Onigiri Miya
Haikyuu FurudateHaruichi
Pairing : Sakusa x Osamu/Suna x Osamu (Yup, Osamu is bottom)
Warn : OOC AF, cerita nggak jelas, dan ... selama ini aku bilang ayo bikin fluffy di fanfic ini? Hahahahaha No! wkwkwk
Summary :
Semua berawal dari Sakusa Kiyoomi memutuskan dapur Osamu cukup bersih untuk dia kunjungi. Namun siapa sangka kedekatan mereka akan membawa Sakusa pada masa lalu Miya Osamu yang tak pernah dia duga? Sakusa/Osamu. (Suna/Osamu)
Wajah Osamu yang tengah terlelap terasa begitu manis untuk Suna. Tanpa dia sadari, satu jam berlalu sejak pertama kali dia membuka mata. Malam mereka sangat luar biasa, dan memiliki Osamu di ranjangnya saat pagi tiba selalu membuat seluruh hidupnya terasa sempurna.
Semenjak Osamu mengakui orientasinya, Suna merasa dia memiliki kesempatan. Sudah sejak lama Suna menganggap Osamu manis, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya. Karena hubungan mereka pastilah tabu, dan ayahnya takkan merestuinya. Beliau bahkan pasti mengamuk kalau mengetahuinya. Ayahnya adalah orang yang amat memandang kehormatan dirinya, dan kecacatan anaknya pasti membuatnya murka.
Akan tetapi, ketika Osamu dengan malu-malu, menyatakan perasaannya, otak Suna membeku oleh rasa senang, kekhawatiran, ketidak percayaan, ketakutan, dan segala hal lain yang penuh kontradiksi. Dia perlu beberapa detik untuk mengembalikan kesadarannya, dan memilih untuk menerima Osamu. Lelaki itu tampak begitu senang, dan Suna bersumpah akan membawa akhir bahagia untuk mereka.
Demi melakukannya, dia harus menyembunyikan hubungan mereka sebaik mungkin. Bahkan bila dia harus mengkhianati Osamu. Berselingkuh di belakangnya untuk menyakinkan orang-orang dia adalah lelaki normal setiap kali ada pembicaraan yang mencurigai mereka, tetapi Suna bersumpah pada kekasihnya yang tengah tidur, hati dan jiwanya akan tetap milik Osamu apa pun yang terjadi. Suna tersenyum ketika kekasihnya mengucap makanan tanpa sadar. Sebentar lagi Osamu pasti bangun, lebih baik dia mandi sekarang.
"Selamat pagi, Osamu."
Sebagai jawaban, Osamu kembali bergumam tidak jelas. Suna tersenyum, mencium dahi Osamu, dan bangkit dari tempat tidur.
Sayangnya, rencana Suna berjalan ke arah yang mengerikan. Keinginannya untuk menjadi bebas di kota orang, menjadi bumerang yang menyakitkan. Keesokan harinya foto mereka tersebar seperti wabah yang terhentikan. Dari mulut ke mulut, menjadi gosip yang berdengung di setiap lorong, di setiap kelas, di setiap pembicaraan. Akan tetapi, Suna menyadari satu hal. Foto itu hanya menunjukkan Osamu, dan luput mengenali dirinya.
Pertanyaan yang mengambang adalah, "Siapa kekasih adik Miya Atsumu yang arogan?"
Sebagian besar orang tidak menyukai Atsumu, dan meskipun Osamu mencoba menjadi lebih baik, selalu ada orang yang mengaitkannya dengan sang kakak kembar, dan memukul mereka sebagai orang yang sama. Maka tidak heran, ketika mereka memiliki senjata untuk menyerang mereka, orang-orang itu tidak akan melewatkannya.
