Onigiri Miya

Haikyuu FurudateHaruichi

Pairing : Sakusa x Osamu (Yup, Osamu is bottom)

Warn : OOC AF, cerita nggak jelas, dan ... ini fluffy

Summary :

Bonus Chapter dari Onigiri Miya

Happy reading

Setahun berlalu sejak peristiwa yang menjungkirkan hidup Sakusa Kiyoomi. Dia tidak menyangka, mereka mampu melalui hal-hal yang mengerikan itu. Hujatan-hujatan, surat-surat ancaman, trending topic, berita yang tak henti-hentinya menyayangkan keputusannya, dan yang terakhir adalah klub memintanya mengambil cuti serta Osamu yang menutup restorannya. Sekarang, semua sudah baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja.

Sakusa memukul bola ke arah Atsumu terlalu keras. Sedari tadi—tidak—sejak seminggu yang lalu, Sakusa benar-benar kesal. Sayangnya, dia tahu, tidak seharusnya dia kesal. Usaha Osamu sedang sangat naik. Sejak mereka selesai membungkam para Haters—Sakusadengan kemenangan berturut-turut dan pukulan mematikan yang semakin bagus, Osamu dengan kelezatan onigirinya—usaha yang digeluti Osamu semakin maju.

Berat dari Kita yang biasanya dipasok sebulan sekali, bertambah sepuluh kali lipat. Restoran yang saat pertama kali dia masuki hanya berisi Osamu dan masakannya sekarang diisi oleh lima pegawai baru. Dua yang membantunya memasak dan tiga lainnya melayani pelanggan. Ponsel Osamu hanya berisi panggilan dari pemasok bahan makanan dan pelanggan-pelanggannya yang memesan banyak. Bahkan dia sedang merencanakan membuka cabang baru dan layanan pesan antar.

Usaha Osamu—seperti yang sudah dibayangkannya—berjalan dengan sangat baik hingga menyita waktu kebersamaan mereka.

Atsumu mencoba menerima bola itu, tetapi terpental jauh. Hinata menandatangani kontrak transfer ke Italia sejak beberapa bulan yang lalu. Digantikan oleh Spiker yang lebih tinggi dan lebih berpengalaman. Mereka lebih suka Hinata, tetapi tidak profesional bagi mereka bila terus merasa demikian.

Tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah ini hari perayaan satu tahun hubungan mereka dan Osamu sudah menolak ajakan kencan Sakusa ke resort pulau pribadi milik kenalannya. Sakusa sudah siap mengambil cuti untuk tiga hari kebersamaan mereka, dan sekarang lihatlah dia! Sedang menggebuk bola pada saudara kembar kekasihnya sebagai sasaran kekesalannya.

"Omi-kun, berhenti menjadi anak kecil!" gerutu Atsumu. Ketika mereka akhirnya selesai berlatih.

Bokuto dan Meian Shougo tertawa.

Meian berkomentar, "Kau masih kesal karena rencanamu batal, Sakusa?"

Sakusa menatap lelaki itu tajam. Tidak merespons, tetapi itu hanya membuat tawa mereka lebih keras. Sakusa mendengus.

Atsumu menyentuh dagunya. "Memang benar, sih, akhir-akhir ini sulit sekali menemui Samu. Kalau aku kesana, dia belum pulang, dan bila pulang langsung tidur. Aku senang usahanya berjalan sangat baik, tetapi jujur saja, aku mengkhawatirkan kesehatannya. Bukankah dia bekerja terlalu keras?"

"Itu dia yang kumaksud," gerutu Sakusa. "Dia terus bekerja meski di akhir pekan."

Meian dan Bokuto saling pandang. Kemudian Bokuto—yang akhirnya berani mengaku pada Akaashi kalau dia menyukainya dan mereka sedang melakukan hubungan sembunyi-sembunyi dari media—berkata, "Akaashi juga bilang Osamu terus bekerja dan tidak pernah mengambil hari libut."

"Akaashi? Tapi, kudengar seseorang berkata Keiji saat di telepon," goda Atsumu sambil nyengir.

Telinga Bokuto memerah. Ternyata dia bisa malu-malu juga. "Diam!"

