Tokyo, 07.45 p.m.

Memang tidak ada yang lebih membuat nyaman daripada dirumah sendiri. Namun, berlama-lama berada di negeri Ratu Elizabeth sebenarnya juga bukan pilihan yang buruk. Yah ...tapi apa daya, mereka hanya ambil cuti selama tiga hari. Jadi mau tidak mau ya tadi pagi mereka sudah harus meninggalkan London. Dan kini keduanya—Sakura dan Sasori baru tiba di bandara Narita, Tokyo.

"Nee, Sasori. Chiyo obaa-san tadi titip pesan katanya kita harus sering-sering mengunjunginya, lho." Ini Sakura tidak bohong, kok. Ciyus. Nenek mertuanya itu memang bilang seperti itu sebelum mereka berangkat tadi. Dan yaa, emang Sakura seneng-seneng aja sih kalau bisa kembali kesana.

Tiga hari sejujurnya memang sangat-sangat tidak cukup bagi Sakura untuk menjelajahi kota favoritnya itu. Mungkin, lain waktu dia bisa mengajak Sasori kembali lagi kesana. Kali ini harus beneran untuk liburan, biar puas hehe..

Sasori yang tengah menyenderkan kepalanya pada kursi mobil hanya melirik istrinya singkat, keduanya sedang berada dalam taxi yang akan mengantarkan mereka sampai ke rumah. Duduk berjam-jam di pesawat tentu membuat badannya jadi pegal-pegal.

"Nee? Apa kau dengar?" Sakura menggoyang-goyangkan lengan suaminya karena tidak mendapatkan respon.

"Iya, iya ..." jawab Sasori sekenanya, yang entah kenapa malah membuat Sakura sedikit jengkel dan malah mencubit pundak laki-laki bersurai merah itu.

Sasori meringis, "Auw ...apa sih?" tau sendiri cubitan Sakura bagaimana, kecil, tipis dan—kalau kata yang ngiklanin mie instant tuh jinjja pedas. Membuat acara Sasori untuk merilekskan tubuhnya jadi tertunda.

"Yaa, tidak apa-apa. Gemas saja."

Si laki-laki bermarga Akasuna hanya berdecak sebal mendengar jawaban tak berfaedah istrinya. Sedangkan di kursi depan si pak supir hanya melirik kedua pasangan muda itu melalui kaca spion. Udah kebal sama kelakuan aneh-aneh para penumpangnya, udah biasa juga selalu dijadiin orang ketiga atau obat nyamuk begini. Hh.


Just Because

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Romance & Slice of Life.

Character : Sakura. H, Sasori. A, and others.

Rated : T

Warning : AU, OOC, typo(s), gaje, aneh, bahasa tidak baku, Dan masih banyak keburukan lainnya.

Note: Apapun merk, nama tempat atau suatu judul film lain yang ada di cerita tidak bertujun untuk comercial/promosi apapun ya. Murni hanya sebatas konten dalam cerita.

.

.

Don't like, Just don't read!

Happy Reading~


.

.

Chapter 10 [Part 1]

.

.


"Ino, lihat!"

"Iya, tahu kok, tahu. Iya, cincinmu cantik sekali, Hh."

Wanita bersurai pirang pucat hanya menghela napas malas, berwajah bosan melihat sahabatnya yang dari sejam lalu terus mengagumi jari manisnya yang dilingkari sebuah cincin yang—yahh Ino akui memang cantik sekali. Simple tapi elegan. Jujur nih, ia memang rada iri melihatnya.

"Aku tidak sangka Sasori akan memberiku hadiah seperti ini."

Bola mata sewarna batu giok milik Sakura masih saja tak kehilangan binarnya kala memandang benda mungil yang sudah semingguan ini melingkar di jarinya itu. Rasanya semakin dipandang, semakin rasa bahagia membuncah di relung hatinya. Ea. Berlebihan? Oh, tentu tidak. Wajar dong, ini kan hadiah pertama dari suaminya disaat Ulang Tahun pertamanya setelah menikah lagi. Tidak bisa diukur betapa bahagianya dia.

"Hmm ... Selamat deh. Hadiah dariku mah, tidak ada apa-apanya bagimu." masih berwajah malas, Ino menumpu wajahnya. Mengerucutkan bibirnya berpura-pura sebal.

"Hehehe ...tidak kok. Parfume Bulgari darimu terbaikk, aku suka wanginya. Thanks ya, Ino-pig." Sakura memberikan kiss bye sebagai bukti cintanya kepada sang sahabat, namun malah ditepis Ino dengan wajah jijik. Geli dia.

"Ewh. Daripada itu, kenapa kau tidak cerita apa saja yang kalian lakukan disana?" tanya Ino penasaran.

Sakura menyeruput pelan tehnya sembari mengingat moment mengasikkan yang ia lalui seminggu yang lalu. "Ehm, yang kami lakukan hanya berjalan-jalan."

"Lalu?"

"Mengunjungi makam orang tua Sasori, berbelanja, jalan-jalan di kota Oxford, naik London Eye dan—bukankah sudah kukirim beberapa foto-fotonya padamu."

"Hoo, benar sudah. Terus apa lagi?"

"Itu saja, memang apa yang ingin kau tahu?"

"Kau bilang, kalian sempat menginap di Hotel ..." Ino menyatukan jari-jari kedua tangannya lalu menumpukan dagunya disana, menatap lurus wajah sahabatnya sambil menaik-turunkan alisnya. "Ngapain tuh?"

"Err, itu ...hahah. Itu tidak disengaja, ya benar." Sialan Ino, Sakura tahu betul ke arah mana pembicaraan mereka akan dibawa oleh sobat pirangnya itu. "Kau tahu, saat janjian dengan Sasori di restoran aku datang telat karena harus membantu orang yang pingsan di pinggir jalan. Lalu karena pakaianku yang kotor dan reservasi restoran yang sudah dibatalkan. Jadi diputuskan untuk memanfaatkan sisa waktu ulang tahunku di hotel saja."