Berbeda dengan di sekolah yang tidak mengenali dirinya, ayahnya marah besar. Beliau tahu, pasti. Dia bahkan memukul perut Suna, mencambuk punggungnya, dan paha nya menggunakan gesper. Ayahnya selalu tahu bagaimana 'menghukumnya' tanpa diketahui orang lain. Bagi mereka semua, keluarga Suna adalah keluarga hangat yang penuh kasih sayang, bahkan, Osamu menganggap rumah ini sebagai rumah yang lebih baik dari miliknya. Bagi Suna, rumah ini adalah neraka.
Dia menunduk. Enggan menatap ayahnya, tidak merintih, hanya menggertakkan gigi tanpa suara. Ibunya menangis sesegukan di belakang tubuhnya. Sudah menerima sebagian hukuman yang seharusnya tak pernah dia terima.
"Kau memalukanku!" bentaknya dengan suara gesper yang lagi-lagi menyambuk pahanya. "Siapa yang mengajarimu menjadi menjijikkan?"
Tidak ada jawaban. Suna sudah belajar tidak mengatakan apa pun ketika semua ini di mulai. Dia belajar untuk mengikuti semua perintah ayahnya, karena bila dia melawan bukan hanya dirinya yang dicambuk, ibunya juga akan merasakan hal yang sama. Untuk itu dia diam, menunduk, dan mengikuti segala perintah ayahnya untuk masa depan yang lebih baik.
"Jauhi dia! Jangan pernah berurusan dengan keluarga Miya! Dan jangan sampai dirimu ketahuan!" Suna menunduk. Bibirnya terasa seperti karat dan garam. Punggung dan pahanya mati rasa. Hatinya teriris, tetapi di antara semua rasa sakit itu, air matanya tak pernah keluar. Melihat kebisuannya, Ayah Suna kembali membentak, "Jawab!"
"Baik."
Hari-hari itu terasa begitu mengerikan. Suna hanya bisa melihat Osamu menjadi obyek perundungan. Hatinya teriris setiap kali melihatnya. Akan tetapi, tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Dia tidak bisa menolong Osamu dan membuat ibunya menjadi korban dari keegoisannya. Dia tidak bisa menyelamatkan cintanya, karena cintanya yang lain akan terluka karenanya.
Setiap kali dia datang ke sekolah, dia menghindari Osamu sebaik mungkin, karena bila mereka bertemu, Suna tidak yakin mampu mempertahankan kewarasannya. Suna ingin menyelamatkan Osamu, dia ingin menyelamatkan ibu dan adiknya, tetapi dia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Belum.
"Ayo kabur, Bu!" kata Suna pada ibu dan adiknya ketika ayahnya tidak ada.
Ibunya terbelalak. Dia tahu satu-satunya hal yang menahan Suna disini adalah kekhawatiran, bahwa ibunya akan menjadi pelampiasan. Akan tetapi, mereka tidak bisa kabur sekarang. Kehidupan dan masa depan mereka bergantung pada ayahnya, meskipun mereka membenci beliau setengah mati.
"Pikirkan masa depanmu, Nak!"
Suna mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Persetan dengan itu."
"Rintarou," ucap ibunya lembut. "Satu-satunya cara untuk keluar dari kemalangan ini adalah masa depan yang lebih baik. Bertahanlah! Berjuanglah! Suatu saat, ketika kau bisa berdiri dengan kakimu sendiri, kejar cintamu! Selamatkan adikmu!"
"Kita akan pergi dari sini. Aku bersumpah."
Akan tetapi, semua hal tidak berlansung sebaik yang diharapkannya. Seseorang mengiriminya pesan bahwa dia tahu dirinya lah yang ada di foto itu, dan mengancam akan menyebarkannya.
"Kalian tidak punya bukti," desisnya mengancam. "Itu bukan aku."
"Mereka tidak memerlukan bukti untuk percaya ini kau."
Suna menggeram. "Apa maumu?"
"Panggil Osamu untukku," katanya sembari mengalungkan tangannya ke bahu Suna. "Aku ingin bicara penting dengannya, tetapi dia tidak pernah memenuhi panggilanku. Lakukan itu dan mulutku akan terkunci rapat."
