Onigiri Miya

Haikyuu FurudateHaruichi

Pairing : Sakusa x Osamu/Suna x Osamu (Yup, Osamu is bottom)

Warn : OOC AF, cerita nggak jelas, dan ... selama ini aku bilang ayo bikin fluffy di fanfic ini? Hahahahaha No! wkwkwk

Summary :

Semua berawal dari Sakusa Kiyoomi memutuskan dapur Osamu cukup bersih untuk dia kunjungi. Namun siapa sangka kedekatan mereka akan membawa Sakusa pada masa lalu Miya Osamu yang tak pernah dia duga? Sakusa/Osamu. (Suna/Osamu)

Happy reading

Saat pertama kali Sakusa menemui Osamu, dia hanya mengharapkan makanan bersih yang enak. Namun, Osamu memberikan makanan yang jauh lebih baik ekspentasinya, hingga membuatnya tidak bisa melupakan rasa itu di lidahnya. Beberapa hari kemudian, Sakusa menghadapi peringatan serius Atsumu di luar masalah voli untuk pertama kalinya dalam konteks berteman.

Sakusa masih bisa mengingat bagaimana reaksinya ketika diberitahu orientasi seksual Osamu. Kemudian semua hal mulai datang satu persatu, bersama dengan cinta yang semakin dan semakin tumbuh.

Sakusa datang untuk sebuah onigiri, tetapi membawa pulang pembuatnya beberapa bulan kemudian. Atau ... dia berharap begitu. "Aku tidak akan membiarkannya!" Kalau saja dia bisa merebut Osamu dari kakaknya. Atsumu melipat kedua tangannya, dan matanya menatap tajam. "Kalau dia memang harus pindah dari apartemennya, Samu akan tinggal di apartemenku."

"Aku kekasihnya, Miya."

"Dan aku kakaknya," tukasnya tidak mau kalah. Di dapur sana, Osamu hanya menggeleng lelah. "Aku sudah bersamanya sejak, pertama kali kita ada."

"Kau tidak bisa menggunakan itu sebagai alasan menolak," jawab Sakusa. Ini adalah kali pertama dia berdebat dengan seseorang tentang sesuatu dengan nada meninggi. "Osamu sudah dewasa, dan aku sudah bahkan sudah melamarnya, meski kita tidak bisa menikah."

"Jangan memerah!" bentak Atsumu pada kembarannya.

Osamu hanya menunduk, mengingat kembali pertemuan mereka malam itu. Sebelum Sakusa datang, ibunya berdiri di belakang pintu. Dia tampak ragu memencet bel, dan sesungguhnya Osamu tidak ingin membukakan pintu. Akan tetapi, wanita itu berdiri selama tiga puluh menit untuk menyiapkan keberanian. Hingga akhirnya, Osamu lah yang pertama membuka pintu.

Ibunya terkejut. Matanya memerah dan dia ingin menangis. Mulutnya bergetar, ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang bisa dia katakan.

Osamu menunduk. "Selamat malam," dia terdiam ragu. "Bu."

Wajah ibunya segera memerah. Dia menutup mulutnya kemudian menangis. Tangis ibunya membuat sesuatu dalam dada Osamu berdenyut. Bukan lagi kemarahan atau kekecewaan yang menggantung di sana, melainkan rasa bersalah dan penyesalan karena mencintai orang yang salah hingga memutuskan hubungannya dengan wanita yang telah bersusah payah membesarkan dirinya sendirian.

"Kabar kalian baik, kan?" tanyanya dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Oh tuhan, melihatmu sudah sedewasa ini membuatku," ibu tergagap. Dia menutup mulutnya, air mata meleleh ke pipinya lagi, "maafkan aku, Osamu. Maafkan aku."

Ibunya menunduk, sebelum beliau sempat melakukannya, Osamu segera memeluknya. Dia mengusap punggung ibunya, dan rasa sakit itu kembali berdenyut-denyut di dadanya. Tubuh ibunya terasa begitu kecil dibandingkan dirinya. Jauh lebih kurus dari yang diingatnya.

"Tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri, Bu," ujar Osamu lembut. Ibunya menangis semakin keras. Dia bisa merasakan ibunya kesulitan bernapas. "Jangan menangis, kumohon!"