"Aha, kemudian setelah itu?"

"Kemudian kami merayakan ulang tahunku, tiup lilin dan ..."

"Daan?"

Wajah menggoda Ino semakin menjadi-jadi, hidungnya kembang kempis karena hampir mendapat jawaban yang ia tunggu. Sedangkan Sakura? Si wanita musim semi malah jadi blushing tidak karuan saat ingatannya pada malam itu melintas di kepalanya.

"Hohoho ... Bagaimana Saki? Enak?"

"Apa sih Ino!" Sakura salah tingkah.

"Kuenyaa, maksudku kuenya. Kau bilang tiup lilin, masa' tidak ada kue." si wanita Yamanaka kemudian menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, masih tidak melepas tampang jahilnya yang kini bertambah geli melihat reaksi dari sahabatnya.

"Ooh, hahaha ...enak kok, enak."

"Aku bertaruh, pasti pengalaman pertama yang sangat menakjubkan bukan?"

"Ha, ap—Uhukk! Uhukk ..." Sakura yang sedang menyereput sisa teh dalam cangkirnya harus berakhir dengan tersedak saat mendengar penuturan Ino yang tiba-tiba. Dan ugh—wajahnya itu, pengen Sakura tampol pakek piring cakenya yang sudah kosong. "—pa sih, yang kau bicarakan? Uhukk!"

Ino melipat kedua tangannya didepan dada, "tidak perlu repot-repot berkelit. Wajahmu mengatakan segalanya."

"..."

"Pasti ..." Ino mencondongkan badannya kedepan, meletakkan tangannya disamping mulut berusaha menghalau suaranya agar tidak terdengar orang lain. Kemudian ia berbisik, "...Sasori-kun hebat sekali, 'kan?"

"INOOO!"

"Wajahmu memerah tuh, Hahahha ..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"

Sasori mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di meja dengan tidak sabar. Pasalnya, sudah dari setengah jam lalu ia dan putra bungsu keluarga Uchiha itu duduk saling berhadapan disebuah cafe, namun pria emo didepannya masih tak kunjung membuka suara. Padahal yang ngajak duluan ketemuan ya dia. Waktu makan siang Sasori sudah hampir habis dan tak satupun percakapan dimulai diantara keduanya.

"Hm, seperti yang kau tahu ..." Sasuke menatap lurus lawan bicaranya, "hubungan kita tidak terlalu baik sebelumnya. Kurasa?"

"Memang."

"Dan kita—maksudku kau terlibat salah paham beberapa waktu lalu."

"Bisa dikatakan begitu. But, it's clear now."

Sasuke menganggukkan kepalanya, "Oke, aku juga sudah dengar kalian telah berbaikan."

Sasori melirik jam tangannya, satu jam lagi dia ada meeting dengan klien baru mereka. Seharusnya saat ini dia sudah kembali ke kantor, tapi sepertinya Sasuke masih belum selesai.

"...dan disini aku hanya ingin memepertegas satu hal—"

"Katakan." sahut Sasori cepat yang membuat Sasuke berdecak kesal karena kata-katanya di potong.

"Jangan memotong ucapanku."

"Sorry."

"Aku cuma mau bilang, jangan khawatir. Aku tidak berniat merebut istri tercintamu itu. Jika aku punya rasa pada Sakura aku sudah pacaran dengannya dari dulu. But, she's not my type. So don't be jealous, mate."

"Aku tidak cemburu."

"Kau pikir aku bodoh?" Sasuke menarik salah satu sudut bibirnya, raut angkuh terbit di wajah tampannya. "Semua tergambar jelas di wajahmu saat aku berusaha mendekati Sakura. Dan itulah alasannya kenapa aku bertingkah seperti itu kemarin, melihatmu kesal ternyata cukup mengasikkan."

Hazel Sasori menatap pria didepannya dengan tajam, jiwa-jiwa ingin baku hantam miliknya kembali tersulut. Namun detik berkutnya ia membuang wajahnya ke samping lalu menghela napas pelan.

"Kalau begitu, sudahkah kau puas bermain-mainnya?"

"Dalam konteks itu, sebenarnya belum. Tapi aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu lagi. Karenanya ..." Sasuke mengangkat cangkir kopinya, mengulurkannya kedepan memberi gestur untuk mengajak bersulang—seharusnya pakai beer atau minuman alkohol lainnya sih, tapi karena masih siang dan mereka masih harus kerja rasanya waktunya tidak pas. Jadi, kali ini pakai kopi saja dulu. "Selanjutnya, mau menemaniku menghabiskan waktu?"

Sasori hanya bergeming menatap pria yang juga adik dari temannya itu. Setelah menimbang beberapa saat dia akhirnya mengulurkan cangkir miliknya juga. Ia mengangguk, lalu berucap pelan. "Tentu, lain waktu."

Dan dentingan dua cangkir yang beradu seolah menjadi simbol bahwa kedua pria dewasa tersebut sepakat untuk saling melakukan gencatan senjata.

"Ngomong-ngomong Sasuke-san—"

"Kau lebih tua dariku, santai saja." potong Sasuke cepat.

Kini keduanya sedang berjalan menuju tempat parkir, dimana masing-masing mobil mereka berada.

"Oke, Sasuke. Sudahkah Itachi menghubungimu?" Sasori bertanya.

"Hm, entahlah. Beberapa waktu lalu dia menelponku dan bilang akan kembali ke Jepang dua bulan lagi." Sasuke memasukkan tangan kanannya ke saku celana. "Awas saja, jika dia tidak juga muncul. Aku sendiri yang akan menghampirinya dan menyeretnya kesini."

Sasori mengangguk paham. "Oh, ya Sasuke ..." ia menghentikan langkahnya yang juga membuat Sasuke melakukan hal yang sama sembari mengernyitkan wajahnya heran. "Aku sangat ingin melakukan hal ini padamu."

