Pertama-tama aku mau bilang kalau aku gak punya hak milik sedikitpun dari semua karakter yang ada di fiksi-penggemar ini. Melainkan aku minjam semua dari Harry Potter milik JKR, kecuali beberapa OC yang memang aku bikin sendiri. Aku sama sekali gak menerima sedikitpun keuntungan finansial dari cerita ini. Aku bener-bener nulis ini murni untuk mengisi waktu luang di waktu PSBB ini.
Covernya dari .com dan 'ku edit sendiri
Setiap kali aku publikasi tiap bab atau chapter, aku akan (sebisa mungkin) lampirin semua pemerannya untuk sekedar penggambaran dan visualisasi aja, kadang emang gak tepat, tapi gak papa, 'kan wkwk. Bawa santai aja.
Kalau ada semisal mau kasih saran atau kritik, kolom komentar selalu terbuka untuk kalian semua dan jangan lupa like-nya, 'kay, karena itu sangat berharga untuk kami penulis kecil-kecilan wkwk. Aku akan unggah bab-bab selanjutnya sekali dalam seminggu atau dua kali dalam seminggu (sesempetnya aku), kalau dua kali berarti tiap minggu dan kamis; kalau sekali dalam seminggu, jadinya minggu aja.
Okay, semangat membaca!
"Pemeran"
Maxence Danet-Fauvel sebagai Pangeran Kegelapan Voldemort (Tom Riddle)
Georgy Pomogisebe sebagai Harry Riddle
Aron Jhonson sebagai James Potter
Karen Gillian sebagai Lily Potter neé Evans
Richard Harrish sebagai Albus Dumbledore
Emil Andersson sebagai Lucius Malfoy
A/N: Kenapa aku milih mereka semua?
Buat Maxence, dia emang meranin Tom di serial Prancis Haouse of Gaunt, makanya aku pilih dan penggambarannya pas: tulang pipi tinggi, hidung mancung, rambut hitam, dan matanya yang kek bisa ngulitin sesiapapun yang natap dia.
Trs soal kenapa aku pilih Georgy? Karena dia androgini dan karena Harry di fiksi-penggemar ini sub, makanya dipilih.
Dan Aron serta Karen kupilih karena, menurutku, mereka bener-bener penggambaran James dan Lily. I mean, mereka berdua mati muda, tapi di film mereka kek seumuran sama Sirius yang pas meninggal umurnya udah sekiataran 35 tahunan.
Soal Emil, aku milih dia karena penggambarannya pas (menurutku) dan pas tragedi ortunya Harry meninggal. Lucius pas ortu Harry meninggal sekitaran 27 tahun, dan Emil sekarang juga umur 27 tahun.
Dan, terakhir, Richard ... dia memang penggambaran Dumbledore menurutku, tapi bukan berarti Michael G. gak bagus, dia bagus kok, palagi pas adegan di kementerian, cuma aku lebih milih Dumbledore versi Richard aja sekarang. Kalau kalian nganggepnya beda yah gak papa.
Udah. selesai He he he ...
Selamat membaca semua!
Prolog
Prolog
Sinar berbagai warna melayang di udara, melesat begitu kencang dan membelah kegelapan malam yang menyelimuti bumi saat itu, suara lejitan dan sejenisnya mengusik sunyi yang tenang-melelap di tanah lapang yang nampak tak berujung sejauh mata memandang.
"Tom! Tidakkah kau mengerti bahwa apa yang kau lakukan adalah salah?" seorang pria tua berambut dan berjanggut putih—uban—panjang berteriak pada sesosok pemakai jubah hitam dengan wajahnya yang tertutup topeng masqueradeperak yang memiliki bentukan seperti setengah ular. Dua lubang mata dengan jelas menampakkan bagaimana dua iris merah menyala mengilat berbahaya kepada sang lawan.
Tongkat seputih tulang dengan ganggang bengkok meruncing seperti paruh burung terangkat, mengarah lurus pada pria tua berjubah nyentrik yang menjadi lawan duelnya malam itu. "Kenapa pria tua? Kau takut dengan apa yang akan kulakukan padamu? Kau takut menghadapiku? Penyihir terkuat sepanjang masa?!" Suaranya terdengar menggema saat ia berkata demikian. Matanya yang sewarna darah para korbannya yang sudah tak terhitung jumlahnya itu menatap tajam pada lawan duelnya.