"Maaf," ujar ibunya lagi. Berkali-kali. "Maafkan aku, Osamu."

Setelah beberapa menit membiarkan ibunya menangis, Osamu menuntun wanita itu masuk. Dia memberikan teh hangat, dan beberapa onigiri. Dia tidak membuat makanan lain, dan sejujurnya hanya itu makanan yang tersedia sekarang. Tetapi ibunya tersenyum.

"Aku merindukan onigiri buatanmu, Osamu," katanya merenung. Dia menatap onigiri itu seolah makanan itu adalah maha karya terindah yang pernah dia lihat. "Aku rindu kamu membuatkan onigiri dan memasak untukku."

Osamu tidak tahu harus mengatakan apa, sehingga dia bertanya, "Bagaimana kabar Ibu?"

"Ibu baik-baik saja," katanya berbohong. "Aku senang melihat putra-putra ibu baik-baik saja. Itu sudah cukup untukku."

Kecanggungan itu terasa mencekik. Osamu membiarkan ibunya memakan onigiri buatannya, dan wanita itu kembali menangis.

"Ya tuhan. Kau benar-benar menggapai cita-citamu, dan aku malah ... aku tidak ada di antara kalian untuk mendapingimu," ujarnya di sela tangis. "Osamu, bisakah kau memaafkan aku?"

"Aku sudah memaafkan ibu dari dulu."

Ibu mengusap air matanya dan tersenyum. "Apa kau akan tinggal di sini?"

"Aku tidak tahu."

Ibunya menunduk. "Aku sudah mendengar semuanya. Yang sebenarnya terjadi." Napas Osamu memberat. Sebagian dirinya reflek mencoba menyiapkan diri dengan cercaan. Tanpa dia sadari reaksi itu melukai ibunya. "Seharusnya aku ada sebagai pendukungmu. Sebagai penyanggamu. Akan tetapi, Ibu membuat kesalahan yang tak termaafkan."

"Aku tidak apa-apa."

"Osamu," katanya. Dia menyentuh tangan Osamu lembut. "Apa kau mau tinggal bersama ibu lagi?"

Dia mendongak. Matanya melebar penuh keterkejutan, dan kemudian menunduk lagi. Tidak mampu menatap wajah tua yang lelah itu. Kalau saja dia tidak membuat semua kesalahan itu, kalau saja dia mencintai wanita seperti lelaki normal pada umumnya, kalau saja dia tidak menjalin hubungan dengan Suna. Apakah mereka akan hidup bahagia? Ibunya tidak perlu bekerja. Dia akan membuat kedai di sini, dan Osamu akan pulang di akhir setiap akhir musim pertandingannya.

Terlalu banyak kalau saja untuk disesali, hingga Osamu tidak tahu harus memulainya dari mana.

Dia menggigir bibir. "Aku tidak tahu, Bu. Bukan aku yang memutuskannya."

Ibu mencoba bernapas melalui bibir. "Apa kau mau mengunjungi ibu lagi setelah ini?" Osamu mengangguk. Ibunya tersenyum lebar. Kemudian meremas tangannya, sekali lagi. "Osamu, apa kau bahagia bersama Sakusa Kiyoomi?"

Osamu mendongak. Dia hanya membuka mulutnya tanpa bisa mengatakan apa pun.

"Aku melihatnya hari ini di TV." Osamu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, kemudian berkata, "Ibu sudah melakukan hal tak termaafkan. Sekarang, ibu hanya menginginkan kebahagiaanmu. Sakusa orang yang baik. Ibu bisa melihat kesungguhannya, dan aku tahu kau juga mencintainya."

Setelah itu ibunya pergi. Beberapa menit kemudian Sakusa datang, dan sungguh, Osamu tidak tahu harus melakukan apa. Sebagian dari dirinya marah karena Sakusa seceroboh itu untuk membuang karirnya demi hubungan yang tak akan bertahan lama. Sedangkan sebagian dirinya mengingat kembali kata-kata ibunya.