"Ap—"

BUUUKK!

Sebuah bogeman sukses menghantam wajah mulus seorang Uchiha Sasuke. Tonjokkan Sasori keras sekali sampai membuat Sasuke yang memang tidak siap oleng ke belakang beberapa langkah.

"Bajingan! ngajak berantem?" emosi juga Sasuke jadinya, tanpa tedeng aling kena tonjok begitu saja.

"Sebenarnya aku sangat ingin menonjokmu waktu itu, lega rasanya bisa melakukannya sekarang. Hahaha ..."

"Kau gila?"

Sasori berjalan mendekati Sasuke untuk mengecek hasil perbuatannya dan benar saja, pipi yang semula putih bersih kini terdapat bercak memar sampai ke sudut bibirnya yang juga sedikit terluka. Ia sedikit merasa bersalah, tapi seperti kata Sasuke ternyata cukup mengasikkan juga.

"Rahangmu keras sekali, tanganku juga sampai sakit." Sasori menunjukkan genggaman tangannya yang juga ikut memerah, ia tertawa kecil lalu menepuk-nepuk pundak Sasuke yang masih bertampang kesal. "Kuharap kita bisa berteman setelah ini, hubungi saja aku jika kau ingin bermain."

"Setelah menonjokku begini? Apa kau bercanda?! Oi! Tsk ..." Sasuke bersungut-sungut marah, kemudian meringis karena perih di ujung bibirnya.

Sedangkan Sasori yang masih tertawa kecil mulai berjalan menuju mobilnya sendiri, ia hanya melambai singkat tanpa membalikkan badannya. Lega rasanya, seperti melepas dendam kesumat yang selama ini ditahan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di pertengahan musim semi seperti sekarang, cuaca memang sering berubah-ubah tak menentu. Bahkan terkadang terjadi secara drastis, sebagai contohnya saja saat pagi hari langit begitu cerah tapi bisa saja sorenya tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Perubahan cuaca yang seperti ini sering disebut pancaroba. Dan imbasnya, banyak orang yang tadinya tidak mempersiapkan diri bisa saja terhambat pekerjaannya karena terjebak hujan. Jika nekat menerobos malah hanya akan memperburuk kesehatan.

Sehingga disaat begini tidak mengherankan berbagai rumah sakit ataupun klinik dipenuhi orang-orang yang terserang penyakit seperti flu, batuk, demam atau meriang. Memang beberapa diantaranya tergolong penyakit ringan, namun jika menyerang sekaligus banyak orang ya bukannya tidak merepotkan juga. Bahkan mungkin kini bisa dikatakan rumah sakit lebih penuh daripada hotel bintang lima.

"Ryuu-kun demamnya sudah turun ya, hasil tesnya juga bagus dan ya, hari ini sudah boleh pulang." Sakura mengakhiri penjelasannya dengan memberikan senyum yang ia buat semanis mungkin untuk pasien kecilnya yang juga manis nan imut—bocah empat tahun yang beberapa hari lalu harus terpaksa dirawat karena demamnya yang terlalu tinggi akibat flu berat.

"Arigatou, Sensei." ibu Ryuu yang berdiri di samping ranjang mendampingi sang anak membungkuk singkat.

"Nee, kalau begitu semoga harimu menyenangkan Ryuu-kun. Jaga kesehatan ya~"

"Hai'!"

Sakura tertawa ringan mendengar sahutan bersemangat dari bocah imut tersebut. Menandakan dirinya benar-benar telah sehat, sangat berbeda dari saat dia pertama kali datang beberapa hari yang lalu.

Aah... Anak kecil memang moodboster untuknya. Rasa lelahnya setelah seharian sibuk mondar-mandir seperti meluap begitu saja. Tidak salah Sakura memilih menjadi seorang dokter spesialis anak sebagai jenjang karirnya, memang ini pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang sangat menyukai berinteraksi dengan anak-anak kecil seperti dirinya. Alasannya menyukai anak-anak ya tentu karena mereka masih begitu lucu dan kawainya minta ampun. Senyum polos mereka yang secerah mentari pagi dapat menghangatkan kokoro ini.

Tangan Sakura yang ingin menarik pintu ruangannya terhenti saat merasakan getaran di saku jas putihnya. Hpnya berdering dan menunjukkan nama suaminya yang menelponnya.

"Sasori-kun?"

Akhir-akhir ini Sakura menambahkan suffix -kun saat memanggil nama suaminya. Alasannya, yaa ...ingin saja.

"Belum pulang?"

"Belum, tapi aku sudah selesai. Ini mau siap-siap pulang."

"Kalau begitu cepatlah, aku tunggu diluar."

"Kau sudah disini?"

"Hmm ..."

"Oke, tunggu ya."

"Oke."

Ketika sambungan terputus, Sakura melesat masuk ke ruangannya. Membereskan beberapa peralatan dan berkas-berkas pasien yang ingin ia periksa di rumah—karena tadi tidak sempat. Lalu dengan langkah yang konstan tapi dipercepat ia berjalan dengan riang menuju pintu masuk. Dimana telah menanti pangeran tampan dengan mobil putihnya. Aseq.

Seperti biasa, Sasori berdiri sambil bersandar pada kap mobilnya dengan tampang bosan memandang layar hpnya yang tidak ada menarik-menariknya. Saat Sakura yang muncul dari pintu masuk dan sudah berjarak beberapa meter darinya barulah ia mengalihkan atensinya. Sasori menegakan badannya dan menyapa istrinya yang berjalan mendekat

"Hei."

Namun Sakura tidak membalas sapaan tersebut secara verbal dan malah menubruk badan Sasori untuk memeluknya.

