Onigiri Miya
Haikyuu FurudateHaruichi
Pairing : Sakusa x Osamu/Suna x Osamu (Yup, Osamu is bottom)
Warn : OOC AF, cerita nggak jelas, dan ... selama ini aku bilang ayo bikin fluffy di fanfic ini? Hahahahaha No! wkwkwk
Summary :
Semua berawal dari Sakusa Kiyoomi memutuskan dapur Osamu cukup bersih untuk dia kunjungi. Namun siapa sangka kedekatan mereka akan membawa Sakusa pada masa lalu Miya Osamu yang tak pernah dia duga? Sakusa/Osamu. (Suna/Osamu)
Happy reading
Suara-suara jepretan kamera menggema di seluruh ruangan. Sekalipun manager mereka meminta Sakusa memikirkan ulang keputusannya, dia tidak akan pernah gentar. Dia masih ingat penjelasan konsekuensi yang akan dia terima. Hujatan dari publik, dan mungkin saja menurunnya performanya dalam dunia olah raga. Sakusa siap menanggung itu semua. Dia tidak mau lagi Osamu menerima orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Sakusa menarik napas panjang. Pertanyaan demi pertanyaan dia terima bersahut-sahutan . Pertanyaan tentang fotonya malam itu, tentang foto kebersamaan mereka ke pantai, tentang foto-fotonya saat pergi ke restoran Osamu. Akan tetapi dia hanya akan menjawab satu hal.
"Saya mencintai Miya Osamu. Saya tidak peduli pada jenis kelaminnya, tidak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan. Saya mencintai Miya Osamu, sehingga saya tidak akan membantah keberadaan foto-foto itu. Saya tidak berharap kalian mendukungnya, tapi saya mohon untuk menerima keputusan saya. Saya kemari untuk bermain voli, dan saya berharap kalian melihat saya saat bermain voli, terlepas kehidupan pribadi saya. Terima kasih."
Sakusa segera keluar dengan suara jepret kamera yang tak berhenti. Dia menangkat wajahnya dan berharap Osamu melihatnya. Dia berharap Osamu, dimana pun dia berada, akan melihatnya. Dia menyempatkan diri melihat ke salah satu kamera, dan membayangkan lensa kamera itu adalah Osamu yang memperhatikannya.
Semua akan baik-baik saja.
Sayangnya, sebelum dia memastikan Osamu benar-benar baik-baik saja, dia tidak akan bisa tenang. Atsumu bergerak gelisah.
"Kau yakin aku tidak perlu ikut?" tanyanya. Sudah dua hari sejak Osamu memutuskan dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak memberi tahu Atsumu. Hanya membawa sedikit bajunya, dan tabungannya. Atsumu sudah menahan diri untuk tidak melompat da memesan kereta cepat untuknya. Sehingga pantas saja bagi dirinya untuk gelisah saat ini. "Aku bisa membantumu membujuknya."
Meian menepuk bahu Atsumu dan menggeleng. "Biarkan mereka mengurusnya, Atsumu. Mereka sudah dewasa."
Atsumu tidak semudah itu ditenangkan. "Aku akan menyusul kalian besok. Tidak peduli pembicaraan kalian berjalan baik atau tidak."
"Ya," jawab Sakusa tidak begitu peduli. Hal itu membuat Atsumu bersungut-sungut.
Mereka segera ke mobil Sakusa, masih banyak wartawan yang berharap akan mendapat jawaban lain untuk artikel mereka. Tambahan-tambahan jawaban yang akan membuat pembaca mereka tertarik, tetapi Sakusa tidak peduli. Dia hanya memasuki mobilnya, dan mengemudikannya keluar dari kerumunan wartawan yang tidak kenal menyerah.
Perlu berjam-jam untuk mencapai Hyogo. Sakusa menatap stasiun kereta itu, dan mengenakan topi. Dia tidak tahu sebaik apa topi ini akan menyembunyikannya dari mata-mata penasaran. Dia juga tidak tahu seberapa jauh artikel-artikel dari jawabannya tadi menyebar. Itu tidak penting sekarang. Yang jelas, dia ingin bertemu Osamu secepatnya, sekarang juga, dan meyakinkannya kembali. Dia tidak ingin Osamu pergi darinya.
Matahari sudah hampir terbenam ketika dia sampai ke stasiun. Atsumu bilang Osamu ada di rumah Kita-san, dia tidak bisa memastikan apakah Osamu akan pulang ke rumah ibunya atau tidak saat ini. Lagipula sudah bertahun-tahun berlalu, dan mungkin saja, Osamu merasa sudah saatnya bagi mereka untuk membicarakannya. Dengan lebih dewasa.
Sakusa menyewa mobil, dan berkendara ke kota kelahiran Miya bersaudara. Sakusa melewati Inarizaki, hari sudah malam sehingga tidak ada kegiatan apa pun di sana. Akan tetapi, Sakusa mengingat kembali cerita Osamu tentang mereka yang bersekolah di sini saat itu. Kejadian mengerikan yang memulai seluruh kemalangan itu. Sakusa mendesah lelah, kemudian mengendarai mobilnya sesuai alamat yang diberikan Atsumu.