Suna menatapnya tidak percaya, tetapi dia kembali mengingat ibu, adik, dan denyut sakit di tubuhnya yang belum hilang.
"Bersumpahlah untuk menutup mulutmu."
Lelaki itu menyeringai senang. "Hanya kau dan aku yang tahu pembicaraan tadi."
Mengikuti permintaan orang itu adalah hal paling tak termaafkan yang pernah Suna lakukan. Seharusnya dia tahu mereka tidak hanya bicara. Seharusnya Suna tidak memanggil Osamu, dan menghadapi semuanya bersama. Namun, dia memilih menjadi pengecut. Suna berlari. Pikirannya dipenuhi rasa takut. Rasa bersalah. Dan amarah yang tak terbendung.
"Seharusnya kita melakukan ini sejak dulu. Sial, itu tadi nikmat sekali."
Ucapan salah satu dari mereka terngiang-ngiang di kepalanya. Suna yang khawatir memutuskan untuk mengintai dari jauh, tetapi begitu dia sampai, dia dikejutkan dengan kata-kata mereka. Seluruh tubuhnya segera meneriakkan kata Osamu. Apa yang mereka lakukan padanya? Apa yang ...
Seluruh napas Suna terasa terkuras habis dari paru-parunya begitu dia membuka pintu gudang penyimpanan. Osamu. Osamunya yang terkasih. Dia terduduk di matras kotor. Kancing-kancing bajunya terlepas, dan celananya terlempar begitu saja. Bibirnya berdarah, ada sedikit sisa sperma yang bercampur dengan darah dan liur, ada lebam di puncak pipinya, dan matanya menangis kering. Lehernya terdapat cetak tangan yang mengerikan, begitu pula pergelangan tangannya. Pinggulnya lebam, dan Suna tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari bagian privat Osamu yang disiksa.
Keadaan Osamu benar-benar mengerikan, hingga Suna tidak bisa menemukan apa pun untuk di katakan.
"O ... samu," panggilnya terbata.
Tangannya terangkat dan dia perlahan mendekatinya. Mata mereka bertemu, tetapi Suna tidak merasa dia melakukannya. Tidak ada sinar di mata itu untuknya. Suna seperti melihat pantulan dirinya di mata Osamu. Tatapan itu hanya memantul kembali, tidak benar-benar di terima Osamu. Hal itu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Tidak.
Tolong jangan tersenyum! Tolong jangan melakukan itu padaku, Osamu!
Osamu.
"Tidak."
Osamu menunduk. Dia mengambil celananya. Ketika dia berdiri, cairan itu meleleh ke sela kakinya, dan Suna bisa melihat lebam dimana-mana. Apa yang mereka lakukan pada Osamunya? Apa yang telah Suna lakukan pada kekasihnya?
Di antara kecamuk pikiran itu, Suna hanya bisa membeku ketika Osamu melewatinya. Begitu dia menutup pintu, Suna merosot jatuh. Bau amis menyesakkan itu memenuhi indra penciumannya, dan Suna tidak bisa mengenyahkan peristiwa itu dari otaknya. Tidak saat itu, dan tidak setelah bertahun-tahun kemudian. Bahkan ketika Atsumu datang, lantas menghajarnya hingga babak belur, bahkan ketika dia mendengar Osamu masuk rumah sakit, bahkan ketika dia tidak lagi melihat Osamu di klub, bahkan ketika dia tidak bisa melihat Osamu di manapun. Dia tidak bisa mengenyahkan bayangan dari itu dari mimpi buruknya.
Suna bersumpah akan memperbaiki semuanya, tetapi semua hal sudah terlalu terlambat. Dia lulus, mendapat tawaran klub yang bagus, dan berhasil merebut adik serta ibunya dari sang ayah yang kejam. Akan tetapi semua sudah terlambat. Suna tidak bisa menemukan Osamu di manapun. Hanya ada jejak samar yang tak pernah bisa dia temukan. Hanya ada amarah Atsumu setiap kali mereka bertemu.