"Hari ini melelahkan sekali." gumamnya pelan sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

Hh. Mulai deh, kumat manjanya. Akhir-akhir ini tingkah Sakura memang sering begini, rada aneh-aneh. Suka manja tidak karuan, kadang tiba-tiba minta peluk, minta dielus rambutnya, atau minta ditabok pipinya—eh gak deng, maksudnya dielus-elus manjah gitu pipinya, atau kalo lagi jalan berdua tidak boleh lepas gandengan tangan. Sasori kadang heran sendiri, ini dia seperti lagi ngasuh bocah lima tahun deh, atau seperti melihara hewan peliharaan. Hobi banget minta dielus-elus udah kayak kucing persia.

Tapi yah, karena hal ini sudah berlangsung selama berminggu-minggu semenjak mereka pulang dari London, lambat laun dia jadi terbiasa juga—atau terpaksa harus membiasakan diri. Demi keberlangsungan kehidupan yang damai dan tentram. Karena hal aneh lainnya, Sakura juga sering moodswing. Permintaannya tidak dituruti langsung ngambek, perkataannya tidak Sasori tanggapi karena dia lagi males ngomong—maklum sariawannya lagi kambuh—eh Sakuranya langsung cemberut, hatinya langsung kecut. Sensitifnya bikin geleng-geleng kepala, bawa perasaannya—atau bapernya menjadi-jadi. Padahal katanya tidak lagi PMS, tapi tingkahnya begitu. Heran Sasori tuh.

"Sou ka? Otsukaresama," Sasori akhirnya mengelus-elus surai merah muda istrinya. Siapa tahu dengan begini capeknya bisa sedikit terobati.

Beberapa menit mereka terdiam dengan posisi begitu, sampai tidak memperdulikan—atau menebalkan muka dari tatapan heran orang-orang yang sedang lewat. Meh. Bodo' deh, urat malu tuh dua orang sudah putus dari lama.

Sasori melepaskan pelukan mereka saat merasakan kepala Sakura bergerak-gerak tak nyaman. Ia mendorong pelan pundak istrinya untuk memastikan, namun yang didapatinya malah Sakura yang sedang mengerucutkan hidungnya seperti habis mencium bau yang busuk. Sialan. Emang badan Sasori sebau itu apa? Perasaan dia tidak pernah melewatkan mandi sehari dua kali, rajin pakai deodoran, body lotion dan parfum. Hari ini juga dia juga tidak habis kerja berat yang mengeluarkan banyak keringat.

"Kau ...pakai parfum ya?" Sakura bertanya sambil menutup hidungnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan lain ia pakai untuk mengibas-ngibas seperti menghalau bau.

"Iyalah."

"Parfum yang biasa?"

"Memang yang mana lagi? Parfumku cuma satu." Sasori biasa menggunakan parfum yang beraroma perpaduan kayu manis dan mint, aromanya menyegarkan tapi tidak terlalu menyengat. Favoritnya dan satu-satunya yang selalu ia pakai.

"Ewh, baunya tidak enak. Bikin mau muntah."

"Ha?"

Sasori mengernyitkan dahinya. Aneh saja. Mereka sudah menikah cukup lama dan dalam rentang waktu tersebut Sakura sama sekali tidak ada komplain apapun tentang wangi tubuhnya. Kalau memang dia tidak suka kok baru sekarang dipermasalahkan. Memang ini kali pertamanya mereka berpelukan atau saling berdekatan? Tidak, 'kan?

"Biasanya juga tidak masalah." Laki-laki yang memiliki surai semerah darah itu hanya menatap istrinya heran.

"Tidak tahu, aku juga biasanya suka baunya, kok. Tapi kali ini tidak." Sakura juga sebenarnya heran dengan dirinya sendiri. Tapi tidak mau terlalu mempermasalahkannya, mungkin seleranya sedikit berubah sekarang. "Lain kali, tidak usah pakai lagi ya. Pakai saja parfum yang lain." setelah mengatakan itu ia berlalu dari hadapan Sasori dan dengan cepat masuk mobil. Meninggalkan sang suami yang masih terdiam dan membisu.

"Kalau begitu aku pakai apa dong?" Sasori kemudian bertanya setelah menyusul masuk.

"Apa saja, tapi jangan yang itu. Nanti aku carikan deh mana wangi yang cocok."

"Cocok untuk siapa?"

"Untuk aku lah."

"Yang pakai kan aku."

"Ya sudah terserah, kalau mau pakai yang lama pakai saja. Tapi jangan dekat-dekat aku, bikin eneg." Nada Sakura mulai meninggi. Mulai kesal dia.

"Ya sudah, jauh-jauh saja sana."

"Ya sudahh!"

Dasar Sasori, bukannya mengalah malah tambah mancing si istri emosi. Sakura hanya mendecih sebal. Wanita musim semi itu memalingkan wajahnya, lebih memilih memandang jalanan lewat kaca mobil disampingnya daripada memandang suaminya yang malah bikin jengkel.

Tuh, kan. Perihal parfum saja sudah bisa bikin mereka cekcok berakhir ngambeknya Sakura.

Alhasil di tengah jalan Sasori harus menghentikan mobilnya, buat nendang Sakura untuk turun?—Ya Nggak lah. Orang dia sendiri yang turun buat mampir ke toko bunga. Lah ngapain, beli parfum baru?—Beli bunga dong ah, namanya juga toko bunga, bukan toko parfum.

Actually and finally, setidak-pekaannya Sasori, laki-laki berambut merah itu akhirnya mengalah juga dan berinisiatif untuk meminta maaf karena sudah membuat istrinya kesal. Dan kenapa dia harus repot-repot beli bunga dulu—udah kayak mau ngelamar lagi, sebenarnya itu menjadi metode atau cara mereka berbaikan. Mulai kapan? Sejak semua keanehan ini bermula.