Atsumu tertawa terbahak-bahak, sembari menutup pintu loker gantinya.

"Bagaimana kalau kau menjemputnya hari ini?"

Melihat senyum lebar penuh rencana Atsumu, Meian segera menukas, "Tidak."

"Dan apa pendapatmu tentang sedikit berdandan, Sakusa?"

OooOooO

Restoran Osamu sangat ramai. Orang-orang sering datang, panggilan sering berbunyi, pesanan-pesanan terus berdatangan. Bukan berarti Osamu tidak menyukainya, hanya saja ini benar-benar di luar ekspentasinya.

Sebelumnya, restorannya tak pernah buka di satu tempat cukup lama. Setiap kali Atsumu merasa Suna mengetahui keberadaannya, dia akan tutup dan menghilangkan. Toko itu kembali terbengkalai. Orang-orang yang mulai mengenalnya terlupakan begitu saja. Tidak ada lagi kedai bernama Onigiri Miya di daerah itu. Namun sekarang, meski jalan untuk melaluinya sangat sulit, Osamu bersyukur kedai ini akan terus berdiri. Namanya akan terus berkembang. Bahkan mulai memiliki anak cabang.

Dia juga senang bisa membantu Kita dengan membeli hasil panennya yang selalu bagus. Dia senang bisa berkenalan dengan banyak orang. Mulai dari orang-orang yang terlibat dalam olah raga atau anak-anak sekolah yang mampir bersama teman-temannya. Haruto tidak menjadi pegawainya lagi, melainkan pelanggan setianya bersama kekasih mungilnya setelah meminta maaf sungguh-sungguh. Sekolahnya baru masuk ke empat besar interhigh dan Osamu memberikannya sekotak onigiri isi enam cuma-cuma. Pacarnya menginjak kakinya.

"Maaf, Osamu-san, dia sepertinya belum move on darimu."

Osamu menoleh pada gadis kecil yang memiliki ekspresi kesal itu. "Kau tahu?"

"Iya, Dasar si Bodoh ini," gerutunya, kemudian tersenyum manis. "Tapi, aku mengerti, kenapa dia melakukannya Osamu-san memang tampan. Aku pun akan sulit move on."

"Hei!" tukas Haruto kesal. "Jangan merayu, Ichika! Kau, kan, pacarku. Ittai ..."

Gadis itu menginjak kaki Haruto lagi. Osamu hanya bisa tersenyum geli.

"Osamu -san, yang ini akan kuterima penuh terima kasih, tetapi aku beli empat kotak sedang lagi untuk keluargaku."

"Oh! Okay." Osamu menyiapkan pesanan Ichika dan menyerahkannya. "Ini. Empat kotak sedang Onigiri Miya. Semoga keluargamu suka, Ichika-chan."

"Berapa, Osamu-san?"

"Tidak. Tidak perlu. Anggap saja traktir dariku atas hubungan kalian."

"Tidak bisa menerimanya, Osamu-san," katanya. Anak yang baik itu merogoh tasnya dan mengeluarkan dompetnya. "Aku akan membayarnya."

Osamu terkekeh pelan. "Iya. Iya."

Osamu mengambil uang Ichika dan mengobrol sejenak. Namun obrolan mereka berhenti saat satu mobil berhenti di restorannya. Kalau bukan karena mobil itu tampak mahal dan mengkilap, orang-orang takkan berhenti makan untuk menoleh.

Pintu mobil terbuka, Osamu belum bisa melihat siapa yang datang sampai orang itu membuka pintu. Wajahnya segera memucat.

"What the hell!"

Sakusa Kiyoomi. Datang dengan tuxedo resmi, rambut ikal yang ditata rapi, dan tanpa masker, hanya berkaca mata hitam yang—astaga—bukannya menyembunyikannya, justru menambah kesan tampan dan mempesona. Celananya panjang dan sepatunya mengkilat mahal.

Sakusa berhenti sejenak, dan melihat ke seluruh restoran yang terpesona padanya. Dia menyentuh pergelangan tangannya, lantas tersenyum saat mata mereka bertemu. Sakusa berjalan ke arahnya bak model tanpa memutus tatapan mereka.