Suna telah meminta, memohon, bahkan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari Osamu, tetapi Atsumu adalah benteng kokoh yang tak tertembus. Setiap kali dia mencium keberadaan Osamu, dia akan pergi dari tempat itu. Setiap kali dia bertanya pada Atsumu, pukulan lah yang akan diterimanya. Setiap kali dia bertanya pada Kita-san, hanya pandangan dingin yang dia terima.
Tidak ada yang bisa dilakukannya, dan dia hampir gila karena itu.
Dokter jiwa yang didatanginya hanya mampu meredakan insomnianya, tetapi tidak pernah mampu menyembuhkan penyesalan yang telah menggerogoti hatinya. Suna masih mencintai Osamu. Suna selalu mencintai Osamu. Dan akan selalu mencintainya. Oleh karena itulah, dia tidak akan menyerah menyelesaikan masalah ini.
"Kiyoomi bilang teman SMAmu membuka kedai onigiri yang enak," kata Motoya di suatu hari. Ketika mereka berjalan bersama ke tempat latihan. Mereka bertemu di tempat parkir, dan Motoya selalu menjadi orang yang ramah, dan memulai pembicaraan.
Suna menoleh. Matanya melebar, dan dia segera menangkap dua lengan Motoya.
"Dimana?" desaknya.
"Di Osaka?"
"Berikan aku alamatnya!"
Motoya mengangguk. "Aku akan mengirimkannya ke ponselmu."
Suna tidak menjawab. Dia segera berlari menuju mobilnya, meninggalkan Motoya yang bertanya-tanya.
Ini masih belum terlambat. Dia segera berkendara menuju lokasi yang diberitahu rekan se timnya. Berkendara, berkendara, dan bahkan tidak mengisi perutnya. Tidak peduli pada panggilan-panggilan dari managernya. Dia harus menemui Osamu saat ini juga sebelum dia pergi lagi. Dia tidak ingin kehilangan Osamu lagi.
Akan tetapi, begitu dia sampai pada malam harinya, seluruh tubuhnya membeku. Osamu. Miya Osamu yang begitu dirindukannya tengah melayani pembeli dengan senyum yang, bahkan, tidak bisa Suna ingat. Dia sudah begitu dewasa sejak terakhir kali mereka bertemu. Sangat manis dengan apron itu. Dengan kebahagiaan itu. Hingga Suna takut keberadaannya akan merusak kebahagiaanya.
Suna menunggu. Begitu lama hingga dia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu. Dia tidak ingat berapa banyak pelanggan yang datang. Akan tetapi, Suna menyukainya. Saat Osamu tersenyum melayani ayah dan anaknya yang membeli onigiri. Suna senang melihat dia tampak sibuk dengan apa pun di mejanya. Osamu terlihat begitu damai.
"Tunggu, Miya!"
Miya? Suna menoleh, hanya untuk menemukan Atsumu berjalan dengan tangan terkepal. "Atsumu," gumam lelaki itu. "Aku—"
Suna belum sempat menyelesaikan ucapannya, tetapi Atsumu telah memukulnya. Suna terhuyung jatuh. Dia menunduk, merasa pantas mendapatkan pukulan itu, atau pukulan-pukulan lain bisa Atsumu ingin. Atau dia bahkan rela bila Osamu memukulnya hingga babak belur asal dia bisa bertemu dengannya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Bajingan? Kau tahu jika aku melihatmu di luar lapangan, kau mati."
"Miya, hentikan!" bentak Sakusa. Hampir tidak mampu menahan Atsumu lagi.
Akan tetapi, dia tidak ada pukulan lain. Sakusa menahan Atsumu yang meronta-ronta dengan wajah merah padam. Suna mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Kalau saja Sakusa tidak menghentikannya Atsumu pasti akan merealisasikan ucapannya.
