGH
BUGH BUGH
BUGH BUGH
BUGH ...
"Hentikan!"
Secara spontan, Kaneki berhenti memukuli Nishio karena mendengar suara Rize dan langsung menoleh ke arah gadis itu. Tetapi, Kaneki langsung menduduki tubuh Nishio tidak lama setelah itu dan mencoba memukul pipi kiri Nishio beberapa kali.
Nishio yang sedang kesakitan dan sulit bergerak hanya bisa menahan pukulan Kaneki dengan cara menaruh kedua tangannya di samping pipi kirinya.
Karena kedua tangan Nishio menghalangi pipi kirinya, Kaneki pun mencoba memukul pipi kanan Nishio.
Tetapi, Nishio langsung melindungi pipi kanannya menggunakan kedua tangannya, sehingga pukulan Kaneki kembali terhalang oleh tangan Nishio.
"Kaneki, hentikan!"
Kaneki kembali berhenti memukuli Nishio dan langsung melihat ke arah Rize yang mencoba menyuruh Kaneki berhenti dengan ekspresi wajah yang terlihat mulai gelisah. Namun, Kaneki menoleh ke arah Rize hanya karena reflek.
Kaneki pun langsung menepis kedua tangan Nishio agar tidak bisa melindungi pipi kirinya.
Setelah itu, Kaneki langsung melayangkan pukulan ke arah pipi kiri Nishio secara bertubi-tubi. Karena kedua tangan Nishio cukup kesakitan akibat pukulan Kaneki tadi, Nishio pun tidak cukup kuat untuk menggeser kedua tangannya yang ditepis oleh Kaneki. Dia pun harus rela menerima beberapa pukulan Kaneki yang mengarah ke pipi kanannya.
BUAGHH
BUAGHH
BUAGHH
BUAGHH
Setelah itu, Kaneki pun menepis kedua tangan Nishio agar tidak bisa melindungi pipi kanannya. Nishio yang sudah mulai lemas, hanya bisa pasrah dan menerima apapun serangan Kaneki nanti.
Tap Tap
Tap Tap
Tap
BRUKK
Namun, sebelum sempat memukul Nishio, seseorang sudah berlari ke arah Kaneki dan langsung mendorong Kaneki saat sudah berada di dekatnya. Kaneki pun langsung terjatuh.
Orang yang mendorong Kaneki adalah seorang gadis yang sejak tadi berusaha untuk menghentikan Kaneki yang sedang menghajar Nishio.
Dia adalah Rize.
-To be continued