Albus Dumbledor—lawan duel Pangeran Kegelapan—menggeleng, wajahnya masih meriak waspada saat ia mengangkat tongkatnya dalam posisi siaga. "Bukan, Tom. Kau akan benar-benar menyesal. Kita tak menginginkan semua ini!" jawabnya.
"Persetan!" teriaknya sebelum mengayunkan tongkat sihirnya dengan kuat. "Avada Kedavra!" Cahaya hijau terang menyeruak keluar dari ujung tongkat serupa tulang yang digenggam kuat oleh Voldemort, pria berjubah hitam, dan mengarah langsung ke tempat Dumbledore berdiri.
Napas Dumbledore menghela lega saat ia berhasil menghindari mantra pembunuh dari salah satu mantan muridnya itu. Namun, saat ia kembali memberi fokus pada titik di mana tadi Voldemort berdiri, ia sudah tak melihat sosok Voldemort di depannya. Penjahat nomor satu se-Eropa itu sudah menghilang entah ke mana, membuat Dumbledore benar-benar khawatir.
Perlahan Dumbledore melangkah mendekat ke titik di mana Voldemort tadi berdiri. "Tom," gumam Dumbledore sebelum menghilang dari padang rumput itu untuk menuju ke tempat yang harusnya tidak pernah ia tinggal.
~oOo~
Voldemort muncul tepat di depan sebuah rumah kecil minimalis yang nampak tak sedikit pun cahaya yang mengiluminasi seantero kawasan tersebut, menandakan kalau tak ada orang di sana. Namun, Penguasa Kegelapan tahu benar kalau itu semua hanya pengaruh perisai sihir yang menyelubungi rumah tersebut. Dan benar saja, dengan satu ayunan tongkat sihir, semua perisai yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya untuk dibuat sirna seketika.
Langkahnya yang ringan mengayun menuntun tubuh tinggi tegapnya masuk ke kawasan pekarangan dan ia kembali mengayun tongkat sihirnya untuk membuka pintu depan dengan mudah, seakan tak pernah ada puluhan lapis mantra pelindung yang dirapal di ambang bingkai pintu tersebut.
"Lily! Bawa Harry pergi! Aku akan menghalanginya!" Suara teriakan terdengar menggema disusul dengan suara langkah kaki yang menuruni tangga sampai akhirnya berhenti saat sesosok pria berdiri dengan posisi siaga dan tongkat yang mengacung, mengancam lawan.
"Minggir," desis Voldemort pada James—ia tahu siapa pria berkacamata bundar yang berdiri di depannya itu—yang masih nampak enggan bergeming dari tempatnya berdiri.
"Tidak! Aku tidak—" Dengan satu ayunan tongkat tanpa kata sontak melesitkan cahaya hijau yang mengenai tubuh James yang detik berikutnya sudah terkulai di lantai tanpa nyawa. Ekspresinya membeku pada raut wajah tegang dengan mata yang melotot saat Voldemort melangkahi mayatnya dan perlahan menaiki tangga, lalu menyusuri lorong yang mengantarkannya pada satu kamar yang pintunya tertutup rapat.
Merasa kalau pintu itu dilindungi oleh lapisan perisai sihir, Voldemort kembali mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya langsung ke arah pintu yang terkunci rapat tersebut. Sekejap kemudian pintu itu pun terbuka dengan suara bantingan yang sangat keras.
Langkah Voldemort berhenti kala ia masuk ke dalam kamar yang dipenuhi suara tangisan bayi. Di depannya berdiri seorang perempuan berambut merah panjang yang nampak melindungi sosok mungil di belakang tubuhnya.
"Minggir." Suara dingin nan mengancam keluar dari celah bibir Pangeran Kegelapan.
"Tidak," bantah perempuan tadi—Lily.
"Hm," gumam Voldemort sekali sebelum merapal mantra kematian pada perempuan yang berdiri di depannya itu, dan dalam sekejap tubuh kaku tanpa jiwa sudah terbaring di lantai.