Kita-san tidak bisa datang sampai akhir minggu, dan Sakusa harus membawa Osamu pulang sebelum pertandingannya. Tenang. Sakusa yakin Osamu menyukainya, dan begitu pula dirinya. Penghalang satu-satunya yang mereka miliki adalah ketakutan kami dari pandangan publik. Masalah itu telah terselesaikan, setidaknya itulah yang dia yakini saat ini.
Ada mobil lain yang terparkir di pekarangan rumah Kita-san. Sakusa menarik napas dan keluar dari mobil. Rumah itu berupa rumah normal dengan pekarangan yang tidak luas. Ada sedikit tanaman-tanaman dalam pot, dan papan nama rumah itu masih menggunakan nama Kita. Atsum bilang akan membelinya suatu saat, tetapi Kita-san masih belum mengizinkannya. Akan tetapi, Sakusa mendongak, dan menatap seluruh rumah itu, mungkin memang benar lebih baik dia membeli rumah ini.
Seseorang keluar dari pintu rumah itu. Dia tampak berbicara dengan seseorang, tetapi pintu itu tidak terbuka lebar. Dia segera menutupnya, dan percakapan mereka berakhir. Orang itu berbalik, dan matanya terbelalak. Ada rasa familier dalam diri orang itu. Wanita berusia sekitar akhir empat puluh tahun dengan rambut hitam yang diikat di bawah. Wajahnya lelah, dipenuhi gurat-gurat usia, tetapi dia masih berdiri tegak. Dia tidak begitu tinggi, tetapi senyumnya manis sekali.
Ah ... Sakusa menyadari. Dia ibu Miya bersaudara.
"Aku melihatmu di televisi," katanya lembut. Jari-jarinya bergerak gelisah. Sakusa hanya menunggu Miya-san berbicara. "Aku bukanlah ibu yang baik. Aku tidak bisa menyalahkan anak-anak atas hal mengerikan yang kulakukan di masa lalu, " Dia menatap pintu rumah Kita-san dengan penuh rasa sayang. "Akan tetapi, aku sungguh senang mereka baik-baik saja sekarang. Terima telah menjaga Osamu dan Atsumu."
Miya -san membungkuk sopan. Sementara itu Sakusa hanya mematung, kemudian dengan terbata dia berkata, "Ah ... ya, sama-sama, aku ..."
Miya-san tersenyum, dan ada titik air mata yang akan segera meluncur turun. Dia mengusapnya. "Pasti ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan. Kalau begitu, aku permisi dulu."
Sakusa meraih tangan Miya-san, kemudian berkata, "Kami akan pulang ke rumah."
Miya -san tersenyum, dan mengangguk dengan air mata yang menetes-netes. Sakusa hanya bisa menatap punggung wanita itu yang berjalan ke mobilnya. Masalah-masalah itu merusak segalanya. Hubungan Miya bersaudara dengan ibunya juga hancur, dan Sakusa tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit dan kesepian yang diterima oleh Miya-san saat tahu anak-anak mereka pergi. Mereka memilih tinggal di rumah ini, dan kemudian meninggalkan kota secepat yang mereka bisa.
Sakusa bisa tahu Miya-san menderita selama ini dari betapa kurus dan kantung matanya yang dalam. Juga mata itu, Sakusa bisa merasakannya. Mata penuh kepedihan yang sama dengan yang selalu Osamu tunjukkan. Satu-satunya hal yang bisa Sakusa lakukan adalah membujuk putra-putranya untuk berkunjung. Untuk sekarang, dia akan berfokus pada Osamu.
Dia mengetuk pintu kayu rumah itu. Mobil ibu Miya sudah pergi di belakang sana. Perlu tiga kali ketukan hingga Osamu membuka pintu.
"Bu, tolong, aku tidak ..." Dia berhenti. Matanya yang berkantung terbelalak. Dia segera menutup pintu, tetapi Sakusa menghentikannya. Jemarinya terjepit, tetapi dia bahkan tidak peduli. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau melihat berita itu," tukas Sakusa. Osamu membuka mulutnya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Sakusa bisa melihat jejak-jejak air mata di matanya yang sembab. "Aku tidak bercanda dengan perkataanku di sana."
Osamu membuka pintunya, hanya cukup untuk membuat Sakusa tidak terjepit. Dia menunduk.
"Kau menghancurkan karirmu sendiri," lirihnya. "Aku tidak memintamu melakukannya."
"Aku tidak menghancurkan karirku," katanya. Dia membuka pintu itu perlahan, Osamu mencoba menahannya tetapi akhirnya pintu itu terbuka juga. Tangan Osamu merosot. "Bilamana karirku hancur, aku tidak peduli. Kalau fansku pergi karena menganggap aku gay menjijikkan, maka yang mereka lihat bukan aku. Aku adalah pemain voli, aku ingin mereka mengagumiku hanya karena itu."