Dia tidak kuasa menolak Sakusa lagi. Meskipun tanpa dorongan, dia tidak bisa menyangkal dirinya memiliki perasaan pada Sakusa. Hanya perlu sedikit pengakuan dan Osamu jatuh ke pelukan Sakusa. Bagaimana dirinya tidak jatuh ketika Sakusa dengan berani menghadapi dunia sementara dirinya melarikan diri? Kecemburuannya yang manis. Dia yang marah untuk dirinya. Dia yang menyelamatkannya dari traumatik, dan mengatakan dirinya tidaklah rusak. Bahkan pernyataan cintanya, sifat posesifnya yang manis, dan ciuman yang memabukkan itu. Osamu tidak bisa lagi menyangkal perasaan yang bersarang dalam benaknya.

Mereka memutuskan bersama malam itu, mengikat perasaan mereka, dan malam itu menjadi malam tak terlupakan untuk Osamu, begitu pula Sakusa.

Sakusa yang mengetahui hubungan mereka dengan ibunya, dan menceritakan tentang pertemuannya dengan ibunya semalam, menyarankannya untuk pulang. Atsumu yang datang keesokan harinya, menggunakan kereta paling pagi, menolak rencana itu mentah-mentah. Atsumu masih sangat marah pada ibu, tetapi mereka memutuskan untuk mencoba.

Itu adalah hal terbaik yang pernah mereka lakukan. Ibu mereka menangis dengan lega, dan meskipun dia dan ibunya kemarin malam telah bertemu, rasanya ini adalah kali pertama mereka benar-benar bertemu setelah tahun-tahun penuh masalah itu. Ibu mengajar mereka masuk setelah puas menangis dan memeluk mereka berdua, lantas menyiapkan teh dengan tangan-tangan yang gemetar.

Rumah itu tidak berubah sama sekali. Masih seperti saat mereka meninggalkannya, tetapi sedikit lebih berantakan. Seperti ibunya saat ini. Hal yang paling mengejutkan dari pertemuan itu adalah pernyataan Sakusa.

"Saya berniat melamar Osamu, bila itu memungkinkan," katanya. Osamu terbelalak terkejut, dan Atsumu menggeram tidak terima. "Orang tua saya sudah tahu. Saya telah menceritakannya. Mereka tidak sepenuhnya mendukung hubungan ini, tetapi mereka menginginkan kebahagiaan saya. Karena itulah saya berharap ibu merestui kami, meski kami tidak mungkin meresmikannya secara legal."

Kemudian hubungan mereka benar-benar di resmikan, sekalipun tidak secara legal. Akan tetapi, komitmen itu tidak main-main. Sakusa benar-benar membuktikan keseriusannya, dan mengajaknya pergi ke rumah orang tuanya. Atsumu mengamuk karena tidak diajak, dan Sakusa senang membuat kakak kembarnya kesal. Bukan berarti Osamu tidak menyukainya juga.

Keluarga Sakusa menyambutnya dengan tangan terbuka. Agak berlebihan memang, mereka menyambut Osamu seperti menyambut seorang gadis, tetapi Osamu tidak bisa menolaknya. Keluarga Sakusa sangat baik, rupanya, Sakusa menjelaskan tentang dirinya tak pernah membawa orang lain sebagai kekasih. Tak ayal mereka begitu menyambut Osamu sebagai bagian dari mereka. Osamu curiga mereka juga mengetahui masalah Osamu, tetapi saat dia bertanya pada Sakusa, lelaki itu hanya mengangkat bahu.

Sekarang, setelah semua permasalahannya selesai, ada satu hal yang tetap menjadi perdebatan selama beberapa hari terakhir. Tentang dimana dia akan tinggal.

Sakusa bersikeras mereka akan tinggal bersama, dan Atsumu tidak membiarkannya sama sekali.

Atsumu bersidekap, "Dia adikku, dan aku bilang tidak."

"Bisakah kau bersikap dewasa, Miya?"

"Kau mau aku bersikap dewasa? Tentu. Aku akan membawa Samu pergi, menandatangani kontrak klub lain, ke luar negeri kalau perlu."

"Tidak," kata Osamu pada akhirnya. "Kau tidak akan melakukannya."

"Try me!" balas Atsumu sembari menyeringai. "Aku sudah membuat Suna tidak bisa melacaknya, apa kau pikir aku tidak bisa melakukannya lagi?"

"Astaga, Miya!" bentak Sakusa. "Kau tidak berhak melakukannya."