Dan sekarang waktunya untuk membunuh anak kecil tak berdaya yang duduk menangis di keranjang bayi tanpa pengamanan apa pun.
"Heh, mudah sekali," cemooh sang Penguasa Kegelapan pada semua musuhnya saat ia membidik tongkatnya kepada anak kecil yang terus menangis tanpa henti di depannya itu. Namun, entah kenapa sesuatu mendesir di pembuluh nadinya saat mata semerah darahnya bertemu pandang dengan iris hijau sewarna sisik ular si anak bayi di depannya. Voldemort seakan keluh merapal mantra kepadanya. Seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang menghalangi mulutnya untuk menginkantasi Kutukan Kematian pada sang bocah.
Sosok berjubah hitam itu tetap diam dalam posisi membidik untuk beberapa saat sebelum melangkah mendekat ke arah bayi yang mulai diam dari tangisnya seiring langkah Voldemort yang semakin dekat kepadanya.
"Ramalan sialan itu menuntutku untuk membunuhmu," suara Voldemort terdengar mendesis kepada bayi yang menatapnya dengan tatapan polos. "Karena kau adalah kehancuranku." Tangan Pangeran Kegelapan lalu terulur pelan-pelan mengangkat si bayi dari kasur empuk tempatnya duduk, mengangkatnya tinggi-tinggi sampai wajah mereka sejajar.
Jantung Voldemort yang sudah lama berhenti berdetak seakan-akan memulai memompa kembali nadinya saat mata mereka saling bertautan. Seringai kembali terukir di wajah tirusnya saat matanya bertatapan dengan mata berwarna hijau sang bayi yang ada di dalam gendongannya. "Namun, sepertinya kau akan menjadi penyebab kehancuran lawanku, Harry. Kau adalah kehancuran musuhku," gumanya.
Suara kikikan khas seorang anak bayi terdengar dari sosok yang tengah Pangeran Kegelapan gendong sekarang saat ia menyebut nama sang bayi.
Voldemort lalu membenarkan posisi gendongan Harry di dekapannya dan dengan lengan jubah hitamnya, ia menutupi wajah Harry saat kabut hitam pekat mulai berputar membungkus mereka berdua sampai kabut itu meledak seperti bom yang menyebar ke segala arah saat kedaunya menghilang dari sana, sekaligus menghancurkan sebagian besar bagian kamar yang menjadi tempat jasad Lily terbujur kaku.
~oOo~
Sosok berjubah yang menggendong Harry di dalam dekapannya kembali muncul tepat di depan kawasan manor mewah yang terasa dilindungi oleh kekuatan besar di sekelilingnya.
Tanpa tongkat ia membuka pintu manor yang terkunci tanpa suara dan melangkah dalam diam sampai ia tiba di depan pintu kamar yang terletak di lantai dua. Lagi-lagi ia membuka pintu tanpa menyentuhnya sedikit pun, memperlihatkan kamar mewah yang terkesan gelap dengan ranjang besar di tengah-tengah dan terdapat beberapa lemari buku sampai meja yang dikelilingi empat kursi di pojok ruangan yang mengantar pada dua pintu yang menghubungkan kamar tersebut dengan kamar mandi dan ruang lemari.
"Kau tunggu di sini dan jangan berisik," bisiknya pada sosok bayi yang ia baringkan di atas ranjang dengan mantra pelindung dan mantra tidur yang membungkus tubuh mungil di depannya. Seringai lalu mengembang di wajahnya saat ia kembali menegakkan tubuhnya.
Dengan sekali jentikan tangan, sepuluh peri rumah langsung muncul di depannya. "Aku ingin kalian membereskan seluruh isi manor dan pastikan aman untuk anak kecil. Aku ingin kalian mendekor kamar kosong di sebelah kamarku sebagaimana kamar anak-anak pada umumnya. Laksanakan," titahnya yang diiyakan oleh kesepuluh makhluk cebol di depannya itu sebelum satu persatu mereka semua menghilang.