Kata Sakura sih agar saat minta maaf tulusnya beneran terlihat, jadi kalau Sasori yang buat salah dia harus beliin Sakura bunga sebagai permintaan maaf. Sedangkan kalau Sakura yang salah dia bakal ngasih Sasori apel merah—yaa... Sasori mana suka bunga. Mending apel masih bisa dimakan toh katanya kan apel merah juga bisa dijadikan simbol permintaan maaf.

"Nih," Sasori menyodorkan sebuket mawar putih pada Sakura yang masih membuang muka tidak mau memandangnya. "Iya deh, aku tidak akan pakai parfumnya lagi."

Sakura cuma ngelirik singkat, tapi bunganya dia ambil juga.

"Terus?"

"Iyaa... Maaf, maaf. Aku kan cuma ngetes tadi. Eh, beneran ngambek lagi Hahah ..."

"Ish."

"Sini deh, kubisikin sesuatu." Sasori memberi kode agar Sakura mendekat kearahnya. Meski enggan, namun Sakura perlahan menyodorkan telinganya juga.

Dan yang dilakukan Sasori selanjutnya malah mencium pipi istrinya singkat, menepuk kepalanya pelan lalu diarahkan menghadap kearahnya agar Sakura bisa memandangnya. Sasori berkata pelan, "udah dong ngambeknya. Lupa sama umur?" Dan setelah itu dia kemudian mengecup bibir Sakura dengan cepat.

"Nanti dibeliin es krim, deh."

"Emang aku anak kecil?"

"Itu tingkahnya kayak anak kecil." Sasori tertawa mengejek.

Sedangkan Sakura sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul, tapi lupa kalau dia sedang megang bunga. Tidak jadi deh, sayang nanti rusak. Alhasil dia hanya bisa mendengus pelan, memandangi buket bunganya dan mulai menikmati aroma wangi khas bunga segar.

Sasori yang melihat tingkah istrinya hanya dapat tersenyum simpul lalu mulai menjalankan mobilnya kembali. Hal-hal seperti ini memang terkesan merepotkan dan menyusahkan tapi anehnya dia tidak benar-benar membencinya. Malah dia—

...menikmatinya, mungkin?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini suasana di Perusahaan Konsultan Bangunan Hebi biasa saja, tidak ada spesial-spesialnya. Masih mempertahankan kondisi 3S-nya secara mutlak; Sepi, Sunyi, dan Suram. Sepi, disamping karena Sasori memang datang kepagian hari ini—pada dasarnya pegawai disini memang terbilang tidak terlalu banyak sehingga sangat tidak mungkin tercipta suasana ramai dan semarak ala-ala perkantoran lainnya yang memperlihatkan hiruk-pikuk para karyawan yang mondar-mandir akan kesibukan masing-masing.

Sunyi, alasannya sama dengan sebelumnya. Semua orang yang bekerja disini memegang teguh pedoman kesantuy-an. Santai tapi efektif. Jadi tidak perlu terlihat repot-repot tidak karuan. Buang-buang tenaga saja. Dan suram, karena rata-rata pegawainya bergender sama—yaitu kebanyakan laki-lakinya, pegawai wanitanya dikiit sekali bisa dihitung pakai jari. Hingga bagi para kaum jomblo yang kurang belaian merasa kantor ini begitu kurang penyegarannya.

Ketika batas waktu absen pagi tersisa lima belas menit lagi barulah satu-persatu orang mulai berdatangan. Dan dua rekan kerja terdekat Sasori—lebih tepatnya orang yang sering nempel-nempel padanya baru kelihatan batang hidungnya saat lima menit sebelum waktu habis. Datang secara bersamaan sambil bergandengan tangan bak teletabis—Hhh gak deng, tanda-tanda kiamat jika mereka melakukan hal semacam itu.

"Sialan, aku yang datang duluan." Teriak Kiba dengan nyolot ketika sudah tiba di mejanya sendiri yang letaknya berada disebelah kanan Sasori, sedangkan Deidara di sisi kirinya.

Bayangkan, betapa tersiksanya Sasori berada ditengah-tengah kedua orang tak beres itu.

"Apaan? Aku yang duluan, un." Deidara menyaut tak kalah nyolot.

"Mana adaa, mobilku yang tiba duluan di basement."

"Tapi aku yang lebih dulu menginjakkan kaki di pintu masuk. Iya, 'kan Danna?" Deidara mencari pendukung.

Sasori yang sedang sibuk membaca berkasnya hanya menanggapi dengan asal, "Iya, iya terserah. Emang aku peduli."

Kiba berdecak kesal, "Pokoknya aku yang duluan." ucapnya tak terima.

"Aku, un." Deidara juga tak mau kalah.

"AKU!"

"AKU, UN!"

"AKUUU!"

Oh, Tuhan. Pagi-pagi telinga Sasori sudah terkena polusi suara. Mereka berdua ini benar-benar, dasar bocah berkedok orang dewasa. Badan saja yang sebesar itu, tingkah dan pola pikirnya seperti bocah TK.

"AKUU, UNN!"

"AK—"

BRAKKK!

Sasori menggebrak mejanya. Ia melirik mereka berdua secara bergantian. Dengan nada suara pelan tapi mengancam ia berkata, "Ini masih pagi dan kalian sudah berisik. Mau kuhajar satu-satu, HA?!"

Kedua orang itu langsung kicep. Sambil menarik kursi masing-masing mereka hanya dapat menggerutu.

"Seram, un."

"Dasar sensian."

Tentu saja Sasori dapat mendengarnya dengan jelas, tapi kali ini ia abaikan saja. Laki-laki yang memiliki rambut semerah darah itu melirik jam tangannya. Akhir-akhir ini atasan mereka yang satu itu selalu datang lebih siang dari siapapun. Biasanya juga dia yang datangnya paling pagi, lalu sengaja duduk di kursi yang paling dekat pintu dengan pandangan mencemooh. Menyindir para bawahannya yang datang lebih siang darinya. Mungkin saja saat ini Sai sedang menunaikan kewajibannya untuk mengantar pacar terkasih sebelum ia sendiri datang ke kantor.