Keributan itu menarik perhatian orang-orang, begitupula Osamu. Suna membeku ketika lelaki itu keluar sembari berkata, "Apa yang terjadi?" Padahal dia sudah bersiap untuk menemuinya, tetapi ketika Osamu benar-benar menghampirinya, seluruh tubuh Suna terasa membeku. Dia tidak mampu berbalik, tidak siap menghadapi tatapan kosong yang pernah dia terima dulu, yang menjadi mimpi buruknya hingga sekarang. Suna menunduk. Sementara itu Atsumu melepasan diri. Dia segera berlari, dan satu-satunya yang dia dengar dari Osamu adalah, "What the fuck, 'Tsumu! Apa yang kau lakukan?"
"Get the fuck outta here!" perintah Atsumu dingin. Tanpa menoleh pun, Suna tahu siapa yang mendapat perintah itu. "Dan Omi-kun, segera masuk kalau kau masih mau makan malam di sini."
Seharusnya Suna kembali. Seharusnya Suna tidak mengganggu kehidupan Osamu lagi. Akan tetapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa mendekati Atsumu, dia akan menghajarnya saat itu juga, dan kedai Osamu tutup. Atsumu pasti memaksanya untuk menutup kedai, dan Suna harus bergerak sebelum mereka memutuskan pergi.
Suna tetap di kota itu. Tidak tahu harus melakukan apa. Akan tetapi, dia sungguh ingin memperbaiki semua. Dia ingin ... Suna terdiam begitu dia berpapasan dengan Sakusa. Benar. Sakusa ada bersama Atsumu saat itu, dia pasti bisa membantunya. Suna membuntutinya. Dia mengikuti Sakusa ke supermarket, akan tetapi tidak masuk hingga dia menemukannya.
"Hei! Maaf, Sakusa-san, tetapi aku melihatmu di jalan, dan kemarin, kau datang ke restoran Osamu, bukan?"
Di balik maskernya, Sakusa mengernyit tidak suka. "Ya?"
"Aku, engh ..." Suna mengusap belakang kepalanya gugup. Dia melihat sekitar, dna beberapa orang tampak memperhatikan mereka, kemudian menatap kantung belanjaan Sakusa. "Bisa kita mencari tempat dan mengobrol? Ada yang ingin kubicarakan padamu. Itu, tentang Osamu. Tolong!"
Sakusa menatapnya dingin. "Kurasa aku tidak berhak berbicara apa pun tentang Osamu denganmu."
Suna melonjak. Dia menunduk. "Maafkan aku."
Sakusa menghela napas. "Tidak ada gunanya meminta maaf padaku. Yang kau sakiti Miya bersaudara, bukan aku."
Suna tahu, tetapi dia tidak memiliki akses untuk meraih mereka. Sehingga dia membungkuk dalam. "Aku tahu. Karena itulah, kumohon ..." Suara bergetar. "Kumohon, tolong, biarkan aku berbicara denganmu."
Sekalipun Sakusa tampak keberatan, dia akhirnya mendesah, "Tolong angkat kepalamu! Mari bicara di tempat yang lebih nyaman."
Suna tahu ini tidak adil untuk Osamu, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Dia mengirim pesan ke nomor Osamu yang sejak dulu disimpannya. Dia tidak pernah mencoba menghubunginya agar dia tidak mengganti nomornya lagi. Setidaknya, agar Suna merasa memiliki sesuatu yang menghubungkannya dengan Osamu. Akan tetapi, sekarang, dia harus mempertaruhkan hubungan khayalannya.
[Aku ada di bar Red Kloak bersama Sakusa. Tolong temui aku di sana!]
Suna tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Kalau pun dia itu tidak berhasil, dia bisa mencoba mendekati Miya bersaudara dengan Sakusa. Untuk melakukannya, dia harus menceritakan cerita itu dari sudut pandangnya. Yang tidak Suna sadari adalah cerita-ceritanya hanya membuat Sakusa semakin marah.
Tangannya terkepal erat, dan dia mendesis dingin. "Kau mencari pembelaan diri?"
Suna terlonjak, menyadari kesalahannya. Wajahnya memucat. Dia menunduk. Karena pikiran penuh itu, Suna mulai meracau.