Siapa yang mengajarinya bersikap menggoda seperti itu?

Osamu bernapas sesak. That's realy overwhelming.

Ichika menyikut Haruto di sebelahnya. Dia sedikit menyingkir saat Sakusa mendekat dan berbisik, "Pantas saja kau kalah. Kalau mau bertanding, cari lawan yang sepadan, dong!"

"Hei!" desis Haruto.

Sakusa tidak memperhatikan mereka, bahkan melirik pun tidak. Dia hanya melihat Osamu yang membeku, terpesona, pasti. Kemudian sesuai dengan arahan Atsumu saat dia sedang didandani.

Tersenyumlah dan ajak dia pulang! Aku akan membiarkanmu menggunakan nama panggilan kecil kami hari ini.

Sakusa tersenyum—itu mudah jika berada di depan Osamu—dan menyentuh tangan Osamu di meja counter. Osamu menahan napas, sebagian besar pengunjung restoran mencoba membuang muka dan memberi mereka privasi, tetapi—astaga—Sakusa sangat menarik untuk dilewatkan.

"Samu," panggilnya rendah—sekali lagi perintah Atsumu. "Apa kau mau pulang bersamaku malam ini?"

Wajah Osamu meledak merah. Karena Sakusa memegangi sebelah tangannya, dia hanya bisa membuang muka dan menutupnya dengan siku. Gadis di sebelah Haruto pamit sambil menyeret kekasihnya, tetapi Sakusa bahkan tidak mau repot-repot menoleh. Untuk apa menoleh pada dua remaja yang tidak dia pedulikan, ketika Osamu sedang bersikap sangat manis di depannya?

"Kau ..." Osamu tergagap. "Kau. Siapa? Akh jangan melihatku begitu!"

"Aku Sakusa Kiyoomi," katanya. Dia akhirnya menoleh pada salah satu pegawai yang terkekeh geli. "Kau bisa menutup restorannya untuk kami, kan? Seharusnya tidak banyak yang tersisa."

"Iya. Bisa. Bersenang-senanglah, Bos!"

"Tidak! Hei!"

Orang-orang mulai tertawa, tetapi Sakusa menarik Osamu ke luar dari counter. Melihat lelaki itu masih keberatan, Sakusa meraih bahunya dan berbisik, "Aku akan menggendongmu kalau kau masih menolak."

Dan Osamu memaski mobil dengan patuh.

Mobil mereka berjalan di jalanan yang sepi. Sakusa menculiknya bahkan saat masih menggunakan apron. Benda itu tergeletak di belakang, tampak canggung di dalam mobil mewah yang tak pernah Osamu lihat ini.

"Ini mobil siapa?"

"Meian-san," katanya. Meian dengan baik hati—atas paksaan Atsumu juga—meminjamkan salah satu koleksi mobilnya yang mahal. "Bagaimana harimu?"

"Luar biasa, kalau saja seseorang tidak sedang menculikku dengan mobil mewah dan pakaian bagus."

Sakusa tertawa. "Begitukah?"

Osamu menggerutu dan menyilangkan tangannya kesal. "Siapa sih yang memintamu begini?"

"Atsumu," jawabnya. Sejak dua bulan hubungan mereka, Sakusa akhirnya berhenti memanggil Atsumu dengan nama marganya. Mereka semakin akrab, meski masih sering bertengkar untuk hal bodoh. Namun, Sakusa masih belum bisa memboyong Osamu tinggal bersamanya. Bukan hanya karena Osamu sangat sibuk, tetapi juga Atsumu adalah tembok kokoh yang keras kepala. Perjalanannya untuk mendapatkan Osamu masih panjang. "Dia memintaku menjemputmu."

"Dengan pakaian seperti ini?"

"Kata Atsumu, itu akan membuat semua orang menyerahkanmu padaku."

Sakusa meraih dasi yang tak nyaman itu dan menariknya turun. Dia tidak sadar Osamu meneguk ludahnya karena gerakan ringan yang seksi itu. Pikiran kotornya berlarian. Sakusa tidak tertarik pada permainan, tetapi Osamu berharap Sakusa akan mengikatnya dengan dasi yang mahal itu.