Melihat Sai bisa juga menjalin hubungan romansa layaknya orang normal, benar-benar tak terbayangkan. Soalnya, yang kita bicarakan orang seperti Shimura Sai, lho. Orang yang punya hobi mencaci maki dan merendahkan, serta berkata blak-blakan tanpa memeperdulikan perasaan orang lain. Ternyata bisa juga terkalahkan oleh seorang wanita semacam Yamanaka Ino. Mungkin, aura-aura terang secerah mentari pagi milik wanita itu mampu menghangatkan dan melelehkan es yang menyelimuti hati Sai. Meh. Kekuatan cinta memang luar biasa, setebal dan setinggi apapun dinding yang dia buat bisa roboh seketika. Sasori tak habis pikir, salut dia.

"Pagi."

Nah, tuh orang yang dighibahin muncul juga—yaa meski Sasori juga ghibahnya dalam hati doang. Jadi tidak dosa, 'kan?

Sai datang tanpa senyum—tapi semua orang dalam ruangan itu dapat mengetahui jika suasana hatinya sedang bagus. Dapat disimpulkan dari sapaan yang sangat jarang—malah mungkin tak pernah, yang dilayangkannya saat ini.

Beberapa orang balas menyapanya. Sebagai bentuk suka cita dan kelegaan karena tidak akan ada yang kena bantai hari ini—mengingat minggu ini sudah mulai masuk tanggal-tanggal keramat.

"Ohayouu, shachou."

"Pagi, Shimura-sama."

"Semoga harimu menyenangkan, shachou."

"Pagi, ganteng."—ini yang ngomong sebenernya cowok. Beneran mancing minta kena pecat.

Begitu Sai ingin membuka pintu ruangannya, Sasori dengan cepat bangkit dari kursinya dan mencegat Sai dengan proposal yang ada ditangannya.

"Apa?" Sai bertanya dengan ketus.

"Menurutmu apa?"

"Kau pasti tahu betul apa yang aku benci, bukan?" dahi Sai mulai berkerut tanda tak suka.

Namun Sasori malah memandangnya dengan wajah yang menantang. "Memangnya apa?" tanyanya ringan. Suka sekali dia memancing emosi mantan kakak kelasnya itu.

"Kau mau kupukul?"

"Kau tidak akan melakukannya—setidaknya untuk hari ini."

"Kenapa kau bisa seyakin itu?"

Sasori tersenyum miring, hazelnya melirik sekilas pada paperbag yang sedang di jinjing Sai di tangan kirinya, "Masakan Ino-san ...sungguh lezat, eh?"

Sai mendecih sebal, "klien baru, 'kan? Masuk, kita bicarakan didalam."

Sasori terkekeh pelan sebelum mengikuti langkah Sai untuk memasuki ruangannya. Asik sekali, bisa mengolok-olok orang yang paling ditakuti seisi kantor itu.

"Kali ini dimana?"

"Hubungan kalian sudah sedekat itu ya? Sampai dibuatkan bento segala."

"Hokkaido? Untuk perencanaan dan pengawasan pembangunan gedung perkantoran?"

"Jika sudah begitu, kenapa tidak langsung menikah saja?"

Sai melempar proposal yang sedang ada ditangannya ke meja dengan kesal. Hilang kesabarannya. Daritadi dia yang bertanya dia juga yang menjawabnya sendiri, Sasori malah ngoceh sendiri ngelantur tidak jelas.

"Kau ingin membicarakan proyek baru kita atau ingin mengorek-ngorek masalah pribadiku, hah?"

Sasori dengan santai memutar-mutarkan kursi yang sedang didudukinya, "pertanyaanmu retoris. Semua detailnya sudah ada disana, baca saja sendiri."

Tidak ada yang bisa dan berani sekurang ajar ini padanya, jika bukan seorang Akasuna Sasori. Kalau saja laki-laki yang memiliki rambut semerah darah itu tidak memiliki keahlian yang bisa diandalkan, maka dengan senang hati Sai akan menendangnya keluar dari perusahaannya sejak lama.

"Jadi apa yang kau mau sekarang?"

"Tidak ada."

"Lalu kenapa masih disini?" nada Sai meninggi.

Tapi Sasori bertahan dengan sikap cueknya, ia kini malah sibuk membolak-balik berkas-berkas yang ada di meja tanpa perlu izin dari pemiliknya. "Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Kenapa kau begitu penasaran?"

"Aku?" Sasori menunjukkan raut pura-pura terkejut. "Kau bercanda? Semua orang penasaran akan hubungan kalian itu."

"Dasar kalian para sampah yang suka mengurusi hidup orang lain."

Tuh, 'kan mulutnya beraksi lagi.

Sai membuang napas kasar, "Menikah katamu? Sudah gila kau. Hubungan kami bahkan belum lebih dari sebulan."

"Kau tidak lihat aku? Menurutmu berapa lama aku kenal Sakura sebelum menikah dengannya? Satu minggu. Kami bahkan baru bertemu satu minggu sebelum menikah."

"Jangan samakan dengan kasusmu. Kau menikah karena terpaksa."

Sasori kini memberikan perhatian sepenuhya pada lawan bicaranya. "Sejujurnya ...tidak ada unsur terpaksa. Kami bisa saja menolak jika mau, tapi kuputuskan untuk melanjutkan."

"Atas dasar apa?"

"Keyakinan." Sasori berkata tegas.

"Lalu, apa keyakinan itu membuatmu bahagia? Apa itu menuntunmu menuju sesuatu yang dinamakan kebahagiaan itu?" ada nada sarkasme dalam kata-kata yang dilontarkan Sai.