"Mereka bilang tahu siapa yang ada di foto itu," ucapnya dengan suara bergetar. "Aku ... aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir jernih. Mereka bilang akan menyebarkannya. Mereka bilang orang-orang tidak peduli apakah rumor itu benar atau tidak, sekali rumor itu tersebar orang-orang akan percaya. Kedekatanku dengan Miya bersaudara selama ini semakin memberatkanku. Aku harus melanjutkan karirku sebagai pemain voli profesional. Aku tidak bisa berhenti di sana karena dicap sebagai gay.
"Mereka bilang asal aku memanggil Osamu. Asal Osamu mau datang, semua rahasiaku akan aman. Mereka tidak akan melakukan apa pun padaku. Bahwa yang mereka inginkan adalah salah satu dari Miya bersaudara yang hebat. Jadi, aku memanggilnya. Aku ..."
"Kau membiarkan Osamu dihajar hingga babak belur," desis Sakusa tajam.
Dihajar?
Suna mendongak. Wajah Sakusa dipenuhi oleh amarah, tetapi belum. Dia tidak akan hanya bereaksi seperti ini jika Osamu menceritakan kejadian sebenarnya. Kalau dipikir-pikir, Atsumu pasti sudah membunuhnya kalau dia tahu apa yang terjadi. Alasan kenapa dia masih hidup sekarang adalah Osamu menyembunyikannya untuk dirinya sendiri. Betapa bodoh dirinya yang tidak sadar Osamu telah melindunginya, sementara dia melarikan diri seperti pengecut?
Bahkan bila Sakusa mengajarnya sekarang, itu tidak akan menebus kesalahannya. Karena itulah dia membiarkan Sakusa melakukannya hingga dia puas. Hingga Suna puas akan hukumannya. Akan tetapi, pukulan-pukulan itu berhenti.
"Sakusa!"
Osamu menerobos masuk ke dalam bar. Sakusa mengalihkan perhatiannya begitu saja, dan bergerak melindungi Osamu seolah Suna adalah ancaman terburuk di dunia. Suna menggigit bibirnya. Luka pukul di wajahnya terasa bukan apa-apa dibanding luka di hatinya.
Bagi mereka, Suna adalah ancaman bagi Osamu. Bagi mereka, Suna adalah penjahat yang termaafkan. Bahkan ketika Suna memohon seperti orang gila. Dia ingin waktu itu kembali. Dia ingin waktu mereka kembali. Dia ingin terlepas dari mimpi buruk-mimpi buruknya.
"Tolong! Kumohon! Bicaralah denganku! Maafkan aku! Kumohon!"
Akan tetapi, begitu Osamu membuka mulut, Suna tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjawabnya.
"Apa kau tahu berapa kali aku ingin mati setelah kejadian itu?" Ingin mati? Osamu? Dia mengeratkan pegangannya pada tangan Osamu. Meracaukan permohonan maaf yang tak berarti. Osamu menarik napasnya.
Aku ingin sekali bunuh diri. Aku merasa hidupku telah hancur karena hal itu. Dulu ketika rumor itu muncul, aku selalu berpikir kau akan berdiri di sebelahku. Tetapi, kau menghilang. Saat kau memanggilku untuk menemuimu, aku dengan bodoh berpikir, kita akan memperbaiki ini semua. Bahwa kau pergi menghilang untuk menyelesaikan masalah ini dengan caramu. Seperti yang selalu kau lakukan."
"Osamu?" rintih Suna.
"Tapi aku salah. Kau memanggilku untuk menyelamatkan dirimu sendiri." Osamu tertawa hambar. "Tetapi beberapa hari ini aku berpikir, betapa bodohnya aku karena terjebak di masa lalu. Betapa bodohnya aku karena terlalu terpaku pada masa lalu dan melupakan orang yang benar-benar ada untukku. Aku berpikir bahwa seharusnya aku melanjutkan langkahku. Tentu saja, untuk melakukannya aku harus menerima ketakutanku. Suna."