~oOo~
Seluruh perisai anti apparasi pecah dengan suara retakan keras saat Voldemort muncul secara tiba-tiba di depan pintu kediaman Bangsal Malfoy. Suara gerutukan dari beberapa peri rumah yang muncul sedetik kemudian terdengar jelas sebelum mereka membungkam mulut mereka sendiri dan segera bersujud kepada sang Pangeran Kegelapan, lalu kembali melapisi kawasan kediaman Malfoy dengan mantra pelindung sebagaimana mestinya.
Tanpa peduli apa pun, Voldemort melangkah masuk ke ruang aula depan manor di mana ia disambut oleh para pengikutnya yang saat itu berkumpul di aula.
Sekejap mata, mereka semua bersujud kepadanya sebelum akhirnya Lucius Malfoy melangkah mendekatinya. "Ba—bagaimana Tuanku?" tanyanya takut. Ia bahkan terlalu segan hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya dan menatap Voldemort langsung pada kedua mata merahnya.
Tak menjawab pertanyaan Lucius, Pangeran Kegelapan malah memerintahkan seluruh pengikutnya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Aku menginginkan buku harianku," titahnya
"Baik, Tuanku," jawab Lucius sebelum ia bergegas mengambil buku harian sang Pangeran Kegelapan di ruang rahasia yang terletak di bawah manornya.
Tak lama kemudian pria dengan rambut panjang putih platina itu pun kembali muncul dengan langkah tergesa dan sebuah buku di tangannya. Kepalanya menunduk saat menyerahkan buku bersampul lapuk itu pada sosok berjubah hitam nan tinggi di depannya itu.
"Lucius, hambaku yang paling setia ... aku ingin kau tahu bahwa aku akan menghilang dari dunia ini dalam waktu yang lama. Dan saat aku kembali, aku harap kalau kesetiaanmu padaku tidak berkurang dan tidak sama sekali mengecewakanku," pinta Voldemort pada Lucius yang menunduk dalam tak berani mendongak sedikitpun di hadapan tuannya itu.
"Pasti, Tuanku, pasti. Kesetiaanku dan yang lain tidak akan berpaling darimu," jawab Lucius tanpa meninggikan kepalanya.
"Akan 'ku pastikan itu nanti," jawab Pangeran Kegelapan dengan seringai di balik topengnya.
Ia akhirnya mendongak saat sudah tak mendengar jawaban dari Tuannya melainkan hanya suara dentuman halus yang menandakan kalau sang tuan sudah berapparasi kembali. Ia juga merasakan bagaimana sihir yang mengelilingi kediamannya perlahan runtuh karena diterobos paksa oleh Pangeran Kegelapan.
Lucius lalu kembali ke kamar tidurnya setelah yakin kalau tuannya itu benar-benar tidak akan kembali.
Dengan begitu banyak keraguan dan pertanyaan di dalam benaknya, ia meniti langkah sampai akhirnya tiba di kamar tidurnya, tempat di mana sang istri dan sang anak tertidur lelap tanpa gangguan.
Hatinya menghangat perlahan sewaktu melihat bagaimana istri dan anaknya yang tertidur dengan tenang di atas kasur. Keduanya benar-benar obat penenang bagi Lucius yang baru saja menghadap pada tuannya yang tiba-tiba saja mengatakan akan menghilang dalam waktu yang lama ... dan saat ia kembali, tuannya itu menginginkan dia dan pengikutnya yang lain tetap memegang kesetiaan mereka dengan teguh. Entah kenapa dia punya firasat kalau tuannya akan sangat marah ketika waktu yang dimaksudnya tiba dan ada beberapa penyihir yang memutuskan meninggalkan barisan Pelahap Maut karena takut dipenjara atau takut terkenap prasangka masyarakat sihir.
Setidaknya, sampai waktu itu datang, Lucius punya waktu untuk bersantai dengan keluarga kecilnya. Melihat Draco, anak semata wayangnya, tumbuh besar dalam keadaan sehat dan bahagia, bukan tumbuh-besar di tengah-tengah perang, adalah impiannya yang utama.
~oOo~
A/N: Jangan lupa like sama komennya yah gaissss! Sampai jumpa sampai cerita ini selesai.