"Keyakinan adalah sesuatu yang ingin kau percayai. Jika kau percaya akan bahagia, maka kau pasti bahagia." Sasori mendorong kursinya kebelakang dengan pelan lalu bangkit berdiri. "Aku tidak bermaksud untuk sok menasihati atau apa, tapi kukatakan saja. Jika kau yakin padanya, maka langsung saja. Saling mengerti tidak akan cukup dalam suatu waktu. Setelah menikah kalian bisa saling memahami dan mengerti sepanjang hidup kalian."

Ia kemudian hendak melangkah pergi, namun ketika tangannya sudah akan menarik kenop pintu—pertanyaan terakhir dari Sai menghentikannya.

"Apa kau ...sedikit pun tidak menyesali keputusanmu itu?" kali ini Sai tidak menyembunyikan sorot ingin tahu dari mata kelamnya.

"Sama sekali tidak." Sasori tersenyum tipis. "Percayalah, rasanya begitu menarik mengetahui hal-hal baru yang belum pernah kau temui atau rasakan selama ini. Terkadang memang terasa aneh, tapi juga begitu menyenangkan."

Sasori memberi gestur seperti menembak dengan jarinya, "buktikan saja sendiri jika kau tidak percaya." ucapnya terakhir sebelum menghilang di balik pintu.

Meninggalkan Shimura Sai dalam ruangannya sendiri. Menatap dengan kosong setumpuk kertas yang menggunung diujung mejanya. Pikirannya sedang mengawang-awang entah kemana, mencerna setiap kata yang terdengar begitu meyakinkan keluar dari mulut mantan adik kelasnya itu.

Akasuna Sasori ...Sai berjanji pada dirinya sendiri untuk membunuh laki-laki itu jika perkataannya hanya bohong belaka.

"Akan kubuktikan sendiri seperti katamu." Sai bergumam pelan.

.

.

.

.

.

.

Sama seperti kemarin-kemarin, hari ini rumah sakit sama dibuat kelabakannya. Entah apa yang terjadi diluar sana, tapi pasien-pasien baru tak henti-hentinya datang untuk memeriksakan diri. Yang paling dibuat sibuk pastinya Unit Gawat Darurat, lalu disusul bagian penyakit dalam dan bagian pediatri. Flu dan penyakit sebangsanya rentan sekali menyerang anak-anak.

Dari pagi hingga menjelang siang, Sakura begitu disibukkan, mulai dari pasien rawat jalannya yang punya jadwal kontrol, kunjungan dan cek rutin pada pasien rawat inapnya, lalu beberapa kali ia mendapat panggilan dari UGD yang meminta bantuannya. Lelah? Pasti. Tubuhnya sudah terasa remuk redam. Karena biarpun sudah pulang ke rumah dia juga masih harus mengerjakan beberapa laporan yang belum sempat ia selesaikan, jadi ia sama sekali tidak bisa istirahat dengan tenang. Sesuka-sukanya ia dengan pekerjaannya, namun adalakalanya tubuh ini mencapai batas maksimalnya. Sakura ingin sekali istirahat—sebentar saja, tapi sepertinya masih belum ada waktu yang pas. Seperti yang terjadi sekarang.

"Sakura-sensei, ada seorang ibu yang menggendong anaknya sendiri menuju ke UGD tadi."

"Lalu?" Sakura bertanya sembari melangkahkan kakinya dengan cepat menuju UGD.

"Anaknya tak sadarkan diri, sepertinya mereka habis terlibat kecelakaan."

"Jelaskan rincian keadaannya."

Perawat yang bernama Tenten itu menjelaskan selagi mereka berjalan. Satu tikungan lagi mereka sudah masuk areal UGD. Dan di salah satu ranjang perawatan terdapat anak perempuan berumur kurang lebih tiga tahun yang terbaring, seorang wanita berumur pertengahan tiga puluh menangis tersedu-sedu disampingnya.

Begitu Sakura dan Tenten tiba, wanita itu langsung menghampirnya.

"Sensei, tolong selamatkan anakku sensei. Tolonglah." ucapnya memohon.

"Tolong ibu tenang ya," Sakura menenangkan. Ia dapat melihat di dahi wanita itu juga terdapat memar dan beberapa luka goresan di tangannya, namun ia sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun. Hatinya lebih sakit ketika melihat anaknya yang terbaring disana karena kelalaiannya berkendara. "Sebaiknya anda juga mendapat penanganan segera." Saran Sakura.

"Itu tidak penting, Sensei. Dahulukan saja putriku." si wanita bersikeras. Dan Sakura mengalah, ia memberi kode mata pada Tenten untuk membawanya ke ruang tunggu.

"Baiklah kalau begitu, anda mohon tunggu disana selagi saya memeriksa ya."

Sakura lalu mengawali pemeriksaanya dengan memeriksa reflek pupil mata dengan menggunakan senter kecil yang memang selalu siap sedia di saku jasnya. Setelah itu Ia kemudian mulai memasang stetoskop di telinganya dan mengarahkannya ke dada si anak. Mata emeraldnya bergulir sesaat kala ia sedang merasakan irama detak jantung dan pernapasannya. Karena merasa ada yang tak beres Sakura lalu memeriksa bagian tubuh si anak secara menyeluruh dan keyakinannya diperkuat saat ia menemukan memar yang cukup besar terdapat di bagian perut. Ia segera memanggil Tenten yang berdiri tak jauh darinya.

"Kemungkinan ada pendarahan Internal yang terjadi, segera lakukan CT-Scan dan pemeriksaan secara mendalam lainnya." Sakura memberi instruksi. "Dan oh, ya. Beritahu juga Tsunade-Sensei, kemungkinan kita akan melakukan operasi darurat segera. Aku akan bicara pada ibu pasien."

"Baik, Sensei." Ucap Tenten mengerti. Mereka berdua kemudian saling berselisihan jalan untuk melaksanakan tugas masing-masing.

.

.