Osamu menggertakkan giginya. "Kau tidak tahu apa yang mereka katakan."
"Aku tahu," potong Sakusa lembut. Dia mengulurkan tangannya, hendak meraih Osamu, tetapi lelaki itu mundur. Sakusa berhenti, tidak ingin memaksanya. "Akan tetapi, itu tidak mengubah apa pun."
"Aku menghancurkan karirmu, Kiyoomi. Orang-orang itu, komentar-komentar itu, surat-surat itu, aku ... aku tidak bisa. Tidak kau." Osamu menggeram. Dia mendorong Sakusa ke luar, tetapi Sakusa bergeming. Dia membiarkan Osamu mengutarakan semua ketakutannya. Setiap ketakutan dan setiap rasa frustasinya. "Kenapa kau harus melakukannya? Kenapa?"
Sakusa menangkap tangannya, dan kemudian meraih tengkuk Osamu dengan tangannya yang bebas. Dia menariknya mendekat. Gerakan itu terasa kaku dan terburu-buru, dan Osamu tidak siap menerimanya. Sakusa bisa merasakan ketekejutannya, tetapi dia tidak berhenti. Sakusa mempertemukan bibir mereka, sedikit lebih kasar daripada yang seharusnya, karena Osamu tidak mau diam, tetapi kemudian dia berhenti melawan bersama air mata yang meleleh.
Sakusa mulai memberanikan diri. Dia melepaskan tangan Osamu yang terkulai begitu saja, kemudian meraih pinggangnya, lantas mendekatkan mereka berdua. Bibirnya mulai melumat milik Osamu dengan lebih lembut. Osamu mengerang, tetapi tidak menolak undangannya.
Setelah merasa Osamu lebih tenang, dia menjauhkan diri. Wajah Osamu merah padam, dan dipenuhi air mata. Osamu menutupi bibir menggunakan tangan, tetapi tidak mendorong Sakusa sekalipun tubuhnya bergetar. Sakusa pun tidak berniat melepaskan pelukannya pada pinggang Osamu.
"Kenapa?" katanya tergagap.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Pertanyaan-pertanyaanmu itu," jelas Sakusa. Dia mempertemukan dahi mereka. "Tetapi, maafkan aku karena aku tidak bisa menahan diri." Osamu mengerjap bingung. "Semua ini terjadi karena aku benar-benar menyukaimu. Karena aku tidak mau Haruto mencurimu dariku."
"Haruto hanya anak-anak."
Sakusa mengeratkan pelukannya. "Dia mencoba mencurimu, dan sekarang tidak ada lagi yang akan melakukannya. Orang-orang sudah tahu kau milikku."
"Dasar bodoh! Aku tak percaya kau menghancurkan karirmu hanya karena cemburu pada Haruto. Astaga Sakusa, kau tahu kan kenapa Suna melakukannya? Dia tidak kuat ..."
"Aku bukan Suna," tukasnya, kemudian dia tersenyum ketika Osamu akhinya mau menatap matanya. " Aku melakukannya bukan karena cemburu, tetapi karena mencintaimu."
Desah napas hangat Osamu menyapu sudut bibirnya. Dia menarik Osamu lagi ke dalam dekapannya, membawanya dalam ciuman lembut lain yang memabukkan. Sakusa menutup matanya, begitulpula Osamu. Ciuman mereka dalam, Sakusa bisa merasakan kecanggungan ciuman itu berangsur-angsur berubah menjadi tuntutan. Osamu meremas kemeja yang digunakannya, dan ciuman mereka berakhir.
"Aku sungguh tak percaya kau melakukannya," ujar Osamu untuk terakhir kalinya, sebelum benar-benar menyerah. "Aku mencintaimu."
Jantung Sakusa berdetak kencang. Rasa senang membuncah di dadanya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Osamu saat itu juga. Mereka bergerak semakin ke dalam rumah. Tangan Osamu meraih gagang pintu, tanpa melepaskan ciuman mereka.
Dan pintu itu tertutup.
To Be Continued
...
Bikin resolusi itu emang susah wkwkwk ... aku tahu ini bukan cerita yang bagus, endingnya nggak seperti ini sebenarnya, dan aku malah sibuk nulis Artemis Hunter. Karena aku keinget punya utang, aku selesaiin aja. Satu chapter lagi, dan satu lagi buat Suna. Yep yep. Aku tahu adegan ciumannya kurang, tapi gimana dong. Meski ini tagnya dewasa, aku nggak nulis ena ena. Hiks ... dah ya, sampai sini aja aku bacotnya. Aku senang kalian membaca cerita ini sampai titik ini. Tinggal besok, dan lusa. Ayo selesaikan sebelum bikin Atsuko sama Asami. Kalau kalian punya nama buat Female Osamu sama Atsumu, silahkan. Osamu itu nama maskulin, makanya harus diganti kalo mau bikin gendbend wkwk