Suna terbelalak. Dia menggeleng dengan panik. Tidak. Tidak. Tidak. Tolong jangan senyum itu lagi. Suna mencegkram Osamu dengan putus asa.
"Osamu, kumohon!"
"Aku memaafkanmu, Suna," jelasnya lirih. "Tetapi kumohon, jangan mencoba untuk menemuiku lagi. Biarkan aku melanjutkan hidup."
Suna mencengkram tangan Osamu, seolah seluruh hidupnya bergantung padanya. Memang, seluruh hidupnya bergantung pada Osamu. Pada orang yang dikecewakannya, yang dicintainya, dan dikhianatinya. Suna menangiskan seluruh penderitaannya. Seluruh rasa bersalahnya. Sementara Sakusa, orang yang mau berdiri untuknya, mau marah untuknya, menjauhkan Osamunya dari Suna. Dia membawa Osamu dengan lembut keluar dari bar, sementara dulu, dia meninggalkan Osamu begitu saja.
Semua ini salahnya, dan tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Satu-satunya hal yang ditawarkan Atsumu—setelah dia mengakui kejadian sebenarnya dan membuatnya dihajar lagi—adalah membalas semua Bajingan-Bajingan yang memperkosanya. Hanya itu yang bisa dilakukannya, dan Atsumu bersumpah, nanti ketika semua hal telah berakhir, dia akan membantu mereka bertemu. Hanya saja tak lebih dari teman.
"Karena Samu akan bahagia."
Suna menunduk. Osamu akan bahagia, tetapi—meskipun Atsumu tidak mengatakannya—tidak dengannya. Osamu akan bahagia dengan Sakusa. Suna menyadarinya sejak lelaki itu mendaratkan pukulan pertama padanya. Kemarahan yang tak terbendung. Sekalipun dia tak menyadarinya sekarang, cepat atau lambat, Sakusa pasti menyadari hal itu.
Dan semua itu dibuktikan hari ini. Suna menatap televisi sejak kemarin. Internet sedang dihebohkan oleh skandal gay seorang bintang voli. Sesuatu yang sejak dulu ditakutinya. Yang membuatnya membuang Osamu begitu saja. Akan tetapi, berbeda dengan dirinya, Sakusa menghadapi kamera-kamera itu tanpa takut. Matanya menatap ke depan, seolah dia sedang bicara pada dirinya yang ada jauh berkilo-kilo meter darinya, menatap dari layar kaca.
"Saya mencintai Miya Osamu. Saya tidak peduli pada jenis kelaminnya, tidak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan. Saya mencintai Miya Osamu, sehingga saya tidak akan membantah keberadaan foto-foto itu. Saya tidak berharap kalian mendukungnya, tapi saya mohon untuk menerima keputusan saya. Saya kemari untuk bermain voli, dan saya berharap kalian melihat saya saat bermain voli, terlepas kehidupan pribadi saya. Terima kasih."
Bibir Suna bergetar. Kata-kata itu diucapkan dengan keyakinan yang tak terbantahkan. Kata-kata yang akan menyelamatkan Osamu, sementara dirinya menghancurkannya. Kata-kata yang ingin sekali Suna katakan dengan mulutnya.
Air mata meleleh di pipinya. Dia menangkup wajahnya, kemudian menertawakan dirinya sendiri. Biarpun dia tidak memilikinya, rasa lega menggebu-gebu di benaknya. Sakusa berjalan keluar dari jepretan kamera.
"Kuharap kau akan bahagia, Osamu." Suna menatap langit. "Dan aku akan selalu mencintaimu."
END
Udah ya. Jangan marah sama Suna lagi! Dia nggak salah, cuma gimana, dia nggak bisa ninggalin keluarganya begitu saja. Onigiri Miya bener-bener dah END. Aku nggak ngasih sequel buat cerita ini. Udah pusing wkwkwk ...
Terima kasih sudah membaca. Aku cinta kalian semua.