"Ya. Aku berhak! Aku yang ada di sampingnya selama ini, dan kau harus melangkahi mayatku untuk membawanya pergi."

"Aku tidak membawanya pergi. Kau tahu dimana apartemenku, dan ini bukan berarti kita akan pindah jauh. Berhenti menjadi anak kecil."

"Aku. Tidak. Mengizinkannya," ketus Atsumu menekan setiap kata. Dia menggeram, dan menarik kerah Sakusa. "Kau pikir bisa membawanya pergi begitu saja hanya karena kau kekasihnya, jangan berharap!"

"Kau benar-benar kekanakan, Miya!"

Mereka bertengkar hebat. Sakusa dan Atsumu memiliki sikap protektif yang mengerikan, dengan kekeras kepalaan yang sama, dan pada akhirnya, sejak pertemuan mereka, Sakusa dan Atsumu bukan dua orang yang akur. Osamu sudah mendengar pertikaian mereka selama ini. Sekarang, ketika dia melihatnya sendiri, kesabaran Osamu juga diuji.

Dia bukan penyabar sejak awal. Setidaknya, bukan pada kakak dan—sekarang list itu bertambah—kekasihnya. Saat mereka saling dorong, Atsumu tidak sengaja menjatuhkan Sakusa ke laptop Osamu yang terbuka di meja. Sakusa menduduki laptop itu, dan mematahkan layarnya. Seketika layar itu hitam, tidak bisa digunakan, dan semua data penting untuk mengembangkan tokonya lenyap. Hilang. Tidak bisa dikembalikan bersama laptopnya yang tak terselamatkan.

Dan di situlah seluruh kesabaran Osamu habis.

Atsumu membeku, begitupula Sakusa. Atsumu yang sudah sering menghadapi murka Osamu menatap adiknya perlahan. Wajahnya memucat ketika tangan Osamu telah terkepal.

Dia menyeret kedua lelaki dewasa itu ke pintu, menendang mereka keluar, dan membanting pintu itu tepat di depan muka mereka, setelah berkata, "Aku tidak akan tinggal dengan Bajingan-Bajingan seperti kalian. Tutup mulut, dan pergi dari apartemenku!"

Atsumu menganga. Sial. Adiknya benar-benar marah, dan sekarang tidak ada satu pun dari mereka yang akan mendapatkan makan malam. Padahal Atsumu datang ke sini untuk itu.

"Ini semua salahmu, Omi-Omi." Merasa tidak mendapat jawaban, Atsumu menoleh. Alih-alih menemukan Sakusa yang menyesal, dia hanya menemukan lelaki itu tersenyum senang. Seolah dirinya baru mendapat jackpot. Atsumu mengernyit dan menatap Sakusa aneh. "Apa yang membuatmu bahagia sekali?"

"Samu menendangku keluar."

"Damn, kenapa kau senang sekali karena itu?"

Sakusa berdeham. "Dia marah padaku."

Sebelah alis Atsumu terangkat heran. "Dan?"

"Artinya dia percaya padaku."

"Sial."

Sakusa tersenyum puas, dan dia mulai mengetuk pintu Osamu. Aaah ... Atsumu tidak bisa melihat ini. Dia tidak bisa bersama dua orang yang sedang dimabuk cinta.

Akan tetapi, dia kemudian tersenyum, dan menepuk punggung Sakusa.

"Congrats."

END

Semua masalahnya beres, ya?

Sebenernya mo berenti aja di chap kemarin, tapi aku mau bikin Miya bersaudara sama ibunya baikan. Tinggal satu chap tambahan tentang Suna. Aku tulis secepatnya. Nah, karena ini cerita udah selesai, aku bikin gantinya. Sekarang SunaOsa, judulnya Little Curse. Bisa di cek di work ku kalau-kalau ada yang berminat.

Terima kasih sudah menemani cerita ini sampai tamat. Astaga, aku jarang banget namatin novel, tapi ini cerita memang menyenangkan buat ditulis. Dan 1.3k read loh, love u guuuys. Awalnya kupikir ini nggak ada peminatnya karena getek, tapi ternyata banyak yang baca. Aku terharu, bareng Osamu/ eh nggak ... wkwkwk

Well ... sampai di sini saja AN tidak berguna ini, sampai bertemu di fic selanjutnya. Bubaaaaaaay