Sakura melepaskan maskernya sesaat setelah keluar dari ruang operasi. Segera setelah ia sampai di ruang tunggu, ibu dari pasiennya menghampirinya dengan wajah gusar dan penuh kekalutan. Sakura tersenyum menenangkan sebelum berkata-kata.

"Jangan khawatir bu, pendarahannya telah kami atasi. Dan lebih dari itu tidak ada yang perlu dicemaskan." Dokter muda itu menepuk-nepuk pelan bahu si ibu berusaha menghibur. "Nene-chan akan segera sadar setelah pengaruh obat biusnya hilang."

"Terima kasih banyak Sensei, terima kasih." Ibu Nene berkali-kali membungkukan badan sebagai ungkapan terima kasih-yang ia rasa meski dilakukan berkali-kali pun tidak akan cukup. "Aku berhutang banyak padamu, sensei."

"Ahh ...jangan berlebihan. Ini semua sudah sewajarnya menjadi tugas kami." Sakura kembali tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi."

Wanita itu kembali membungkuk saat Sakura mulai melangkah pergi. Ia terus memandangi punggung sang dokter yang menyelamatkan nyawa putrinya dengan pandangan berterima kasih dan penuh kelegaan. Dua jam yang lalu ia lewati dengan penuh rasa sesak dan cemas yang menyelimutinya dan baru sekarang ia bisa bernapas lega. Juga baru kini ia merasakan beberapa nyeri di tubuhnya sendiri. Meski begitu jika bisa bertukar posisi, dia ingin sekali menggantikan posisi putrinya yang sedang terbaring didalam sana. Tidak ada ibu yang tega melihat anaknya menderita, apalagi disebabkan oleh kesalahannya sendiri.

"Kerja bagus, Sakura." Tsunade menepuk pelan bahu muridnya setelah ia bisa mensejajarkan langkahnya menyusul Sakura yang lebih dulu keluar tadi.

"Terima kasih atas bantuannya, Sensei." Sakura membungkuk singkat.

"Kurasa, kau sudah bisa memimpin operasimu sendiri."

"Ehm ...yah. Kurasa begitu," Sakura terlihat agak ragu-ragu sesaat. "Sejujurnya, aku masih sedikit agak takut." ia menatap gurunya dengan pandangan memelas.

Jujur saja, saat masuk ruang operasi dirinya masih sedikit teringat pada Yota dan kegagalannya menyelamatkan anak tersebut. Namun, setelah berpikir dan beberapa kali melakukan perenungan, Sakura memutuskan untuk memberanikan diri dan bangkit kembali. Berlama-lama terpuruk pada satu kegagalan hanya akan memperburuk diri sendiri. Masih banyak anak-anak atau pasien lainnya yang membutuhkan pertolongannya.

"Berproses, Sakura. Pelan-pelan saja." nasihat Tsunade. Ia kemudian menatap lekat wajah muridnya yang menurutnya saat ini agak aneh, "ngomong-ngomong, wajahmu pucat sekali."

"Apa iya, Sensei?" Sakura memegang pipinya sendiri. "Ahh ...apa mungkin karena aku tadi melewatkan makan siang. Terlalu banyak pasien makanpun jadi tidak sempat." ia tersenyum pasrah.

"Apa kau yakin?" Tsunade bertanya dengan nada curiga.

"Err, kurasa ..." memang, dari pagi ia sudah merasa tubuhnya sedang tak enak. Mungkin karena terlalu lelah dan jadwal makan yang tidak teratur hingga bisa saja penyakit asam lambungnya kambuh. Kepalanya juga agak terasa pusing dan sepertinya kini tambah terasa berat.

Meski masih ada perasaan mengganjal, namun karena Sakuranya bilang tidak apa-apa lantas Tsunade kembali melanjutkan langkahnya sembari memberikan beberapa petuahnya.

"Jangan jadikan pasien sebagai alasan untuk mengabaikan diri sendiri, Sakura. Bagaimana bisa kau menyembuhkan orang lain jika kau sendiri tidak peduli pada tubuhmu. Jangan sampai tumbang, saat ini kita sedang kekurangan orang." Tsunade menoleh saat tak mendengar jawaban dari lawan bicaranya. "Apa kau dengar, Saku—sudah kuduga kau sedang tidak baik."

Yang didapatinya sekarang adalah Sakura yang berdiri beberapa langkah dibelakangnya sedang memejamkan matanya sambil memegang kepalanya. Kakinya memang menapak ditanah, tapi Sakura merasa terombang-ambing kesana kemari seolah-olah berada di kapal laut. Rasanya pusing sekali, sampai membuat pandangannya sedikit kabur.

"Sakura, apa kau dengar aku?"

Tsunade menggoyang-goyangkan pundaknya. Dia dengar gurunya memanggilnya dengan nada khawatir tapi ia tak bisa meresponnya, semuanya terasa samar. Kakinya perlahan-lahan terasa begitu lemas hingga seperti tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Sampai pada akhirnya, ia benar-benar tak bisa merasakan apapun lagi. Kegelapan menyelimutinya dan ia terjatuh pada lantai marmer yang dingin.

... Sakura jatuh pingsan. Diikuti teriakan nyaring Tsunade, diiringi derap langkah kaki beberapa orang yang menghampiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N: Holaa~ senang rasanya bisa update lagi, setelah sekian lama mentok ga keruan:') udah setaun lebih ya ternyata, waktu cepet banget sih.. Dan keadaan masih gini-gini aja, semoga kesulitan karena pandemi ini bisa berlalu~

Oh, iya chapter 10 kayaknya bakal di pecah 2 part lagi heheh soalnya kepanjangan ntar yg baca pada muntaber wkekekk:v udah lama ga nulis cerita ginian gaya bahasanya jadi kaku, gomenn nee.. Semoga masih bisa dinikmati dan diusahakan konsisten untuk sampai akhir.

See you next ya~ Jgn lupa keep healthy!

Palembang, 14-11-21.