Sialan. Apa sih yang dipikirkannya?

"Apa?" Sakusa mengangkat sebelah alisnya. Hal itu, membuat Osamu yang merasa terpergok membuang muka. Wajahnya memerah hingga ke lehernya. Sakusa mengerutkan kening bingung dan ketika dia melihat kegelisahan kekasihnya, dia menatap dasinya. "Oh!"

"Jangan hanya oh!" ketus Osamu manis.

Sakusa tidak membiarkannya begitu saja. Di jalanan yang sepi menuju hotel yang sudah dia pesan itu, Sakusa menepi. Dia menarik dasinya dengan tangan kanan, sementara tubuhnya mendekat, sebelah tangannya yang lain meraih kursi Osamu dan menidurkannya. Si lelaki bertopi itu tersentak terkejut, belum sempat dia merespons, setengah tubuh Sakusa ada di atasnya. Dasinya berada di tangan kanan, seolah siap digunakan. Tangan kirinya menopang di sebelah kepala Osamu.

Miya bungsu bisa melihat dada Sakusa dibalik kemeja yang kancingnya dibuka dua. Dia sudah melihat semuanya—tentu saja—dalam malam-malam mereka yang panas, tetapi itu tetap tidak bisa membuat Osamu terbiasa dengannya. Apalagi dengan tuxedo dan kemeja yang mahal itu. Tidak dengan rambut bergelombang yang ditata rapi itu.

"Kau ingin aku menggunaka ini?" desah Sakusa sensual. Jakun Osamu naik turun. "Naikkan tanganmu, Sayang!"

"Oh My!"

Osamu ingin segera menurut, tetapi tidak sekarang. Tidak di pinggir jalan seperti ini. Dia mendorong Sakusa, tetapi lelaki itu meraup bibirnya dalam lumatan dalam. Tangannya menggerayangi tubuh Osamu, kemudian menarik tangan lelaki itu perlahan. Dasi itu sudah melingkar di sana, dan tubuh Osamu tersentak dalam antisipasinya.

Dia melepaskan ciuman itu sebelum Sakusa sempat menguatkan ikatannya pada tangan Osamu. Napasnya terengah-engah.

"Hold that thought," katanya di sela-sela napasnya. Sakusa masih ada di atasnya, menunggu ucapan Osamu setelahnya. "Hotel."

Lelaki itu tersenyum dan mencium dahi Osamu. "Makan malam dulu?"

"Kau memintaku menahannya selama itu?"

"Kalau begitu, tanpa makan malam," jawabnya. Dia tersenyum saat mengeratkan ikatan itu hingga Osamu tersentak. Sakusa tersenyum dan bangkit. Mulai menjalankan mobil. "Kau tidak pernah bilang, suka permainan."

"Kupikir kau yang tidak mau," ketusnya. Dia mengangkat tangannya yang terikat. "Lepaskan ini!"

Sakusa meliriknya. "Siapa yang bilang tidak?" jawab Sakusa tidak tahu malu. Osamu bangkit, dengan kesulitan mengembalikan kursi ke posisi semula. Sakusa bergumam pada dirinya sendiri. "Karena kau sudah memberiku persetujuan. Aku takkan menahan diri."

Osamu mengerjap. Ketika melihat senyum tipis Sakusa, dia tahu telah membuat kesepakatan yang salah.

Yah, meskipun begitu, dia tak pernah menyesalinya.

Di pagi hari, ketika Atsumu meneleponnya, dia mendengar suara rendah Sakusa saat berkata, "Kakakmu menelepon, Osamu. Kau mau bicara dengannya, kan?"

Dengan suara terbata-bata dan desah napas tertahan itu, telepon Atsumu tidak berlansung lebih dari satu kalimat utuh.

Wajah Atsumu memerah total ketika membayangkan kegiatan panas mereka di sana.

"Brengsek!"

END

Dah ... wkwkwk ... Kasihan Atsumu nggak sih?

Ini bonus chapternya. Padahal awalnya cuma mau bikin mereka balik bareng tapi kan Sakusa udah dress up, masak nggak gas sekalian? Wkwkwk ...